My Husband is My Enemy – Chapter 13 [Pre-FINAL]


myh

My Husband is My Enemy

ShanShoo’s present

Starring EXO Sehun, OC Eunhee, Kai/Jongin & other

romance, married-life, fluff, friendship, school-life | chaptered | PG-15

Disclaimer : I just own the plot! Don’t try to be a plagiator! And sorry for many typo(s) there 🙂

-o-

Prev story : Chapter 12

-o-

 

 

Mulai hari ini, Eunhee menyatakan kalau Oh Sehun adalah laki-laki paling bodoh dan paling menyebalkan di planet Bumi. Tak peduli jika Sehun menyukai hal itu atau tidak, Eunhee tetap akan mengakuinya.

Bagaimana tidak?

Mengatakan kalau laki-laki berusia delapan belas tahun itu menginginkan keturunan dari istri tercintanya di saat masih menyandang status pelajar? Hei, apakah Oh Sehun baik-baik saja?

Mengabaikan permintaan maaf yang terkuar di balik punggungnya, gadis itu tetap melakukan aktivitas tanpa merasa terganggu, lebih tepatnya, berusaha agar tidak merasa terganggu. Ia pun abai terhadap sentuhan-sentuhan di bahu atau tangannya setiap kali Sehun ingin mengajaknya berbicara. Menepisnya berkali-kali, berharap Sehun menghentikan aksi meminta maafnya yang rasanya bisa membuat kepala Eunhee pecah kapan pun. Baik itu di saat Eunhee sibuk di konter dapur, sibuk merapikan rumahnya yang cukup berantakan, atau di saat Eunhee tengah duduk santai di ruang tengah untuk mengistirahatkan tubuhnya yang lelah.

Sungguh, Demi Neptunus dan kerang ajaib milik Sponge Bob, kalau saja otaknya tidak terus memutar kejadian di mana Sehun berkata dengan tegas pada kedua orang tua mereka kalau ia ingin memiliki anak, mungkin Eunhee tidak akan menaruh perasaan kesal pada si sosok laki-laki jangkung ini hingga berkali-kali lipat.

Bahkan ketika kedua orang tua mereka telah pulang dan langit sore berganti menjadi langit malam, Eunhee tetap tak mengijinkan Sehun untuk berbicara dengannya.

Tidak, meski Sehun kini terdengar merengek seperti seekor kucing yang butuh asupan nutrisi dari sang majikan.

“Sudah hampir dua belas jam kau mendiamkanku seperti ini, omong-omong.” Sehun menghela napas lelah. Ia duduk di kursi belajar milik sang gadis yang tengah berbaring memunggunginya di atas tempat tidur, seraya membungkus tubuhnya dengan selimut hangat hingga sebatas dada.

Tolong ingatkan Eunhee untuk tidak merespon satupun ucapan Sehun.

“Park Eunhee?”

“….”

“Park Eunhee!”

Benar-benar tidak ada suara dari gadis itu. Yah, sepertinya otaknya terus mengulang perkataan ‘jangan direspon’ sehingga membuatnya tetap diam seribu bahasa.

Well, sudah tepat dua belas jam kau mendiamkanku, Nona.” Kata Sehun ketika maniknya menatap jam dinding berbentuk bulat di kamarnya. Lantas, ia kembali memerhatikan punggung Eunhee yang belum bergerak sedari tadi.

Lalu, hanya terdengar embusan napas panjang dari bibir gadis itu. Bukan sebuah jawaban yang Sehun nantikan.

Sehun ikut mengembus napas panjang. Manik tampak memicing sebelum ia berkata lagi, “Kauyakin mau terus mendiamkanku seperti ini? Tak mau memaafkanku?”

Oh, demi Tuhan! Eunhee tak menjawabnya sama sekali. Bagaimana kalau Sehun berubah frustasi karena sikap istrinya itu?

Tidak, tidak. Sehun tidak berubah frustasi. Tapi senyum asimetris tercetak di bibir merah mudanya.

“Aaahhh… baiklah kalau begitu.” Sehun berdeham beberapa kali, masih menunjukkan senyumannya. “Kalau diam begini, sih, namanya bukan penolakan.”

Tak sampai satu detik, debaran jantung Eunhee mulai meningkat. Kelopak matanya melebar sempurna setelah ia mendengar ucapan Sehun yang terdengar janggal di telinganya.

“Tapi kau menerimanya. Bukankah begitu?”

Bukan!

“Dan… bukankah berarti, kau juga menginginkan hal yang sama sepertiku?”

