My Husband is My Enemy — Chapter 12


myh1

 

 

ShanShoo’s Story

EXO’s Sehun, OC’s Eunhee, other | school-life, married-life, romance, family, fluff | chaptered | PG-17

Disclaimer : I own the plot! Don’t try to be a plagiator! And sorry for many typo(s) there 🙂

BTW, baca Author’s note di akhir cerita sampai selesai, ya :’)

.

.

.

 

 

Prev story : Park Eunhee tak pernah mengira bahwa Nayoung, sahabat dekatnya telah mengetahui rahasia besar tentang pernikahannya dengan Oh Sehun, seorang musuhnya terdahulu yang ternyata menyimpan banyak alasan mengapa Sehun melakukan hal-hal yang amat dibencinya. Park Eunhee pun akhirnya menjelaskan alasan mengapa ia harus menyembunyikan segalanya dari Nayoung, selain alasan status pelajar yang melekat, juga karena usia mereka yang tak seharusnya melaksanakan pernikahan hanya demi perjanjian konyol yang dibuat oleh kedua orang tua mereka. Selain itu, tanpa diduga pula, Kim Kai dan Chen juga telah mengetahui rahasia itu lewat pertengkaran hebat antara Kim Kai dengan Oh Sehun. Sehingga kedua lelaki tampan yang sama-sama menyukai Park Eunhee mulai merasakan kebencian dalam diri mereka untuk Sehun. Selagi pertengkaran itu berlangsung, Eunhee dan Nayoung memasuki kelas sembari tertawa karena hubungan persahabatan mereka kembali membaik seperti semula. Eunhee terkejut bukan main, terlebih ketika penyebab pertengkaran ketiga pemuda di hadapannya adalah karena rahasia itu. Maka, dengan hati yang dipenuhi emosi, Kai―dan juga Chen―pergi meninggalkan kelas, disusul Nayoung di belakangnya, mencoba untuk menenangkannya.

 

 

.

.

 

Kai tak pernah merasakan perasaan sakit ini sebelumnya. Gemuruh tak menentu dalam dadanya pun kian menjadi. Terasa sesak dan cukup memilukan. Apakah yang namanya patah hati harus sesakit ini? Entahlah.

Pandangannya sedari tadi bergulir ke sana kemari, mengarah pada beberapa orang siswa di lapangan yang tengah bermain basket. Kai menghela napas lalu menumpukan kedua sikunya pada sekat pembatas yang ada di atap gedung sekolah. Dari sini ia bisa mendengar bagaimana gelak tawa dari mereka yang tengah bermain, dan juga tawa ceria yang bersumber dari para penonton di sana.

Pemuda itu mengembuskan napas panjang. Berusaha agar detakan jantung dan rasa sesaknya tak terlalu menyakiti dirinya. Namun percuma. Usahanya sia-sia. Kai masih bisa merasakan sakit itu.

Siapa yang menduga, jika ternyata seseorang yang begitu ia kagumi dan disukai ternyata telah menjadi milik orang lain secara sah di mata hukum? Tidak ada yang menduganya sama sekali. Bahkan Kai sekalipun. Akan tetapi jika dilihat dari gelagat mereka berdua—Sehun dan Eunhee, mereka sepertinya sama sekali tak menginginkan siapapun untuk mengetahui bagaimana hubungan mereka yang sesungguhnya. Ah, lagipula… rasanya cukup mustahil untuk muda-mudi seperti mereka melangsungkan pernikahan dengan status pelajar yang masih melekat pada diri masing-masing.

Kai cukup terkejut begitu ia mendengar samar suara pintu atap sekolah dibuka oleh seseorang. Dia lekas menolehkan sedikit kepalanya, lalu memutar bola matanya ke samping untuk melihat siapa yang datang.

Itu Nayoung. Gadis yang menyerukan namanya ketika di kelas.

Sebenarnya gadis itu enggan untuk mengejar Kai hingga sampai ke atap sekolah. Hanya saja ketika ia mendapati seraut wajah penuh kesedihan pada pemuda berkulit tan ini, membuat Nayoung merasa harus melakukannya.

Uh… Kai,” gumam Nayoung. Dia berdiri tak jauh dari tempat Kai berpijak. Kedua tangannya saling meremas, menepis gusar.

“Ada apa?” Kai membalas karena ia masih bisa mendengar ucapan Nayoung walaupun hanya gumaman.

Nayoung lalu mendongak dan melihat Kai yang berdiri memunggunginya. Dari sini, Nayoung bisa tahu jika Kai tengah menatap ke bawah, pada sekelompok pemain basket.

“Apa aku.. mengganggu waktumu?” tanya Nayoung hati-hati. Ia hanya takut jika Kai kembali emosi seperti di kelas tadi ketika pemuda itu mengetahui, jika Sehun dan Eunhee memiliki hubungan spesial.

“Tidak,” Kai mengembuskan napas tertahannya.

Jawaban itu refleks membuat Nayoung tersenyum lega. Tanpa merasa ragu lagi, gadis itu berjalan pelan mendekat ke arah Kai yang sampai saat ini belum menatap padanya.

“Memangnya.. apa yang sedang kaulakukan di sini?” Nayoung kembali bertanya. Kali ini gadis itu berada tepat di samping kiri Kai.

Kai menoleh sejenak, lalu menatap ke bawah seraya menghela napas. “Tidak ada.”

“Apa kau…” Nayoung menggantungkan perkataannya begitu ia mendapati tatapan Kai yang bisa dibilang datar, tanpa eskpresi. Namun tercetak seraut wajah penasaran di sana.

