My Husband is My Enemy – Chapter 11


mhime2

Author : ShanShoo
Main casts : Park Eun Hee (OC) | Oh Sehun of EXO-K
Support casts : U can find them by ur self
Genre : School-life, Married-life, Romance
Length : Chaptered
Rating : PG-17

Disclaimer : This story is pure my imagination! Don’t copycat without my permission! 😉

 

Warning! Typo bertebaran! -_____-

 

Happy reading~

Seluruh titik fokus itu tetap mengarah padanya. Eunhee merasa sedikit risih karena harus mendapati tatapan tak mengenakkan itu, membuatnya menjadi sedikit lebih pendiam dari pada sebelumnya. Well, salahkan saja si pria bertubuh tinggi sekaligus berkulit pucat yang membuatnya seperti itu. Jika saja malam itu Sehun tidak melakukan hal yang tidak-tidak padanya, mungkin Eunhee tidak perlu repot-repot mengenakan sweater beserta syal pemberian Sehun yang sungguh terasa gerah saat ia kenakan.

“Eunhee-ya,” Nayoung kembali bersuara, dan Eunhee refleks menoleh pada gadis itu yang menatapnya dengan tatapan yang sukar diartikan.

“Ya?” tanya Eunhee.

“Aku tahu, kau tidak sakit.” Suara Nayoung terdengar datar namun sanggup membangkitkan rasa cemas dalam diri Eunhee.

Entah harus bagaimana Eunhee membalas perkataan sahabatnya itu. karena sungguh, Eunhee merasa lidahnya sukar untuk ia gerakkan dan membantunya untuk merangkai kata berupa alasan yang tepat untuk Nayoung. Eunhee lantas memutuskan titik fokusnya dari Nayoung, beralih memerhatikan papan tulis di depannya yang belum terkena coretan materi dari gurunya.

“Dan aku tahu, ada sebuah rahasia besar yang kau sembunyikan dariku.”

Deg

 

Perkataan Nayoung benar-benar membuat Eunhee diam seribu bahasa. Persendiannya mendadak kaku, bahkan sepasang bola mata bulatnya kesulitan untuk melirik ke arah Nayoung yang masih menatapnya penuh curiga.

“Rahasia apa…maksudmu?” Eunhee berujar sedikit ragu. Padahal sebelumnya ia berharap suaranya terdengar biasa saja, tidak terdengar menyembunyikan sesuatu seperti apa yang dikatakan Nayoung.

“Aku sudah tahu, kau pasti akan berkata seperti itu.” Nayoung membuang napas, “Istirahat nanti, kau harus menjelaskan semuanya padaku. Kau mengerti?”

Akhirnya, Eunhee merasakan sensasi hangat yang mengaliri peredaran darahnya, yang membuatnya berhasil menoleh dan balas menatap sahabatnya. “A-apa yang harus aku jelaskan?” dan Eunhee sedikit bersyukur dalam hati, karena ia telah menemukan kembali suaranya yang sempat hilang.

Nayoung lantas menghela napas kecil. “Pernikahanmu.”

Di sisi lain, Kai tak lelah memerhatikan gerak-gerik Eunhee dan juga Nayoung yang terlihat mencurigakan. Entah hal apa yang mereka bicarakan, dan hal itu membuat Kai mengerutkan samar keningnya.

“Ada apa?” Sehun menepuk sekilas bahu Kai, sebelum ia kembali meletakkan kedua tangannya di atas meja.

Kai mengarahkan wajahnya pada Sehun, namun tatapannya masih tertuju pada dua gadis itu. “Mereka…terlihat mencurigakan.” Katanya, lalu menatap Sehun.

“Mereka?” Sehun turut mengarahkan pandangannya pada Eunhee dan juga Nayoung. Begitupun Sehun, ada sebuah kerutan samar di keningnya, pertanda ia juga merasakan ada hal yang aneh yang tengah mereka bicarakan.

Sehun berdeham pelan. “Abaikan, aku yakin mereka pasti sedang membicarakan seputar dunia perempuan.” Katanya, mencoba untuk mengalihkan perhatian Kai. karena ia sendiri merasa cemas dan takut jika apa yang dibicarakan oleh istrinya dan juga Nayoung ada hubungannya dengannya.

“Ya…mungkin kau benar.” Kai lantas menaikkan satu bahunya, acuh tak acuh.

“Ah, ya…” lelaki itu melanjutkan perkataannya, “Bagaimana bisa kau dan Eunhee memasuki kelas bersama-sama, apa kalian pergi ke sekolah bersama?” tanyanya dengan mata yang dipicingkan.

Mendengar pertanyaan itu membuat Sehun menaikkan satu sudut bibirnya, tersenyum misterius. “Ya, kami berangkat bersama, dari rumah yang sama pula.” Ujarnya dengan nada bangga yang kentara, sekaligus ingin membuat Kai merasa terkejut setelah mendengar perkataannya.

