My Husband is My Enemy – Chapter 5


myh1

Author : ShanShoo

Casts : Park Eun Hee (OC) | Oh Sehun of EXO-K

Support casts : U can find them by ur self

Genre : School-life, Married-life, Romance, Sad

Length : Chaptered

Rating : PG-17

 

Special poster from myFriend DarkFlos.thanks, Dear :*

Disclaimer : This story is pure my imagination! Don’t copycat without my permission! 😉

Preview → Chapter 4

 

Happy reading~

 

 

Sehun langsung mengedarkan pandangannya untuk mencari siapa siswa yang tak sengaja— menurutnya— melempar bolanya ke arah sini, namun nihil, Sehun tak menemukannya. Pandangannya lalu beralih ke arah Eunhee yang tergolek lemas dalam rangkulannya. “Park Eunhee!”

 

Sehun benar-benar khawatir akan kondisi Eunhee. Jika ia boleh jujur, ia ingin sekali berteriak, menyerukan nama Eunhee berulangkali agar gadis itu segera tersadar. Namun ia tahu, dan merasa percuma untuk melakukannya.

Untuk yang terakhir kalinya, Sehun mengedarkan pandangannya ke berbagai arah untuk mencari siswa terkutuk itu. Dan untuk yang terakhir kalinya pula, ia tak mendapatkannya.

Wajahnya yang sedikit memerah menahan emosi, kembali menunduk untuk melihat kondisi gadis dalam rangkulannya yang tak bergerak. Dan secara perlahan-lahan, emosi yang telah memuncak hingga ujung kepalanya itupun menguap begitu saja saat ia terus memandangi wajah teduh Eunhee. Entahlah, Sehun tak tahu apa yang terjadi pada dirinya saat ini. Hingga saat ia tak ingin memikirkan jawaban atas pertanyaan itu, ia bangkit dan menggendong Eunhee. Membawa tubuh lemah itu pergi ke ruang kesehatan sekolah.

Para siswi yang masih berlalu-lalang di sekitaran koridor ruang kesehatan dibuat keheranan saat mereka melihat Sehun datang ke ruangan beraroma obat-obatan itu, dengan Eunhee yang berada dalam gendongannya. Mereka saling berbisik satu sama lain, membicarakan hal-hal seputar Sehun dengan Eunhee yang menurut mereka—mungkin—tak lagi saling membenci. Bisa terlihat dari cara Sehun yang menatap dan mengkhawatirkan gadis itu saat ia berjalan cepat.

Langkahnya terhenti di ambang pintu bercat putih yang menjadi tujuannya sekarang. Sehun menghela napas kasar, lalu menoleh pada dua orang siswa yang bersandar pada dinding sembari memerhatikan Sehun dengan heran. “Berhenti menatapku seperti itu! Kalian mau aku berbuat sesuatu yang membuat kalian keluar dari sekolah ini, huh?” katanya dengan nada yang terdengar datar. Mereka berdua terlihat menampilkan ekspresi wajah ketakutan saat Sehun berkata demikian, hingga akhirnya mereka pun meninggalkan area ruang kesehatan dengan terburu-buru sambil menggumamkan kata maaf.

Merasa tak ada lagi yang memerhatikannya, Sehun berlalu memasuki ruang kesehatan yang tak dikunci oleh penjaganya. Ia lalu melangkah menghampiri tempat tidur cukup untuk satu orang, dengan sprei dan bantal berwarna serba putih. Dan secara perlahan, Sehun merebahkan tubuh Eunhee, setelahnya ia membenarkan posisi bantal agar terasa nyaman untuk Eunhee gunakan.

Sehun kembali melangkah ke sebuah lemari berukuran sedang yang terletak di sudut ruangan, di dalamnya terdapat berbagai obat-obatan dan peralatan lain yang dibutuhkan untuk pasien di ruangan itu. Saat Sehun membukanya, ia mendapati satu kotak obat dan beberapa handuk kecil yang disimpan menumpuk dengan rapi. Kedua tangannya pun mengambil kotak obat itu dan satu handuk secara bersamaan, lalu kembali ke tempat tidur tanpa menutup lemarinya terlebih dahulu.

Sebuah kursi kecil ditarik oleh Sehun, dan diletakkan di samping tempat tidur untuk ia duduki. Kedua matanya tak lepas memandang wajah Eunhee. Ia menghirup napas dalam-dalam, lalu membuangnya perlahan. Satu tangannya bergerak menopang dagunya, dan satunya lagi mengetuk-ngetuk ujung tempat tidur. “Gadis ini memang selalu mendapat kesusahan, dan aku selalu mendapat getahnya. Seharusnya ia bisa menjaga jarak dariku.” Gumam Sehun, tanpa menggeser tatapannya ke arah lain.

Tangan kanannya mulai terulur untuk menyentuh samar pipi Eunhee, “Kau…selalu membuatku susah.” Lirihnya. Tak ada lagi emosi, tak ada lagi amarah saat ia menyentuhkan telapak tangannya di pipi gadis itu.

Semua itu menguar tanpa sebab.

1 detik

2 detik

3 detik

Hening. Hanya keheningan yang mengisi ruangan bercat putih itu. Dan hanya menyisakan sebuah tatapan yang tak dapat dijelaskan di kedua mata Sehun pada Eunhee.