“… kau baik-baik saja?” tanya gadis itu pada akhirnya.

“Apa aku terlihat baik-baik saja?” Kai balik bertanya, lalu memalingkan wajahnya ke depan. Sekarang ia tengah menatap pohon-pohon Ek yang ditanam di area sekolah.

“M-maafkan aku… tapi…” Nayoung membuang napasnya secara halus, “Belajarlah untuk merelakannya, Kai.” kata Nayoung tanpa disadari. Hingga gadis itu membelalakkan matanya karena tak percaya pada apa yang dikatakannya pada Kai.

“K-Kai… aku t-tak bermaksud… mmm… maksudku…”

“Tak apa.” Suara Kai kini terdengar santai. Ada perasaan lega tersendiri dalam diri Nayoung yang mulai muncul. Terlebih ketika ia menatap wajah Kai yang terlihat sendu. “Aku mungkin… harus bisa menerima semua kenyataan ini,” katanya, menoleh menatap Nayoung lalu melemparkan senyuman—sangat— samar pada gadis itu.

Oh Tuhan! Tiba-tiba saja Nayoung merasa dadanya bergemuruh tak normal. Matanya mengerjap beberapa kali untuk memastikan penglihatannya. Benarkah Kai tersenyum padanya?

“Terkadang.. ada banyak hal yang memang terlalu sulit untuk kita ketahui dan kita terima,” pemuda itu membalikkan tubuh dan menyandarkan punggungnya pada tembok pembatas. Pandangannya lurus, selagi kedua sudut bibirnya tersenyum tak percaya.

“….”

“Termasuk hal yang disembunyikan oleh orang-orang yang ada di sekeliling kita,” lanjut Kai, lantas menggigit bibir bawah. “Kau tahu? Sebelum hubungan mereka terbongkar, aku selalu berkata pada diri sendiri.. bahwa… gadis itu akan menjadi gadis terakhir untukku. Aku tak akan mencari gadis lain. Karena dia adalah gadis istimewa.”

Rasa sesak mulai menjalar di dalam dada. Namun Nayoung tetap memertahankan ekspresi wajahnya. Hingga pada akhirnya, Nayoung tetap diam dan membiarkan Kai kembali berbicara.

“Dan setelah aku mengetahui bagaimana hubungan yang dijalani oleh mereka berdua. Semuanya berubah. Aku bahkan seperti tak memiliki semangat untuk menjalani hari-hariku mulai dari sekarang,” Kai mendesah. “Sejak kapan aku berubah menjadi pemuda yang terjebak dalam roman picisan seperti ini?” ujarnya, lalu tertawa mendengus.

“Kai.” Nayoung menyentuh pundak Kai, mencoba memberikan ketenangan pada pemuda itu. “Aku tahu… kau mungkin cukup merasa kesulitan untuk menerima semua ini. tapi.. percayalah… masih ada harapan lain yang bisa kau raih di kemudian hari.”

Ucapan itu mendapat respon sebuah senyum tipis yang terukir di bibir Kai. “Aku tahu.”

Nayoung mendesah lega.

“Biar bagaimanapun.. Sehun adalah sahabat terbaikku. Aku tak boleh membuatnya kecewa, sekalipun aku tak mengetahui yang sebenarnya selama ini.” katanya kemudian, “Karena Sehun adalah sahabat terbaikku, maka Eunhee pun demikian. Aku akan mencoba memposisikan gadis itu menjadi sahabatku juga.”

Baiklah, sepertinya Kai mulai menerima keadaan. Tanpa sadar Nayoung melebarkan senyumannya. “Kau pasti bisa!” ujar Nayoung menyemangati.

Umm,” gumam Kai, samar, lalu menoleh menatap Nayoung.

“Mau pergi makan siang denganku?”

“Eh? Tapi.. bagaimana dengan pelajaran yang baru saja dimulai?”

Kai terkekeh pelan, “Apa kau mau memaksa masuk ke kelas meskipun pembelajaran sudah dimulai? Yang ada, kau pasti akan diusir oleh guru pengajar.”

“A-apa?” Nayoung terhenyak, “Ah, sudah pasti guru pengajar tidak akan membiarkan aku mengikuti pembelajaran.”

“Kalau begitu, ayo! Jangan pikirkan hal itu.” ajak Kai seraya tersenyum manis. Seolah lupa bahwa sebelumnya Kai memberikan tatapan datar nan dingin pada gadis di sampingnya.

Eng.. baiklah…”

.

.

.

.

Manik gelap milik wakil kesiswaan itu bergulir bergantian pada seorang siswa bernametag Oh Sehun dan Park Eunhee di depannya yang terhalang oleh bangku dengan banyak buku dan file penting di atasnya, milik sang wakil kesiswaan.

“Jadi, bisa kalian ceritakan bagaimana awalnya sampai kalian berani melakukan hal itu di depan guru pengajar dan juga teman-teman sekelas?” kedua tangan bertopang dagu, selagi suara berat bernada tegas itu menggema di dalam ruang kerjanya.

Ucapan itu tak pelak membuat Sehun memutar bola mata. Antara menyadari kebodohannya atau merutuki kecerobohannya yang tiba-tiba saja berbuat demikian pada Eunhee. Bukan apa-apa, tapi sungguh, gerakan refleks itu serta merta memberikan rasa nyaman tersendiri baginya dan Eunhee. Awalnya Sehun tak tahu bahwa ada guru pengajarnya di dalam kelas. Namun ketika guru cantik itu membuka suara seraya menegur mereka―bagai tersadar dari hipnotis― ia lekas melaporkan apa yang telah dilakukan keduanya pada sang wakil kesiswaan. Berhubung ketuanya sedang tidak ada untuk mengurus rapat sekolah dadakan.

