Love and Truth — Sequel of “Autumn’s Hurt”


loveandtruth

Created by ShanShoo || Luhan, Tao, and OC || Oneshoot || Sad, Lil-romance || Teenager

Story Before : Autumn’s Hurt

“Yes, I do. I love you. But is not that I want you to be mine.”

.

.

.

.

.

“Dia belum keluar dari kamarnya sejak kemarin.”

Suara lembut milik wanita paruh baya itu mulai terdengar setelah jarak beberapa detik keheningan melingkupi. Nadanya terdengar penuh kekhawatiran, juga seraut wajahnya menunjukkan bahwa wanita itu benar-benar mencemaskan seseorang yang baru saja ia bicarakan.

“Sebenarnya apa yang terjadi?” kali ini giliran suara seorang pemuda tampan berambut hitam yang terdengar. Wanita itu menoleh dan menatap wajah sang pemuda yang turut menunjukkan ekspresi khawatir.

“Aku tidak tahu. Tetapi.. aku pernah mendengar jika Dana menggumamkan nama kekasihnya beberapa kali.” Wanita itu kembali menjawab. Dia mulai menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi ruang tengah yang menjadi tempat untuknya dan pemuda itu berbicara empat mata.

“Kekasihnya? Bukankah itu… Tao?” tanya sang pemuda kemudian.

Wanita itu lantas mengangguk membenarkan ucapannya. “Ya, Huang Zi Tao.”

Sebenarnya, ia sudah tahu apa yang terjadi pada Dana akhir-akhir ini tanpa harus menanyakan terlebih dulu pada ibunya. Semuanya sudah terlihat jelas dari bagaimana Dana menyikapi kekonyolannya saat di kampus.

Dana benar-benar berubah. Dana berubah menjadi sosok gadis yang menyedihkan dan pemurung.

“Luhan-ssi..”

Seketika pemuda itu menyentakkan kepalanya karena terkejut begitu mendengar nyonya Song memanggil. Dia lantas menatapnya diiringi senyuman kecil, “Ya, Eomeoni?” tanyanya.

“Bisakah kau membuatnya kembali menjadi Danaku yang dulu? Aku sangat merindukannya.”

***

Satu pijakan terakhir kedua kakinya adalah tepat di depan sebuah pintu kamar yang tertutup rapat. Luhan tertunduk menatap celah kecil yang ada di bawah pintu itu. sementara kedua tangannya berada di sisi tubuh, seolah tak ada tenaga untuk menggerakkannya. Tak lama setelahnya, Luhan mendongak untuk menatap pintu itu lamat-lamat. Ia menghela napas pendek, mencoba mengangkat satu tangannya untuk mengetuk pintu itu. namun ia tetap merasa tak mempunyai tenaga untuk melakukannya.

Luhan mulai mengambil napas dalam dan mengeluarkannya perlahan. Matanya terpejam sejenak sebelum akhirnya ia kembali membuka matanya, dan kembali memfokuskan pandangan pada pintu. Dia kini mengangkat kepalan tangannya, lalu mengetuk pintu dua kali sambil berujar,

“Dana-ya, kau di dalam?” suaranya terdengar begitu lembut. Membuat siapapun yang mendengarnya akan menaruh rasa nyaman setiap kali berada di dekat Luhan.

Tak ada sahutan. Luhan terhenyak selama beberapa saat sebelum ia kembali berbicara,

“Dana-ya, aku tahu kau ada di sana. bolehkah aku masuk?”

Masih tak ada sahutan apapun. Sepertinya Dana sedang istirahat, pikirnya. Namun Luhan mulai berpendapat jika Dana memang sedang tak ingin diganggu.

“Baiklah jika kau tak membolehkanku—”

“Masuklah.” Luhan sedikit terperanjat begitu pintu kamar gadis itu dibuka oleh pemiliknya. Sehingga kini terlihat sosok Dana yang begitu memprihatinkan dengan kondisi tubuhnya yang semakin kurus dan juga pucat.

Dana menyelipkan helaian rambut bagian depannya ke belakang telinga, lalu menatap Luhan perlahan. “Kau tak akan masuk?” tanyanya dengan suara cukup parau.

“Oh? Ya.” akhirnya Luhan memasuki kamar Dana yang cukup luas dengan kondisinya yang sedikit berantakan. Pemuda itu melangkah perlahan sambil memerhatikan setiap sudut kamar gadis itu yang tak berubah sedikitpun. Sementara Dana hanya berjalan mengekor di belakang pemuda itu dengan kedua tangan yang saling bertautan.

