My Husband is My Enemy – Chapter 8


myh1

Author : ShanShoo

Main casts : Park Eun Hee (OC) | Oh Sehun of EXO-K

Support casts : U can find them by ur self

Genre : School-life, Married-life, Romance

Length : Chaptered

Rating : PG-17

Disclaimer : This story is pure my imagination! Don’t copycat without my permission! 😉

 

Warning! Typo bertebaran! -_____-

Sebelumnya aku mau minta maaf kalo misalnya banyak kata-kata yang ga enak buat dibaca ataupun kurang ‘srek’ untuk diliat. U know lah, imajinasi aku semakin berkurang semenjak tugas-tugas kuliah terus bertambah 😥

Cuma mau ngasih tahu, di chapter ini bagian flashback-nya lumayan panjang. Jadi kalo ngerasa bosen, silakan ‘leave page’ dari pada maksain buat baca :’)

 

Happy reading~

“Aku juga menyukaimu.”

“……”

“Dan ada suatu hal yang harus kau ketahui, Eunhee-ya,”

“Aku,”

“Tidak pernah membencimu, sungguh.”

Buliran bening itu kembali muncul ke permukaan, yang secara perlahan mulai mengalir membasahi lekuk pipi tirus gadis itu.

Eunhee terdiam, membiarkan Sehun semakin lembut menyentuh pipinya yang lembab. Tetapi kemudian, gadis itu menepis pelan kedua tangan Sehun, dan menatapnya lekat. Hanya menatapnya, berharap sosok lelaki berkulit pucat di hadapannya ini kembali melanjutkan perkataannya.

“Kejadian dua belas tahun yang lalu, aku…benar-benar minta maaf.” Ucap Sehun tulus disertai dengan tatapan nanar yang ditunjukkannya pada sosok gadis yang sampai saat ini masih menitikkan air matanya.

“Meminta maaf? untuk apa?” tanya Eunhee bingung setelah dia mendengar suara Sehun yang agak berat.

Sehun menghirup napas dalam dan mengeluarkannya perlahan-lahan. Dia menurunkan pandangannya sejenak, sebelum kembali menatap lekat manik mata Eunhee. “Untuk insiden kecil dua belas tahun yang lalu, apa kau masih ingat?”

Mendengar hal itu, Eunhee mencoba memutar kembali memori usang yang mungkin masih tersisa di benaknya. Dua belas tahun? Bukankah itu di saat mereka berdua menginjak umur 5 tahun? Di saat mereka tengah menikmati hari-hari sebagai sosok anak kecil menggemaskan yang penuh dengan dunia menyenangkan?

“Tidak, aku tidak ingat.” Ungkap Eunhee jujur sambil menggeleng mantap.

“Benarkah?”

“Sehun-ah, aku benar-benar tidak mengingatnya. Terlalu banyak insiden yang terjadi saat itu.” Eunhee berujar dengan nada yang sedikit meninggi. Merasa kesal karena Sehun belum mengatakan hal yang sesungguhnya pada gadis itu.

Lengkungan senyum samar mulai terlihat di kedua sudut bibir Sehun. lelaki dengan postur tubuh tingginya itu menelan samar ludahnya sebelum berujar, “Insiden kecil tentang…boneka kayu itu…apakah kau…masih mengingatnya?” sungguh sulit bagi Sehun untuk menanyakan hal itu. Karena jujur saja, dia merasa gugup dan detakan jantungnya berada di atas batas normal kala ia mendapati tatapan memicing dari Eunhee.

Gadis itu mengembuskan napas pelan saat ia mendengar ucapan Sehun, setelahnya ia mengangguk mantap. “Untuk insiden itu, aku tak akan pernah melupakannya.” dia menyeka perlahan cairan bening yang menganak di kedua bola matanya sebelum melanjutkan. Tetapi percuma saja, karena cairan bening itu kembali mengalir. “Kenapa kau mengatakan hal ini? Apa kau ingin meminta ganti rugi padaku atas rusaknya mainanmu itu, Oh Sehun? tapi, kenapa baru sekarang? Kenapa tidak di saat aku merusakkan mainan kesayanganmu—”

Refleks saja Eunhee mengatup rapat bibirnya. Matanya membulat sempurna. Kehangatan kembali menjalar ke seluruh tubuhnya, diiringi dengan setitik cairan bening yang lagi-lagi muncul, menyeruak menyusuri pipinya.

Sehun kembali memeluk hangat tubuhnya. Meletakkan dagunya di bahu gadis itu, lalu berujar. “Jangan katakan hal itu. Aku tahu, itu bukan salahmu, kau adalah gadis yang baik. Aku tahu, bukan kau yang menyebabkan mainan kesayanganku patah. Dan aku tahu, siapa seseorang yang telah menyebabkan persahabatan kita hancur karena hal itu.”

“Maafkan aku, Eunhee-ya. Aku benar-benar merasa bersalah padamu. Maafkan aku.”

Eunhee hanya diam mendengarkan seluruh perkataan Sehun yang begitu terdengar jelas di telinga kirinya. Gadis itu mencoba untuk menahan isakan tangisnya yang bisa pecah kapan saja. Sungguh, keadaan yang sedang dihadapinya saat ini membuat dirinya tak bisa berbuat apa-apa. Rasanya terlalu tiba-tiba, hingga Eunhee mau tak mau harus menghadapinya walaupun terasa sulit.

Eunhee berdeham kecil untuk menjernihkan suaranya yang agak parau. “Bagaimana bisa kau mengatakan hal itu, Sehun-ah? Sedangkan dengan seenaknya saat itu, kau berkata akulah yang mematahkan mainanmu.” ucapnya sembari mengatur rasa sesak yang menjalar di dalam dada.

Sehun lantas melepaskan pelukan hangatnya, lalu memegang kedua bahu Eunhee dan meremasnya pelan. “Dengarkan aku, aku akan menceritakan semuanya. Sampai tuntas.” lelaki itu kini mencoba untuk menormalkan detakan jantungnya yang berdebar semakin hebat. Dia menghirup napas sedalam-dalamnya, lalu mengeluarkannya dengan tenang.

Flashback on

Minji datang dengan membawa tas kecil berisi mainan kesayangannya. Dia lekas melangkah menuju kamar bermain Sehun. manik hitamnya langsung mendapati Sehun yang tengah duduk di atas karpet pororo miliknya sambil memainkan mainan-mainannya dengan malas.

“Sehun-ah,” panggil Minji sambil tersenyum lebar. Menampilkan deretan gigi susunya yang terlihat rapi.

Sehun menoleh sebentar, dan kembali bermain, “Ada apa?”

Minji turut duduk di samping Sehun, “Aku ingin bermain bersamamu lagi.” Katanya antusias, senyum lebar itu masih terpatri jelas di wajahnya.

“Sehun-ah,” panggil Minji lagi sambil mengerutkan samar keningnya. dan Sehun hanya membalas panggilan itu dengan gumaman kecil.

