The Miracle in Our Life ― Chapter 4


tmol

The Miracle in Our Life

 

ShanShoo’s Present

 

Starring EXO’s Baekhyun, OC’s Reyna, Sehun, other | genre family, AU, friendship, slight!sad, angst, slight!romance | length chaptered | rating PG-15

Disclaimer : I just own the plot and OC’s character. So, enjoy it! And I’m sorry for many typos there 🙂

.

Everyone had to tell to God, when they needed a lot of love in their family

 

.

Prev story :  [Prolog] [Chapter 1 : Tell Your Wish!] [Chapter 2 : Pretend] [Chapter 3 : Complicated]

.

― Chapter 4 : Something and Someone

 


 

Reyna lupa jika pelajaran di jam pertama kelasnya adalah Matematika. Gadis itu bahkan lupa jika ada tugas dari pelajaran tersebut yang harus ia kumpulkan hari ini. Maka, bagaikan sebuah bencana baginya kala ibu Jung memberinya banyak sekali omelan hingga makian dari mulutnya. Dan mau tak mau, Reyna harus bisa menerimanya.

“Saya tidak akan melakukan hal ini lagi, Bu.” Kata Reyna, tanpa balas menatap mata garang milik ibu Jung di depannya. Sedangkan yang diajak bicara hanya mengembuskan napas lelah, membenarkan letak kacamatanya lalu kembali memerhatikan Reyna.

“Ini sudah kali ketiga, kau tahu, Nak?” ibu Jung bersuara, dan Reyna hanya diam bergeming.

“Maafkan saya,” Reyna memejamkan matanya sejenak, kemudian membungkukkan badannya, tanda permintaan maaf.

“Baiklah,” ibu Jung mendesah, “kalau begitu, silakan duduk dan perhatikan pelajaran hari ini dengan baik, kau mengerti?” katanya, memaafkan. Tangannya lantas mengambil sesuatu dari dalam kertas kantung yang ia bawa selama ia berada di area sekolah. Oh, rupanya ia sedang mencari selembar kertas berisi angka-angka rumit nun membingungkan.

“Aku tidak akan mentolerir kesalahanmu kali ini, omong-omong.” Ibu Jung melanjutkan. “Jadi, kau harus mengerjakan soal tambahan, kumpulkan di mejaku saat bel pulang berdering.”

Adalah sebuah embusan napas panjang yang menguar kala Reyna menerima kertas berisi sepuluh soal di sana. Ya Tuhan, tak cukupkah guru Matematikanya ini sebelumnya memberi soal sebanyak sepuluh dan menambahnya lagi dengan jumlah serupa?

Well, meskipun Reyna mengeluh, ia tahu, ia tak akan bisa berbuat apa-apa. Kecuali tersenyum semanis mungkin, sembari berlalu menuju mejanya, kemudian duduk manis seraya memerhatikan materi dari sang guru.

“Oke, terima kasih bagi kalian yang sudah mengumpulkan tugasnya tepat waktu.” Ibu Jung berujar, saat Reyna telah mencapai bangkunya. Maniknya terarah sejenak pada Reyna, sebelum berpendar pada murid lain di dalam kelas. “Aku akan memberitahu cara mengerjakan latihan soal di buku paket halaman….”

Suara nyaring milik ibu Jung sepertinya menguar begitu saja dari pendengaran Reyna. Fokusnya mengingkari apa yang seharusnya ia lakukan sebagai sumber penglihatan materi. Karena nyatanya, saat ini Reyna sedang memerhatikan jalannya pertandingan basket antar kelas di bawah sana, berhubung kelas gadis itu berada di tingkat dua. Tangan menopang dagu, selagi bibirnya mengembuskan napas kecil. Yah, sepertinya, hari ini akan menjadi hari yang sangat membosankan baginya. Terlebih, ia harus menyelesaikan tugas sebelumnya, berikut tugas tambahan dari guru Matematikanya itu.

― The Miracle in Our Life

 

 

Kalau diperhatikan, agaknya Baekhyun dan Sehun juga tak sedang fokus pada pelajaran yang tengah berlangsung, sama seperti adik mereka. Mungkin pikirannya sedang digelayuti permasalahan yang mungkin saja membuat penat. Ah, aku hampir saja melupakan satu kenyataan. Oh Baekhyun dan Oh Sehun, mereka berada di kelas yang sama. Ya, hingga mereka menginjak kelas terakhir di sekolah menengah atas, mereka selalu bersama. Andai saja Oh Daemin tak ikut andil dalam hal ini, mungkin mereka berdua tak akan bersama seperti sekarang. Atau mungkin saja, mereka tak akan berada dalam sekolah yang sama. Bukan apa-apa, hanya saja, Daemin ingin hubungan kekerabatan di antara Baekhyun, Sehun, dan juga Reyna yang saat ini berada di kelas pertamanya, bisa semakin erat.

