My Husband is My Enemy – Chapter 9


myh1

Author : ShanShoo
Main casts : Park Eun Hee (OC) | Oh Sehun of EXO-K
Support casts : U can find them by ur self
Genre : School-life, Married-life, Romance
Length : Chaptered
Rating : PG-17

Disclaimer : This story is pure my imagination! Don’t copycat without my permission! 😉

 

Warning! Typo bertebaran! -_____-

 

“Bagaimanapun pertanyaannya, jawabannya tetap sama. Aku tidak tahu. Tapi aku menyukainya.”

Happy reading~

Pagi ini, matahari belum menunjukkan keberadaannya. Sehingga banyak orang yang merasakan kedinginan sampai mencapai batas ubun-ubun. Tetapi sepertinya, rasa dingin itu tak menyentuh tubuh Sehun. terlihat dari apa yang dilakukannya saat ini. Berdiri tegak di depan jendela besar perusahaan, mengenakan setelan pakaian formalnya tanpa dibalut mantel hangat.

“Masih belum bisa dihubungi?”

Kyungsoo mendaratkan telapak tangannya di bahu kanan Sehun. Dia lantas berdiri tepat di samping Sehun ketika sebelumnya ia berdiri di belakang saudaranya itu.

Pelan, Sehun menurunkan tangannya yang menggenggam ponsel, menatap lurus gedung-gedung pencakar langit yang dapat ia lihat dengan jelas lewat jendela besar ruang kerjanya.

Sehun memasukkan ponselnya ke dalam saku jas kerja, lantas menoleh ke arah Kyungsoo dengan helaan napas kekecewaan.

“Belum,”

Jawaban itu terdengar sendu, dan baru kali ini Kyungsoo mendengarnya. Tidak biasanya Sehun menjawab pertanyaannya dengan nada seperti itu.

Kyungsoo berdecak kecil, “Tidak usah berlebihan seperti ini. Aku yakin dia baik-baik saja.” Kata lelaki bermata bulat itu sambil menepuk-nepuk bahu Sehun, mencoba meyakinkannya.

“Apa aku tidak boleh merasakan khawatir, Hyung?” kali ini Sehun menatap dalam manik mata Kyungsoo. Sehingga Kyungsoo dibuat sedikit kaget karenanya. Buru-buru Kyungsoo menjauhkan tangannya dari bahu tegap lelaki itu, dan memasukkannya ke dalam saku celana. Sedangkan kedua matanya beralih menatap gedung-gedung.

“Aku tidak melarangmu. Hanya saja seperti kataku tadi, tidak usah berlebihan. Eunhee akan baik-baik saja, percayalah.” Suara Kyungsoo terdengar santai, namun mampu membuat Sehun membeku seketika. Memang benar apa yang dikatakan saudaranya itu. Tapi tetap saja, rasa khawatirnya pada Eunhee belum kunjung mereda setelah beberapa kali ia mencoba menghubungi ponsel gadis itu, tetapi tidak mengangkatnya sama sekali.

“Oh, ya. Apa kau sudah siap dengan rapat pertama kalimu ini?” Kyungsoo mengalihkan pembicaraan. Berharap Sehun bisa melupakan sejenak rasa khawatirnya pada Eunhee.

Sehun menggeleng ragu, “Entahlah, aku tak yakin.” Jawabnya, diakhiri dengan hembusan napas panjang.

Kyungsoo tertawa pelan, “Kenapa? Apa kau merasa tak yakin karena hatimu masih saja gelisah memikirkan bagaimana kabar Eunhee?”

Penuturan itu dibalas dengan anggukan singkat Sehun. “Aku tak tahu mengapa ponselnya tak bisa dihubungi. Padahal aku sudah memberitahunya untuk tetap mengaktifkan ponselnya selama aku berada di sini.” Kata Sehun, lebih kepada diri sendiri.

“Ya! Berhentilah mengkhawatirkan istrimu itu. Mungkin dia sedang ada urusan, atau mungkin sedang belajar. Jadi, jangan memikirkan hal yang tidak-tidak.” Tutur Kyungsoo dengan senyuman tipisnya. Melihat Sehun yang memasang raut wajah gelisah itu, sungguh membuat Kyungsoo merasa khawatir. Walaupun Sehun adalah sosok lelaki yang menyebalkan, dia tetap menyayangi Sehun yang terpaut usia 1 tahun lebih muda darinya itu.

“Umm,” Sehun menggumam. “Kau benar,” dia lalu mengembuskan napasnya hingga terasa sesak. “Aku tak boleh terus mengkhawatirkannya, dia akan baik-baik saja.” Dan sekarang, senyuman tipis terpatri dengan jelas di wajahnya.

Kyungsoo lantas mengangguk, membenarkan ucapan Sehun. “Kau bisa menghubunginya nanti. Lagipula, pekerjaan kita di sini tidak terlalu rumit. Dan ada banyak waktu bagimu untuk menghubungi Eunhee.” jelas Kyungsoo sambil berlalu dari sana. Melangkah mendekati meja kerja Sehun dengan file-file perusahaan yang menumpuk.

Dengan telaten, Kyungsoo membereskan tumpukan file itu menjadi satu. Kemudian meletakkannya di tepian meja. “Seharusnya kau membereskan file ini. Jika begini terus, aku akan mengira kau frustasi karena tugas yang ayahmu berikan.”

Mendengar ujaran Kyungsoo, Sehun menoleh ke arah lelaki itu. “Umm,” gumamnya tak peduli pada ocehan lelaki itu.

“Eunhee-ya, apa yang sedang kaulakukan di sana, sampai-sampai kau tak bisa kuhubungi?” batin Sehun berujar. Dia menutup matanya sejenak untuk menepis rasa khawatir yang kembali datang ke dalam hatinya.

Hyung…” Sehun memanggil Kyungsoo yang saat ini tengah bersiap menghadiri ruang rapat.

“Ya?”

“Bisakah kau mengabulkan satu permintaanku ini?”

***

“Jadi, kau tak ingin aku duduk di sini?” tanya Kai dengan tatapannya kembali mengarah pada Eunhee. menatap lurus-lurus manik mata gadis itu dengan mata yang dipicingkan.

