The Miracle in Our Life ― Chapter 6


themiracle

The Miracle in Our Life

ShanShoo’s Present

 

Starring EXO’s Baekhyun, OC’s Reyna, Sehun, other | genre family, AU, friendship, slight!sad, angst, slight!romance | length chaptered | rating PG-15

Disclaimer : I just own the plot and OC’s character. So, enjoy it! And I’m sorry for many typos there 🙂

It’s an amazing poster by Jo Liyeol on @FanFictionEXO. Thanks, Dear

.

Everyone had to tell to God, when they needed a lot of love in their family

 

.

Prev story : [Prolog] [Chapter 1 : Tell Your Wish!] [Chapter 2 : Pretend] [Chapter 3 : Complicated] [Chapter 4 : Something and Someone] [Chapter 5 : When Tears are Falling]

.

― Chapter 6 : What is the Problem?

 


 

 

“Ya, terus saja kau bersikap menyebalkan seperti ini. Tapi jika aku kembali melihat Reyna menangis lagi karena sikapmu itu, maka aku tak akan segan-segan untuk menghajarmu!”

Awalnya Sehun berharap dengan cara merilekskan tubuh di atas tempat tidurnya itu, perkataan Baekhyun yang sedari tadi mengganggunya akan menghilang. Namun nyatanya tidak. perkataan terakhir itu tetap terngiang dalam pikiran. Membuat Sehun mengerang kecil lalu mendesahkan napas kasar.

Suasananya terasa senyap, dengan lampu kamar yang kini berganti dengan lampu tidur. Dan memang suasana inilah yang diinginkannya. Akan tetapi, entah mengapa ada suasana tak mengenakkan juga yang melebur ke dalam kesenyapan yang ada setelah Baekhyun meninggalkan kamar Sehun dengan sejuta emosi dalam dada.

Mencoba untuk mengenyahkan kembali ingatan menyebalkan tentang kejadian tadi, Sehun membetulkan posisi tidurnya senyaman mungkin. Memiringkan tubuh ke kanan dan ke kiri secara berkala, berharap rasa kantuk segera menyerangnya. Ia hanya ingin segera tertidur dan beranjak pergi ke dalam alam mimpi, seraya berharap semoga perkataan itu bisa menguar saat Sehun terbangun dari tidurnya.

― The Miracle in Our Life

Pagi ini, Reyna terlambat bangun, seperti biasa.

Panik? Tidak. Roman panik tidak tercetak sama sekali di wajah tirusnya.

Gadis itu duduk lemas di atas tempat tidur dengan selimut tebal yang masih membalut tubuhnya. Pikirannya masih belum benar, pandangannya pun masih terasa buram. Tenggorokannya terasa kering saat ia ingin mengucap kata. Membuatnya menelan ludah susah payah, kemudian mengembuskan napas panjang.

Setelah dirasa penglihatannya semakin jelas, ia melirik jam dindingnya. Pukul enam pagi tertera jelas di sana.

“Masa bodoh!” erang Reyna tak terelakkan. Merasa tak peduli jika ia terlambat pergi ke sekolah dan mendapat hukuman lagi dari guru pengajar di kelas. Ya, ia tak akan peduli akan hal itu.

Tapi,

“Ya Tuhan, Oh Reyna! Bagaimana bisa kau masih bermalas-malasan di atas tempat tidurmu, sementara kedua kakakmu sudah bersiap untuk berangkat ke sekolah?” suara Sooyeon tiba-tiba membaur bersama pemikiran Reyna barusan. Gadis berperawakan agak kurus itu lantas menoleh ke arah pintu kamarnya yang terbuka. Mendapati tatapan tak percaya dari ibunya disertai emosi yang cukup membludak.

Iya, itu masalahnya. Meskipun Reyna terus terlambat bangun dan tak peduli pada keterlambatannya, ia tetap harus memerhatikan kedua kakaknya juga, mereka tak boleh ikut terlambat. Terlebih, kedua kakaknya telah menempati posisi kelas penghujung di sekolah. Kelas terakhir di mana terdapat banyak sekali peraturan ketat yang harus dipatuhi oleh siswa-siswa kelas tiga.

