Kai and Chocolate


EXO-Member-Profile-Kai

Author : ShanShoo
Casts : Shin Nayoung (OC) | Kai of EXO
Genre : Romance
Length : Oneshoot
Rating : T

.

.

.

.

Sudah satu jam lamanya, Kai dan Nayoung duduk di atas meja belajar di kelas 1-B. Keduanya sama-sama menatap ke arah jendela kelas. Memerhatikan gemericik air hujan yang tak kunjung mereda. Mereka berdua tak mempunyai pemikiran seperti teman-teman sekelasnya, nekat menerobos hujan agar cepat sampai di rumah. Karena mereka tak ingin kejadian yang sama, terulang lagi; terkena demam setelah mereka memberanikan diri untuk pulang sekolah dengan keadaan basah kuyup karena air hujan.

Kai merasa bosan atas situasi ini. Dia mengembuskan napas panjang, kemudian menoleh menatap Nayoung di sampingnya.

Lelaki itu sedikit mendengus. “Sampai kapan kau akan terus memakan coklat-coklat itu, huh?”

Nayoung yang baru saja menggigit coklat dalam genggamannya, menoleh ke arah Kai yang saat ini tengah menaikkan satu alisnya. Menatap gadis itu penasaran bercampur kesal.

“Kenapa?” tanya Nayoung dengan bibir dikerucutkan. Lantas, ia mengunyah coklatnya pelan-pelan hingga terasa meleleh dalam mulut. “Coklat ini memiliki rasa yang enak. Kau harus mencobanya!” gadis itupun menyodorkan coklat dalam genggamannya ke arah Kai. buru-buru Kai menjauhkan coklat itu darinya.

“Aku tak suka. Coklat bisa membuat tubuhmu gemuk.” Cibir Kai sambil mendorong pelan kening Nayoung dengan telunjuknya.

Gadis itu mendesah kecil, “Pembohong! Bilang saja jika kau tak ingin lubang dalam gigimu membesar karena memakan coklat. Ya, kan?”

Gulp

Kai mengerjapkan matanya dengan cepat. Dia mendengus kesal mendengar cibiran kekasihnya yang terdengar lebih buruk daripada cibiran yang Kai lontarkan tadi.

Tawa ringan mulai keluar dari bibir mungil itu. Rupanya, usahanya untuk membuat kekasihnya marah, berhasil. Ia melihat Kai melipat kedua tangannya di depan dada, dan pandangannya beralih memerhatikan kembali gemericik hujan di luar sana.

“Kau marah?” Nayoung menyikut lengan Kai dengan bahunya sembari memasang senyum puas.

Kai diam tak bersuara.

Dan Nayoung kembali menyikut lengannya, “Kau marah?” tanya gadis itu lagi. Tetapi kali ini, senyuman yang terpatri di bibirnya, menghilang.

“Aigoo…rupanya kau terlihat menggemaskan saat sedang marah.” Lagi-lagi Nayoung bersuara. Tetapi hal itu tak berhasil membuat Kai mengubah ekspresi wajahnya yang terlihat sedang kesal.

Tetapi, beberapa saat setelahnya, Kai mulai berbicara.

“Jangan pedulikan aku, pedulikan saja coklatmu itu!”

Nayoung refleks berhenti mengunyah, dan mencuri pandang ke arah Kai yang masih diliputi rasa kesal. Gadis itupun berusaha menahan tawanya untuk berbicara.

“Ya! Apa kau merasa cemburu hanya karena coklat?”

Kai tak mau menjawab lagi.

Dan hal itu membuat Nayoung menghela napas pendek. “Kekanakan!” cibirnya sembari membuang bungkus coklat ke sembarang arah ketika coklatnya sudah habis.

Kai lantas menatap Nayoung ketika ia mendengar ejekan kekasihnya itu. Tetapi, baru saja ia akan berujar, ia terdiam dan berusaha menahan senyuman.

“Di sini, siapa yang kekanakan, eoh?” Kai mengepalkan tangannya untuk menutup bibirnya yang mulai mengukir senyum.