“Kau kenapa?” dia menatap Sehun ragu.

Ada helaan napas kecil dari Sehun sebelum dia menjawab, “Aku tidak apa-apa, hanya saja…aku malas bermain denganmu,”

Minji membulatkan matanya mendengar penuturan Sehun yang begitu datar, tangan mungilnya yang semula menggenggam antusias mainannya kini melemah. Matanya yang sempat membulatpun perlahan mengecil, menatap sendu benda yang ada di tangannya. “Tapi..kenapa?” tanyanya sambil menatap Sehun secara perlahan-lahan.

“Karena aku tak ingin bermain bersama seorang teman yang senang berbohong sepertimu.” Kali ini Sehun menatap Minji seutuhnya. Kedua matanya tak lepas memerhatikan gurat kecemasan yang terpatri jelas di wajah gadis kecil itu.

Hal yang selama ini ditakutkan Minji sekarang tengah ia hadapi. Sebuah ketakutan yang selama ini mengendap dalam hati dan jiwanya perlahan muncul ke permukaan.

Sehun mengetahui rahasia besarnya.

Peluh kecil mengucur membasahi pelipis dan anak rambut Minji. Dia pun turut menatap Sehun lekat, tetapi tak menghilangkan perasaan ragu yang hinggap dalam dirinya. Hingga pada akhirnya, kedua bola mata bulat menggemaskan itu mengalirkan setitik bulir bening yang mampu membuat orangtua mana saja merasa cemas jika melihat malaikat kecilnya menangis.

“Sehun-ah, m…maafkan aku. Aku..aku benar-benar minta maaf,” satu kerjapan cepat membuat cairan bening di matanya turun dan lekas membasahi kedua tangannya yang saling menggenggam erat. Bibirnya bergetar menahan isakan tangis yang tak ingin ia keluarkan.

“Kau meminta maaf padaku karena hal apa? Apa kesalahanmu?” Sehun bertanya, mengabaikan ekspresi Minji yang semakin terlihat ketakutan.

“K-kesalahanku?”

“Umm,”

Baru saja Minji akan membuka suara, pintu kamar bermain yang ada tepat di belakang gadis kecil itu terbuka. Lalu muncul sosok wanita berusia sekitar 30 tahun dari balik pintu itu, berparas cantik dan memiliki tubuh yang sintal. Wanita itu adalah ibu Sehun.

Sooyeon memandang Sehun dan Minji bergantian dengan pandangan heran. Dia mengembuskan napas panjang sebelum akhirnya dia turut berada di antara kedua anak yang akan menginjak 6 tahun itu.

Setelah wanita itu membenarkan posisi duduknya yang bersila, dia menyentuh bahu Sehun dan menatapnya sayang.

“Jangan pernah bersikap seperti itu di hadapan perempuan, Hun. Kau harus bisa bersikap halus. Eomeoni sudah mengajarkanmu untuk berbuat seperti itu, bukan?” katanya, diakhiri senyuman menenangkan yang mampu membuat hati Sehun luluh.

Walaupun Sehun masih berusia 5 tahun, tetapi dia sudah menerapkan prinsip ‘Memperlakukan seseorang secara dingin’ jika seseorang itu membuatnya kesal. Entahlah, kedua orangtuanya sendiri pun tak tahu, bagaimana bisa Sehun mempunyai pemikiran seperti itu. Sehingga nyonya Oh melakukan berbagai pendekatan dan memberikan nasihat yang halus pada Sehun agar ia tidak terus bersikap demikian.

“Tapi…”

Eomeoni tahu, kau adalah anak yang baik. Maka dari itu, aku ingin kau menerapkan apa yang sudah aku katakan padamu. Bisa kau pahami, Sayang?” kata Sooyeon sambil mengusap lembut bahu putranya.

Sehun tertunduk, tetapi matanya menyorot ke arah Minji. Menatap tajam gadis itu sebelum akhirnya dia menutup mata. “Umm, maafkan aku, Eomeoni.” Ucap Sehun penuh penyesalan.

Sooyeon mengembuskan napas lega, ia menarik salah satu sudut bibirnya. Lantas beralih menatap Minji dan menyentuh bahunya.

“Minji-ya,”

“Ya, Eomeoni?” balas Minji, menatap Sooyeon ragu.

“Aku memaklumi apa yang terjadi di antara kalian. Tapi ingatlah satu hal. Kau tidak boleh bersikap seperti ini. Menuduh orang lain melakukan sebuah kesalahan yang tidak pernah ia perbuat. Lihatlah sekarang akibatnya, Sehun dan Eunhee menjadi jauh. Mereka tak lagi bersama. Apa kau merasa senang melihat semua ini?” walaupun dalam setiap deretan kalimatnya berisi sebuah penuduhan terhadap Minji, Sooyeon mengatakannya dengan nada lembut. Ia tak ingin menyakiti hati gadis kecil itu, meski ia telah melakukannya.

Minji mengusap kasar air matanya yang kembali keluar. “Maafkan aku, Eomeoni. Aku…” ia tak dapat melanjutkan kalimatnya. Karena tiba-tiba saja ia menangis terisak sembari menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.

Buru-buru Sooyeon merengkuh tubuh gadis mungil itu ke dalam pelukannya, mengusap lembut surai hitam milik Minji untuk menenangkannya. “Tidak apa-apa, Sayang. Tidak apa-apa,” kata Sooyeon dengan nada rendah.