“Kau bilang apa? Rumah yang sama?” Kai semakin tak mengerti. Ditatapnya Sehun lamat-lamat untuk mencaritahu arti mimik di wajah lelaki itu, dan ia berharap semoga ia dapat mengerti apa yang Sehun bicarakan. Tetapi, sungguh, Kai terlalu lambat untuk mencerna setiap perkataan itu.

“Ya, rumah yang sama.” Sehun mendekatkan wajahnya pada Kai, masih mempertahankan senyuman itu sambil melanjutkan, “Aku akan mengatakan hal yang tak akan pernah kau duga sebelumnya.”

Kai sedikit memiringkan kepalanya ke kiri, “Apa itu?”

Sehun menjauhkan wajahnya, lalu menyandarkan punggung seraya menghela napas, “Kau akan tahu nanti.”

***

Tak terasa, dua jam setelah mengikuti pelajaran pertama di pagi ini telah berakhir. Para siswa di kelas B mulai membereskan buku pelajarannya di atas meja, lalu beranjak meninggalkan bangkunya untuk pergi ke kantin, maupun ke tempat lain yang saat ini akan mereka tuju.

Beruntung hari ini Eunhee tidak mendapat teguran dari guru pengajarnya karena memakai sweater di dalam kelas. Alasan sakit demam yang dideritanya lah yang menyelamatkannya dari teguran itu, dan hal itu membuat Eunhee mengembuskan napas penuh lega.

Bel istirahat berdering. Dan Nayoung segera menarik tangan Eunhee untuk pergi ke luar kelas dengan langkah yang lebar. Bahkan Nayoung tak memberi kesempatan sedikit pun bagi Eunhee untuk bertanya ke mana mereka akan pergi.

“Kau harus menjelaskan semuanya sekarang, Eunhee.” hanya kalimat itu yang Nayoung utarakan, selebihnya ia terdiam sambil terus menarik tangan Eunhee yang sedikit meronta meminta dilepaskan.

Sehun yang mendapati kejadian itu sontak menaikkan sebelah alisnya. Terlebih Kai yang sedari tadi merasa penasaran dengan kedua gadis itu, mulai bersuara. “Mau pergi ke mana mereka?”

Sehun menoleh, “Kau penasaran? Mengapa kau tidak mengikuti mereka saja?” usulnya dengan nada malas. Karena meskipun Sehun juga merasa penasaran, ia tetap meredam perasaan itu.

“Ah, kau benar.” Kai tersenyum lebar di akhir kalimat. Ia lalu bangkit berdiri lalu melanjutkan perkataannya. “Kau berhutang penjelasan padaku, Sehun.” ujarnya sambil menunjuk wajah Sehun. detik berikutnya, ia berjalan cepat meninggalkan kelas, segera menyusul dua gadis itu sebelum ia kehilangan jejak.

Mendapati sosok Kai yang telah menghilang di balik pintu kelas, Sehun lekas menyandarkan punggungnya sambil meloloskan satu hembusan napas panjang. Mengenai Kai, Sehun benar-benar merasa tak habis pikir. Kai menyukai Eunhee. tiga kata itu terus mengiang di dalam pikirannya. Lagipula, bukankah Kai pernah berkata pada Sehun jika ia sudah berubah, dan sudah memantapkan hatinya pada satu gadis? Ah, Sehun hampir melupakan satu hal.

Jujur saja, sebenarnya Sehun sudah mendengar hal itu berkali-kali. Tentang perasaan Kai, tentu saja. Kai selalu berkata jika ia sudah memantapkan hatinya pada satu gadis, dan tak akan berpindah ke hati lain. Tapi tentu saja itu hanya bersifat sementara. Kai akan tetap mengencani gadis lain tanpa sepengetahuan kekasihnya. Sikap buruk yang dimiliki sahabatnya itu memang cukup sulit untuk dihilangkan. Tetapi anehnya, meskipun Sehun telah berkali-kali mendengar pengakuan Kai mengenai perasaannya, ia selalu saja percaya. Dan menganggap jika Kai benar-benar telah berubah. Terlebih lagi di saat ia mendengar Kai berujar jika ia akan bertunangan dengan kekasihnya, membuat Sehun membuang jauh-jauh pikiran negatifnya mengenai Kai yang hanya akan menganggap kata tunangan sebagai sebuah hiburan belaka.

Titik fokusnya kini beralih kembali ke arah pintu kelas, pada detik Sehun mendapati satu sosok siswa bertubuh cukup tinggi yang berdiri di sana. dan sontak, Sehun melebarkan pandangannya karena kaget.

Itu Chen.

Pandangannya beredar ke seluruh penjuru ruangan, seperti sedang mencari seseorang. Sehun tertawa kecil. Ia sudah tahu alasan kedatangan Chen ke kelas ini, mencari Eunhee, tentu saja.

Satu senyum simpul mulai terbentuk di bibir Sehun. ia lalu berdiri dari kursinya dan beranjak menghampiri Chen.

“Kim Jongdae,” sapa Sehun sedikit acuh. Dan pertemuan mereka berdua mengundang perhatian sedikitnya para siswa yang memutuskan untuk diam di dalam kelas.