Lewat sudut matanya, Luhan dapat melihat jika Dana mendudukkan dirinya di tepian tempat tidur. Pemuda itu pun duduk di samping Dana yang saat ini masih menundukkan kepalanya.

“Kau terlihat sangat berbeda,” Luhan memulai. Kedua tangannya bertopang di tepian tempat tidur, sedangkan kedua matanya menatap lurus-lurus ke arah dinding kamar Dana.

Dana melirikkan matanya ke arah Luhan, menghela napas pendek lalu berujar. “Tak ada yang berbeda dariku.”

Luhan tertawa kecil, “Lalu apa maksudmu terus mengurung diri di kamar? Dana yang kukenal bukanlah seperti Dana yang ada di sampingku ini.” katanya sambil menoleh ke arah gadis itu.

Ucapan itu membuat Dana tertawa tanpa minat, “Aku tetaplah aku. Aku tidak berubah…” seketika, Dana menghentikan perkataannya. Gadis itu mulai menahan bulir bening yang akan muncul ke permukaan. Kedua belah bibirnya saling menekan, dan ia pun kembali menunduk dalam.

“Dana-ya,” Luhan menyentuhkan tangannya di pundak gadis itu yang terlihat bergetar. Ya, Luhan tahu, Dana sedang mencoba menahan tangisannya.

“Aku tahu semuanya, aku tahu permasalahan yang sedang kau alami. Maka dari itu, tak apa jika kau menangis di hadapanku. Karena aku ada di sini untuk menenangkanmu.” Perlahan namun pasti, Luhan menarik lembut tubuh Dana ke dalam pelukan hangatnya. Tak ada perlawanan keras dari gadis itu. dan itu artinya, Dana menerima sentuhan dan pelukan hangat dari Luhan, teman dekatnya.

Hingga akhirnya, tangisan itu pecah dan menguar ke seluruh penjuru ruangan. Luhan membiarkan Dana menangis dan membasahi baju di bagian depannya, dan membiarkan Dana mencengkram kuat sisi baju yang ia kenakan. Tak apa, asalkan itu semua bisa membuat Dana kembali tenang dan terlihat lebih baik dari sebelumnya.

Luhan mengusap lembut puncak kepala gadis itu, penuh kasih sayang. Kedua sudut bibirnya tertarik ke atas untuk melengkungkan senyum kecil. Ini adalah pertama kalinya Dana memeluknya seerat ini, dan menangis dalam pelukannya. Karena biasanya, ia hanya akan menerima perlakuan kasar dari gadis itu berupa pukulan di lengan, kepala, atau bahkan Dana berani memukul kening Luhan ketika dirasa lelucon pemuda itu tak mengundang tawa baginya.

Dana benar-benar berbeda dari sebelumnya.

“Apa kau tahu, betapa sakitnya hatiku ini?” Dana berujar, suaranya kian terdengar parau, namun Luhan memakluminya.

“Ya, aku tahu.”

“Kau tahu, seberapa keras aku mencoba untuk melupakan perasaanku ini untuknya?”

Luhan menghela napas, “Ya, aku tahu.”

Dana mulai terisak pelan, “Dan.. apa kau tahu, jika aku selalu kesulitan untuk mencoba melupakan Tao?” ujarnya, dia lantas menenggelamkan wajahnya di dada bidang Luhan.

Perkataan itu membuat Luhan tersenyum lembut, ia menjauhkan tubuh Dana darinya, lalu menyentuh kedua bahu gadis itu.

“Jangan pernah kau mencoba untuk melupakannya,” Kata Luhan, menatap lekat manik mata gadis itu yang dihiasi bulir bening.

“karena seberapa keras dan kuatnya hatimu untuk menepis seluruh kenangan yang kaumiliki bersamanya, perasaan itu akan tetap ada, dan selalu tertancap kuat di sana.” Luhan masih mempertahankan senyumannya di depan Dana. Ia hanya berharap semoga Dana bisa mengerti apa yang ia katakan.

“Luhan-ah..” gumam Dana sambil menurunkan pandangannya ke arah kedua tangannya yang saling meremas.

Eng.. kudengar, Tao akan melaksanakan hari pertunangannya malam ini.” Luhan mengusap tengkuknya ragu, “Kau mau datang?” tanyanya tanpa menatap Dana.

Dana mengangguk mengiyakan, “Aku akan datang. Tapi..”

“Kau membutuhkan teman.” Luhan menyela. Ia mengatakan sebuah pernyataan, bukan pertanyaan.

