The Miracle in Our Life ― Chapter 1


tmol

 

 The Miracle in Our Life

ShanShoo’s Present

 

Starring EXO’s Baekhyun, OC’s Reyna, Sehun, other | genre family, friendship, slight!sad, angst, slight!romance | length chaptered | rating PG-15

Disclaimer : I just own the plot and OC’s character. So, enjoy it! And I’m sorry for many typos there 🙂

.

Everyone had to tell to God, when they needed a lot of love in their family

 

.

Prev story : Prolog

 


 

― Chapter 1 : Tell Your Wish!

 

 

Belasan anak-anak dengan bervariasi usia itu terlihat begitu ceria, kala mereka saling berkejaran di depan halaman utama Panti Asuhan Byeolbi yang mereka tempati. Kadang, beberapa di antara mereka tergelak saat melihat rekan bermainnya terjatuh, atau melakukan aksi konyol untuk menarik perhatian. Bahkan ada juga yang sampai harus menahan kencing saat aksi itu benar-benar kelewat batas. Mengharuskan diri agar segera berlari menuju kamar kecil, sebelum kembali bergabung untuk bermain.

Pakaian kotor, muka yang lusuh, serta kulit yang ditempeli debu-debu di atas halaman itu tak menyurutkan keinginan mereka untuk terus bermain. Tergelak bersama juga berbagi ceria adalah hal yang paling utama dalam hidup mereka. Iya, itu keinginan mereka. Termasuk keinginan Reyna juga, anak perempuan yang menghabiskan waktunya memerhatikan bagaimana jalannya permainan semua teman-temannya itu. Ah, kalau saja Reyna tidak sedang dalam kondisi sakit akibat bermain air hujan tempo hari, mungkin ia juga akan ikut bermain. Menghabiskan seluruh waktu siangnya bersama mereka hingga sore hari menjelang.

“Reyna, obat sebelum makannya sudah diminum?”

Suara dari ibu pemilik panti asuhan itu terdengar sampai merambat mengaliri tulang belakang Reyna. Anak perempuan bersurai sebahu itu lekas menoleh ke samping, pada wanita itu yang turut duduk di atas kursi panjang, bersamanya. Tetapi pandangannya terarah pada jendela bergorden putih transparan, tempat Reyna memerhatikan kegiatan bermain di halaman.

“Sudah, Ibu.” Sahutnya, lemas. Pun memfokuskan lagi pandangannya ke depan.

“Lalu, kenapa kau tidak istirahat?” kali ini Kim Jihyun―wanita itu― membelai sayang surai anak asuhnya, sembari menatapnya teduh. Membuat Reyna turut membalas tatapan itu seraya tersenyum kecil.

“Reyna mau melihat mereka bermain saja,” katanya, terbatuk sesaat sebelum melanjutkan. “Kalau diam di kamar rasanya jenuh sekali.”

Jihyun terkekeh pelan, alih-alih membalas keluhan Reyna. “Iya, Ibu tahu, kok. Tapi, kalau Reyna ingin cepat sembuh, Reyna harus beristirahat. Biar Reyna juga bisa ikut bermain.”

Konversasi ringan itu rupanya membuat keduanya tak menyadari, jika langit sore mulai terlihat mendung, pertanda hujan akan turun―well, mungkin saja. Juga tak menyadari jika belasan anak-anak itu telah kembali memasuki rumah dengan sisa tawa yang masih saja terdengar.

Reyna mengalihkan pandang. Menatap mereka satu persatu, hingga maniknya terpaku pada seorang anak laki-laki dengan pakaian bermainnya yang cukup kotor, tengah merangkul bahu teman sebayanya.

Dan kedua sudut-sudut bibir Reyna berjungkit naik, selagi kakinya turun dari kursi dan mengarah pada anak laki-laki itu.

“Baekhyun Oppa!” serunya kegirangan.

Baekhyun lekas menoleh pada Reyna, adik perempuannya yang terpaut usia dua tahun lebih muda darinya. Buru-buru Baekhyun mengarahkan tangan kanannya ke depan, menyuruh Reyna untuk berhenti berlari ke arahnya.

Woah… woah… berhenti di sana, Rey.” Kata Baekhyun sambil menahan tawa.

Reyna menurut. Menghentikan kedua kaki mungilnya di hadapan Baekhyun, dengan bibirnya yang mengerucut kesal. “Tapi kenapa?”

“Badan Oppa bau, Rey. Jadi, kau tidak boleh menyentuhku.”

Ucapan itu tak pelak membuat Reyna terkikik geli. Ah, benar juga. Bayangkan saja olehmu, Baekhyun dan teman-temannya yang lain telah menghabiskan waktu bermain selama berjam-jam. Dan tentu saja, bakteri-bakteri akan menempel di tubuh mereka selama itu. Membuat bau keringat terendus meskipun tidak sepenuhnya.

“Ya sudah, Oppa mandi sana!” suruh Reyna, dengan tangan kanannya yang menutup hidung, sementara tangan kiri mengibas di depan Baekhyun, menyuruhnya untuk pergi ke kamar mandi.

Di ruangan utama rumah Panti Asuhan Byeolbi itu, hanya tersisa Baekhyun, Reyna, dan juga Jihyun. Ketiganya sama-sama tergelak setelah mendengar ucapan Reyna. Jihyun pun akhirnya mendekat pada kedua anak asuhnya, menyentuh bahu keduanya bersamaan. “Baekhyun, cepatlah mandi, Ibu sudah menyiapkan makanan di ruang dapur.” Katanya, ramah, selagi tangannya terangkat, mengusak rambut gelap Baekhyun.