“Sehun?” Chen memicingkan matanya, menatap Sehun sedikit tak suka. Dan tatapan itu benar-benar dapat terbaca oleh pikiran Sehun. Chen tidak menyukainya.

***

Mereka berdua saling berpandangan. Semilir angin yang perlahan menyapa anak rambut mereka pun seolah diabaikan begitu saja. Bahkan salah satu di antara mereka tak ada yang berniat untuk sekedar menyelipkan rambut panjangnya ke belakang telinga.

Hanya sebuah keheningan yang mendominasi.

Eunhee, tahu, ia tidak boleh diam seperti ini. Tapi ia juga tak bisa berbicara. Bibirnya seolah menolak untuk bergerak. Yang bisa ia lakukan hanyalah mengepalkan kedua tangannya di sisi tubuh, mencoba mencari jalan lain untuk masalah yang sedang dihadapinya ini.

“Eunhee-ya,” Nayoung bersuara. Dia membuang napas kesal sambil memejamkan sejenak sepasang matanya. “Mengapa kau harus menyembunyikan semua kenyataan itu dariku? Dan…mengapa aku harus mengetahui semua kenyataan ini dari ibumu? Bukan dari dirimu sendiri? Kau sahabatku, dan aku sahabatmu. Kita sangat dekat, dan aku juga sudah menganggapmu sebagai saudaraku sendiri. Aku bahkan…” gadis itu mulai terisak, satu tangannya terangkat untuk menutup bibirnya yang bergetar menahan tangis. “Bahkan…”

Penuturan panjang itupun dibalas dengan satu titik bening yang mengalir di pipi Eunhee. ia masih terdiam, padahal jauh di dalam lubuk hatinya, ia ingin sekali menyerbu Nayoung dengan pelukan erat untuk menenangkannya.

“Aku bahkan…tak pernah memiliki rahasia apapun untuk kupendam sendiri. Aku selalu mengatakan semuanya, aku tak pernah menyembunyikannya.” Gadis itu melanjutkan dengan napas memburu. Beruntung tidak ada siapapun di sekitar mereka, hingga membuat keduanya dapat mengutarakan isi mereka masing-masing secara bebas, tanpa takut terdengar oleh orang lain. Nayoung memang cukup baik dalam mencari tempat aman. Seperti tempat ini, taman belakang lain di sekolahnya yang tidak terawat lagi dengan baik.

“Maafkan aku…Nayoung-ah. Aku…aku sungguh minta maaf,” seketika, tangisan Eunhee membuncah. Ia meremas ujung sweater yang dikenakannya kuat-kuat. Bibirnya bergetar pilu menahan rasa sakit yang menghujam batinnya.

Benar, Nayoung tidak pernah menyembunyikan hal apapun pada Eunhee. gadis itu selalu mengutarakan dan terus membicarakan masalah yang terjadi pada dirinya, baik itu baik maupun buruk. Dan dengan senang hati, Eunhee akan memberikan masukan untuk sahabatnya. Berharap setelah itu, Nayoung dapat memperbaiki kesalahannya suatu saat nanti.

Jika Nayoung bersikap secara terbuka, mengapa Eunhee bersikap sebaliknya? Apakah Eunhee benar-benar menganggap Nayoung sebagai sahabatnya?

“Aku tidak bermaksud untuk menyembunyikannya darimu…aku hanya…hanya…”

“Hanya apa, huh? Apa kau tak pernah menganggap kehadiranku sebagai sahabat untukmu? Apa kau hanya menganggapku orang lain yang tak perlu tahu masalahmu?” Nayoung memotong ucapan Eunhee. ia menatap sedih gadis di depannya yang menangis dalam diam.

“Tidak, bukan begitu…” Eunhee lekas mendekat pada Nayoung, ia lalu memeluk erat sahabatnya dengan air mata berlinang. Ia tidak mau mendapati Nayoung yang terus menangis karena kesalahannya. Dan ia tak mau Nayoung menjauh darinya karena hal ini.

“Aku akan menjelaskan semuanya,” kata Eunhee dengan nada menenangkan. Sementara Nayoung yang mendengar ucapan itu hanya diam tak bergeming. “Apa kau mau mendengarnya?” dia mengusap lembut punggung Nayoung. Berharap pelukan darinya dapat menenangkan diri gadis itu.

“Ya, itu yang aku inginkan, kau tahu?” balas Nayoung, menyeka air mata di pipinya.

Eunhee melepaskan pelukannya dengan perlahan. Ia menatap sejenak Nayoung sambil mengusap kedua pipinya, lalu menarik lembut tangan Nayoung untuk duduk di bangku taman yang terletak di bawah pohon rindang. Mereka berdua duduk berhadapan, dengan Eunhee yang menundukkan kepalanya.

“Aku…aku punya banyak alasan mengapa pernikahanku dengan Sehun harus disembunyikan.” Eunhee memulai. Dia mengangkat wajahnya untuk mendapati seraut mimik wajah Nayoung yang penuh rasa penasaran.

