Starting to Like You


Gambar

Author : ShanShoo (@ikhsan291)

Cast :

–          Xi Luhan (Luhan)

–          Jung Na Eun (OC)

–          Kim Jongdae (Chen)

–          Park Hyura (OC)

Genre : Romance, Sad

Rating : PG-17

Length : One Shoot

Disclaimer : Semua alur cerita di fanfic ini hanya fiktif belaka, sekedar untuk menyalurkan aspirasi yang ada di dalam otak. Para tokoh yang terlibat hanyalah milik Tuhan semata, dan para OC adalah nama hasil pemikiran author sendiri ^^

WARNING!! Typo bertebaran di mana-mana (pastinya), jadi maaf bila terdapat ketypoan dalam ff ini ^^

Just Author’s POV ^^

Don’t be siders, don’t bash, don’t be PLAGIATOR!!!

***

Pernahkah kau membuat sebuah janji….

Mencintai seseorang sampai akhir nanti….

Dan tak akan pernah meninggalkannya, apapun resikonya?

Bagaimana jika….

Ia sudah tak terlihat lagi oleh kedua bola matamu?

Apa kau akan tetap menyimpan namanya di hatimu?

Walaupun air mata terus bercucuran?

***

Pandangannya kosong, menatap hamparan langit malam kota Seoul. Sembari menikmati satu cup coffee hangat yang ia genggam beberapa menit lalu.

Jiwanya seperti melayang, tak ada semangat hidup dalam dirinya. Perlahan, setitik air mata bening jatuh membasahi pipi halusnya. Namun, ia tak mengusapnya sedikitpun, ia terlalu lelah untuk menghapus air mata kesedihan itu.

Ditatapnya coffee yang mulai mendingin itu dengan pandangan yang buram, terhalang oleh cairan bening yang menganak dikedua bola matanya. Tanpa tertahankan lagi, air matanya kembali terjatuh. Ia memejamkan matanya begitu rapat, tak menyisakan celah sedikitpun.

“Aku begitu lemah tanpamu…”

*drrrt…drrrt

Getaran ponselnya membuatnya mengalihkan pandangannya. Ia segera mengeluarkan ponselnya dari dalam saku baju hangat yang ia pakai. Ia mengusap perlahan layar ponsel itu untuk menerima sambungan telpon.

“Halo?”

 

“Halo, Luhan-ah. Kau di mana sekarang? Aku sedang ada di depan apartement-mu!” ujar seseorang disebrang sana, membuat lelaki yang menerima sambungan telpon itu tertegun sejenak. Dan menghela napas beratnya.

“Aku sedang berada di sungai Han, sebentar lagi aku akan pulang.” *klik.

Luhan, pria yang sedari tadi menangis dalam kesendiriannya itu segera beranjak dari tempat duduknya di dekat sungai Han, menuju mobilnya.

Ya, Chen, sahabatnya yang sudah ia anggap sebagai saudaranya sendiri itu menelponnya, memintanya untuk segera pulang.

Benar..

Chen-lah yang membuatnya tetap tegar hingga saat ini,

Chen-lah yang membuatnya tetap tersenyum saat ini,

Chen-lah yang membuatnya tetap semangat menjalani hidup saat ini.

Walaupun hingga saat ini, Luhan belum menerima sebuah kenyataan pahit di hadapannya. Kenyataan yang membuatnya harus merasa kehilangan, kenyataan yang membuatnya harus meneteskan air mata kesedihan, kenyataan yang membuatnya harus menjalani hidup tanpa canda dan tawa lagi.

‘dia tak akan pernah kembali…’

***

Luhan tiba di apartement setelah menempuh perjalanan 30 menit dari sungai Han. Ia keluar dari mobil, dan mendapati Chen yang sedang menunggunya di depan pintu apartement-nya.

“Mengapa kau baru pulang, Lu?” ujar Chen, sahabatnya.

Luhan membuang napasnya kasar, tak menatap Chen.

“Aku..ingin menenangkan pikiranku sejenak, itu saja.” Balas Luhan setelah beberapa menit terdiam.

Chen hanya menatap Luhan dengan tatapan sebagai seorang sahabat, sebagai sahabat yang peduli terhadap sahabatnya.

“Sudahlah, Lu. Jangan terus kau pikirkan masalah itu, itu sudah jadi masa lalu!” terang Chen, membuat Luhan menundukkan kepalanya, dan memejamkan mata sejenak.

“Aku akan berusaha, ayo masuk!”

Ya, Chen ingin membuat Luhan kembali menjadi Luhan seperti dulu, Luhan yang selalu ceria, yang selalu berbagi canda tawa pada orang-orang terdekatnya. Chen tak ingin Luhan berubah menjadi sosok yang lemah, yang mudah menangis kapan saja. Bagi Chen, itu sama sekali bukan diri Luhan.

***

@06.00am

 

Pagi hari telah tiba, sapaan matahari hangat siap membangunkan siapa saja yang masih berada dibalik selimut hangatnya. Siap membelai hangat siapapun yang masih memejamkan matanya.

Luhan masih tertidur lelap, sudah tiga kali jam weker-nya berdering, namun Luhan sama sekali tak bergeming. Dirapatkannya selimut tebal miliknya itu, membuatnya semakin merasakan kehangatan.

Jam weker-nya berdering begitu keras, membuat Luhan tersentak dari tidurnya.

‘jam berapa ini?’ batinnya seraya menatap jam weker di atas meja nakas.

“Jam 6?” Luhan segera turun dari tempat tidurnya sambil mengerjap-ngerjapkan matanya, dan berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum pergi kuliah.

***

Seoul International University

Ya, di universitas inilah Luhan melanjutkan studinya setelah ia menempuh pendidikan di Seoul International Senior High School. Luhan adalah mahasiswa semester 3 dan mengambil jurusan kedokteran. Luhan juga mahasiswa yang mendapat predikat terbaik sebagai mahasiswa teladan di universitas ini. Banyak dosen pengajarnya yang memuji kecerdasan dan keterampilan Luhan selama ia menjalani berbagai ujian-ujian yang memang harus dijalani.

Luhan keluar dari mobil lamborghini putih miliknya, dan berjalan menuju ruang kelasnya. Ketika Luhan berada di koridor, ia melihat Chen yang sedang berjalan menuju ruang kelasnya. Ya, Luhan dan Chen berada di jurusan yang sama, mereka sama-sama menyukai hal-hal seputar kedokteran.