Saat ini, Sehun begitu ketakutan. Telapak tangannya kini menyentuh permukaan pipi Eunhee dengan sempurna, tak samar seperti tadi. Tangannya mulai bergerak, mengusap lembut pipi gadis itu. Tatapannya yang begitu dalam, menyiratkan sebuah kecemasan, kekhawatiran, dan ketakutan yang berbaur dalam dirinya. Entahlah, Sehun tak tahu apakah semua perasaan itu ada karena ucapan kedua orangtuanya yang mengingatkan dirinya untuk tak membuat Eunhee berada dalam situasi buruk, atau karena perasaan itu datang secara tulus dari dalam dirinya.

Ia masih belum bisa mengartikan perasaan itu.

Beberapa detik setelahnya, Sehun mulai membasahi handuk kecil itu ke dalam air hangat yang telah dibawanya. Ia mulai mengusapkan handuk itu di wajah Eunhee, dimulai dari kening, kedua pipinya, hidung, dan dagu gadis itu. Sehun tercekat ketika jemarinya yang memegang handuk itu tak sengaja menyentuh bibir mungil Eunhee. Ia memandangnya cukup lama. Membuat getaran-getaran halus perlahan menyeruak dari dalam dirinya. Ia mengangkat sebelah alisnya, mengingat kembali hal-hal terdahulu saat di gereja. Saat di mana ia mencium bibir manis milik gadis itu begitu lama, seolah ia tak ingin bibir itu pergi dari bibirnya.

“Aish, apa yang aku pikirkan?” Sehun menggelengkan kepalanya sembari terpejam, ia tak mau mengingat hal itu lagi.

‘Tidak! jangan diperhatikan!’ batin Sehun berbicara. Kedua tangannya masih sibuk mengulang untuk membersihkan wajah Eunhee. Dan…kedua matanya masih tetap memerhatikan bibir yang mengatup rapat itu.

“Dia pantas mendapatkannya!”

Suara seorang gadis dengan nada datarnya menghentikan pergerakan kedua tangan Sehun yang masih sibuk membersihkan wajah Eunhee. Sehun tertegun sejenak, mencoba untuk mencerna perkataan seorang gadis di belakangnya yang mulai terngiang di dalam otak.

Perkataan itu berhasil membuat emosi Sehun tersulut, lelaki itu menghempaskan dengan kasar handuk yang dipegangnya ke sisi tubuh Eunhee. Ia lalu beranjak dari tempat duduk, dan membalikkan tubuhnya pada gadis yang diam tak bergeming di ambang pintu ruang kesehatan.

Kedua mata Sehun menatapnya bengis. Dalam hatinya, ia sudah menyangka, jika gadis yang berdiri tegak di depannya itu adalah pelaku yang melempar bola basket ke arah Eunhee. Dengan kedua tangannya yang mengepal kuat, Sehun mengayunkan tungkai kakinya pada gadis itu yang secara perlahan membelalakkan kedua matanya saat ia menatap sorot mata Sehun yang tajam.

Ketika Sehun telah berada di hadapan gadis itu, ia mencengkram kuat kerah seragamnya, dan mendekatkan wajah gadis itu ke wajahnya yang merah padam. “Apa kau sudah gila? Apa yang kau inginkan, huh? Mengapa kau ingin mencelakai Eunhee?”

Seorang siswi dengan name-tag Han Minji yang melekat di seragam blazernya, menyunggingkan sebuah smirk yang tak disukai Sehun. “Aku heran, mengapa kau jadi mengkhawatirkan gadis itu? bukankah kau bilang sendiri padaku, jika kau tak menyukainya? Lalu, apakah dengan membantu gadis itu dan membawanya ke ruang kesehatan, merupakan bentuk kebencianmu terhadapnya?”

“Aku bertanya satu kali lagi padamu, sebelum aku melayangkan satu pukulan keras di wajahmu yang lembut ini. Mengapa kau melakukan hal itu, hm?” Sehun berkata tenang sambil membelai pelan pipi Minji yang terasa lembut di punggung tangannya, lalu menyunggingkan senyum simpul.

Minji begitu geram saat ia tak mendapat jawaban atas pertanyaannya. Ia malah mendapatkan ancaman dari Sehun yang terdengar mengerikan. Dengan susah payah Minji menelan ludahnya, lalu menatap Sehun dengan pandangannya yang mulai buram terhalang oleh bulir air mata.

“Kenapa…kenapa kau jadi membela gadis itu, huh? Apa yang terjadi padamu?”

“Pergi dari sini, jangan sampai kau membuatku semakin marah padamu, dan menghajarmu detik ini juga.” desis Sehun tepat di telinga kanan Minji. Terdengar suara isak pelan dari mulut gadis itu. Sehun tahu, ucapannya keterlaluan, tapi ia tak ingin Minji mencelakai Eunhee lagi. Hanya itu.

“Kau kenapa, Oh Sehun? Apa gadis itu telah meracuni pikiranmu?”

“Kau yang telah meracuni pikiranku, Han Minji. Karenamu, aku harus merasakan benci yang begitu besar padamu. Hingga akhirnya, aku ingin menjauhimu selamanya.”

“….”

“Aku bilang, pergilah! Kau mau aku memukulmu?”

Tidak ada lagi tanggapan dari Minji. Karena sekarang, gadis itu sibuk dengan perasaannya yang terasa kacau akibat ucapan Sehun. Ia mundur secara perlahan, dan membiarkan bulir beningnya mengalir deras membasahi kedua pipinya. Ia sungguh tak menyangka, jika perbuatannya ini tak membuahkan hasil sama sekali. Seharusnya ia tak melakukan ini jika ternyata Sehun malah mempedulikan Eunhee dibanding dirinya. Untuk yang terakhir kalinya, Minji menatap wajah Sehun sebelum ia benar-benar meninggalkan koridor ruang kesehatan.