Astaga! Terkutuk kau, Oh Sehun! Aku tidak memiliki pemikiran yang sama denganmu!

“Apa sebaiknya aku segera mematikan lampu kamarnya?” nada bicara Oh Sehun mulai berubah menjadi nada penuh rasa menggoda. Dengan hati-hati, Sehun bangkit dari kursi putar milik Eunhee hingga menimbulkan derit kecil, melangkah menuju saklar lampu dengan langkah hati-hati pula, menunggu kiranya reaksi apa yang akan diberikan Eunhee sebelum ia berhasil menggapai saklar dan mematikan lampu kamar mereka.

Satu langkah… belum ada respon yang berarti.

Dua langkah… tubuh Eunhee mulai bergerak resah, terdengar gemerisik rendah antara selimut dan seprei yang saling bergesekan.

Tiga langkah…

“OH SEHUN! KALAU KAU MEMATIKAN LAMPU KAMARNYA, KAU-AKAN-MATI-DI-TANGANKU!”

Dan tawa renyah pun tak pelak turut hadir di antara rasa puas yang menggelegak dalam dada Sehun. Terlebih ketika ia melihat lonjakan tubuh sang gadis di atas tempat tidur yang begitu tiba-tiba, seraya menatapnya penuh ancaman membunuh.

“Oh Sehun! Berhentilah tertawa! Ini tidak lucu!”

Tapi Sehun tak mendengarkan, ia malah terus tertawa renyah sambil memeluk perutnya yang terasa melilit dan membuat dadanya sesak.

“Demi Tuhan, Oh Sehun!”

“Baiklah… baiklah…” Sehun mengangkat sebelah tangannya, mencoba untuk meredakan tawa. Disusul dengan tarikan napas cepat dari hidungnya, seolah tengah menarik ingus. Maniknya yang agak memerah hasil dari tawanya itu melirik ke arah Eunhee yang masih menatapnya tajam. Namun bukannya merasa takut, Sehun malah kembali mencari ide untuk menggoda Eunhee lagi.

Karena ia ingin tahu, reaksi apa lagi yang akan Eunhee berikan untuknya kalau ia terus menggodanya.

Sehun berdeham untuk menjernihkan suaranya yang serak. “Kenapa kau marah? Memangnya aku salah, ya?” tanyanya, polos. Membuat Eunhee mati-matian menahan kedua tangannya untuk tak mengambil bantal dan memukul Sehun sepuasnya.

“Kenapa kau menatapku seperti itu?” sebelah alisnya berjungkit naik, seolah menantang Eunhee saat ini. Yang ditatap hanya mengembuskan napas secara kasar, kemudian turun dari tempat tidurnya sembari membawa bantal miliknya.

Mungkin niatnya untuk memukul Sehun akan segera ia lakukan.

Bukk! Bukk! Bukk!

 

“Dasar otak mesum!” cerca Eunhee saat ia memukul kepala Sehun, namun laki-laki itu segera melindungi kepalanya diiringi tawa renyah yang menggema.

“Dasar laki-laki aneh! Bagaimana bisa isi kepalamu dipenuhi hal-hal mesum seperti ini, eoh?!” gerutu gadis itu terus menerus. Ia beralih memukul punggung Sehun dengan bantalnya. Mendengar Sehun mengaduh kesakitan dengan nada dibuat-buat, Eunhee tahu kalau suaminya ini hanya berpura-pura saja.

Dan belum genap sepuluh kali Eunhee memukul, kedua tangan Sehun segera menggenggam tangan Eunhee, membuat gadis itu refleks menjatuhkan bantalnya ke atas lantai karena pegal, juga karena tarikan tangan Oh Sehun yang cukup kencang.

Tidak ada raut penyesalan yang tercetak di parasnya. Hanya ada segaris senyum tipis yang terukir, pun dengan manik yang sarat akan tatapan menggoda.

Kali ini, Eunhee berusaha mati-matian untuk tidak terjerumus ke dalam pesona Oh Sehun yang kian menjadi.

“Nah,” Sehun memulai, “kalau kau sudah marah-marah seperti ini, berarti kau sudah memaafkanku, kan?”

Eunhee diam, menelan ludahnya pelan-pelan.

“Dengarkan aku, Nona,” ia membasahi sejenak bibirnya sebelum melanjutkan, “mendiamkanku seperti itu adalah hal yang paling menakutkan bagiku.”

Baru saja Eunhee hendak merespon, namun Sehun lekas menyelanya. “Apalagi kalau kau memasang raut seperti ini.” Ia mencubit besar hidung Eunhee dan menggoyangkannya secara cepat ke kanan dan ke kiri.