“Chen-ah!” sapa Luhan dari kejauhan, membuat Chen membalikkan tubuhnya, dan melihat Luhan yang sedang berlari kecil ke arahnya.

“Luhan..” Luhan segera merangkul bahu Chen―salah satu kebiasaannya―dan berjalan bersama menuju ruangan kelasnya.

“Luhan, apa kau masih tak bisa melupakan Ah Jung?” tanya Chen perlahan. Membuat senyuman Luhan perlahan memudar, dan membuat Luhan kembali menunjukkan kesedihannya.

“Entahlah, sepertinya aku tak bisa, Chen.” Balasnya dengan tatapan datar menatap papan tulis putih yang belum terkena coretan materi itu.

“Ya! Sampai kapan kau akan seperti ini terus? Apa kau tak lelah terus berada dalam kesedihan?” Chen terlihat kesal sekarang, dan menatap tajam Luhan.

Ia tahu, Luhan memang sangat mencintai sosok Kim Ah Jung, seorang gadis yang sudah dua tahun ini menjalin hubungan dengan Luhan. Namun, Chen tak tahan melihat Luhan yang selalu menyalahkan dirinya sendiri. Bagi Chen, kejadian itu sama sekali bukan kesalahan Luhan.

#Flashback

 

25 Desember 2013

“Halo, Oppa?”

“Jungie, aku menunggumu di taman tempat kita berkencan.” Ujar Luhan pada kekasihnya, Kim Ah Jung yang sedang berbicara melalui sambungan telpon.

 

“Ya, tunggu aku, Oppa. Aku akan segera ke sana!” *klik.

Luhan tersenyum cerah sekarang, hawa dingin dan terpaan salju yang turun perlahan mengenai rambutnya itu seperti meleleh begitu saja. Ia tak merasakan kedinginan.

Satu buah kado kecil dalam kotak berukuran kecil berwarna merah itu sudah berada dalam genggamannya sejak 5 menit yang lalu. Ia kembali membuka kado kecil tanpa bungkus itu.

Sebuah cincin dengan bentuk snowflake di atasnya…

Ya, Luhan berniat memberikan cincin itu pada kekasihnya, tepat di malam natal itu.

Sudah 10 menit Luhan menunggu kekasihnya. Namun, itu tak membuat Luhan kesal, ia tetap setia menunggu kedatangan Ah Jung.

*BRAKKK

Suara hantaman benda begitu keras terdengar di indera pendengaran Luhan. Ya, tepat di belakangnya yang saat ini tengah duduk di bangku taman, ia melihat sebuah mobil menghantam sesuatu, entah apa itu.

Tanpa disadarinya, Luhan berjalan perlahan menuju lokasi kejadian, berniat untuk mengetahui apa yang terjadi di sana. Dengan rasa penuh khawatir, dan dengan tangan yang gemetar, Luhan menembus kerumunan orang-orang di lokasi kejadian.

Betapa menyakitkannya…

Betapa memilukannya…

Betapa menyayat hati…

Kim Ah Jung…

Gadis yang ia tunggu sedari tadi…

Gadis itu tergolek lemah, tak bernyawa…

Darah segar mengalir, membasahi jalanan yang penuh dengan salju itu. Seketika, tangis Luhan membuncah. Dipeluknya gadis itu begitu erat, Luhan mengguncang-guncangkan bahu gadis mungil itu berkali-kali, ingin membuatnya kembali membuka kedua bola matanya yang sekarang tertutup rapat.

“Jungie…Kim Ah Jung…bangunlah! Kumohon!! Kim Ah Jung!” bulir-bulir air mata itu terus menelusuri kedua pipi Luhan yang lembut itu. Membuatnya terlihat sembab sekarang.

“Tolong, siapapun, antar aku ke rumah sakit sekarang!” ujar Luhan sembari berteriak, memandang ke seluruh orang-orang yang sedang mengelilingi Luhan.

***

“Maaf, Luhan-ssi. Tapi nyawa Kim Ah Jung tak bisa diselamatkan, ia terlalu kehilangan banyak darah. Dan di bagian kepalanya terdapat luka yang menganga lebar, yang membuatnya kehabisan banyak darah.” Ujar dokter yang menangani Ah Jung itu pada Luhan.

“Dokter, kau sedang bercanda ‘kan? Kim Ah Jung-ku masih hidup! Ia tak meninggalkanku ‘kan?” Luhan menarik kerah jas dokter berkacamata itu, dokter itu berusaha untuk menenangkan Luhan.

“Sabarlah, Luhan-ssi. Ini memang sudah takdir-Nya.” Dokter itu melepaskan perlahan cengkraman Luhan di kerahnya, dan membuat Luhan termenung, air matanya kembali mengalir tanpa seizin pemiliknya. Dan dokter itupun meninggalkan ruangannya untuk melihat kondisi pasien yang membutuhkan bantuannya.

“Ini tidak mungkin!”

“Mengapa ini semua harus terjadi?”

“Mengapa Tuhan begitu tidak adil?”

“Apa salahku hingga Engkau harus mencabut nyawa seseorang yang sangat aku cintai?”

Luhan berlari menuju ruangan tempat Ah Jung.

Ia tiba di ruangan itu, dan melihat jasad kekasihnya yang sudah ditutupi oleh kain putih, dengan banyak bercak merah di sana.

Luhan berjalan terhuyung-huyung, kepalanya terasa pening sekarang. Air matanya mengalir di salah satu matanya. Langkahnya kian berat, seiring dengan jarak yang semakin dekat antara dirinya dengan kekasihnya itu.

“Jungie, kau masih bisa mendengarku ‘kan?” lirih Luhan dengan bibir yang bergetar, menahan kepedihan yang amat mendalam di hatinya.

“Jungie, jawab aku! Maaf, aku telah membuatmu seperti ini…” Luhan menyibakkan kain putih yang menutupi seluruh tubuh gadis itu, hingga sebatas lehernya. Ia membukanya perlahan dengan perasaan takut yang teramat sangat.

“Jungie, kenapa―” tangisannya kini terdengar pilu ketika wajah Ah Jung terlihat, siapapun yang mendengar tangisannya sekarang, pasti akan ikut merasakan kepedihan yang dialaminya.