“Baik, Bu. Eng… kalau begitu, tunggu Oppa ya, Rey.” Baekhyun nyengir lebar, kemudian ia berlari kecil menuju kamarnya dan kamar Reyna untuk pergi membersihkan diri.

Kini, hanya tersisa Reyna dan Jihyun.

Mengalihkan pandangan kala Baekhyun menghilang dari jangkauan matanya, Jihyun berucap lembut. “Rey?”

“Iya, Bu?”

Jihyun hendak membalas, namun tak jadi, lantaran hatinya merasa tak enak untuk mengutarakannya. “Tidak, Sayang. Ayo kita ke dalam.”

Reyna mengernyit heran seolah memikirkan kiranya ucapan apa yang akan terlontar dari bibir Ibunya itu. Namun, yah, Reyna tak terlalu mempedulikannya sekarang. Tersenyum senang, Reyna mengikuti langkah Jihyun menuju ruang dapur, duduk di kursi makan sembari menunggu kakaknya dan yang lainnya selesai mandi.

― The Miracle in Our Life ―

 

Dua meja makan berukuran persegi panjang yang disatukan itu mulai ramai oleh para anak-anak. Baik anak perempuan maupun anak laki-laki, mereka sama-sama saling berbagi keceriaan kala mereka telah mendaratkan bokong di atas kursi makan. Termasuk menceritakan kembali tingkah mereka saat bermain siang tadi. Reyna pun demikian, meski ia tidak ikut bermain, tapi Reyna bisa mengobrol bersama mereka tanpa ada rasa canggung.

“Eh, kalian tahu, tidak? Tadi Taehyung pipis sedikit di celana, lho!” seru Jimin, si anak laki-laki bermata sipit yang duduk tepat di samping Kim Taehyung.

“Oh, ya?” Kim Mingyu menyahut, ia terlihat tengah menahan tawa karena tak percaya.

Yang dibicarakan agaknya nampak kesal. Dengan hati dongkol, Taehyung memukul kepala Jimin tanpa ragu.

“Aduh, jangan diberitahu siapa-siapa, dong! Kan aku sudah bilang kalau itu hanya rahasia kita berdua!” keluhnya kemudian, disambut dengan gelak tawa mereka semua.

Huuu…. Taehyung Hyung sudah besar ternyata masih pipis di celana!” ejek Hansol, si anak laki-laki berusia delapan tahun, berparas kebaratan yang dipadu dengan warna rambut cokelat alami.

Ejekan lain pun terdengar saling bersahutan, selagi Taehyung berusaha menulikan pendengarannya. Reyna yang mendengarkan hanya bisa tertawa geli. Sungguh, rasanya mungkin akan lebih menggelikan lagi kalau Reyna mengetahui hal ini kalau ia ikut bermain, bukan mendengar dari penuturan Jimin saja.

“Semuanya sudah berkumpul?” Jihyun muncul dari balik dapur sembari membawa panci berisi sup rumput laut. Disusul oleh Kim Seolhyun, anak gadisnya sekaligus seorang pengurus muda di panti asuhan itu yang juga membawa mangkuk besar berisi manisan-manisan kesukaan anak-anak.

“Baekhyun Hyung belum ke sini, Bu.” Sahut Jimin. Berhubung sedari tadi ia belum melihat Baekhyun menampakkan diri di ruang makan.

“Oh, iya, Baekhyun Oppa belum ke sini.” Reyna mendesah kesal karena ia telat menyadari hal ini. Saat Reyna hendak menyusul kakaknya itu ke kamar, Baekhyun mulai terlihat. Dengan kedua tangan sibuk mengatur rambutnya yang agak basah.

“Ayo cepat, Hyung. Kita semua lapar, nih.” Keluh Kim Taehyung, berusaha menepis rasa malunya karena ucapan Jimin tadi.

Baekhyun tersenyum alih-alih menjawab. Ia duduk tepat di samping Reyna, seperti biasa. “Maaf aku terlambat, habis airnya menyegarkan, sih. Makanya aku lama.” Katanya kemudian.

Jihyun tersenyum kecil. Ia duduk di bagian penghujung meja. Mulai mengondisikan suasana di ruang makan agar terasa lebih tenang sebelum membacakan doa.

“Baiklah, sebelum kita makan, mari kita berdoa terlebih dahulu.” Ujar Kim Jihyun seraya menyatukan kedua telapak tangan di atas meja.

Doa pun akhirnya terlantun dalam hati masing-masing selama beberapa jenak. Ketika doa mereka selesai dipanjatkan, mereka lekas mengambil nasi serta lauk pauknya ke atas piring. Menyantapnya perlahan sambil diselingi konversasi ringan.

Embusan angin sore dari balik jendela dapur terasa cukup menyejukkan. Walau setiap hari mereka merasakan hal ini, mereka tak pernah merasa bosan. Karna pada kenyataannya, menghirup dalam udara sejuk ini, berbagi keceriaan di ruang makan, serta mengukir senyum bahagia memang bukanlah hal yang membosankan.

Oppa,” Reyna memanggil pelan, menatap sisi wajah kakaknya yang tampak asyik memakan sup rumput laut kesukaannya.

Hm?” gumam anak laki-laki itu.

Oppa kenapa?” tanya Reyna keheranan. Karena sedari tadi, ia mendapati raut wajah Baekhyun yang nampak sedih. Dan sekalipun Baekhyun berusaha untuk menutupi ekspresi itu, ia tetap tak dapat menutupinya dari adiknya sendiri.