“Cepat pergi mandi dan bersiap pergi ke sekolah. Ibu taruh bekal sarapan pagimu di sini.” Sooyeon menaruh kotak bekal milik Reyna di atas meja belajar, sesaat setelahnya ia beranjak dari ambang pintu menuju ke luar seraya menutup kembali pintunya. Menyisakan tatapan datar yang terpeta pada wajah Reyna. Untuk sesaat, selama beberapa detik lamanya, Reyna kembali meluruskan kepalanya serta pandangannya ke arah dinding. Menatapnya lamat-lamat dengan segala reka ulang kejadian kemarin malam yang kembali mengusak batin.

Tangisannya, keluhannya, kekesalannya, semua hal itu membuat paginya terasa suram. Tak pelak, Reyna mendesahkan napas hingga dadanya terasa sesak saat memikirkannya.

Beralih ke ruang tengah, Baekhyun terlihat duduk menyilang kaki pada kursi sofa panjang bersama dengan Sooyeon, Daemin dan juga Sehun. Tetapi Sehun duduk di kursi tunggal, seolah enggan berbagi kursi bersama saudara laki-lakinya.

Berkali-kali Sehun melirik kesal jam tangannya. Mengalihkan pandangannya pada pintu kamar Reyna, lalu menaruh tatapan pada Baekhyun.

“Bagaimana bisa kebiasaan buruknya terulang?” pertanyaan yang Sehun utarakan agaknya ditujukan pada Baekhyun. Merasa diajak berbicara, Baekhyun mendongak menatap Sehun. Mengembuskan napas, lalu menjawab,

“Aku tidak tahu.” Katanya. “Lagipula, kita tidak akan terlambat, kan?”

“Menurutmu?”

Perdebatan kecil yang terjadi di antara kedua anaknya itu membuat Daemin berdeham keras. Keduanya lantas terdiam, begitupun dengan Sooyeon yang tak jadi mengutarakan kalimat. Pria paruh baya itu membetulkan dasi kerjanya, berikut dengan jas yang membalut tubuh tegapnya. “Ada baiknya, kalau kalian memberitahu Reyna untuk tidak terus terlambat bangun.” Daemin tersenyum kecil di akhir kata. “Dan, ini baru kali pertama aku mendengar kalian memperdebatkan sesuatu hingga saling menunjukan urat-urat di leher kalian.”

Pernyataan itu refleks saja menyebabkan kerja jantung keduanya di atas normal. Baekhyun mengerjap cepat, sementara Sehun terlihat tak nyaman dalam duduknya.

Apakah sejelas itu?

Tak berselang lama, terdengar suara pintu yang dibuka.

“Nah, adikmu sudah selesai. Cepatlah berangkat.” Sooyeon berujar, disusul dengan Baekhyun dan Sehun yang beranjak dari tempat duduknya. Berpamitan pada kedua orang tuanya selagi Reyna berjalan cepat menyusuri tangga.

“Ayah, Ibu, maaf aku terlambat bangun. Aku pergi dulu.” Reyna tersenyum dengan rasa bersalah yang menyertai, lantas memeluk hangat Sooyeon dan Daemin bergantian sebelum menyusul kedua kakaknya yang sudah lebih dulu keluar menuju mobil.

“Hati-hati di jalan, Anak-anak. Pastikan sabuk pengaman kalian terpasang!” ujar Daemin sembari merangkul bahu Sooyeon di sampingnya. Keduanya saat ini sedang berada di area teras rumah, menatap sepasang mata ketiga anaknya yang balas menatap dari balik kaca mobil. Mereka memberikan lambaian singkat serta senyuman kecil pada Sooyeon dan Daemin, disusul dengan kepala yang tertunduk singkat dari paman Han, tanda hormat. Sebelum mobil sedan hitam itu melaju meninggalkan halaman utama rumah dan berbaur bersama hiruk pikuk jalan raya kota Seoul di pagi hari.

Lalu, suasana hening mulai menyelimuti.

Reyna melirik secara hati-hati pada Baekhyun, lalu pada Sehun yang duduk di kursi depan, seperti biasa, berlanjut pada paman Han yang sibuk mengemudikan mobil.

“Maaf jika keterlambatanku ini berimbas pula pada kalian berdua.” Ujar Reyna pada kedua kakaknya, berusaha memecah keheningan.