Dan sebagai informasi tambahannya, seluruh warga di Seoul High School ini, telah mengetahui jika Sehun, Baekhyun dan Reyna adalah tiga bersaudara. Namun tidak dengan kata angkat atau adopsi di akhir kata ‘saudara’. Ya, mereka tak tahu akan hal itu.

Ya, Sehun-ah!” bisikan Chanyeol di samping Sehun, membuat laki-laki itu melirik malas padanya.

“Ada apa?”

“Pinjam pulpen, dong. Punyaku sudah habis.” Pinta Chanyeol, hati-hati. Takut jika guru pengajar di depan kelas mendengar ucapannya.

“Beli sendiri.” Sahut Sehun, sarkastis. Membuat Park Chanyeol lekas melebarkan matanya.

Ugh, dasar pelit!” laki-laki bertubuh tinggi itu mendesis kesal. Dan saat ia hendak kembali memerhatikan materi pelajaran, suara laki-laki lain menyapa indera pendengarannya.

Nih, aku ada satu.”

Itu suara dari Oh Baekhyun. Laki-laki bermata sipit namun memiliki pesona penuh lewat tatapannya tersebut. Tangan kanannya mengulurkan satu pulpen bertinta biru pada Chanyeol.

Kedua sudut bibir Chanyeol berjungkit naik, selagi ia menerima pinjaman pulpen dari sang teman sekelas. Meski hubungan kekerabatan mereka sebagai teman sekelas tidaklah terlalu dekat, namun Chanyeol bersyukur, ia memiliki teman seperti Baekhyun.

“Terima kasih, Baek.” Ujar Chanyeol, lalu mulai menulis cepat di atas bukunya, mengejar ketertinggalan materi yang agaknya sudah cukup jauh.

Umm,” Baekhyun menggumam, lantas menatap bagian belakang kepala Sehun―berhubung Baekhyun duduk tepat di belakangnya. “Bukankah arti kata pertemanan akan terasa indah jika kau mau saling berbagi?” katanya dengan nada mengejek. Yang diajak bicara hanya menghela napas, menutup matanya sejenak sebelum membalas,

“Aku tak ada minat sama sekali untuk berteman dengan siapapun.” Seraya menolehkan kepalanya ke belakang, pada Baekhyun yang tengah menaikkan sebelah alisnya.

Woah, sepertinya kau memang lebih baik jika hidup sendirian, tanpa teman.”

Ucapan terakhir Baekhyun, dan bel istirahat pun berdering keras. Sang guru pengajar segera mengakhiri pembelajarannya hari ini. Sang ketua kelas juga segera bangkit berdiri dan menyuruh murid-murid untuk mengucap salam perpisahan, sebelum dibalas oleh guru tersebut dan pergi melenggang meninggalkan kelas.

Jangan lupakan bagaimana dampaknya ucapan terakhir Baekhyun pada seluruh penghuni kelas 3-2.

Mereka semua saat ini sedang menatap pada Baekhyun dan Sehun yang seolah tak peduli pada tatapan-tatapan itu.

Kadang, rasa heran selalu menyelimuti benak mereka. Kenyataan jika Baekhyun dan Sehun adalah sepasang kakak adik memang sudah menyebar di dalam lingkungan sekolah. Namun, kenyataan tentang hubungan keduanya yang terlihat tidak akur pun merebak begitu cepat.

“Reyna kesulitan mengerjakan tugas Matematikanya,” suara Baekhyun kali ini terdengar jelas, bukan sebuah bisikan lagi. “Dan aku tahu, kau pintar dalam mengerjakan Matematika. Jadi, bisakah kau membantunya?” lanjutnya ketika tak ada sahutan dari Sehun.

“Kau saja.” Akhirnya Sehun bersuara. Berdiri membelakangi Baekhyun, lalu melangkah meninggalkan kelas seraya memasukkan kedua telapak tangan ke dalam saku celana.

Sejak Sehun tak terlihat lagi di dalam kelas, suara bisikan-bisikan mulai terdengar. Beberapa di antaranya terdengar seperti memojokkan Baekhyun maupun Sehun. Tetapi, sebisa mungkin Baekhyun mengabaikannya. Ia tak boleh terbawa emosi, lalu memukul Sehun hingga babak belur karena hal ini. Maka, tidak ada solusi lain, selain turut keluar dari ruangan itu menuju kelas Reyna, dan membantu adik kandungnya mengerjakan tugas, sebisanya.

― The Miracle in Our Life

 

Di sinilah Baekhyun berada, di depan pintu kelas 1-2. Kelas sang adik yang saat ini terdapat banyak siswa berlalu lalang di depannya. Berbekal pensil serta buku coretan tak penting, Baekhyun melenggang masuk dan mengedarkan pandangan pada setiap siswa yang ada di sana.