“U-umm.. kau benar. Aku membutuhkan teman. Aku tak bisa pergi ke sana sendirian.” Dana mencoba untuk tersenyum meskipun akan terlihat aneh di depan Luhan.

“Kuharap kau tak melupakan aku di sini.” Katanya sambil melipat kedua tangan di depan dada.

Huh?

“Aku akan menemanimu.”

***

Sebuah pelukan hangat mendarat di tubuhnya, pada detik ia berdiri tepat di hadapan sang ibu. Nyonya Song memeluk Dana begitu erat, di saat gadis berperawakan kurus itu mulai melangkahkan kakinya keluar dari kamar, dan berjalan menghampirinya.

“Aku sangat merindukanmu, Sayang..” bisik nyonya Song diiringi tangisan kebahagiaan. Ia tak henti mengusap lembut surai hitam milik putrinya yang turut membalas pelukannya.

“Dan aku lebih merindukanmu, Eomma.” Dana turut berbisik, ia pun tak kuasa menahan tangisannya.

“Maafkan aku karena telah membuatmu khawatir. Maafkan aku..” ia melanjutkan, dan semakin mempererat pelukannya pada sang ibu.

“Tidak, Sayang.. kau tidak bersalah.. tapi kuharap setelah kau bertemu denganku sekarang, kau tidak kembali masuk ke dalam kamar dan mengurung dirimu di sana.” ujar nyonya Song tanpa menghentikan tangannya untuk mengusap surai puterinya.

“Terima kasih karena kau telah membujuk Dana, Luhan.” Kata nyonya Song sambil tersenyum penuh ketulusan.

Luhan yang berdiri tak jauh dari mereka berduapun menganggukkan kepalanya, mengiyakan ucapan wanita itu. Ia ikut merasakan haru di sana. ia juga merasa lega, akhirnya ia berhasil membujuk Dana untuk keluar dari kamarnya.

“Aku berjanji akan selalu melindungimu jika kau mau keluar dari kamar.”

“Benarkah? Aku takut kau berbohong!”

“Kau tak mempercayaiku? Hei, aku adalah Lu Han. Dan aku adalah temanmu. Aku tak akan mengingkari janjiku ataupun membohongimu.”

“Baiklah, aku percaya padamu. Jadi, pegang janjimu itu, Lu.”

“Ya, tentu saja. Aku akan memegang janjiku,”

“untuk selalu melindungimu.”

 

***

Malam harinya, Dana telah bersiap diri untuk menghadiri acara pertunangan Tao, mantan kekasihnya. Gadis itu berdiri di depan cermin rias berukuran besar sambil memutar tubuhnya ke kanan dan ke kiri, memastikan jika penampilannya malam ini tidak terlihat kacau seperti tadi. Setidaknya setelah Dana merasakan sentuhan air dingin dan juga wangi aroma sabun di tubuhnya itu, ia bisa merasakan perasaan tenang dalam dirinya.

Raut wajahnya masih terlihat murung, namun tak semurung di saat Luhan belum datang padanya. Entahlah, ia merasa jika sakit itu masih menguasai relung hatinya. Hingga pada saat Dana masih terlarut dalam lamunan, suara ketukan pintu membuyarkan segalanya.

“Luhan sudah menunggumu di depan, Sayang.” Itu suara nyonya Song. Mendengar hal itu, Dana mengangguk lalu meraih tas tangan yang ia letakkan di atas meja rias. Ia pun melangkahkan kakinya keluar dari kamar sambil membenarkan letak gaun biru sebatas lututnya yang terlihat elegan.

Dana tiba di lantai dasar bersama dengan ibunya. Di sana, ia melihat Luhan yang terlihat sangat menawan malam ini dengan pakaian resminya. Aroma maskulin pun tercium sangat kuat di indera penciumannya. Membuat Dana terdiam di tempat selama beberapa saat.

“Kau yakin kau akan baik-baik saja?” wanita itu menyentuh tangan Dana dan menggenggamnya erat. Dana menoleh ke samping dan menyentuh tangan ibunya.

“Aku baik-baik saja,” katanya, kemudian beralih menatap Luhan. “Ya, aku akan baik-baik saja selama ada dia di sampingku.”

***

Suasana meriah mulai terdengar begitu Luhan menepikan mobil sedan hitamnya di area parkir sebuah gedung mewah yang terletak di pusat kota Seoul. Mereka berdua lalu keluar dari mobil secara bersamaan, dan Luhan segera melangkah menghampiri Dana dan menggenggam lembut tangannya.