“Dulu, saat masa kanak-kanak, kami berdua saling bersahabat. Bahkan kami tak pernah melewatkan satu haripun untuk bermain bersama. Namun, lambat laun aku mulai membenci Sehun karena sebuah hal spele. Dan itupun karena…Sehun sendiri yang memulainya. Dia yang menyebabkan aku harus membencinya karena hal spele itu,”

“Kami menikah bukan karena kehendak kami sendiri…melainkan kehendak dari kedua orangtua kami. Bisa dibilang…ini adalah sebuah perjodohan yang sungguh memuakkan. Akhirnya, kami mengikuti apa yang dikatakan oleh mereka setelah sebelumnya kami berusaha menolak keinginan mereka. Dengan syarat, kami semua sepakat untuk menyembunyikan pernikahan kami, dan hanya mengundang orang-orang terdekat saja ke tempat pernikahan. Bisa kau bayangkan kejadian apa yang akan terjadi nanti jika kami menikah? Kami bahkan masih saling membenci saat itu.”

Eunhee menghirup napas dalam lalu mengeluarkannya perlahan, ia kembali melanjutkan. “Dan..yah, kami menikah, dan mereka memberikan kami sebuah rumah sederhana untuk kami tempati.”

“Lelaki itu…entahlah, aku sendiri bingung bagaimana cara menjelaskannya. Dia sangatlah dingin, acuh, dan tak pernah mau menoleh padaku setiap aku berada di dekatnya. Dan hal itu semakin membuatku membencinya. Aku selalu berharap, suatu saat nanti aku akan bercerai dengannya. Tapi lama-kelamaan, aku tak mau harapan itu terkabulkan.”

Ada sebuah kerutan samar di kening Nayoung, “Apa itu karena…kau mulai menyukainya?” tebaknya dengan wajah sedikit mendekat ke arah Eunhee.

Eunhee menggeleng, “Ya. oh, ini terdengar konyol.” Ia tertawa kecil, “Tapi itu kenyataan, aku menyukainya. Dan ada satu hal yang sungguh membuatku tak percaya selama ini.”

“Apa itu?” tanya Nayoung dengan alis yang bertautan.

“Dia…selama ini ia hanya berpura-pura bersikap dingin padaku. Alasannya sangatlah tidak masuk akal!” kata Eunhee menggebu-gebu, membuat Nayoung semakin merasa penasaran.

“Kau tahu? Dia bersikap seperti itu hanya karena ia tak mau kami hanya memiliki hubungan sebatas sahabat. Ia menginginkan hubungan yang lebih. Maka dari itu, ia memulai semua rasa benci itu untuk tumbuh dan semakin membesar. Ck, dasar lelaki bodoh!” cibirnya tak kuasa menahan rasa kesal yang sempat muncul.

Nayoung tertawa karena tak percaya, “Bagaimana mungkin Sehun seperti itu?” dia berujar di tengah tawa kecilnya.

“Kau tak mempercayai perkataanku ‘kan? Aku sendiri juga merasa tak percaya,” Eunhee menghela napas, “Tapi itu semua kenyataan.”

“Kalian berdua aneh!” Nayoung mencibir.

“Tidak, hanya Sehun.” bela Eunhee sambil menaikkan satu bahunya. “Aku tidak aneh.”

Keduanya pun kini mulai tertawa renyah. Melupakan bagaimana kejadian sebelum Eunhee menjelaskan semuanya. Perasaan sedih, kecewa, rasa sesal yang sempat meretakkan hubungan persahabatan mereka seolah lenyap begitu saja, terbawa bersama arus angin lembut yang menghantam setiap inchi tubuh mereka.

“Nayoung-ah…” Eunhee menghentikan tawanya. Ia menatap Nayoung ragu-ragu, membuat gadis itu turut menghentikan tawanya.

“Ya?”

“Kau mau memaafkanku?” kata Eunhee kemudian.

Nayoung tertawa, lalu mencubit gemas kedua pipi Eunhee. “Untuk apa kau meminta maaf? Kau sudah menjelaskan semuanya.”

“Tapi…aku sudah membuat kesalahan padamu.”

“Emm…” Nayoung mengetuk dagunya beberapa kali sebelum membalas, “Kurasa itu bukanlah sebuah kesalahan. Lagipula, aku mengerti alasanmu itu.” katanya dengan nada yang terdengar begitu nyaman.

Eunhee kembali memeluk tubuh mungil sahabatnya. Meletakkan dagunya di bahu gadis itu dengan mata terpejam. Dan tanpa ragu-ragu, Nayoung balas memeluk. Ia juga meletakkan dagunya di bahu Eunhee dengan senyum kecil di bibirnya. Ya, ini yang Eunhee inginkan. Terus bersama dengan sahabatnya sampai kapanpun.

Mereka berdua tak menyadari sama sekali, jika selama mereka membicarakan seluruh penjelasan itu, ada seseorang yang juga mendengar semuanya secara jelas. Meskipun tidak sejelas yang diinginkan, ia masih dapat mendengar penjelasan demi penjelasan yang diutarakan Eunhee dengan nada yang menggebu-gebu seperti tadi.