“Aku minta maaf, Jungie, aku…aku―”

“Luhan-ah!” Chen datang dengan napas yang tak beraturan, memotong perkataan Luhan. Ya, Luhan memberitahu perihal kecelakaan yang menimpa Ah Jung pada Chen.

“Luhan, benarkah dia―” Chen menatap jasad Ah Jung dengan tatapan tak percaya. Ia tak menyangka, Ah Jung akan pergi secepat itu.

“Chen-ah, tolong bilang padaku, Ah Jung masih hidup, ia masih hidup untukku, untuk keluarganya!” Luhan mencengkram baju Chen, membuat Chen memejamkan matanyamendengar suara parau Luhan.

“Berhenti, Luhan. Kau harus bisa merelakan kepergiannya!” ujar Chen dengan nada lirih.

“Mengapa semua orang beranggapan bahwa Ah Jung sudah pergi? Mengapa kalian semua begitu jahat, eoh?” Luhan semakin mempererat cengkramannya.

“Luhan-ah, kau harus menyadarinya, Ah Jung sudah tiada!” dengan sekali hentakan, cengkraman Luhan terlepas, membuat Luhan jatuh tersungkur, lemah di hadapan Chen.

“Maafkan aku, Jungie.”

Luhan bangkit, dan kembali menatap kekasihnya yang terbujur kaku di atas tempat tidur pasien.

Ia mengeluarkan kotak cincin dalam saku baju hangatnya yang sudah ia persiapkan sedari tadi untuk gadis itu.

“Jungie, apa kau tahu? Aku telah menyiapkan sebuah hadiah kecil untukmu, sebuah cincin dengan ukiran snowflake, hadiah yang kau inginkan sebelum natal tiba.” Luhan memakaikan cincin itu di tangan kiri, di jari manis gadis itu yang terasa begitu dingin ketika disentuh olehnya.

“Oh, kau cantik sekali, Jungie. Kau harus selalu memakainya, ne.” Tawa sumbang terdengar di telinga Chen, membuat lelaki itu menatap punggung Luhan yang sedang menahan isakannya.

Mata gadis itu tetap tertutup, tak terbuka kembali untuk selamanya.

Canda tawanya…

Kasih sayangnya…

Kini hilang ditelan waktu…

 

#Flashback Off

Pernahkah kau merasakan kehilangan yang teramat sangat?

Ketika kau tak mampu menggenggam erat tangannya lagi…

Ketika ia tak tersenyum lagi untukmu..

Ketika ia memejamkan erat kedua bola mata indahnya…

Ketika ia terbujur kaku, tak bergerak sedikitpun untuk yang terakhir kalinya menyentuhmu…

Apa kau bisa merelakan kepergiannya, apapun cara yang diberikan Tuhan untuk memisahkan kalian?

Tatapan hangat itu…

Aku tak bisa melihatnya lagi…

Selamanya…

‘andai saja waktu dapat diputar kembali…’

***

Malam pun tiba, lelaki yang bernama Luhan itu sedang berjalan di pinggir trotoar jalan raya dengan langkah yang begitu lambat, tatapannya kosong menatap alur jalan yang dilaluinya. Ya, ia telah selesai dengan jam mata kuliahnya hari ini.

Langkahnya seperti melayang, tak ada tenaga untuk melangkahkan kakinya. Ingatannya kembali pada masa lalunya, di mana ia masih menjalin hubungan dengan gadis yang sangat dicintainya, Kim Ah Jung.

Lelaki itu semakin mempererat pakaian hangat yang dikenakannya, badannya terasa dingin sekarang.

Luhan baru saja keluar dari salah satu kedai kopi terbaik di sekitar kampus, ya, menikmati secangkir kopi hangat di malam hari.

Ketika Luhan akan menghampiri mobilnya, ia mendengar suara seorang gadis yang sedang meminta maaf pada seorang bibi.

“maafkan saya, Ahjumma. Saya sungguh tidak sengaja!”

“Tidak sengaja katamu? Lihat, barang belanjaanku kotor semua, kau harus menggantinya!” maki bibi itu dengan wajah yang kurang bersahabat.

“Tapi, Ahjumma. Aku tak membawa uang sedikitpun. Maaf..”

Luhan memicingkan kedua matanya, dan berjalan pelan menghampiri gadis yang sedang terkena masalah itu.

“Berapa yang harus diganti, Ahjumma? Aku akan menggantinya.” Ujar Luhan tepat di hadapan bibi itu, ia menampakkan senyum terbaiknya untuk meredakan amarahnya. Ia tak tega melihat gadis di hadapannya yang diomeli oleh bibi dengan wajah sedikit menyebalkan itu.

“Ahhh, 20ribu won.” Balas bibi itu dengan tatapan genit. Luhan segera merogoh saku pakaian hangatnya untuk mengambil dompet, dan mengeluarkan uang 20ribu won.

Gadis itu hanya terpaku menatap lelaki yang telah menolongnya dari masalah, ya, Luhan. Matanya belum berkedip, masih terpaku pada satu objek yang menurutnya begitu indah.

“Kau baik-baik saja, Nona?” tanya Luhan sembari melambaikan tangannya pada gadis yang ada di hadapannya itu. Gadis itu mengerjap beberapa kali, tersadar akan lamunannya barusan.

Ia berdehem kecil, “ah, ya. T-terima kasih.” ujar gadis itu dengan gugup, membuat Luhan tersenyum melihatnya.

Luhan mengulurkan tangan kanannya untuk berkenalan dengan gadis yang ditolongnya itu.

“Perkenalkan, aku Luhan, Xi Luhan. Kau siapa?” tanya Luhan dengan nada ramah.

“Aku…Jung Na Eun, sekali lagi, terima kasih atas bantuanmu, Luhan-ssi. Aku akan segera menggantinya.”

Ya, gadis yang bernama Jung Na Eun itu membungkukkan badannya, berterima kasih pada Luhan. Luhan hanya menanggapinya dengan sebuah senyuman yang begitu manis.

“Kau tak perlu menggantinya. Aku sungguh mempunyai niat membantumu tanpa mengharapkan imbalan, atau apapun.” Terang Luhan, membuat gadis itu bungkam, matanya menatap lekat pada kedua iris mata Luhan yang berwarna coklat itu.