Belum ada yang menjawab, tetapi Baekhyun segera mengusak rambut adiknya itu, gemas. Kurva manisnya pun tercetak di bibirnya. “Dasar Bodoh! Kaupikir dengan meminta maaf, kita semua akan datang tepat waktu?” katanya dengan nada canda yang kentara. Ucapan itu agaknya membuat Sehun bergumam, bukannya tadi Baekhyun bilang kalau mereka tidak akan datang terlambat datang sekolah hari ini?

“Tapi, kan, setidaknya aku sudah meminta maaf.” Reyna mendengus kesal, lalu melempar pandang ke arah kaca mobil di sampingnya. Oh, rupanya kebiasaan Reyna kala merasa kesal, terus terbawa sampai ia beranjak dewasa.

“Kau hanya tak perlu mengulang lagi kebiasaan burukmu itu.” Suara Sehun tahu-tahu terdengar membaur ke dalam perbincangan ringan itu. Reyna lekas menaruh perhatiannya pada Sehun yang masih menatap lurus ke arah jalan.

Selalu saja seperti ini. Setiap kali Sehun selesai berujar, suasana hening akan mengikutinya. Membisukan beragam kata yang hendak terlontar manakala Reyna merasa dadanya sesak karena dipenuhi emosi.

“Aku…” Reyna mengembuskan napas dalam sekali hentakan, “akan kuusahakan.” Ujarnya, memasang wajah datar untuk menyembunyikan kekesalannya, sebelum berakhir memerhatikan lagi pemandangan semu di sampingnya.

Baekhyun tak mengutarakan hal apapun untuk hal itu. Ia hanya mendesah pelan, membasahi bibirnya sesaat sebelum ia bertanya,

“Apa suasana hatimu sudah membaik?”

Reyna mengernyit, apakah pertanyaan yang Baekhyun utarakan itu ditujukan untuknya? Untuk memastikan hal itu, Reyna menoleh menatap sang kakak. Dan benar saja, rupanya Baekhyun sedang bertanya padanya sembari memasang wajah penuh tanya.

Umm,” Reyna tersenyum tipis sambil mengangguk mengiyakan. “Yah, meskipun aku merasa sedikit kesulitan untuk menenangkan emosiku semalam.”

“Syukurlah,” Baekhyun bernapas lega setelah mendengar jawaban Reyna.

“Dan aku sangat berterima kasih padamu, karena kau telah memberiku ketenangan malam tadi.” Balas Reyna tanpa menghilangkan senyuman samar di bibirnya.

Uh, okay.” Kedua sudut bibir Baekhyun tertarik ke atas. Baekhyun merasa senang sekali karena hari ini Reyna menunjukkan senyuman untuknya, meskipun itu hanyalah senyuman samar.

“Aku juga turut senang mendengar Nona ceria hari ini.” Timpal paman Han di balik kemudinya. Pria itu nampaknya tersenyum ramah walau Baekhyun dan Reyna tak mengetahuinya.

“Terimakasih, Paman.” Kata Reyna, membalas, tak kalah ramah.

Tak ada lisan yang terucap dari bibir Sehun. Laki-laki itu hanya sibuk memerhatikan jalan raya. Meski begitu, pendengarannya terus menangkap berbagai tawa kecil dan juga ucapan-ucapan menyenangkan yang terlontar dari ketiga orang di sekelilingnya.

Terlebih Reyna.

Nada bicara gadis itu terdengar bagai tanpa beban. Nada yang pernah Sehun dengar sebelumnya ketika mereka masih berada di usia anak-anak. Saat Sehun mendengar ucapan Reyna yang begitu ceria dan bersemangat, saat itulah Sehun mengetahui, jika suasana hati anak perempuan tersebut sedang amat baik. Dan katanya, siapapun yang mendengar suara anak perempuan yang terlampau ceria itu pasti akan turut merasakan perasaan yang sama.

Tapi, apakah Sehun ikut merasakannya juga? Entahlah. Sehun belum bisa mendeskripsikan bagaimana perasaannya itu.

― The Miracle in Our Life

Kalau diperkirakan, sepertinya Chanyeol tak akan kena marah lagi oleh Mrs. Im. Tugasnya, kan, sudah ia kerjakan. Jadi, kemungkinan ia dimarahi adalah sedikit. Dan Chanyeol patut mengumbar senyum lebarnya karena hal itu.