Sehun hanya diam di tempat ketika kedua bola matanya mendapati kejadian itu. Dia terlihat merenungkan suatu hal, wajahnya pun terlihat datar. Pikirannya kini berputar mengingat insiden kemarin. Ketika dengan mudahnya Sehun mengatakan, Eunhee adalah penyebab patahnya mainan kayu miliknya itu. Ketika dengan lancarnya ia mengatakan tak ingin bertemu kembali dengan sosok gadis mungil itu. Hingga sekarang, Sehun tak sadar jika kini ia pun turut mengalirkan setitik cairan bening dari salah satu sudut matanya.

~~~

“Ayo, Sehun-ah.”

Suara Sooyeon membuyarkan lamunan Sehun. Putra kecilnya itu mendongakkan kepalanya, menatap wajah sang ibu yang berdiri di sampingnya. Lalu, ia kembali memerhatikan pintu rumah di hadapannya yang terbuka sedikit. Mereka sudah siap untuk pergi ke rumah Eunhee, meminta maaf atas insiden kemarin, tetapi niat itu diurungkan ketika Sehun enggan untuk pergi.

“Aku takut, Eomeoni.” Sehun berujar rendah, hingga Sooyeon harus berjongkok tepat di hadapannya untuk mendengar ucapannya lebih jelas.

“Apa yang kau takutkan, Sayang?” tanya Sooyeon, menatap Sehun cemas.

“Aku takut…Eunhee mengabaikanku,” balasnya semakin pelan, dan menundukkan kepala untuk menghindari tatapan cemas dari ibunya.

Sooyeon tersenyum samar, “Eunhee tidak akan pernah mengabaikanmu, karena kau adalah sahabatnya. Bukan begitu?”

Sehun menggeleng kuat, menarik-narik lengan ibunya. “Tidak, Eomeoni. Sekarang aku bukan sahabatnya lagi,” ungkapnya penuh dengan kesedihan.

Menyadari ada sesuatu yang tak beres, Sooyeon membawa Sehun duduk di kursi sofa panjang. Memerhatikan Sehun dengan kening mengerut samar, “Bagaimana bisa kau berpendapat seperti itu?”

Lelaki itu menggeleng pelan, disertai sebuah senyuman kecil yang bisa ditangkap dengan jelas oleh indera penglihatan Sooyeon.

“Kau tersenyum?” lanjut Sooyeon ketika Sehun tak merespon.

Senyuman lelaki itu semakin lebar, “Setidaknya, usahaku berhasil untuk membuat persahabatan kami pecah.” Ujar Sehun polos, masih dengan senyumannya yang menggemaskan.

Mendengar pengakuan itu sungguh membuat Sooyeon terkejut bukan main. Dia benar-benar tak mengerti jalan pikiran Sehun yang sedikit aneh. Bagaimana bisa ia merasa senang ketika persahabatannya dengan Eunhee pecah karena insiden itu?

“Sehun, jangan membuat ibumu ini kebingungan.”

Sehun lekas berdiri, berjinjit dan mendekatkan bibirnya ke telinga Sooyeon untuk membisikkan sesuatu.

Flashback off

“Karena aku tak ingin kau menganggapku hanya sebagai sahabatmu. Aku ingin hubungan kita lebih dari sahabat jika kita sudah dewasa nanti. Maka dari itu, aku sengaja membenarkan apa yang dituduhkan Minji padamu. Agar persahabatan kita runtuh, lalu…kita bisa membangun sebuah hubungan yang baru. Lebih dari sahabat. Itu kalimat yang aku bisikkan pada ibuku.” Sehun tersenyum lalu tertawa ringan di akhir kalimat.

Eunhee diam tak bergeming. Termenung mendengar seluruh penjelasan Sehun dari awal hingga akhir. Dia tersenyum miris, membuang napas kekecewaan yang dapat didengar dengan jelas oleh sosok lelaki di hadapannya.

“Jadi…itukah alasanmu menuduhku?”

Tawa Sehun perlahan mereda ketika ia mendengar Eunhee berujar. Dia lantas menolehkan kepalanya pada gadis itu. “Eunhee-ya—”

“Kau tahu bagaimana sulitnya aku menghadapi sebuah kenyataan pahit saat itu? Ketika aku harus menghadapi amarahmu, ketika aku harus mencoba menekan seluruh air mataku saat kau memarahiku, membentakku, bahkan ketika aku mendapati tatapan tajammu yang seharusnya tak kau berikan untukku? Apa kau bisa merasakan bagaimana perasaanku ketika kau menuduhku mematahkan mainanmu?” Napas gadis itu sedikit tersengal ketika ia mencoba mengeluarkan seluruh kekesalan dalam hatinya.

“Eunhee-ya—”

Eunhee tak mendengarkan Sehun, dia terus melanjutkan, “Rasanya terlalu sakit, perih, hatiku sungguh terluka. Aku tak tahu harus bagaimana, aku tak tahu bagaimana caranya untuk menjelaskan kesalahpahaman itu…aku kesulitan untuk merangkai beberapa kata permintaan maaf padamu. Hingga pada akhirnya, aku menyerah. Aku tak lagi berjuang untuk mendapatkan permintaan maaf darimu. Karena aku tahu, kau adalah lelaki keras kepala yang tak pernah mau mendengarkan penjelasan orang lain.”

Bagai disengat aliran listrik, hati Sehun terasa sakit mendengar apa yang diutarakan Eunhee untuknya. Tetapi dalam hatinya iapun membenarkan apa yang diucapkan gadis itu. Di tengah isak tangisnya, Eunhee menggumam tak jelas. Dia menyandarkan sisi tubuhnya pada kursi sofa, menutup bibirnya serapat mungkin agar isak tangisnya tak semakin membesar.

Tidak, Sehun tak bisa membiarkan gadis yang ada di depannya ini menangis karenanya. Dia tak boleh membuatnya terus merasa bersedih. Dengan penuh perasaan, Sehun membawa Eunhee kembali ke dalam pelukannya meskipun gadis itu meronta, meminta dilepaskan. Tetapi, lama-kelamaan Sehun menggunakan sedikit tenaganya untuk membawa tubuh mungil itu. Hingga mau tak mau, Eunhee menyerah, menjatuhkan tubuhnya yang terasa lemah di dada bidang Sehun. tetap terisak.

“Aku memang keterlaluan,” Sehun kembali berbicara dengan nada rendah, mencoba untuk menenangkan Eunhee dalam dekapannya.

“Aku memang menyukaimu,” lelaki itu terus memotong kalimatnya selama beberapa saat.

“Tetapi, jika kau masih tetap membenciku, tak apa. Aku memang pantas mendapatkan rasa benci darimu, karena ini semua adalah kesalahanku yang terlalu fatal.”

Termenung, Eunhee membeku di tempat. Ia merasa aliran darahnya membeku seketika. Kalimat terakhir yang dilontarkan Sehun benar-benar membuatnya seperti mati rasa. Gadis itu mengerjap beberapa kali, berharap kejadian yang dialaminya sekarang adalah sebuah mimpi. Ia harus segera bangun dari mimpinya itu.