“Ah.. terima ka―”

“Sudahlah, tak usah mengucapkan terima kasih lagi. Oh ya, sekarang kau akan pergi ke mana?”

“I-iya. Aku tidak tahu, Luhan. Saat ini, yang jelas,aku belum mempunyai rencana untuk pulang.” Na Eun menatap kedua sepatunya dengan pandangan yang mulai buram, ya, ia menangis. Namun Luhan tak mengetahuinya.

“Kenapa? Ini sudah malam, emm apa kau ingin berjalan-jalan?” Luhan melihat kedua tangan gadis itu yang saling meremas, bahunya terlihat bergetar, membuat Luhan menyentuh kedua bahu gadis itu dengan tatapan heran.

“Kau kenapa, Na Eun-ssi?” tangisan gadis itu kini terdengar pilu, Luhan semakin bingung pada gadis ini. ‘ia kenapa?’

“Na Eun-ssi, kau baik-baik saja?” Luhan mengguncang lembut Na So Eun, membuat gadis itu mendongakkan kepalanya, dan menatap Luhan dengan wajah sembab.

“Eum, aku baik-baik saja..” Na Eun menepis pelan tangan Luhan yang masih berada di bahunya, dan ia mulai berjalan meninggalkan Luhan yang masih diliputi perasaan heran.

“Na Eun-ssi, kau mau ke mana? Aku akan mengantarmu, tak baik jika kau berjalan-jalan sendiri di sini.” Luhan mengikuti langkah kecil gadis itu, ia melihat lekukan air mata yang mengalir di pipi Na Eun.

“Tak apa, aku akan baik-baik saja, tak usah mengkhawatirkanku.” Na Eun tak menatap Luhan, ia tetap fokus pada jalan yang dilaluinya.

Seketika, Luhan menghentikan langkahnya untuk mengikuti Na Eun, ditatapnya punggung gadis itu dengan tatapan iba. Luhan tak mengerti akan perasaannya, namun, ia seperti ikut merasakan kepedihan yang dialami gadis itu, walau ia sama sekali tak tahu apa masalahnya.

***

“Jadi, kau bertemu dengan seorang gadis yang bernama Jung Na Eun?”

“Eum, apa kau mengenalnya?”

“Ya, aku sangat mengenalnya. Ia sahabat kekasihku, Park Hyura.”

“Benarkah?” kedua mata Luhan membulat, sedikit tak percaya akan apa yang dikatakan oleh Chen.

“Eum, apa kau menyukainya?” Chen berusaha untuk menggoda Luhan, namun sama sekali tak mempan.

“Ya! Bagaimana mungkin aku menyukainya? Aku baru bertemu dengannya kemarin. Tunggu, jika gadis itu adalah sahabat kekasihmu, itu berarti―”

“Ya, Na Eun satu kelas dengan Hyura, ia berada di tingkat II-A di SISHS tempat sekolahmu dahulu.” Jelas Chen yang setelahnya, menyesap teh hangat yang disajikan. Sore itu, Chen sedang berada di rumah Luhan.

‘Jung Na Eun…’

***

Malam hari pun tiba…

Di malam itu, Luhan sedang menikmati pemandangan awan biru gelap itu sembari duduk di jendela yang ia buka. Matanya berbinar menatap langit cantik itu. Tiba-tiba, ingatannya kembali pada seorang gadis yang ia temui kemarin, ya, Jung Na Eun.

Entah mengapa, pikirannya selalu melayang pada gadis itu, seakan-akan ada sesuatu dalam diri Jung Na Eun..

Luhan menghembuskan napasnya perlahan, mencoba menepis pikiran itu. Namun, semakin ingin ditepis, bayangan Na Eun semakin menempel pada otaknya.

‘hey, kau kenapa, Luhan?’ batinnya.

Ia beranjak dari jendela, dan segera menutupnya karena udara malam semakin terasa dingin baginya. Kini ia berjalan menuju tempat tidurnya untuk mengistirahatkan diri dari segala aktivitas yang telah ia jalani hari ini.

Entah dari mana datangnya, terbersit sebuah keinginan besar dalam diri Luhan untuk lebih jauh mengenal gadis yang bermarga Jung itu.

Kedua belah bibirnya ia katup rapat, matanya terpejam sempurna. Sungguh, Luhan tak mengerti dengan pemikiran yang ada dalam otaknya saat ini. Sejak pertama kalinya Luhan menatap kedua bola mata gadis itu, ia sungguh merasakan kenyamanan tersendiri dalam hatinya.

‘mungkinkah?’

***

Na Eun sedang berjalan di koridor kelasnya, earphone-nya selalu setia menemani kemanapun langkahnya. Senyum cantiknya terlihat sangat kontras dengan wajahnya yang begitu baby face.

“Jung Na Eun!” sapa seorang gadis tepat di belakang Na Eun, namun ia sama sekali tak mendengarnya karena Na Eun terlalu fokus pada lagu yang sedang ia dengar.

“Jung Na Eun!” gadis itu menepuk keras bahu Na Eun, membuat si pemilik bahu itu meringis kesakitan.

“YA Park Hyura, sakit!” Na Eun mengusap pelan bahu kirinya untuk meredakan sakit akibat tepukan keras dari gadis itu, Park Hyura.

“Salah kau sendiri, mengapa kau tak menoleh dan balik menyapaku?” balas Hyura sembari mempoutkan bibirnya. Na Eun hanya tersenyum kecil melihat tingkah Hyura yang menurutnya seperti anak kecil itu, berbeda dengan wajahnya yang terlihat sangat dewasa.

“Itu semua karena ini..” Na Eun menunjuk pada earphone yang masih setia menempel di telinganya. Sedangkan Hyura hanya mendengus kesal. Na Eun memang mempunyai banyak alasan untuk membuat Hyura mengerti, ya, Na Eun memang gadis yang menyenangkan.

###

“Na Eun-ah, apa kemarin kau bertemu dengan namja yang bernama Luhan?” tanya Hyura tiba-tiba disela kesibukannya menulis materi pembelajaran.

Deg

‘bagaimana Hyura bisa tahu?’

‘apakah Hyura seorang cenayang?’

‘atau mungkin ia melihatku kemarin malam?’

“Kau tahu dari mana, hm?” Na Eun menghentikan jemarinya untuk menulis materi, dan sekarang ia fokus pada Hyura.

