The Miracle in Our Life ― Chapter 2


tmol

The Miracle in Our Life

ShanShoo’s Present

 

Starring EXO’s Baekhyun, OC’s Reyna, Sehun, other | genre family, AU, friendship, slight!sad, angst, slight!romance | length chaptered | rating PG-15

Disclaimer : I just own the plot and OC’s character. So, enjoy it! And I’m sorry for many typos there 🙂

.

Everyone had to tell to God, when they needed a lot of love in their family

 

.

Prev story : [Prolog] [Chapter 1 : Tell Your Wish]

.

― Chapter 2 : Pretend

 

.

 

 

“Aku tidak menerima kehadiran mereka berdua di rumah ini!”

Dua detik setelah Sehun mengutarakan hal itu, Reyna mulai terisak. Demi apapun, ucapan Oh Sehun sungguh membuat Reyna merasa sakit hati. Dadanya begitu sesak, hingga ia merasa tak mampu bernapas dengan normal.

“Oh Sehun―”

“Kami akan pergi, kalau kau memang tidak menerima kehadiran kami di sini.” Baekhyun segera memotong ucapan Sooyeon. Tatapannya sarat akan emosi. Namun yang ditatap hanya mengedikkan bahunya acuh tak acuh.

“Tidak tidak, Sayang. Tentu saja kami menerima kalian berdua.” Sooyeon menghela napas lelah. “Oh Sehun, berhentilah bersikap kekanakan. Kau juga tak boleh berbicara seperti itu pada saudaramu.”

“Saudara?” Sehun menaikkan sebelah alisnya. “Aku tidak punya saudara, Ibu.” Netranya kembali bergulir pada Baekhyun. “Masa iya, aku punya saudara kumuh seperti mereka?”

Oppaaa….” dan Reyna menangis sejadinya. Sang kakak yang berdiri di sampingnya lekas merengkuh erat tubuh mungil sang adik yang bergetar. Diusapnya puncak kepala Reyna, guna menenangkan tangisannya. Karena sungguh, Baekhyun tak bisa mendengar adiknya menangis seperti ini. Ia hanya ingin Reyna selalu tersenyum ceria seperti biasanya.

“Jangan menangis, Rey,” bisik Baekhyun. “Kita kembali ke panti saja, ya?”

Reyna mengangguk kecil, sementara fokusnya terarah pada Sehun. “Iya, Oppa. Aku tak mau tinggal di sini kalau dia membenci kita.” Ucapnya dengan suara cukup parau.

“Tidak, Sayang. Tolong dengarkan aku.” Sooyeon berjongkok di hadapan keduanya. Mimiknya terlihat berusaha seramah mungkin, kendati dadanya turut merasakan sesak. “Baekhyun, Reyna, kalian berdua adalah anakku, anak kami. Maka dari itu, kumohon, jangan kembali ke panti, ya? Kami berjanji, akan selalu membahagiakan kalian.” Ujarnya seraya mengusap puncak kepala Baekhyun dan Reyna.

“Apakah ibu tidak mau menanyakan bagaimana perasaanku?” adalah Sehun yang berujar di tengah keheningan selama beberapa jenak. Rupanya, anak laki-laki itu juga nampak tengah menahan tangis. Dilihat dari bagaimana cairan bening yang menganak di kedua bola matanya.

Sooyeon menoleh lambat. Di belakangnya, Sehun tengah mengepal kedua tangan. Anak laki-laki itu menggigit bibir bawahnya cukup keras.

“Oh Sehun,” Sooyeon beralih menghadap ke arah Sehun. Menyentuh kedua bahu tegapnya, Sooyeon melanjutkan, “Ibu tahu bagaimana perasaanmu, Sayang. Tapi, bisakah kau mendengarkan keinginan kami? Tolong, hanya kali ini saja, ikuti apa yang Ibu dan ayah inginkan, hm?”

Manik anak laki-laki itu benar-benar terpaku kala mendapati adanya bulir bening yang menyusuri lekuk pipi Sooyeon. Sehun tak tahu harus berkata apa sekarang jika ia sudah dihadapkan dengan situasi di mana ibunya harus menitikkan air mata. Maka, tanpa berkata apapun lagi, Sehun lekas memeluk tubuh ibunya seraya menangis tertahan.