Dana tersentak saat ia kembali merasakan betapa lembutnya sentuhan Luhan. Matanya memerhatikan pemuda itu sejenak sambil tersenyum kecil.

“Ayo. Aku yakin, kau pasti bisa melewatinya.” Ujar Luhan, menyemangati Dana yang terlihat gusar malam ini.

“Umm, aku pasti bisa!” Dana membalas, dan kali ini senyumannya mulai mengembang.

Ada saat di mana Luhan mulai merasakan perasaan yang telah lama ia pendam dan ia kubur dalam-dalam. Sebuah perasaan yang telah seenaknya kembali muncul ke permukaan hingga membuat Luhan mati-matian menahan degupan jantungnya yang tak menentu. Luhan membuang napas panjang, kemudian menarik pelan tangan Dana untuk memasuki gedung acara. Berharap Luhan cepat-cepat melupakan perasaan itu lagi untuknya.

Untuk seseorang yang saat ini tengah bersamanya. Di sampingnya. Di dekatnya.

Di dalam gedung mewah itu, ada banyak tamu undangan dengan pakaian elegan yang dikenakan. Sebagian di antara mereka menghabiskan waktu di dalam gedung itu untuk meminum minuman yang disediakan, atau untuk berbincang-bincang sekedar untuk menghabiskan waktu malam di acara pertunangan ini.

Mereka berdua berjalan perlahan sambil menatap setiap sudut gedung dengan dekorasi yang sungguh indah. dan salah satu di antara mereka tidak ada yang menyadari, jika sedari tadi mereka terus berpegangan tangan. Mengabaikan bagaimana sedikitnya tatapan para pengunjung yang terarah pada mereka dengan tatapan yang sukar diartikan.

“Mereka di sana!” kata Luhan, memfokuskan pandangannya ke arah Tao dan tunangannya yang saat ini tengah berada di antara kerumunan para tamu, dan berpelukan hangat dengan beberapa tamu undangan yang memberi mereka ucapan selamat.

Dana lekas mengikuti arah pandang Luhan, tatapan gadis itupun melebar begitu ia mendapati Tao yang saat ini tersenyum lebar penuh kebahagiaan. jantungnya berdetak tak karuan, sementara tangannya semakin menggenggam erat tangan Luhan secara tak sadar.

“Luhan-ah..” ujar Dana pelan, namun Luhan masih bisa mendengarnya.

“Ayo, kita hampiri mereka.” Kata Luhan. Seolah mengabaikan bagaimana ekspresi yang tercetak jelas di wajah Dana.

Tanpa memberikan jawaban, Luhan menarik tangan Dana, membawa gadis itu untuk menghampiri Tao dan Sora yang masih diliputi kebahagiaan.

Hey!” sapa Luhan tiba-tiba. Tao yang tadinya berniat untuk mengajak Sora berbicara, terpaksa harus mengalihkan tatapannya pada seseorang yang baru saja menyapanya.

“Oh, Luhan?” Tao menaikkan jari telunjuk kanannya pada Luhan, menatapnya dengan mulut sedikit menganga karena tak percaya. Dana yang bersembunyi di belakang punggung Luhan hanya bisa menggigiti bibir bawahnya karena resah.

Tao dan Luhan kini berpelukan sesaat, keduanya saling menepuk bahu begitu mereka menyatukan tubuh untuk memeluk satu sama lain. Senyuman mengembang pun seolah tak luput dari bibir mereka. Setelah itu, Luhan memberikan ucapan selamat pada Sora seraya mengusap lengan gadis itu.

“Kapan kau datang?” tanya Tao kemudian.

“Aku baru saja datang.” Jawab Luhan.

“Kau datang sendirian?” tanya Sora sambil menatap Luhan dengan senyuman manis yang terukir di bibirnya.

“Aku?” Luhan menunjuk dirinya sendiri. “Tidak, aku datang bersama dengan seseorang.” Katanya kemudian.

“Oh, ya? siapa dia? Apakah dia kekasihmu?” Tao menaikkan kedua alisnya karena penasaran. Manik matanya menatap Luhan, berbinar.

“Bukan, dia bukan kekasihku. Hanya saja aku menyukainya sejak lama. Jauh sebelum ia memiliki hubungan dengan seseorang.”

Dana terhenyak mendengar penuturan Luhan yang menurutnya begitu serius, tidak ada unsur candaan di dalamnya. Gadis itu lekas menatap punggung Luhan di depannya sambil mengerjap lambat. Apakah.. gadis yang dimaksud Luhan adalah dirinya?

