When My Heart Feel a Hurt


Gambar

Author : ShanShoo (@ikhsan291)

Cast : Park Nayoung (OC) | Kim Jongin | Byun Baekhyun | Other

Genre : Romance, Sad

Rating : T

Namanya juga FF, jadi apapun yang terjadi di FF ini adalah imajinasi saya 😀

Sorry for a typos ^^

***

Byun Baekhyun…

Seorang lelaki yang sudah lama aku sukai…

Ya…

Aku menyukainya, aku menyukai sosok Byun Baekhyun…

Berkatnya…

Aku tak lagi merasakan kesepian setiap kali aku menatapnya dari kejauhan…

Happy reading~

Mereka kembali membully-ku, mereka kembali mengejekku, mereka kembali menghinaku dan juga keluargaku. Ya, mereka. Mereka semua membenciku. Mereka semua tak menginginkan kehadiranku di sekolah ini, Seoul High School.

Aku hanya bisa pasrah mendapati lemparan telur, terigu, dan juga air dari bak toilet sekolah ini. Ya, aku sudah terbiasa dengan semua ini.

Setiap hari, aku selalu berharap semoga ada seseorang yang menolongku keluar dari lingkaran menyakitkan ini. Aku selalu berharap, semoga ada seseorang yang membelaku, dan membuat mereka semua yang membully-ku sadar, bahwa yang mereka lakukan itu adalah perbuatan tercela.

“YA! Park Nayoung! Kau hanyalah gadis miskin yang beruntung bisa bersekolah di sini! Kau tahu? Kami sangat alergi berdekatan dengan gadis miskin sepertimu!”

“Gadis tidak tahu diri! Apa kau tak takut dengan ancaman-ancaman kami, huh? Pergilah dari sekolah ini! Aku tak mau melihat wajahmu!”

Ucapan-ucapan mereka benar-benar membuat hatiku sakit dan perih. Mereka tak henti-hentinya menghinaku, mereka tak pernah lelah mengumpat diriku. Dan telingaku pun tak pernah letih untuk terus mendengarkan celaan-celaan itu.

Hingga pada detik berikutnya, ada sebuah tarikan lembut yang membawaku bersembunyi dibalik punggungnya. “Apa kalian tak lelah terus menyakiti dirinya? Apa kalian tak bisa merasakan bagaimana rasa sakit hatinya ketika kalian menghina dirinya? Jika kalian terus mengganggunya, maka kalian akan berhadapan denganku!”

Aku tak tahu siapa sosok yang saat ini tengah membelaku, karena aku terlalu sibuk untuk membenamkan wajahku ini ke punggungnya yang harum seraya menangis terisak.

Aku tak lagi mendengar suara riuh mengejekku, aku tak lagi mendengar suara hinaan lagi, dan akupun tak merasakan punggungku yang dilempari terigu lagi ketika sosok ini menyelesaikan perkataannya.

Siapa dia? Aku bertanya-tanya dalam hati, karena sampai sekarang aku belum tahu siapa dia yang telah menolongku.

Mungkin dia malaikat yang datang menghampiriku…

Kurasakan badannya berbalik menghadap ke arahku. Kedua tangannya bertumpu di bahuku seraya mengusapnya lembut. Aku membuka mata secara perlahan, berharap semua ini bukanlah mimpi.

Mataku terbuka sempurna menatap sosok yang berdiri di hadapanku ini. Aku tak pecaya! Sungguh! Aku tak percaya!

Dia…

Byun Baekhyun…

Dialah malaikat penolongku…

Kulihat ia tersenyum manis padaku. Kedua tangannya kini sibuk menepuk-nepuk bahu dan juga blazer seragamku, sehingga membuat terigu-terigu yang menempel di blazer itu menghilang secara perlahan.

Dan sampai saat ini, aku belum mendengar suara seseorang berujar lagi.