Mianhae.” Ujar Sehun, nyaris berbisik di tengah suara paraunya.

Umm, tidak apa-apa, Sayang.” Sooyeon tersenyum lega. Maniknya bergulir menatap Baekhyun dan Reyna, lalu memberi mereka berdua senyuman menenangkan.

Reyna mengerjap kala mendapati tatapan dan senyuman itu. Ia lantas menoleh pada Baekhyun, menyikutnya pelan untuk bertanya, “Ada apa, Oppa?”

Pertanyaan itu serta merta membuat Baekhyun menoleh. Maniknya bersirobok dengan manik milik Reyna. Menaikkan satu sudut bibirnya, Baekhyun lekas berkata.

“Sepertinya, Sehun sudah bisa menerima kehadiran kita di sini, Rey.”

Dua sudut bibir anak perempuan itu mulai tertarik ke atas, membentuk seulas senyum penuh kelegaan yang nampaknya mulai menguasai hatinya. Maniknya lantas beralih pada Sooyeon dan Sehun yang kini mulai melepas pelukan. Menatap satu sama lain sembari mengusap lelehan air mata di pipi Sehun.

Tepat setelah situasi tak mengenakkan itu telah berakhir, Daemin datang dari arah luar sembari menggenggam ponselnya. Sedikit terkejut kala mendapati tatapan yang sama dari keempat orang di ruangan tengah. “Ada apa ini?” tanya pria paruh baya itu kemudian, yang langsung disambut oleh kekehan ringan keempatnya.

“Tidak ada, Yeobo.” Sooyeon menggeleng. “Aku baru saja memperkenalkan Sehun pada Baekhyun dan Reyna.” Ujarnya, menjelaskan. Sementara kedua tangannya bergerak mengusap bahu ketiga anak-anak di hadapannya.

“Benarkah?” Daemin menatap anak laki-lakinya, Oh Sehun. Matanya sedikit memicing. Merasa ada suatu atmosfer yang membuat dirinya tak nyaman. Sembari otaknya berpikir, apakah Sehun memang telah menerima kehadiran dua saudara barunya itu seperti yang Sooyeon katakan?

“Aku menerima kehadiran mereka, Ayah.” Adalah suara Sehun yang menyeruak di tengah keheningan. Kendati hatinya tetap merasakan gusar, Daemin tetap memperlihatkan satu senyum kecil di bibirnya.

“Ayah lega mendengarnya, Nak.” Balas Daemin, dengan kedua tungkai mengayun ke arah Sehun. Mengusap puncak kepala anak itu dihiasi kekehan kecil.

Yeobo, apakah bibi Song sudah menyiapkan kamar untuk mereka?” pria itu bertanya pada istrinya. Sooyeon menoleh menatapnya, lalu mengangguk mengiyakan.

“Bibi Song sudah menyiapkannya.” Sooyeon menghela napas. “Sehun, maukah kau mengantar kedua saudaramu untuk melihat kamarnya? Ibu harus membantu urusan dapur bersama dengan bibi Han.” Ujarnya, mengusap rambut Sehun penuh kasih sayang.

Sehun hanya mendongak, alih-alih menjawab. Menggigit bibir bawahnya sejenak, Sehun beralih pandang pada ayahnya yang tersenyum sambil mengangguk, lalu pada Baekhyun dan Reyna yang tengah menatapnya dengan perasaan waswas yang masih melingkupi.

“Ya, Ibu.” Akhirnya, Sehun menjawab. Menjauhkan diri dari ibunya untuk menghampiri kedua saudaranya. “Ayo, kita ke kamar kalian.” Ajaknya dengan mimik wajah ramah.

Reyna terperangah tak percaya. Karena sebelumnya, ia hanya mendapati ekspresi tak ramah yang ditunjukkan Sehun pada ia dan kakaknya. Buru-buru Reyna mengerjap untuk mengeyahkan segala pemikiran buruk barusan. Seolah baru mengingat realita yang ada, bahwa Sehun telah menerima kehadirannya dan Baekhyun di rumah ini.

“Ayo!” ajak Sehun sekali lagi karena keduanya hanya diam memerhatikan.