“Kurasa aku tak perlu mengulang perkataanku,” balas Eunhee sambil melipat kedua tangan di depan dada. Menatap Kai malas.

Kai tersenyum, dia mendekatkan wajahnya ke arah Eunhee. semakin menatap dalam dua bola mata di hadapannya itu. Secara tak sadar, Eunhee menahan napasnya cukup lama ketika wajah Kai tepat berada di depannya. Hal itu sontak menarik perhatian dan membuat para siswa di kelas 2-B semakin penasaran pada apa yang akan dilakukan Kai selanjutnya.

“Bagaimana jika…aku menentang keinginanmu itu, apa yang akan kau lakukan?”

Oh lihatlah bagaimana cara Kai menunjukkan seringaian liciknya pada sosok gadis itu yang kini diam membeku. Bahkan senyuman itu mampu membuat semuanya terdiam, tidak ada yang berkutik ataupun menyela pembicaraan mereka berdua. Semuanya benar-benar bungkam.

Eunhee menelan samar ludahnya, tatapannya belum teralih, masih tertuju pada Kai yang sampai sekarang masih menyeringai. Kedua tangan di sisi tubuhnya, mengepal. Menahan emosi yang akan membuncah dalam dadanya. Entahlah, Eunhee bingung. Tidak tahu apa yang harus ia lakukan sekarang. Mendadak pikirannya tak berjalan sesuai harapan. Hanya ada jalan buntu di depannya. Hingga mengharuskan Eunhee memilih diam.

“Kenapa kau diam saja?” Kai menjauhkan wajahnya, lalu kembali duduk bersandar seraya menatap Eunhee dari atas sampai bawah, “Bukankah tadi kau memaksaku untuk tak menduduki kursi ini? Ayo, lakukan lagi!”

Suara Eunhee tercekat mendengar untaian kata Kai yang menusuk-nusuk pendengarannya. Bola matanya perlahan mengarah pada Kai yang sedang melipat kedua tangan di depan dada, menatap gadis itu intens.

“Kai-ssi—”

“Ah, sebentar!” Sela Kai dengan telunjuknya yang terangkat dan menyentuh salah satu pelipisnya. “Kau belum menjawab pertanyaanku barusan. Apa yang akan kaulakukan jika aku menentang keinginanmu itu, hm?”

Gadis bername-tag Park Eunhee itu kembali mengembuskan napas kasar, “Baiklah, Kai. Aku tak akan melarangmu untuk duduk di sini.” Ucapnya dengan jemarinya yang menunjuk bangku dengan gemas.

“Anggap saja kejadian ini tidak pernah terjadi,” lanjutnya dengan intensitas suara kecil. Ia hanya tak ingin seluruh temannya mendengar kalimat yang dilontarkannya ini.

Eunhee memilih mengalah. Bukan apa-apa, ia melakukan hal itu karena tak ingin masalah yang tengah dihadapinya ini menjadi bertambah panjang hanya karena ia terus menyahut seluruh ucapan-ucapan Kai yang terdengar menyebalkan.

Tak mau berada dekat lelaki itu lebih lama, Eunhee memutuskan untuk pergi meninggalkan bangku yang kini ditempati oleh Kai. Membenarkan letak tas sampirnya di bahu sembari mengatup bibirnya rapat.

“Hanya itu saja? Tak ingin mengatakan hal lain?” tanya Kai dengan suara menantang.

Eunhee menghentikan langkahnya, kembali mendengar bisikan halus yang—mungkin—tertuju padanya dan juga Kai. Ya Tuhan, jika saja Eunhee adalah seorang pria, mungkin dia akan menghabisi Kai hingga lelaki itu bertekuk lutut dan meminta maaf atas kelakuannya itu.

Gadis itu lantas membalikkan badannya, menghadap Kai yang jaraknya cukup jauh. “Memangnya apa yang harus aku katakan?”

“Mmm…” Kai kembali memasang wajah berpikir dengan telunjuk mengetuk-ngetuk dagunya. Senyuman lebarnya kini terpasang dan semakin menambah ketampanan di wajahnya, “Permintaan maaf, lalu…mengajakku berkencan untuk menebus kesalahanmu?”

Alis Eunhee terangkat tinggi-tinggi, mulutnya sedikit terbuka, dan garis wajahnya menunjukkan jika ia terkejut mendengar perkataan itu. Kemudian, Eunhee tertawa hambar, “Kau pikir ini lucu?” tanyanya dengan nada mengejek, “Sayang sekali, usahamu gagal untuk membuatku terhibur.”

Kai tak mengindahkan ucapan Eunhee, matanya mulai sibuk mengitari tiap-tiap meja di kelas barunya dengan tatapan menyelidik. Mereka semua dibuat keheranan karenanya, tetapi tetap saja, tak ada satupun dari mereka yang mau membuka suara.

Selesai dengan apa yang dilakukannya, Kai menghela napas pendek. “Di mana kau akan duduk?” tanya Kai. Kali ini nadanya terdengar serius, tidak ada lelucon ataupun nada mengejek.

“Aku akan duduk di belakang,” jawab Eunhee acuh tak acuh.

Kai mulai memainkan ponselnya, lalu mencari daftar lagu lain untuk ia dengar. “Tidak ada tempat duduk,” nadanya tetap sama.

“Benarkah?”

Mereka masih saja bercakap-cakap, seolah tak menghiraukan puluhan siswa dalam kelas itu yang masih asyik menatap mereka berdua. Eunhee lekas mengedarkan pandangannya ke arah bangku belakang. Benar saja, tidak ada tempat duduk yang tersisa untuknya. Sungguh tragis nasib Eunhee pagi ini. Mulai dari ponselnya yang rusak, pertemuan tak terduganya dengan Kai, lalu…bertengkar kecil dengan siswa baru itu. Semuanya memang sudah diatur, dan Eunhee tak bisa mengelak.

Kali ini Eunhee tak banyak berkutik, ia terlihat sibuk memikirkan jalan keluar untuk masalah yang tengah dihadapinya saat ini. Biar bagaimanapun, dia harus segera menghindari Kai. Jika tidak, dia akan terus mendapat masalah ke depannya.