Ya!” Eunhee berteriak kesal. “Salahmu sendiri bicara yang tidak-tidak seperti itu!”

“Hm?” Sehun mengedip lambat. “Memangnya aku bicara apa?”

“Eh?” ditanya seperti itu, Eunhee malah terlihat salah tingkah. Ia menggigiti bibir bawahnya, gemas. Pun menatap Oh Sehun yang entah bagaimana ceritanya bisa terlihat begitu menyebalkan.

Masa iya, Eunhee harus berkata hal itu?

Aish!

“Oh Eunhee?”

“Lupakan!” Eunhee berusaha melepaskan tangan Sehun di kedua lengannya, tapi percuma, tenaga Sehun jauh lebih kuat dibandingan dengannya.

“Memangnya aku bicara apa?” bahkan untuk mendengar nada bicara laki-laki ini saja terasa begitu menusuk gendang telinga. Eunhee bersumpah, kalau dia ada kesempatan, ia akan menggigit telinga Sehun sampai ia benar-benar mengaduh kesakitan.

“Kubilang lupakan!” Sehun hendak membalas, dan Eunhee menyelanya. “Dan juga, jangan pernah kau membicarakan hal ini lagi padaku!” ancam Eunhee kemudian. Yang langsung disambut dengan gelak tawa suaminya.

“Maksudmu… membicarakan tentang… anak?”

Puk! Eunhee memukul bibir Eunhee dengan telapak tangannya. Membuat lelaki itu seketika menghentikan senyuman serta tawa.

“Kenapa―”

Puk! “Masih mau bicara lagi, huh?”

Sehun menaikkan sebelah tangannya, melindungi bibirnya agar tidak dipukul lagi sebelum berbicara, “Baiklah, aku tidak akan membicarakannya lagi.”

Tak lama setelahnya, ada roman penuh lega yang tercetak di paras gadis itu, disertai kekehan tawa penuh kemenangan.

-o-

“Tapi, Eunhee-ya.” Tangannya menelusup masuk ke dalam selimut untuk memeluk pinggang Eunhee yang berbaring di sampingnya. Maniknya mencoba menatap wajah Eunhee, mencari tahu apakah gadis itu sudah lelap dalam tidurnya atau belum.

“Apa?” oh, rupanya gadis itu belum tidur. Ia pun menyambut pelukan hangat Oh Sehun dengan cara menggenggam tangan Sehun di depan perutnya.

“Ini… pertanyaan terakhirku.”

Helaan napas terkuar, dan Eunhee mengangguk menyetujuinya.

“Kapan kau… siap untuk kehadiran anak pertama kita?”

Hening. Suasana yang semula penuh damai berubah menjadi hening dan tegang.

Pertanyaan itu lagi. Eunhee bersusah payah menelan ludahnya yang terasa menyumbat kerongkongan.

Pertanyaan itu lagi, maka Eunhee akan menjawabnya dengan pertanyaan yang sama―lagi.

Apakah Sehun baik-baik saja?

“Oh Sehun…” perlahan Eunhee membalikkan tubuhnya demi menatap manik Sehun. Pandangan mereka kini bersirobok. Eunhee bisa merasakan kalau tatapan Sehun terasa sungguh-sungguh, tidak ada unsur main-main.

“Maaf kalau keinginanku ini mengganggumu,” Sehun mengerjap dua kali. “jadi, lupakan saja―”

“Aku akan siap setelah kita―”

“Setelah kita naik ke kelas tiga?”

Tuk! Eunhee mengetuk dahi Sehun dengan jari telunjuknya, kemudian terkekeh geli karena ucapan Sehun yang terdengar seperti anak kecil yang diberi permen melimpah.

“Setelah…” Eunhee berdeham samar, mencoba menepis perasaan gugup yang bercampur aduk dengan rasa malu. “setelah kita lulus.” Katanya, sebelum akhirnya ia membenamkan wajah ke bagian luar selimut yang mereka berdua gunakan.

“Apa?” senyuman lebar tahu-tahu terlukis di paras tampannya. “Kau… kau yakin dengan keputusanmu itu?”

Uhm, entahlah.” Eunhee mengedikkan bahu kanannya. “Aku tidak tahu. Jadi… jangan jadikan ucapan ini sebagai alasan untuk… melakukan hal itu nanti, ya?”

Woahwoah! Tidak bisa, Nona!” bagai tak lelah, Sehun terus memamerkan senyuman menggodanya. “Karena kau sudah bilang begitu, maka kau sudah menyepakatinya!”

“Eh?”