“Tentu saja aku tahu, apa kau begitu penasaran, dari mana aku tahu itu?” Hyura tersenyum menggoda, membuat Na Eun berdecak kesal. Hyura memang gadis yang selalu membuat orang-orang terdekatnya penasaran.

“Ya, aku sangat penasaran. Jadi, ceritakanlah padaku, se-ka-rang!”

***

Jam pertama kuliahnya telah selesai, Luhan dan Chen kini terlihat berjalan beriringan menuju perpustakaan untuk meminjam buku seputar anatomi.

“Luhan-ah, apa kau sudah bertemu dengan Na Eun lagi?” tanya Chen ketika ia sedang sibuk mencari buku yang ia pinjam.

“Belum, memangnya kenapa?” Luhan menatap Chen, dan Chen hanya tersenyum mendengar pertanyaan Luhan.

Luhan dan Chen kini berjalan menuju meja perpustakaan untuk membaca sekilas buku yang akan dipinjam, sebelum akhirnya mereka akan memberikan buku itu untuk diisi biodata mereka sebagai peminjam buku perpustakaan. “tidak apa-apa, aku kira kau sudah bertemu dengannya.

“Oh, ya. Nanti sore aku dan Hyura akan bertemu di kedai es krim. Kau mau ikut? Tentunya Hyura juga akan kusuruh untuk mengajak Na Eun nantinya.”

Luhan mengernyitkan dahinya, terbersit rasa senangnya ketika ia mendengar Chen akan mengajak Na Eun, gadis yang selama ini selalu menganggu pikirannya, gadis yang mulai membuatnya tak fokus pada pembelajaran.

“Entahlah…” jawab Luhan tanpa aba-aba, membuat Luhan mengatupkan bibirnya serapat mungkin. Ada rada sesal ketika ia mengucapkan itu.

“Ayolah, bukankah kau ingin bertemu lagi dengannya?” goda Chen, yang sukses membuat kedua pipi Luhan yang putih itu merah merona.

“YA!” Chen tertawa mendengar respon Luhan, Chen suka sekali menggoda Luhan, apalagi jika kedua pipinya sudah memerah.

Perlahan, tawa Chen mereda. Kini wajah lelaki itu mulai mendekat pada telinga Luhan, ia berbisik. “Jadi, bagaimana? Apa kau akan ikut? Ini penawaran terakhirku.”

Luhan kembali berpikir untuk menerima ajakan sahabatnya itu, dan akhirnya, kata “Iya.” Terlontar jelas dari bibir Luhan yang berwarna merah muda itu.

***

Gadis itu…

Berhasil membuatku penasaran…

Berhasil membuatku semakin menjadi bukan diriku yang sekarang…

Gadis itu…

Chen dan Luhan tiba di kedai es krim, tepat di hadapan SISHS, tempat Na Eun dan Hyura bersekolah. Mereka berdua terlihat sedang sibuk dengan pikiran masing-masing. Entahlah, yang jelas, mereka kedua lelaki itu terlihat saling diam, sejak beberapa menit lalu mereka sibuk mengobrol.

*kring

Lonceng yang disimpan di atas pintu masuk kedai itu berbunyi, menandakan ada pelanggan yang datang. Sontak, Luhan dan Chen menatap ke arah pintu itu.

Ya, Na Eun dan Hyura telah sampai di kedai es krim. Kedua gadis itu menatap Luhan dan Chen bergantian. Tidak, maksudku, Na Eun hanya menatap pada Luhan, hanya Luhan.

“Sayang…” Hyura segera menghampiri Chen dan memeluknya erat, seperti dua insan yang sudah lama tak bertemu, mereka saling melepaskan rasa rindu yang sudah menumpuk di hatinya.

“Mengapa kau baru datang, hm?” tanya Chen pada Hyura, ketika gadis itu dan Na Eun duduk di kursi, tepat di hadapan Luhan dan Chen.

“Aku harus mengerjakan beberapa soal matematika dulu sebelum pulang, Oppa. Mianhae.” Jelas Hyura sembari mempoutkan bibirnya.

“Aahh, begitu.” Chen mengacak pelan rambut kekasihnya itu, dan tersenyum manis padanya. Na Eun yang melihat itu hanya tersenyum miris.

Hyura menyenggol lengan kanan Na Eun, membuat gadis itu kembali ke alam sadarnya setelah beberapa detik melamun. “Na Eun-ah..”

“Apa?”

“Ehm, Luhan Oppa. Kau pasti sudah mengenal Jung Na Eun ‘kan?” tanya Hyura secara tiba-tiba.

Chen hanya tersenyum kecil mendengarnya, sedangkan Luhan? Ya, lelaki itu kini sedang mencoba menenangkan dirinya setelah mendengar pertanyaan Hyura yang sungguh membuat detak jantungnya berdegup kencang.

“I-iya.” balas Luhan sembari mengelus tengkuknya. Na Eun yang melihatnya hanya tersenyum gugup, dan menatap kedua ujung sepatunya yang sedikit berdebu itu.

“Kalau begitu, mengapa kalian tak saling menyapa?” tanya Hyura lagi dengan nada sedikit menggebu.

Mereka berdua terhenyak, ya, mereka, Luhan dan Na Eun.

“Oppa, ayo kita pindah meja.” Ajak Hyura sembari menarik pelan tangan Chen. Chen hanya mengangguk sembari tersenyum.

“Lu, aku duduk di sebelah sana, ne.” ujar Chen, Luhan hanya menatap sahabatnya itu dengan tatapan ‘jangan pergi!!’

Mereka berempat telah memesan es krim sesuai selera.

Mereka berdua, Chen dan Hyura, telah hanyut dalam setiap canda tawa yang diciptakan oleh mereka sendiri. Sehingga tak jarang, Luhan dan Na Eun menatap kedua orang itu sambil menahan tawanya.

Tatapan mereka bertemu,

Bertemu…

“Ehm, hai. Na Eun-ssi.” Sapa Luhan dengan canggungnya, dan dengan senyum yang sedikit dipaksakan.

“Hai, Luhan-ssi.” Balas Na Eun tak kalah canggung.

“Bagaimana kabarmu?” perlahan, nada bicara Luhan terdengar nyaman untuk Na Eun. Ya, setidaknya jika sudah begitu, Na Eun menjadi tak terlalu canggung.

“Aku baik-baik saja, Luhan-ssi.”

