Untitled


black-and-white-drawing-eyes-it-hurts-Favim.com-1502678

[Untitled]

.

.

.

.

Ini seperti semacam sebuah kisah yang tak memiliki judul, tak memiliki alur yang tepat, dan juga tak akan membawamu pada satu kisah menuju rasa bahagia yang tak terbendung.

Ini hanyalah satu dari sekian banyak cerita yang selama ini terjadi padaku.

Sebuah ungkapan kata tentang rasa sakit ini tak mampu kuutarakan. Aku tak bisa menjabarkan bagaimana pedihnya kehidupanku selama ini. Semenjak kecil, aku tak pernah membayangkan jika di kehidupanku saat beranjak dewasa yang akan kujalani ini begitu pelik.

Semua rasa dalam diri ini hanyalah didominasi oleh sakit dan pedih, ungkapan rasa bahagia hanyalah berupa serpihan-serpihan kecil yang sulit untuk dijaga, karena tak lama kemudian, serpihan kecil itu akan menghilang tak berbekas. Hingga aku tak mampu menjelaskan apa arti dari kata bahagia jika perasaan itu menghilang.

Selama ini hidupku dipenuhi dengan kebohongan. Tak ada yang namanya senyuman tulus dalam hidupku. Tak ada tawa canda meyakinkan dari bibirku. Semuanya penuh dengan sandiwara juga kebohongan. Dan semua ini kulakukan hanyalah untuk menutupi rasa sakit dalam dadaku yang tak pernah pudar dimakan waktu.

Aku kian beranjak dewasa, melepaskan semat nama bayi, batita, balita, bocah, dan juga remaja. Namun semakin usiaku bertambah, rasa sakit itu tetap sama. Jarang sekali aku mendapatkan kebahagiaan. Jarang sekali aku merasakan satu senyuman hangat darinya. Jarang sekali aku mendapatkan belaian hangat darinya yang mampu membuatku tidur dengan pulas kala malam menjelang.

Semua ini bagaikan kisah monoton, sungguh membosankan jika kau terus mengikuti kisah ini.

Setiap hari, setiap saat, dan di setiap detik kehidupanku ini tak pernah lepas dari kata berpura-pura. Ya, aku selalu berpura-pura. Pura-pura ikut merasa senang ketika mereka dengan semangatnya menceritakan bagaimana perjalanan hidup mereka saat ini. Bagaimana ketika mereka mendapat perhatian lebih dalam keluarganya. Bagaimana ketika mereka menunjukkan senyum cerahnya tatkala mereka mendapatkan apa yang diinginkan.

Sebenarnya, ada perasaan lain yang hinggap dalam dadaku ketika aku mendengar cerita mereka.

Aku iri.

Aku marah.

Aku ingin menangis.

Aku ingin berteriak.

Namun aku terus menahannya.

Aku tak mau mereka tahu tentang diriku yang sebenarnya. Tentang kisah pedih yang terus kulalui.

Aku hanya ingin mereka tahu sisi luarku saja. Sisi keceriaanku. Sisi kebahagiaanku. Dan juga sisi kesenanganku.

Sudah tiga belas tahun lamanya—terhitung sejak umurku lima tahun— aku merasa seperti ini. Merasa seperti orang bodoh yang tersenyum tatkala tersakiti, tertawa tatkala menderita, dan berbagi canda tawa meski sebenarnya akulah yang membutuhkan canda tawa itu untuk menghibur diriku.

Selama ini, aku menginginkan banyak permintaan yang dikabulkan oleh Tuhan.

Aku hanya menginginkan kebahagiaan yang sebenarnya.

Aku hanya ingin merasakan bagaimana rasanya kehangatan dalam sebuah keluarga. Aku sangat menginginkannya.

Namun aku merasa bahwa Tuhan terlalu lama mengabulkan keinginanku. Karena rasa-rasanya, kehangatan yang menjalar dalam keluargaku semakin terkikis.

Apakah aku memang ditakdirkan untuk merasakan kepedihan hidup ini?

Apakah aku memang tak boleh merasakan perasaan yang seharusnya ada dalam sebuah keluarga?

Tuhan, aku ingin sekali saja merasakan, menjalani, dan meresapi bagaimana indahnya, damainya memiliki keluarga dengan eksistensi penuh kehangatan.

Aku ingin sekali saja menunjukkan senyum keceriaan yang penuh dengan makna positif pada teman-temanku…

Aku ingin sekali ini saja merasakan hati ini tak diliputi kepura-puraan.

Aku ingin….

Jika semua terkabulkan, aku akan selalu memanjatkan puji syukur pada-Mu, Ya Tuhan.

Aku tak akan pernah melupakannya. Aku akan tetap mengingat kejadian demi kejadian manis yang menempel di otakku.

Hanya ini yang kuinginkan…

Hanya ini yang kubutuhkan…

Hanya ini yang kuharapkan…

.

.

.

.

Note : based on true story.. from…..

Iklan

8 comments

  1. Yang aku inginkan kau ceria
    Yang aku inginkan kau bahagia
    Yang aku inginkan kau selalu senang dengan kehidupanmu. Aku juga dapat ngerasain kepedihan ini. Udah berapa kali aku juga menahan, coba untuk diam. Tapi kapan kita bisa ngerasain kebahagian yang juga diinginkan oleh orang lain? Sebuah kebahagiaan yang jarang kita rasain. Kebanyakan, hanya ada kepahitan. Aku merasa dia tidak punya perasaan sayang yang seharusnya ia tujukan pada keluarganya. Selain aku, ada juga orang yang merasakannya lebih dari kata sakit hati. Dan entah kapan semuanya berakhir dengan kebahagiaan yang selama ini aku nanti 😦

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s