Sedikit terperanjat, Baekhyun lekas mengangguk. “Ayo, Rey.” Tangan kanannya meraih tangan kiri Reyna, membawa gadis kecil itu bersama-sama untuk melihat kamar baru mereka.

Sehun membawa mereka berjalan ke arah tangga. Anak laki-laki itu yang memimpin jalan, sementara Baekhyun dan Reyna berada di belakangnya. Jangan lupakan bagaimana tatapan keduanya ketika mendapati banyaknya lukisan yang terpajang di setiap dinding rumah. Gumaman penuh kagum pun terdengar kala Reyna melihat ada satu lukisan anak perempuan yang tengah memainkan biola penuh dengan penghayatan. Tersenyum kecil, Reyna lekas berkata, “Semua lukisannya bagus.”

Akhirnya mereka tiba di lantai dua. Dan Sehun yang mendengar pujian itu hanya bisa memulas senyum kecil, tak ada niat untuk membalasnya.

Kaki jenjang Sehun kembali merajut langkah, diikuti dengan langkah-langkah lambat dua orang di belakangnya yang tak lelah untuk terus memberikan pujian. Sesaat kemudian, Sehun segera memutar kenop pintu kayu sebuah kamar yang terletak di ujung ruangan. Pintu pun terbuka lebar. Wangi aroma pengharum ruangan juga turut menyesaki indera penciuman ketiga orang yang berdiri di ambang pintu.

Tak ada pembicaraan. Tetapi Reyna lekas menyerobot masuk ke dalam kamar barunya sembari tertawa bahagia.

“Waah… kamarnya bagus dan… wangi!” puji anak berusia tujuh tahun itu tak henti-hentinya.

Reyna memutar badannya dengan kedua tangan terentang di sisi tubuh, memejamkan matanya, lalu menghirup sedalam-dalamnya wangi pengharum ruangan beraroma jeruk di sana. Kemudian Reyna berhenti memutar tubuh. Giliran kedua matanya yang mulai menjelajahi seluruh isi kamarnya dengan pandangan berbinar. Dalam kamarnya itu ada satu set meja belajar kayu dan kursinya, jangan lupakan lampu belajar yang terletak di sisi meja. Tempat tidur berukuran sedang dengan sprei berwarna merah muda dan bergambar Piglet. Lemari pakaian yang terletak di sudut ruangan, serta dua daun jendela kamar berukuran besar yang mengarah pada taman di belakang rumah. Semua hal-hal itu tak pelak membuat Reyna terus mengukir senyum bahagia. Ini adalah kali pertama ia merasakan bagaimana indahnya memiliki kamar tanpa harus berbagi dengan banyak anak-anak seperti di panti asuhan saat itu.

Oppa, aku sangat menyukai kamar ini!” katanya, antusias, entah ditujukan untuk siapa. Tapi Baekhyun meresponnya dengan senyum lebar dan tawa samar.

“Kamarmu ada di samping kamar ini.” Sehun memulai, menolehkan sedikit kepalanya ke arah Baekhyun yang masih berdiri di belakangnya. Mengalihkan tatapan pada rahang tegas Sehun, Baekhyun mengangguk.

Ketika Sehun hendak mengantar Baekhyun ke kamarnya, Reyna kembali bersuara,

“Tapi… bagaimana dengan pakaiannya, Oppa? Aku tidak membawa apapun kemari.”

Pertanyaan itu membuat Sehun segera menoleh pada sipenanya. “Semua kebutuhanmu ada dalam lemari.” Ia mendesah kecil, “Ibu sudah menyiapkan semuanya, omong-omong.”

“Kalau begitu, terima kasih, Sehun Oppa.” Ujar Reyna, kegirangan. Dibalas dengan senyuman kecil di bibir Sehun.

Merajut langkah lagi, namun Reyna kembali memanggilnya. Membuat desahan kecil keluar dari bibir Sehun. “Ada apa lagi?”

Reyna berjalan ke ambang pintu kamarnya. Menatap Sehun dan Baekhyun lamat-lamat, ia berujar.

“Reyna ingin bermain bersama Baekhyun dan Sehun Oppa.” Kata anak perempuan itu, malu-malu. “Jadi, nanti sore kita bermain, ya?”