“Tentu saja kau, siapa lagi?” nada bicara Nayoung meninggi, “Padahal, tadi aku hanya bercanda saja. Dan kau menanggapinya dengan serius.” Dia mengerucutkan bibir saat mengatakan hal itu.

“Kurasa, yang kekanakan itu adalah orang yang mengatakannya.”

“Apa maksudmu—”

Chu~

Kai tak mengijinkan Nayoung untuk meneruskan perkataannya dengan cara menempelkan bibirnya ke satu sudut bibir gadis itu.

Sepasang mata gadis itu membelalak sempurna saat ia merasakan lembutnya bibir Kai, walaupun hanya menyentuh sudut bibirnya saja. Nayoung benar-benar terpaku di tempat. Ingin rasanya ia berteriak sekencang mungkin untuk menghilangkan rasa malu yang telah menjalar, hingga mengakibatkan rona merah muncul di kedua pipinya.

Genap 5 detik, Kai menjauhkan wajahnya. Dia memandangi raut wajah Nayoung yang belum berubah—masih menunjukkan kekagetan. Lantas, Kai tertawa kecil.

“Tidak perlu berlebihan seperti itu. Aku hanya ingin menghapus sisa coklat yang ada di sudut bibirmu.” Jelas Kai kemudian sambil meluruskan pandangannya ke arah jendela.

“A-apa katamu?” tangan gadis itu terangkat menyentuh sudut bibirnya. Ia menatap Kai yang menoleh padanya dengan senyuman menggoda.

“Kenapa? Kau menginginkannya lagi?” Kai mendekatkan wajahnya pada Nayoung. Dan ketika ia mendapati Nayoung yang ingin menjauh darinya, Kai lekas menahan pinggang gadis itu. Lalu mendekatkan tubuh gadis itu padanya.

Sekarang, wajah mereka berada dalam jarak yang begitu dekat. Sama seperti tadi.

“Kai…”

“Jawab pertanyaanku,” sela Kai. ia menatap dalam manik mata kekasihnya.

“Di antara dua pilihan ini, mana yang akan kau pilih?”

“Kai…atau…coklat?”

Tiba-tiba saja, Nayoung mendorong tubuh Kai. dia tertawa renyah mendengar pertanyaan konyol yang dilontarkan kekasihnya itu. Sementara lelaki itu hanya menatap Nayoung keheranan. Apa ada yang salah dengan pertanyaannya itu?

Masih dengan tawanya yang renyah, Nayoung berujar. “Bagaimana bisa kau memberiku pertanyaan seperti itu, Kai?” lantas, ia memegang perutnya yang terasa kram.

Kai tertawa kecil, “Jawab saja pertanyaanku! Tidak susah, kan?” ucapnya sambil meraih tangan Nayoung yang tengah berusaha untuk menenangkan perutnya.

“Kau menginginkan jawabannya?” Nayoung membiarkan Kai memegang lengannya. Dia menatap Kai intens, tetapi bibirnya belum bisa berhenti untuk tersenyum.

“Umm!” jawab Kai antusias.

“Bagaimana, ya?” Nayoung berpura-pura memikirkan jawabannya sambil menyentuh salah satu pelipisnya. Matanya mengarah pada langit-langit kelas yang berwarna putih. Kai yang masih menggenggam lembut tangan Nayoung, hanya bisa menatap gadis itu dengan tatapan penuh harap.

“Aku memilih…dua-duanya. Coklat dan Kai!”

Kai membulatkan matanya mendengar jawaban kekasihnya itu. Ia lekas menjauhkan tangan Nayoung darinya, dan menatap gadis itu tak percaya.

“Kau harus memilih salah satu, Nona Shin.” Katanya sambil mengacak kecil rambut Nayoung.

Gadis itu mendengus, “Tidak bisa! Aku tidak bisa memilih salah satu dari dua pilihan itu, kau tahu?” balasnya acuh tak acuh.

Tak terasa, hujan di luar sana telah berhenti. Pelangi indah pun mulai memunculkan wujudnya, memberi kesan cantik pada langit di atas sana yang masih diliputi awan kelabu. Kai yang pertama kali tahu jika hujan telah berhenti, tersenyum lega.