Tetapi ia sadar,

Ini bukanlah mimpi,

Ini kenyataan.

Dan semuanya terasa semakin nyata ketika Eunhee merasakan jika Sehun mengusap lembut rambutnya.

“Tapi untuk kali ini saja, biarkan aku memelukmu seperti ini, membelai rambutmu, menghirup dalam aroma parfummu. Sebelum akhirnya kau melepas pelukanku, dan kembali menghadirkan rasa benci yang ada pada dirimu untukku,” Sehun menghela napas panjang, “Meskipun kau membenciku, aku tidak akan pernah membencimu. Karena kau…karena kau…tak pernah bisa untuk kubenci.”

Tidak, Eunhee tak menginginkan hal ini terjadi. Tanpa sadar, Eunhee menggeleng, enggan menerima apa yang dikatakan Sehun. gadis itu kini melepaskan diri dari pelukan Sehun, menatapnya tak percaya. “Sehun-ah,”

“Baiklah, karena mulai sekarang kau membenciku, itu berarti…aku tidak boleh sering bertemu denganmu.”

“Tidak…” samar Eunhee menggumam. Dan Sehun tak mendengarnya.

“Terima kasih…sudah mendengar semua penjelasanku. Aku minta maaf, Eunhee-ya,”

“Oh Sehun!” bentak Eunhee secara refleks.

“Aku,” Eunhee merasa sesak mulai hadir mengisi paru-parunya, dan ia berusaha untuk meneruskan kalimatnya yang tertunda. “Aku…juga tidak pernah membencimu, Oh Sehun.”

“Aku menyukaimu, bukankah tadi aku mengatakan itu padamu? Apa kau tidak mendengar, eoh? Aku menyukaimu, dan itu berarti…aku tidak pernah membencimu.”

Entahlah apakah Sehun harus mempercayai perkataan itu atau tidak. Tetapi, ia merasa ribuan kupu-kupu mulai menggelitik perutnya, ia merasa ribuan bahkan jutaan kembang api meletup-letup dalam hatinya. Perasaan senang, bahagia, dan juga perasaan lega, berbaur menjadi satu hingga mampu memunculkan senyuman manis yang terukir di bibir pria berkulit putih pucat itu.

Selama ini, Sehun tidak pernah tersenyum. Dan bisa disebut jarang memunculkan senyumannya pada siapapun. Namun, di hadapan Eunhee, semua persepsi itu menghilang tak membekas. Lihatlah sekarang, bagaimana Sehun tersenyum, bagaimana Sehun menunjukkan kebahagiaannya, dan bagaimana Sehun memperlihatkan betapa leganya ia mendengar pengakuan Eunhee.

Gadis itu, Park Eunhee—atau, Oh Eunhee? —menyukainya.

Ya, dia menyukainya.

Menyukai Sehun, yang juga menyukai gadis itu. Sangat.

“Bagaimana mungkin aku tidak mendengarnya?” kata Sehun lembut.

Rasanya seperti candu, memeluk hangat tubuh Eunhee sembari mengusap rambutnya penuh sayang. Sehun masih saja melengkungkan senyuman manisnya yang kini tak terlihat oleh Eunhee, karena saat ini gadis itu tengah menyandarkan kepalanya di dada bidang lelaki itu, melingkarkan tangannya di pinggang Sehun dan memeluknya erat.

“Kau tahu? Sudah sangat lama sekali aku menantikan hal ini,” Sehun berujar pelan, namun sanggup menembus indera pendengaran Eunhee.

“Aku menyesal baru menjelaskan semua ini sekarang. Kenapa tidak dari dulu saja, ya?” kedua matanya menyipit, mencaritahu apa yang akan terjadi jika saja Sehun menceritakan semuanya saat itu.

Eunhee mendesah pelan, “Tidak ada yang perlu disesalkan, kapanpun kau akan menceritakannya, isinya tetap sama. Permintaan maaf, bukan?”

“Tidak hanya itu,” elak Sehun. “Pernyataan cinta, kau melupakannya, eoh?”

Mendengar kata terakhir Sehun, Eunhee tertawa, masih berada di dada lelaki itu. “Kau benar, hampir saja aku melupakannya.” Ucapnya di sela tawa.

Belum genap mereka berdua merasakan sebuah kebahagiaan baru, seseorang membuka pintu masuk rumah sederhana mereka dengan santai, diiringi sebuah ujaran.

“Sehun-ah, kau ada di dalam?”

Refleks, Sehun dan Eunhee saling menjauhkan diri. Mereka berdiri dari kursi sofa bersamaan, lalu membenarkan pakaian dan rambut mereka yang sedikit kusut. Tapi di sini, Eunhee yang terlihat lebih sibuk, ia harus bisa menghapus jejak tangis di wajahnya sebelum ia menghadapi seseorang yang sedang bertamu, meskipun tamu itu datang untuk Sehun.

Baru saja Sehun akan melangkah, seseorang yang memanggil namanya itu telah berdiri di hadapannya. Menatap kaget pada Sehun dan Eunhee yang terdiam di tempat.

“Itu…uhh…apa aku mengganggu waktu…kalian?” katanya sambil mengusap tengkuknya. Dia tersenyum canggung.

Sehun menoleh ke arah Eunhee yang berdiri di belakangnya, lalu kembali menatap seseorang itu. “Tidak, Hyung. Tapi, bisakah kau mengetuk pintu terlebih dulu sebelum masuk? Kau mengagetkan kami!” ucap Sehun dengan mata yang disipitkan.

Sosok yang dipanggil ‘Hyung’ itu tertawa hambar, “Ah, kau benar. Seharusnya aku bisa menghilangkan kebiasaan lamaku untuk berkunjung ke rumahmu tanpa mengetuk pintu,” lalu kembali tersenyum canggung.

“Oke oke, maafkan aku.” lanjutnya. Lelaki itu beralih menatap Eunhee yang tertunduk malu. “Jadi…dia istrimu, Sehun?” tebaknya, kali ini ia menampilkan senyuman menggoda.

Mendengar pertanyaan itu, Sehun ikut tersenyum. Lalu dia beralih memerhatikan Eunhee yang kini tengah menatap sosok lelaki itu agak canggung.

“Umm, dia istriku. Cantik, bukan?” puji Sehun tanpa mengalihkan tatapannya dari Eunhee.

Lekas, lelaki itu berjalan dan merangkul bahu Sehun. menundukkan kepala Sehun yang lebih tinggi darinya, lalu menjitaknya keras dan bertubi-tubi.

“Dasar bodoh! Kenapa kau tidak mengatakannya saat itu? Kau mungkin bisa memberitahuku atau mengenalkan istrimu ini saat aku sedang sibuk persiapan ujian!” ujarnya dengan nada canda yang terdengar begitu kentara. Eunhee yang melihat hal itu, tak tahan untuk tertawa kecil. Dua orang laki-laki di hadapannya ini benar-benar konyol!

“Ya! D.O Hyung! Lepaskan!” keluh Sehun yang sampai saat ini masih berada di bawah kendali lelaki itu, Kyungsoo.