“Kami sedang melakukan drama, Pak.” Kata Sehun, sedikit malas namun berusaha membuat pak Kim percaya akan kata-katanya.

Pak Kim lantas tertawa kecil. Sedangkan Eunhee terlihat gusar, menggigiti bibir bawahnya, juga menatap Sehun dan pak Kim bergantian.

“Drama? Kau pikir aku bodoh hanya karena aku jarang memantau kegiatan pembelajaran kalian di kelas? Hei, asal kalian berdua tahu saja, sesibuk apapun kegiatanku, aku masih sanggup memantau tindak-tanduk kalian semua selama di kelas. Bahkan aku tahu bahwa pelajaran Teater tidak sedang melakukan kegiatan drama.” Jelasnya panjang lebar.

Sehun tertawa mendengus, alih-alih mencari alasan lain atau setidaknya membela diri. Lain halnya bagi Eunhee yang terlihat semakin gusar. Menangkap gelagat sang istri yang resah seperti itu, Sehun segera menggenggam tangannya tanpa sepengetahuan pak Kim. Begitu erat, memberikan kenyamanan pada sang gadis.

“Memangnya tidak boleh, ya, kalau kami bersikap sedikit romantis saja di hadapan teman-teman? Lagipula, sikap kami tidak mengganggu mereka, kok.” Sehun menjawab, kedua sudut bibirnya berjungkit naik memberikan senyuman yang terkesan dipaksakan.

Hmm…” pria itu menggumam, memerhatikan keduanya lebih intens. “Tapi tetap saja sikap kalian melanggar tata tertib sekolah ini.”

“Eh?” Eunhee menaikkan kedua alis matanya karena kaget. “Maafkan kami, Pak. Sungguh, kami tidak bermaksud melanggar―”

“Kalau kami melanggar, itu artinya kita dapat skors?” ucapan itu seolah menantang si wakil kesiswaan yang memasang raut kaget. Sedangkan yang berbicara barusan hanya memasang tampang santai, seolah tidak takut akan ancaman hukuman tersebut.

“Kau menginginkan hukuman itu, Oh Sehun?” tanya pak Kim.

“T-tidak, Pak. Sungguh, maafkan kami. Kami tidak akan―”

“Kalau Bapak mau memberikan kami hukuman itu, tidak apa-apa. Kami akan menjalaninya dengan baik.” Lagi-lagi, Sehun memotong perkataan Eunhee seraya menekan jemari gadis itu dalam genggaman tangannya.

Ya! Apa yang kaukatakan barusan, huh?” bisik Eunhee di telinga Sehun. Gadis itu terlihat geram karena tindakan pemuda itu.

“Cukup diam dan nikmati saja.” Sehun turut berbisik, menoleh sejenak pada Eunhee sembari memasang senyum manis.

“Oh, ya, bagaimana dengan hukuman kami, Pak?” fokusnya kembali terarah pada pak Kim. Membiarkan Eunhee menatapnya dengan sorotan yang tajam.

Lalu, suasana dalam ruangan berisi tiga orang di dalamnya itu mendadak hening. Hanya ada suara mesin AC yang terdengar, disertai dengan gumaman-gumaman samar di balik pintu ruangan yang tertutup rapat. Pak Kim menghela napas tak percaya. Selain mengetahui kalau Oh Sehun adalah anak dari pemilik sekolah menengah atas ini, ia juga tak dapat menampik bahwa sikap dari sosok Oh Sehun juga benar-benar susah diterima. Kadang-kadang, Sehun bersikap layaknya anak berandalan jika ia merasa bosan berada di dalam kelas. Dan terkadang, Sehun juga bersikap seperti anak pendiam kalau suasana hatinya sedang buruk.

“Aku tidak akan menghukum kalian, Anak-anak.” Pria itu bersua. Berdeham pelan untuk menjernihkan suaranya, selagi fokus masih tertuju pada keduanya.

“Kenapa?” tanya Sehun, mengernyit samar, seolah keputusan yang diambil pak Kim adalah kesalahan besar.

“Karena aku tak ingin kalian berdua bersikap lebih dari apa yang kalian lakukan saat di kelas tadi jika mendapat hukuman. Paham?”

Akhirnya, Eunhee menghela napas lega. Ada satu senyum kecil yang terbentuk di bibirnya kala konversasi berat itu dilewati dengan baik, meski ada kendala yang dibuat oleh Sehun seperti permintaan hukumannya barusan. Dasar laki-laki bodoh! Mentang-mentang anak pemilik sekolah ini, seenaknya saja dia meminta hukuman! Benar-benar menyebalkan!

“Baiklah, kalian bisa kembali ke kelas dan melanjutkan lagi kegiatan pembelajaran kalian di kelas.” Lanjutnya kala ia tak mendengar Sehun dan Eunhee berujar. Pak Kim lantas membenarkan kacamatanya yang sedikit turun. “Dan jangan lakukan hal seperti itu lagi, oke? Aku tak mau kalian kembali dipanggil dan membuatku pusing lagi mendengar ocehan-ocehan kalian. Terlebih kau, Oh Sehun.” Telunjuknya terarah pada Sehun yang hanya mengedikkan bahunya acuh tak acuh.