Chanyeol tiba di sekolah tepat sepuluh menit sebelum bel berdering. Langkahnya-langkahnya tampak antusias, dengan tangan kanan menggenggam buku tugas yang baru saja ia keluarkan dari dalam tas punggungnya. Iya, itu buku tugas Bahasa Inggris miliknya yang akan ia berikan pada Mrs. Im. Chanyeol tak mungkin lupa pada ‘amanat’ gurunya itu untuk mengumpulkan tugasnya esok hari, yaitu hari ini.

Mrs. Im, aku mengumpulkan tugasnya tepat waktu, kan?” suara Chanyeol terdengar jelas saat ia berada di depan meja gurunya itu. Agaknya Mrs. Im cukup terkejut mendengar nada bicara Chanyeol yang bisa dikategorikan berisi kebahagiaan.

Yeah,” wanita itu mengangguk. “coba saja kalau kemarin kau memberikan tugasnya padaku. Mungkin kau tak akan mendapat beberapa soal tambahan.”

“Ah,” Chanyeol terkekeh. “itu karena ada urusan lain yang harus kukerjakan juga tepat pada waktunya. Jadi, maafkan aku, Mrs. Im.”

Wanita itu hanya bisa mendesah mendengar alasan Chanyeol, dan tak berniat untuk menanyakannya lebih lanjut. Karena ia tahu, akan ada beragam alasan lain yang tak ia mengerti, yang akan keluar dari bibir siswa bernametag Park Chanyeol di depannya ini.

“Ya sudah, kau bisa keluar sekarang.” Kata Mrs. Im seraya mengibaskan pelan tangannya di depan dada. Ucapan itu Chanyeol respon dengan bungkukkan badannya secara singkat, mengulas senyum lebar, lalu beranjak dari sana menuju kelasnya. Ah, rasanya begitu melegakan ketika kau telah menyelesaikan soal tugas yang diberikan guru pengajarmu. Well, meskipun kau sendiri merasa kesulitan untuk mengerjakannya.

Hendak melangkah lebih jauh, namun telinganya mendengar perbincangan singkat yang bersumber dari arah belakangnya. Chanyeol menoleh ke belakang, mendapati Sehun, Baekhyun, dan juga Reyna yang berjalan bersama menuju kelas masing-masing.

Reyna hanya memasang wajah datar, pun dengan Sehun―jangan sebutkan nama Baekhyun, karena laki-laki itu tetap menampilkan roman bersahabat di wajahnya, meski kedua saudara di sisi kanan dan kirinya tidak memasang roman yang sama.

Bisikan-bisikan berisi pujian, makian, juga bisikan yang tak dimengerti seolah memaksa masuk ke dalam indera pendengaran. Namun Reyna tetap saja bersikap tak acuh. Tak mau memikirkan hal itu sama sekali. Dan kala netranya terpaku pada sosok siswa bertubuh tinggi yang berdiri tak jauh dari hadapannya, Reyna tertegun. Melupakan sejenak sikap tak acuhnya hingga membuatnya memasang wajah cukup terkejut. Terlebih ketika Reyna merasakan tatapan Chanyeol padanya begitu lekat.

Kenapa Chanyeol menatapnya seperti itu?

Well… well, kudengar ada seseorang di sekolah ini yang telah membantu adikku mengerjakan tugas Matematikanya, daripada mengerjakan tugasnya sendiri. Dan… lebih tepatnya, seseorang itu berada satu kelas denganku.” tahu-tahu Baekhyun merangkul bahu Chanyeol yang nyatanya lebih tinggi dibanding bahunya sendiri. Senyum lebar dan senda gurau begitu kentara di wajahnya.

Chanyeol mengulas senyum kikuk saat mendengar pernyataan yang terlontar dari bibir Baekhyun. Netranya mengarah pada Reyna, namun yang ditatap hanya berdeham kecil sembari mengalihkan pandang ke arah lain.

“Aku ke kelas lebih dulu.” Sehun menyela perbincangan kecil di antara ketiga orang di dekatnya. Memasukkan kedua telapak tangan ke saku celana seragam, Sehun melangkah santai. Jangan lupakan mimik dingin yang selalu tercetak di wajahnya. Bukan apa-apa, ia hanya tak mau terlibat obrolan tak penting apapun bersama mereka apalagi jika itu tidak menyangkut tentang dirinya.