“Apakah Reyna ada di kelas?” tanya Baekhyun pada salah seorang teman satu kelas adiknya. Yang ditanya lantas mengernyit, lalu ikut mengedarkan pandang sembari berkata,

“Tidak ada, Sunbae.” Katanya.

“Apa kau tau ke mana dia pergi?” tanya Baekhyun lagi. Namun jawaban yang diberikan hanyalah berupa gelengan, tanda bahwa ia tak tahu ke mana Reyna pergi.

Baekhyun mendesahkan napas panjang. Kakinya memilih untuk keluar kelas dan menyandarkan punggung pada dindingnya.

Ia tahu pasti, jam istirahat ini tidak akan Reyna habiskan di ruangan kantin untuk membeli camilan atau makanan berat. Tapi ia sendiri juga tak tahu ke mana tujuan Reyna saat ini. Bahkan ketika Baekhyun bertanya tentang apa yang dilakukan Reyna selama di sekolah, gadis itu enggan memberitahu.

― The Miracle in Our Life

 

 

Tugas Bahasa dan Sastra Inggrisnya belum selesai. Salahkan saja kedua matanya yang selalu malas membaca referensi novel juga selalu merasa mengantuk. Ditambah, Chanyeol sama sekali tak mengerti―dan tak mau mengerti― pelajaran itu. Menurutnya, bahasa Inggris terlalu sukar untuk dipahami. Tapi, ia pun tak punya pilihan lain, Chanyeol harus pergi ke perpustakaan sembari membawa buku tugasnya.

Chanyeol menggaruk lehernya, malas, sembari memasuki ruang perpustakaan yang―demi Tuhan― tidak ada satupun manusia yang berada di sana, terkecuali sang penjaganya. Hal itu nampaknya membuat Chanyeol menguap lebar, mengusap sudut matanya yang sedikit berair, lalu berbicara pada pria tua di sana.

“Belum ada yang berkunjung kemari, Pak?” tanyanya, penasaran. Ah, sebenarnya, sih, hanya untuk sekadar berbasa-basi. Chanyeol hanya tak tega membiarkan sang penjaga perpustakaan terus membungkam bibirnya.

Hm?” pria itu menggumam, lalu, “Ada. Cuma seorang siswi saja.” Katanya, mengingat-ingat.

“Oh, rupanya.” Chanyeol lantas mengangguk. Sedikit merutuki dirinya sendiri yang menebak seenak jidatnya. Kalau begitu, ia merasa lega karena ternyata, ia tak sendirian di sini.

Akhirnya, Chanyeol membungkukkan tubuh pada si pria tua, sebelum melangkah ke arah jejeran rak-rak menjulang tinggi dengan ratusan buku-buku yang tersimpan rapi di sana. Dan Chanyeol harus bergerak cepat kalau ia mau tugasnya cepat terselesaikan.

Jemari panjangnya bergerak menelusuri setiap deretan buku pada rak yang cukup tinggi dari kepalanya. Maniknya pun membaca setiap judul pada sampul bukunya. Beberapa sekon kemudian, Chanyeol mendapatkan apa yang ia cari. Sebuah novel berbahasa Inggris yang terletak di ujung rak. Ia harus mengambil buku itu dan membacanya, lalu menuliskan referensinya di buku tugas.

Setelah Chanyeol mengambil buku itu dari tempatnya, maniknya tak sengaja menatap seorang siswi di balik rak buku―yang disebutkan sang pria tua tadi, tengah menelungkupkan kepalanya di atas kedua tangan yang dilipat di atas meja panjang. Surai panjangnya menutupi sebagian wajahnya, membuat paras gadis itu sedikit tak terlihat. Chanyeol mengernyit keheranan. Di atas meja sekitar gadis itu terdapat beberapa buku tulis beserta selembar kertas yang tak tertata rapi. Pensil dan juga penghapusnya tergeletak cukup jauh dari kertas dan buku.

Suasananya terasa amat senyap.

Dan gadis itu sama sekali tak bergerak.

“Apa dia… sedang tidur?” terka Chanyeol seraya menaikkan sebelah alisnya.

Selama beberapa jenak lamanya, Chanyeol tetap berada di dekat rak berisi beberapa buku novel berbahasa Inggris. Selagi matanya memicing, otaknya sedang berpikir mengenai gadis di hadapannya itu. Kadang ia mendesis, menggigit bibir, lalu kembali memicingkan mata. Sepertinya ia mengenal gadis itu, tapi…

Ah,

“Siswi ini pasti Oh Reyna!”