“Reyna-ya,” Baekhyun mendekat untuk mengusap puncak kepala adiknya. “Sehun pasti kelelahan hari ini. Jadi, kau main sama Oppa saja, ya?” ujarnya sambil melirik sekilas pada Sehun.

Anak perempuan itu lantas memajukan bibir bawahnya. “Benarkah itu, Sehun Oppa?”

Sehun tak lekas menjawab. Ia hanya menggigiti bibir bawahnya. Namun detik berikutnya, ia membalas. “Tidak, Baekhyun bohong. Aku tidak lelah. Dan… baiklah, kita main bersama-sama.” Dihiasi dengan kedua sudut bibir yang berjungkit naik, selagi maniknya membalas tatapan Reyna.

Pembicaraan itu pun berakhir. Sehun dan Baekhyun kini berada di dalam kamar baru Baekhyun, setelah sebelumnya anak laki-laki bernama Baekhyun itu menyuruh Reyna untuk beristirahat di kamarnya.

Kali ini wangi aromanya berbeda. Aroma cokelat karamel segera menguasai indera penciuman keduanya. Sepertinya, Sooyeon memang pintar mencari pengharum ruangan. Karena buktinya, Baekhyun dan Reyna terlihat begitu menikmati aroma yang terkuar.

“Kau menyukai kamarmu?” suara Sehun terdengar merambat mengaliri tulang belakang Baekhyun. Ia lekas menoleh pada si penanya. Menatapnya tepat di manik mata.

“Ya, aku sangat menyukai kamar ini.” Sahut Baekhyun, mengangguk mengiyakan. Lalu mulai mengarahkan fokus pada jendela yang menyajikan pemandangan yang sama seperti di kamar Reyna.

Sehun melangkah mendekat dan berdiri di samping Baekhyun. Ia turut menatap pemandangan itu.

Hening mulai menguasai.

Hanya terdengar bunyi detik jarum jam dinding di dalam kamar itu.

Baekhyun melirikkan matanya secara hati-hati ke arah Sehun. Anak laki-laki itu hanya diam saja, tanpa berniat untuk menggeser posisi berdirinya, seperti patung. Hingga pada akhirnya, Baekhyun menguarkan satu desahan napas panjang dari bibir. “Terima kasih, Oh Sehun.”

Sehun menoleh pelan ketika ia mendengar namanya disebutkan. Merasa mengerti akan arti tatapan itu, Baekhyun melanjutkan. “Terima kasih karena kau telah menerima kehadiranku dan Reyna di sini, sebagai bagian dari keluarga ini, dan sebagai… saudaramu.” Katanya, diakhiri dengan senyum penuh rasa terima kasih yang terukir di bibirnya.

Menerima ucapan serta senyuman itu, Sehun hanya bisa membalasnya dengan satu anggukan kecil, tanpa sepatah katapun. Dan kini, keduanya sama-sama kembali menatap lurus pada jendela kamar. Entah pemikiran apa yang tengah menggelayuti keduanya. Tapi yang jelas, mereka sama-sama enggan untuk mengutarakannya.

― The Miracle in Our Life ―

Terhitung sudah dua tahun lamanya, keluarga Oh diselimuti kehidupan bahagia. Meskipun perdebatan kecil tak dapat ditampik, namun mereka dapat mengatasinya dengan kepala dingin dan juga pemikiran yang rileks. Karena sedari Baekhyun dan Reyna menginjakkan kaki di rumah itu, Sooyeon selalu mengajarkan mereka untuk tidak mengedepankan emosi kalau-kalau ada perdebatan yang terjadi di dalam keluarga, atau di luar lingkungan nanti.

Tawa-tawa renyah tak pernah hilang dari bibir. Pancaran binar kebahagiaan itu masih setia tertancap pada manik mata, bagai enggan menghilang dan enggan membuat permasalahan nantinya.

“Ibu, kami berangkat sekolah dulu.” Baekhyun beranjak dari kursi makan di ruang dapur menuju ruangan tengah untuk mengenakan tas punggungnya. Disusul Reyna dan Sehun yang juga mulai mengenakan tasnya sembari terkekeh pelan. Mengisi perut di pagi hari dengan roti panggang yang dioles selai cokelat, serta segelas susu vanilla sudah cukup membuat perut mereka kenyang.

