Are You Serious?


7a3aafc6db358babb0247cafd5dff576d68b5da3437e8db92d2400bdc8325db2_1

 

Are You Serious?

ShanShoo’s present

Starring [GOT7] Yugyeom, [OC] Vay, [BAP] Zelo/Junhong & [GOT7] Jaebum

school-life, fluff, friendship | vignette 1400ws | T

-o-

Pilihannya memang cuma dua, tapi untuk memilih salah satunya sangatlah sulit.

.

.

Prev Story : Vay | What’s Wrong with Me? | About the Rain and Something Unusual | Another Side | Say the Reason | Worry about Her? | Holding Smile

-o-

 

“Kemarin belajar apa saja?”

“Terus ada guru yang nanyain aku, gak?”

Gimana sama Jaebum? Dia nanyain aku juga?”

Kalau diingat-ingat lagi, dan kalau tidak salah, baru hari kemarin saja Vay tak masuk sekolah karena alasan sakit. Entah bagaimana awal ceritanya, Vay sudah kembali beraktifitas di sekolah sebagai pelajar kelas 2-A. Duduk di samping Yugyeom, menatapnya penuh minat disertai cengiran lebar, bagai tak pernah lepas dari parasnya.

“Gyeom, jawab, dong!” Vay kini mengerucutkan bibirnya. Kendati demikian, Yugyeom tetap berusaha tak mengacuhkan presensi Vay di sampingnya. Oh, tidak, kalian jangan salah paham! Bukan berarti Yugyeom tak peduli pada sosok gadis periang itu. Hanya saja, sekarang bukanlah saat yang tepat untuk berbicara, mengingat bel masuk telah berdering, juga, sang guru pengajar di jam pertama telah memasuki kelas mereka.

“Sudah mulai belajar.” Yugyeom bersuara, ketika ia merasa kalau tatapan Vay semakin melekat padanya. Seperti anjing imut yang memelas karena butuh asupan makanan.

“Tapi nanti cerita, ya?”

“Iya.” Jawab Yugyeom singkat. Kemudian mendesah lega setelah Vay memutuskan untuk menjauh dari wajahnya, mempersiapkan buku pelajaran di jam pertama.

“Tapi, Gyeom,” Vay menoleh lagi ke arah Yugyeom.

“Apa lagi?” sahut Yugyeom, gemas.

“Aku lupa gak bawa tempat pensil. Boleh pinjam pulpen?” gadis itu terkekeh malu seraya memelintir ujung rambut cokelatnya. Yugyeom mendesah panjang untuk menahan kesal, namun tetap saja, selalu ia melakukan apa yang Vay inginkan. Memberikan pinjaman pulpen pada gadis itu meski tanpa menatapnya.

Thanks.”

“Mm.”

-o-

“Sekarang boleh cerita, dong, Gyeom?”

“….”

“Ayolaaahhh…. masa, sih, gak mau cerita?”

Yugyeom menepuk kening mulusnya yang dihiasi bulir keringat. Kepalanya terasa berdenyut lantaran sedari tadi ia terus mendengarkan berbagai ocehan Vay setelah guru pengajarnya meninggalkan kelas, berhubung jam pertama pelajaran telah berakhir.

“Jaebum gak nanyain aku?”

Yugyeom menggeleng.

“Terus… guru juga sama?”

Yugyeom mengangguk kecil.

Nggak ada PR juga?”

Ya Tuhan, baru kali ini Yugyeom mendengar seseorang yang cerewet seperti Vay setelah sembuh dari masa demamnya. Dan Yugyeom sungguh kewalahan menanggapi sikapnya itu.

“Mm.”

Pada akhirnya, Vay mendesah kesal. Tubuhnya kembali menghadap ke depan setelah sebelumnya menghadap ke arah Yugyeom, si laki-laki sok sibuk yang pekerjaannya menggarisbawahi kata-kata penting dalam buku pelajaran miliknya.

“Memangnya aku harus jawab apa?” tanya Yugyeom setelah ia memastikan kalau pendengarannya tidak salah―karena ia mendengar Vay mendesah kesal karena sikapnya.

Kali ini giliran Vay yang tak menjawab.

“Harus jawab kalau Jaebum menanyakanmu, padahal kenyataannya tidak, begitu?”

Vay tetap diam.

“Atau, kamu ingin dapat banyak PR?”

Tak ada respon yang berarti.

Yugyeom mulai melirik hati-hati ke arah Vay. Ia takut kalau gadis itu mendiamkannya karena kesal. Dan benar saja, bibir gadis itu terlihat maju sedikit, pertanda bahwa ia memang kesal pada Yugyeom. Bahkan Yugyeom bisa melihat mimik Vay yang tak bersahabat.