“Jadi…Minji yang…melakukannya?”

Sehun tersentak mendengar suara gadis di belakangnya. Itu suara Eunhee.

Ia membalikkan badannya dengan kening yang mengerut samar. “Eunhee-ya, bagaimana kau bisa tahu—”

“Aku mendengar semuanya, semuanya. Bahkan aku juga mendengar kau mengancam akan memukul Minji jika dia tak pergi dari sini.” potong Eunhee dengan satu tangan yang memijit lembut pelipisnya.

“Lalu, sejak kapan kau bisa duduk dengan tegak seperti itu dan mendengar semua yang kukatakan, Park Eunhee?”

Eunhee menghela napas panjang, “Sejak gadis itu berdiri tepat di belakangmu.”

Hening selama beberapa saat. Dan Sehun masih berdiri di tempatnya dengan perasaan canggung yang mulai menghampiri. Sepertinya Sehun kesulitan untuk melangkahkan kakinya pada Eunhee. karena ia merasa kakinya membeku seketika.

“Sehun-ah…” kata Eunhee setelah ia merasa keheningan semakin mengusik hatinya.

Lelaki itu menoleh cepat, “Hm?”

Entahlah, apakah Eunhee bisa mengatakan ini atau tidak. Karena seingatnya, ia tidak pernah mengatakan lagi dua kata ini pada Sehun setelah belasan tahun lamanya mereka saling menjauhi. Dan mungkin, sekarang adalah saat-saat untuknya kembali mengucapkan dua patah kata itu.

“Ada apa, Eunhee-ya?” ulang Sehun tak sabaran.

Gadis itu berdehem kecil, “T-terima kasih.”

Dua kata itu keluar cukup lancar dari bibir mungilnya. Eunhee tersenyum tulus, senyuman yang belum pernah ia berikan pada siapapun kecuali pada kedua orangtuanya, dan kekasihnya. Ia menatap lekat Sehun yang turut memberikan senyuman samar padanya. Sehun tak merespon perkataan Eunhee, namun ia sudah berkata ‘sama-sama’ lewat senyuman yang terus ia sunggingkan pada gadis itu.

 

Seorang lelaki berumur sekitar 17 tahun, baru saja menjejakkan kakinya di bandara Incheon. Ia berjalan santai sembari mengerek kopernya yang berwarna coklat, bibirnya bersiul rendah. Matanya yang terhalangi oleh kacamata hitam melirik ke sana kemari, memerhatikan setiap gadis yang berlalu-lalang di sampingnya. Senyuman menggodanya terukir saat ia mendapati beberapa gadis yang menoleh dan tersenyum simpul ke arahnya, sepertinya mereka tertarik pada satu sosok pemuda itu yang mengenakan pakaian kasualnya.

“Oh, Hyung!” teriak pemuda itu ketika matanya menangkap sosok lelaki yang melambai-lambai ke arahnya dengan senyuman lebar.

Ia ikut tersenyum lebar, kedua kaki jenjangnya mulai berlari kecil menghampiri sosok yang ia panggil ‘hyung’ barusan. Dan kini, ia tak mempedulikan tatapan para gadis yang melewat di sekitarnya. Karena sekarang kedua matanya lebih fokus pada lelaki yang sebentar lagi akan berada di hadapannya.

“Aku merindukanmu.” Kata lelaki itu sembari memeluk kakaknya dengan erat.

“Aku juga. Ah, bagaimana perkembangan hubunganmu dengan gadis itu? Apakah berjalan dengan baik?”

Lelaki itu melepaskan pelukannya, sekaligus membuka kacamata. Memerhatikan sosok kakaknya dengan pandangan datar. “Aku merasa muak berdekatan dengan gadis itu, Hyung.”

Keduanya pun tertawa renyah, lalu mulai berjalan beriringan dengan sang kakak yang merangkul pundak adiknya. Sesekali ia memukul puncak kepala adiknya dengan gemas, menyatakan jika ia begitu merindukan sang adik yang sudah 2 tahun ini tinggal di Osaka, meninggalkannya yang jelas-jelas begitu menyayangi sang adik.

Sebenarnya, tinggal di Osaka bukanlah keinginannya. Melainkan karena keinginan kedua orangtuanya agar lelaki itu bertemu dan dekat dengan seorang gadis kelahiran Korea-Jepang untuk dijodohkan dengannya.

Beruntung kakaknya tidak menjadi bahan perjodohan, karena ia mendapatkan jodohnya sendiri. Terlebih lagi, kedua orangtuanya menyukai wanita itu yang kini telah resmi menjadi istrinya. Bahkan sekarang mereka telah dikaruniai satu anak perempuan yang menggemaskan.

Jika saja sang adik bisa merubah kebiasaan buruknya, tidak bermain perempuan dan tidak pergi ke klub malam sesuka hati, mungkin ia tak akan dijodohkan seperti itu, dan hidup tentram sama seperti kakaknya.

Sudah dua tahun lamanya ia berada dekat dan berhubungan dengan gadis itu. Tetapi selama itu, ia tak pernah merasakan kecocokan. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk pergi meninggalkan Jepang dan kembali ke tanah kelahirannya, Seoul. Dan jika kedua orangtuanya memarahinya karena tak menuruti apa yang diinginkan, maka dengan tegas ia mengatakan, jika ia akan mendapatkan pendamping hidupnya sendiri. Tanpa diatur oleh mereka.