“Ah, terima kasih, Pak Kim. Terima kasih karena tidak memberi kami hukuman.” Eunhee sedikit membungkukkan badannya, tanda hormat. Sedangkan pak Kim memberikan senyuman ramahnya. Dalam hatinya, ia amat yakin bahwa Park Eunhee tidak memiliki sikap seperti Sehun. Siswi ini adalah siswi yang baik, belum pernah melakukan kesalahan apapun―sepanjang matanya mendapati sosok gadis itu berjalan di sekitarnya.

Sehun tak menyahut, hanya memberikan senyuman menyebalkan. Ia lalu bangkit berdiri, disusul Eunhee tanpa berniat melepaskan genggaman tangannya. Membuat pak Kim mengernyit heran melihatnya.

“Oh Sehun, kenapa kau memegang tangan Eunhee? Apa kalian… benar-benar berpacaran seperti apa yang dirumorkan anak-anak lain?”

Eunhee nyaris terlonjak kaget. Matanya melebar sempurna. Kalau Sehun, laki-laki itu hanya memasang wajah berpura-pura berpikir, menggumam pelan, lalu menjawab.

“Iya, kami memang berpacaran, Pak. Dan… kalau Bapak mau tahu, hubungan kami bisa dikatakan… lebih dari sekadar pacaran.” Bisiknya sarkastis. Yang langsung ditanggapi dengan tatapan keheranan.

“Kau bilang apa?”

Rasa gusar Eunhee semakin membludak. Maka, dengan segera ia menarik tangan Sehun untuk segera meninggalkan ruangan yang memberikannya rasa gerah bukan main. Setelah mengucapkan pamit, Eunhee membuka pintu tersebut, dan menutupnya kembali sebelum ia berbicara.

“Jangan membuatnya menaruh penasaran, lalu mencaritahu informasi lain mengenai hubungan kita, Hun!” mata Eunhee nampak nyalang saat menatap Sehun. Yang ditatap hanya menelengkan kepalanya.

“Kenapa?”

“Aku tak mau mereka mengetahui hubungan kita yang sebenarnya!”

Sehun tertegun sejenak. Maniknya menelisik netra Eunhee lebih jauh lagi. Gadis itu terlihat sedikit gugup begitu pandangan mereka bertemu.

“Jadi, kau tak mau siapapun tahu mengenai hubungan kita?”

“Eh?”

“Lalu, bagaimana dengan Kai, Chen, dan juga Nayoung? Apakah seharusnya mereka juga tak boleh tahu?”

“Oh Sehun… a-aku…” Eunhee menggigit bibir bawahnya. Ditatap Sehun seperti itu sungguh menyebabkan nyalinya untuk berbicara lebih banyak, semakin mengecil. Tanpa diduga, Sehun menyentuh kedua bahu gadis itu, mengarahkan netra sang gadis padanya.

“Dengarkan aku.” Sehun memulai konversasi, berdeham pelan, mengembuskan napas panjang sebelum ia melanjutkan,

“Cepat atau lambat, siapapun akan tahu mengenai rahasia ini, bukan?”

Eunhee menelan ludahnya susah payah. Suara Sehun kali ini terdengar serius, tidak terselip nada candaan seperti apa yang telah ia perlihatkan saat di dalam ruangan wakil kesiswaan.

“Termasuk Kai, Chen, dan Nayoung. Mereka pasti akan mengetahuinya. Dan, kau tahu, Eunhee?”

“….”

“Sekalipun mereka tahu, kita tak akan pernah merasa merugi. Karena kita saling mencintai, bukankah begitu?”

Ada senyum simpul yang terbentuk kala Sehun menyelesaikan perkataannya. Tangan kanannya tergerak untuk mengusap lembut surai kecokelatan gadis itu. Tak ada maksud apapun lagi, selain menjelaskan semuanya pada Eunhee.

“Tapi, Hun, bagaimana dengan Kai dan Chen?” Eunhee menundukkan kepala, menutupi raut sedih di sana. “Apa kau merasa yakin, kalau mereka berdua akan baik-baik saja?”

Sehun menaikkan dagu Eunhee, mempertemukan kembali pandangan mereka. Namun kali ini, ada hiasan bulir bening tercetak dalam dua lingkar mata gadis itu.

“Percayalah, selama kita bisa menjelaskan semuanya sebaik mungkin, mereka berdua akan baik-baik saja.”

Eunhee terdiam. Membiarkan Sehun meraih kedua tangannya, dan menggenggamnya penuh keyakinan,

“Kau bisa percaya pada perkataanku, ‘kan?”

Dan akhirnya, sudut-sudut bibir gadis itu berjungkit naik, selagi anggukan penuh keyakinan ia berikan pada Oh Sehun, suaminya.

.

.

.

Keduanya kini telah kembali ke kelas. Puluhan pasang mata terarah pada mereka. Eunhee menundukkan pandang, sementara Sehun terlihat biasa saja, dengan tangannya yang menggenggam tangan Eunhee kala mereka berjalan berdampingan. Ada beberapa siswa yang berani menggoda keduanya dengan perkataan,

“Jadi, kalau mau berpacaran harus bermusuhan dulu, ya?”

 

“Bermusuhan adalah awal dari benih cinta yang tumbuh.”

Juga perkataan lainnya yang terdengar semakin gencar. Tapi tetap saja, Sehun hanya memasang raut tak peduli, namun terukir senyum kecil di bibirnya.

Memutuskan untuk duduk pada satu bangku yang sama, Eunhee mengedarkan pandangan pada para siswa. Bermaksud mencari Nayoung dan Kai. Namun nihil, ia sama sekali tak menemukan kedua temannya itu.