“Jadi, tunggu saja tanggal mainnya, oke?”

“APA?!”

-o-

Keadaan sekolah tak lagi heboh seperti dulu. Saat-saat di mana sempat terjadi perselisihan di antara Sehun, Kai, dan juga Chen selaku pelajar di Roosvelt High School milik keluarga Oh. Mungkin jika Sehun terlambat menyelesaikan permasalahan yang ada bersama kerabat-kerabat dengannya dan juga Eunhee, dapat dipastikan, kalau kata damai dan tentram tak akan pernah ada sekarang. Dan Sehun patut mensyukuri hal ini dalam hatinya.

Mobil sedan hitam itu kini tak lagi dikemudikan oleh seorang supir, melainkan dikemudikan oleh seorang siswa bernametag Oh Sehun yang melekat di kemeja seragam bagian kirinya. Dia tidak sendirian di sana, ada Eunhee di sampingnya yang tengah melepas sabuk pengaman dan bersiap untuk membuka pintu mobil.

“Aku akan membukakan pintu mobilnya untukmu.” Katanya, dengan senyum sumringah yang kentara.

Eunhee berdecak geli, “Sok dramatis!” ujarnya, mengejek. Yang dibalas dengan kedikan bahu dan kerlingan jenaka dari Sehun.

Saat Sehun keluar dari mobil, seluruh tatapan para siswa yang ada di area parkir mendadak teralihkan ke arahnya. Tatapan memuja, tatapan sinis, bahkan tatapan penuh cinta terlontar dari tiap pasang mata yang ada. Sehun tak mempedulikan hal itu. Ia berjalan mengitari mobil bagian depan, lalu membukakan pintu penumpang untuk Eunhee.

“Hari yang indah harus diawali dengan senyuman yang manis, bukan?” kata Sehun, mengulurkan tangan kanannya pada Eunhee yang segera disambut oleh gadis itu.

Saat Eunhee menapakkan kedua kakinya di atas aspal, ia membalas, “Aku pasti akan tersenyum sangaaat manis, kalau kau tidak berulah hari ini.” Lalu, kedua sudut bibir gadis itu berjungkit setinggi yang ia mampu, membuat Sehun mengusak surai istrinya itu sebelum akhirnya mereka melangkah bersama menuju kelas.

Namun, belum genap mereka melangkah menjauhi mobil, keduanya cukup dikagetkan dengan suara milik laki-laki dari arah belakang yang menyerukan nama mereka berdua. Laki-laki itu kemudian mengambil celah di tengah-tengah, merangkul bahu keduanya tanpa asa.

“Hei, jangan lupakan aku juga!” oh, rupanya Kai. Laki-laki dengan senyuman paling manis ini tertawa ringan, membuat tawa itu tertular pada keduanya.

“Kaupikir kau ini siapa, huh? Merangkul bahuku seenaknya.” Keluh Sehun di tengah tawa yang menghias.

“Apa? Kau tidak tahu siapa aku?” Kai berjengit, lantas menjepit kepala Sehun dalam rangkulannya. “Kuharap dengan cara ini kau bisa mengenalku dengan baik.”

Eunhee tertawa melihat tingkah dua sahabat ini. Tak segan, ia menunjuk wajah Sehun―yang mengerang minta dilepaskan―sambil tertawa.

Rangkulan tangannya di bahu Eunhee kini terlepas. Sehun dan Kai tetap berjalan bersisian, dengan Kai yang masih saja menjepit kepala Sehun tanpa ampun, sementara Eunhee menghentikan langkahnya sejenak. Menatap punggung kedua lelaki itu sambil menatap menerawang. Pun memunculkan lengkungan penuh rasa lega di kedua belah bibirnya.

Awalnya Eunhee takut kalau Kai masih belum bisa menerima kenyataan yang ada dan memilih untuk tak menjadi sahabat Sehun lagi. Namun ternyata persepsi itu salah, Eunhee merutuki kesalahannya dalam hati. Karena rupanya, Kai tetap menjalani hubungan persahabatannya dengan Sehun, meski sebelumnya harus mendapat goncangan cukup besar dalam hubungan mereka.

Lihatlah bagaimana cara mereka menampilkan roman muka yang begitu bahagia, bagaimana mereka menunjukkan arti persahatan yang sebenarnya, dan juga bagaimana cara mereka bertahan dari berbagai masalah yang ada. Eunhee benar-benar menyukainya.

Tak ada lagi beban yang menimpa. Maka dari itu, Eunhee mulai melangkahkan kakinya menyusul kedua laki-laki berpostur tinggi itu sembari tersenyum lebar.