Seperti ada sesuatu yang menancap di dalam dadanya. Terasa sakit. Pedih. Namun ia tetap berusaha untuk terlihat baik-baik saja, meskipun ia merasa kaget bercampur tidak percaya. Dia memejamkan matanya sembari mengatur napasnya yang terasa sesak bukan main. Hingga ia menyadari satu hal. Penyesalan. Ya, ia menyesal mengikuti kedua gadis itu kemari hanya untuk membunuh rasa penasaran yang semakin meningkat dalam dirinya. Tetapi, ia pun bersyukur karena hal ini. ia bisa mengetahui segalanya. Dan perlahan-lahan, ia juga bisa menghapus rasa suka yang mungkin sebentar lagi akan ia utarakan untuk gadis manis itu.

Kai yang sedari tadi berdiri di balik semak-semak setinggi dagunya mulai melangkah mundur. Meninggalkan sepasang sahabat yang kini mulai membicarakan hal-hal lain yang mungkin terdengar menarik. Dengan hati yang diliputi rasa sakit, ia mulai membalikkan badan, lalu melenggang menjauhi area taman sepi itu. langkahnya begitu lambat, seolah tidak ada tenaga lagi untuk melangkah.

Benar-benar sulit untuk dipercaya.

***

“Sebenarnya, apa yang ingin kaukatakan padaku?”

Chen menatap datar Sehun di depannya. Kali ini suasana kelas begitu sepi. Tidak ada siapapun di kelas terkecuali mereka berdua yang saat ini sama-sama berdiri menghadap jendela besar. Sehun belum berniat untuk menjawab. Matanya masih sibuk memerhatikan lingkungan di luar kelasnya sambil sesekali menghela napas pendek.

Namun beberapa saat kemudian, Sehun menghadapkan tubuhnya pada Chen seraya memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya. Ditatapnya Chen dengan mata memicing.

“Rahasia besar.” Katanya, terdengar dingin dan berhasil membekukan persendian Chen.

Rahasia?

Rahasia apa?

Apakah rahasia itu juga berhubungan dengan kekasihnya?

“Rahasia apa yang akan kau katakan?” tanya Chen dengan nada yang dibuat sebiasa mungkin. Berusaha menyembunyikan seraut wajah penuh penasarannya.

Well, kupikir…rahasia ini akan begitu melukai hatimu.” Sehun berjalan mendekat ke arah Chen, dan berhenti tepat ketika ujung sepatunya bersentuhan dengan sepatu lelaki itu.

“Aku tidak suka berbasa-basi. Katakan sekarang juga!” bentak Chen. Amarah lelaki itu kini sudah memuncak. Wajahnya mulai memerah menahan emosi. Sementara Sehun hanya merespon ucapan itu dengan satu tawa kecil yang terbentuk di bibirnya.

Brak!

Pintu kelas dibuka dengan hentakan yang keras, membuat pintu itu membentur dinding di belakangnya dengan suara nyaring. Sehun dan Chen refleks menolehkan kepalanya ke arah pintu kelas, di mana terdapat sosok Kai dengan seraut wajah penuh amarah yang menghiasi, yang tak jauh berbeda dengan Chen.

“Kai?” Sehun berujar, ia hendak baru melangkah mendekati Kai, jika saja lelaki berkulit tan itu tidak berlari ke arahnya lalu mencengkram kerah seragamnya kuat-kuat.

Kai mendorong tubuh Sehun ke arah jendela dengan cepat, membuat Sehun membentur jendela itu dengan ekspresi kaget.

“Apa yang terjadi padamu?” tanya Sehun sambil berusaha melepas cengkraman Kai.

Baik Sehun maupun Chen, keduanya sungguh tidak menduga jika peristiwa semacam ini akan terjadi. Terlebih lagi Chen, ia sama sekali tidak mengenal siapa Kai yang disebutkan Sehun. karena hari ini adalah hari di mana Chen menginjakkan lagi kakinya di sekolah setelah kemarin malam ia baru pulang dari Jeju. Chen terus menatap wajah Kai penuh menyelidik, mencaritahu apa yang terjadi pada sosok lelaki itu yang sampai saat ini menatap tajam Sehun.

“Kau… kenapa kau melakukan hal ini padaku, eoh?” kata Kai dengan sebuah cairan bening yang sedikit menganak di matanya.

“Apa maksudmu?” emosi Sehun terpancing karena perkataan tak mengenakkan dari sahabatnya. Dengan sekali hentakan, Sehun mendorong Kai hingga membuat lelaki itu mundur beberapa langkah. Diikuti Sehun yang berjalan mendekat ke arah Kai.

“Mengapa…mengapa aku harus menyukai seseorang yang selalu berhubungan denganmu?” kata Kai dengan napas tak beraturan.