“Ibu, pulang sekolah nanti, aku ingin memakan omelet buatan Ibu, ya?” ini suara Reyna, anak perempuan yang kini telah menduduki sekolah dasar kelas tiga.

Sooyeon tertawa mendengar permintaan anaknya itu. “Iya, Sayang. Ibu pasti akan membuatkannya.” Katanya sembari mengacak gemas surai sebahu Reyna.

“Kalau aku ingin sup ayam saja,” Baekhyun menimpali, membuat Reyna dan Sehun memberikan tatapan dalam, namun diakhiri tawa kecil.

“Oke, bagaimana denganmu, Sehun?” Sooyeon bergilir menatap Oh Sehun, puteranya yang tak kunjung bersuara.

“Aku…” Sehun hanya tersenyum kecil. “Apapun itu, aku akan tetap memakannya. Bukankah masakan buatan Ibu selalu enak?” puji Sehun seraya memeluk sekilas ibunya.

Suara tawa milik Daemin mulai terdengar, kala pria paruh baya itu menghampiri mereka sembari membetulkan jas kerjanya yang sedikit kusut.

“Lain kali, kalian harus membuat makanan kesukaan kalian sendiri, oke? Kasihan ibumu, setiap hari selalu memasak apa yang kalian inginkan,” ujar Daemin. Namun sarat akan candaan dalam nada bicaranya.

“Ya Tuhan, Daemin, tidak apa-apa. Aku justru senang dapat memasak apa yang anak-anak inginkan.” Sahut Sooyeon, dengan satu tangannya yang memukul ringan bahu Daemin.

“Baiklah,” Daemin tertawa sekilas, “Kalau begitu, kalian cepat masuk ke mobil. Paman Ahn pasti sudah menunggu kalian di sana.” Ujarnya, mengingatkan. Yang langsung dibalas oleh anggukan mengerti Baekhyun, Sehun dan Reyna.

“Kami berangkat, Ayah, Ibu.” Kata Baekhyun kemudian. Ketiganya lantas berjalan bersama sembari mengukir senyum. Di belakangnya diikuti oleh Daemin yang tengah merangkul pinggang istrinya di sampingnya.

“Berhati-hatilah saat mengemudi, Paman Ahn.” Kata Sooyeon setelah ia dan Daemin berdiri di teras rumah, juga ketika ketiga anaknya telah menduduki kursi penumpang di bagian belakang.

“Baik, Nyonya.” Sahut paman Ahn, tersenyum ramah. Ia pun segera menyalakan mesin mobilnya, dan mulai melajukannya menuju sekolah yang dituju.

.

.

.

 

Dua puluh menit kemudian, mobil sedan hitam itu sampai di depan gerbang sekolah dasar. Baekhyun membuka pintu penumpang, lalu keluar dari sana, disusul Reyna yang keluar dari pintu yang sama, sementara Sehun keluar dari pintu mobil sebelahnya. Paman Ahn menurunkan kaca mobilnya untuk menatap ketiga anak majikannya itu. Memberikan senyuman dan lambaian tanda perpisahan pada mereka, sebelum akhirnya ia kembali melajukan mobil menuju rumah.

Ya, ketiga anak berparas menawan itu berada dalam satu sekolah yang sama. Sehun dan Baekhyun pun berada dalam satu kelas yang sama, kelas 5. Sedangkan Reyna duduk di kelas tiga. Setiap hari mereka selalu berangkat bersama-sama, saling membagi canda tawa kala mereka berjalan beriringan. Mengantar Reyna terlebih dulu ke kelasnya sebelum akhirnya kedua anak laki-laki itu melangkah menuju kelas yang ditempati.

“Sehun Oppa!” panggil Reyna setelah ia sampai di ambang pintu kelasnya.

Hm?” gumam Sehun, selagi kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana.

“Park Eunhee menitipkan salam padaku, untukmu.” Reyna tersenyum lebar. “Eunhee menyukaimu.”

Ucapan itu membuahkan satu tawa ringan di bibir Baekhyun. Merangkul bahu saudara laki-lakinya itu, ia segera berucap. “Kuakui, kau memang tampan, Oh Sehun.”