Tak lama setelahnya, Kyungsoo membebaskan Sehun. dan pria bermata bulat itu berusaha menahan tawanya ketika ia mendapati wajah Sehun yang memerah. Apa karena malu? Entahlah.

Kyungsoo memutar pandangannya ke arah Eunhee, tersenyum ramah pada gadis itu sembari mengulurkan tangan kanannya, mengajak berkenalan. “Namaku Do Kyungsoo, aku sepupu lelaki bodoh ini. Tapi, kau bisa memanggilku D.O, jika kau mau.” Kyungsoo mengangkat sebelah bahunya ketika ia mengucapkan tiga kata terakhirnya.

Eunhee membalas jabatan tangan Kyungsoo, “Aku Park Eunhee, eng..baiklah, aku akan memanggilmu D.O Oppa. Ah, ya, Oppa, senang berkenalan denganmu.” Katanya sambil tersenyum lebar.

Sehun membulatkan matanya, “O-Oppa? Oh, Ya Tuhan! Semoga aku tidak salah dengar. Tapi, demi apapun, jangan pernah kau memanggilnya Oppa.” Sehun menyela perkenalan mereka dengan nada tak rela.

“Kenapa? Lagipula, D.O oppa tidak keberatan jika aku memanggilnya begitu.” Balas Eunhee acuh tak acuh.

“Panggil dia Ahjussi!” Sehun kembali berbicara, menunjuk Kyungsoo dengan dagunya.

“Aish,” Kyungsoo melepaskan jabatan tangannya, lalu memukul kepala Sehun. “Apa kau ingin kuhajar?”

“Tidak tidak!” kedua tangannya mengibas cepat, memasang senyuman lebar yang menampilkan deretan giginya yang putih dan rapi.

“Ah, ya, Oppa. Mau kubuatkan minuman apa?” buru-buru Eunhee menyela perdebatan kecil antara dua bersaudara itu.

“Apapun,” ucap Kyungsoo, memamerkan senyuman berbentuk hati di bibirnya pada Eunhee. sedangkan Sehun hanya mendengus kesal melihat semua itu.

Eunhee mengangguk kecil, sebelum akhirnya ia bergegas ke ruang dapur untuk mengambil tiga cangkir minuman—untuknya, Sehun, dan Kyungsoo.

Sambil menunggu Eunhee, Sehun mengajak Kyungsoo untuk duduk di sofa panjang. Mereka duduk berhadapan. Raut wajah Kyungsoo yang semula menunjukkan adanya candaan yang ringan, berubah menjadi serius. Hingga Sehun dibuat keheranan melihatnya.

Entah harus bagaimana Kyungsoo menceritakannya. Iapun tak tahu, kata apa yang harus ia ucapkan pertama kali pada saudaranya ini. Dilihat dari gelagatnya pun dapat ditebak, jika perkataan yang akan keluar dari bibirnya itu cukup sulit untuk diungkapkan. Berkali-kali Kyungsoo menghirup dan mengembuskan napasnya ragu-ragu, dan hal itu berdampak pada Sehun yang semakin keheranan pada apa yang terjadi pada Kyungsoo.

Sambil mengerutkan samar keningnya, Sehun berujar, “Ada masalah?”

Buru-buru Kyungsoo menatap manik kehitaman Sehun, dia menarik satu sudut bibirnya, tersenyum canggung. “U-umm,” gumamnya pelan.

“Apa itu?” tanya Sehun, memiringkan sedikit kepalanya ke arah kiri saat menatap Kyungsoo.

Untuk sejenak, Kyungsoo menengadahkan wajahnya, memerhatikan desain indah langit-langit rumah milik Sehun meskipun sederhana. Kilat-kilat tatapannya cukup menandakan jika Kyungsoo benar-benar kesulitan untuk berbicara. Lalu perlahan-lahan lelaki itu menundukkan kepalanya, sebelum ia mengangkat wajahnya dan menatap Sehun.

“Kondisi kesehatan ayahmu sedikit terganggu. Dan besok, ia akan melakukan perjalanan perusahaan ke Pulau Jeju, mencari beberapa investor baru untuk membantu perusahaannya yang sedang mengalami penurunan.” Ada gurat kesedihan yang terpancar di wajah tampan Kyungsoo yang saat ini tengah termenung.

“Lalu?” Sehun mengangkat sebelah alisnya.

Kyungsoo menarik satu sudut bibirnya, “Beliau memintaku dan juga kau untuk menggantikan tugasnya, sekaligus memimpin jalannya acara rapat yang diselenggarakan di sebuah perusahaan besar yang ada di sana.” Lelaki itu menyandarkan punggung dan kepalanya pada kursi sofa, “Besok, kita harus sudah berada di sana. Siap menjalankan amanat ayahmu.”

“Kenapa ibu tidak memberitahuku jika ayah sedang sakit?” tanya Sehun, lebih kepada diri sendiri.

“Mungkin jika beliau tidak sibuk menyusun file-file di ruang kerja ayahmu untuk keperluan di Jeju, dia akan menelponmu, tentu saja.” Kyungsoo mengangkat sebelah bahunya saat mengatakan dua kata terakhir.

Sehun termenung selama beberapa saat lamanya. Dia ikut menyandarkan punggungnya, menatap kosong ke arah tembok polos yang ada di hadapannya, mencerna kembali ucapan demi ucapan Kyungsoo yang tak terduga.

“Bagaimana dengan sekolahku?” tanya Sehun ketika pertanyaan itu terlintas dalam benaknya.

Kyungsoo menghela napas panjang, “Kau tidak perlu khawatir. Hanya tiga hari, dan semuanya akan selesai.” Mendapati ekspresi Sehun yang sedikit aneh, Kyungsoo menyikut lengan lelaki itu, “Hey, tidak perlu memasang wajah seperti itu. Lagipula, jika kau tidak mengikuti kegiatan sekolah tidak akan apa-apa. Kau bisa menjadi pemilik perusahaan meski tanpa bersekolah,” ledek Kyungsoo tanpa menghilangkan nada bercandanya.

Hening sesaat, hingga kemudian Eunhee datang membawa nampan berisi tiga cangkir mocca latte panas. Gadis itu menyimpan satu persatu cangkir ke atas meja, setelahnya ia menyimpan nampan di samping ketiga cangkir itu.

“Apa…ada masalah?” tanya Eunhee ragu sambil duduk di samping Sehun.

Kyungsoo hanya tersenyum menanggapinya, setelahnya ia meraih cangkir mocca-nya, lalu meniupnya beberapa kali sebelum diminum. “Ini enak, terima kasih.” Puji Kyungsoo, tersenyum ramah. Setelah Kyungsoo meminum setengah cangkir, ia bangkit berdiri. “Aku akan menjemputmu malam ini, kau harus menyiapkan segala-galanya mulai dari sekarang.” Ucapnya pada Sehun sambil melirik jam tangan. Pandangannya kini tertuju pada Eunhee. “Sampai bertemu nanti, Eunhee-ya. Dan, terima kasih atas mocca enak buatanmu itu.”

***

Keheningan mulai merasuk ke dalam jiwa mereka. Membuat keduanya saling terdiam membisu. Eunhee melirik Sehun lewat ekor matanya, dan mendapati lelaki itu duduk termenung dengan mata terpejam. Merasa tak tahan dengan semua ini, Eunhee memberanikan diri untuk berbicara.