Baekhyun terkejut mendengar pertanyaan itu. Balas menatap manik Reyna, ia berucap. “Oppa tidak apa-apa, Rey. Memangnya kenapa?”

Reyna menggeleng ragu. “Tidak tahu juga, tapi… Oppa kelihatannya sedih.” Ujarnya polos.

Anak laki-laki itu kini berdeham pelan, mengusir keraguan. “Ya sudah, kita lanjutkan makannya, ya?”

Tak mau memprotes, Reyna pun akhirnya mengikuti ucapan Baekhyun. Lagipula, Reyna juga yakin kalau kakaknya memang tidak apa-apa. Dan semoga saja perasaan tak enak itu bisa cepat menghilang.

― The Miracle in Our Life ―

 

 

Pukul sebelas malam. Semua anak-anak sepertinya sudah pergi ke alam mimpi masing-masing di balik selimut yang menghangatkan tubuh. Kini, giliran hewan-hewan malam yang saling bersahutan, membelah keheningan malam yang melingkupi.

Tidak. sebenarnya tidak semua anak-anak telah pergi ke alam mimpi. Masih ada satu anak lain yang masih terjaga dari tidurnya.

Dia Baekhyun. Anak laki-laki berusia sembilan tahun yang telah menghuni bangunan panti asuhan ini semenjak ia berusia dua tahun, sementara Reyna barusaja terlahir ke dunia.

Ia nampak murung, kendati ia berusaha untuk menutupinya. Takut jika ada temannya terbangun dan mengetahui bagaimana ekspresi wajah Baekhyun saat ini, seperti Reyna yang bisa menebaknya dengan mudah.

Selama matanya tak dapat merasakan kantuk, Baekhyun memutuskan untuk turun dari tempat tidur bertingkat―ia tidur di kasur bagian atas― dan duduk pada kursi yang terletak di depan jendela kamar yang ia buka lebar-lebar. Membiarkan udara dingin di malam hari menghantam tubuhnya yang hanya dibalut kaus putih lengan pendek dan juga celana panjang training berwarna cokelat muda. Maniknya terlihat menerawang ke depan, pada gelapnya suasana di bagian belakang bangunan panti asuhan. Tempat di mana jalan setapak terbentuk di sana.

Baekhyun menghela napas. Frekuensi gusar dalam dadanya kian meningkat. Terkadang ia harus bisa berusaha menahan laju cairan bening yang bersumber dari kedua mata sipitnya itu.

Dalam benaknya itu, banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang sepertinya tak akan pernah memiliki jawaban. Padahal, Baekhyun ingin satu saja dari beragam pertanyaan dalam benaknya bisa terjawab.

Seperti…

Benarkah kedua orang tua mereka yang sesungguhnya telah tiada?

Iya, pertanyaan itu. Pertanyaan itu adalah pertanyaan yang paling mengganggu benaknya. Pertanyaan yang bisa saja membuatnya terlihat cengeng di depan teman-teman.

Tapi, sungguh, Baekhyun tak bisa menepis pertanyaan itu begitu saja. Karena seiring berjalannya waktu, dan seiring bertambahnya usia, Baekhyun mulai mengerti apa itu orang tua, apa itu kehangatan dalam keluarga, serta, Baekhyun ingin sekali mengetahui…

Apa marga yang ia dan Reyna miliki dari keluarganya yang sesungguhnya?

Tanpa terasa, dan tanpa bisa ditahan lagi, cairan bening itu mulai mengalir menyusuri lekuk pipi tirusnya.

Rasanya sungguh menyakitkan ketika ia tak mengetahui apa-apa mengenai hal ini.

Embusan angin malam rupanya berhasil menyentuh kulit Reyna. Membuat gadis cilik itu terbangun dari tidurnya dan menatap sumber angin. Mata bulatnya sedikit membulat kala mendapati kenyataan bahwa kakaknya itu belum tidur.

Dengan tubuh yang terasa lemas, Reyna memaksakan diri untuk bangun dari tempat tidurnya di bagian bawah―Reyna dan Baekhyun berada dalam tempat tidur yang sama. Menjaga langkahnya agar tidak membangunkan temannya yang lain, ia pun sampai ke tempat yang dituju.

Oppa,” sapa Reyna, pelan. Serta merta membuat Baekhyun terkejut bukan main. Bergegas ia mengusap kasar air matanya yang terus mengalir tanpa sepengetahuan Reyna.

“Rey, kok belum tidur?” tanya Baekhyun sembari menatap mata sayu Reyna.

“Soalnya dingin. Kenapa Oppa buka jendelanya? Lalu, kenapa Oppa belum tidur?” Reyna duduk di samping kakaknya. Menatapnya lamat-lamat hingga mendapati jejak air mata di salah satu pipi kakaknya itu.

Oppa menangis, ya?”

“Eh?” Baekhyun mengerjap, “Tidak,” Balasnya sembari menyibukkan diri mengusap jejak air mata itu.

“Kenapa Oppa selalu bohong sama Reyna?”

Pertanyaan itu berhasil membekukan pergerakan Baekhyun. Oh, Tuhan. Kenapa jadi begini?

Ekspresi Reyna sulit dibaca. Baekhyun mengerjap lagi karena ia merasa bingung harus menjawab apa.

