[Day 2] Changed a Plan


mingyu

Changed a Plan

ShanShoo’s present

starring SEVENTEEN Mingyu, OC Karen, TWICE Mina

friendship, fluff // vignette +1800ws // T

disclaimer : I just own the plot!

-o-

First love doesn’t go away.

Basically from all of the prompt

For 14 Days Writing Challenge

Maybe you want to read : [Day 1]

-o-

 

 

Mungkin, hampir sepuluh kalinya Karen mendengar Mina menggerutu kesal. Kedua tangan kurus cewek itu pun sibuk menunjuk benda ini dan itu pada Karen dan … ugh, romannya sama sekali tak bersahabat. Sedangkan Karen, yang berdiri di samping Mina hanya menggelengkan kepalanya, menolak saran.

“Aduh, kalau begini terus, kapan selesainya? Aku sudah lapar, nih,” Mina menggerutu lagi. Maniknya sibuk beralih memerhatikan jam dinding di toko aksesoris khusus cewek, pun menatap karibnya yang masih berdiri diam seraya berpikir di depan aksesoris gelang. Kalau saja Karen tidak menjanjikan padanya mentraktir makan siang, asal ia mau menemani cewek itu pergi ke toko aksesoris, mungkin Mina tak akan berada di sini. Lagi pula, siapa, sih, yang bisa menolak traktiran dari karibmu sendiri?

“Sebentar lagi, oke? Aku masih belum menemukan pernak-pernik yang cocok untuk acara makan malam nanti.” Sebenarnya, Karen juga sudah cukup kesal. Mencari sendiri saja susah, dibantu Mina pun tetap sama. Ah, bisa dibilang, Karen orangnya pemilih. Sehingga masukan apapun dari Myoui Mina ditolaknya begitu saja.

My Sweetheart,” Mina menggenggam kedua bahu Karen, lalu menghadapkannya ke arahnya. Mereka saling bersitatap. Sudah cukup Mina membiarkan Karen sibuk mencari aksesorisnya secara tak terarah seperti ini. Perutnya beneran meraung minta diisi. “Kita bisa mencari lagi nanti. Sekarang, kita pergi makan siang saja dulu, ya?”

Karen mengerjap, bingung. Oh, yeah, pilihan yang sulit. Karen sedikit kasihan juga melihat Mina yang kelaparan setengah hidup, mengingat semenjak pagi tadi, Mina mengatakan bahwa ia tidak sarapan sebelum pergi sekolah. Sementara di satu sisi, ia juga masih belum mendapatkan barang yang ia inginkan. Padahal seluruh pernak-pernik yang ada di toko ini terlihat sangat bagus dan menarik. Well, Karen memang cewek payah dalam hal memilih hal seperti itu.

“Tapi, tapi―”

“Karen Lee,” Mina mendesah berlebihan. “aku tinggal, nih, kalau kau masih bersikeras mencari. Kau bisa mentraktirku lain kali.” Ujarnya, sembari memicing. Berharap kalau Karen mau mengikuti sarannya, lalu pergi keluar untuk makan siang, lalu kembali lagi kemari, lalu … lalu … berlama-lama memilih lagi. Sigh.

“Ya sudah.” Kata Karen, ambigu. Namun Mina tidak menganggap ungkapan itu terdengar ambigu. Maka,

“Oke, jadi, kita mau makan siang di mana?”

“Eh?” Karen tertawa malu. “Maksudku … aku akan mentraktirmu lain kali,” sahutnya, sembari tangan menggaruk puncak kepalanya yang tak gatal.

“A-apa?!” oh, ya ampun. Jadi … Karen mulai belajar mengabaikan nasib karibnya sendiri yang kelaparan? Bagaimana mungkin? Apakah acara makan malamnya nanti bersama seorang cowok―yang katanya, temannya itu―lebih berharga dibandingkan Myoui Mina? Benar-benar ….

“Karen Lee, kau serius?!”

Uh-oh, yeah,” Karen mengangguk pasti. “Kau tahu, kan, aku tak mau acara makan malam pertamaku ini gagal begitu saja? Maksudku, hei, ini kali pertama ada seorang cowok yang mengajakku pergi makan malam.” Roman Karen tampak begitu bahagia, diiringi dengan nada antusias pula. Seolah lupa kalau teman satu kelas di depannya ini sedang berjuang menahan lapar yang terasa kian menjadi. Oh, mungkin Mina bakal pingsan di tempat kalau-kalau ia tak segera mengisinya.