Maka, tak sungkan bila Eunhee menyikut lengan Sehun di sampingnya. Laki-laki itu menoleh diiringi tatapan bertanya,

“Nayoung dan Kai tidak ada di kelas.” Bisiknya pelan.

Sehun pun akhirnya mengedarkan pandang. Mencari kedua orang yang dimaksud Eunhee, dan memang benar adanya, kedua orang itu tidak ada di dalam kelas.

“Tidak usah dicari,” jawab Sehun seraya mengeluarkan bukunya dari loker bangku. “Mungkin mereka sedang berada di suatu tempat.”

“Apa kau yakin, Nayoung bisa menenangkan Kai?”

Bukannya menjawab, Sehun malah memberikan Eunhee pertanyaan lagi,

“Bukankah Nayoung menyukai Kai?”

.

.

.

.

Bel pulang telah berbunyi. Bertepatan dengan bunyi terakhir, Kai dan Nayoung datang memasuki kelas secara beriringan. Fokus Sehun dan Eunhee pun teralihkan sejenak pada keduanya. Mereka berempat kini saling bertatapan. Selesai membereskan barang-barangnya, Eunhee lekas menghampiri Nayoung dan memeluknya sejenak. Sementara dua laki-laki itu hanya saling beradu pandang tanpa berniat untuk melakukan pembicaraan.

“Hei, kalian dari mana saja? Kenapa tidak ada di kelas?” tanya Eunhee pada Nayoung dan Kai.

Kai berdeham, “Aku hanya ingin mencari udara segar saja.” Sahutnya tanpa berniat membalas tatapan Eunhee.

“Dan kau, Nayoung?”

Uh…” Nayoung terkekeh pelan, “Aku juga… membutuhkan udara segar,” katanya, yang langsung dibalas dengan gelengan pelan Eunhee.

Sehun lantas melangkah menghampiri Kai. Laki-laki berkulit tan itu menatap Sehun di sampingnya.

“Kau… baik-baik saja?” tanya Sehun, pelan. Takut jika ia kembali melukai hati sahabatnya itu.

Mimik Kai terlampau datar. Matanya memutuskan kontak pandang dengan Sehun. Kendati berucap lagi, Sehun membiarkan Kai berpolah seperti itu padanya. Toh, Sehun juga menyadari bahwa ini merupakan kesalahannya, tetapi,

“Aku baik-baik saja, omong-omong.”

Ah, rupanya persepsi yang dibuat Sehun adalah salah. Kedua sudut bibir Kai berjungkit naik selagi pandangannya terbilang ramah untuk Sehun, Eunhee, dan juga Nayoung. Laki-laki itu bahkan tak segan untuk mengeluarkan kekehan pelan dari bibirnya sembari merangkul bahu Sehun tanpa diduga.

Ya! Kaupikir aku tidak akan merasa sedih saat mengetahui bahwa kau dan Eunhee telah… menikah?” bisik Kai di akhir kata, takut jika teman-teman sekelasnya mendengar apa yang ia ucapkan.

Sehun tersedak ludahnya sendiri, lalu ikut tertawa sembari berusaha menegakkan tubuhnya. “Kaupikir aku akan mengatakannya secara tiba-tiba seperti itu?” akhirnya, Sehun berhasil melepas rangkulan sahabatnya. “Aku juga punya rencana yang matang untuk memberitahumu, kalau kau ingin tahu.”

Well, aku akui saja bahwa pengakuan tadi adalah rencanamu yang benar-benar matang.” Kata Kai kemudian.

Eunhee lantas menyela di sela tawa kecilnya. “Jadi, kau sudah merasa baikan, Kai?” tanyanya pada Kim Kai.

Umm… yah, kurasa begitu, aku baik.” Tanpa segan, Kai mengusak rambut Eunhee. Gadis manis itu pun mengerang tak terima, yang langsung disambut oleh tawa ketiganya.

“Kai,” seru Sehun ketika tawa mereka perlahan mereda.

Hm?”

“Maafkan aku.” Ujarnya.

Kai yang mendengar hal itu hanya bisa memasang senyum memaklumi. Tangan kanannya lantas menepuk bahu tegap Sehun beberapa kali. “Tidak ada permintaan maaf ataupun memaafkan dalam persahabatan kita, oke?”

“Aku akan mengingat hal itu dengan baik.” Sahut Sehun sembari mengangguk mengiyakan.

“Oh, ya, aku akan selalu mendoakan yang terbaik untuk hubungan kalian.” Kai menepuk bahu pelan bahu Sehun dan Eunhee bersamaan.

Dan konversasi terakhir itu merupakan tanda, bahwa hubungan mereka kembali membaik seperti sedia kala. Atau mungkin… lebih membaik?

Inilah akhir yang Sehun harapkan. Menatap Kim Kai, sahabat terbaiknya mendukung apa yang Sehun lakukan. Mendoakan yang terbaik untuk hubungannya seraya memeluk hangat.

.

.

.

Dan.. harapan terakhir―yang merupakan harapan Eunhee juga― semoga Chen juga dapat menerima hubungan mereka berdua. Sama seperti Kai dan Nayoung.

.

.

.

Derap langkah terdengar cukup menggema kala Chen menyusuri koridor kelas yang nampak sepi. Raut wajahnya begitu datar, bagaikan tak pernah memiliki semangat dalam hidupnya. Bisik-bisik halus yang bersumber dari para siswa pun terdengar samar ke dalam telinganya. Dan sebagian besar tengah membicarakannya dan juga kisah cintanya yang kandas bersama Eunhee. Jujur saja, Chen merasa kesal dengan semua ini. Ingin rasanya ia mengakhiri hidupnya yang menyedihkan ini secepatnya. Karena ia selalu berpikir, untuk apa ia hidup jika cinta yang ia punya telah pergi meninggalkannya?