“Rey, Oppa boleh bertanya sesuatu?” Baekhyun menatap menerawang ke arah langit malam yang dihiasi taburan bintang. Memberikan pertanyaan lagi, bukan berarti Baekhyun sedang mengelak, hanya saja ia akan menjelaskan alasan mengapa ia membohongi Reyna―meski sebenarnya ia tak berniat membohongi adiknya itu―dengan cara ini.

“Tentu.” Sahut Reyna sambil menggaruk kepalanya. “Oppa mau bertanya apa?”

Hening sejenak. Baekhyun mengembuskan napas selagi Reyna diam memerhatikannya. “Apa Reyna senang berada di sini?” tanya anak laki-laki itu, menatap netra gelap Reyna.

Reyna menelengkan kepalanya sejenak, seolah tengah memikirkan sebuah jawaban. Tapi tak lama, ia segera membalas.

“Aku senang sekali berada di sini.”

Baekhyun belum berniat untuk membalas.

“Soalnya Reyna punya banyak teman, juga punya Ibu dan Seolhyun eonni yang senantiasa menyayangi Reyna.” Nada bicara anak ini terdengar begitu ceria. Dan Baekhyun menanggapinya dengan senyuman, kendati hatinya tetap merasakan sedih.

 

Oppa juga senang, kan, berada di sini?” tanya Reyna balik, dengan kedua sudut bibir berjungkit naik membentuk senyum lebar.

Sampai detik ini pun, Baekhyun belum berniat menjawab. Ia hanya mengembuskan napas seraya kembali menahan air mata. Sikap itu lantas membuat Reyna semakin keheranan. Dan merasa yakin bahwa Baekhyun memang menyembunyikan sesuatu darinya.

Oppa kenapa, sih? Kenapa menangis? Apa Reyna sudah bikin Oppa kesal?” tanyanya dengan kening mengernyit samar.

Bulir bening itu kembali menyusuri pipinya, namun Baekhyun tak peduli. Toh, Reyna juga sudah melihatnya menangis.

“Rey, Oppa…” Baekhyun membuang napasnya secara kasar. Sebisa mungkin ia menahan isak tangis agar teman-temannya tidak bangun. “Oppa sedih karena… Oppa ingin bertemu dengan orang tua kita yang sebenarnya.”

Lho?” kedua alis Reyna saling bertautan. “Bukannya… orang tua kita sudah meninggal, ya? Makanya ada keluarga dari mereka yang menitipkan kita di sini, seperti yang Ibu tuturkan?”

Baekhyun menggigiti bibir bawahnya, “Iya, Oppa tahu, Rey. Hanya saja, Oppa merasa rindu pada mereka. Oppa juga ingin merasakan bagaimana kasih sayang orang tua.” Ujarnya, dengan kepala menunduk sedih.

Sebuah sentuhan lembut mendarat di bahu kanannya. Oh, rupanya Reyna tengah berusaha memeluk tubuh Baekhyun. Bibirnya lantas mengulas senyum kecil, dan mulai merangkai kata. “Oppa jangan sedih lagi, ya? Bukankah sekarang kita sudah merasa bahagia berada di sini?”

Air mata Baekhyun terus mengalir, sebisa mungkin Baekhyun mengusapnya hingga tak bersisa. Dibalasnya dekapan hangat adiknya itu sebentar, sebelum maniknya kembali terarah pada taburan bintang di langit malam. “Banyak bintang, tuh. Reyna punya permohonan?”

“Permohonan?”

Baekhyun mengangguk.

Hm… apa, ya?” kata Reyna sembari ikut menatap langit.

Baekhyun terkekeh geli, “Tidak usah diberi tahu, kau ucapkan saja dalam hati.” Ujarnya sembari mengacak surai Reyna.

“Oke.” Reyna mengangguk mengerti. “Oppa juga punya permohonan, ya?”

“Tentu.”

Keduanya benar-benar memusatkan perhatian pada sang bintang malam. Mengukir senyum di bibir seraya menyatukan kedua telapak tangan di depan dada. Mulai membuat permohonan yang―semoga saja― dapat terkabulkan.

Baekhyun mulai memejamkan mata, diiringi air mata pada salah satu mata kirinya di saat ia membisikkan sebuah permohonan;

“Aku harap, semoga aku bisa merasakan indahnya memiliki keluarga yang utuh, seperti yang kuinginkan selama ini.”

Begitu pun dengan Reyna. Anak perempuan ini turut memejamkan mata, dihiasi dengan senyuman manisnya, ia mulai membisikkan permohonannya dalam hati;

.

.

.

.

“Reyna hanya ingin selalu bahagia bersama Baekhyun Oppa.”

― The Miracle in Our Life ―

 

 

Pagi mulai menjelang. Aktivitas para anak-anak kembali dilakukan seperti biasa; bergiliran untuk pergi mandi, saling menunggu semua anggota keluarga sebelum mulai sarapan pagi, lalu mulai membereskan ruangan-ruangan sebelum pergi menuju sekolah.

Kala Reyna dan Baekhyun telah bersiap menuju sekolah, Kim Jihyun datang menghampiri mereka berdua dengan mimik wajah yang tak dapat dibaca.

“Baekhyun, Reyna, bisakah Ibu bicara dengan kalian berdua?”

.

.

.

Ketiganya kini duduk di kamar yang ditempati Reyna dan Baekhyun, berhubung anak-anak yang lain telah berpamitan untuk pergi ke sekolah. Jihyun memilih duduk di antara kedua anak itu. Ada tatapan waswas tercipta dari manik keduanya kala Jihyun terlihat gusar. Berkali-kali Jihyun menggigiti bibir bawahnya, berkali-kali juga ia menghirup napas dalam dan mengeluarkannya dengan tenang.