Hey, kenapa tak kau coba untuk mendekati gadis itu? kupikir, gadis itu tak akan menolak pesona yang kaumiliki.” Ujar Tao sambil menepuk lengan Luhan.

Selang beberapa saat, seorang pelayan muda datang menghampiri Luhan, dan menyuguhinya sebuah minuman anggur untuknya. Luhan lekas mengambil gelas minuman itu dari baki, dan mengucapkan terima kasih pada pelayan itu sebelum menjawab.

“Kau benar. Namun aku tahu, dia bukanlah tipe gadis seperti itu.” Luhan meneguk satu kali minumannya, lalu menghela napas. “Sekalipun aku mencoba untuk terus mendekatinya, aku yakin, hatinya tidak akan mudah berpaling pada siapapun. Karena hatinya telah dimiliki oleh seseorang.”

Tao dan Sora saling terdiam. mereka hanya menatap Luhan yang menampilkan seraut wajah sendu, namun masih mempertahankan senyuman kecilnya. Pemuda itu kembali meneguk minumannya. “Ah, apa kalian ingin bertemu dengannya?” ujarnya kemudian.

“Oh, tentu saja.” Jawab Tao, menatap Sora sejenak dan kembali menatap Luhan. “Di mana dia?”

“Dia di sini.” Luhan menarik tangan Dana di belakangnya yang menunduk dalam. Gadis itu menurut, dan kini ia berdiri tepat di samping Luhan yang menatapnya lekat.

Perlahan, Dana mendongakkan kepalanya untuk menatap Tao dan juga Sora yang terkejut saat melihat gadis itu. terlebih lagi Tao. Ia sungguh tak percaya jika gadis yang Luhan sukai selama ini adalah Song Dana, mantan kekasihnya.

“Dana-ya..” Tao berujar, ia mengerjapkan matanya cepat begitu ia menyerukan nama gadis itu.

“Ah, selamat atas pertunangan kalian! Semoga kalian selalu tetap bersama sampai kapan pun.” Dana mengulurkan tangan kanannya untuk memberikan selamat pada mereka berdua. Diiringi senyuman lebar. Ia berjabatan tangan dengan Tao, dan setelah itu dengan Sora yang masih memasang wajah tak percaya.

“Mengenai seorang gadis yang kuceritakan barusan.” Luhan menyela pembicaraan Dana, Tao, dan Sora. Ketiganya menatap pada Luhan, namun Dana menatapnya penuh ragu.

“Aku berbohong. Aku tak pernah menaruh perasaan pada gadis menyebalkan seperti Dana.” Pemuda itu lantas mengacak kecil rambut Dana sambil tertawa ringan. Membuat Dana memekik tertahan karena perbuatan Luhan yang sungguh menyebalkan.

“Ya! hentikan!” ujar Dana sambil berusaha menjauhkan tangan Luhan dari kepalanya. Setelahnya ia memukul keras bahu Luhan sambil mendelik kesal.

“Sudah kubilang, jangan pernah memercayai ucapan Luhan. Dia selalu berbohong!” ujar Dana, seolah mengingatkan jika teman satu kampusnya ini tak pernah luput dari candaan.

Tao hanya tertawa kecil mendengarnya, “Ya, dan kurasa, Luhan tidak akan pernah berubah.” Katanya sambil menatap Luhan.

“Dana-ssi..” Sora menyerukan nama gadis itu dengan nada dalam. Membuat Dana refleks menoleh pada gadis itu yang tersenyum manis.

“Y-ya?” gumam Dana.

Sora memeluk hangat tubuh Dana di hadapannya, lalu berbisik. “Terima kasih karena kau telah datang kemari. Aku merasa sangat senang.”

Dana tak pernah merasa segugup ini. dan.. entahlah, melihat kebersamaan Tao dan juga Sora malah membuatnya turut merasakan kebahagiaan. seolah lupa pada rasa sakit yang sebelumnya ia rasakan. Sebenarnya, apa yang terjadi?

“O-oh.. sama-sama. Aku harap kau dan Tao bersama selamanya.” Dana berbisik, dan balas memeluk Sora.

Gadis itupun mengangguk mengiyakan, “Hey, kurasa.. Luhan adalah lelaki yang baik untukmu.”

Dana yang mendengar hal itu, sontak saja melebarkan pandangannya. Sora lekas melepas pelukannya dengan Dana, diiringi dengan tawa geli di bibirnya.

“Kau bicara apa?” tanya Tao sambil menatap Sora.

“Tidak.” Jawabnya singkat.