“Diam kau!” balas Sehun, acuh tak acuh. Karena mendengar berbagai pujian dan salam seperti itu seperti sebuah kebiasaan membosankan baginya. Tidak menarik sama sekali.

“Bel akan segera berbunyi. Lebih baik kalian berdua segera pergi ke kelas.” Ujar Reyna sembari mengibaskan kedua tangannya di depan dada. Mengabaikan tatapan-tatapan lekat dari para siswa lainnya yang terus tertuju padanya dan juga kedua kakaknya itu. Well, sepertinya Reyna dan Baekhyun juga sudah mulai terbiasa oleh pandangan-pandangan memuji dari siswa lainnya, terlihat dari bagaimana mereka menanggapinya hanya dengan senyuman kecil dan reaksi acuh tak acuh.

Hingga pada akhirnya, kedua siswa bermarga Oh itu mulai beranjak meninggalkan kelas tiga. Merajut langkah menuju kelas yang mereka tempati bersama. Seperti biasa, Baekhyun selalu merangkulkan tangannya ke balik bahu Oh Sehun yang notabene memiliki tubuh yang cukup tinggi darinya. Tapi tak apa, Baekhyun tak peduli akan hal tersebut.

“Kalau nantinya kau suka pada Eunhee juga, bagaimana?” Baekhyun memulai, menumpukan netra pada si pemuda Oh di sampingnya.

“Aduh, Baek. Tak bisakah kau diam? Bagaimana bisa aku memiliki kakak yang cerewet sepertimu?” keluh Sehun, tak terima. Dibalas oleh kekehan pelan Baekhyun.

“Iya, terus saja kau mengelak, sampai kau merasa frustasi dan akhirnya menerima Park Eunhee sebagai kekasihmu.”

“Umurku masih sebelas tahun, Baek. Jadi tidak mungkin aku memiliki kekasih.” Sehun melirik Baekhyun sejenak. “Dan berhentilah menatapku seperti itu, oke?”

My… my…” lagi-lagi, Baekhyun menyuarakan tawanya. “Terserah apa katamu.”

Bel tanda masuk mulai berdering. Seluruh siswa di sekolah dasar itu mulai menyiapkan buku pelajaran di jam pertama, sembari menunggu sang guru pengajar masuk.

Begitupun Reyna, anak perempuan itu terlihat sibuk mengambil beberapa peralatan belajarnya dari dalam tas yang akan ia simpan di atas meja. Hingga ia tak menyadari, nametag yang dikenakan terlepas dari tempatnya. Membuat benda berbentuk persegi panjang terjatuh ke atas lantai kelas. Park Jimin yang mengetahui hal tersebut segera beranjak dari kursinya, lalu mengambil nametag yang terjatuh tepat di samping kaki Reyna.

“Reyna-ya,” seru Jimin, mengalihkan atensi Reyna dari bukunya.

“Ada apa?”

“Ini, nametag-mu jatuh.” Jimin menyerahkannya pada Reyna. Nametag bertuliskan nama Oh Reyna kini telah kembali pada pemiliknya.

Menumpukan netra pada Jimin, Reyna lekas tersenyum seraya berujar, “Terima kasih, ya.”

Umm.” Anak laki-laki itu kembali menduduki kursi belajarnya yang berada dua bangku di belakang Oh Reyna.

Guru pengajar pun datang, dan pelajaran di hari pertama kini dimulai.

― The Miracle in Our Life ―

 

“Hari ini aku telah belajar membuat permohonan.” Adalah suara Reyna yang menyeruak di tengah keheningan, kala mobil pribadi milik keluarga Oh sedang melaju, mengantar ketiga anak manis itu untuk pulang ke rumah.

“Permohonan?” Baekhyun menoleh menatap adiknya. Kernyitan samar di keningnya segera tergantikan oleh kedua sudutnya yang berjungkit naik. “Bagaimana ceritanya?”

Sehun yang memilih untuk duduk di kursi penumpang bagian depan hanya bisa menoleh sesekali ke belakang, guna mendengar pembicaraan kedua saudaranya lebih jelas lagi.