Dan ini adalah kali pertama―lagi, Yugyeom mendapati mimik seperti itu di wajah Vay.

“Hei―”

Seenggaknya kamu tanya kondisiku sekarang, Gyeom.”

“Hm?”

“Hari ini aku pergi ke sekolah juga karena kamu.”

“….”

Hening. Vay menatap Yugyeom, memicing. “Iya, kalau bukan karena kamu, mungkin aku bakalan tetap diam di rumah.”

Seharusnya, Yugyeom tetap mendiamkan gadis itu. Seharusnya ia tetap pada kesibukannya sendiri, dan abai terhadap presensi gadis itu yang sungguh menyebalkan. Seharusnya… seharusnya…

Ia, seharusnya begitu. Karena dengan demikian, Yugyeom tidak perlu merasa seperti ini, memiiliki debaran jantung di atas rata-rata, juga dengan kedua sudut bibir yang berkedut menahan sesuatu setelah mendengar perkataan itu. Mungkin menahan… senyuman?

“Tapi… nggak apa-apa, deh.” Vay kembali mengukir senyum lebar, seolah lupa kalau sebelumnya ia sempat menunjukkan ekspresi kesalnya pada Yugyeom. “Daripada diam di rumah, kan, bosan.” Katanya.

Yugyeom mengusap tengkuknya, gusar. Maniknya berpendar tak tentu arah, berusaha menepis sedikitnya perasaan gugup yang hinggap ke hatinya.

“Terus, gimana keadaan kamu sekarang?” kata tanya itu bernada kecil. Namun, sungguh demi Pororo, Vay mendengarnya dengan begitu jelas. Nada canggung dan bingung, itulah yang tertangkap jelas ke dalam rungunya.

“Eh, kamu bicara apa, Gyeom?” tanya Vay, pura-pura tak mendengar.

Pada akhirnya, Yugyeom mendesahkan napas panjang. “Bagaimana―”

“Oh, Kim Yugyeom!” seruan seseorang di ambang pintu kelas, memotong pembicaraan Yugyeom. Sang empunya nama lantas menolehkan ke sumber suara. Mendapati sosok laki-laki jangkung yang berdiri di sana, memakai seragam tim basket kebanggaan sekolah seraya memasang senyuman semanis mungkin.

Tak hanya Yugyeom, rupanya seluruh mata milik para siswa terfokus pada siswa itu, tak terkecuali juga dengan Vay.

“Waaa…. Kak Junhong!” pekik Vay tiba-tiba, membuat Yugyeom sedikit menjauhkan diri dari gadis itu ketika ia merasa telinganya sakit mendengarnya.

“Oh, hai, Vay.” Junhong, siswa kelas 3 itu lantas melangkah ke bangku milik Yugyeom dan Vay. Sesekali ia menyeka bulir keringat yang muncul di sekitar pelipis, membuat seisi kelas meresponnya dengan kegaduhan samar. Ada yang memuji, ada yang ingin menyentuh Junhong, dan ada yang pamer senyuman centil, berharap Junhong mau meliriknya meski sebentar.

Namun, yang dilakukan mereka hanyalah sia-sia. Junhong tetap memaku pandang pada Yugyeom dan teman sebangkunya itu.

“Keputusan terakhirnya hari ini.” Ujar Junhong seraya mendudukkan diri di atas meja, tepat di hadapan Yugyeom, selagi manik fokus pada Yugyeom yang mendesah kecil. Seolah tahu kalau Junhong pasti akan berkata seperti itu padanya.

“Bagaimana? Kuharap kau tak mengulur-ulur waktumu lagi.” Choi Junhong kembali bersuara. Matanya terlihat lebih memicing, mendesak Yugyeom untuk membalasnya.

“Vay!” tahu-tahu, suara Jaebum menyesaki rungu ketiga orang itu―Vay, Yugyeom dan juga Junhong. Ketiganya lantas menoleh ke arah Jaebum yang tengah terkekeh malu. Ah, sepertinya ia salah waktu untuk bertemu dengan gadis bernama lengkap Vaye Brunella itu.

“Uh, lanjutkan saja pembicaraan kalian.” Jaebum masih terkekeh, lalu menatap Vay yang sedari tadi telah memaku pandang padanya sambil tersenyum. Apakah mungkin… Vay senang dengan kedatangan Jaebum ke bangkunya? Oh ayolah! Padahal, kan, mereka berada dalam satu kelas yang sama.

Entah mengapa, tadi begitu netranya bergulir ke arah Jaebum, rasa tak suka lekas menyerang dadanya secepat kilat. Dan meski yang sedang mengajaknya bicara saat ini adalah Junhong, sang kakak kelas, maniknya tetap tak lepas dari sosok Jaebum.

Kenapa?

Bagaimana bisa?