Sehun terlihat diam dan membeku saat mendengar jawaban Kai. matanya berkedut begitu ia mendapati tatapan Kai yang begitu sendu ke arahnya. Tatapan itu…Sehun tak pernah melihat tatapan itu sebelumnya. Kai tidak pernah menunjukkan raut kesedihan itu, dan juga…Kai tidak pernah berkata dengan nada rendah dan sarat akan kesedihan. Antara mengerti dan tidak, namun perkataan Kai seolah mampu menumbuhkan perasaan bersalah dalam diri Sehun.

“Hyerim..dulu kau juga berhubungan dengannya, kan? Lalu sekarang, Park Eunhee—tidak, kau sudah menikah dengannya, bukan begitu?”

Dunia seakan jatuh menimpa seluruh tubuhnya pada saat Chen mendengar kalimat terakhir yang terucap dari bibir Kai. dan ia merasa ribuan jarum menusuk jantung dan ulu hatinya ketika kalimat itu kini mulai mengiang dalam pikirannya.

Park Eunhee dan Oh Sehun…telah menikah?

Karena hal ini menyangkut nama kekasihnya, Chen lantas mendekat ke arah Sehun dan mencengkram kuat seragam lelaki itu.

“Aku tidak mengerti ini, jadi kuharap kau dapat menjelaskannya!” kata Chen penuh penekanan, sorot tajamnya pun terarah tepat di kedua mata Sehun.

Sungguh, Sehun tak pernah mengharapkan kejadian ini terjadi. Dari mana Kai tahu jika ia dan Eunhee sudah menikah? Apakah Eunhee sendiri yang mengatakannya? Tidak, tidak mungkin. Sehun tahu, Eunhee tak akan melakukannya. Karena mereka berdua masih berstatus sebagai pelajar, maka Eunhee akan menutup rapat-rapat rahasia besar itu.

Lalu, siapa yang memberitahu Kai mengenai pernikahannya dengan Eunhee?

Saat suasana panas masih menyelimuti kelas itu, Eunhee dan Nayoung melangkah memasuki kelas dengan senyuman manis yang menghiasi. Namun senyuman itu hilang seketika begitu mereka berdua mendapati Chen yang masih mencengkram kerah Sehun dan mendorong lelaki itu menghantam papan tulis di belakangnya.

“Katakan padaku, apa yang sebenarnya terjadi?” desak Chen diiringi suaranya yang begitu keras karena emosi yang semakin melingkupi hatinya.

Oppa!” Chen menoleh begitu ia mendengar suara Eunhee memanggilnya, tetapi ia belum berniat untuk menjauhkan tangannya dari Sehun.

Eunhee segera menghampiri Chen dan juga Sehun, dia mulai berusaha melepaskan tangan Chen di kerah seragam Sehun yang begitu kuat. “Oppa, lepaskan!” katanya dengan nada parau.

Mendengar ucapan kekasihnya, Chen melepaskan cengkramannya secara kasar. Lalu beralih meremas kedua bahu Eunhee. sepasang matanya mulai terhiasi oleh bulir bening yang menggantung. Menatap lurus mata Eunhee yang kini juga tengah menahan air matanya.

“Apa benar…” Chen berkedip, menumpahkan bulir bening di matanya yang langsung terjatuh ke atas lantai. “Apa benar, kau dan Sehun telah menikah?”

Eunhee terdiam, membiarkan Chen semakin meremas bahunya. Gadis itupun akhirnya tertunduk. Pertanyaan itu memang sulit untuk dia jawab. Terlebih lagi jika pertanyaan itu bersumber dari kekasihnya.

Oppa,” Eunhee mendongak menatap Chen dengan air mata yang mengalir. “Maafkan aku.” Hanya dua kata itu yang mampu Eunhee utarakan.

Keheningan mulai melingkupi. Dan keheningan itu pecah pada saat bel masuk berdering, mengundang para siswa untuk kembali memasuki kelas dan memulai pelajaran kedua.

Saat memasuki kelas, mereka disuguhkan dengan pemandangan yang sukar diartikan. Mereka menatap Sehun, Eunhee, Chen, Kai dan Nayoung bergantian dengan pikiran yang dipenuhi pertanyaan. Apa yang sebenarnya terjadi?

Begitupun Minji, tetapi ia hanya menatap pada Sehun dan Eunhee. apa mereka bertengkar lagi seperti biasanya? Ah, entahlah. Ia sudah tidak mau memikirkan masalah itu lagi. Bukan apa-apa, hanya saja ia tak ingin Sehun semakin menjauhinya dan semakin tak ingin mengenalnya. Seperti ini saja sudah cukup baginya.

Chen melemahkan cengkramannya. Tangannya terkulai lemas di sisi tubuh, kepalanya menunduk sambil memejamkan matanya. Kejadian ini begitu tiba-tiba dan sulit untuk ia terima. Maka, dengan hati yang begitu pedih, ia melangkah keluar kelas. Tak menghiraukan seruan Eunhee padanya dengan suara yang cukup parau.