“Tapi, Karen―”

“Mina, please.” Ujar Karen, memohon.

Suasana di dalam toko aksesoris itu terasa panas, sepanas hati Mina saat ini. Ugh, Karen sungguh kejam. Kalau tahu begitu, mungkin Mina tak akan menghabiskan waktu hampir tiga puluh menit di sini. Ditemani dengan tatapan penuh selidik pemilik toko pula yang … well, kau tahu? Terlihat keheranan karena mereka berdua tak kunjung datang ke bagian kasir dan membawa barang yang dibeli.

Fine, Karen!” Mina menyentakkan napasnya, kasar. “Aku tak akan meninggalkanmu sendiri, okay? Tunggu aku, aku akan makan ramyun di dekat sini. Dan aku akan kembali lagi kemari.”

Karen hendak membalas, jika Mina tak segera menyelanya. “Pastikan kau sudah mendapatkan barang yang kauinginkan. Kalau tidak, aku yang akan memilihnya dan kau harus menerimanya!”

Jeda sejenak, Mina membiarkan Karen memikirkan usulnya. Yeah, meski Mina tak lelah menggerutu sepanjang hari―anggap saja begitu―namun ia tetap memikirkan ‘nasib’ Karen Lee. Ia tak mau kalau nantinya acara makan malam Karen dengan teman cowoknya itu gagal hanya karena Karen gagal pula dalam hal memilih aksesorisnya.

“Baiklah kalau itu maumu.” Karen nyengir lebar. “Aku akan menunggumu di sini.”

-o-

Tapi, selama Mina meninggalkannya dalam waktu sepuluh menit yang lalu, Karen tak kunjung mendapatkannya. Cewek itu tampak frustasi. Berkali-kali Karen menggigiti bibir bawahnya karena kepayahannya itu. Karen khawatir kalau Mina kembali datang kemari, cewek itu akan marah atau meluapkan kekesalannya lagi. Padahal, sungguh, gelang, cincin, bando, dan jepit rambut di depan matanya terlihat menarik. Sehingga Karen sempat berpikir; apa, sih, maunya Karen Lee?

Namun, di tengah kekhawatirannya itu, satu tangan berbalut jaket baseball terulur di depannya, mengambil sebuah jepit rambut bewarna hitam polos berukuran sedang.

“Kurasa, jepit ini cocok untukmu.” Oh, rupanya itu suara cowok. Bahkan Karen merasa mengenal suara itu. Hanya saja ia belum bisa menengokkan kepalanya ke belakang, pada sosok yang mengajaknya bicara barusan.

“Gelang ini juga cocok, kok, buatmu.” Katanya lagi saat tangan kanan yang tengah menggenggam jepit itu, kembali terulur untuk meraih sebuah gelang kain bewarna biru yang dihiasi pita warna putih.

Tak tahan ingin segera memastikan kalau Karen tak salah orang, ia lekas menoleh ke belakang. Mendapati dada bidang si cowok di sana yang tengah menunduk menatapnya seraya tersenyum manis.

Dan manik Karen membeliak lebar.

Kim … Mingyu? KIM MINGYU?

“Kim Mingyu?” Karen menyuarakan kekagetannya. Cewek itu pun sedikit menjauh dari si cowok yang ia sebut sebagai Kim Mingyu. Jantungnya yang semula berdetak normal, terpaksa harus memompa darah lebih cepat lagi hanya karena ia mendengar Mingyu terkekeh pelan.

“Hai, Ren. Lama tak bertemu.” Sapa Mingyu kemudian, yang segera dibalas oleh tawa hambar milik Karen.

“H-hai …” Karen menelan ludahnya susah payah. “Tapi … apa kau memang Kim Mingyu?”

Si cowok Kim Mingyu malah menanggapinya dengan gelengan kepala karena tak percaya mendengar kalimat yang terlontar dari bibir Karen. “Rasanya sakit sekali ketika teman semasa SMP-mu tidak mengenalmu sedikit pun.” Ujarnya, dengan nada sedih yang dibuat-buat.

Jadi benar ….