-o-

“Apa? Sehun menginginkan kehadiran anak dalam pernikahannya?” Kyungsoo nyaris tersedak ketika mendengar penuturan pamannya, Oh Daemin, yang turut memberikan kesan tak percaya di wajahnya. Keduanya saat ini tengah menikmati green tea yang dibuat oleh Sooyeon. Menyesap teh hangat di pagi hari bukanlah pilihan yang salah, kan? Lagi pula, hari ini Kyungsoo sedang tidak ada kesibukan apapun, sehingga ia bisa mampir sejenak ke rumah keluarga Oh sekadar untuk saling menyapa dan merangkai konversasi ringan. Tapi, Kyungsoo tak menduga kalau ternyata pamannya ini menceritakan keinginan puteranya sendiri padanya. Membuatnya membayangkan sendiri bagaimana kisah kehidupan Oh Sehun nantinya kalau ada seorang anak di dalam keluarga kecilnya.

“Sudah kuduga, kau juga pasti akan terkejut mendengarnya,” sahut Daemin kemudian seraya menyimpan cangkir tehnya ke atas meja.

“Dan kau ingin tahu apa yang terjadi selanjutnya, Kyung?” giliran Sooyeon yang bersuara. Wanita itu duduk di samping suaminya, lantas menatap Kyungsoo penuh arti.

“Jadi, apa yang terjadi selanjutnya, Bibi?” tanya Kyungsoo, penasaran. Turut meletakkan cangkir tehnya.

“Yah… mungkin kau bisa menebak bagaimana reaksi Eunhee saat tahu keinginan suaminya.”

Kyungsoo tampak berpikir. Keningnya berkerut, selagi pikirannya menerawang memikirkan reaksi Park Eunhee. Lalu, “Apakah dia juga menginginkannya?”

Tak lama, tawa memaklumi keluar dari bibir Sooyeon. Wanita itu menepuk bahu keponakannya beberapa kali. “Dia menolaknya dan marah besar, tentu saja.”

“Eh?” Kyungsoo tak bisa menahan tawa gelinya. Laki-laki bermata bulat itu menggeleng tak percaya. “Kenapa Eunhee menolaknya? Bukankah kebahagiaan mereka akan terasa lebih lengkap kalau ada anak di antara mereka?” tanya Kyungsoo dengan nada polos.

Tanya itu mengundang tawa ringan dari keduanya. “Kyungsoo-ya, kuharap kau tidak lupa bahwa mereka berdua masih berstatus sebagai pelajar.” Sooyeon membalas.

“Ya Tuhan!” bagai tersadar dari kesalahannya, Kyungsoo menepuk dahinya dengan punggung tangan. Bagaimana bisa ia melupakan satu fakta itu? Benar-benar…

“Aku hampir saja melupakan kenyataan itu, Bibi.” Sahut Kyungsoo tak habis pikir. “Jadi, kapan mereka merencanakan hal itu?”

“Untuk hal itu, kami juga tidak tahu. Karena keputusannya ada di tangan mereka berdua, bukan?” Kyungsoo mengangguk mengiyakan ucapan sang paman. “Maka dari itu, kami tidak bisa ikut campur.”

Saat hening menyapa, Kyungsoo meraih cangkir tehnya dan menyesapnya perlahan demi merasakan sensasi hangat yang menjalar ke tenggorokannya.

“Oh, ya, kapan kau kembali mengunjungi saudaramu itu?” Sooyeon kembali mengajukan tanya.

“Mmm… mungkin sore hari aku akan pergi mengunjungi Sehun dan Eunhee.” Balas Kyungsoo.

“Baiklah. Titip salam dari kami untuk mereka, ya? Beri tahu mereka juga, kalau kami akan kembali berkunjung dalam waktu dekat.” Ujar Sooyeon, antusias. Mengingat rasa rindu yang ada dalam dirinya terasa kian membuncah pada sosok anak satu-satunya dan menantunya itu. Entah mengapa, mendengar perselisihan yang sering terjadi pada sepasang suami istri muda itu membuat Sooyeon semakin yakin, kalau rasa cinta yang ada tidak hanya dibuktikan dengan perilaku romantis. Dengan pertengkaran kecil dan juga gelak tawa yang hadir ketika salah satu dari keduanya kalah sudah cukup membuktikan, kalau mereka benar-benar menikmati kata cinta dalam versi mereka sendiri.

Yah, intinya, sebagai seorang perempuan, Sooyeon tahu kalau pertengkaran mereka bukan berarti mereka saling membenci… seperti dulu.