“Hey, apa kalian sedang bermain drama?” kata salah seorang siswa di sana. karena mungkin ia sudah bosan melihat Sehun dan Eunhee yang selalu bertengkar. Padahal ia sudah merasa cukup tenang saat melihat mereka berdua yang kini mulai menunjukkan kedekatannya.

“Bukan urusanmu.” Sehun menjawab. Dan siswa itu menggelengkan kepalanya tanda tak percaya, setelahnya ia duduk di kursinya.

Kai merasa bosan berada di kelas, ia mulai melangkah keluar dengan langkah lebar. Sehun ingin mencegah sahabatnya pergi, namun lidahnya terasa kelu. Sementara Nayoung, gadis itu turut menyusul Kai yang terlihat semakin menjauh. Ia menyerukan Kai berulangkali agar lelaki itu mendengarnya.

Kini, tersisa Sehun dan Eunhee di sana. mereka berdua belum mengucapkan sepatah katapun sedari tadi. Eunhee menelan samar ludahnya, lalu menghela napas panjang. Ia merasa jika peristiwa ini adalah mimpi buruknya. Semuanya begitu membebani, hingga membuat Eunhee merasa tak sanggup untuk berdiri dengan tegak.

Eunhee merasa tubuhnya menegang seketika, begitu ia mendapati satu sentuhan lembut di bahunya. Eunhee menoleh dan menatap seraut wajah teduh milik Sehun yang menatapnya hangat.

“Apa kau masih merasa nyaman memakai sweater ini?” tanya Sehun lembut.

“Y-ya? ya….” balasnya dengan nada samar.

“Kau bisa membukanya jika kau merasa gerah.” Titah Sehun sambil mengacak kecil surai istrinya, membuat beberapa siswa yang berada di sana bersorak karena merasa iri melihat pasangan itu memamerkan kemesraannya di depan mereka.

Eunhee menatap mereka semua bergantian dengan tatapan terkejut, lalu kembali menatap Sehun. “Kau gila? Bagaimana dengan…”

“Biarkan mereka tahu semuanya.” Bisik Sehun yang langsung direspon dengan kelopak mata Eunhee yang melebar.

“Kau benar-benar gila—”

“……….”

“……….”

“……….”

“……….”

Tidak ada yang berbicara satupun. Mereka terlalu fokus pada apa yang mereka lihat di depannya.

Sehun mencium Eunhee.

Hal itu membuat mereka semua menganga karena tak percaya. Apa semudah itukah Sehun mencium Eunhee di depan mereka?

Di sisi lain, Eunhee diam tak berkutik. Kedua matanya membulat karena kaget. Meskipun hanya menempel satu sama lain, namun berhasil membuat Eunhee tak dapat berbuat apa-apa.

Sehun benar-benar gila!

Lelaki itu akhirnya mengakhiri ciuman manisnya. Wajahnya masih berada dekat dengan istrinya. Ia tersenyum kecil lalu berkata, “Percayalah, semuanya akan baik-baik saja.”

Pipi gadis itu mulai memunculkan semburat merah yang tak dapat disembunyikan. Eunhee lantas mengalihkan tatapannya ke arah para siswa yang—mungkin—belum mengedipkan matanya.

Tiba-tiba, salah seorang siswa yang duduk di belakang, bersuara. “Apa kalian tidak malu berciuman di depan kami?” katanya, bukan sebuah ejekan atau amarah. Melainkan pertanyaan biasa diiringi senyuman jahil.

Sehun lalu merangkul bahu Eunhee, mendekatkan sisi tubuh mereka berdua sambil berkata. “Tidak, kami merasa tidak malu. Bahkan, ciuman itu kurasa belum cukup.”

“Ya! Oh Sehun!” Eunhee menepis lengan Sehun, lalu menatap tak suka.

“Kenapa? Bukankah itu benar?” tanyanya sambil menaikkan satu alis.

“Kau gila!” Eunhee berujar, terdengar menusuk namun Sehun tak menghiraukannya.

“Kau bodoh!” dia terus bersuara, dan Sehun tetap terdiam.

“Kau aneh!”

“Kau menyebalkan!”

“Ya, aku gila.” Sehun lantas menyela ucapan Eunhee. dia menatap dalam manik mata istrinya. Sanggup membekukan seluruh pergerakan gadis itu.

“Aku bodoh.”

“Aku aneh.”

“Dan aku menyebalkan karenamu. Aku mencintaimu. Aku mencintaimu.”

Semuanya benar-benar dalam keadaan hening. Bahkan sang guru pengajar yang baru saja berdiri tepat di ambang pintu kelas dibuat heran karenanya. Ia tak mengerti mengenai apa yang terjadi di kelas B ini.

Tidak ada yang menghiraukan keberadaan sang guru. Mereka hanya memfokuskan mata ke arah Sehun dan Eunhee.

Kali ini, Sehun memerhatikan seluruh teman sekelasnya, termasuk Minji. Dia menghirup napas dalam-dalam lalu berkata.