Tao hanya mendesah panjang sambil memutar bola matanya, pandangannya lalu beralih pada Dana. “Umm, Dana-ya..” panggilnya.

“Y-ya?” Dana hanya menjawabnya dengan gugup. Dan ia tak mau membalas tatapan Sora yang sedari tadi terus menatapnya.

“Terima kasih karena kau mau datang kemari.” Tao tersenyum tulus. Ia mengusap satu bahu Dana yang masih diam di tempatnya.

“Umm..” gadis itu menjawab singkat. Dia merasa benar-benar menjadi orang bodoh setelah mendengar ucapan terakhir yang dikatakan Sora padanya.

“Ah, untuk kadonya, aku akan memberikannya nanti. Okay? Bye, aku harus pulang sekarang.” Tanpa diduga, Dana membalikkan tubuhnya lalu berjalan meninggalkan mereka bertiga di sana.

Luhan ingin memanggil nama gadis itu, namun ia merasa jika suaranya tercekat di tenggorokan. “Aku harus menyusulnya. Dan.. aku juga akan memberikan kadonya nanti. Bye!” pemuda itu segera berlari menyusul Dana yang kini tak tertangkap oleh pandangannya.

Sesampainya di halaman utama, Luhan melihat Dana bersandar pada pintu penumpang bagian depan di mobilnya. Ia menghela napas lega. Rupanya gadis itu ada di sana. segera saja Luhan menghampiri Dana yang terlihat resah dengan jemari tangannya yang saling meremas.

“Kenapa kau harus terburu-buru?” tanya Luhan begitu ia berada di samping gadis itu.

“Apa kau masih merasa sakit hati?” Luhan terus bersuara, karena Dana tak kunjung menjawab.

Dana memejamkan matanya. “Tidak, bukan itu.”

“Lalu?” Luhan menaikkan satu alisnya saat menatap Dana.

“Lupakan, dan jangan pernah kau tanyakan hal ini lagi. ayo kita pulang!” ajak Dana. Luhan hanya mengangguk dan membiarkan Dana memasuki mobilnya. Dan ia pun berlari kecil mengitari mobil bagian depan untuk membuka pintu kemudi, dan melajukan mobilnya meninggalkan halaman gedung.

***

Ribuan bintang berkelap-kelip di atas langit yang diliputi kegelapan. Seberkas cahaya bulan sabit pun tertutupi oleh besarnya awan hitam yang menggumpal. Dana hanya menatap cahaya bintang di sana dengan seraut wajah sendu. Kedua tangannya bertumpu pada pegangan kursi ayunan yang ia duduki.

Dana mulai merasakan jika kursi ayunannya mulai bergerak lambat. Gadis itu lekas menoleh ke belakang dan mendapati Luhan tengan mendorong pelan ayunan yang didudukinya.

“Sudah malam, apa kau tak akan pulang?” tanya Dana saat ia kembali menatap langit.

“Tidak, lagipula Eomeoni telah mengijinkanku untuk menemanimu di sini hingga kau benar-benar tenang.” Katanya sambil terus mendorong pelan ayunan itu.

“Tapi sekarang aku sudah baik-baik saja, Lu.” Balas Dana sambil mengeratkan pegangannya. Tidak, ia bukan merasa takut jika ayunan yang didudukinya perlahan mengayun cepat. Tetapi ia takut jika jantungnya memompa darah dengan cepat secara tiba-tiba jika ia terus berada di dekat Luhan.

“Aku tidak yakin. Dan aku sudah tahu bagaimana dirimu, Song Dana. Kau tak akan mudah membohongiku.” Ujar Luhan sambil tersenyum kecil.

“Baiklah, terserah kau saja.”

“Emm.. bagaimana jika kita duduk di kursi itu?” tawar Luhan sambil menunjuk ke arah bangku yang terletak di taman belakang milik Dana.

“Oke.” Dana beranjak dari duduknya setelah berhenti berayun. Ia lekas mengikuti langkah Luhan menuju bangku taman, dan duduk di samping pemuda itu.

“Apa kau tahu, mengapa langit terlihat begitu kelam malam ini?” Luhan bertanya tiba-tiba begitu Dana mendudukkan dirinya.

Gadis itu menggeleng. “Tidak, aku tidak tahu.”

Jawaban itu membuat Luhan menaikkan satu sudut bibirnya. “Itu semua karena kau. Jika saja kau kembali menjadi seorang Dana yang dulu, langit akan kembali cerah dan bulan sabit akan semakin jelas terlihat.” Ujarnya sambil menatap Dana yang juga menatapnya dengan kening mengerut samar.