“Tentu, Bibi. Aku akan menyampaikan salam dari Bibi dan Paman untuk mereka.” Balas Kyungsoo kemudian, lantas kembali menyesapi teh hangatnya sampai tandas.

-o-

“Kau ingin mengunjungi rumah kami?” Sehun bersuara pelan, seraya merangkul bahu Eunhee di sampingnya. Sementara Kai yang duduk di hadapan mereka mengangguk antusias. Satu tangan terangkat untuk menyibakkan helaian poninya ke belakang.

“Aku ingin tahu bagaimana isi rumah kalian.” Kata Kai sembari menatap Sehun dan Eunhee bergantian.

“Silakan saja,” Eunhee menimpali, “kuharap kau tak membuka rahangmu saat melihat isi rumah kami.”

Kai tertawa kecil. “Pikiranku sudah menebak kalau isi rumah kalian itu berantakan.” Ada jeda sejenak. “Benar, kan?”

“Salah.” Kata Eunhee sambil menggeleng. “Salah besar. Kaupikir aku akan membiarkan rumahku terus berantakan karena ulah laki-laki di sampingku ini?” lanjutnya sarkastis. Yang langsung disambut dengan sebelah alis Oh Sehun yang berungkit naik.

Ya! Aku tidak―”

“A a a a!” Eunhee menggerakkan telunjuknya secara cepat ke kanan dan ke kiri, menampik alasan yang akan Sehun utarakan. “Mau berkelit pun kau tak akan bisa. Karena sejak kecil aku sudah tahu, kalau kau itu adalah anak laki-laki yang super jorok!”

Mendengar pertengkaran kecil yang terjadi di antara sepasang suami istri ini membuat Kai berdecak tak percaya. Terlebih ketika ia mendengar bagaimana penjelasan Eunhee mengenai Sehun di masa kecilnya. “Walau aku sudah cukup lama bersahabat denganmu, aku baru tahu kalau ternyata kau itu laki-laki yang jorok.”

“Nah.” Seolah mendapat pembelaan, Eunhee melanjutkan perkataannya. “Kau tahu, Kai? Sehun bahkan tak pernah mau memasukkan pakaian kotor ke dalam keranjang cucian. Ia hanya melemparnya asal ke mana saja, asal ia bisa langsung pergi mandi. Bukankah itu menyebalkan?” katanya. Bibirnya lantas menyunggingkan senyum penuh kemenangan, namun itu tak berlangsung lama ketika maniknya mendapati seorang laki-laki yang berjalan tenang dari balik jendela besar kelas. Kai dan Sehun tak menyadari adanya laki-laki itu. Hanya Eunhee yang menyadarinya.

Mengerjapkan matanya beberapa kali, Eunhee berinisiatif untuk mengikuti laki-laki itu. “Uh, aku ijin ke toilet sebentar.” Ujarnya sambil berdiri dari kursinya.

Sehun mendongak demi menatap wajah gadis itu. “Perlu kutemani?” tanyanya, menggoda. Eunhee sedikit berdecak kesal karenanya. Bukan, bukan karena perkataan Sehun, melainkan karena Eunhee hampir saja kehilangan arah jalan sang lelaki di luar sana yang kian menjauh.

“Aku akan segera kembali.” Pada akhirnya, Eunhee meninggalkan kelas yang saat ini memasuki jam pelajaran kedua. Beruntung guru pengajar selanjutnya belum datang, dan Eunhee bisa bernapas lega. Selagi kedua kakinya menyusuri koridor untuk mengikuti langkah-langkah besar laki-laki itu di depannya.

-o-

Dua menit setelah mengikuti si lelaki, Eunhee menghentikan langkah tak jauh dari laki-laki itu berpijak. Di sana, Eunhee memerhatikan gerak-gerik laki-laki itu; mengeluarkan headset dari saku kemejanya, berikut dengan ponsel yang akan ia pergunakan bersama headsetnya.

Tak lama, lelaki itu terlihat sedang menikmati lagu yang mengalun di telinganya. Terlihat dari gerakan bibirnya yang menggumam, namun kadang diselingi dengan ucapan beberapa patah kata, seraya menyandarkan punggung pada bangku taman yang ia duduki.

Eunhee tersenyum melihatnya.

Selalu saja seperti ini. Eunhee merasa bahagia di saat lelaki itu menikmati perasaan damai. Terlebih ketika lelaki itu menjungkitkan sudut-sudut bibirnya ke atas. Ada perasaan lega tersendiri yang mampu membuat Eunhee merasa hanyut ke dalam kenyamanan yang ia punya.