“Kursi ini, kau yang menempatinya, kan? Kenapa kau tidak duduk di sini saja?” Kai menepuk-nepuk kursi kosong di sampingnya. Mengisyaratkan Eunhee untuk duduk di sana.

“Tidak mau!” bentak Eunhee tiba-tiba, walaupun dalam hatinya ia ingin duduk di sana. Dan tentunya tanpa Kai.

“Kau yakin?” Kai menaikkan satu alisnya, mencari gurat kesungguhan di wajah Eunhee.

Hingga pada detik-detik setelahnya, Eunhee kembali menyerah. Gadis itu mulai menggerakkan kedua kakinya, melangkah lambat menghampiri kursi miliknya dengan tangan Kai yang masih diletakkan di atas kursi itu. Eunhee menelan bulat-bulat kekesalan dalam hatinya. Demi apapun, jika bukan karena tak ada lagi kursi kosong untuknya, mungkin ia tak akan duduk bersama dengan lelaki itu.

Buru-buru Kai meletakkan kedua tangannya di atas meja setelah Eunhee mendudukkan dirinya. Kedua matanya memerhatikan Eunhee secara intens dari samping.

“Tidak ada hal aneh yang terjadi, kan?” tanya Kai tiba-tiba.

Eunhee mengerutkan samar keningnya, “Maksudmu?”

Kai menghadapkan tubuhnya ke samping, memerhatikan Eunhee yang belum juga mengubah ekspresi wajahnya. “Kau gadis yang aneh.” Katanya sambil menggeleng tak percaya.

“Kau bilang apa?” Eunhee mengangkat satu tangannya untuk bersiap memukul Kai. Buru-buru Kai mencegah tangan gadis itu dengan cara memegangnya, dan mendekatkan tangan gadis itu ke arah hatinya.

Sebelum berbicara, Kai memasang senyuman manis. “Jangan pukul aku, atau hatiku yang sedang kau rasakan ini akan merasakan kesakitan. Jika itu terjadi, kau mau bertanggung jawab?” kali ini Kai memasang wajah polos yang sungguh membuat Eunhee muak. Lekas Eunhee menarik tangannya kembali sambil menggumam samar.

“Aish, bagaimana bisa aku berada satu bangku dengan orang menyebalkan seperti dia?” kata Eunhee pelan.

“Tampan? Oh, sudah tentu aku tampan.”

Dan setelah Eunhee mendengar apa yang dikatakan Kai di sampingnya, dia segera menempelkan keningnya di atas meja, bergumam tak jelas merutuki nama Kai.

***

Tak terasa, waktu telah menunjukkan pukul 2 siang. Yang berarti, jam pembelajaran telah usai. Seluruh siswa kelas 2-B mulai membereskan buku-buku ke dalam tasnya sembari memasang senyum cerah—ah, tidak seluruhnya mereka tersenyum secerah itu. Masih ada beberapa siswi yang merasa risih ketika penglihatan mereka selalu mendapati Kai yang secara diam-diam melirik ke arah Eunhee—dan tentunya tanpa disadari gadis itu. Baik saat tengah jam pelajaran tengah berlangsung, maupun saat sekarang, ketika bel pulang berdering.

“Ayo kita pulang!” ajak Eunhee pada Nayoung yang sampai sekarang masih betah memerhatikan wajah Kai. Eunhee merangkulkan tangannya ke bahu Nayoung, tetapi gadis itu menepisnya pelan.

“Tunggu sebentar!” kata Nayoung sambil tersenyum lebar.

Nayoung kini melangkah mendekat ke arah Kai yang masih berada di bangkunya. Dan ketika Kai menyadari kehadiran Nayoung, Kai lekas berdiri dan menyerukan nama Eunhee.

“Eunhee-ya!” Kai mulai mengenakan tas punggungnya, menatap Eunhee yang berdiri tak jauh darinya. Nayoung yang mendengar seruan itu, secara tak sadar terdiam di tempat.

“Ada apa?” balas Eunhee malas sembari membenarkan letak tas sampirnya, lalu menatap Kai datar.

“Ayo kita membeli ponsel!” Kai berkata dengan nada lantang. Hingga beberapa siswa yang masih berada di kelas itu menoleh ke arah mereka berdua, dan menatapnya kaget. Termasuk Nayoung.

Eunhee menelan pahit ludahnya, “T-tidak usah, Kai. Aku tahu kau adalah orang kaya, tapi aku tak mau kau mengganti rugi ponselku. Kau t-tidak salah,” gadis itu tersenyum canggung. Bayangkan saja rasanya menjadi Eunhee, ketika di satu sisi, ia merasa Kai adalah sosok yang begitu mengganggunya, sementara di sisi lain, Eunhee akui jika Kai memiliki hati yang baik. Dan buktinya sudah terlihat.

“T-tidak usah—”

“Kenapa? Aku hanya ingin mengganti rugi ponselmu karena ulah mereka,” Sela Kai sambil menyapukan pandangannya ke arah teman-teman sekelas. Dan mereka membalas tatapan Kai sedikit takut, sebelum akhirnya mereka memilih untuk lekas pergi dari kelas.

“Aku bilang tidak usah!” Eunhee sedikit membentak Kai, dia lalu berjalan ke arah Nayoung yang masih diam di sana. Gadis itu meraih tangan Nayoung. “Ayo kita pergi!” ajaknya tanpa menoleh ke arah Nayoung. Tetapi baru saja mereka melangkah, Eunhee teringat sesuatu.

“Nayoung-ah,” ucap Eunhee, bersamaan dengan langkahnya yang terhenti.

“Ada apa?” Nayoung bertanya dengan nada lemah, merasa hatinya sedikit terluka karena diabaikan Kai begitu saja.

“Bolehkah aku meminjam ponselmu? Aku ingin menghubungi—”

“Kau mau menghubungi siapa?” Kai berjalan cepat dan berdiri di antara dua gadis itu, ia menatap berbinar Eunhee yang kaget karena kedatangannya.

“Ya! Jangan mengagetkanku!” Eunhee refleks memukul bahu Kai begitu keras, membuat Kai meringis kesakitan.