Kecuali…

Suara Baekhyun…

“Kau baik-baik saja?” Baekhyun menarik daguku, lantas menatap wajahku secara perlahan. Mungkin ia takut menemukan luka di sekitar wajahku.

“Dahimu terluka, ayo ikut aku!” dan detik itu juga, Baekhyun menarik lenganku secara lembut. Membawaku ke ruang kesehatan untuk mengobati lukaku. Mengabaikan tatapan-tatapan mereka yang begitu tajam dan menusuk, yang mengarah pada kami berdua.

Aku hanya bisa menunduk dalam, dan melangkahkan kakiku mengikuti langkah Baekhyun yang begitu santai. Dan tanpa kusadari, senyuman tipis terukir di bibirku. Menyatakan betapa senang dan bahagianya hatiku ketika aku bertemu dengan malaikat pelindungku, Byun Baekhyun.

~

“Ssshh…ini sakit, Sunbae.” Ucapku lirih ketika ia menyentuhkan kapas yang sudah diberi obat merah itu ke dahiku.

Kami berdua duduk di sebuah ranjang dengan sprei putih yang mulai kumal. Baekhyun menghentikan aktivitasnya seraya mendesah pelan. “Sunbae?” Baekhyun mengerucutkan lucu bibirnya. Membuatku tak tahan untuk menyunggingkan senyuman.

“Jangan memanggilku Sunbae, panggil aku Oppa. Emm Baekhyun juga tidak apa-apa.” Ia terkekeh kecil, “Kau mengerti?”

Aku mengangguk ragu padanya sembari menatapnya dengan pandangan buram. Baekhyun yang menyadari hal itu segera mengulurkan kedua ibu jarinya, dan mengusap lembut air mataku yang mulai mengalir. “Jangan menangis. Mereka tak akan mengganggumu lagi.” Ia tersenyum manis. Senyuman itu berhasil membuatku luluh seketika.

Aku menatap lekat iris kelamnya, dan tersenyum simpul. “Oppa, terima kasih kau sudah menolongku.”

Ia terkekeh pelan. “Itu memang sudah menjadi kewajiban setiap manusia untuk saling tolong-menolong, kan?”

Menyadari ucapannya yang memang benar, membuatku mengangguk paham. “Kemarilah, aku belum selesai mengobati luka di wajahmu.” Baekhyun menarik belakang kepalaku untuk mendekatkan wajahku padanya. Dan berikutnya, ia kembali mengobati luka-luka lain di wajahku.

Hembusan napasnya begitu hangat ketika menerpa kulit wajahku. Aroma maskulin yang menguar di tubuhnya berhasil membuat diriku nyaman menghirupnya. Baekhyun memang….

“Nayoung-ah, kau baik-baik saja?” kudengar nada bicara tersengal yang berasal dari pintu ruang kesehatan. Sontak, aku menolehkan kepalaku untuk menatap ke sana. Dan aku mendapati sosok Jongin yang berdiri di sana sembari mengatur napasnya yang tak beraturan.

Perlahan, Jongin mendekat ke arahku dan menatapku cemas. “Nayoung-ah, maaf aku tak sempat menolongmu.” Ucapnya seraya mendudukkan dirinya di kursi di hadapan ranjang.

Aku menatapnya lekat dan menyentuh bahunya. “Tidak apa-apa, Jongin. Kau tak usah memasang wajah seperti itu.”

“Jadi, namamu Nayoung?” tanya Baekhyun.

“Umm.” Balasku seraya mengangguk antusias, “Park Nayoung.” Lanjutku.

Jongin―teman sekelasku―tersenyum samar, dan kini pandangannya beralih ke arah Baekhyun dengan tatapan yang sulit kuartikan. “Biar aku yang mengobati luka Nayoung. Dan terima kasih sudah menolong Nayoung, Baekhyun Sunbae.”

Baekhyun mengatup rahangnya. Seperti yang ia katakan sebelumnya, ia tak suka dipanggil sunbae. “Baiklah.” Ia menyodorkan kapas lain pada Jongin, menatapku sekilas seraya menyunggingkan senyumannya, lalu berjalan meninggalkan ruang kesehatan.