Secara sadar, Eunhee menggerakan lagi kedua tungkai kakinya ke arah si lelaki. Senyuman manisnya belum hilang, Eunhee masih menikmati kebahagiaan yang bersarang di dadanya.

“Bolehkah aku duduk di sini?” tak tahu keberanian dari mana Eunhee menanyakan hal itu. Tapi Chen, si lelaki itu meresponnya dengan mendongakkan kepala, melebarkan kelopak matanya sesaat karena kaget, lalu menggeser posisi duduknya. Mengijinkan Eunhee untuk duduk di sampingnya.

Eunhee masih tersenyum sehangat mentari. Ia menoleh menatap paras Chen yang tetap terlihat menawan di matanya, “Sedang apa kau di sini, Oppa?”

Ah, sudah sangat lama Chen tidak mendengar sapaan ‘oppa’ dari bibir Park Eunhee. Biasanya ia merasa bahagia mendengar sapaan itu. Namun kali ini… Chen tidak bisa menentukan perasaannya. Apakah ia harus merasa bahagia, atau merasa sedih? Atau bersikap sewajarnya saja?

“Aku sedang membolos di jam pelajaran kedua.” Sahut Chen, santai, tanpa beban yang menyertai.

Seketika, alis Eunhee saling bertautan karena tak mengerti. “Apa? Kau membolos? Kenapa?”

Well,” Chen mendesahkan napas panjang, lalu melanjutkan, “kurasa, membolos itu menyenangkan. Kau jadi tak perlu banyak berpikir hanya untuk mengisi soal-soal yang menurutmu susah saat di kelas. Bukankah begitu?”

Ya! Oppa! Tindakanmu ini tidaklah benar. Kau bisa kena hukuman gurumu nanti.” Tegur Eunhee, kesal, sambil melipat kedua tangan di depan dada.

Ucapan itu direspon dengan kikikan pelan. “Kalau begitu, bukankah kau juga akan kena teguran guru pengajarmu? Kau berada di sini karena berniat untuk membolos juga, kan?”

“E-eh?” Eunhee mengusap puncak kepalanya, bingung.

Benar juga. Buat apa Eunhee menegur seorang Kim Jongdae, kalau pada kenyataannya ia juga berada di tempat yang sama dengannya?

Tapi… tunggu! Eunhee berada di sini bukan berarti ia hendak membolos. Melainkan karena…

“Aku tidak membolos. Tapi aku mengikutimu kemari.” Ungkap Eunhee, jujur. Maniknya melirik hati-hati ke arah Chen. Ia takut kalau laki-laki itu tak suka ia ikuti.

“Apa?” Chen tertegun. “Jadi, kau mengikutiku kemari? Memangnya ada apa?”

“Itu… aku… uh,” Eunhee menggigit bibir bawahnya, lantas terkekeh. “Aku hanya ingin bertemu denganmu, Oppa.”

Lalu, perasaan hangat serta merta menjalar dan menyebar di dalam dadanya. Namun Chen merutuki perasaan itu. Ia harus bisa menahannya. Dan jangan sampai efeknya bisa memunculkan semburat kebahagiaan yang tercetak di wajah. Karena ia tak mau Eunhee mengira kalau ia masih mengharapkan gadis itu untuk kembali padanya.

“Kalau kau ingin bertemu denganku, kita bisa bertemu saat istirahat nanti.” Ujar Chen, memberi tahu.

“Kau benar, Oppa. Tapi aku sendiri tak tahu mengapa aku bisa mengikutimu kemari. Ah, mungkin saja kakiku berjalan secara refleks.” Oh, damn it! Apapun itu, Eunhee merasa bodoh karena harus melontarkan kalimat yang ia sendiri tak mengerti apa maknanya.

“Yaa yaa.. terserah kau saja.” Sahut Chen sambil mengusak kecil surai gadis itu. “Mmm… bagaimana hubunganmu dengan Oh Sehun? Apakah baik-baik saja?” tanya Chen. Manik mereka saling bersirobok. Eunhee tak bisa mendefinisikan tatapan yang diberikan Chen padanya. Akan tetapi, gadis itu merasakan kalau Chen tidak menyembunyikan niat lain dalam pertanyaannya. Hanya ada nada penasaran dan juga nada yang terdengar santai.

Bersamaan dengan embusan napas yang terkuar pelan, Eunhee mendongak menatap langit cerah. Melengkungkan senyuman semanis mungkin di saat maniknya mendapati banyaknya burung-burung kecil yang terbang ke sana kemari.

“Hubungan kami… baik-baik saja.”