“Kau ini..” Dana tertawa ringan. “Kau lihat? Sekarang aku baik-baik saja.”

“Tidak, kau masih sakit.”

“Ya!”

Luhan tertawa, “Ya.. ya.. tapi aku tahu jika kau belum sepenuhnya pulih dari rasa sakit itu.” ujarnya seraya mengacak kecil rambut Dana.

Dana terdiam di tempat, ia lalu berdeham pelan. “Tolong jangan bicarakan hal ini lagi.” ujarnya, lantas menyandarkan punggungnya.

“Kau marah?”

“Aku merasa kesal, kau tahu?”

“Baiklah, aku tak akan membicarakan hal itu lagi.”

“Kau janji?”

“Aku berjanji.”

Dana pun mengangguk setelah mendengar janji Luhan padanya. Satu hembusan napas lolos lewat bibirnya yang membuka kecil. “Luhan-ah,”

“Hm?” gumam Luhan.

“Tentang gadis yang kaubicarakan tadi, siapa dia? Gadis itu bukanlah aku, kan?” Dana mendekatkan wajahnya pada Luhan, lalu menaik-turunkan kedua alis matanya.

“Gadis? Apa maksudmu?” tanya Luhan tak mengerti, atau lebih tepatnya, berpura-pura.

“Gadis yang kaubicarakan saat di acara tadi. Kau tak ingat?” desak Dana sambil menggoyangkan lengan Luhan. “Ayo beritahu aku siapa gadis itu!”

Luhan hanya tertawa kecil menanggapinya, “Ah, ya, aku mengingatnya. Dan.. apa katamu? Tentu saja gadis itu bukanlah dirimu. Mana mungkin aku menyukai gadis menyebalkan sepertimu, huh?” ujarnya sambil mencubit hidung Dana.

“Ya!! Aku juga tahu hal itu, Bodoh!” Dana memukul tangan Luhan.

“Cepat beritahu aku, atau jangan pernah sekalipun kau datang lagi ke rumahku!”

“Ey.. rupanya sifatmu yang dulu telah kembali. Dan terasa lebih menyeramkan dibanding sebelumnya.” Ejek Luhan sambil menatap Dana, enggan.

“Terserah apa katamu…” Dana lekas menyandarkan kepalanya di bahu Luhan, lalu memeluk satu lengan pemuda itu dengan kedua tangannya “dan coba beritahu aku.” Lanjutnya seraya mencari posisi yang nyaman untuknya bersandar.

Luhan merasa seluruh beban dalam dirinya menghilang begitu ia merasa jika posisi ini terasa sangat membuatnya nyaman. Pemuda itu melirik Dana berkali-kali, dan ia terus berdoa dalam hatinya semoga jantungnya tidak berdetak dengan cepat.

“Kau yakin ingin mendengarnya?” tanya Luhan, berusaha membuat suaranya terdengar normal.

“Tentu saja! Dan kau harus mengatakannya secara jujur!” jawab Dana antusias.

“Baiklah.. aku akan mengatakannya secara jujur. Namun kau harus siap mendengarkannya.” Luhan mengembuskan napas panjang untuk menenangkan dirinya. Dan ia juga merasakan jika Dana mengangguk mengiyakan ucapannya.

“Aku mulai menyukainya sejak pertama kali kami memasuki universitas yang sama,” Luhan memulai ceritanya. Dan gadis itu mulai memasang kedua telinganya dengan jeli untuk mendengarkan cerita temannya.

“awalnya, aku sempat mengira jika gadis itu adalah sosok gadis yang pendiam, ramah, menyenangkan, dan mudah berbaur dengan siapa saja..”

“.. namun, setelah aku berada dekat dengannya, aku telah mengetahui bagaimana sifat aslinya.”

“Ternyata dia adalah gadis yang menyebalkan, angkuh, kasar, dan tak pernah bisa menghargai keberadaanku di dekatnya.”

“Dia selalu membangga-banggakan nama seorang lelaki yang ia sukai. Hingga tak disangka-sangka, ternyata lelaki yang ia sukai itu menyatakan perasaannya padanya..”

“.. sejak saat aku mendengar kabar bahwa dia sedang menjalin hubungan dengan lelaki yang ia sukai, aku mulai merasa tak berguna. Dan aku terlambat untuk menyatakan perasaanku padanya.”