“Maaf. Tapi, siapa yang mau kauhubungi?” tanya Kai penasaran. Karena jujur saja, ia takut Eunhee menghubungi seseorang yang begitu penting baginya. Seperti…kekasih?

“Bukan urusanmu!” Eunhee kembali menarik tangan Nayoung untuk segera pergi dari kelas, tetapi Kai segera menahan tangan gadis itu. Menarik Eunhee hingga gadis itu berbalik ke arahnya.

“Kau bisa menggunakan ponselku,” tanpa diminta, Kai menyodorkan ponsel miliknya pada Eunhee.

Eunhee tertegun menatap ponsel itu. Dia memandangi Kai dan ponsel lelaki itu bergantian, sambil sesekali melirik ke arah Nayoung yang semakin memperlihatkan kemurungannya. Situasi yang tak mengenakan ini selalu saja datang padanya. Apa yang harus Eunhee lakukan?

“Tidak apa-apa, pakai saja. Aku…tidak akan menguping pembicaraanmu.” Kai menarik satu tangan Eunhee, memberikan ponsel miliknya untuk Eunhee gunakan. Kemudian, Kai mendorong kedua bahu Nayoung dari belakang untuk pergi meninggalkan kelas. Dan pergerakan itu sungguh membuat Nayoung kaget.

Sebelum Kai benar-benar pergi meninggalkan kelas, ia mengerlingkan matanya pada Eunhee, lalu tersenyum semanis mungkin.

Kini, Kai dan Nayoung tidak berada di ruangan itu.

Sepi.

Eunhee membuang napas kasar hingga dadanya terasa sesak. Dia berjalan ke arah meja bagian depan, dan duduk di sana. Gadis itu memerhatikan lamat-lamat ponsel Kai yang ada di tangannya. Apa benar tidak apa-apa jika Eunhee menggunakan ponsel itu? Apa Kai tidak bercanda? Itu yang dipikirkannya saat ini.

Lama termenung memikirkan keputusannya, Eunhee akhirnya memilih memakai ponsel itu untuk menghubungi seseorang yang akan ditujunya.

Dengan lincah, jemarinya menekan angka-angka di layar ponsel itu, sebelum akhirnya ia menekan tombol call, dan…

Sehun.

Sehun?

Tunggu sebentar.

Sehun?

Hey…apakah benar Kai memiliki nomor ponsel Sehun?

Eunhee tak lekas menempelkan ponsel Kai ke telinganya. Dia mengerjap beberapa kali untuk memastikan penglihatannya sekarang. Dia menekan tombol merah untuk memutuskan sambungan telpon yang belum diangkat, lalu kembali menekan nomor ponsel yang menjadi tujuannya.

Hasilnya tetap sama.

Di sana, nama Sehun tertera dengan jelas.

“Jadi…Kai…mengenal Sehun?” gumam Eunhee tak percaya. Kali ini ia membiarkan sambungan telpon tetap berlanjut, hingga beberapa detik setelahnya, Sehun menerima sambungan telpon itu.

Lekas, Eunhee menempelkan ponsel itu ke telinganya.

“Ada apa?”

Deg

 

Ini…ini benar-benar Sehun. Oh Sehun.

Entahlah, kata apa yang harus Eunhee ucapkan pertama kali untuk percakapannya ini. Karena tiba-tiba saja Eunhee merasa lidahnya kelu. Darahnya berdesir dengan cepat, dan jantungnya bekerja di atas normal. Keringat pun mulai muncul dan membasahi area wajahnya yang sedikit memucat.

“Kai, jika tak ada yang ingin kau bicarakan, kau tak usah menghubungiku. Aku sibuk. Mengerti?”

Suara berat Sehun kembali menggema di telinga Eunhee. dan setelah Eunhee kembali ke alam sadarnya, ia segera berujar.

“Sehun-ah!”

Ada jeda selama beberapa detik di antara percakapan mereka. Sehun tak lantas merespon, mungkin lelaki itu sedang mencerna suara gadis yang memanggil namanya.

Hingga pada detik berikutnya, Sehun mulai berkata.

“Eunhee-ya, ini..kau?” suara Sehun terdengar ragu. Eunhee yang mendengar pertanyaan itu tersenyum, dan menitikkan air matanya tanpa disadari.

“Ya, ini aku.” jawab Eunhee sambil mengatur sesak dalam dadanya.

.

.

.

“Apa? Kau menyukai Eunhee? bagaimana bisa?”

Nayoung memasang raut kesedihan di wajahnya. Kedua matanya tak lepas memerhatikan Kai yang saat ini tengah menengadah, menatap langit biru di atas sana dengan bibirnya yang tersenyum simpul.

“Entahlah, aku tidak tahu.” Jawab Kai seadanya. Dia lalu menegakkan posisi duduknya di atas bangku taman itu. Kepalanya menoleh ke arah Nayoung, “Bagaimanapun pertanyaannya, jawabannya tetap sama. Aku tidak tahu. Tapi aku menyukainya.”

Hancur sudah harapan Nayoung. Ia tidak memiliki kesempatan sedikitpun untuk mencuri hati Kai. Gadis itu perlahan menundukkan kepalanya, menahan emosi dan juga rasa sakit dalam hatinya.

Dari sekian banyaknya gadis di sekolah ini, mengapa harus Eunhee? mengapa harus gadis itu yang disukai Kai?

“Suatu saat nanti, aku akan menyatakan rasa ini padanya.” Gumam Kai dengan nada yang terdengar sungguh-sungguh.

Ini adalah pertama kalinya Kai mempunyai perasaan terhadap seorang gadis sampai seserius ini. Kai tidak tahu, bagaimana hatinya bisa merasakan suatu kenyamanan, ketenangan, ketika ia ada di dekat Eunhee, dan menatap gadis itu lekat. Hanya dengan menatapnya saja, Kai merasa senang.

Kai mulai mengedarkan pandangannya ke arah lain, dan langsung mendapati sosok Eunhee yang berjalan cepat ke arahnya.

“Oh, Eunhee-ya!” seru Kai tak tertahankan. Lelaki itu berdiri tepat ketika Eunhee berada di hadapannya.