Entahlah. Tolong. Yugyeom sendiri tak tahu mengapa.

Selagi Junhong berbicara ini-itu, Yugyeom pun bisa mendengar percakapan antara Jaebum dengan Vay.

“Kamu masih sakit?”

“Uh…” Vay tertawa pelan. “Iya, sedikit.”

“Katanya kamu kena demam?” tanya Jaebum sambil menarik kursi kosong di dekatnya untuk ia duduki di samping Vay.

Lalu gadis itu mengangguk membenarkan. “Tapi sekarang aku baik-baik saja, kok.”

“Syukurlah.” Jaebum ikut tersenyum melihat gadis itu mengukir senyum padanya. “Kalau begitu, boleh nggak nanti aku antar kamu pulang? Kan kamu masih sakit.”

Sementara itu…

“Yugyeom? Kau mendengarku? Ya! Kim….”

Vay mengerjapkan matanya beberapa kali dengan cepat. Sudut bibirnya membentuk seulas senyum lebar karena senang. Kedua telapak tangannya refleks saling menyatu. “Iya… iya… aku mau diantar sama kamu.”

“Pertandingan basketnya dimulai tiga hari lagi. Dan sudah dua kali kau tak ikut latihan. Kapan kau―”

Terus saja begitu. Suara Junhong, suara Vay dan Jaebum, lalu kembali pada suara Junhong yang menyesaki telinganya. Membuat Yugyeom membungkam bibir dan menyandarkan punggungnya, lemas.

Entah mengapa.

“Tenang, deh, kalau kamu pulang sama aku, kamu pasti aman.”

Vay mengangguk antusias. “Iya iya, aku percaya!”

“Kim Yugyeom!” mungkin sudah lima kali Junhong menyerukan nama Yugyeom. Membuat Vay dan Jaebum menoleh menatap Yugyeom yang terlihat melamun. Lantas, Vay menyiku lengan Yugyeom, berusaha menyadarkannya agar tidak terkena semburan sang kakak kelas.

“Gyeom, kenapa kamu diam, sih? Kamu sakit?”

Aku tidak tahu.

“Bisa-bisa terkena hukumannya kalau kau tak ikut latihan.” Jaebum menimpali, pun memicingkan matanya pada Yugyeom. Seolah menaruh perasaan tak suka yang sama, yang ada pada diri Yugyeom.

“Pokoknya, hari ini kau harus―”

“Maaf.” Hingga pada akhirnya, Yugyeom menyela pembicaraan Junhong yang terdengar berapi-api. Melirik ke arahnya lalu melanjutkan, “Sepertinya aku tak bisa mengikuti latihan itu.”

Lalu, semuanya bungkam. Tidak, maksudku, ya, semua siswa yang ada di dalam kelas itu dibuat bungkam karena jawaban Yugyeom.

“A-apa?!”

Vay mengerjap tak percaya. Jaebum membeku di tempat―hei! Bagaimana bisa Yugyeom menolak ajakan ‘emas’ itu? Sementara Junhong, si kapten basket di sekolah itu sama sekali tak bisa berbuat apa-apa. Ia sungguh tak mengerti jalan pikiran seorang Kim Yugyeom.

“Kim Yugyeom, kamu bicara apa, sih?!” Vay berbisik geram, seraya melirik Junhong dari balik poni yang menutupi mata bagian atasnya.

“Kalau begitu, berikan aku alasan yang logis mengapa kau tak mengikuti latihan hari ini!” tegas Junhong. Abai terhadap tatapan Vay yang terasa semakin menyelidik.

Tak hanya Junhong, Jaebum pun turut menantikan alasan apa yang akan terlontar dari bibir Yugyeom. Manik keduanya benar-benar terfokus pada satu objek. Penantian penuh harap di antara mereka seolah tak sanggup meluluhkan pendirian Yugyeom yang dirasa sekeras batu untuk tak mengikuti latihan.

Ralat. Rupanya, Vay juga menantikan jawaban itu.

Suasana perlahan berubah menjadi senyap. Sesenyap malam yang melingkupi. Tak ada suara sama sekali di dalam sana. Hanya ada mimik penasaran di setiap bangku yang ditempati. Meski begitu, wajah Yugyeom tetaplah terlihat sama; begitu datar dan tenang. Tak peduli bagaimana ekspresi semua siswa yang tertuju padanya.

Awalnya Junhong berniat untuk kembali membuka suara, namun tak jadi ketika Yugyeom memutuskan untuk menjawab pertanyaannya, setelah mengembuskan napas cukup panjang;

 

.

.

.

.

“Hari ini aku janji untuk mengantar Vay pulang.

Dan janji tak boleh diingkari.”

.

.

.

Fin.

Iklan

9 comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s