Jongin kini duduk di sampingku, tempat Baekhyun mengobatiku barusan. Ia mulai menuangkan sedikit obat merah ke kapas itu, lalu mengusapnya ke bagian lenganku yang sedikit terluka. “Kau ini bodoh atau bagaimana? Mengapa kau tak balik melawan mereka, huh?” cecar Jongin dengan tatapan tertumpu pada luka di lenganku.

Aku tersenyum samar dan menatapnya lekat. “Aku terlalu lemah untuk melawan mereka.”

Ia berdecak kecil. “Aku sudah bilang padamu untuk tak berada jauh dariku, tapi kenapa kau tak mengikuti perkataanku?” Jongin mengacak pelan rambutku, lalu menghela napas pelan.

Ya, aku memang bodoh karena tak mengikuti perkataan Jongin. Itu semua karena Jongin sudah terlalu banyak membantuku, dan juga melindungiku dari mereka. Dan itu membuatku semakin merasa tak enak padanya.

“Jangan pernah berpikiran bahwa kau terlalu membebaniku.”

Ugh! Jongin kembali membaca pikiranku, walaupun pada kenyataannya ia tak mempunyai kemampuan seperti itu.

“Kau tak pernah menjadi beban untukku, karena aku tak pernah lelah untuk selalu melindungimu.” Ucapan Jongin terdengar begitu serius di telingaku.

Dan sekarang….

Jongin menarikku ke dalam pelukannya…

“Aku berjanji, aku akan selalu melindungimu.”

~

Kejadian saat itu berhasil membuat mereka tak lagi menggangguku, tak lagi menjahiliku. Dan aku sungguh merasa tenang ketika mereka mulai mendekati secara perlahan-lahan.

Terima kasih, Baek.

Namun sepanjang perjalanan menuju kelas, aku masih mendapati tatapan tajam, bahkan samar-samar aku masih mendengar ejekan mereka walaupun suaranya begitu kecil.

Iris mataku kini menatap Baekhyun yang tengah berjalan menuju kelasnya sembari tersenyum kecil. Baekhyun berada di kelas XI-IPA. Sedangkan aku berada di kelas X-3, berjarak tiga kelas dari kelasnya.

Lelaki itu…

Berhasil membuatku melengkungkan senyuman lebar…

“Nayoung-ah!” Jongin melingkarkan lengannya di bahuku seraya tersenyum manis. “Bagaimana kabarmu hari ini?”

“Aku baik-baik saja.” Balasku seraya kembali mengalihkan perhatianku untuk melihat Baekhyun. Namun, nihil. Aku tak menemukan lelaki itu di sana, mungkin ia sudah memasuki kelasnya.

“Mencari siapa?” Jongin menatapku menyelidik, membuatku sedikit canggung dengan tatapan itu.

“Mencari Baekhyun?” lanjutnya. Oh ayolah! Yang benar saja? Bagaimana bisa Jongin tahu apa yang sedang aku pikirkan?

Jongin bergegas menarik lenganku agar sampai ke kelas. Dan saat sampai di kelas, Jongin segera mendudukkanku di kursi milikku, dan ia duduk di kursi di depan mejaku, milik teman sekelas yang belum dihuni.

“Jangan pernah sekalipun kau menyimpan rasa cinta untuknya.” Jongin menatapku intens, dan detik berikutnya ia tersenyum tipis.

“Apa maksudmu?”

“Aku tahu, Young. Kau menyukai Baekhyun ‘kan?” tebaknya. Dan itu sukses membuat kedua pipiku merah merona karena ucapannya.

“Tidak.”

“Kau bohong, Young.”

Aku menghela napas lega ketika mendengar bel masuk berbunyi. Dan otomatis membuat Jongin beranjak dari kursi itu, lalu melangkah menuju mejanya yang letaknya berjarak tiga meja di hadapanku. “Kita bicarakan ini nanti.” Ucapnya sebelum ia membalikkan badannya untuk berjalan menuju mejanya.