“Ini ponselmu, terima kasih.” Ucap Eunhee tanpa menatap manik mata Kai, dan Kai sedikit keheranan melihat sikap gadis itu.

“Umm, siapa seseorang yang kauhubungi? Apa dia kekasihmu?” tanya Kai sambil melihat panggilan terakhir di ponselnya, keningnya mengerut samar. “Mengapa kau menghapus nomornya? Apa seseorang yang kauhubungi ini benar-benar kekasihmu?” Kai melanjutkan pertanyaannya dengan nada yang sedikit meninggi.

Eunhee hanya tersenyum menanggapinya. Benar apa yang dikatakan Kai. Eunhee menghapus nomor kontak yang dihubunginya di panggilan terakhir. Ia hanya tak ingin Kai banyak bertanya padanya. Apalagi jika Kai tahu bahwa yang dihubungi Eunhee adalah Sehun. sudah pasti, Kai akan banyak berceloteh dan bertanya ini itu padanya. Sesaat, Eunhee mengalihkan pandangannya pada Nayoung yang terlihat murung.

“Nayoung-ah, ada apa?”

Gadis itu tak merespon pertanyaan Eunhee. dia lebih memilih pergi dari sana, meninggalkan Eunhee dan Kai berdua.

“Mau pulang bersamaku?” tawar Kai tanpa mempedulikan kepergian Nayoung.

Eunhee menggelengkan kepalanya, “Aku akan pulang sendiri,”

“Kenapa? Apa aku mempunyai salah padamu?” Kai memasang ekspresi bingung.

“Tidak. Ah, aku harus pulang sekarang. Sampai nanti!”

Lagi-lagi, Kai menahan tangan Eunhee yang baru saja akan beranjak dari tempatnya. Penolakan dari gadis itu benar-benar membuat kesabaran Kai habis. Lelaki itu menolehkan sedikit kepalanya ke arah kanan, di mana Eunhee terdiam di sana.

“Ikut aku sebentar!” segera saja, Kai menarik lengan Eunhee. mengajak gadis itu untuk berjalan cepat menuju tempat parkir, di mana terdapat mobil porsche hitam milik Kai yang terparkir rapi di sana.

“Ya! Apa yang mau kaulakukan, eoh?” Eunhee melepas paksa tangan Kai di pergelangan lengannya. Lalu menatap kesal lelaki itu.

Kai hanya tersenyum, tidak berkata apapun. Dia membuka pintu mobil bagian depan, melongokkan kepalanya ke dalam untuk berkata sesuatu pada sopir pribadinya.

“Di mana ponselnya?” tanya Kai.

“Ini, Tuan Muda.” Sopir itu menyodorkan satu dus kecil berbentuk persegi pada Kai. Dan Kai menerima benda itu dengan senyuman lebar.

“Terima kasih,” ucapnya, sebelum akhirnya Kai kembali menarik diri dari mobil itu, dan menutup pintu dengan cepat.

“Ini ponsel untukmu, terimalah!” dengan senyuman yang begitu tulus, Kai menyodorkan ponsel baru itu di hadapan Eunhee.

Senyuman canggung pun mulai terukir di bibir tipis gadis itu. Eunhee menatap bergantian Kai dan juga ponsel baru di hadapannya dengan perasaan tak menentu.

“B-bagaimana ini…” gumam Eunhee. jemari tangannya saling bertautan untuk mengusir rasa gugup yang datang tiba-tiba.

“Aish, terima saja! Apa susahnya mengambil ponsel ini, hm?” Kai menarik satu tangan Eunhee, memberikan ponsel pemberian darinya.

“Nah, sekarang ponsel itu sudah menjadi milikmu, karena ponsel itu berada dalam genggamanmu.”

Eunhee tak merespon, butuh beberapa waktu baginya untuk mencerna peristiwa yang terjadi hari ini.

Kai mengembuskan napas panjang, “Karena kau tidak mau pulang bersamaku, aku akan pulang duluan. Sampai bertemu besok.” Dia mulai membuka pintu mobil bagian belakang, tetapi beberapa saat kemudian, Kai kembali menatap Eunhee. “Ingat, jangan membuang ponsel itu, oke?”

Mobil porsche itu kini mulai meninggalkan area sekolah, berbaur bersama dengan deru mesin kendaraan lain di jalan raya sana.

Eunhee sungguh tak bisa menggerakkan seluruh anggota tubuhnya. Sepasang matanya menatap kosong ke arah jalan raya dengan perasaan tak menentu.

“Ya Tuhan! Bahkan aku tak sempat untuk mengucapkan terima kasih pada Kai. Dasar bodoh!” dia mengetuk kepalanya sendiri dengan gemas. Tak mau banyak berpikir lagi, Eunhee mengayunkan tungkai kakinya. Meninggalkan area sekolah menuju halte bus.

.

.

.

beberapa puluh menit kemudian, Eunhee telah sampai di depan pintu gerbang rumahnya. Gadis itu lekas membuka pintu gerbang, lalu berjalan santai menuju rumahnya. Tepat ketika kakinya berhenti melangkah di depan pintu, ia segera merogoh saku blazernya untuk mengambil kunci. Tetapi, ketika Eunhee hendak memutar kunci untuk membuka pintu, dia tertegun. Karena kenyataannya, pintu itu tidak dalam keadaan terkunci.

Rasa cemas pun mulai datang. Tanpa membuang-buang waktu lagi, dia mendorong pelan pintu itu, lalu berjalan dengan hati-hati. Pandangannya beredar ke sana kemari, takut jika yang memasuki rumah sederhananya ini adalah seorang pencuri.

“S-siapa yang datang?” seru Eunhee ragu-ragu dengan jantungnya yang berdebar cepat.

Eomma, kaukah itu?”

Tepat setelah Eunhee menyelesaikan kalimatnya, dia merasa tubuhnya menegang ketika seseorang memeluknya dari belakang. Bahu kanannya mulai terasa berat, dan ia merasakan deru napas hangat seseorang di bagian tengkuknya.

Aroma parfum ini…

“S-Sehun?”