“Baiklah, kurasa jodohmu memang berada di sini, bukan di Jepang seperti apa yang ayah dan ibu katakan.” Kata sang kakak sebelum mereka berdua memasuki taksi yang sudah dipesan.

Dalam taksi itu, Jongin merespon ucapan kakaknya. “Tentu saja jodohku ada di sini. dia adalah gadis pilihanku, dan aku sudah menunggunya selama dua tahun ini. Kau tahu ‘kan siapa orangnya?” katanya dengan nada ceria.

Sang kakak mengangguk cepat. “Park Hyerim, kan? ah, tentu saja iya. Mana bisa aku melupakan wajah cantik gadis itu?”

“Aish!”

 

 

“T-terima kasih.”

Sebuah perasaan lega bercampur bahagia, menyelinap masuk ke dalam relung hatinya. Sehun benar-benar mengakui perasaan itu. Perasaan yang begitu sulit untuk ia dapatkan bertahun-tahun lamanya. Perasaan yang jarang muncul dalam hatinya. Perasaan yang secara perlahan membuat tubuhnya menghangat. Walaupun ia dan Kyungsoo adalah satu saudara yang begitu dekat, tetap saja rasa nyaman dan bahagia itu tak pernah muncul sebesar ini.

Tetapi, dengan gadis itu…semuanya terasa….berbeda.

Sehun maju perlahan ke arah Eunhee yang masih duduk di atas tempat tidur. Ia menyentuh dan mengusap tengkuknya, lalu menatap Eunhee. “Bagaimana…keadaanmu? Apa baik-baik saja?”

Mendengar dua pertanyaan yang bersumber dari lelaki di hadapannya, membuat Eunhee mendongak lalu tersenyum kecil. “Umm, seperti yang kaulihat saat ini. Aku baik-baik saja, sangat baik.” kata Eunhee dengan pandangan sayu. Memerhatikan Sehun dari atas sampai bawah, lalu kembali lagi ke atas. Dan ia kembali berujar. “Bagaimana denganmu? Apa kau baik-baik saja? Kau terlihat sangat berbeda sore ini.” gadis itu lalu menekuk lutut dan memeluknya.

“A-aku? Aku…aku tidak apa-apa.” Sehun tersenyum canggung. Oh, lihatlah sekarang! Sehun tak lagi menatap Eunhee. apa yang terjadi padanya? Benarkah Sehun terlihat baik-baik saja?

Tidak.

Lelaki itu tidak terlihat baik-baik saja, semenjak ia mendapati…

Perkataan terima kasih dan senyuman lembut dari gadis yang selama ini ia benci.

Bahkan sekarang, Sehun mendapati jantungnya berdetak di atas normal.

Debaran jantungnya semakin tak menentu di saat ia mengulurkan tangannya pada Eunhee untuk menarik gadis itu turun dari tempat tidur. “Kita pulang sekarang?” kata Sehun, lalu mengukir senyuman lembut di bibirnya.

Tapi…benarkah itu senyumannya? Eunhee mengerjap tak percaya. Benarkah senyuman itu ditujukan untuknya? Benarkah senyuman itu adalah senyuman Sehun?

Tolong beritahu Eunhee, karena semua perkiraannya benar.

Beberapa detik berikutnya, Sehun dan Eunhee melangkah keluar meninggalkan ruang kesehatan dengan langkah yang lambat. Dan untuk selanjutnya, mereka dihujani pandangan heran dan aneh dari para siswa yang masih berada di area sekolah. Rupanya dugaan mereka tentang membaiknya hubungan Sehun dan Eunhee adalah benar. Sedikit dari mereka menghembuskan napas lega. Setidaknya untuk sekarang dan—mungkin—selamanya, mereka tak akan lagi mendengar Sehun dan Eunhee yang terus beradu kata.

 

“Bagaimana bisa kau kembali lagi kemari tanpa membawa Hanni?”

Perkataan seorang pria paruh baya barusan, membuat sosok lelaki bertubuh tinggi yang berdiri tegak di hadapannya mendesah kesal. Bagaimana tidak? Ia yang baru saja pulang dari Jepang, yang seharusnya mendapat sambutan hangat dari keluarganya, malah mendapat sambutan tidak mengenakkan, dan itu membuat hatinya dongkol.

Lelaki itu memainkan jemari-jemari tangannya di dalam saku celana, lalu pandangannya beralih menatap taman yang luas di balik jendela ruang kerja ayahnya. Ia sama sekali tak tertarik untuk membalas ucapan sang ayah yang duduk menegang di hadapannya.

“Kim Jongin!”

Pria itu kembali bersuara, sedangkan sosok yang ia ajak bicara hanya mengatupkan bibirnya rapat. Lalu beberapa detik setelahnya, lelaki bernama Kim Jongin itu berujar. “Aku tak menyukainya.” Tiga kata yang terlontar dari mulut Jongin, sukses membuat pria itu melebarkan kedua matanya, lalu mengepal tangannya kuat.

“Kau bilang apa?”

Jongin mendesah kesal, “Aku tak menyukainya, Abeoji. Apa perkataanku kurang dimengerti?”

Iapun lalu berjalan santai ke arah kursi sofa tunggal berwarna merah pekat yang terletak di bagian samping meja. Ujung sepatu kanannya mengetuk-ngetuk lantai yang dipijaki, dan kedua mata elangnya memerhatikan sekeliling ruang kerja ayahnya yang didominasi warna putih dan hijau muda. “Tidak ada yang berubah rupanya.” Katanya pada diri sendiri.