Berbelok dan melangkah menuju area parkir, Chen melihat Sehun dan Eunhee berjalan bersama sambil sesekali meloloskan tawa kecil dari bibir keduanya. Tak pelak membuat emosi dalam dada Chen semakin membesar. Niatnya ingin segera pergi meninggalkan area sekolah, tapi ketika Sehun menyadari keberadaannya dan menyerukan namanya dengan nada lantang, Chen malah terdiam membeku di tempat.

Jarak mereka tidak seberapa jauh. Dan Eunhee lah yang berinisiatif untuk menghampiri Chen, disusul Sehun di belakangnya.

Oppa…” Eunhee berseru, manakala Chen tak balas menatapnya, hanya memalingkan wajah ke arah lain.

Oppa, tolong dengarkan penjelasanku dulu.” Gadis itu mendesah pelan, “apa kau… masih marah padaku dan Sehun?”

Chen kini bersitatap dengan Eunhee. Baik gadis itu dan Sehun sama-sama terdiam, menunggu kalimat apa yang akan terlontar dari bibir Chen. Membiarkan hening mengambil alih beberapa jenak sebelum pemuda Kim itu bersua.

“Kau tahu? Terkadang, aku harus berpikir beribu-ribu kali untuk menerima kenyataan pahit ini.” Mengembuskan napas kasar, Chen beralih menatap Sehun. “sampai-sampai, aku memikirkan berbagai macam cara agar kau bisa kembali padaku.”

Mendengar pernyataan itu, Sehun ingin membuka mulut untuk bersuara, namun tak jadi, lantaran Chen kembali melanjutkan perkataannya, selagi netranya terfokus pada Sehun.

“Tapi, kalau ternyata dia lebih bisa membahagiakanmu dibanding denganku, apa yang harus aku lakukan? Aku tak mungkin tega merenggut kebahagianmu, Park Eunhee.” Kali ini tatapannya bergulir ke arah Eunhee, tepat ketika Chen menyebut namanya.

Hening mengambil alih. Membiarkan Chen menenangkan debaran jantungnya selama beberapa jenak. Lantas, Chen menyentuh kedua bahu Eunhee. Menumpukan netranya dengan gadis itu kala ia berkata,

“Aku mencintaimu. Tapi aku yakin, rasa cintaku tidak sebesar rasa cinta Sehun untukmu.” Seulas senyum miris pun tercetak jelas di bibirnya.

Senyum itu menular pada Eunhee, disertai bulir bening yang menghias kedua pipi tirusnya. Dan dengan cepat, Chen mengusap air mata itu.

“Kim Jongdae,” nama Chen yang sebenarnya terucap dari bibir Eunhee, kalau gadis itu merasa dirinya benar-benar merasa sedih atau marah. Sembari terisak pelan, Eunhee mengatakan, “Mianhae, Oppa.” Dengan kedua bahunya yang bergetar.

“Tidak apa-apa.” Sahut Chen. “Kau tidak perlu meminta maaf padaku.”

“T-tapi…”

“Semoga kalian terus bersama.” Chen menyela, melepaskan kedua tangannya dari bahu sang gadis. “Dan… Sehun, kuharap kau bisa menjaga Eunhee, selalu.”

“Terima kasih, Chen.” Akhirnya Sehun membuka suara. Tak lupa ia juga memberikan senyuman terbaiknya untuk laki-laki itu. Menepuk bahu Chen beberapa kali, Sehun melanjutkan. “Kau tenang saja, aku pasti akan menjaga Eunhee dengan baik, sampai kapanpun.”

Apakah sekarang bisa dikatakan, bahwa harapan keduanya telah menjadi kenyataan? Ya, sepertinya begitu.

.

.

.

.

“Kudengar beberapa teman kalian telah mengetahui hubungan pernikahan kalian berdua.” Oh Daemin bersua kala Sehun dan Eunhee duduk bersisian di atas kursi sofa panjang. Hari ini, Sehun memang sengaja mengundang kedua orangtuanya dan mertuanya. Karena sudah cukup lama juga mereka tak bertemu. Setelah saling melepas rindu melalui pelukan-pelukan hangat, konversasi itu akhirnya terjadi begitu saja.

“Iya. Padahal aku belum berencana untuk memberitahu mereka secepat ini.” Sehun menimpali pernyataan ayahnya. Memaku pandang pada sosok pria paruh baya itu yang tengah menatapnya dan Eunhee bergantian.

“Maksudmu… mereka mengetahui hal ini tanpa ada persiapan atau apapun?”

Sehun dan Eunhee mengangguk membenarkan.

“Tapi kami belum berencana untuk memberitahu semuanya. Terlalu sukar, kurasa.” Kata Sehun kemudian. Yang dibalas dengan anggukan mengerti dari Oh Sooyeon selaku ibu kandungnya.

“Omong-omong, Sehun, kau bilang bahwa ada sesuatu yang ingin kaukatakan pada kami. Apakah ini pembicaraan yang begitu penting?” tanya Park Hyesung, ibu mertuanya.

Ucapan itu tentu saja menciptakan kerutan samar di kening Eunhee. Gadis itu sama sekali tak mengetahui bahwa Sehun akan membicarakan suatu hal di pertemuan hari ini. Well, bisa dibilang, Sehun tak memberitahunya.

“Memangnya apa yang mau kaubicarakan, Hun?” pertanyaan yang sama terucap dari bibir Eunhee.