“Baek, Rey, kuharap kalian tidak terkejut mendengar ini.” Jihyun memulai, menumpukan pandangan pada kedua anak itu, harap-harap cemas.

“Memangnya Ibu mau bicara apa?” ini suara Reyna, anak perempuan itu sepertinya tak sabar ingin mendengar pembicaraan ibunya.

Sementara Jihyun berdeham pelan kala Baekhyun menatapnya intens.

“Hari ini… akan ada yang datang berkunjung dan… berniat untuk mengadopsi kalian berdua.” Suara Jihyun bergetar, nyaris menumpahkan tangis kalau saja Baekhyun tidak segera menyahut.

“Mengadopsi kami?” manik Baekhyun melebar, begitu juga Reyna yang nampak terkejut setelah mendengarnya.

Jihyun hanya mengangguk.

“Adopsi itu apa, Bu?” tanya Reyna seraya mengernyit heran.

Ucapan polos Reyna membuat Jihyun sedikit terkekeh, “Adopsi itu, kau akan mendapatkan kedua orang tua baru.”

Sontak saja Reyna terhenyak. Menatap Jihyun lamat-lamat sebelum ia membalas. “Dapat orang tua baru, ya?” ucapnya, lebih kepada diri sendiri.

Reyna mencuri pandang ke arah kakaknya. Baekhyun, anak laki-laki itu nampak berbinar. Tanpa perlu dikatakan, Reyna tahu bahwa kakaknya itu memang menginginkan hal ini. Terbukti dari bagaimana Baekhyun memberikan ekspresi sumringah seraya menahan senyuman di bibirnya. Juga bagaimana Baekhyun menanggapi perkataan Jihyun dengan antusiasme yang tinggi.

Satu sudut bibir Reyna kini terangkat, memerlihatkan senyum samar.

“Kalau kami diadopsi, bukankah itu berarti… kami akan mendapatkan kasih sayang dari orang tua baru kami?”

Pertanyaan itu refleks membuat Baekhyun menoleh pada si penanya, Reyna. Mimiknya mulai berubah, senyumannya tak lagi mengembang setelah mendengar pertanyaannya.

“Tentu saja, Sayang.” Jawab Jihyun kemudian.

Atensi Reyna kembali pada Baekhyun. Penuturan singkat Jihyun barusan rupanya sudah cukup membuat Reyna dan Baekhyun mengerti.

“Kau dengar itu, Oppa? Kita akan punya orang tua baru serta kasih sayang yang melimpah dari mereka.” Ujar Reyna, senang. Menggoyangkan satu tangan kakaknya sembari mengukir senyum lebar.

U-umm... tapi, apa Reyna benar-benar merasa senang?” tanya Baekhyun, waswas.

Yap!” Reyna mengangguk mengiyakan. “Karena aku juga ingin sekali merasakan apa yang diinginkan Oppa.”

Hingga pada akhirnya, ada sebuah mimik penuh kelegaan yang terlukis di paras Jihyun. Wanita berusia empat puluh lima itu mulai merengkuh tubuh mungil Baekhyun dan Reyna. Ia pun menangis tersedu di antara pundak mereka.

“Maafkan Ibu karena baru memberitahu kalian berdua.” Sesal Jihyun dengan kedua tangan terangkat mengelus puncak kepala keduanya.

Reyna membalas, “Tak apa, Bu. Aku tetap merasa senang.”

“Iya, begitupun aku,” Baekhyun menimpali, ia turut membalas pelukan hangat Jihyun.

“Baiklah.” Pelukan hangat itu berakhir. Jihyun menyeka cairan bening di kedua belah pipinya. Maniknya menatap bergantian pada Baekhyun dan Reyna. “Kalau begitu, ganti pakaian kalian, ya?”

“Eh? Kita tidak pergi ke sekolah?” tanya Reyna kemudian.

Jihyun menggeleng, “Tidak, Sayang. Beberapa menit lagi mereka akan sampai.” Ia menghela napas, “Jadi, cepat ganti pakaian kalian. Oke?”

― The Miracle in Our Life ―

 

Mobil sedan hitam mengkilap itu barusaja terparkir rapi di depan halaman utama Panti Asuhan Byeolbi. Sepasang suami istri dengan usia berkisar tiga puluh tahunan itu keluar dari mobil tersebut. Sang wanita nampak anggun mengenakan pakaian kasualnya yang berwarna krem, senada dengan warna tas tangan yang ia bawa. Sedangkan sang pria nampak tegap mengenakan kemeja putih yang dipadukan setelan jas berwarna hitam. Rambut cepaknya yang hitam pun seakan menambah kesan menawan dalam dirinya.

Kim Seolhyun membuka pintu utama panti. Memberikan senyuman seramah mungkin pada mereka yang turut membalas senyumannya.

“Selamat datang, tuan dan nyonya Oh.” Seolhyun membungkuk hormat, membiarkan kekehan ramah terlontar dari bibir Oh Daemin, sang pria.

“Terima kasih.” Kata Oh Sooyeon saat Seolhyun menegakkan kembali tubuhnya.

“Ibu sudah menunggu Anda berdua di dalam.” Ucap Seolhyun tanpa menghilangkan lekuk ramah di wajahnya.

“Baiklah.”