Uh, okay.” Baekhyun mengedikkan bahunya, tak peduli pada langkah-langkah Sehun yang kian menjauh. Lagipula ia dan juga Reyna sudah cukup terbiasa dengan sikap laki-laki itu.

“Jadi… Park Chanyeol,” manik Baekhyun kembali fokus pada Chanyeol di sampingnya. “kau, ‘kan, yang mengerjakan tugas milik Reyna?”

Ditanya seperti itu, tentu saja membuat Chanyeol merasa kikuk. Masalahnya bukan pada nada pertanyaan Baekhyun yang terdengar menggoda, atau tatapan laki-laki itu yang terlihat mengintimidasi, tapi… itu semua karena tatapan Reyna padanya terlihat seperti ‘Kaulah yang bersalah di sini.’ Yah, meski Chanyeol tahu kalau Reyna tak mungkin berkata seperti itu. Bukankah kemarin sore Reyna mengucap kata terimakasih karena telah membantunya?

Am I wrong, huh?” Baekhyun membenturkan bahunya ke bahu Chanyeol. Dan sekali lagi, Chanyeol dibuat kikuk oleh tatapan Reyna.

Oppa, berhentilah bersikap seperti itu dan segeralah ke kelas. Bel akan berdering sebentar lagi.” Reyna menyela pembicaraan yang menurutnya tak penting. Menatap malas sang kakak, lalu beralih pada Park Chanyeol. “Oh, ya, Sunbae, kuharap kau masih bisa bertahan di sisi kakakku ini sampai lulus nanti.” Katanya, memojokkan Baekhyun tanpa asa.

Y-ya ya ya! Kau tak perlu berkata seperti itu.” Balas Baekhyun kemudian, lantas menggigit satu sudut bibirnya di bagian bawah. “Ya sudah, ayo kita ke kelas, Yeol,”

Reyna hanya mengedikkan bahu kanannya. Mendesah berat sebelum merajut langkah menuju kelas, sambil melirik sekilas jam tangannya yang kini menunjukkan pukul tujuh kurang lima menit. Untung saja ia dan kedua kakaknya tidak terlambat masuk hari ini. Kalau tidak, maka, bukan hanya teguran juga berbagai petuah yang akan keluar dari sang guru pengajar. Mereka pun pasti tak akan segan-segan memberi tugas yang berat sekaligus.

― The Miracle in Our Life

 

“Oh, Reyna­-ya!” Eunhee beranjak dari kursi dan berlari menghampiri Reyna. Mimik gadis itu nampak cemas, selagi tangannya menarik lengan Reyna untuk segera membawanya ke bangku mereka. Reyna yang tak mengerti apapun hanya mengikuti langkah terburu-buru teman sebangkunya itu.

Semua pandangan sepertinya mengarah pada Reyna dan Eunhee. Bukan, bukan tatapan penuh rasa penasaran yang terpancar. Melainkan… tatapan penuh… ketakutan?

“Ada apa?” tanya Reyna, heran. Alis saling bertautan, manik menilik ke arah teman-teman sekelas yang masih tertuju padanya.

“Kau… uh… ada yang mencarimu sewaktu kau belum datang.” Ujar Eunhee dengan napas sedikit terengah. Ia menggigit bibir bawahnya tak sabaran, seolah menahan rasa takut yang ada.

Kerutan di kening Reyna bertambah satu. Nada bicara Eunhee yang terdengar resah itu pun membuat rasa penasarannya kian menjadi. “Siapa yang mencariku? Apakah guru?” tanya Reyna kemudian. Meski ia sendiri tak begitu yakin jika yang mencarinya adalah guru. Dan setahunya, ia sudah mengumpulkan segala tugasnya walau tak tepat waktu.

God! Reyna-ya…” Eunhee mengusap wajahnya secara kasar. “Dia… Song Miyeon.” Katanya, agak ragu saat mengucap nama seseorang yang mencari Reyna tadi.

“Song… Miyeon?” Reyna menaikkan sebelah alisnya. “Bukankah dia…”

“Iya, dia… siswi tercantik dan terpopuler di sekolah ini.” Balas Eunhee kemudian, yang langsung direspon dengan tatapan penuh tak percaya dari Reyna.

Benarkah Song Miyeon yang mencarinya? Tapi… ada apa?

Reyna terpekur ketika nama gadis Song itu terngiang dalam benak. Ia pun mulai mencari kiranya apa masalah yang melibatkan dirinya dengan gadis itu. Gadis yang terkenal akan kecantikannya, keangkuhannya, serta ketidakramahannya.