Bukannya menjawab, Sehun malah menyembunyikan senyumannya. “Ayah, Ibu, menurutmu… apa tidak apa-apa jika aku mengatakan mengenai hubungan ini pada semua orang?”

Hening mulai menyapa. Eunhee memaku di tempat, alih-alih menyuarakan kalimat yang tertahan di bibirnya. Begitupun dengan keempat paruh baya di sana. Sama-sama tercengang mendengar penuturan Sehun yang tanpa diduga itu.

Uhm, Sayang… sebenarnya, tidak apa-apa juga jika kau mengutarakannya. Tapi… apa tujuanmu itu?”

Pertanyaan Sooyeon berhasil memerlihatkan satu senyuman misterius di kedua sudut bibir si pemuda. Kendati segera menjawab, Sehun malah membiarkan semuanya semakin diliputi rasa penasaran yang berkepanjangan.

“Itu karena aku ingin…”

Suasana terasa makin hening, menanti Sehun melanjutkan kalimatnya.

“… ada malaikat kecil di antara aku dan Eunhee. Hanya itu.”

Dan sepertinya, keheningan itu akan terus merambat pada detik, menit, dan―mungkin― jam setelah Sehun mengutarakan tujuan―atau… keinginannya?

 

.

.

.

“Bagaimana, Oh Eunhee?

.

.

.

.

-TBC or… END?-

A/N : ah, long time no see, Guys! Gimana kabar kalian? Pada sehat semua, ‘kan? 🙂

Oke, mungkin ini bikin kalian kaget karena tiba-tiba FF MHiME nongol lagi di blog isan. Padahal Isan udah bikin postingan tentang gak bakal lagi post FF ini gegara sakit hati udah diplagiatin 2x. Etapi ‘kan bukan berarti aku berenti, aku hanya gak mau liat FF ini untuk sementara waktu //yah, kebanyakan ngeyel nih, Isan :’D//

Awalnya, sih, aku Cuma mau liat-liat aja FF yang udah Isan bikin di laptop. Tapi pas aku liat folder file FF MHiME, aku terus buka FF ini dan baca dari chapter 11nya. Dan tiba-tiba aja ada ide yang melintas di otak buat lanjutin ceritanya. Dan… taraaaa… hasilnya bener-bener di luar dugaan aku sendiri. Hasilnya sungguh mengecewakan, btw :’)

Maka dari itu, aku beneran butuh komen dari kalian semua mengenai kelanjutan FF ini yang sangat-sangat amburadul. Aaduh.. gak tau, deh. Intinya FF ini beneran makin jelek 😥

Aku juga mau minta pendapat kalian tentang chapter sebelumnya. Menurut kalian, apa aku buka privasinya lagi atau tetap dibiarkan menjadi koleksi pribadi aja/?

Terus, Cuma sekadar ngasih tau aja, aku gak tau kapan mau lanjutin lagi next chapternya. Karna aku orangnya emang mut-mut-an/? Jadi gak mau terlalu mikirin lanjutan ceritanya 😀

Terus lagi/? Aku Cuma mau kasih tau, kalo chapter berikutnya bakal aku proteksi lagi, karna kemungkinan chapter selanjutnya adalah chapter terakhir :’)

At least, makasih buat kalian yang udah support Isan selama ini. Semoga gak ada lagi yang plagiatin ff ini :””

ILY all :*

Regards

 

ShanShoo

Iklan

229 comments

  1. chen bijak bangat .. ya ampun mau punya anak astaga ngk salah tuh kalian msh SMA .. penasaran apa tanggapan eunhee dan orng tua mereka tentang pikiran sehun

  2. Daebak! Mereka semua kayanya udah ikhlas yaakk. Untung dehh, kasian sii sebenarnya smaa Chen. Tapi yaudah la yaa. Kai sama Chen udah ikhlas, ga papa dehh. Itu nayoung jangan jangan jadi sama kai lagi? Wkwk ga papa deh, kasian kai disakitin mulu wkwk. Ih apa kabar smaa minji? Yaudah la yaa. Aku ga peduli ama diaa wkwk. Si sehun udah blak blakan banget yakk, masih sekolah juga hun 😅😅 next yaa

  3. hai isan…

    udah lama banget gak lanjutin baca… tugas kuliah numpuk jadi gak sempet baca ff lagi.. sebenarnya sih masih ada cuma ya ya bosen ngerjain tugas mulu….

    saking lamanya sampai lupa udah chap berapa…

    heheheh malah curhat…

    ceritanya makin seruuuu! izin lanjut baca yaaa…

  4. Kai oppa sabar yahh 😂😂masih ada aku ko sini sini peyuk peyuk 😁😆
    Yaampun lope lope banget sama ini ff dibaca berulang kali pun gaakan bosen eakk😁😁

    PW episode terakhir lsan kirimyya

  5. syukur lah persahabatan sehun dan kai aman aman aja semuanya juga bisa menerima hubungan mereka dengan baik
    cuma apa gak kecepetan kalo sehun pengen punya baby kan mereka masih pelajar masih dibawah umur tar bisa berantakan sekolahnya eunhee kalo sampek hamil

  6. Kai sm chen gentle banget sih makin cinta deh ❤❤
    Plis sehun itu pertanyaan terakhirnya lebih susah dr soal un hun -___- kls 2 sma aja udh minta anak, gmn nanti kuliah 😧 >> akibat pernikahan dini hmm