Daemin, Sooyeon, serta Seolhyun melangkah ke dalam bangunan panti yang cukup besar itu. Meskipun ada beberapa bagian dinding yang catnya terkelupas, serta bangunannya tak sekokoh puluhan tahun lalu, bangunan ini tetap terlihat bagus. Menyusuri lorong-lorong pendek, akhirnya mereka bertiga sampai di ruangan keluarga. Tempat di mana Jihyun, Baekhyun dan Reyna duduk di atas kursi berdampingan.

Adalah Jihyun yang pertama bangkit berdiri untuk menyapa Daemin dan Sooyeon.

“Apa kabar, Tuan, Nyonya?” sapa Jihyun sembari membungkuk hormat.

“Oh, Ya Tuhan, kau tak perlu seformal ini pada kami, Jihyun­-ssi.” Ujar Sooyeon, lantas merengkuh tubuh Jihyun ke dalam pelukannya.

Seolhyun berdiri di antara Baekhyun dan Reyna, mengusap pelan surai mereka karena gemas.

“Kalian nampak sangat cantik dan tampan hari ini.” Bisik Seolhyun, dibalas dengan senyum lebar milik Reyna.

Nuna juga cantik, omong-omong.” Balas Baekhyun ketika kepalanya mendongak untuk menatap wajah Seolhyun.

“Terima kasih, Baek.”

“Oh, kemarilah, Sayang.” Sooyeon mengulurkan kedua tangannya pada Baekhyun dan Reyna. Jangan lupakan bagaimana hangatnya mimik yang tercetak di wajah tirusnya. Mendapati hal itu, keduanya terlihat ragu untuk menghampiri Sooyeon. Namun dengan cepat, Seolhyun mendorong pelan bahu mereka.

“Ayo, hampiri.” Ujar Seolhyun, nyaris berbisik.

Hingga pada akhirnya, Reyna lah yang pertama menghampiri dan mendarat ke dalam pelukan hangat Sooyeon. Merasa nyaman, Reyna mengumbar senyum penuh kenyamanan di bibirnya.

Aigoo, tubuhmu kurus sekali, Sayang.” Sooyeon terkekeh pelan, “Baekhyun, kemarilah, biar kupeluk kau.”

Yang dipanggil kini melangkah lambat. Darahnya berdesir cepat, diiringi dengan detakan jantungnya yang tak beraturan. Ia juga merasa ada sesuatu yang bergejolak dalam dadanya. Perpaduan perasaan senang, bahagia, dan penuh kelegaan ini sungguh membuatnya tak dapat menahan lengkungan senyum manis di bibirnya.

Dan ketika Baekhyun berada tepat dalam pelukan Sooyeon, ia mulai merasakan bahwa… perasaan bahagia ini sungguh tak dapat ditampik.

“Oh, ya, namamu benar Baekhyun, kan?” tanya Sooyeon, ia berjongkok untuk menyejajarkan tatapannya dengan Baekhyun dan Reyna.

“I-iya.” Sahut Baekhyun, gugup.

Sooyeon tersenyum senang, “Kalian berdua benar-benar anak yang manis. Benar, kan, Yeobo?”

Daemin lekas mengangguk mengiyakan. “Benar, Yeobo.”

Tawa ringan mulai terdengar. Kendati demikian, bulir bening itu tetaplah ada. Secepat mungkin Jihyun menyekanya. “Nah, tuan Daemin dan nyonya Sooyeon adalah kedua orang tua baru kalian. Ibu berharap semoga kalian berdua selalu bersikap baik pada mereka.” Ujarnya di sela isak kecil.

Baekhyun dan Reyna tak dapat membiarkan ibu asuhnya menangis. Maka, secara bersamaan keduanya berhambur memeluk Jihyun dengan erat.

“Ibu, jangan menangis.” Reyna terisak pelan, menenggelamkan wajah mungilnya di perut Jihyun.

“Tidak, Sayang. Ibu tidak menangis. Ibu hanya… hanya merasa senang karena akhirnya kalian mendapatkan kebahagiaan besar yang kalian nantikan.” Jawab Jihyun, isak tangisnya masih saja terdengar.

“Sudahlah, kalian juga jangan menangis, ya?” Jihyun berjongkok dan menatap keduanya bergantian. Ucapan itu dibalas oleh anggukan pelan oleh keduanya.

.

.

.

Baekhyun mematung selama beberapa jenak di depan bangunan panti. Maniknya menelusuri seluruh sudut-sudut bangunan itu tanpa terkecuali. Mengenang kembali kenangan indah yang telah ia ukir di sini bersama dengan Reyna dan teman-temannya. Terlalu larut dalam lamunan, Baekhyun tak mengikuti beberapa perbincangan singkat yang terlontar dari kedua orang tua barunya, Jihyun, Seolhyun, dan juga Reyna.

“Ibu,” Reyna menarik ujung pakaian Jihyun, membuat wanita itu menundukkan kepalanya.

“Iya, Sayang?”

“Kalau teman-teman kami sudah pulang, jangan lupa sampaikan salam dari kami berdua untuk mereka, ya?” pinta Reyna, ada raut sedih yang tercipta di wajahnya.

Jihyun mengangguk. “Tentu, Ibu pasti akan menyampaikannya. Lagipula, pintu rumah ini akan selalu terbuka untuk kedatangan kalian berdua.” Ujarnya sembari mengelus puncak kepala Reyna dan Baekhyun bergantian.

“Baiklah. Kalau begitu, bisakah kita pergi sekarang, Baek, Rey?” tanya Sooyeon. Membuat lamunan Baekhyun memudar seketika, sementara Reyna menanggapinya dengan senyuman lebar.