Refleks saja, kedua tungkai kakinya melangkah mendekat ke arah sang gadis―yang diketahuinya adalah Reyna―yang terlelap menghadap ke arahnya. Sesampainya Chanyeol di dekat meja, ia lekas meletakkan barang-barang miliknya di sana. Sementara maniknya tetap memerhatikan gadis itu.

Chanyeol pun memutuskan untuk duduk pada bangku panjang di bagian seberang secara hati-hati, takut membangunkan sang gadis. Tapi, hey! Kenapa ia harus melakukannya?

Mengepal ringan tangan kanan di depan bibir, Chanyeol berdeham pelan, berusaha membangunkan Reyna dengan cara halus.

Tapi Reyna tak menunjukkan reaksi apapun.

Dan Chanyeol menggaruk kepalanya karena kebingungan.

Uh, Rey…” pelan-pelan, Chanyeol menepuk lengan si gadis.

Bersyukurlah Chanyeol, karena cara kedua yang ia lakukan akhirnya membuahkan hasil. Gadis itu terbangun seraya mengerang kecil.

“Ada apa…” ia menutup bibir saat menguap, lalu menaruh atensi pada Chanyeol lewat matanya yang masih terasa buram.

“Kenapa kau membangunkanku?” tanyanya pada Chanyeol sambil meregangkan otot-ototnya. Penglihatannya kini terasa cukup jelas. Kemudian menatap Chanyeol lamat-lamat untuk mengetahui siapa laki-laki di hadapannya itu.

Rasanya tidak asing, pikirnya. Ah, ya, benar. Laki-laki ini pasti teman kedua kakaknya. Untuk masalah itu, sih, bisa ia tebak. Tapi untuk masalah nama, Reyna tidak tahu. Karena ia malas menghapal nama-nama kakak kelasnya, atau teman kedua kakaknya.

Sunbae, apa yang sedang kaulakukan di sini?” Reyna lanjut bertanya. Tak peduli jika Chanyeol tak menjawab pertanyaannya yang pertama.

“Aku mau mengerjakan tugas di sini.” Chanyeol tersenyum lebar, “apa kau juga?”

Eng?” Reyna mengerjap, “Oh, sial! Aku lupa mengerjakan tugasku!” katanya, lebih kepada diri sendiri. Netranya melebar kala menatap buku tugasnya dan juga selembar kertas soal yang belum ia isi apapun. Kemudian ia melirik jam tangannya. Jam pelajaran selanjutnya akan segera dimulai, dan Reyna semakin merutuki dirinya sendiri.

“Kaubilang apa?”

“Tidak,” Reyna mengembuskan napas panjang. “aku harus segera kembali ke kelas.”

“Oh, memangnya sebentar lagi jam istirahat akan berakhir, ya?” tanya Chanyeol, heran. Tapi Reyna tak menjawab. Gadis itu terburu-buru membereskan barang-barangnya sebelum bergegas pergi meninggalkan Chanyeol begitu saja, dengan fokusnya yang mengarah pada Reyna. Hingga gadis itu benar-benar tak terjangkau penglihatannya lagi.

Kini, Chanyeol sendirian. Mengembuskan napas berat saat kedua bahunya merosot. Oh, sungguh bencana baginya karena tugas bahasa Inggrisnya belum ia kerjakan sedikitpun. Namun ketika Chanyeol kembali menghadapkan tubuhnya ke depan untuk mulai mengerjakan, maniknya mendapati selembar kertas putih yang ia ketahui adalah milik Reyna.

Chanyeol mengambil kertas itu, menilik isinya kemudian melebarkan pandangan.

“Soal Matematika?” ia mendesah keras. “Apa ia tidak bisa mengerjakan soal-soal Matematika ini?”

― The Miracle in Our Life

Semua pandang tertuju padanya. Dan sebisa mungkin Reyna tak mempedulikan hal itu. Tungkainya terus bergerak menyusuri koridor-koridor panjang yang akan mengantarnya menuju kelasnya. Kadang ia juga mendengar cukup banyak godaan-godaan menyebalkan dari beberapa kakak kelas, mengharuskannya untuk menulikan telinga agar ia tak melontarkan makian apapun.

Tapi Reyna beruntung, ia masih mempunyai ekspresi datar yang akan membuat mereka tak akan berlama-lama ‘mengganggu’nya. Apalagi ketika Reyna memberikan tatapan mematikan kala ada seseorang yang secara terang-terangan menggodanya tepat di depan mata. Dia adalah laki-laki berperawakan agak tinggi darinya, berponi ke samping serta mempunyai paras yang cukup rupawan.

“Kau Oh Reyna, kan?” tanya si siswa tersebut. Dan Reyna hanya diam bergeming.

“Ayolah, kau itu cantik, tapi begitu angkuh! Apa tak bisa sedikit saja kau memberikan kami mimik yang ramah, khususnya pada kakak kelas di hadapanmu ini?” katanya dengan nada kesal. Tatapan yang diberikan Reyna padanya sungguh kelewat datar.

