Ander


ander

Ander

Presented by Isan

This is an original fiction made by me. Hope you like it! 🙂

.

 

Ander, dia adalah sahabat yang sangat kusayangi.

 


 

 

Dear diary,

Sudah satu minggu lamanya aku tidak bertemu dengan Ander. Aku merindukannya. Aku merindukan suara tawanya yang begitu renyah, dan aku merindukan suara berat nun berkharisma miliknya. Jika aku merasa tertekan karena berbagai masalah berat yang menimpa, Ander pasti akan mengetahuinya. Kemudian ia datang, dengan berjuta aura ketenangan dalam dirinya yang mampu melenyapkan seluruh beban berat di kedua bahuku. Ander juga tak akan pernah lupa untuk mengulas senyum manis, kala aku sudah merasa keadaanku cukup membaik.

Tapi terkadang, ketika masalah berat yang kupikul tak kunjung menghilang meski Ander datang dengan sejuta ketenangannya itu, yang akan Ander lakukan selanjutnya adalah membawaku ke dalam pelukan hangatnya. Mengelus puncak kepalaku, membisikkan kalimat-kalimat berisi penyemangat untukku, dan juga ukiran senyum menenangkan yang selalu tercetak di bibirnya. Meski terkadang ia selalu mengejekku seperti; Dasar gadis cengeng!; Sudah besar tapi masih suka nangis.

Memiliki paras yang rupawan, rahangnya yang begitu tegas, serta kedua alis matanya yang cukup tebal adalah poin tambahan untuknya. Ya, kuakui, Ander Annobert memang laki-laki yang cukup banyak digilai oleh penggemar wanita. Jadi tak salah kalau aku selalu merasa minder jika kami jalan berdua di area kampus, kalau para wanita yang mengagumi sosok Ander adalah wanita dengan paras menawan.

Ander, dia adalah sahabat yang sangat kusayangi.

Dan aku begitu merindukannya.

Biasanya, jika Ander mengetahui kalau aku merindukannya, ia juga pasti akan segera pergi menemuiku. Memberikan senyuman lebar serta sapaan hangat bagai candu yang selalu ingin kurasakan. Ander juga tak pernah membuatku kecewa kalau kami bertemu sekadar melepas rindu.

Tapi, saat ini, di kala kerinduan dalam diriku pada Ander kian memuncak, Ander tidak datang untuk mengunjungiku seperti biasanya. Tidak ada Ander di hadapanku, tidak ada senyumannya, tidak ada dekapan hangatnya, semuanya benar-benar tidak ada. Bagai lesap tertelan badai besar.

Aku begitu merindukan Ander. Aku sangat merindukannya.

Hingga tak lama kemudian, ketika kerinduanku padanya tak berujung, aku mendengar kabar tentang dirinya yang sekarang.

Ander…

Kabar tentang keadaanmu sungguh membuat hatiku sakit. Rasa-rasanya seperti diputar sampai melilit, membuatku merasa mual bukan main.

Datangnya kabarmu memang mampu mengobati rasa rinduku selama ini.

Namun,

Bagaimana caranya kau akan memelukku, kalau tubuhmu terangkat dengan kepalamu yang hampir menyentuh langit-langit atap, juga kedua kakimu yang menggantung tak menyentuh lantai?

Bagaimana caranya kau akan mengukir senyummu jika kedua belah bibirmu berubah warna dan kaku untuk kaugerakkan?

Bagaimana caranya kau akan tertawa renyah setiap kali kita bertemu, kalau garis melintang di lehermu membuatmu diam tak berkutik?

Bagaimana caranya, An?

Kau benar-benar menorehkan luka yang teramat dalam di relung hatiku.

Kau harus bertanggung jawab! Kau telah membuatku tak dapat menahan tangis, dan merasa semakin merindukanmu sampai ingin mati rasanya.

Kau sungguh tega, An!

Rupanya, kau memang pandai sekali menyembunyikan keadaanmu yang sesungguhnya.

Tapi, seharusnya kau mengatakan padaku apa yang sebenarnya terjadi!

Seharusnya kau tak diam saja, memendam semua masalahmu sendiri, tak berniat menceritakannya padaku.

Seharusnya kau tak berpura-pura merasa bahagia saat berada di sisiku, kalau ternyata jiwamu memeluk kesakitan dan juga kehampaan lebih dari yang kurasakan selama ini.

Kau harus ingat, masih ada aku yang akan selalu ada di sisimu, mendengar keluh kesahmu, mendengarkan ceritamu, merasakan kehampaanmu. Bukankah kita adalah sepasang sahabat?

.

.

.

.

Ander, apakah kau percaya pada kata takdir?

 

Jika kau percaya, yakinkan dalam hatimu, bahwa kita pasti akan bertemu lagi, dan aku akan melepas rindu ini padamu sepuasnya.

 

Kelak ketika kedua mataku menutup perlahan, mengukir lembut senyuman di bibirku seraya memohon dalam hati, semoga kita bertemu lagi, di tempat yang lebih indah, di dalam kesunyian yang hanya akan memeluk kita berdua, di sana.

 

.

.

.

.

Fin.

 

Note : untuk Ori-fic, aku bakal pakai nama pena dengan nama asli (Tunjuk nama Isan di atas) 😀

Thanks for reading, and please leave your review below. 🙂

Iklan

4 comments

  1. Ya ampun. Jadi, Ander gantung diri? Sumpah, nyesek banget 😥 . Aku kira Ander ada apa. Eh, ga taunya bunuh diri 😥 . Ander nya kenapa bunuh diri? Kan aku jadi nyesek 😥 . Tau ah, kakak harus tanggung jawab 😦 !

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s