~

Ketika bel istirahat berdering, aku lebih memilih untuk segera bergegas menuju kantin, mengabaikan ucapan Jongin bahwa nanti ia akan kembali berbicara padaku. Sungguh! Aku belum mau berbicara dengannya, aku merasa sedikit sebal dengan ucapannya tadi.

Memangnya, jika aku menyukai Baekhyun, akan berakibat buruk bagi Jongin? Kurasa tidak!

Sesampainya di kantin. Mataku tak henti-hentinya mencari sosok Baekhyun sembari mengaduk-aduk jus stroberi yang baru saja kupesan. Aku hanya ingin mengajaknya untuk makan siang bersama.

Beberapa menit setelah aku menunggu, aku melihat Baekhyun memasuki kantin dengan langkah gontainya. Refleks, aku meneriaki namanya sembari melambaikan tangan kananku, mengajaknya untuk duduk bersama denganku. “Baekhyun Oppa!”

Baekhyun menoleh, dan tersenyum manis. Namun ia tak menghampiriku, melainkan ia melambaikan tangannya ke ambang pintu kantin. Seolah mengajak seseorang yang berada dibalik pintu itu untuk masuk.

Aku mengernyit heran, siapa seseorang yang sedang diajak Baekhyun itu? Apakah temannya? Jika iya, bagaimana aku bisa mengatur rasa gugup di hatiku? Aku belum siap untuk bertemu dengan teman sekelasnya.

Eh, itu…

Itu…

Aku bungkam seketika saat mengetahui siapa seseorang yang Baekhyun ajak. Lelaki itu menautkan jemarinya pada gadis itu, lantas berjalan mendekat ke arah meja kantinku. “Boleh kami bergabung?” ucap Baekhyun lembut.

Aku mengangguk perlahan, dengan tatapan tetap tertuju pada seseorang yang mulai duduk di hadapanku. Baekhyun mulai memesan makanan untuknya, dan juga untuk seorang gadis yang duduk di sampingnya.

“Baekhyun-ah, Taeyeon-ah, kalian terlihat semakin lekat saja.” Celetuk seorang pengunjung yang duduknya tak jauh dari tempat kami.

Apa maksudnya?

Apa maksudnya?

Seseorang, bisakah kau menjelaskan apa maksudnya?

“Tentu saja.” Baekhyun merangkulkan lengannya pada gadis yang bernama Taeyeon itu, yang kuyakini ia juga kakak kelasku di sini.

Taeyeon tersenyum kecil seraya mencubit pinggang Baekhyun. “Sshh, sakit!” ringis Baekhyun, lantas mengacak pelan rambut gadis itu.

Aku hanya bisa diam mematung melihat kejadian itu. Sesekali aku meminum jus apelku yang kini tak lagi dingin.

“Oppa, Eonnie, bolehkah aku bertanya sesuatu?” aku berkata dengan nada cukup gugup, bahkan kini kurasakan kedua tanganku terasa dingin.

“Tentu saja.” Jawab Baekhyun, dan Taeyeon hanya mengangguk kecil mendengarnya.

“S-sudah berapa lama kalian menjalin hubungan?”

Kulihat Baekhyun mengusap dagunya, lalu menatap ke arah Taeyeon. “4 bulan, mungkin.” Ucapnya sedikit ragu.

“Ya! Baekkie, hubungan kita memang sudah 4 bulan. Mengapa kau tak mengingatnya?” Taeyeon mengerucutkan bibirnya kesal seraya melipat kedua tangannya di depan dada. Menyadari hal itu, membuat Baekhyun kembali mengacak pelan rambut Taeyeon.

“Maafkan aku, Sayang.”

Sayang…

Sayang…

Jongin…di mana kau?

Aku membutuhkanmu…

Oh, sampai kapan aku bisa menahan air mata ini? Ya Tuhan, ini terlalu sakit untukku.