“Hmm lebih baik jangan terlalu formal, Na Eun-ah.” Luhan tersenyum manis pada Na Eun, membuat Na Eun merasakan kesenangan tersendiri saat menatap senyuman itu.

“Oppa, kau lihat? Mereka terlihat mulai akrab sekarang, semoga Luhan Oppa dan Na Eun….” Hyura tersenyum penuh arti, dan Chen mengangguk mengerti akan ucapan kekasihnya itu.

***

Bintang…

Bisakah kau menyampaikan salam dariku untuknya yang jauh di sana?

Bisakah kau memberitahu padanya, bahwa aku mulai menyukainya?

Bisakah kau menjadi alasan untukku, untuk selalu menatapmu dikala aku merindukannya?

Ya, gadis berwajah baby face itu tengah duduk di kursi taman di halaman rumahnya, dan menatap langit malam yang dipenuhi taburan bintang sebagai penghias di malam hari.

Sesekali, ia menyesap teh hangat buatannya sendiri. Sembari memikirkan kejadian tadi sore, di saat ia bertatapan mata dengan seorang lelaki berambut blonde dan berwajah tampan itu. Ya, siapa lagi jika bukan Luhan?

Semilir angin malam mengusap rambut Na Eun, membuatnya terlihat semakin cantik malam itu. Senyuman manisnya belum hilang hingga sekarang. Beberapa menit kemudian, ia mulai memasuki rumahnya, memutuskan untuk beristirahat.

‘selamat malam, Luhan…’

***

@10.00pm

Malam itu, tak biasanya Luhan masih membuka matanya. Ya, benar. Saat ini, rasa kantuk belum menyerangnya sama sekali, matanya masih tetap terbuka lebar. Tidak, kini matanya mulai menyipit, seiring dengan senyuman cerahnya yang mulai mengembang.

“Ahh, aku bisa gila…” gumamnya sembari kedua tangannya dijadikan penumpu kepala bagian belakang ketika ia sedang terbaring di atas tempat tidurnya.

Luhan turun dari tempat tidurnya, ia berjalan menuju ruang dapur untuk mengambil segelas air putih karena tenggorokannya terasa kering.

Ketika ia kembali ke kamar, Luhan melihat ponselnya yang menyala, dan menampakkan satu pesan masuk di sana.

From : Chen

 

Bagaimana hari keduamu bertemu dengannya? Menyenangkan? Aku harap begitu…

Tanpa disadari, Luhan tersenyum sendiri membaca pesan singkat itu. Ya, ia tak tahu bagaimana awalnya bisa tersenyum cerah seperti sekarang. Tak biasanya ia tersenyum se-lama itu.

Lelaki berambut blonde itu kini mengetahui penyebab gadis yang ia temui tadi menangis di malam kemarin.

#Flashback

“Kekasihku selingkuh, itulah penyebabnya…”

Luhan tertegun sejenak, sebelum ia mulai menanggapi ucapan Na Eun, “selingkuh?”

“Ya, aku kira ia benar-benar seseorang yang terbaik untukku, tapi nyatanya tidak.” Na Eun menghela napas panjangnya, sebulir air mata turun dari mata kirinya.

Na Eun mulai melanjutkan kata-katanya, “apa kau percaya? Lelaki bodoh itu bilang padaku, bahwa ia sudah bahagia dengan kekasih barunya. Ahh aku sendiri tak percaya atas pernyataannya, namun aku mencoba untuk menerima itu semua, mungkin ia memang bukan jodohku.” Na Eun tertawa sumbang setelah melanjutkan kata-katanya. Sejurus kemudian, bulir-bulir air matanya kian mengalir dikedua pipinya yang tirus.

Seperti tersengat arus listrik, hati Luhan sedikit sakit mendengar perkataan gadis yang saat ini sedang duduk di kursi mobil di sebelahnya. Ya, di mobil Luhan. Mereka kini sedang berada di halaman depan rumah Na Eun.

“Kau gadis yang tegar, Na Eun.” Mendengar itu, Na Eun menghapus air matanya, dan menatap Luhan sembari tersenyum.

“Sudah seharusnya, Luhan.”

“Ah, ya. Kudengar dari Hyura, kau mempunyai kekasih yang telah pergi meninggalkanmu, mengapa dia pergi, hm?” tanya Na Eun dengan polosnya, membuat Luhan kembali tersenyum.

“Itu karena sebuah kecelakaan…”

“Kecelakaan?”

“Eum. Kecelakaan yang membuatnya kehilangan nyawa…”

Na Eun tertegun sejenak, tidak seharusnya ia bertanya hal ini. Ia merutuki kebodohannya sendiri.

“Maaf, Luhan-ah.” Na Eun menundukkan kepalanya, tak berani menatap Luhan.

Luhan tersenyum, “tak apa. Kau mau mendengar cerita selanjutnya?” tawar Luhan.

“Jika itu tak membuatmu keberatan.” Na Eun tersenyum cerah sekarang.

“Kejadiannya sudah cukup lama, di hari natal. Aku akan memberikan hadiah untuk kekasihku, sebuah cincin, kami akan bertemu di sebuah taman. Dari penjelasan masyarakat yang melihat kejadian itu, Ah Jung, kekasihku, hendak menyebrang jalan menuju taman. Namun, ketika ia akan menyebrang, sebuah mobil sedan menghantamnya cukup keras, membuat luka di kepalanya.” Luhan menghirup napasnya dalam-dalam, dan mengeluarkannya perlahan. Air matanya telah menganak di salah satu matanya.

“Kau tak keberatan jika aku memintamu untuk melanjutkannya?” tanya Na Eun perlahan.

“Eum, tentu saja..”

“Ternyata, orang yang mengendarai mobil itu sedang dalam keadaan mabuk. Untungnya orang itu sudah ditangani oleh pihak yang berwajib. Ahh, aku masih tak menyangka, ia pergi meninggalkanku secepat ini..”

Na Eun tersenyum miris mendengarnya, dan menepuk-nepuk pelan bahu Luhan.

“Ini memang sudah takdir-Nya, Luhan..”

***

“Lu, sedang apa kau di sini?” tanya Chen ketika mereka berdua berada di depan SISHS.

Luhan tersentak kaget ketika ia sedang bersandar di depan mobilnya.