“Minggir.” Satu kata itu meluncur dari bibir mungil Reyna. Begitu datar dan dingin. Tak pelak membuat si siswa tadi terperangah tak percaya.

“Kaupikir kau ini siapa, huh?” siswa itu berteriak kesal. Tangannya terangkat di udara, seolah hendak mendaratkan pukulan pada Reyna. Dan niatan itu urung setelah mendengar salah seorang siswa di kerumunan sana berujar,

“Hei, ada Oh Sehun!”

Tangannya turun perlahan, menyisakan tatapan memicing yang ia berikan pada Reyna.

Derap langkah sepatu Sehun terdengar begitu menggema ke dalam telinga mereka yang diam membisu. Bukan tanpa alasan pula mereka memilih diam seperti itu. Mereka hanya tak mau berurusan dengan seorang Oh Sehun karena sikapnya yang terlampau dingin dan terasa menyebalkan. Siapapun tak akan sanggup melawan perdebatan yang berlangsung bersama laki-laki itu.

Langkah terakhir Sehun berhenti tepat di depan Reyna yang saat ini membentuk gestur tubuh acuh tak acuh akan kehadirannya. Sedangkan siswa yang memaki Reyna tadi terlihat menyembunyikan ketakutannya saat berdiri di dekat Sehun.

“Kenapa?” tanya Sehun pada siswa itu, yang ia ketahui merupakan teman satu angkatannya, meski tidak sekelas.

“Tidak.” siswa itu menggeleng, dan lebih memilih meninggalkan Reyna bersama Sehun berdua di sana.

Kerumunan itu juga ikut bubar, mereka memilih pergi dari sana lalu memasuki kelas untuk mengikuti jam pelajaran selanjutnya.

Tak ada perkataan terlontar dari bibir Reyna. Gadis itu kembali merajut langkah, bertingkah seperti tak terjadi apapun selama beberapa menit ke belakang.

“Aku tak membantumu, omong-omong. Jadi tak perlu mengucap kata terimakasih.”

Ucapan itu membuat Reyna menghentikan langkah. Terdiam sesaat dengan posisi Sehun yang berdiri di belakangnya.

“Kau tenang saja, aku tak akan pernah menganggapmu membantuku, atau apapun itu. Dan juga, aku tak akan pernah mengucap kata itu padamu.” Sahut Reyna, tegas. Setelahnya ia melangkah lagi menuju kelasnya, tak peduli bagaimana ekspresi kesal yang tercetak di wajah Sehun padanya.

Gadis bersurai cokelat kemerahan itu tiba di kelas. Melenggang menuju kursinya dan bersikap tak acuh pada berbagai tatapan dari teman-teman sekelasnya. Tangannya meletakkan buku tugas Matematika yang sedari tadi ia genggam. Lalu mengembuskan napas panjang.

“Kau sudah selesai mengerjakannya?” tanya Park Eunhee, teman satu bangkunya. Tatapan gadis itu terlihat amat khawatir kala Reyna tak merespon.

“Kalau kau mau―”

“Aku bisa mengerjakannya sendiri, omong-omong.” Reyna menyela tanpa menatap sang lawan bicara. Ucapan itu serta merta membuat Eunhee memilih berhenti berbicara lagi. Ia hanya tak mau suasana hati Reyna semakin memburuk nantinya. Karena, yah, ia sudah tahu kalau suasana hati gadis itu selalu buruk setiap hari.

“Tapi, bilang saja kalau kau membutuhkan bantuanku, Rey.” Kata Eunhee, memulas senyum kecil, lalu menuliskan sesuatu di atas buku miliknya.

Reyna mendesah panjang alih-alih mendengar perkataan temannya. Tangannya mulai sibuk membuka buku tugas Matematikanya, menatapnya malas, lalu mengernyit heran.

Ke mana kertas selembarnya?

Kerja jantung Reyna kini meningkat dua kali lipat. Matanya melebar kaget. Jemarinya membuka lembaran buku tugasnya dengan cepat, mencari kertas berisi soal-soal yang belum diisinya. Seingatnya, ia sudah menyelipkan kertas itu di dalam buku tugas, tapi ternyata kertasnya tidak ada di sana.

“Apa kau melihat kertas selembar milikku?” tanya Reyna pada Eunhee, dengan mimik yang terlihat cemas.

Eng… tidak, Rey.” Eunhee menggeleng. “Memangnya itu kertas apa?”

“Itu…” Reyna menelan ludahnya. Otaknya berputar memikirkan kejadian sebelum ia kehilangan kertas itu. Mulai dari keluar kelas saat jam istirahat, pergi ke perpustakaan, bertemu salah satu teman kedua kakaknya, keluar dari perpustakaan, lalu…

Tunggu sebentar!