Tuan Kim membuka paksa kacamata bacanya, ia menunjuk wajah Jongin dengan jemarinya yang memegang kacamata miliknya. “Kau benar-benar keterlaluan, bagaimana jika gadis itu mengadukan sikap kurang ajarmu pada kedua orangtuanya, huh? Apa yang harus aku lakukan? Aku harus memberikan alasan apa?”

Matanya yang masih mengitari setiap sudut ruanganpun terhenti, ia menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi sofa sebelum berujar. “Bilang saja jika aku tidak menyukainya, mudah ‘kan? lagipula, jika aku tidak tertarik pada gadis itu, aku pasti akan sering menyakitinya. Abeoji tak menginginkan hal itu, bukan?”

Mendengar penjelasan yang dilontarkan anak keduanya itu, membuat tuan Kim mati-matian menahan emosi. Ia tak ingin meluapkan emosinya, dan ia tak ingin jantungnya bermasalah jika ia benar-benar menumpahkan segala kekesalan dan emosinya pada Jongin. “Kau benar-benar—“

“Anak tidak tahu diri, suka membangkang ucapan orangtuanya, suka bermain perempuan, dan suka pergi ke klub malam. Apa kalimat itu lagi yang ingin Abeoji katakan padaku? ah, rupanya aku masih mengingat ucapanmu itu saat dua tahun yang lalu. Ingatanku memang baik untuk ucapan buruk itu.” Ia memuji diri sendiri, menampilkan senyuman lebar dan jejeran gigi depannya yang putih dan rapi.

Karena Jongin tak mendapat respon ayahnya, ia melirik sekilas ke arah pria itu yang tengah memejamkan mata sambil mengepalkan kedua tangannya di atas meja. “Sepertinya Abeoji sedang sibuk. Apa aku mengganggumu?” katanya dengan nada mengejek. “Mungkin kau akan tetap sibuk sampai akhir hayatmu. Kalau begitu, aku pergi dulu.”

Dua detik berikutnya, Jongin bangkit dari kursi sofa. Lalu melangkahkan kakinya untuk meninggalkan ruangan kerja sang ayah yang menjadi direktur di perusahaannya. Sungguh, jika saja pria itu bukan ayahnya, mungkin Jongin tak ingin menjejakkan kakinya di perusahaan ini. Karena perusahaan ini membuat ayahnya menjadi gila kerja, dan jarang pulang ke rumah sekedar untuk menyalurkan kasih sayangnya pada keluarga.

Jongin tiba di lobi perusahaan di lantai satu. Matanya menatap sosok kakaknya yang duduk dan memejamkan mata di dalam mobil yang terparkir rapi di depan perusahaan. Ia pun segera menghampiri kakaknya.

Hyung!” panggil Jongin sambil menggoyangkan bahu kakaknya, saat ia sudah berada di dalam mobil.

Lelaki itu menoleh ke arah Jongin. “Sudah selesai?” tanyanya dengan kedua tangan yang terangkat menyentuh kendali stir.

Jongin mengangguk. “Aku tak perlu lama-lama untuk berbicara dengan ayah. Karena aku tahu, saat ini dan entah sampai kapan, ia sibuk dengan pekerjaannya.”

Ada jeda beberapa saat sebelum Jongin melanjutkan kalimatnya dengan kening mengerut samar. “Hyung, kenapa tadi kau tidak ikut ke dalam?” ia menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi mobil, lalu menatap kakaknya intens.

Lelaki yang duduk di sebelah Jongin tertawa hambar. “Aku tak mau mendapat perintah yang sama dari Abeoji.” Ia menghela napas kasar, “Abeoji pasti akan menyuruhku untuk memerhatikanmu, lalu menjagamu seperti gadis kecil yang butuh perlindungan. Dan aku tak mau melakukannya. Lagipula, bukankah kau juga tak mau kujaga?”

Jongin hanya tertawa ringan sambil mengangguk paham mendengar penjelasan kakaknya. “Kau benar! Ah, Suho Hyung, sore ini aku tak ingin pulang ke rumah dulu. Aku ingin mengunjungi beberapa temanku yang sudah lama tak kutemui.” Lanjut lelaki berkulit coklat itu, lalu mulai menutup matanya untuk beristirahat sejenak.

“Dan aku yang harus mengantarmu pergi menemui teman-temanmu itu, begitu?” Suho mendengus kesal lalu menepuk kening Jongin dengan keras, hingga membuat lelaki itu terpekik. “Pakai saja mobilmu sendiri, Tuan! Hari ini kau sudah membuatku mendapat banyak kesusahan. Dan apa kau pikir, aku ini adalah sopirmu yang bisa kau perintahkan seenaknya?”

Jongin menatap Suho intens, “Kau sangat cerewet, Hyung. Bagaimana mungkin kakakku yang notabene pendiam ini berubah menjadi banyak berbicara?” lelaki itu mengusap dagunya, lalu berdecak pelan. “Ini sungguh tak terduga.”

Mendengar penuturan Jongin, Suho menyunggingkan senyum lebar. “Sudahlah, tak usah mencibirku seperti itu. Sekarang, kita pulang ke rumah. Dan bawa mobilmu sendiri untuk pergi menemui teman-temanmu, oke?”