“Oh, ya, omong-omong, kenapa sedari tadi kau masih saja berdiri di sini? Memangnya tak ada barang yang cocok untukmu, ya?” tanya Mingyu sambil memasukkan sebelah telapak tangannya ke dalam saku celana.

Eng … itu,” Karen menggigit bibir. “Ti-tidak. aku hanya―”

“Hanya merasa bingung, begitu?” terka Mingyu, sukses menohok hati Karen Lee.

“Dari mana kau tahu?” tanya Karen langsung, tanpa dipikirkan terlebih dulu.

“Mmm, mungkin dari cara wajahmu menampilkan ekspresi? Oh, ayolah, Karen Lee, dari kejauhan juga aku tahu kalau kau sedang kebingungan.”

Tak ada jawaban. Namun setelah itu, Mingyu mengajak Karen untuk duduk di kursi panjang yang disediakan di dalam toko. Sembari Karen mematut diri pada kaca kecil yang terletak di depan kursi itu, mulai dari mengenakan jepit rambut sampai gelangnya.

Beautiful,” Komentar Mingyu sambil terkekeh pelan.

“Kau bilang apa?”

“Kau cantik dengan aksesoris itu, Ren.” Kata Mingyu, mengulang ucapannya.

Uhm, thanks.” Karen tersipu malu. Mendadak ia merasa kalau kedua pipinya merona merah karena pujian yang terdengar tulus dari teman semasa SMP-nya itu.

Atau … cinta pertama?

Oh, Karen Lee, jangan mulai lagi. Atau kau tak akan bisa berkata apapun selama kau berada dekat dengan cinta pertamamu ini.

“M-Mingyu-ya,” suara Karen terdengar gugup. Mungkin efek dari mengenang kenangannya sendiri di saat ia menyukai Mingyu dalam diam. “K-kenapa kau … ada di sini juga?”

Mingyu menyadari adanya perbedaan dalam suara Karen. Segera Mingyu mengusak tatanan rambut milik Karen, seraya berkata, “Aku merasa kasihan melihat cewek kebingungan di toko aksesoris. Makanya aku hampiri, siapa tahu aku bisa membantu mengatasi kebingungannya.”

Mendengarnya, pipi Karen kian merona. Lekas ia membuang pandangan ke arah lain, berharap kegugupannya akan kebersamaannya dengan cowok ini cepat menghilang. Tapi … apa Karen terlihat semenyedihkan itu, ya, sampai-sampai ia harus dibantu oleh seorang cowok alih-alih dengan Mina selaku seorang cewek?

“Mau pergi kencan, ya?” tanya Mingyu. Sebenarnya, pertanyaan itu sudah menggelayuti pikirannya dari tadi.

Karen refleks menoleh pada Mingyu. Maniknya melebar saat mendengar pertanyaan itu. Memangnya ia kelihatan akan pergi kencan, ya? Eh, tapi, kan dia tidak pergi untuk kencan, melainkan untuk makan malam. Atau … sama saja? Ya Tuhan!

Nggak, kok. Aku … aku cuma mau kelihatan cantik saja di sekolah.” Yeah, it’s sounds good, Karen Lee. Jangan pikirkan apa yang ada dalam benak Mingyu setelah kau mengatakan hal itu. Masa bodoh saja, lah.

“Begitu, ya? Padahal kau sudah kelihatan cantik meski tanpa benda-benda ini.” Puji Mingyu lagi, dan segera disambut dengan salah tingkah dari Karen.

“Kau … kau―”

“Kalau begitu, aku pergi dulu, ya. Sebentar lagi rapat osis di sekolahku akan dimulai. Mmm, kau tahu? Dua hari lagi adalah ulangtahun sekolahku,” Mingyu menerangkan sambil berdiri, disusul Karen yang ikut berdiri dan mendongak menatapnya.

“Begitu, ya.” Karen tertawa kecil. “Baiklah. Dan, sekali lagi terima kasih karena kau sudah mau membantuku.”

No prob,” Sahut Mingyu, mengedikkan bahunya sekilas. “Oh, Karen Lee, apakah malam nanti kau ada waktu luang? Aku ingin mengajakmu pergi makan malam.”

Pipi Karen merona lagi.