“Ayo kita pulang!” dia mengulurkan tangannya pada Nayoung ketika ia turun dari meja. Nayoung menyambut uluran tangan itu sembari menapakkan kakinya ke lantai kelas. Ditatapnya Kai yang saat ini tengah tersenyum manis padanya.

***

Mereka kini tengah berjalan beriringan menyusuri koridor yang nampak sepi. Kai meraih tangan Nayoung, dan menggenggamnya erat. Membuat Nayoung menoleh dan menatapnya, diiringi senyuman tipis.

“Nayoung-ah,”

“Hm?”

“Kau benar-benar tidak bisa memilih salah satu dari dua pilihan itu?” Kai masih saja membicarakan pertanyaannya.

Nayoung menggeleng tak percaya. “Tidak bisa! Dua pilihan itu sangatlah berarti untukku.” Jelasnya sambil mempererat genggaman tangannya.

“Jadi…apa jawabanmu?”

“Coklat dan Kai.”

Kai mengerucutkan bibirnya. “Aku tak suka jawabanmu!”

“Lalu, aku harus menjawab apa?”

Sepasang kaki jenjang Kai berhenti melangkah, hingga Nayoung terpaksa menghentikan langkahnya juga.

“Kenapa berhenti?” tanya Nayoung keheranan.

Nayoung bungkam seketika, saat tubuhnya terasa menghangat dalam waktu kurang dari dua detik.

Ya, Kai lah yang membuat tubuhnya menghangat, dengan cara memeluknya, dan meletakkan dagunya di bahu gadis itu.

“Kau harus menjawab…Kai dan coklat. Asal kau tahu saja, jawabanmu tadi benar-benar mengecewakanku! Bagaimana bisa kau mengutamakan coklat dibanding aku, hm?” suara Kai merendah. Terdengar seperti nada kekecewaan yang berhasil menembus indera pendengaran gadis itu.

Nayoung balas memeluk tubuh Kai sambil tertawa pelan. “Kau masih merasa cemburu?” tanyanya. Dan Kai membalasnya dengan anggukan mantap.

Beberapa saat setelahnya, Kai melepas pelukannya, lalu memegang kedua bahu Nayoung.

“Jadi, apa jawabanmu?”

Gadis itu tak bisa menahan tawa lebarnya. Dia menunduk sejenak sebelum menatap Kai dan menjawab.

“Kai dan coklat,”

“Kau yakin?” tanya Kai dengan kedua alis yang mengangkat tinggi-tinggi.

Dan Nayoung membalasnya dengan anggukan cepat, “Sangat yakin!”

Ah, Kai puas mendengar jawaban kekasihnya itu. Maka, tak segan-segan Kai melayangkan ciuman singkat di bibir Nayoung yang masih tersenyum. Karena kaget akan hal itu, Nayoung memukul pelan dada Kai. sebelum akhirnya mereka kembali berjalan, meninggalkan area sekolah yang mulai gelap karena hari ini sudah memasuki waktu sore.

“Aku mencintaimu,” bisik Kai tepat di telinga Nayoung.

“Akupun mencintaimu…dan juga coklat.” Nayoung pun turut berbisik di telinga Kai, diakhiri dengan tawanya yang ringan.

“Oh, terserah kau saja!”

.

.

.

.

.

FIN

Kkk~ entah kenapa, ide gaje yang kaya gini muncul tiba-tiba di otak aku 😀

Kai, kamu terlalu kekanakan! 😀

Jangan lupa tinggalin jejaknya, ya! Jangan jadi siders! -_______-

Kritik dan sarannya juga ditunggu 🙂

Iklan

35 comments

  1. kalo aq pilih KAI aja 😀

    Ohhh so sweeeet 🙂

    waahh KAI … cemburumu kterlaluan -___-
    masa iya gara” coklat ngambek -___-

    tapi biar gitu..loe tetep romantis 🙂
    benaran dahhh !! 😀

  2. Atulaaah Kai…
    Aku suka senyum-senyum kalo lagi baca ff yang castnya Kai apalagi kalo genrenya romance ^^
    Berasa jadi OC nya 😀 kkkk~

    FF udah bagus kok kak. ceritanya, bahasanya, penulisannya udah bagus dan rapih 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s