 

 

Sore ini, Eunhee berdiri di dekat jendela kamarnya sembari menggenggam secangkir coklat panas buatannya sendiri. Dari balik kamarnya, ia memerhatikan taman belakang rumah yang terlihat begitu cantik. Eunhee sungguh memuji keapikan Sooyeon dalam merawat tumbuhan-tumbuhannya. Dan Eunhee berharap, semoga ia bisa merawat tumbuhan itu dengan baik, sama seperti Sooyeon.

Eunhee dikagetkan dengan suara pintu kamar yang terbuka lebar. Gadis itu lalu menolehkan wajahnya ke arah suara, mendapati Sehun yang berjalan ke arah cermin besar untuk menata rambutnya yang berantakan.

“Sore ini aku mau pergi menemui teman lamaku.”

Gadis itu mengernyit, “Teman lama? Siapa?”

“Jika aku memberitahumu siapa namanya, apa kau akan mengenalnya?”

Nada datar itu kembali tertangkap di indera pendengarannya. Dan Eunhee semakin yakin, jika kejadian yang terjadi di ruang kesehatan sekolah hanyalah imajinasinya saja. Sehun tak mungkin berubah menjadi baik dan lembut seperti apa yang dipikirkannya.

“Kurasa tidak. baiklah, terserah kau saja.” Kata Eunhee acuh tak acuh, lalu kembali memandangi taman dengan hati sedikit dongkol.

“Baik-baiklah di rumah. Jangan pergi berkeliaran dan jangan membuatku mengkhawatirkanmu lagi.”

Benarkah itu?

Benarkah Eunhee sudah mengkhawatirkan Sehun, hingga Sehun berujar demikian?

Baiklah, apa Eunhee masih merasa pendengarannya kurang baik?

Oh, ayolah Park Eunhee. Sampai kapan kau terus mengelak dari kenyataan yang ada di depan matamu

“O-oh, baiklah.” Perkataan itu meluncur begitu saja dari bibir tipisnya. Eunhee berdiri seperti sebuah patung, tak bisa menggerakkan anggota tubuhnya.

“Park Eunhee…” panggilan Sehun membuyarkan seluruh pemikiran gadis itu. Kali ini Eunhee memutar tubuhnya menghadap Sehun, lalu menatap lelaki itu sedikit canggung.

“Y-ya?”

“Jauhi Han Minji. Dia gadis yang berbahaya. Aku takut dia menyakitimu lagi.” Lelaki dengan balutan pakaian kasual itu mulai melangkah mendekati Eunhee yang melebarkan kedua matanya. Ia pun langsung menyentuhkan punggung tangannya di kening gadis itu.

Dan sentuhan itu mampu membuat darah Eunhee mengalir lebih cepat, dan membuat suhu tubuhnya naik.

“Kau sudah tidak apa-apa ‘kan? aku harap kau tidak jatuh sakit malam ini setelah terkena lemparan bola itu.”

Tangannya lalu beralih menyentuh kedua pipi Eunhee, dan mengamati wajah gadis itu lekat-lekat. “Wajahmu juga tidak pucat.”

Refleks, Eunhee menjauhkan tangan Sehun dari kedua pipinya. Napasnya kini terdengar memburu dan sulit untuk dikendalikan. “Apa yang kaulakukan?” tanya Eunhee kaget.

Sehun berdecak kecil, “Aku hanya memastikan keadaanmu saja. Kau tahu ‘kan apa yang terjadi nanti jika kedua orangtuaku tahu kau sakit? Mereka pasti akan memarahiku jika aku tidak menjagamu dengan baik.”

Tak ada satu katapun yang keluar dari mulut Eunhee, karena yang dilakukan gadis itu saat ini hanyalah mengatup rapat bibirnya, dan berusaha mengatur detakan jantungnya yang begitu cepat. Perasaannya yang sempat membaik karena perhatian Sehun perlahan runtuh ketika ia mendengar alasan mengapa Sehun begitu memerhatikannya.

Eunhee semakin bingung dengan dirinya sendiri. Mengapa perasaan itu datang seenaknya saja? Mengapa perasaan itu terus mempermainkan dirinya, hingga ia merasakan sakit di sekitar dadanya? Sungguh, itu semua sangat keterlaluan!

“Aku pergi, dan mungkin aku akan pulang malam nanti. Ingatlah perkataanku tadi, Eunhee-ya.”

Seiring dengan kepergian Sehun, setitik bulir bening mengalir dari kedua matanya yang memerah.

 

 

Sudah 30 menit lamanya, Sehun tidak berada di rumah. Dan hal itu membuat Eunhee merasa kesepian. Berkali-kali ia mengganti chanel televisi untuk mencari tayangan yang bisa menarik perhatiannya. Tapi, beberapa menit lamanya ia mencari, ia tak kunjung menemukannya.

Eunhee mendesah kesal, lalu melempar remote televisi dengan kasar ke atas meja ruang tengah. Ia lalu menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa, memandang langit-langit ruangan tengah dengan pandangan menerawang.

‘Apa Sehun sudah sampai?’

‘Apa sekarang, Sehun sedang berbincang dengan teman lamanya?’

‘Kapan Sehun pulang? Eh…bukankah ia bilang akan pulang malam nanti?’

Eunhee menggeleng pelan untuk menepis pikiran-pikiran itu. Jujur saja, memikirkan semua hal yang menyangkut Sehun barusan bukan keinginannya.

Untuk yang kesekian kalinya, Eunhee mendesah kesal. Sepertinya ia akan melewati waktu sore hingga malamnya hanya sendiri, ditemani dengan buku-buku pelajaran yang sungguh menyesakkan otaknya.