“Apa jangan-jangan… kertasnya tertinggal di perpustakaan?” suasana hatinya semakin memburuk. Reyna mulai kebingungan sekarang. Gadis itu bahkan tak sadar jika guru pengajar di kelasnya sudah datang dan siap memberikan materinya.

“Ada apa, Rey?” Eunhee pun terlihat cemas. Masa bodoh dengan ketakutannya kalau Reyna memarahinya, yang jelas, ia harus tahu apa yang terjadi pada teman satu bangkunya itu.

“Eunhee-ya, sepertinya aku kehilangan kertas itu.”

Tapi Eunhee tak mampu membalas. Reyna tak memberitahu kertas yang ia maksud.

― The Miracle in Our Life

 

 

Selama jam pelajaran terakhir berlangsung, Reyna tak dapat berkonsentrasi penuh. Pikirannya sungguh kacau sekarang. Kemungkinan buruknya kalau ia tak menemukan kertas itu dan mengerjakannya secepat yang ia bisa, adalah mendapat omelan yang lebih banyak lagi dari guru Jung.

Astaga! Kenapa ia harus seceroboh ini? Kenapa ia hanya memikirkan dirinya yang merasa terganggu karena kehadiran laki-laki yang mengganggunya di perpustakaan, dan lebih memilih terburu-buru meninggalkan perpustakaan hingga harus kehilangan soal tambahan itu?

Dasar bodoh!

“Jadi, kertas itu berisi soal tambahan tugas Matematika?” Eunhee bersuara, kala guru pengajar di depan kelas tengah duduk di kursi guru seraya berbincang dengan guru lain yang memasuki kelas untuk bertemu dengannya.

“Ya.” Jawab Reyna ringkas.

“Aku akan membantumu mencarinya.” Ujar Eunhee, menyentuh pundak Reyna.

“Tak perlu.” Reyna menatap Eunhee, datar. “Aku akan mencarinya sendiri.”

“Tapi, Rey.”

“Tak perlu mengkhawatirkanku,” gadis itu kembali menatap ke depan. Enggan mendengarkan kelanjutan ucapan temannya lagi.

Beberapa menit kemudian, bel pulang akhirnya berdering nyaring. Semua murid-murid lekas membereskan buku-bukunya dan memasukkannya ke dalam tas. Gemuruh pun terdengar di sana sini. Reyna yang juga tengah membereskan buku-bukunya, hanya membungkam mulut, enggan bersuara, selagi pikirannya terus tertuju pada kertas itu.

“Kau yakin, tak mau kubantu?” lagi-lagi Eunhee menawarkan bantuannya. Menatap Reyna nanar, karena sungguh demi apapun, ia hanya ingin Reyna selamat dari ancaman hukuman guru Jung yang lebih berat.

“Ya.” Jawab Reyna.

Dan yang bisa Eunhee lakukan hanyalah mendesahkan napas keputusasaan. “Baiklah jika itu memang maumu, Rey. Kuharap, kau bisa menemukannya.” Gadis itu memberikan senyum terbaiknya, menepuk bahu Reyna sesaat sebelum ia melangkah meninggalkan kelas bersama dengan teman sekelas lainnya.

Selesai membereskan barang-barang di atas meja, Reyna melangkah keluar dan berhenti di ambang pintu saat maniknya mendapati Baekhyun berjalan ke arahnya.

“Reyna-ya.” Baekhyun menyapa setelah ia berdiri di depan adiknya. “Chanyeol ingin bertemu denganmu, di taman belakang.”

“….” Reyna termenung. Chanyeol? Siapa dia? Apakah dia juga adalah salah satu dari teman kakaknya ini?

“Katanya dia bertemu denganmu di perpustakaan, dan sekarang ia juga ingin bertemu denganmu.” Kata laki-laki itu melanjutkan, seolah bisa membaca mimik kebingungan Reyna.

Tapi… untuk apa dia ingin menemui Reyna? Apakah ia berbuat salah pada sang kakak kelas lalu menyuruhnya untuk meminta maaf?

Ah, sepertinya tidak. Tak mungkin Reyna berbuat salah. Ia tak pernah berbuat demikian pada siapapun, termasuk pada Park Chanyeol.

Apa jangan-jangan…

Oppa, apa dia sudah ada di taman belakang?” tanya Reyna, memastikan. Tangannya menggenggam kedua pergelangan tangan Baekhyun dan menatapnya penuh harap.

“Mmm… kurasa… ia sudah ada di sana. Perlu kutemani?”

“Tak perlu.” Jawab Reyna, singkat. “Aku akan menemuinya sendiri.”

