Kesempatan untuk Kembali


sadness

Kesempatan untuk Kembali

 

 

 

This is my first time to write about original fiction. I hope you all can give me some review then 🙂

.

Apa yang namanya kesempatan kedua, benar-benar ada?


 

“Katanya kamu putus, ya, sama Deon?”

Aku mendengar pertanyaan itu dari mulut Jessi, si mulut ember yang sukanya menebar gosip-gosip murahan tak bermutu. Tapi anehnya, gosip itu malah menjadikan Jessi didekati banyak anak-anak kelas sebelah. Menegakkan posisi duduk, aku menatap Jessi tepat di maniknya. Manik yang sarat akan ejekan, dan sebisa mungkin aku mencoba untuk mengabaikannya.

“Iya, emangnya kenapa?”

Jessi nampak kesal saat aku malah balik bertanya, bukan menjawab pertanyaannya tadi. Sembari mengibaskan rambut panjangnya ke belakang, dia mulai duduk berhadapan denganku, di bangku kantin yang belum terlalu ramai.

Ada seringaian menyebalkan yang tercetak di bibir merahnya. Melirik sejenak ke arah kedua temannya yang berdiri di antara bangku yang kami tempati, Jessi segera berkata, “Sayang banget, ya? Padahal Deon itu cowok idaman, loh! Kalau aku jadi kamu, sih, aku gak mau putus sama dia.” Di akhir kata, Jessi mengibaskan lagi rambutnya ke belakang, lalu menepis sedikitnya jarak di antara wajah kami. Lantas, ia berbisik, “Kalau Deon buat aku, gak pa pa, dong?”

Rasa dongkol mulai menyelimuti dadaku. Si centil ini malah semakin berulah. Nada bicaranya juga terdengar semakin memojokkanku. Mengembuskan napas kasar adalah hal yang kulakukan sekarang, membuat Jessi menaikkan sebelah alisnya sembari bertanya, “Kenapa? Kamu gak mau, ya, kalau Deon jadian sama aku?”

Aku tak menjawab. Lebih memilih bungkam ketimbang membalas ucapan menyebalkannya itu.

Beberapa detik ke depannya, sudut mataku mendapati si pemuda tampan yang kami bicarakan, melangkah memasuki kantin dengan kedua telapak tangan dimasukkan ke dalam saku celana seragam. Tidak ada yang berubah dari cara berjalannya. Tetap terlihat angkuh namun tetap memerlihatkan pesona yang mampu membuat siswa di berbagai kelas berteriak memujinya.

Iya, itu Deon. Deon Mozza, si cowok tampan yang kini berstatus sebagai mantan kekasihku. Rasa nyeri mulai mendera dalam dadaku, kala aku terus menatap Deon seperti ini. Sedangkan cowok itu sama sekali enggan menatap ke arahku. Ya… lagipula apa yang aku harapkan, sih? Jelas-jelas, Deon tidak akan mau menatapku, si cewek aneh yang bisa-bisanya membuat Deon menyukaiku. Juga, aku yakin, alasan Deon mengakhiri hubungan kami adalah… karena ia baru sadar, kalau aku bukanlah cewek yang tepat untuknya.

Eh… tunggu!

Deon… menatap ke arahku?!

Dan secara tak sadar, aku membeku di tempat. Dengan kedua netra terpaku padanya.

Wah… wah… kayaknya ada yang gak rela, nih, kalau mantannya jadian sama―”

“Kalaupun dia rela, aku tetap gak mau jadian sama cewek genit kayak kamu.”

Itu… benarkah itu suara Deon? Benarkah Deon baru saja memotong ucapan lantang Jessi, si cewek centil, si mulut ember, si biang gosip ini?

Jessi dan kedua temannya lantas mengalihkan pandang pada Deon. Cowok itu berada cukup jauh dari jarak kami berada. Tetapi, aku tahu kalau Deon memandang tajam ke arah kami. Degupan jantungku kian meningkat, dan aku tak sanggup menatap Deon lebih lama lagi.

“T-tapi… kalian… kalian beneran udah putus, kan?” tanya Jessi, gusar.

Pertanyaan itu membuatku memberanikan diri untuk kembali menatap Deon. Dan sialnya, Deon juga sedang menatapku dengan dinginnya. Seringaian kecil nan mempesona yang ia miliki mulai ditunjukkan. Keheningan pun terasa merayap menyiksa diriku, tapi tak lama, Deon membuka lagi percakapan diiringi nada santai yang kentara;

“Iya, kami memang sudah putus. Tapi, kalau penggantinya cewek macam kamu, mana mau? Mendingan balikan lagi aja sama dia.”

Lalu, suara gemuruh-gemuruh kecil dari para siswa di dalam kantin, mulai terdengar, saat Deon memilih untuk meninggalkan kantin tanpa membawa makanan apapun.

Iya, dia meninggalkanku dengan berbagai pertanyaan yang terasa semakin menghimpit benakku. Pertanyaan tentang pernyataannya barusan.

Termenung sejenak, membiarkan desis penuh iri berdesakan menyesaki indera pendengaranku, bercampur dengan letupan amarah Jessi yang ditujukan padaku, sebelum ia dan kedua temannya pergi meninggalkanku di kantin ini.

“Deon,” gumamku pelan, menatap meja kantin seraya mengeratkan jari jemariku yang saling bertautan di atas paha.

 

 

.

.

.

“Apa mungkin… kesempatan kita untuk bersama lagi, masih ada?”

.

.

.

Fin.

 

Hai, Guys! Aku bikin original fiction ini karena terinspirasi dari beberapa penulis fanfiction yang juga seneng bikin fiksi semacam ini. Dan… jujur aja, salah satunya terinspirasi dari kak Galuh 😀
Thanks, Kak Galuh, karena udah buat Isan mencoba untuk keluar dari zona nyaman, dan memulai sesuatu yang baru ❤

 

Comment are allowed, Guys! ^^

Iklan

4 comments

  1. Ya udah, kenapa putus kalau gitu? Ckckck. Aku ngerasa aneh, tapi… entahlah -_-# bagus ko, aku suka. Original fic, baru kali ini ya bikinnya? Udahlah, acungin jempol untuk ka isan/shanshoo 😀 😀 😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s