“Jadi, di jam pertama tadi, guru Song memberikan kami semua selembar kertas kosong untuk kami isi sebuah harapan. Agar guru kami dapat mengetahui apa harapan yang selama ini kami pendam.” Reyna tersenyum lebar di akhir kata. “Nah, katanya, kami bebas untuk menuliskan beberapa harapan di sana. Sebanyak mungkin juga boleh,” anak perempuan itu melanjutkan sembari menyandarkan punggung pada sandaran kursi penumpang.

Mmm…. begitu rupanya.” Baekhyun mengangguk mengerti. “Kalau begitu, kami boleh tahu apa permohonanmu?” tanya Baekhyun, selagi telunjuknya mengarah pada Sehun dan dirinya bergantian, merujuk pada kata ‘kami’ yang terlontar dari bibirnya.

Ucapan itu tentu saja membuat Reyna mengangguk antusias. Bibirnya kembali mengulas senyum lebar yang begitu manis.

“Tentu.” Reyna menghela napas. “Permohonan yang Reyna tulis di kertas itu… Reyna hanya ingin selalu bahagia bersama ayah, ibu, Baekhyun dan Sehun Oppa.” Jawabnya malu-malu, disertai rona merah terpancar di kedua belah pipi tirusnya.

Baekhyun dan Reyna kini tertawa bersama, disusul dengan tawa ringan yang bersumber dari paman Han, sang supir yang nampaknya sedari tadi membagi perhatiannya antara jalan raya dan juga kedua anak yang duduk di belakangnya.

Iya, mereka tertawa bersama, saling membagi canda tawa. Namun, Sehun tidaklah demikian. Anak laki-laki itu hanya menatap menerawang ke arah kaca mobil di sampingnya. Memerhatikan siluet pemandangan di setiap jalan yang ditempuh. Saat Sehun mengembuskan napasnya, ia mendengar Baekhyun berseru kegirangan. Membuatnya refleks menoleh pada Oh Baekhyun.

“Paman, berhenti sebentar, aku ingin membeli permen kapas di sana!” tunjuk Baekhyun pada seorang pria pedagang permen kapas yang ada di tepian jalan. Pria itu tengah dikerumuni oleh anak-anak kecil yang juga sedang membeli makanan manis itu.

“Baik, Tuan Muda.” Paman Han segera menepikan mobilnya. Mematikan mesin mobilnya, pria itu bertanya. “Apa Tuan ingin dibelikan?”

“Tidak tidak.” Baekhyun menggeleng. “Aku pergi dengan Reyna saja.” Kata anak laki-laki itu. Karena ia yakin, Sehun tak akan ikut dengannya.

Oppa pergi sama paman Han, ya? Reyna minta dibelikan saja.” Timpal Reyna kemudian. Baekhyun menatap adik perempuannya itu yang masih asyik bersandar.

Baekhyun terkekeh sejenak. “Iya, deh.” Maniknya bergulir pada Sehun yang masih saja diam. “Sehun-ah, kau juga mau permen kapas?”

Merasa terpanggil, Sehun memutar badannya ke arah Baekhyun dan Reyna. Ditatapnya kedua saudaranya itu dengan mata memicing, lalu tersenyum kecil. “Tidak. kalian saja yang beli, aku sedang tidak ingin makan yang manis-manis.” Ujarnya dengan nada santai.

“Baiklah. Kalau begitu, ayo, Paman Han!” seru Baekhyun antusias seraya membuka pintu mobil kanan. Membiarkan semilir angin di siang hari, membelai lembut anak rambut Reyna di dalamnya.

Paman Han dan Baekhyun kini telah berjalan menuju sang pedagang permen kapas yang tak jauh dari posisi mobil. Dari balik kaca mobil, Reyna dapat melihat bagaimana ekspresi senang terukir di wajah kakak kandungnya. Senyuman lebar itu bagaikan tertular pada Reyna, hingga membuatnya ikut tersenyum. Reyna boleh dibilang berlebihan, tapi pernyataan ini sungguh dari lubuk hatinya; senyuman Baekhyun itu sebenarnya lebih manis dari permen kapas.

“Sehun Oppa, kenapa sedari tadi diam saja? Oppa sakit, ya?” tanya Reyna kala ia mengalihkan pandang pada Sehun.

Hm?” Sehun menggumam. “Tidak, aku tidak sakit, kok.” Jawabnya singkat, juga dengan nada seolah tak mengijinkan Reyna untuk bertanya apapun lagi.