“Ya, ini aku…”

Entah bagaimana caranya Eunhee harus merespon perkataan itu. Karena jujur saja, saat ini dirinya masih diliputi perasaan cemas dan takut yang bersatu dalam sekejap di tubuhnya. Dia terdiam, membiarkan Sehun semakin erat memeluk tubuhnya, juga membiarkan hembusan napas Sehun semakin terasa di area tengkuknya.

“Hey, kenapa kau diam saja? Apa kau tak merindukanku?” lagi-lagi Sehun berbicara, sedikit kesal karena Eunhee tak kunjung merespon perkataannya.

Pelan, Sehun membalikkan tubuh Eunhee ke hadapannya, dia menyentuh kedua bahu Eunhee, lalu menyejajarkan kedua matanya dengan mata gadis itu.

“Kau…ini benar-benar…kau?” tanya Eunhee ragu ketika ia mendapati manik mata Sehun menatapnya lekat diiringi senyuman tipis yang menghiasi bibirnya.

Sehun tertawa kecil, lantas mengacak gemas rambut gadis itu. “Dasar Bodoh, bagaimana bisa kau tak mengenali wajah tampan suamimu ini, eoh?” katanya dengan nada ringan yang terdengar nyaman.

Eunhee turut tersenyum. Rupanya penglihatannya tidak bermasalah, ini benar Sehun. suaminya. Tanpa merasa ragu atau merasa gugup, Eunhee memeluk Sehun tiba-tiba, hingga lelaki itu sedikit terhuyung ke belakang.

Debaran jantung mereka kini tengah berpacu cepat, berlomba untuk menghindari sebuah perasaan aneh yang menyelinap ke dalam hati mereka.

Eunhee menyembunyikan wajah senangnya di dada bidang Sehun, senyuman lebar pun tak dapat ia tahan. Gadis itu semakin memeluk erat tubuh Sehun, hingga Sehun merasakan sesak saat mengambil napas.

“Kau yang bodoh! Bagaimana bisa kau membuatku merasa ingin mati, saat aku tahu jika pintu rumah tidak dikunci, eoh?” kata Eunhee terang-terangan. Membuat Sehun harus menahan tawanya.

Sehun kembali menyentuh bahu Eunhee, menjauhkannya sedikit untuk kembali menatap mata gadis itu. “Jadi, kau merasa takut?”

“Tentu saja!”

Mendengar jawaban Eunhee yang terdengar seperti rengekan itu, justru membuat Sehun tak tahan ingin tertawa. Hingga akhirnya, Sehun tertawa ringan. Kedua tangannya kini terentang lebar,

“Datanglah padaku, maka aku akan melindungimu dari rasa ketakutan itu.”

Semburat merah di kedua pipinya mulai terlihat, juga garis senyum tipis yang ditunjukkan di bibirnya mulai membentuk. Ungkapan Sehun memang terdengar seperti sebuah candaan, tetapi perkataan itu Sehun ucapkan tulus dari dalam hatinya.

Setelah berujar demikian, Sehun lekas menarik lembut tangan Eunhee. mengajak gadis itu untuk duduk di kursi sofa panjang. Ketika mereka berdua duduk berdampingan, Sehun menyandarkan kepalanya di bahu gadis itu, lalu memejamkan matanya.

Lelaki itu mengembuskan napas panjang sebelum berujar, “Rasanya sangat lelah. Dan sepertinya..aku tak mau melakukan hal ini lagi,” katanya rendah.

Eunhee mengerutkan samar keningnya, “Maksudmu?”

“Jika aku boleh memilih, aku ingin menjadi seorang kapten tim basket saja, daripada harus mengurus semua urusan di perusahaan ayah. Itu semua membuatku lelah dan pusing.” Keluh Sehun dengan kedua mata tetap terpejam.

“Ya! Kau tak boleh berbicara seperti itu. Bagaimana jika Abeonim tahu hal ini, kau mau melakukan apa?” tanya Eunhee sedikit kesal.

Sehun tertawa kecil, “Aku? Aku akan membawamu pergi dari sini. Lalu hidup berdua di sebuah rumah dengan suasana yang lebih nyaman dari rumah ini.”

Refleks Eunhee menjitak keras kepala Sehun yang masih berada di bahunya. “Ya! Setidaknya jawablah pertanyaanku dengan benar!” kata Eunhee sambil mengerucutkan bibirnya, lalu menatap Sehun yang sibuk mengusap kepalanya yang terasa sakit.

“Mungkin Abeonim akan membenciku jika dia mendengarnya.” Kali ini Sehun menjawab dengan benar, dan Eunhee tersenyum puas.

“Kalau begitu, mengapa kau sudah pulang? Bukankah kau harus berada di sana minimal tiga hari untuk menyelesaikan tugasmu?” Eunhee menatap Sehun penasaran. Lantas, Sehun menegakkan posisi duduknya sebelum ia balas menatap Eunhee.

Sehun menatap lekat dua manik mata di hadapannya. Dia tersenyum samar saat ia mengingat perkataan yang ia lontarkan untuk Kyungsoo.

Dia menghela napas panjang, “Jika saja aku mendapat kabar darimu, mungkin aku akan menjalankan tugasku dengan baik. Tapi, kau tak memberiku kabar sama sekali. Bahkan, aku sulit untuk menghubungimu. Saat mendapati pikiran negatif itu, aku takut. Aku takut sesuatu yang tidak-tidak terjadi padamu. Aku takut kau sakit. Hingga aku memutuskan, setelah rapat pertamaku selesai dilaksanakan, aku akan melakukan penerbangan ke Seoul lebih dulu. Awalnya D.O hyung kaget mendengar keputusanku, dan memaksaku untuk tidak melakukan hal itu. Ia takut jika nantinya ayah marah dan memutuskan untuk mengeluarkanku dari daftar keluarganya…”

Ada tawa kecil yang keluar dari bibir Sehun sebelum melanjutkan perkataannya, “…hal itu terdengar sangat konyol. Ayah tak mungkin melakukan hal itu padaku. Aku tak menggubris rasa khawatir Kyungsoo mengenai keputusanku itu, dan tetap memaksanya untuk mengabulkan apa yang kuinginkan. Akupun menambahkan, akan bertanggung jawab jika suatu saat ayah memarahiku akibat keputusan yang kuambil ini.”