“Jangan pernah sekalipun kau menyimpan rasa cinta untuknya.” Ucapan Jongin kembali terngiang di telingaku.

Ya, seharusnya aku mendengarkan perkataannya. Seharusnya aku sadar, siapa Baekhyun dan siapa aku.

Baekhyun, dia lelaki populer dan juga menawan. Ia juga seorang anak pengusaha ternama di kota ini.

Sedangkan aku? Aku hanya gadis yang hanya mengandalkan beasiswa dan kepintaran untuk bisa memasuki sekolah ini.

Baiklah, bisakah aku menangis sekarang? Tidak! Aku tak boleh menangis!

“Oppa, aku sudah selesai makan siang. Dan aku harus segera kembali ke kelas. Sampai nanti.” Aku berusaha menyunggingkan senyuman manis pada mereka berdua, dan mereka membalas senyumanku tak kalah manisnya.

Segera saja kulangkahkan kaki lemas ini menuju kelas. Tidak! Bukan kelas! Tetapi taman belakang sekolah. Ya, hanya tempat itulah yang selama ini selalu menenangkan hatiku.

Kududuki bangku taman yang dingin ini secara perlahan sembari mengatur napasku yang sedikit tersengal. Air mata yang kutahan selama inipun mengalir deras.

Harapanku hancur.

Dan rasanya sakit sekali.

“Dasar bodoh! Kenapa kau bisa menyimpan rasa sukamu pada Baekhyun, huh? Bodoh! Bodoh!” aku menangis sejadi-jadinya ketika kusadari jika taman ini sepi oleh siswa-siswi.

“Kau baru menyadarinya sekarang?”

Lagi lagi aku mendengar suara Jongin. Oh, semoga ini hanya khayalanku saja! Semoga ini tidak terjadi, aku terlalu gugup berhadapan dengan Jongin jika situasiku seperti ini.

Kurasakan bangku taman yang kududuki ini sedikit bergerak, seolah ada orang lain yang duduk di sampingku. Aku menoleh ke arah samping secara perlahan, dan mendapati Jongin yang menatapku intens.

“Kenapa kau pergi begitu saja, hm? Aku kan mau berbicara padamu.” Ucap Jongin sembari menyandarkan punggungnya pada sandaran bangku taman.

“Maaf.” Hanya kata itu yang bisa kuucapkan padanya.

Jongin tersenyum tipis. “Jadi sekarang, kau sudah tahu mengenai hubungan Baekhyun dan Taeyeon sunbae?” tanya Jongin tanpa menatapku.

“U-umm.” Sial! Aku tak bisa menahan air mataku kembali, bagaimana ini?

“Berhentilah menangis. Jangan kau tangisi dia lagi, sampai kapanpun dia tak akan pernah menoleh padamu.” Jongin mengusap air mataku dengan lembut, dan menatapku sendu.

“Ada satu hal yang belum kau ketahui.” Ucapan Jongin membuatku heran, aku menautkan alisku dan menatapnya lekat.

“Apa itu?”

Ia kembali tersenyum kecil. “Aku menyukaimu, apa kau tak tahu hal itu?”

Deg

Jongin…menyukaiku?

“Umm, aku menyukaimu sejak kita memasuki sekolah ini. Asal kau tahu saja, aku selalu memperhatikanmu dari kejauhan, bahkan aku sering melihatmu ketika kau sedang memperhatikan Baekhyun. Dan itu sedikit membuat hatiku sakit.”

“Kau…kau benar-benar menyukaiku?”

“Ya, dan sekarang aku benar-benar menyukaimu. Park Nayoung. Bahkan aku sudah bilang pada kakakmu Park Chanyeol tentang perasaanku padamu.”

Sontak, aku mencubit kedua pipi Jongin, dan membuat lelaki itu meringis seraya tertawa kecil. “Ya, cubitlah aku sesukamu. Setelah itu, katakan padaku bahwa kau mau menjadi kekasihku.”

