Clap Clap Clap – D.O Ver. [Urban Legend]


tumblr_mmfj5nHVcO1s9zfs0o1_500

Created by ShanShoo || Horror || Ficlet

FF ini terinspirasi dari banyaknya urban legend yang aku baca di beberapa situs. Tapi alur cerita di sini murni hasil pemikiran saya. So, I hope U can enjoy with my story 🙂

.

.

.

.

Sepasang suami istri yang diketahui bernama D.O dan Nara, tengah menaiki gunung yang cukup terjal untuk dilewati. Berkali-kali, Nara terpeleset dan hampir saja terjatuh jika D.O tidak segera menarik tangan wanita itu.

“Kau tidak apa-apa?” D.O bertanya dengan seraut wajah kecemasan.

“Aku tidak apa-apa.” Dan Nara membalas disertai ringisan tertahan di bibirnya. Menyadari jika kakinya sedikit tergores oleh benda tajam yang ada di sekitar gunung itu.

Waktu kini telah berganti menjadi malam hari, pada saat mereka berhasil melewati ketinggian gunung itu meskipun belum sampai pada puncaknya. Keduanya kini tengah mengatur napas yang cukup tersengal. Di area tanah yang datar ini, semuanya terlihat gelap. Tidak ada tanda-tanda kehidupan di sana. membuat Nara sedikit bergidik ngeri.

“Sebaiknya kita harus cepat mencari tempat beristirahat.” Nara memberi usulan di sela ketakutannya. D.O menoleh pada istrinya itu setelah ia meneguk sebotol air putih di tangannya.

“Umm, kau benar.” Balas D.O setelahnya.

Mereka pun akhirnya mulai melakukan pencarian tempat untuk beristirahat. Sesekali Nara mendesah kesal saat ia dan juga D.O tak kunjung menemukan tempat itu. langkah kaki mereka pun semakin dalam menyusuri hutan gelap gunung tersebut. Hingga pada beberapa menit kemudian, di dalam hutan itu, mereka menemukan sebuah gubuk tua dengan pagar kayu yang terlihat sangat rapuh.

D.O mengembuskan napas lega, begitupun Nara yang kini tersenyum lebar saat ia melihat gubuk tua itu.

“Ayo cepat!” D.O lantas menarik tangan Nara, berlari kecil sambil sesekali membenarkan letak tas punggung berukuran besarnya yang terasa berat.

Tiba di depan gubuk tersebut, D.O mengintip sejenak pada jendela berdebu yang membuatnya kesulitan untuk melihat bagian dalam gubuk itu. tak mau dikira tidak sopan, D.O mengetuk pintu beberapa kali. “Apa ada orang di dalam?”

Nara tertawa pelan, “Dasar bodoh! Mana mungkin di sini ada orang lain selain kita?” tanyanya sambil memukul bahu suaminya.

“Kau benar,” D.O ikut tertawa saat menyadari kebodohannya sendiri. Lagipula, gubuk ini terlihat begitu rusak dan sudah tak layak digunakan. Mana ada orang yang mau tinggal di tempat seperti itu?

Keduanya kini memutuskan untuk memasuki gubuk tersebut, diiringi dengan rasa cemas yang perlahan menjalar.

Gelap. Semuanya begitu gelap. Tidak ada penerangan sedikitpun di dalam sana, bahkan cahaya bulan pun tak sanggup menembus melewati celah-celah jendela gubuk itu.

D.O mulai mengeluarkan senter dari dalam tasnya. Dan ketika ia menyalakan senter tersebut, ia dan juga Nara merasa terkejut bukan main. Karena pada saat cahaya senter itu mengarah pada satu dinding di hadapan mereka, terdapat tulisan;

Mati! Mati! Mati!

Nara berteriak dan memeluk sisi tubuh D.O. ia memejamkan mata seraya berujar, “Aku takut!” sambil mempererat pelukannya.

“Aku ingin pulang!!” wanita itu kembali berkata di sela ketakutannya. Membuat D.O terlihat resah dan merasa bingung untuk mengambil sebuah keputusan yang tepat dalam situasi ini.

“Jangan khawatir, Sayang.” D.O mengusap punggung Nara, menenangkan wanita itu agar tak terus merasa cemas.

“Itu hanya sebuah tulisan, kau tak perlu merasa setakut ini.”

Nara lantas mendongak untuk menatap wajah D.O dan tulisan itu bergantian, setelahnya ia mengembuskan napas panjang.

“Lagipula, kita tidak mungkin bermalam di luar. Ada banyak binatang buas di sana, kau tahu?” kata D.O sambil mengusap peluh di dahi istrinya.

“Umm, kau benar.” Nara menjawab setelah ia sudah merasa sedikit tenang.