Dan Karen tenggelam dalam dunia khayalnya sendiri, bersama Mingyu, tentunya. Seperti; apa yang akan terjadi kalau aku makan malam bersama Mingyu? Apakah dia akan menciumku? Membalas perasaanku saat itu? Atau―

Uh, kalau tidak mau, tidak apa-apa.” Cowok itu mengusap belakang kepalanya. Agak canggung juga kalau sudah begini. Lagi pula, siapa suruh mengajak cewek di depannya ini pergi begitu saja di saat mereka kembali bertemu? Tapi tak apa, Mingyu tak menyesal, kok.

“Aku mau! Aku mau!” sahut Karen tiba-tiba setelah ia kembali dari dunia khayalnya. Cengiran lebarnya ia tunjukkan pada cowok itu, menandakan kalau ia benar-benar mengiakan ajakannya.

Entah mengapa, mendengar persetujuan itu, jantung Mingyu berdetak dua kali lebih cepat.

“Baiklah. Aku akan menjemputmu jam tujuh malam nanti. Eh, omong-omong, kau tidak pindah rumah, kan?” tanya Mingyu, memastikan.

“Tidak. rumahku masih di sana,” Karen menghela napas. “Jam tujuh malam? Oke, aku akan menunggumu.”

Mingyu mengangguk mendengarnya. Tangan kanannya kembali terangkat dan mengusak pelan surai cokelat milik Karen. “Tenang saja, aku tidak akan terlambat untuk menjemputmu, kok.”

Dan cengiran Karen semakin menjadi. Tambahkan binar-binar kebahagiaan yang tercetak di kedua netranya.

Mingyu pergi, namun salah tingkah cewek itu masih ada.

Bahkan sampai Mina kembali dari kedai ramyun.

“Jadi, kau belum mendapatkan apapun?!” oh, seperti yang sudah diperkirakan, cewek itu marah-marah lagi, kayak tadi.

“Biarkan aku mencari―”

“Aku nggak jadi pergi makan malam sama Vernon!”

Mina tercengang. Tak hanya mendengar ungkapan itu saja, tapi juga dengan nada bicara serta roman karibnya yang begitu berbinar. Tidak jadi, tapi masih bisa tersenyum lebar? Bukankah itu aneh? Oh, tidak, selama itu adalah Karen Lee.

“Kenapa nggak jadi? Apa karena kau belum menemukan―”

“Tidak, tidak. aku sudah menemukannya. Tapi aku nggak bakal pergi sama Vernon.”

Huh? Terus sama siapa?”

Tak ada jawaban, namun Karen lekas merangkul bahu Mina, membawa cewek itu ke bagian kasir yang pastinya sudah cukup kesal menanti kedua pembeli itu untuk datang menghampirinya.

Sembari menunggu barangnya dibungkus, Mina bertanya lagi, “Apa kau sudah memberi tahu Vernon tentang hal ini?”

Karen menggeleng kecil. “Belum. Tapi aku akan memberitahunya segera.”

Mina semakin dibuat tak mengerti oleh tingkah Karen. Sampai keluar dari toko pun, Karen terus tersenyum tidak jelas, terbentur tiang penyangga papan nama toko juga oke-oke saja. Malah, senyumannya kian melebar.

Dengan jarak yang cukup jauh antara keduanya, Karen berbalik ke belakang, pada Mina.

“Myoui Mina, nanti malam bantu aku buat berdandan, ya? Eh, jangan-jangan! Bantu aku cari pakaian yang cocok saja.”

“Hah?!”

Karen terkekeh malu. “Soalnya dia nggak suka cewek yang dandannya berlebihan.”

 

 

-oOo-

 

Ini nulis apaan coba? Kenapa gak jelas begini ya ampun :’v

Tadinya alurnya tuh nggak kaya begini, cuma aku rubah lagi aja. Soalnya alur yang pertama agak aneh /emang yang ini gak aneh?/ huhu

Makasih yaa bagi kalian yang udah baca ff ini sampai akhir :”)

Review kalian ditunggu banget :”)

 

Tertanda,

ShanShoo♥

Iklan

16 comments

  1. Aduh.. Udah dibantuin, malah ngelanggar janji. Hadeuh, nanti kalau dipilihin baju, mau lama lagi? Kasian vernon, duluan ngajak makan malem, eh jadinya sama mingyu. Bingung mau ngomen apa… 😀 😀 😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s