“Kau…baik-baik saja?” tanya Eunhee, menatap Sehun perlahan-lahan yang masih bertahan dalam posisinya.

Kemudian, Sehun menegakkan posisi duduknya sembari mengarahkan tubuhnya pada gadis itu. Menatapnya lamat-lamat, lalu menghela napas berat.

Apakah Sehun bisa mengulang kembali seluruh penjelasan yang diutarakan Kyungsoo pada Eunhee?

“Besok, aku akan menggantikan tugas ayahku untuk pencarian investor di Jeju selama tiga hari, karena kondisi kesehatannya kurang baik. Dan malam ini, aku akan berangkat ke sana, bersama Kyungsoo tentunya. Karena dia juga mendapat tugas ini.” Sehun mulai menjelaskan, meskipun hatinya enggan.

“B-begitukah?” Eunhee tersenyum samar. Mencoba menenangkan kerja jantungnya yang meningkat tiba-tiba.

Gadis itu mendongak menatap Sehun ketika dua tangan kekar itu menyentuh bahunya, mengusapnya lembut. “Kau tidak perlu khawatir,” dia menatap lekat tepat di manik mata Eunhee. “Setelah aku dan Kyungsoo selesai mengerjakan apa yang diperintahkan ayah, aku akan segera pulang. Bahkan jika tugasku selesai sebelum waktunya, aku akan segera pulang. Aku berjanji.” Dia menyentuh dan mencubit kecil hidung Eunhee diiringi senyuman yang dipaksakan.

“Aku berjanji,”

Eunhee menyentuhkan telapak tangannya ke satu tangan Sehun yang masih berada di bahunya, lantas mengangguk mengiyakan janji Sehun. meskipun hatinya merasa sedikit tak rela akan kepergian lelaki itu.

***

“Kau yakin tak ada barang yang tertinggal?” Kyungsoo menatap menyelidik pada satu koper berukuran sedang milik Sehun, lalu beralih menatap pemiliknya yang terlihat sedang memikirkan ucapan Kyungsoo.

“Kurasa tidak ada.”

Malam ini, tepat pukul 7, Sehun dan Kyungsoo sudah bersiap untuk meninggalkan kota Seoul. Mereka sama-sama menggunakan pakaian kasual yang pastinya akan banyak memikat hati para gadis lewat ketampanan mereka. Sehun mulai memasukkan koper miliknya ke dalam garasi mobil Kyungsoo, lalu menutupnya.

Tubuh tegap itu berbalik, menghadap pada satu gadis cantik yang menatapnya ragu. Dia tersenyum, berusaha menenangkannya yang sampai saat ini terlihat resah.

“Eunhee-ya?”

“Hm?” gumam Eunhee.

“Aku akan menghubungimu jika aku sudah sampai di sana.” Katanya sambil mengacak kecil poni gadis itu.

Eunhee mengangguk mengerti, “Umm, hati-hati di jalan, Sehun-ah.”

“Hey, kau tidak akan mengatakan itu juga padaku? Padahal yang mengendarai mobil untuk sampai ke bandara adalah aku,” sela Kyungsoo sambil melipat kedua tangan di depan dada.

Mendengar pertanyaan itu, Eunhee tertawa kecil. “Ini bukan hanya untuk Sehun, tapi untukmu juga, Oppa.”

Oppa? Oh, astaga! Bisakah kau berhenti memanggilnya seperti itu?” Sehun mengerucutkan lucu bibirnya. Menatap kesal Eunhee.

Tawa gadis itu kini terdengar renyah, tetapi yang membalas ucapan Sehun adalah saudaranya. “Sehun-ah, di jalan raya nanti, aku akan menendang bokongmu untuk keluar dari mobilku, dan kau pergi ke Jeju sendirian.” Ujar Kyungsoo sedikit kesal.

Sehun tak mendengarkan ucapan Kyungsoo, dia sibuk menatap wajah Eunhee yang menurutnya begitu cantik.

“Eunhee-ya, kemarilah!” kata Sehun pelan, takut terdengar Kyungsoo.

Gadis itu menautkan kedua alisnya, lantas berjalan untuk mendekat ke arah Sehun.

Chu~

Satu ciuman ringan mendarat sempurna di kening Eunhee. gadis itu mengerjap tak percaya. Dan sekarang, dia diam membeku di tempat ketika rasa hangat datang dan menjalar ke setiap inchi tubuhnya.

Selama Eunhee masih diam di tempat, Sehun beralih mendekatkan bibirnya ke telinga Eunhee, membisikkan sesuatu.

“Mulai sekarang dan selamanya, aku mencintaimu.”

“Aku harap, kau dan Chen tak lagi memiliki hubungan apapun lagi. Kuharap kau mengerti maksudku.”

Apakah ini mimpi?

Hey, ini bukan mimpi!

Ini nyata!

Oh, sial! Eunhee tak bisa mengendalikan jantungnya yang berdetak di atas normal.

Sehun lantas menegakkan posisi berdirinya, menatap Eunhee dengan kening mengerut samar. “Hey, bergeraklah! Kau bukan mayat, Eunhee-ya.” Cibirnya dengan bibir yang mengerucut.

“Astaga! Apa yang kaulakukan pada istrimu itu, Oh Sehun?” Kyungsoo datang menghampiri Sehun dan Eunhee yang diam tak bergeming, dan masih membulatkan mata.

“Aku mengatakan padanya, bahwa aku mencintainya. Apa itu salah?” ungkap Sehun dengan wajah polos.

Kyungsoo menepuk keningnya, “Ya Tuhan, Oh Sehun! kau benar-benar.” Dia tertawa kecil.

“Ayo kita berangkat!” ajak Sehun kemudian. Meninggalkan Eunhee yang masih saja diam di tempat. Sebelum Sehun memasuki mobil, dia menoleh terlebih dahulu ke belakang. Tersenyum samar, lalu masuk ke dalam mobil sedan hitam yang siap dikendarai Kyungsoo.

Baru saja beberapa menit Sehun menikmati perjalanan malamnya, ponsel yang ia simpan dalam saku celana, bergetar. Segera dia mengeluarkan ponselnya, menatap layar ponsel dengan kesal, lalu menggeser ikon hijau untuk menjawab telpon dari seseorang.

“Ya?” sapanya singkat.

“Kapan kau datang ke apartemenku?” ujar seseorang di sebrang sana, langsung pada intinya.

“Maafkan aku, Kim Kai. Aku tidak bisa datang ke apartemenmu—ah, aku akan menjelaskannya nanti. Oke?” belum sempat Sehun mendengar jawaban Kai, dia segera memutuskan sambungan telponnya. Bukan apa-apa, ia hanya tak ingin tugas pertamanya ini berantakan hanya karena sahabatnya itu dengan sikapnya yang cukup ‘memprihatinkan’.

“Siapa?” tanya Kyungsoo dengan pandangan lurus ke arah jalan.

“Kai,” jawab Sehun singkat.

Di lain tempat, Kai mendengus kesal. Lalu mendaratkan tubuhnya di atas kasur berukuran besar miliknya yang empuk. Mata elangnya menatap langit-langit kamar, memikirkan sesuatu yang harus ia lakukan.