Baekhyun mengangguk pelan, “Kalau begitu, cepatlah temui dia. Lagipula aku sudah meminta paman Han untuk menunggu beberapa menit lagi. Dia sudah sampai di sekolah, omong-omong.” Katanya seraya menatap jam tangannya.

“Terimakasih, Oppa.” Reyna mengulas senyum samar, lalu beranjak meninggalkan sang kakak yang masih berdiri di sana. Menatap punggung Reyna dengan tatapan keheranan. Karena salah satu di antara Reyna dan Chanyeol tak ada yang mau menjelaskan mengapa mereka harus bertemu di sana.

― The Miracle in Our Life

 

 

Aku tak bisa dan tak mau mengerjakan soalnya.

 

Hidupku lebih rumit daripada soal-soal ini!

 

Aku lelah. Sangat lelah. Tak bisakah untuk sebentar saja, aku terlepas dari seluruh beban hidupku ini?

 

Kalimat-kalimat itu terus Chanyeol baca dalam hatinya. Maniknya terlihat begitu serius setiap ia membacanya dengan pelan. Ia kira, tulisan berantakan yang tertera dalam kertas milik gadis itu berupa coretan untuk menghitung angka. Tapi nyatanya, itu berisi beberapa curahan hatinya yang… bisa dibilang cukup berat untuk dilalui.

Chanyeol akui, ia memang tidak memiliki hubungan pertemanan yang baik dengan Baekhyun dan juga Sehun meski mereka berada dalam satu kelas yang sama. Akan tetapi, hatinya seolah ingin mengetahui kiranya apa yang terjadi dalam hubungan kekeluargaan mereka, terlebih ketika cerita mengenai hubungan ketiga Oh bersaudara itu yang agaknya kurang baik terdengar meluas dan sampai ke telinganya sendiri. Dan bukti tentang perdebatan yang terjadi di dalam kelas tadi saat bel istirahat berbunyi, serta kala Chanyeol telah membaca curahan hati adik dari keduanya melalui kertas itu, membuat pendapatnya semakin kuat, kalau hubungan mereka benar-benar buruk.

Tapi… apa Chanyeol salah kalau ia ingin mengetahui permasalahan yang ada, dan berpendapat demikian?

“Oh, kau sudah datang?” Chanyeol bangkit berdiri dari kursi di taman belakang sekolah yang terawat dengan begitu baik. Maniknya berbinar, sementara bibirnya mengukir senyum lebar.

“Apa sunbae menemukan kertas selembar milikku yang tertinggal di meja perpustakaan?” tanya Reyna, tanpa mengindahkan perkataan Chanyeol padanya.

Senyuman itu perlahan menurun. Chanyeol menelengkan kepalanya, menatap Reyna dengan mata memicing. “Bersikap sopanlah pada kakak kelasmu ini.” Katanya kemudian.

“Maaf, sunbae, tapi aku harus mengambil kertas itu. Kau tahu? Aku tak akan bisa pulang kalau tak mengerjakan soal-soal―”

“Aku sudah menyelesaikan semua soal-soal di kertas ini.”

“….” Reyna bungkam. Jantungnya kembali berdetak tak normal.

“Kaubilang apa?”

“Aku sudah menyelesaikan soal-soal milikmu, Rey.” Jawab Chanyeol, meyakinkan Reyna. Kedua sudut bibirnya berjungkit naik, membentuk kurva manis. “Aku tahu permasalahanmu. Kau takut jika guru Jung tak mengijinkanmu pulang sebelum tugasnya diserahkan padanya, kan?” laki-laki itu lantas mendudukkan diri di atas bangku panjang, kemudian menepu tempat kosong di sebelahnya. “Duduklah dulu,”

Reyna masih saja membungkam bibirnya. Berdiri mematung adalah hal yang ia lakukan saat ini.

“Duduklah, atau kertas ini tak akan kuberikan padamu.” Ucapan Chanyeol agaknya berhasil membuat Reyna tersadar dari alam lamunan, lalu berjalan mendekat dan duduk di sampingnya secara hati-hati.

Sunbae,” Reyna berdeham. “Kenapa… kau mengerjakan soal-soal itu?”

Chanyeol terkekeh mendengar pertanyaan adik kelasnya. “Itu karena, yah, soalnya sangat mudah. Makanya, tanganku gatal sekali ingin mengerjakannya.” Ia mendesah kecil. “Asal kau tahu saja, aku dan beberapa temanku pernah menjadi murid les Matematikanya saat di sekolah menengah pertama.”

“Terimakasih karena sudah membantuku.” Lagi, Reyna tak mengindahkan pernyataan Chanyeol, sekalipun ia yang menanyakannya. Tapi Chanyeol bersikap acuh tak acuh akan hal itu.