“Kalian tahu? Aku, aku sangat mencintai gadis ini.” dia menunjukkan jari telunjuknya ke arah Eunhee, dan melanjutkan. “Aku sangat mencintai Oh Eunhee.”

Tunggu dulu,

Oh Eunhee?

Apa Eunhee—dan yang lainnyatidak salah dengar?

Oh Eunhee?

Memang terdengar sangat janggal ketika Sehun menyebutkan marga Oh di depan nama Eunhee yang seharusnya bermarga Park. Mereka mulai saling bertatapan satu sama lain dengan teman satu bangkunya. Perasaan heran sekaligus bingung begitu terpatri di wajah mereka.

“Aku sangat mencintai Oh Eunhee. dan aku tak akan melepaskannya.”

Di balik seluruh rasa sakit yang ia terima, ia tersenyum haru. Eunhee menitikkan cairan bening dari mata kanannya. Itu air mata kebahagiaan. Dan itu artinya, Eunhee merasa begitu bahagia saat ia mendengar penuturan Sehun yang begitu tulus dan jujur.

“Aku mencintaimu, apakah kau juga mencintaiku?” Sehun menggenggam lembut kedua tangan Eunhee. menatapnya diiringi senyum kecil yang begitu menawan.

Sungguh, adegan romantis itu membuat sang guru berparas cantik itu merasa terharu dan senang. Sebelumnya ia tidak pernah melihat ada seorang remaja yang mengatakan perasaannya secara tulus seperti itu. dan berhubung ia adalah guru etika, ia dapat membedakan mana perkataan yang benar-benar tulus maupun tidak.

“Aku mencintaimu, Oh Sehun. sangat mencintaimu.”

Hingga pada akhirnya, Sehun mengembuskan napas lega. Diusapnya cairan bening itu dengan perlahan, ia lalu mendaratkan sebuah ciuman lembut di kening gadis itu. mereka berdua mulai memejamkan mata untuk meresapi perasaan penuh kebahagiaan satu sama lain.

Baik sang guru pengajar maupun para siswa, mereka tidak berniat untuk mengganggu Sehun dan Eunhee. karena di satu sisi, mereka juga ikut merasakan perasaan haru bercampur kebahagiaan yang mereka berdua rasakan saat ini.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

A/N : Mungkin satu atau dua chapter lagi ff ini bakalan tamat. Maaf banget buat readers ff ini yang harus menunggu lama update-annya hingga tiga bulan (lama banget, ya?) ini. dan maaf banget kalo jalan ceritanya semakin ga jelas 😦

Oya, berhubung baru sekarang aku lanjutin lagi ff ini, boleh ga aku minta kritik dan sarannya? Please, aku butuh banget biar aku tau letak kesalahan dan yang harus diperbaiki nantinya. Aku tunggu yaa… dan aku ga nerima komentar next atau komentar pendek lainnya. Berasa ga dihargain banget kalo gitu. Buat apa coba aku berusaha lanjutin nih ff kalo komennya Cuma secuil? :’D

Iklan

378 comments

  1. Dan akhirnya semuanya tahu, semoga chen ketemu jodoh nya, kai sama nayoung aja, minji udah nggak berulah. Bagus kak bnyakin momen sehun eunhe, terus kai dijadiin sma nayoung aja kak. Hehe

  2. gk tau lah nasib si chen machine sama si kkamjong dance machine.
    makin kesini makin so sweeet aja si Ohs. bikin iri para jomblors aja.
    aku senyum2 gk jelas. authornim kau bikin aku ngeplai aja hahaha…
    Ganbatte!

  3. “……….” -tanda keramat-. Kaget, bener-bener kaget. Aku kira Sehun bakal narik syal nya Eun-Hee, ternyata… 😲.
    Aduh, itu gurunya terpaku, ya 😏😂. Tapi makasih banyak ya, Bu 😚, udah izinin mereka sebentar… *haha, siapa Aku 😆.
    Uuuuh, ‘Oh Eunhee’ 😍😍😍 ada kesan menghangatkan, bacanyaa… Keren, Kak Isaan ini nge feel bgt untuk kesekian-sekian kalinyaaa 👍👍👍.
    Syukur bgt, Kai belum punya rasa seutuhnya sama Eun-Hee *maybe 😏😄… Pengen lanjut liat Nayoung nenangin Kai 😊. Ibunya Eun-Hee comel, ya 😒. Hehe, gpp sih, biar cepet kebongkar dan ngehasilin moment tadi -cukup tau- 😂. Chen, eottohke? 😞
    Minjiii… mana reaksi mu 😏😏😂😂. Aku neeext ^^…

  4. Cieee yang udah go publik(?) kkkk enak bgt tuh temen sekelas ama gurunya hunhee couple bisa nnton drama gratis,, aw aw aw tapi eh tapi dibalik kebahagiaan ini ada yg lagi sedih -kai & chen- ahh moga ajh mereka berdua -kai chen- bisa menerima kenyataan aminn

    btw kak maap yh baru komen, aku baru ada kuota soalnya kkk jgn anggap aku siders yahh^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s