“Mmm…” dia menggumam, keningnya mengerut samar. “Apa aku harus berbicara dengan ayahnya? Atau…dengan ibunya?”

***

“Jadi…kompetisinya diadakan di Jeju?”

Eunhee baru saja turun dari sebuah taksi yang berhenti tepat di depan gerbang sekolah. Gadis itu berjalan menyusuri area parkir hingga koridor sembari sibuk berbicara dengan seseorang lewat sambungan telpon.

“T-tidak, kita bisa bicarakan nanti setelah kau pulang dari sana….oh, aku pasti menunggumu, Oppa…Ya..ya..ya…aku tahu…sampai nanti!” selesai berbicara, Eunhee lekas memutuskan sambungan telponnya itu. Ia mengembuskan apas panjang ketika ia menghentikan langkahnya.

“Chen Oppa sedang berada di Jeju? Ah…kuharap dia tidak bertemu Sehun di sana,” ucapnya lemas dengan wajahnya yang diliputi kecemasan.

Belum genap dia melangkahkan kaki, sejumlah siswi berlari berlawanan arah darinya. Hingga pada akhirnya Eunhee terseret ke sana kemari sambil mengaduh kesakitan. Ponsel yang berada dalam genggamannya pun terjatuh dan terinjak oleh mereka yang sibuk membicarakan sesuatu. Eunhee membelalakkan matanya, kaget.

“Ya! Ada apa dengan kalian?!” bentak Eunhee ketika ia mendengar ponselnya yang terinjak-injak dengan ganas.

“Ya Tuhan! Ponselku!” gadis itu lekas berjongkok dan memunguti pecahan ponselnya yang berceceran tak jauh dari tempatnya. Dia menangis.

“Bagaimana ini? Aish! Sebenarnya ada apa dengan mereka?”

Emosi gadis itu mulai terkumpul di dalam hatinya. Lekas, gadis dengan name-tag Park Eunhee itu melangkah lebar menyusul para siswi yang kini berteriak-teriak tak jelas, entah karena apa.

Eunhee berada tepat di belakang siswi-siswi yang bergerumul itu. Kedua alisnya terangkat, merasa heran.

Apa yang terjadi?

Tak mau memikirkan masalah itu, Eunhee berteriak kencang.

“YA KALIAN!!! KALIAN TELAH MENGHANCURKAN PONSELKU! KALIAN SEMUA HARUS MENGGANTINYA!”

Teriakan itu diabaikan. Eunhee mendesah kesal. Sekarang, apa yang harus dilakukan gadis itu? Apakah ia juga harus turut bergabung dengan mereka, lalu berteriak seperti barusan?

Baiklah, sepertinya hanya itu satu-satunya cara yang harus dilakukan Eunhee. sembari menaikkan lengan seragamnya, Eunhee kembali melangkah lebar diiringi emosi yang semakin meluap-luap.

“YA!” teriak Eunhee, mencoba menerobos kerumunan para siswi yang masih saja berteriak. Menyebutkan sebuah nama yang terasa asing di telinga gadis itu.

“KAI! KAU SUNGGUH TAMPAN!”

“AKU MENCINTAIMU!”

“AJAKLAH AKU UNTUK BERKENCAN, KAI!”

Meskipun Eunhee mendengar dengan jelas ucapan-ucapan itu, Eunhee tetap bertekad untuk berdiri di tengah lingkaran yang mereka buat, lalu berteriak.

“YA, BODOH! KALIAN SEMUA TELAH MENGINJAK DAN MEMBUAT PONSELKU HANCUR! KALIAN HARUS MENGGANTI RUGI!”

Hening selama beberapa saat, hingga tersisa sebuah bisikan mengejek mereka yang ditujukan pada Eunhee. namun gadis itu tak mempedulikannya.

“Kenapa kalian diam, eoh?” tanya Eunhee heran dengan nada penuh emosi.

“Uhm, Nona?”

“APA?” seketika Eunhee membalikkan tubuh untuk melihat siapa yang memanggil dirinya. Dan seketika pula, gadis itu terdiam. Menyembunyikan tangannya yang memegang ponsel di balik punggung.

Sosok lelaki yang baru saja memanggil Eunhee, membuka kacamata hitam yang bertengger di hidungnya. Senyuman menggoda ia tunjukkan pada gadis itu. Kemudian menatapnya dari atas sampai bawah, lalu kembali lagi ke atas.

“Biar aku yang mengganti rugi atas rusaknya ponselmu itu.”

Eunhee tercengang, “A-apa?”

Riuh para siswi mulai terdengar, merasa tak rela jika idola barunya dekat dengan Eunhee. sosok gadis yang juga berhasil merebut idola mereka terdahulu, Chen dan Sehun. apakah Eunhee akan merebut idola baru mereka lagi? Pikirnya.

Lelaki dengan name-tag Kim Jongin yang melekat di seragam bagian dada kirinya itu berjalan mendekat ke arah Eunhee, dengan satu tangan yang memegang blazer di bagian bahu kanan. Ia lantas meraih ponsel Eunhee yang benar-benar hancur.

“Ck, ini sudah tidak bisa digunakan lagi.” Ia mengangkat wajah dan menatap Eunhee, “Seusai pelajaran nanti, aku akan mengajakmu untuk membeli ponsel, oke?”

“E-eh? T-tapi—”

Kai memiringkan kepalanya ke kiri, “Kau tak menginginkannya?”

Oh, pertanyaan seperti itu mana bisa Eunhee jawab? Di satu sisi, tentu saja Eunhee menginginkan ganti rugi. Dan di sisi lain, ia menolak tawaran itu. Tentu saja, karena pelakunya bukanlah Kai.

“Eng…” Eunhee mengusap tengkuknya. Dan kali ini suara riuh disertai ejekan menyakitkan mulai terdengar di telinga Kai dan Eunhee. tentu saja ejekan itu ditujukan pada Eunhee.

“Aku tak suka penolakan. Jadi, jangan tolak niat baikku ini, hm?” Kai mengerlingkan matanya pada Eunhee yang masih dilanda kebingungan. Setelahnya, dia mengenakan kacamatanya, lalu berjalan santai ke arah koridor kelas untuk memasuki kelasnya. Dan..yah, mereka pun akhirnya mengikuti ke mana idola barunya itu pergi.

Sedangkan Eunhee, dia masih saja diam di bawah sinar matahari yang semakin terasa.

Siapa dia?

Mengabaikan pertanyaan singkat itu, Eunhee memutar badannya, lekas ia berjalan meninggalkan tempatnya menuju kelas. Berhubung pelajaran pertama akan segera dimulai.

Setelah sepasang kakinya memasuki kelas dan hendak melangkah menuju mejanya, dia melihat seorang lelaki yang terlihat tak asing lagi di matanya.

Itu Kai.

Kai?

Benarkah?

Astaga! Apa mungkin…Kai berada satu kelas dengan Eunhee? kelas 2-B?

Dengan mudahnya, Eunhee mematung tepat di antara kedua bangku di sisinya dengan jarak berkisar 1 meter. Memandangi Kai yang saat ini tengah sibuk mendengarkan musik melalui earphone yang terpasang di kedua telinganya.