“Iya.” Ujar Reyna, senang.

Suara tawa ringan Daemin mulai terdengar. Pria itu lantas menatap Jihyun. “Terima kasih, Ji. Jangan khawatir, kami pasti bisa menjaga mereka dengan baik.”

Umm, aku percaya, Tuan.” Balas Jihyun kemudian.

Hingga pada akhirnya, selang beberapa detik kemudian, mereka berempat mulai melangkah meninggalkan bangunan panti menuju mobil sedan yang terparkir di depan halamannya. Ada isak tangis yang menghiasi langkah-langkah kecil Reyna, sepertinya anak perempuan ini merasa berat untuk meninggalkan keluarganya itu. Sesekali ia melihat ke belakang, pada Jihyun dan Seolhyun yang tengah melambaikan tangan, tanda perpisahan. Reyna membalas lambaian itu, sebelum kembali menatap ke depan dan memasuki kursi mobil di bagian belakang bersama dengan kakaknya, Baekhyun.

― The Miracle in Our Life ―

Butuh waktu tiga puluh menit lamanya perjalanan menuju ke Apgujeong, tempat di mana kediaman keluarga Oh berada. Mobil itu lantas mulai memasuki halaman luas rumah itu setelah pagarnya yang menjulang tinggi dibuka oleh penjaga di sana. Manik Baekhyun terlihat semakin berbinar, selagi bibirnya terus menggumam kalimat berisi pujian yang ditujukan untuk rumah barunya. Begitupun Reyna, nampaknya anak perempuan itu tak bisa berhenti untuk tersenyum dan berteriak-teriak kecil. Terlebih ketika ia melihat ada kolam ikan dengan airnya yang jernih, yang terletak di bagian samping kanan halaman.

Akhirnya, mobil itu berhenti tepat di depan rumah. Daemin mematikan mesin mobilnya, lalu menoleh ke belakang, pada kedua anaknya yang masih belum kembali ke alam nyata.

“Kita sudah sampai, Anak-anak.” Katanya dengan nada berat yang terdengar ramah.

Mereka tak lantas menyahut karena masih asyik mengagumi setiap sudut pekarangan rumah barunya yang sungguh-sungguh indah.

Sooyeon terkikik geli melihat gelagat mereka berdua. “Ayo kita keluar, Sayang. Masih ada seseorang yang menunggu kedatangan kalian.” Ujarnya kemudian. Dan untungnya, ucapan itu berhasil membuat keduanya mengerjap bersamaan, lalu terkekeh malu.

“Baik.” Sahut Baekhyun. Anak laki-laki itu mulai membuka pintu mobil, sedangkan Reyna hanya tinggal melangkah keluar karena telah dibukakan oleh Sooyeon.

“Wah, rumahnya benar-benar bagus! Reyna suka!” puji anak perempuan itu, kegirangan. Ah, Reyna sangat menggemaskan. Bahkan Sooyeon tak ragu untuk mencubit pipi kanan Reyna saking gemasnya.

“Ayo kita masuk.” Kata Sooyeon. Reyna berjalan beriringan bersama wanita itu, sementara Baekhyun bersama Daemin.

Kedua daun pintu utama itu terbuka lebar oleh seorang maid di dalamnya. Adalah sang wanita paruh baya yang membungkukkan badannya, memberi hormat seraya mengucap sapa.

Membalas sapaan hangat wanita itu, Sooyeon dan Daemin lekas membawa kedua anak mereka ke dalam rumah. Namun kala dering ponsel milik pria itu terdengar, ia segera menyerahkan Baekhyun pada istrinya. “Yeobo, aku harus menerima panggilan telepon dari perusahaan.”

Sooyeon mengangguk mengerti, ia meraih tangan Baekhyun dengan tangannya yang bebas, dan membawa kedua anak itu ke dalam ruangan.

“Nah, kalian duduk di sini, ya. Ibu mau memanggil Sehun dulu.”

Refleks Reyna menaruh atensi pada Sooyeon. “Sehun? Dia itu siapa?” tanyanya, polos.

Sooyeon tersenyum kecil, “Dia juga anak kami, Sayang.”

Lalu, Sooyeon melangkah meninggalkan Baekhyun dan Reyna yang kini tengah duduk di kursi sofa panjang di ruangan tengah. Membiarkan mereka memanjakan mata dengan berbagai pernak-pernik serta dekorasi rumah yang sungguh menakjubkan. Baekhyun sendiri tak tahu apa saja nama-nama barang yang terletak di ruangan itu. Yang ia tahu, barang-barang di sana adalah barang mahal, dan Baekhyun tak boleh sembarangan untuk menyentuhnya.

Oppa, sebenarnya ini rumah atau istana? Kenapa besar sekali? Sepertinya rumah kita sebelumnya kalah besar, deh.” Celotehan Reyna agaknya membuat Baekhyun terkekeh. Ucapan Reyna ada benarnya juga.

“Sepertinya ini istana yang disulap menjadi rumah.” Sahut Baekhyun asal.

“Masa iya?” Reyna mengerjap tak percaya.

“Iya.”

Konversasi itu terhenti, ketika pendengaran mereka mendapati derap langkah dua orang yang mendekat ke arah mereka. Oh, rupanya itu Sooyeon dan… siapa tadi?