“Tapi… kenapa Oppa diam saja?” Reyna masih mempertanyakan hal itu. Badannya mulai condong ke arah Sehun, berusaha menatap wajah kakaknya itu yang dihiasi rahang tegas.

“Jangan mendekat.”

Dingin. Nada itu terdengar dingin saat Sehun mengatakannya. Reyna tertegun sejenak. Bahkan ia belum sempat menatap wajah Sehun sepenuhnya. Kerutan di kening serta degupan jantung yang meningkat dua kali lebih cepat, mengantarkan Reyna kembali menjauh dari posisi Sehun saat ini.

Oppa… kenapa?” tanya Reyna, waswas. Perasaan tak enak pun mulai menghampiri dirinya.

“….” hanya terdengar dengusan kasar dari Sehun. Anak laki-laki itu tak mau menoleh sedikit pun ke belakang. Membiarkan berbagai pertanyaan menghinggapi benak Reyna.

Oppa―”

“Tadi kau memberitahukan isi dari permohonanmu itu padaku juga, kan?” akhirnya, Sehun menolehkan kepalanya ke belakang, hanya sedikit, tapi itu mampu membuat perasaan tak enak dalam diri Reyna semakin menjadi.

“I-iya,” Reyna menelan ludahnya susah payah. “Memangnya… ada yang salah, ya, dengan permohonan itu?”

Sehun terdiam lagi. Maniknya menatap ke arah Baekhyun dan paman Han yang masih belum mendapatkan permen kapasnya. Berhubung masih ada anak lain yang lebih dulu datang sebelum mereka, yang belum juga mendapatkan makanan itu.

“Tidak ada yang salah dengan permohonanmu itu, Rey.” Senyum kecut terukir pada satu sudut bibir Sehun. “Hanya saja…”

Setitik peluh berhasil turun membasahi pelipis Reyna. Ia tak mampu menggulirkan pandangannya ke manapun. Tetap tertuju pada satu objek tak terlihat di depannya yang tengah menjeda kalimatnya. Rasa penasaran mulai membaur ke dalam berbagai perasaan negatif yang ada dalam diri anak perempuan ini.

Keheningan sempat menyapa selama beberapa jenak. Sebelum kelanjutan kalimat yang tertunda tadi mulai terdengar lagi,

“Aku tak yakin, apakah permohonanmu itu dapat terkabulkan, atau tidak.”

 

 

-To be Continue-


 

 

Chapter 2 is published! Maafkan kalau sampai chapter ini masih banyak kekurangan yang gak sempet Isan perbaiki 😀

 

Btw, di sini mereka belum beranjak dewasa, ya. Masih dalam tahap anak-anak imut nan manis xD

 

Mungkin di chapter berikutnya, mereka akan memasuki tahap dewasa/? Di mana konflik yang sebenarnya akan dimulai/? Kkkk

 

Juga, di FF ini, aku mengedepankan genre family, sedangkan genre romance hanya sebagai bumbu tambahan saja. Jadi, jangan terlalu banyak berharap ada banyak scene romantis yaa di sini 😀

 

Okay, maapkeun Isan karena udah terlalu banyak cuap-cuap. Silakan berikan komentar kalian di bawah, ya ^^

 

See U in the next chapter~

 

Regards

 

ShanShoo ♥

Iklan

26 comments

  1. maksudnya sehun apa sih? emang nggak pingin hidup bahagia sama reyna? sebel deh, sikap dinginnya kambuh lg, iya San, aku tahu ini genrenya family, jadi siap2 nggak ada scene romance nya, siap deh siap, tp paling tidak ada, secuil pasti ada, ya kan San? lol, next deh di tunggu, fighting!!

  2. KAKAK!!! Aku seubeul ke Sehun!#:-x . KYAA!! Sehun,oh sehun! Kenapa sih? Apa susahnya nerima mereka? Heh, jangan nyindir kakak baekhyun! Suara dia lebih bagus dari kamu!#kumatlah. Tududududu, hey, aku itu rasa bahagia saat sehun gitu. Tapi aku tau lah, akhirnya gitu si sehun mah. Aku suka ceritanya, ga pa2 kalau banyak tentang family nya. Tetap seru kok 😀 😀 :-*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s