Sedikit informasi, Song Miyeon, dia adalah anak dari seorang pengusaha ternama di kota Seoul ini. Sekarang ia sudah menduduki kelas tiga, well, gadis itu adalah seorang kakak kelas Reyna. Ia memiliki tiga teman ‘permanen’ yang selalu menemaninya ke mana pun. Ketiga temannya juga memiliki sikap yang sama seperti Miyeon. Kasar, dan selalu memandang rendah para siswa berstatus ekonomi menengah ke bawah.

Sudah banyak siswa di sekolah ini yang menyatakan rasa sukanya pada Miyeon. Namun gadis itu hanya bersikap tak acuh. Menganggap pengakuan itu sebagai angin lalu atau sebagai hiburan belaka. Meski demikian, para siswa tetaplah memujinya. Tak peduli akan sikap-sikap buruk yang dimilik Miyeon.

“Apa dia mengatakan sesuatu?” Reyna bertanya lagi ketika sudah merasa yakin, kalau ia memang tidak terlibat masalah apapun dengan Song Miyeon atau ketiga temannya yang lain.

“Oh, aku yakin kau tak ingin mendengarnya, Rey.” Keluh Eunhee, cemas bercampur takut.

Hey, jika kau sudah terlibat sesuatu dengan Song Miyeon―sekalipun kau merasa tak memilikinya― maka dapat dipastikan, hidupmu tidak akan tenang sampai kau bisa membuat gadis itu bisa memaafkanmu.

“Katakan saja.” Ujar Reyna, seraya menatap Eunhee sungguh-sungguh.

“Dia hanya bilang kalau… dia punya suatu urusan denganmu.”

“Hanya itu?” tanya Reyna, tak percaya.

“Ya, hanya itu yang ia katakan.” Eunhee mendesah tak karuan. “Kau tahu, Rey? Saat kedatangannya kemari, kami semua hanya terdiam di tempat. Tak ada yang bergerak sejengkal pun. Kami… kami takut padanya.”

Reyna tak menyahut. Gadis itu hanya mendesahkan napas panjang, sembari menyandarkan punggungnya pada sandaran tempat duduk.

“Miyeon akan kemari lagi ketika jam istirahat tiba, Rey.” Ujar Eunhee, menambahkan.

“Apa?” untuk yang ke sekian kalinya, Reyna dibuat tak percaya.

“Hei, memangnya aku punya urusan apa, sih, dengan gadis itu?” ia menggerutu kesal, mengedarkan pandangannya ke arah teman sekelasnya yang menatapnya sendu. Ah, sepertinya mereka merasa prihatin pada Reyna Oh. Andai saja mereka bisa membantu masalah ini.

“Aku tidak tahu apa masalahnya. Tapi,” Eunhee membasahi bibirnya, “ingatlah perkataanku, kau tak boleh berbicara yang macam-macam saat bertemu dengannya. Oke?”

Reyna belum menyahut. Tangan kanannya terangkat dan mengusap pelipisnya yang sedikit berkedut. Alih-alih menatap dan menjawab Park Eunhee, gadis itu memilih larut ke dalam pemikirannya sendiri.

Iya, Reyna harus terus mencari masalah apa yang sudah ia perbuat.

Ia harus tetap mencarinya…

Ayoo… berpikirlah, Reyna!

Sial!

Bagaimana bisa keadaannya terasa begitu mencekam?

Is it a big problem?

Memikirkan seluruh permasalahan ini semakin membuat Reyna tak mengerti. Bahkan ia sampai tak berkonsentrasi dalam pembelajaran ketika sang guru pengajar telah memasuki kelas dan memberikan bahan ajarannya, seperti biasa.

Iya, masalah itu… Reyna harus tetap mencari permasalahannya sampai ketemu!

Karena masih ada sisa waktu seratus enam puluh menit lagi sebelum Reyna bertemu dengan gadis itu.

― The Miracle in Our Life

 

 

Jam istirahat akhirnya tiba.

Para siswa di kelas 3-2 mulai membereskan semua barang-barangnya sebelum pergi ke luar. Beberapa di antara mereka ada yang tengah menyenandungkan satu dua baris lagu untuk menyatakan betapa senangnya mereka saat jam istirahat mulai berlangsung. Ah, andai saja penyebabnya bukan karena perut yang menjerit minta diisi.