Baru saja Eunhee akan menutup matanya untuk menenangkan pikiran, ia mendengar suara pintu rumahnya dibuka oleh seseorang. Eunhee mengerjap kaget, dan baru saja akan melangkah menuju ruang utama ketika irisnya telah mendapati Sehun yang berdiri mematung di depan pintu rumah.

Kenapa Sehun sudah pulang? Bukankah lelaki itu bilang jika ia akan pulang malam nanti?

Ada suatu rasa yang tak bisa dijelaskan Eunhee dalam hatinya, kala ia mengamati Sehun hanya diam dengan napas yang tersengal, seolah menahan amarah yang membara.

“S-Sehun-ah, a-apa yang..terjadi? kau..kau kenapa?” kalimat pertanyaan itu keluar dengan nadanya yang terdengar lemah dan gugup.

Eunhee melebarkan kedua matanya, saat ia melihat Sehun mengeluarkan air mata dalam diam. Bulir air mata itu jatuh bebas menelusuri lekuk pipinya yang putih, dan untuk buliran air mata ke sekian kalinya, Sehun tetap terdiam.

Tidak! Eunhee tak boleh membiarkan Sehun dalam keadaan seperti itu! Ia harus tahu apa yang terjadi pada Sehun hingga membuat lelaki itu menangis. Apakah Sehun menangis karena ulah teman lamanya itu? Atau, apakah ada hal lain yang membuat Sehun terlihat lemah seperti itu?

Hingga pada dua detik berikutnya, Eunhee memberanikan diri berjalan ke pintu rumah, menghadapkan tubuhnya tepat di depan Sehun dengan iris matanya yang mengikuti pergerakan Eunhee.

“Apa yang—”

Eunhee tak dapat meneruskan kalimatnya, ketika tiba-tiba saja Sehun memeluknya dan meletakkan dagunya di bahu kanan gadis itu. Sebuah rasa sakit perlahan menjalar merasuki batinnya, saat Eunhee merasakan adanya getaran halus di bahunya.

Sehun terisak.

Dan semakin merekatkan pelukannya pada Eunhee.

“Eunhee-ya.”

Gadis itu tak dapat berkata-kata. Cukup sulit untuknya membuka mulut sekedar untuk merespon ucapan Sehun. Yang bisa dilakukannya hanyalah menggumam pada lelaki itu.

“Selama ini, dia telah menjalin hubungan dengan orang lain. Dia telah menorehkan luka yang cukup dalam di hatiku. Dia telah membuat senyumanku pergi, dia telah membuat ragaku lemah. Mungkin, aku memang telah ditakdirkan untuk merasakan sakit hari ini. Dan mungkin, aku memang pantas mendapatkannya. Tapi sungguh, rasa sakit ini sungguh menampar batinku. Dan itu sangatlah menyakitkan.”

“Walaupun dia telah menyakitiku, aku masih tetap mencintainya.”

Dan demi apapun, mendengar kalimat terakhir Sehun membuat Eunhee tak dapat menahan perasaan sakit dalam batinnya. Ia sungguh tak bisa mendeskripsikan perasaan itu, ia masih belum bisa mengartikan bagaimana bisa perasaan sakit itu muncul ke permukaan.

Eunhee memilih diam, mencoba menenangkan sesak yang terasa semakin menghimpit dadanya. Yang bisa membuat gadis itu terisak pelan dalam pelukan Sehun.

“Tolong, biarkan aku memelukmu, ijinkan aku meleburkan seluruh rasa sakitku dengan cara ini. Aku sangat membutuhkan dirimu, Park Eunhee…”

 

 

‘Lalu, bagaimana denganku? Apa kau bisa mengobati luka di hatiku? apa kau bisa membuatku kembali tersenyum saat aku tahu, kau begitu mencintai gadis itu?’

 

‘Apa yang harus aku lakukan ketika aku tak bisa melengkungkan senyuman lagi? Apa yang harus kulakukan agar rasa sakit ini hilang tak berbekas?’

 

‘Ya Tuhan, aku sungguh bingung dengan perasaanku sendiri…’

 

 

 

TBC

 

 

Sebelumnya aku mau minta maaf kalo chapter ini kurang gereget. Hanya ini hasil imajinasiku yang terkumpul -_-

Kependekan? Emang iyaa.. tapi wordsnya udah nyentuh/? 4000words kok 😀

Gaje? Iya juga 😀

Engg…dari sekian banyaknya komen, banyak yang bilang pengen liat Sehun cemburu sama kedekatan Eunhee dan Chen. Awalnya aku emang mau bikin adegan itu, tapi kayanya ngga sekarang. Mungkin chapter depannya. Gapapa ‘kan? 😀

Oya readers, aku mau ngasih tau. Ff ini ga bakal jadi chapter yang panjang. Karena aku udah ngerencanain ff ini bakal end ga lebih dari 10 chapter. Alasannya karena aku ga mau nambahin konflik-konflik lain setelah konflik yang dihadapi selesai. Aku hanya takut terjadi buntu ide cerita lagi kalo ceritanya kepanjangan 😀

 

Yang baca, tolong komen serta sarannya yah 🙂

Please~ be a good readers…

Yang komennya cuma next, bagus, dll yang terbilang ‘pendek’ rasanya nampar banget, sama kaya perasaan Sehun yang ditampar di ff ini 😥

 

See U next chapter, ya 🙂

Iklan

629 comments

  1. Sehun nangis ? Karna hyerim kah ? Eunhee kuatkan hatimu ..
    Maaf aku loncatin chap 4’a smbil nunggu pw’a mkanya aku bca chap 5 dlu udh terlanjur kepo ..
    Hehe”