Setelah mereka benar-benar sepakat untuk bermalam di sana, mereka kini melangkah lebih jauh untuk mencari kamar dan mengistirahatkan diri sesegera mungkin. Sepasang mata mereka mendapati banyak perabotan di dalam gubuk itu. rasa heran sempat menyelinap ke dalam diri D.O. jika sebuah keluarga memutuskan untuk pindah dari sini, mengapa mereka tak membawa satupun perabotan rumah tangganya?

Mereka pun akhirnya menemukan satu kamar dengan satu tempat tidur berukuran sedang yang terlihat begitu kumal. Sebelum mereka menggunakan tempat tidur itu, mereka memutuskan untuk membersihkan kasurnya terlebih dahulu. Kemudian menggunakannya setelah dirasa tempat tidur itu sudah cukup bersih.

“Selamat malam..” kata D.O sambil mengecup sekilas pipi Nara, dan Nara membalasnya dengan anggukan kecil.

Tetapi, belum genap mereka memasuki alam mimpi masing-masing, mereka berdua dikejutkan dengan adanya suara langkah kaki yang berasal dari luar, tepat di depan jendela kamar. Nara yang mengetahui hal itu lebih dulu, mulai merasa ketakutan dan kembali berlindung pada suaminya.

“Sayang, kau mendengar itu?” tanya Nara.

“Ya, aku mendengarnya.” Lelaki bermata bulat itu lantas beranjak dari tempat tidur ke arah jendela, ia membuka jendela tersebut lalu mengedarkan pandangannya ke sana kemari, memastikan apakah memang benar ada orang lain selain mereka di sini.

“Apakah ada orang di sana?” tanya D.O sedikit berteriak.

Tidak ada jawaban. Sesuai apa yang dilihatnya pula, D.O tak menemukan siapapun di luar.

D.O baru saja hendak kembali menutup pintu, jika ia tidak mendengar adanya suara gemerisik keras yang bersumber dari luar. Ia membuka jendela dengan sekali hentakan lalu kembali bertanya.

“Apa ada orang di sana?” kali ini nada bicaranya sedikit kesal.

“Apa mungkin…dia tidak bisa bicara?” Nara berujar dengan suara bergemetar. Wanita itu masih bertahan di posisinya, tidur meringkuk dan mengarahkan tatapannya pada D.O.

“Entahlah,” tiba-tiba, D.O mendapat sebuah ide kecil di otaknya. “Tepuk tanganmu sekali jika kau ada di sini.” Kata D.O yang terarah pada luar gubuk.

‘Prok.’

Keduanya sama-sama terdiam setelah mendengar satu tepukan tangan itu. D.O menelan pahit ludahnya, lalu kembali bertanya.

“Apa kau pemilik rumah ini?” hening melanda saat D.O bertanya, “Tepuk tanganmu sekali jika iya, dan dua kali jika bukan.”

‘Prok prok.’

D.O merasa tubuhnya menegang seketika mendengar ucapannya yang kembali direspon dengan tepukan tangan.

“Apa kau laki-laki?”

‘Prok prok.’

“Jadi kau perempuan?”

‘Prok prok.’

Rasa cemas pun kini melanda keduanya. Nara terlihat semakin mengepalkan kedua tangannya pada bantal yang ia gunakan, sementara D.O terlihat mematung di depan jendela dengan banyaknya peluh yang mengucur di dahinya.

“Apa kau…manusia?”

‘Prok prok.’

Dunia seakan runtuh tepat di atas tubuh lelaki itu, pada detik ia menyadari jika sesuatu yang dihadapinya ini bukanlah makhluk hidup. Maka, D.O kembali bertanya meskipun ia terpaksa melakukannya di tengah ketakutan yang mendera.

“A-apa kau sendirian di sini?”

‘Prok prok.’

Mendengar tepukan tangan itu, membuat D.O refleks memundurkan tubuhnya lalu mendekat pada Nara yang sudah benar-benar merasa ketakutan. Ia memeluk tubuh Nara begitu erat, ia juga dapat mendengar isak tangis kecil di bibir istrinya itu.

“B-berapa jumlah kalian?”

Tidak ada jawaban, dan D.O kembali berujar.

“Satu tepukan untuk satu jumlah!”

.

.

.

.

.

.

.

.

‘Prok prok prok prok prok prok prok prok prok prok prok prok prok prok prok prok prok prok prok prok prok prok prok prok prok prok prok prok prok prok prok prok prok prok prok prok prok prok prok prok prok prok prok prok prok prok prok prok prok prok prok prok prok prok’

.

.

.

.

.

.

.

FIN

Gimana nih, pendapat kalian tentang cerita yang satu ini? kurang horror? Maapin yaa :’D

Ditunggu komennya, jangan jadi pembaca gelap 😉

Iklan

88 comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s