“Oi, Baekhyun!” Chanyeol berseru pada Baekhyun, ketika ia dan seluruh murid lainnya memberikan ucapan salam pada sang guru pengajar.

“Apa?” sahut Baekhyun yang masih asyik membenahi isi tas punggungnya.

“Aku ingin mengajak adikmu pergi ke kantin.” Ucapan itu refleks membuat Baekhyun menoleh menatap si pemuda Park. “Boleh, kan?” lanjutnya, tak peduli pada manik Baekhyun yang membelalak kaget.

“Tidak!” katanya mantap, tak acuh pada senyuman lebar Chanyeol yang seolah terlihat untuk meminta ijin.

“Kenapa?”

“Kau pasti mau menggoda adikku, kan?” kata Baekhyun, tak lagi saling bersitatap dengan Chanyeol.

Chanyeol mendesah panjang. Sepertinya Baekhyun memang tak mengijinkannya untuk bertemu lagi dengan Reyna.

“Kalau begitu, aku minta ijin pada Oh Sehun saja.”

Deg

Baik Sehun maupun Baekhyun, keduanya sama-sama menghentikan aktifitas kala mendengar pengakuan Chanyeol yang begitu antusias. Manik bergulir ke sana kemari, selagi tangan perlahan mengendur dari pegangan tas.

Kenapa harus Sehun?

Satu kalimat itu sukses memenuhi isi kepala Baekhyun sekarang.

Ya, Oh Sehun!” seru Chanyeol pada Sehun yang bangkunya terletak di sisi bangku miliknya.

Sehun terdiam tak menyahut.

“Aku ingin mengajak Reyna pergi ke kantin. Karena… uh, setahuku, aku tak pernah melihatnya di kantin. Dan… kusimpulkan kalau Reyna jarang mengisi perutnya.” Telunjuk mengetuk dagunya berkali-kali, selagi maniknya terarah pada sosok laki-laki dengan roman datar yang tercipta di hadapannya.

“Boleh, kan?” itu adalah pertanyaan yang sama. Dan Chanyeol sama sekali tak menyadari kalau aura aneh mulai melingkupi dirinya dan juga kedua orang itu.

Sehun tetap tak menjawab. Ia terlihat mengalihkan tatapan ke arah jendela kelas di mana terdapat banyak siswa yang hilir mudik melewati kelasnya.

“Oh Sehun-ssi―”

“Terserah.” Pada akhirnya, hanya satu kata itulah yang terlontar dari bibir Sehun. Laki-laki berkulit pucat itu kini bangkit berdiri dan melenggang meninggalkan kelasnya. Jangan lupakan bagaimana mimik datarnya yang begitu kentara. Sementara Baekhyun dan Chanyeol masih berada di sana, di tempatnya, menatap punggung Sehun hingga tak lagi terjangkau pandang.

Sepeninggalnya, Chanyeol ganti memerhatikan Baekhyun. “Aneh.”

Hening.

“Ada yang aneh di antara kalian bertiga, omong-omong.” Kata Chanyeol, mengoreksi ucapannya.

Baekhyun lantas menoleh setelah mendengar hal itu. Segera saja ia berujar, “Apa maksudmu?”

“Mmm…” Chanyeol menggumam sejenak, “kadang aku tak mengerti pada sikap kalian bertiga. Kalian benar-benar tak terlihat sebagai keluarga pada umumnya.” Katanya, dengan kening mengerut samar.

Baekhyun hanya terkekeh seraya menggelengkan kepalanya. “Sudahlah. Lebih baik kita tak usah membicarakan hal ini.” ia mulai berdiri dan beranjak meninggalkan kelas, namun terhenti tepat di depan papan tulis saat ia mendengar ucapan Chanyeol selanjutnya;

.

.

.

.

“Apa mungkin… kalian bertiga hanya berstatus sebagai kakak dan adik tiri?

.

.

.

.

To be Continue

 

I’m sorry for late update, Guys!