Eunhee membulatkan kedua matanya, mendapati Sehun yang merengkuh tubuhnya ke dalam sebuah pelukan hangat. Untuk yang ke sekian kalinya, Eunhee terdiam kala Sehun memeluknya erat dan meletakan dagunya di bahu gadis itu seraya mengusap rambutnya lembut.

“Sekarang, aku merasa sangat lega. Karena kau baik-baik saja…”

“…aku mohon padamu, jangan pernah membuatku cemas. Karena rasanya begitu sakit, sangat sakit hingga aku tak bisa menjalani hidupku dengan baik,”

Penuturan itu dibalas dengan setetes bulir bening yang mengalir membasahi kedua pipi Eunhee. gadis itu mengangguk dalam diam, turut membalas pelukan hangat Sehun, hingga kini mereka sama-sama merasakan debaran jantung yang begitu kencang.

“Maafkan aku, aku berjanji, tidak akan membuatmu merasakan khawatir. Karena aku tak ingin melihatmu sakit karenaku.”

***

Malam hari mulai menampakkan wujudnya. Memberikan kesan dingin yang menusuk kulit, hingga mengharuskan mereka yang merasakan kedinginan itu mengenakan pakaian hangat agar suhunya tetap normal.

Di sini, di sebuah kamar berukuran besar dan terdapat dua lemari pakaian di sudut ruangan, mereka berdua berbaring dengan nyaman di atas tempat tidur, dibalut dengan selimut hangat yang menutupi tubuh mereka hingga sebatas perut, saling terdiam menatap langit-langit kamar.

20 menit setelah mereka menikmati makan malam di ruang makan, mereka memutuskan untuk pergi ke kamar. Guna mengistirahatkan tubuh yang terasa lelah karena telah menjalani aktivitas hari ini.

Lewat sudut matanya, Sehun menatap Eunhee yang tengah menatap lurus-lurus langit kamar dengan bibir mengatup rapat. Lelaki itu kemudian menghela napas panjang.

“Eunhee-ya,” “Sehun-ah,”

Keduanya tertegun ketika mereka sama-sama menyerukan nama. Lalu, mereka bertemu pandang. Hingga pada detik ketiga, keduanya mengalihkan perhatian, mengusir rasa canggung yang menyelinap ke dalam hati.

“Uhm,” Sehun berdeham kecil. “Kau duluan,” lanjutnya tanpa menatap Eunhee.

“Tidak, kau saja. Lagipula, pembicaraan dariku tidak terlalu penting.” Elak Eunhee, sambil tersenyum kikuk.

“Baiklah,” Sehun menghadapkan tubuhnya pada gadis itu. Begitupun Eunhee, mereka berdua kembali bertatapan. Untuk hal ini, mereka sama-sama berusaha menepis perasaan canggung saat bertatapan agar pembicaraan mereka tidak tersendat.

“Mengapa ponselmu sulit kuhubungi? Bagaimana bisa kau menghubungiku menggunakan nomor ponsel Kai? dan..sejak kapan kau mengenalnya?” pertanyaan-pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulut Sehun.

Eunhee menarik selimutnya hingga sebatas bahu. “Ponselku rusak karena terjangan para siswi yang tiba-tiba sehingga aku tak bisa menghindar. Aku meminjam ponsel Kai untuk menghubungimu. Dan aku mengenal Kai sejak dia menginjakkan kakinya di sekolahmu,”

“dia murid baru.” Lanjut Eunhee setelah beberapa saat ia menjeda kalimatnya.

“A-apa? Murid baru katamu?” Sehun memasang ekspresi kaget. Tentu saja, karena ia benar-benar tidak tahu jika Kai adalah murid baru di sekolahnya. Sejenak, Sehun memutar kembali peristiwa kemarin di saat Kai menghubunginya malam hari. Apa jangan-jangan, Kai bermaksud mengundang Sehun berkunjung ke apartemennya untuk membicarakan hal itu? Oh, benar-benar!

Lelaki itu kemudian membenarkan posisi tidurnya menjadi lebih dekat dengan Eunhee, seraya bertanya. “Apa dia memberitahumu tentang bagaimana dia bisa bersekolah di sana?”

Eunhee pun menjawab dengan gelengan kepala. Karena Kai memang tidak memberitahu sedikitpun mengenai hal itu.

“Kau tahu? Kai membelikan ponsel untukku sebagai ganti rugi.” Jelas Eunhee tanpa diminta. Dan rasa kaget dalam diri Sehun bertambah dua kali lipat.

Entahlah, rasanya seperti ada sebuah bongkahan batu besar yang mengganjal dalam hati dan paru-parunya saat mendengar ucapan itu, hingga Sehun merasa kesulitan untuk mengatur napasnya yang mulai tersengal.

“Kenapa kau menerimanya?” tanya Sehun, terselip nada tak suka di setiap untaian katanya.

Eunhee mengangkat bahu kanannya, “Dia memaksaku, dan aku tak bisa berbuat apa-apa.” Ungkapnya santai, tak menyadari adanya perubahan mimik wajah Sehun.

“Kembalikan ponsel itu padanya.” Kata Sehun datar namun sarat akan perintah, seolah Eunhee yang mendengar perkataan itu, tergerak untuk mengikutinya.

“T-tapi…kenapa?”

Sehun menghela napas panjang, “Aku tidak menyukainya. Lagipula, aku bisa membelikanmu ponsel baru. Jadi, kembalikan ponsel itu padanya.”

Eunhee tertarik untuk mendekatkan wajahnya ke arah Sehun sehingga mereka berdua berada dalam satu bantal, diikuti dengan senyuman menggodanya. “Bagaimana jika…aku menentang keinginanmu itu, apa yang akan kau lakukan?”

Entahlah, apakah Eunhee sadar atau tidak. Tetapi, pertanyaannya barusan sama persis seperti pertanyaan yang Kai lontarkan untuknya saat di kelas. Sehun mengerjap kaget mendengar pertanyaan itu, dia sedikit memberi jarak dari Eunhee, sebelum akhirnya ia berbisik di telinga kanan gadis itu sembari memeluk pinggangnya. Turut memberikan senyuman yang tak kalah menggoda.