-o-

Mungkin sudah terhitung dua puluh menit Eunhee tak kunjung kembali dari toilet. Berkali-kali Sehun mengecek jam tangannya, lalu beralih memerhatikan pintu kelas. Berharap Eunhee segera kembali sebelum guru pengajar yang datang.

Memasuki menit ke dua puluh satu dan Eunhee belum menampakkan sosoknya. Membuat Sehun resah bukan main. Terlebih ketika ia mendapati seluruh teman sekelasnya―minus Kai, ia kini beralih duduk di bangku milik Eunhee― telah kembali ke bangku masing-masing, siap menunggu sang guru pengajar yang akan datang dalam waktu beberapa menit lagi.

“Kenapa Eunhee belum datang juga?” gumam Sehun pelan. Dan Kai masih bisa mendengarnya dengan jelas.

“Kurasa dia sedang mengunjungi temannya di kelas lain.” Sahut Kai acuh tak acuh, berhubung saat ini ia sedang memainkan ponselnya.

“Tidak, Kai. Aku tahu kalau Eunhee tak punya teman banyak di kelas lain. Tetapi ia berteman baik dengan seluruh teman sekelas.” Kata Sehun, sedikit resah.

“Apa aku harus menyusulnya ke toilet?” kata Sehun lagi ketika Kai hanya merespon perkataan sebelumnya dengan dengusan tak percaya.

“Hei, Park Eunhee bukanlah anak kecil yang tersesat di tengah acara karnaval, oke? Kurangi intensitas kekuatiranmu itu.” Kai menatap Sehun sekilas. “Aku yakin, dia akan segera kembali.”

Hening. Dan di tengah keheningan yang melanda di antara mereka, Sehun memikirkan ucapan Kai tadi. Ah, benar, Sehun tak perlu sekhawatir ini terhadap Eunhee. Lagi pula, Eunhee bukan lagi anak kecil yang butuh arahan dalam berjalan. Ya, ia yakin Eunhee akan kembali ke kelas. Maka, untuk mengurangi rasa khawatir dalam dirinya sedikit demi sedikit, Sehun menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. Mengatur napasnya agar lebih baik lagi.

Di sisi lain, Kai yang sedari tadi berkutat dengan ponselnya, mendapati ada satu pesan singkat yang terpampang jelas. Berikut dengan nama pengirimnya. Satu lonjakan kecil karena kaget, dan Kai menggumam pelan,

“Park… Hyerim?”

From : Hyerim

 

Hai, Kai. Bisakah kita bertemu hari ini? Pulang sekolah nanti, temui aku di halte bus dekat sekolahmu. Aku ada di sana. Menunggumu. 🙂

Kai terdiam seribu bahasa. Menatap lamat-lamat pesan singkat itu dengan tatapan tak percaya.

Benarkah… seseorang ini adalah Park Hyerim? Gadis yang berhasil memporakporandakan hubungan persahabatannya dengan Sehun tempo lalu?

“Ada apa?” Sehun bertanya ketika ia mendapati Kai yang menegang di tempat. Mendengar pertanyaan itu, Kai menoleh lambat, menatap manik Sehun.

“Park Hyerim…”

“Apa?”

“Dia ingin menemuiku, pulang sekolah nanti.”

Kini, tak hanya Kai saja yang dirundung rasa penasaran, Sehun pun sama. Bahkan, rasa penasarannya bisa berkali-kali lipat.

 

 

.

.

.

.

.

To be continue…

 

 

A/N : Gak bakal banyak cuap-cuap. Cuma mau bilang, tolong luangkan sedikit waktunya untuk mereview ff ini, ya. Karena aku butuh banget masukan dari kalian :””3

Maaf karena aku selalu ngaret buat menyelesaikan ff ini. Kendalanya karena buntu ide, dan gak ada waktu banyak buat nulis ff dengan ribuan words :”)

Eh, satu lagi. Untuk chapter finalnya bakal aku proteksi. Syarat buat dapetin pwnya gampang kok. Seperti yang sudah2, kalian cukup komen minimal 7chapter+komen di chapter ini (jadi totalnya 8chapter). Gampang, kan? 🙂

Tapi finalnya gak bakal dipost secepat yang aku bisa. Entah kapan, tapi mudah2an aku ada waktu luang buat lanjutin, meski rasanya gak ada, mengingat bulan ini sama ke depannya aku bener2 sibuk kuliah :””3 jadinya aku cuma bisa bikin drabble/ficlet buat mengisi kekosongan di blog ini :””

 

So, please drop ur review below, Guys! :”)

Iklan

202 comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s