Thanks for reading, and review are allowed, anw :’)

Iklan

27 comments

  1. aduh lama kelamaan sehun masih kaya gitu aja sifatnya mana chanyeol ngomong sembarangan tapi ada benernya juga sih ucapan chanyeol lebih tepatnya kakak dan adik angkat kalau gak salah. aku ikut penasaran sama kaya reyna, song miyeon emang ada urusan apa sama reyna ? next chapter….di tunggu

  2. Hahahahahaha, reyna sama kaya aku 😀 . Telat bangun pernah jam 6, yang lebih parah lagi, jam 06.30 . Ya ampun, masih untung jam 6 😀 . Ff ini makin seru, ada song miyeong? Bukan meong?#apasih?
    Hadeuh, yeolie apa sih? Mulai cinta ke reyna ya?#euhbaper.
    Tau ah, sehun mah apa atuh? Dingin mulu, gak mau move on dari kulkas? Tau juga ah sehun mah. Lanjut ya kak :-* 😀 , keep writing 😀 !

  3. chanyeol, semoga dia asal bicara aja, nggak terlalu mikirin ucapannya. reyna emang ada urusan apa ama yg namanya miyeon? oh my.. nggak bakalan main jambak-jambakan, kan? o_O

  4. Yeay yeay waduh kak Isan maapkeun diriku yg bru bisa baca dan komen dichap ini..tpi komenku ini kayaknya bkl panjang kali lebar dah,soalnya aku jadiin satu mulai dri chap 1-6,hohoho gk papakan??klo gk boleh jg aku ttp bkl komen dichap ini.
    Chek it out!!
    Waktu pas chap 1 aku masih rada bingung kak hubungan antara baek ma rey..mereka kan sebenarnya sodara sekandung tpi aku ngira mereka cma sodaraan gra” ada di panti yg sama,waktu chap 1 jln cerita bener² sulit ditebak,trs bahasa kk jga santai kya dipantai jdi gampang nikmatinya/?disitu menurutku masih blm terasa angst nya,tpi itu yg bkn makin penasaran.
    Chap selanjutnya 2.disitu Sehun nongol yahh meskipun dichap 1 jga udh nongol tpi cma di akhir scene,dimana mana ff karakter suami guaa emang nyebelin banget ya kak sampek pengen aku ajak pulang/?Bahasa kak Isan disini mulai sedikit lbh baku ya meskipun kadang² jg msh ada bahasa non baku/kan itu ciri khass(cieee)kak isan hihihi
    Nah waktu chap 3,4,5,6 ini perasaan mulai campur aduk dan jungkir balik,mulai nangis.Disini sifat Sehun bener² bikin greget dan gk menghargai banget yak?/pengen aku giles pakek gigi kriss/?-_-.Dan kak aku selalu gagal fokus waktu scene rey ama chan apalagi klo ada baek malah mikir itu moment Chanbaek/?apaan ini??

    Maap ya kak klo aku kmen cma di chap terakhir bukannya apa.Aku cma selalu beranggapan klo kita komen di chap pertama dan chap selanjutnya udh ada itu bukannya kyak kita nuangin pendapat tpi gk terpakai.Iya sih itu sebagai penyemangat buat kak Author.Tpi ya mau gimana lgi udh terlanjur prinsip.

    Kak di chap dpn semoga bahasa lebih bagus lgi ya/meskipun sekarang udh bagus.
    aku nangkep disini klo Sehun itu punya perasaan lbh sma Rey.
    Kak tlng libatin Rey sma masalah disekolah ya/?jahat banget/Entah dibully atau diKerjain trs diwaktu itu tiba” sehun berubah jdi pahlawan kesiangan/?kan awesome kak kkkkk
    Udh deh kak sebenernya masih pengen nulis yg panjang banget kyak ficlet..tpi kasian nanti kak Isan hbs baca lgsng Demam sma mual kkkkk maap yaa klo ada kata yg njlepp gitu dihati akak author ini hihihihi

    Oke FIGHTING trs berkarya jg kesehatan dan SEMANGAT 45 kak buat semester 4 nya..bye/pyongpyong
    maap klo byk typo

    1. Aduuuuuh makasih dell udh komen ampe sepanjang ficlet ini… kubener-bener speechless :””3
      makasih buat supportnya yaaa.. doain semoga ff ini dan chapteran lainnya cepet kelar :”” luvluv 😘🙆🙆

  5. Tebakann Chan bener jugaa kkkk
    Song Miyeon kenapaa nyariin Reyna? Mang ada masalah apaaasiiii… Lanjutt dong ka hihi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s