Ugh! Muak sekali rasanya melihat wajah-wajah memuja mereka yang mengarah tepat pada Kai. Bisakah mereka sedikit saja mengabaikan lelaki berwajah tampan untuk dijadikan idola? Mungkin, sebagian dari mereka ada yang bersyukur ketika tahu, Kai berada satu kelas dengan mereka. Dan mungkin sebagian juga ada yang mengeluh kesal karena Kai tidak berada satu kelas dengannya.

Eh..tunggu! sejak kapan Eunhee mengijinkan Kai duduk di bangku sebelahnya? Di mana Nayoung? Oh, Ya Tuhan! Teman satu bangkunya itu ikut terhipnotis oleh pesona Kai, sehingga ia merelakan bangkunya demi lelaki itu, dan dia sendiri duduk di kursi Sehun yang tidak dihuni pemiliknya. Sialan! Ini tidak bisa dibiarkan!

Eunhee segera menghampiri Kai dengan geram, kemudian dengan gerakan kasar, ia menarik earphone milik lelaki itu.

“Ya!” seru Kai sedikit kesal karena seseorang telah mengusik kenyamanannya.

“Siapa yang menyuruhmu duduk di situ, eoh?” tanya Eunhee, mengabaikan seruan Kai.

“Tidak ada,” Kai menyandarkan punggungnya sambil melipat kedua tangannya di depan dada. “Ada yang salah?” tanyanya sambil mengangkat sebelah alisnya.

“Tentu saja! Kau salah! Kau tidak boleh duduk di sini!” jelas Eunhee, memasang ekspresi kesal. Kedua tangannya dihentakkan di atas meja, lalu menatap tajam Kai.

“Oh, ya?” lelaki berkulit tan itu lantas mendekatkan wajahnya ke arah Eunhee, “Hey, bukankah kau si gadis ponsel itu?” wajahnya berubah menjadi penuh tanda tanya. Kai mengetuk dagunya dua kali, “Ah, benar. Kau gadis itu. Kenapa kau cerewet sekali, hm?”

“Minggir! Ini bukan kursimu! Ini kursi milik Nayoung!” tegas Eunhee, tak ingin banyak berdebat lagi tentang ponselnya.

“Nayoung? Siapa dia?”

“Cepat minggir!” Eunhee terus berusaha mengabaikan ucapan-ucapan Kai.

“Kursi ini milik sekolah, bukan milik Nayoung. Siapapun boleh menempati kursi ini, kau mengerti?” Kai merebut secara kasar earphone-nya yang ada di tangan Eunhee. lalu kembali memakainya untuk mendengarkan lagu.

“Dasar keras kepala!” Eunhee mencoba mendorong bahu Kai agar lelaki itu pergi dari bangkunya.

“Minggir, Bodoh!”

Mendengar cibiran tak enak itu, Kai lantas membulatkan matanya, menatap Eunhee tajam. “Katakan sekali lagi!” ucapnya sambil berdiri, menatap lekat Eunhee yang memiliki tinggi sebatas hidungnya.

“Haruskah? Oke. Minggirlah, Bodoh! Kursi ini bukan tempatmu!”

Oh, baru kali ini ada seorang gadis yang memperlakukan Kai secara kasar. Biasanya, mereka selalu memperlakukan Kai dengan baik, seperti kepada seorang pangeran penerus kerajaan. Lelaki itu mengepal kuat tangannya di kedua sisi tubuhnya. Mereka berdua mengabaikan tatapan-tatapan kaget dan juga bisikan halus yang bersumber dari seluruh teman sekelasnya. Baik, mungkin hal ini sudah menjadi hal yang biasa bagi Eunhee. karena setiap harinya, ia selalu ribut dan bertengkar mengenai perihal apapun dengan Sehun.

Tapi, bagaimana dengan Kai? Apakah ia bisa sama seperti Eunhee, menganggap kejadian ini sebagai kejadian yang biasa?

Segaris senyum miring terukir di bibir Kai, batinnya pun berujar,

“Gadis yang menarik. Aku harus bisa mendapatkannya!”

TBC

 

 

 

Oke. Tolong jangan judge aku karena cerita ini makin ngawur. Demi Luhan dan tanduknya, ini ff alurnya makin ngaco :3

Maafin ya aku baru bisa update sekarang, u know-lah. Tugas tugas kuliah dan hapalan materi makin numpuk 😥

Apapun saran dan kritik dari kalian, aku terima. Asalkan disampaikan dengan baik-baik, ga sampai bikin si author gaje ini sakit ati dan akhirnya ga lanjutin nih ff ampe akhir *lebay :’D

See u next chapter 🙂

Iklan

481 comments

  1. What ? Kai mau dapetin eunhee jugaaa ?? Kalo sehun tau digaplok lu bang hihi
    Ah ko jadi banyak yg suka sii sama eunhee, biarkan hubungan dia dan sehun trus brjalan mulus semulus jalan tol yang gaada gejlugannya (?) Tanpa ada rintangaan
    sehun cepet pulang yaaa, jan lama2 tinggalin eunhee, bnyak yg gangguin hlo :p
    Keren banget ni ff~ 🙂

  2. Ternyata sehun mempunyai alasan tersendiri untuk membenci eunhee 😏😏 trik nya patut dicoba nih 😂😂. Hadeuh sehun baru sebentar lovey dovey ma eunhee udah mau dipisahin lagi buat urus bisnis…kasiha eunhee ditinggal sendiri. Kai nongol lagi, wok PDKT juga si abang ini…jangan jadi orang ketiga ye bang…😄

  3. “Gadis yang menarik. Aku harus bisa mendapatkannya!”
    Kai kalau tau dia istri sahabat lu kelar hidup mu sayang :v sini ama aku aja :v

  4. Haduh masalah selanjutnya muncul. Penasaran sama reaksinya sehun kalo tau kai suka sama eunhee. Padahal mereka berdua sahabatan😣 makin seru kak ceritanya keren😊😊😊

  5. Waah, ternyata keinginan Aku udah jauuuh terwujud sama Kak Isaan 😍😚. Aku ngebayangin, susah nyatuin adegan Kai sama Eun-Hee.. Tapi akhirnyaaaa~~ dengan ide Kakak, ini jadi mungkin dan masuk akal bgt 👍👍👍. Pas bgt, Sehun lagi gak ada 😏😂.
    Gomawo, Kaaaak Isaaaaaaaan 😘😘😘😘. Makin suka dan penasaran bgt sama selanjutnyaaa..
    Hyerim dikemanain coba… Aduh, Kai 😌😄.
    Gak nahaaaaan… Sehun, ya.. Kecil-kecil pikirannya udah jauh mikirin masa depan 😂.. Dan soal ‘penerapan wajah dingin’ atau apapun itu, ngakak banget bacanyaaa 😆…
    Juga pas diawal, mereka ngomong itu masih pakai seragam SHS? 😲 *tetep sweet, kok 😊😅.
    Terus pas Sehun mau berangkat 😳, makin sweet ^^.
    Eh iya, Aku juga baru inget kalau Sehun mau nyamperin Kai… Keasikan, sih 😏😄.
    Aku neeext ^^.

  6. Cie yg sedih ditinggal suaminya haha😁
    Udh pny firasat jg sih klo nti psti ad mslah pas eunhee ditinggal ama ank ayam😂✌ bener kan ada jongin, jgn smpe deh jongin ngambil eunhee dr hunhun udah bahaaagia hunhe ini, udh punya hyerim kaan jong?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s