Luhan menjeda sejenak perkataannya. Senyuman manisnya mulai terlihat seiring dengan debaran jantungnya yang meningkat. “Dan akhirnya, aku memutuskan untuk menjadi teman dekatnya, dan menjadi teman yang akan selalu berada di dekatnya, tak peduli dengan sikap menyebalkannya yang terkadang membuatku kesal.”

“Dan sekarang, kau benar-benar ingin mengetahui siapa gadis yang kusukai itu, Song Dana?” tanya Luhan sambil menatap puncak kepala Dana yang masih bersandar di bahunya.

Tidak ada respon.

“Baiklah, aku akan memberitahumu sekarang.”

Luhan mulai mengatur napasnya yang tak beraturan. Ia terlihat sangat gugup begitu ia berusaha untuk mengatakan nama gadis yang ia sukai pada Dana, sekalipun Dana tak menatapnya.

“Dan gadis itu adalah.. kau.”

Satu detik.

Dua detik.

Tiga detik.

Tunggu..

Luhan merasa jika Dana tak memberikan respon apa-apa untuknya, dan ia malah merasa ika Dana sedang membenarkan posisi duduknya, memeluknya, dan menyandarkan kepalanya di dada bidang Luhan.

Pemuda itu mengernyit heran. Terlebih ketika ia mendengar suara napas halus dan teratur yang berasal dari gadis itu. dengan hati-hati, Luhan mencoba untuk menatap wajah Dana, hanya untuk mengetahui apakah gadis itu hanya membenarkan posisi duduknya atau…

Oh, dia tertidur.

Hingga saat Luhan mengetahui hal itu, ia tertawa pelan dan menggeleng tak percaya jika Dana benar-benar tidur di dekatnya.

Satu tangan Luhan terangkat untuk menyibakkan helaian rambut Dana yang menghalangi wajah teduhnya. Luhan masih tersenyum manis, juga debaran jantungnya masih berada di atas normal.

Luhan tak berniat untuk membangunkan Dana, sekalipun gadis itu harus pergi tidur di kamarnya bersama dengan selimut hangat dan boneka kesayangannya.

Ia hanya ingin Dana bersama dengannya sedikit lebih lama dari biasanya.

“Ya, gadis itu adalah kau,” dan kini, Luhan mengusap perlahan puncak kepala gadis itu yang masih tertidur di sisinya.

“Song Dana.”

.

.

.

.

.

.

.

FIN

Sequelnya udah dibuatin, niih.. jangan lupa kasih feedback-nya, yaa 😉

ah, iyaa.. invite aku juga yaa : 574E476E

thanks 😀

Iklan

32 comments

  1. aiiihhhh manisnya bang lulu :*
    Dana bener2 ngrusak momen romantis nih, luhan udah nyiapin hati buat ngungkapin perasaannya ke Dana, eh dianya mah tidur -_-

  2. ceritanya seru, ga ada typo, bahasaanya mudah dimengerti. aku suka banget dengan alur ceritanya. amazing banget deh pokoknya. semangat ya ❤ 🙂

  3. Fufu~~ ceritanya ini ff comeback kakak??
    Huaaa… dana nggak asik ih … kasian lu jadi ngomong sendiri. Mereka pantas bahagia.
    Ada sequelnya lagi nggak kak ?? Hehe

  4. Yaaah… kok Dana nya mlah tidur. Gue suka bgt sama karakter luhan thor, tp ya itu.. kurang deh keknya thor.. panjangin kek, atau datambahin lagi kek sequelnya.. masih ngegantung /? Atau apalah ini namanya… kirain tadi mau jadian aja luhan-dana nya dan ternyata damn. Aihhhhh.. keep writing aja deh thor 🙂

  5. Ah kenapa malah song dana tidur sih nyebelin ah. Lagian sih luhan pake bohong di acara pertunangannya yau
    Kenapa gitu dana bisa tersenyum padahal sebelumnya sakit banget
    Mungkin karena luhan kalik ya
    Btw sequel lagi kak wk

  6. wuiihhh udah berusaha sekuat tenaga(?) tuh Luhan ngungkapinya, ehh malah tidur si Dana-nya -_- tapi belum mudeng sama maksud ‘jantung Dana yang memompa darah terlalu dera’ ahh pokonya intinya gitu diatas tadi. heol apakah Dana juga ….suka Luhan???

    GOMAWO 🙂

  7. Aaaaaaaaaaaa sweeettt banget luhannnn… Senyum senyum sendiri bacanya.. Huhuu luhan kasian udah susah payah buat ngungkapin perasaanya eh Dana nya malah tidur…

    Karakter luhan disini bikin jatuh cintaaaa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s