    Daebaklah ini ceritanya 👍

  7. Untung aja Kai dan Chen bisa menerima kenyataan… 😌😌😌 Aku udh khawatir tau… Dan aku bahagia sekali sama Se Hun dan Eun Hee… So sweet banget… 😘😘😘 Mungkin klo udh jodoh bakalan klop banget kali ya… 😊😊😊

  8. OMG sehun kalian itu masih sangat muda,,, bener bener nakal namja satu ini,,…
    jadi kasihan sama chen yang sabar yah kalian bukan jodoh jadi tidak bersama,, untuk kai juga yang sabar yah kamu pasti nemuin yeoja yang cocok dengan mu,,,

  9. Yah sehun kamu itu yah orang mah dihukum itu takut lah ini kamu malah main main,,, emang kalau udah cinta mah gak bisa digimina gimanain lagi,,, OMG sehun kalian itu masih sangat muda,,, bener bener nakal namja satu ini,,…
    jadi kasihan sama chen yang sabar yah kalian bukan jodoh jadi tidak bersama,, untuk kai juga yang sabar yah kamu pasti nemuin yeoja yang cocok dengan mu,,,

  10. ya ampun chen, kamu.. ahh!! aku gk tau mau tulis apa buat gambarin sifat mu. sehun aku dkung2 aja tpi klian kan masih klas 2 smaaaa. plis utk yg stu itu nanti2 aja deh

  11. Kai,,,kaii,,,itu karma buat lu yg sllu mainin hti cewe tpi gw sneng lu bisa nerima knytaan sma kya chen!!!
    Wahh…sehun kayak nya emng ngga sbr yahh pngen pnya anak, ingat hun elu mshh ank sklahan…..Ini lh kesalahan mnikahkan anak dibawah umum #ckckck :-V :-\

  12. Wahaa,, jongin sama chen sabar banget yaak, terbuat dari apakah hati merekaa ?? :v
    Kai sma nayoung aja yaak, kaloo chen ……. Smoga cpet dapetin yg baru :3
    Aduuh, sehun gainget umur yak, masih sma uda pen punya anak.. Hadeuuh -_-
    Ayoo.. Lanjut lanjuut ^^
    Btw, aku minta pw chap slanjutnya dong ka isan, sama chap 10 jga, gomawo~

  13. gara2 kai sih marah ke sehun padahal ada chen kan kasihan ama chennya ..semangat oppa
    gpp siih jujur itu baik walau😁😀😊😂 kenyataannya pahit

  14. Nayoung berusaha lah agar kai membuka hati untukmu. Sehun tuh ye banyak alasan banget biar nggak kena hukuman. Untungnya mereka nggak jadi berantem. Oh Sehun ingatlah umurmu nak, kau masih pelajar dan menginginkan seorang anak…😦😦 penasaran ma reaksi eunhee ya…

  15. Kai ini karakterx rada galau ya..
    Gmbr berubah2..
    Bntar hyerim bentar eunhee.. skrg kykx nayoung lg..
    Omaigaaddd
    Hahaha
    Lgi2 konflikx ringan..
    Eehh ak prasaan bca km mw end ini d chap 10 klw ga slh ya??
    Hahahaha
    Tp 14 ga panjang lhaa..
    Mlh ad potensi konflik lain lho d crita ini yg bsa km bkin jdi lebih panjang..
    Ak ga liad lg karakter minji..
    Pdhl dya antagonis bknx?
    Hyerim apkah antagonis jg?

  16. Kasian chen, kai uda ada penggantinya, lah chen? Sini oppa sma aku aja haha
    sehun eunhe bikin iri, mana sehun minta anak lagi gimana tuh si eunhee. Ff kamu enggak mengecewakan kok kak, tetep semangat nulis ya!

  17. Kai sakit bgt yaa sini aku obatin ~ Wkwkw
    Gpp sehun lagi lupa sejenak kalau dia masihh s.e.k.o.l.a.h

    ceritanya makin keren , yuk mari kita lanjuuuttttt…….

  18. mungkin memang benar ya.. kalo batas anatara benci dan cinta itu hanya sebatas kertas tipis. bisa jadi orang yg kita benci menjadi orang yg paling kita sayang..huhuh

  19. Jadi, kalau mau berpacaran harus bermusuhan dulu, ya?”
    “Bermusuhan adalah awal dari benih cinta yang tumbuh.” hahaha…

    untung Chen-kai udah nerima semuanya ‘hubungan pernikahan sehun-eunhee’.
    sehun mah gk ush dibahas. ngasih kejutan terus.
    nayoung gimana ceritanya, authornim?

  20. ‘Malaikat kecil’? 😲 Biasanya ortunya yg ngebet, lah ini anaknya… Aduh jgn salahin Sehun juga, sih.. Kenapa mereka main dinikahin aja, satu kamar lagi… bukan tunangan aja dulu, kek :/. Hunnie, gampang sih ngomong nya.. Tapi kan Eun-Hee yg pasti agak risih karena masih sekolah. SHS loh, mereka… Bukan di univ yg bisa dimaklumi! 😒… Ada bingung nya tapi seneng-seneng aja sih, Eun-Hee langsung punya anak :”v.
    Yah, si Ibu guru, kirain gak akan ganggu mereka, iya sih gak ganggu, tapi langsung di laporin 😒😅.
    ‘roman picisan’, inget apa gitu, ya 😂.

  21. Untung ajh chen dan kai bisa mengerti,, huanjerrr sehun sehun, tujuanmu itu loh inget weh kalian berdua masih berstatus pelajar kkkk ngakak yaampun..! Kira2 gima reaksi kedua orang tua mereka sama eunhee dnger keputusan sehun ini yh?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s