“Aku…akan membuatmu mengandung…Sehun junior,” lantas, Sehun menyentuh perut datar Eunhee, mengusapnya, dan menatap manik mata gadis itu yang membulat. “Di sini,”

 .

.

.

 .

TBC

This fanfiction is very disappointing. forgive me :’)

Gembok keramat kembali hadir kalo responnya sedikit!-_________________-

Iklan

575 comments

  1. Suami lagi kerja banting tulang istri malah lagi digadoin ehh digodain sama si kai oppa😑😑

    Chennya mana ini😂😂 oppa knapa kau tidak nongol eoh 😂😂

    Mangatz thor 💪💪

  2. Aduh bahaya nih sehun mulai liar omongannya 🙈 tapi mau dong dikangenin sm sehun cmiwww 😍😍😍 chen oppa mau dibawa ke mana nih hihiw

  3. oh sehun ternyata bisa cemburu juga kekeke
    talpi ancamannya menakutkan bagai mana anak sekolah ngomong kayak gitu oh sehun benar benar perluh di tidak lebih lanjut hahaha

  4. ingat hun klian masih klas 2 sma.
    fix kai bkal jdi orng ktiga dihubungan hunhee couple. tpi aku gk mau prshbtan sehun kai hncur, kyaknya nayoung sma eunhee bkln jdi renggang juga. aish molla

  5. Ishhh!!! Jadi sebel tau sama Kai… 😤😤😤 Tapi ngeliat Se Hun yg begitu perhatian sama Eun Hee, bikin aku jadi mapu sendiri… 😄😄😄 Berasa aku yg jadi Eun Hee nya… 😁😁😁 (*ngarep mode on*)

  6. Ohh ini apa yah,,, pusing Kai Player,,, sehun yaampun sekarang udah mulai yadong astaga,,, gimana jadinya yh entar di sekolah,,, bikin penasran aja liat aku dari tadi baca ffnya eonni belum tidur demi baca ffnya,,, oh iyah eonni kalau di gembok bisa dikirim lewat Fb aku gak namanya Citha Githa,, sekalian PW yang chapter 4,,, aku udah ngeinboxko di fb,,, makasih sebelumnya,,

  7. OMG Hun ingat lu msh sekolahh,,,sehun juniornya ntarr aja klo udh lulus!!!Bener kn kta gw bkalan ada perang antra sehun dan kai,,,,ngga sbr liat reaksi kai klo dia tau eunhee bini nya sehun 😀

  8. Kyaaa sii themsekk suka sama eunhee, duuhh kaii itu istri sehunn, diamukinn sehun baru tauuu loo 😂😂
    Yaa ampun sehh luu masiihh sekolahh masih kelas Xl lagiii,pikirannyaa luar biasa yadongg :v.

  9. O may tu de gatt,, sehun uda pen punya anak ajaaa, masih sma jugaa. Kelewat dewasa ituuu :v
    Argh jongin, jangan ganggu hubungan mereka yang maniis, biarkan mereka hidup bahagiaa
    Btw sehun so sweet, saking khawatirnya sma eunhee langsung cepet2 pulang ke koreaaa. Sukaaa 😀

  10. Wah sehun saking khawatirnya langsung pulang nggak perduli ma urusan bisnisnya…kai tuh jangan jatuh hati ma eunhee dia istri orang tau. Sehun otaknya mesum juga ya udah pengen punya baby padahal masih pelajar, pengen tau reaksi eunhee gimana #sukaotakmesumsehun 😝

  11. Omaigattt otaknya sehun udah gak waras😂 lu masih kudu sekolah hun sabarr ya wkwk. Ga abis pikir jg sama eunhee, dia disukain 3 orang cowok cakep2 lagi😤 Aku kan juga pengin😆

  12. Hunnie…. 😳😳 tuh kan, bener… waktu di altar aja udah gitu.. apalagi di satu ranjang 😆😆😏… Aku kaget bacanya. Hun, masih SMA, Hun… inget… 😅 gak nyambung bgt Sehun, keliatan modusnya. Masa hanya karena nolak balikin HP dari Kai 😏. Tapi jadi penasaran Eun-Hee bakal jawab apa? 😄 Sayangnya ada kunci keramatnya 😦 jadi gak bisa langsung baca next chap 😞.
    Bisa-bisa Eun-Hee kena penyakit gula, Sehun makin manis soalnya ^^.
    BTW, disini D.O kan cuma beda 1 tahun sama Sehun… berarti dia juga masih sekolah, dong? Kok bisa nge handle urusan perusahaan? Daebaak! 👏
    Waaah 🎉🎉🎉 ini perayaan ke dua… Gak ada part Minji disini 😊 *✌😂, tapi jadi penasaran juga gimana ekspresi Minji liat Kai sama Eun-Hee, hehe…
    Yaaa, pengen cepet-cepet tau, gimana nantinya Sehun sama Kai ketemu di sekolah + ketemu Chen chen jugaa 😂😂… Tersanjung jadi Eun-Hee 😇… 😂😂😂
    Sampai bertemu di chap selanjutnyaaa, Kak Isaaaan… udah FIX, ini nge-feel lagiiiiii ^o^ :-*.

    1. mungkin dio terlalu cerdas, makanya dia disuruh nge-handle perusahaan x)
      hahaha pokoknya tiap baca komentar kamu bawaannya ingin ketawa terus xD
      makasih yaa ❤ ❤ ❤

  13. Kira2 gimana reaksinya kai yah kalo tahu eunhee itu ternyata istri sehun kkkkk….
    Ciee sehun cembokur ama sahabat sendiri, oh yh chapter 10 keprotect yah!? Ehm kak aku minta pwnya yah tenang ajh aku bukan siders kok, aku reader yg baik*cielah muji diri sendiri* hehehe kutunggu pwnya yg kak.! Lewat twitter yh

  14. Engga engga gamauuuuuuu!! Pokonya jgn smpe jongin ambil eunheee yaaaaa😣 baguslah sehun pulang cpet, untung dah pulang lo hun, eunhee bs slamat dr sehun yey👅

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s