Pipiku terasa memanas setelah Jongin mengatakan hal itu. Ya Tuhan, kenapa hatiku jadi gusar seperti ini? Dan sekarang, di saat aku melihat senyuman manis Jongin selalu membuatku menjadi gugup dan canggung.

Apa jangan-jangan aku mulai menyukainya juga?

Aku menurunkan tanganku dari pipi Jongin, lalu menunduk malu. “Aku menyukaimu, Park Nayoung. Aku tak akan memaksamu untuk menjawabnya sekarang. Karena aku yakin, nama Baekhyun masih tersimpan di hatimu.”

Mengapa sekarang hatiku terasa sakit saat Jongin berujar seperti itu dengan nada seriusnya? Ya Tuhan, sebenarnya bagaimana perasaan hatiku ini? Mengapa sekarang aku merasa nyaman berada dekat dengan Jongin? Dan…ini…terlalu cepat untukku merasakannya.

“Jongin-ah. Apakah ini terlalu cepat jika aku berkata bahwa aku menyukaimu juga?”

Senyuman lebar mulai mengembang di bibirnya. Ia mengacak gemas rambutku seraya tertawa ringan. “Tidak, ini tidak terlalu cepat. Apa kau tak tahu mengenai rasa suka bisa datang kapan saja?” ucap Jongin riang.

Aku menggeleng pelan mendengarnya, membuat Jongin mendengus pelan. “Kau ini bodoh atau bagaimana? Intinya, rasa suka itu bisa datang kapan saja. Dan sekarang, kejadian itu terjadi padamu.”

Aku mulai paham.

Ya, aku mulai menyukai Jongin. Aku mulai menyukai lelaki berkulit coklat ini. Aku juga tak tahu alasannya mengapa aku bisa menyukainya. Namun, bukankah itu tak memerlukan sebuah alasan?

“Jadilah kekasihku, Park Nayoung.” Jongin menggenggam lembut kedua tanganku, dan menatapku lekat.

“Ya, aku mau. Aku mau.”

Dan detik berikutnya, aku merasakan hangat menjalar ke seluruh tubuhku, ketika Jongin merengkuhku ke dalam pelukan hangatnya untuk yang kedua kalinya.

“Terima kasih.” bisiknya.

“Dan sepertinya, guru killer cantik kita sedang memperhatikan kita di belakangmu.” Lanjutnya.

“APA?”

FIN

 

Ini oneshoot atau ficlet? Entahlah, hanya reader yang tau :3

Boleh minta komen, saran, dan kritik? 😀

Maaf ya kalo FF ini geje badai, hihi.

See U ^^

Iklan

24 comments

  1. Kritik?Saran? menurut aku setiap FF yang kaka buat selalu bagus 🙂 Dan aku baca FF ini enggk ada typo.

    Aku suka ni ceritanya, sweet and happy ending.
    Feel nya juga dapet 🙂

    Cuma agak nyesek pas tau Baekhyun udah pacaran sama Taeyeon, jadi inget sama kasus mereka 😦

    Ditunggu FF chapter, twoshoot, Ficlet atau Drabel karya kaka yang baru 🙂
    Keep writing.

  2. mau ficlet apa oneshoot pokoknya kerenlah tapi hadeuhhh kenapa ada taeyeon ya gk bisa diganti nama oc aja gitu maaf nich aku bukan baekyeon shipper*lupakan*
    gk dapet baekhyun kan cinta jongin juga dah manis banget nayoungnya aja yang kelamaan gk nyadar tapi akhirnya cepet juga hatinya nrima jongin happy ending cute

  3. Aahhhh… ff buatan kakak mah keren semua 😂 ini juga sama! Uhhh jojong si temsekkk udah manis,makin manis lo,diabetes sekalian 😒😘
    Keep writing kak!!!! Semangat!! Abaikan para siders dan plagiator yang bagaikan hama ituhhh 😪😘😤

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s