“Apa kau baik-baik saja?” pertanyaan itu meluncur tanpa asa dari bibir Chanyeol. Maniknya memerhatikan langit Seoul yang begitu cerah di sore ini.

Hm?” Reyna menggumam tak mengerti.

“Saat ini suasana hatimu sedang buruk, kan?” tebak Chanyeol kemudian. Menumpukan netranya pada sang gadis.

Gadis itu terdiam dengan pandangan terkunci di manik Chanyeol. Reyna menggigit bibir bawahnya, disusul dengan embusan napas pendek menguar dari celah bibir. “Suasana hatiku sangat buruk.”

Chanyeol tersenyum mengerti, “Kalau begitu, cobalah lihat ke arah langit.” Titah Chanyeol. Ucapan itu membuat Reyna menurut, dan membuat gadis itu mendongak perlahan.

Yang didapati netranya kala menatap langit biru di atas sana adalah, awan-awan putih besar berarak ke arah Selatan, banyaknya burung-burung kecil berterbangan ke sana kemari, serta semilir angin sore yang membelai lembut wajah tirus serta rambutnya.

“Apa yang kaurasakan saat menikmati pemandangan sore hari yang indah ini?” Chanyeol bertanya, selagi fokusnya masih tertuju ke atas.

Reyna menatap Chanyeol sejenak, lalu, “Apa yang kurasakan?”

Uhuh.”

“Mmm…” Reyna menggumam seraya memejamkan mata, menikmati semilir angin yang terus menghantam kulit wajahnya. “Aku merasa… cukup tenang.”

Ya, Reyna akui, hatinya terasa begitu damai setelah ia menikmati langit sore hari, juga embusan anginnya. Ini baru kali pertama Reyna merasakannya. Ketenangan, kedamaian, bagai berbaur menjadi satu. Menghasilkan sebuah kurva kecil yang terlukis di paras menawannya. Walau ketenangan yang dirasakannya ini hanyalah sesaat, tetapi Reyna bersyukur, karena ia masih bisa merasakannya.

Chanyeol memutuskan pandangannya dari langit. Lantas beralih memerhatikan Reyna yang sampai saat ini terus menatap langit, menikmati pemandangannya, tak menyadari jika atensi si pemuda di sampingnya ini tertuju ke arahnya.

“Kalau kau merasa penat, datanglah ke tempat ini. Kau tahu? Banyak sekali siswa yang merasa pikirannya penat memikirkan berbagai permasalahan. Dan ketika mereka memutuskan untuk menjernihkan pikirannya, mereka akan datang kemari.” Chanyeol menjelaskan. Bibirnya bagai tak mengenal lelah untuk terus mengukir senyum.

“Benarkah itu?” tanya Reyna, tanpa sadar ikut tersenyum meski tak menatap sang lawan bicara.

Yeah.” Chanyeol mengangguk membenarkan. “Oh, ini kertas punyamu. Maaf aku lama memberikannya.” Ujarnya, seraya menyerahkan kertas itu pada Reyna.

Gadis itu mengalihkan pandang, lantas mengambil kertas itu. “Terimakasih, Sunbae.” Ujarnya, pelan.

“Apa? Kaubilang apa?” tanya Chanyeol, karena sungguh, ia tak mendengar ucapan lirih Reyna.

Satu embusan napas panjang, dan Reyna mengulang pernyataannya sambil tersenyum samar.

 

 

.

.

.

.

“Terimakasih, untuk segalanya.”

.

.

.

To be Continue

Iklan

24 comments

  1. yey reyna bertemu chanyeol angkat kertas sambil geleng-geleng #apaaninigaknyambung
    aduh makin gimana gitu sifat sehunnya ngak ngerti diakan dingin orangnya nular deh ke adiknya tunjuk *reyna* semoga sehun bisa nerima baekhyun sama reyna kasihan tahu reynanya jadi kaya gitu rumit banget permasalahannya serumit puzzle mickey mouse #akumakinngacoaja
    next… chapter…..

  2. aku nggak tau sampe kapan sehun bersikap dingin terus ama saudaranya. yg pasti please dong.. reyna kembali ceria kayak dulu. gatal nih tangan aku mau garuk muka sehun yg uh… :3

  3. Ya ampun, ada bang chanyeol 😀 ! Reyna, kenapa jadi dingin? Semua itu salah sehun! Kan anak kecil gak boleh dikasih omongan yang menyakitkan! Sebel deh 😦 . Ada senyuman nih yang perlahan menghiasi wajah reyna, chanyeol adalah penyebab reyna jadi senang dan tenang. Dan entahlah aku ngomen apa 😀 😀

  4. Sehun sikapnya gabisa berubaha apaa gimana yaa, dingin terus gacapek apa haha.
    Chan kepooo bgt deh sama Keluarga Oh, jangan2 Chan suka sama Reyna? Ekwk

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s