Sooyeon datang dengan seorang anak laki-laki yang sepertinya berusia sebaya dengan Baekhyun. Bedanya, anak itu memiliki kulit putih pucat, berperawakan tinggi serta berambut agak pirang yang membuatnya terlihat tampan. Tetapi, wajah anak laki-laki itu sama sekali tak menunjukkan antusias tinggi untuk bertemu dengan mereka, seperti mereka berdua yang ingin sekali bertemu dengan anak itu.

“Sehun-ah, Ibu sudah mendapatkan dua anggota keluarga kita yang baru. Jadi, ayo, Sayang, perkenalkan dirimu.” Ujar Sooyeon, dengan tangan kanannya yang mengusap lembut bahu Sehun.

Namun anak laki-laki itu tak mengikuti apa yang ibunya katakan. Ia hanya terdiam, dengan sorot mata tajam yang menatap Reyna dan Baekhyun bergantian.

“Sehun?”

“Hai, Sehun Oppa!” kendati demikian, Reyna lah yang memutuskan untuk memperkenalkan diri pertama kali. Tentunya dengan sepasang sudut bibir yang berjungkit naik, membentuk senyuman lebar. “Namaku Reyna. Senang bisa bertemu denganmu.” Katanya seraya mengulurkan tangan kanan ke arah Sehun.

Keheningan mulai menyapa. Sehun tak sedikitpun tertarik untuk membalas jabat tangan Reyna. Ia hanya menatap tangan itu datar sambil berdecak kesal.

“Sehun-ah,” Sooyeon berseru. Agaknya wanita itu sedikit kesal karena perlakuan Sehun terhadap keluarga baru mereka.

“Ibu, bukankah sudah kubilang,” Sehun menghela napas panjang, “kalau aku tidak mau Ibu mengadopsi anak?”

Rasanya, ada sebuah palu besar yang menghantam dan menghancurkan hati Reyna. Karena detik setelah ia dan Baekhyun mendengar ucapan itu, ia tak lagi menunjukkan raut bahagia di wajahnya. Melainkan ada cairan bening yang menganak di kedua bola matanya. Tangan kanannya pun turun perlahan, menundukkan kepalanya untuk menutupi kesedihan yang kentara. Menyadari hal itu, Baekhyun segera merengkuh bahu Reyna untuk menenangkannya, menepis jarak di antara mereka. Sedangkan tatapannya begitu nyalang pada si pemilik nama Oh Sehun yang berdiri di depannya.

“Oh Sehun, jangan berbicara seperti itu!” ujar Sooyeon, tak habis pikir. Sedangkan Sehun hanya menunjukkan tatapan tak peduli.

“Terserah,” Sehun mengedikkan bahu kanannya. “Tapi yang jelas,”

Kalimat Sehun terdengar menggantung. Membuat ketiga orang yang ada di dalam ruangan itu terdiam menunggu kelanjutan ucapannya.

“Aku tidak menerima kehadiran mereka berdua di rumah ini!”

.

.

.

.

-To Be Continue-


 

Yeah, akhirnya chapter 1 udah Isan publish. Gimana? Apa kurang memuaskan? Gaje? Belibet? Haha maapkeun Isan, ya. Akhir-akhir ini Isan agak lupa gimana nulis FF sesuai dengan ciri khas //cieee// yang Isan punya :””

Kritik dan saran aku terima, asal jangan bikin penulisnya drop aja :’3

See U in the next chapter, Guys! And I still need your comment :’)

//aku gak janji bisa apdet kelanjutan FF ini secepatnya, karena aku udah balik lagi ke kesibukan sebagai mahasiswi di semester 4// :’)

Iklan

29 comments

  1. Seru dan memuaskan. Aku suka banget sama alur ceritanya. Entahlah aku harus komen apa, Aku bingung banget. Kebayang gimana perasaan si byun saat si ohseh datang. Amit banget. Tapi aku tau lah gimana akhirnya 😀 😀 maaf telat komen kaka ku :-*

  2. ih sehun jahat, masa nggak mau nerima mereka, ntar nyesel lho….. okay, akhirnya meluncur jg chap 1 nya, oya , keliatannya isan lg suka ama kata ‘konversasi’ ya? kekeke…nggak pa2 sih, tapi kdg reader ada yg nggak tau arti kata itu but it’s okay, bisa nambah pengetauan. alurnya bagus , pingin sih mereka cepet2 gede 🙂 and love story begin. nice story n good luck for u, keep writing, fighting!

  3. Kalo Sehun jangan di tanya deh,udah dari sananya dingin dan menjengkelkan!!! Sabar ya Baek dan Ryena juga!! Kyaknya aku belum baca prolognya,maafin….

  4. sehun songong, ngeselin banget. isk.. pengen cubit >.<
    baekhyun ama reyna kayaknya harus lebih sabar ya hadapin sehun ke depan.
    kalo cerita ginian mungkin aku bakal terus nangis deh. ini aja udah nangis. mudah baperan, nggak kuat bacanya 😥 tapi aku suka banget ceritanya.
    ditunggu kelanjutannya ya!!!

  5. akhirnya mereka di adopsi sama orang tuanya sehun, tapi kenapa sehun kaya gitu ? aku baru baca chapter 1 belum chapter 2 nya mau next baca chapter 2….

  6. keren ceritany dan juga seru..akhirnya mereka diadopsi sma orng tua sehun tpi sayangnya sehun mlah gk suka atas kedatangan mereka…

  7. Woaah harapan Baek dan Reyna terkabul hihi ada jg yg mau mengadopsi mereka hihi.
    Aah jd nanti merekaa sodaraan sm Sehun, yaampun blm apa2 Sehun udah ngeselin ngomongnya tajem. Yassalam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s