“Aku? Aku emm..aku sedang…menunggu Na Eun.” Balas Luhan dengan sedikit gugup. Pipinya terlihat memerah sekarang.

Chen menepuk bahu Luhan, “kau tak usah gugup, Lu. Aku sudah mengetahuinya, aku bertanya hanya karena ingin mengetahui kejujuranmu saja.” Chen tersenyum pada sahabatnya itu.

“Aku juga sedang menunggu Hyura pulang, hari ini aku ingin mengajaknya jalan-jalan. Aahh, jangan-jangan, kau kemari juga karena―”

“Apa?” Luhan segera memotong perkataan Chen. Sungguh, Luhan sangat gugup sekarang. Bahkan, peluhnya bercucuran di dahinya.

“Tidak, ah itu mereka!” tunjuk Chen pada Na Eun dan Hyura yang berjalan mendekati mereka. Luhan segera mengikuti arah telunjuk Chen. Matanya langsung menangkap seseorang yang sedang ia tunggu.

“Oppa…” Hyura segera berlari meninggalkan Na Eun, dan menghampiri Chen yang sedang bersandar di depan mobilnya.

“Bagaimana? Kita jadi pergi?” tanya Hyura sembari memegang tangan Chen.

“Eum.” Balas Chen dengan senyuman manisnya.

Hyura mengangguk, “ayo!”

“Lu, aku pergi dulu. Ya.” Chen mengerlingkan matanya, dan segera meninggalkan tempatnya tadi menuju sebuah tempat yang akan mereka―Chen dan Hyura―tuju.

“Halo, Oppa..” sapa Na Eun sambil tersenyum.

‘Oppa?’

‘dia memanggilku Oppa?’

“Ah, halo Na Eun. Kau ingin pulang sekarang? Aku akan mengantarmu.” Tawar Luhan pada gadis yang ada di hadapannya. Terlihat Na Eun yang sedang memutar pandangannya ke segala arah, mencari jawaban.

“I-iya, Oppa. Eh, bolehkah aku memanggilmu Oppa?” tanya Na Eun diselingi senyumannya.

“Terserah kau saja. Ayo!”

“Oppa, aku tak ingin pulang sekarang, aku ingin pergi ke sungai Han dulu.” Ujar Na Eun ketika lampu merah itu menyala.

“Baiklah.” Luhan menatap Na Eun dan tersenyum padanya.

***

“Setiap kali aku merasa sedih, aku selalu datang kemari tanpa mengajak Hyura. Aku hanya tak ingin Hyura mengetahui keadaanku sekarang.” Na Eun menatap datar hamparan sungai Han yang terlihat tenang itu di depan mobil Luhan.

“Kenapa?” tanya Luhan, lalu menyesap soft drink yang ia beli di toko dekat sungai Han.

“Entahlah, Hyura memang tahu, kekasihku, tidak, lelaki itu selingkuh. Namun, ia tak tahu keadaanku yang sekarang, keadaanku yang begitu rapuh.” Jelas Na Eun.

Luhan menatap sendu gadis yang ada di sampingnya, ia melihat setitik air mata jatuh menelusuri pipi lembut gadis itu. Luhan ingin sekali menyeka air matanya, namun, tangannya seakan tak berfungsi sekarang.

“Na Eun-ah, bukankah kau kemari karena ingin menenangkan diri?” ujar Luhan dengan nada ceria, berharap Na Eun berhenti menangisi lelaki bodoh yang meninggalkannya.

“Ah, benar. Mengapa aku menangis lagi, ya? Haha, aku sungguh bodoh!” Na Eun merutuki dirinya sendiri, membuat Luhan yang secara tak sadar tertawa renyah menanggapi sikap Na Eun.

***

Two Month Later…

 

Sudah dua bulan ini Luhan dekat dengan Na Eun. Kini, ia merasa kembali seperti dahulu, menjadi Luhan yang ceria, Luhan yang penuh dengan senyuman manis, Luhan yang selalu berbagi canda tawa.

Berkat gadis itu…

Aku kembali menjadi diriku yang dulu…

Ya, berkat Na Eun…

Aku kembali tersenyum cerah sekarang…

Tak ada lagi kecanggungan antara dirinya dengan Na Eun. Bahkan, sekarang mereka terlihat lebih dekat dibandingkan dengan Chen dan Hyura. Sepertinya mereka berdua berhasil mendekatkan Luhan dengan Na Eun.

Luhan tengah berbaring di sofa sembari memainkan ponselnya, hatinya sedang gusar sekarang. Namun, ia sama sekali tak tahu apa penyebabnya.

“Temuilah gadis itu, dan nyatakan perasaanmu!” kata-kata Chen kembali terngiang di pikirannya, membuat ia bangkit dari tidurnya, dan mengacak pelan rambutnya. Ia sama sekali bingung dan gusar.

Luhan berjalan menuju dapur untuk mengambil sebotol air mineral yang disimpan di lemari pendingin. Ia meminum habis air itu, tak tersisa sedikitpun.

Terbersit keinginannya untuk menghubungi Na Eun, ya, Na Eun.

*tuuut…tuuut

Halo?” sapa Na Eun disebrang sana. Seketika, Lidahnya kelu, tak menjawab sapaan Na Eun. Luhan sama sekali tak tahu apa tujuannya menghubungi Na Eun.

“Halo, Na Eun-ah..”

Eum, ada apa, Oppa?” tanya Na Eun dengan nada ceria, seperti biasanya.

“Aku ingin bertemu denganmu di tempat biasa, sungai Han. Bagaimana?” Luhan memegang sandaran kursi di meja makan dengan erat, membuat buku-buku jarinya memutih.

“Ya, aku ke sana sekarang.” *klik.

Luhan menghembuskan napas panjangnya, keringat dingin bercucuran di sekitar pelipisnya.

‘aku harus mengatakannya sekarang..’

***

Na Eun mendongakkan kepalanya, “Oppa..” dan menatap Luhan yang berdiri di hadapannya. Gadis itu melepas earphone yang sedari tadi menemaninya, menunggu kedatangan Luhan.

“Apa kau sudah lama menunggu?” tanya Luhan yang mulai duduk di samping Na Eun.

Na Eun menggelengkan kepalanya, “belum terlalu lama.”

Kini, mereka berdua menekukkan kedua lutut, dan memeluknya sembari menikmati angin sore yang berhembus pelan di sungai Han.