  2. Eh yaampun itu si sehun sakit hati sama siapa?? Dia kan abis ketemu temen lamanya, apa itu si jongin? Jangan jangan sehun sakit hati garagara jongin lagi? Aduh ini kah si sehun guy dong? 😄😄 Wkwk apa sehun jeles sama cwenya jongin itu? Ahh aku makin bingung wkwk
    Si minho jahat amat yakk, Untung aja si sehun berubah jdi baik, moga makin membaik yakkk
    Next yaa

  3. Awwwww…. Ciaelaaah ternyata sehun perhatian juga sama eunhee
    Tpi disaat eunhee mulai menaruh hati terhadap sehun *kayanya :v
    Tpi saat sehunnya plang habis ketemu sama kai dia langsung meluk eunhee sambil nangis malah bilang kaya gtu lagi *miriskali :’)

  4. Capter 4 oh caphter 4 kau dmanakah 😂😂😂😂loncat baca begini penasaran 😂😂😂
    Chapter 5 daebak 😍😍😍😍
    Lopeyu thor *plakditabokchen

  5. Ciee akhirnya sehun sm eunhee akur juga 😂 jangan2 sehun nangis gara2 jongin lagi, dasar bandel emang -_- makin seru ka ceritanyaa, ijin baca next chapter ya kaa

  6. hoel sehun lagi patah hati tapi sama siapa ya ?
    kayaknya ini yang patah hati bukan cuma sehun tapi eunhee juga karena dia tau sehun suka sama orang lain lengkap sudah dua orang yg lagi patah hati menjadi satu

  7. apa ini!? sehun nangis gra2 hyerim kah? tpi sehun kan playboy? apa tmen lama nya sehun, jongin?
    sehun sma eunhee sma2 udah ada prsaan wlau dikit. sehun karma tuh spa suruh jdi playboy pas bner2 ada yg dicintai eh malah berkhianat. ya uda sbar aja tuh ada eunhee kok

  8. Sebelumnya saya minta maaf karena saya loncat dari chapter 4,,, sambil nunggu pwnya dikasih saya baca chapter 5,,, sehun nangis sabar yah mungkin itu bukan jodoh mu yang jodoh mu itu yang sekarang kamu peluk ne,,, thor ffnya seru banget daebak pokonya,,

  9. loncatin chap 4 dan baca chap 5 smbil nungggu pw karna udah penasaran bnget:v
    sehun nangis karna hyerim kah? atau kai?:v cieee eunhee udah mulai ada rasa suka ke sehun^-^

  10. Unni…aku belum baca chap 4…aku search fb..ehh ngga ada muncul…twitter udah dibajak😢
    Please kasi alamat email atau line dong eon…

    Btw, knapa jadi Eunhee yg jatuh cinta dluan sama sehun…aishhh…
    Jongin pasti sama hyerimm…

  11. Kyknyaa sehun patah hati krna hyerim kah?? Duuhh apalagi kan eunhee sedikit udah mulai ada rasa sama si sehun tapii,,,, huhh kyknyaaa susahh bangett buat ngeluluhin hati dinginnya mr osehh 😁😂😂😂

  12. Huhuuu,, jadi eunhee jatuh cinta dluan sma sehun ??
    Dan apakah hyerim sama jongin ?? Trus sehun masih suka hyerim ?
    Ahh,, sabaar ya eunhee.
    btw aku lewatin chap 4 nya heuheuu, sambil nunggu pwnya sambil baca chap slnjtnyaa, gasabaaar 😀

  13. Bener kan yang ngelemparin bola basket itu minji,,, sukurin tuh minji dibentak” sehun yang notabene cowok yang amay disukainya,,, sehun dah mulai suka nih ma eunhee dilihat dari perhatianya saat eunhee pingsan,,, knapa sehun pulang cepet? Makin penasaran nih. Ngebut chap” berikutnya 😂😂

  14. Perasaannya eunhee terbalas nggak ya?? Kyak nya yg bkin sehun nangis hyerim deh. Yah smoga eunhe kuat yak. Makin keren smgat kak!

  15. Hunnie, Kamu yakin perasaan khawatir itu hanya karena takut ke ortu kalian? Bukan karena tulus ke Hee-Ra? 😏
    Ada hubungannya gak, Jongin sama Eun-Hee? =/
    Minji nyebelin bgt 😫…
    Adegan akhir, sakit hati bgt jadi Eun-Hee 😭😭😭… Sehun karena Hye-rim+Jongin, kan? 😒.
    Jangan jadiin Eun-Hee pelampiasan Kamu, Hunnie! Bukan cuma Kamu yg punya hati 😶.
    Suka bgt alurnyaaa… Aku next ya, Kaak Isaan…

  16. Ahhh kasihan eunhee T.T , ehh btw emang eunhee udah jatuh cinta ama sehun yakk sehingga dia sakit hati bgitu..!?
    Oh yh emang sehun bneran jatuh cinta ama park hyerim sampe segitunya!? Sehun kan punya banyak cewek a.k.a playboy..?! Kkkk mian komenku kependekan kak!

  17. Udah seneng sih pas sehun mulai ksi perhatian ke eunhee, tp wktu sehun ksi alasan yg sbnernya sakit ati lg gueh hun, tega bgt lo –”
    Trs itu sp lg yg dicintai sehun, drama lo hun -_- *piss 😁✌* gangerti ap prasaan eunhee kek gmn
    Daebak loh ini ka isan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s