“Oppa, ada apa kau ingin menemuiku?” tanya Na Eun setelah sekian lama mereka berdua menikmati semilir angin yang berhembus.

“Na Eun-ah…” Luhan kini beralih menatap Na Eun, masih dalam posisinya.

“Hm?” tanya Na Eun, pandangannya masih menatap lurus.

“Aku menyukaimu…”

‘deg’

Jantungnya kini berdetak dengan cepat. Dengan segera, Na Eun menyentuh dadanya untuk menenangkan jantungnya. Perlahan, ia menatap kedua iris mata Luhan yang berwarna coklat itu, yang sedang menatapnya lekat.

“Oppa..”

“Eum, aku menyukaimu. Entah bagaimana awalnya. Yang jelas, setiap aku berada di dekatmu, aku selalu mendapatkan kenyamanan. Kenyamanan yang membuatku selalu tenang.”

“Maukah kau menjadi kekasihku?” lanjut Luhan. Perkataan terakhirnya berhasil membuat pipi Na Eun merah merona. Yang pada akhirnya, gadis itu tersenyum menanggapi perkataan Luhan.

“Aku tak memintamu untuk menjawab sekarang. Dan kupikir, aku akan menunggu jawabanmu.” Ujar Luhan sembari mengacak pelan rambut Na Eun.

“Oppa, apa kau tahu? Sudah lama aku menantikanmu untuk mengatakan itu. Mengatakan bahwa kau menyukaiku.” Seulas senyum terukir di bibir Na Eun.

“Benarkah?” Luhan tertawa kecil, tangannya kini beralih memegang tangan Na Eun. Mereka berdua masih duduk dengan kedua lutut yang ditekukkan.

“Jadi, bagaimana? Apa kau mau menjadi kekasihku?”

Tanpa menunggu waktu lama…

“Ya, Oppa. Aku mau, aku mau… aku juga menyukaimu…” detik itu juga, Luhan segera memeluk erat gadis yang ia sukai itu, yang perlahan mulai ia cintai.

“Terima kasih…” balas Luhan dalam dekapan gadis itu.

“Eum,” Na Eun melepas perlahan pelukan Luhan, dan melanjutkan perkataannya, “berjanjilah kau tak akan meninggalkanku, Oppa.”

Luhan yang mendengar itu, tersenyum kecil dan kembali mengacak pelan rambut Na Eun.

“Tak akan pernah, Sayang…”

Pandangan mereka berdua begitu lekat..

Perlahan, Luhan mendekatkan wajahnya pada Na Eun. Yang membuat gadis itu memejamkan matanya. Ketika jarak mereka semakin dekat…

“Apa kau sedang berpikir aku akan menciummu?”

Blushh

Pipi Na Eun kembali memerah menahan malu. Luhan memang lelaki penuh kejutan, mampu membuat gadis-gadis di dekatnya berdecak kesal.

“OPPA!!!” Na Eun memukul bahu Luhan begitu keras, membuat Luhan meringis kesakitan, dan tertawa renyah melihat ekspresi wajah kekasihnya itu.

“Ya! Ya! Hentikan, sakit!”

“Benarkah? Ah, salahmu sendiri. Kau membuatku malu, Oppa!” Na Eun memalingkan wajahnya, kembali menatap sungai Han.

“Hey, apa kau tak tahu betapa kerasnya pukulanmu? Kau harus bertanggung jawab!” cibir Luhan, membuat Na Eun menatap Luhan heran.

“Dengan apa?” tanyanya.

“Dengan ini…”

CHU

Luhan mengecup bibir tipis Na Eun. Ciumannya semakin erat, Luhan melumat bibir itu dengan perlahan dan lembut. Membuat gadis itu terbuai dan membalas ciuman Luhan.

Kedua mata mereka kini terpejam, menikmati setiap lumatan-lumatan kecil yang mereka lakukan.

Perlahan, mereka saling menjauh, dan saling menatap lekat.

“Aku sangat mencintaimu, Jung Na Eun. Aku tak akan meninggalkanmu…” ujar Luhan lirih.

Bulir air mata jatuh dari mata kanan Na Eun, sejurus kemudian ia kembali memeluk erat Luhan.

“Aku juga sangat sangat sangat mencintaimu, Luhan. Aku juga tak akan pernah meninggalkanmu…”

***

Ketika hati tak kubuka kembali…

Perlahan-lahan…

Aku mencoba untuk membukanya…

Berharap bisa mengobati luka di hatiku yang cukup lebar…

Mencoba untuk tak selalu terpuruk dalam keadaan itu…

Mencoba untuk tak selalu menangis…

Dan ketika aku mendapatkan satu cinta yang begitu besar…

Aku bahagia mendapatkan pengganti dirinya…

Walau perlahan, aku harus melupakan dirinya yang pernah menjadi bagian dari hidupku…

Aku sangat mencintaimu…

Jung Na Eun…

END

Iklan

16 comments

  1. Aku pernah baca FF kaka yg ini tuh di EFFI sama EFF, iyakan kaka pernah ngirim kesitu? 😀

    Akhir nya mereka bisa move on juga dari masa lalu, daebak ceritanya.
    Feel nya dapet lagi, aku sampe senyum-senyum baca nya 🙂

    Keep writing ka 🙂

    1. Hihi, iya aku udah ngirim di 2 situs itu 😀
      duh padahal aku ngirim FF ini ke EFFI sejak 3bln yg lalu. Eh baru di post pas kemarin2 *saking ramainya*
      kok jadi curhat? 😀
      makasih yah udah komen 🙂

  2. Di chuuu Luhan gimana rasanya yaa??
    Ahahah,nice ff *again kak! Luhan bisa moveon Na eun jugaaa 😘
    Hihi,senyum” sendiri udah kaya orgil baca ff ini 😌 kereeen!!! Aahh jadi Miss lulu 😂😭😥
    Keep writing kak!!!

  3. hikseeuuu. . karna ak kangen lulu oppa makanya ak baca ff dia yg ini eeh gak taunya syediiih. . tapiiii HAPPY END!! yey!!!!!!
    terus ak kapan muponnya dari kamu oppaaaaaa. . . .keren!keren!
    bikin nagih bacanya tapiiiiii tar mau bangun sahurr. . jadi dilanjutin aja tar bacanyaa!
    Isan. . . keep writing!!!!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s