[Day 3] Forget Love


Minho

Forget Love

ShanShoo’s present

starring SHINee Minho, OC Julie, Red Velvet Wendy

sad, friendship, college-life, slice of life // vignette +2k // PG-15

disclaimer : I just own the plot!

-o-

The right one does exist.

 

Basically from all of the prompt

For 14 Days Writing Challenge

Maybe you want to read : [Day 1] [Day2]

-o-

 

 

Ada begitu banyak pertanyaan dalam benakku yang sampai saat ini belum terjawab. Pandanganku tak pernah luput dari sosoknya yang tengah memerhatikan seseorang di balik punggungku. Pertanyaan pertama, siapa seseorang yang sedang ia perhatikan? Kedua, mengapa ia tersenyum seperti itu? Lalu ketiga, sejak kapan Minho memerhatikan seseorang sampai ia memperlihatkan sikap berbeda? Karena sudah hampir satu bulan lamanya ia memperlihatkan sikap demikian. Membuatku tak urung mengerutkan kening, bingung.

Namun aku tak berani menyuarakan semua pertanyaan itu. Yang kulakukan hanyalah mengamatinya dalam diam, membiarkan benak mencari sendiri jawabannya tanpa perlu menanyakannya langsung pada subjek di hadapanku ini. Atau mungkin, biarlah Choi Minho sendiri yang mengatakannya tanpa perlu kupancing dengan pertanyaan-pertanyaan tersebut.

“Dia terlihat semakin cantik.” Ungkapan yang terlontar dari bibirnya terdengar penuh pujian. Maniknya membentuk rupa bulan sabit, di mana lengkungan kecil pun turut terukir di salah satu pipinya. Ya, aku menyukai caranya tersenyum seperti itu. Tetapi, entah mengapa, belakangan ini aku merasa bahwa senyuman itu hanya terlihat sebagai hiasan belaka yang enggan kupuji lagi.

“Siapa?” tanyaku, lalu dia menatap manikku yang kelewat penasaran.

“Ah … apa maksudmu?” Minho gelagapan, bak pencuri yang ketahuan sedang mencuri. Aku yang mendengar pertanyaannya hanya bisa menggeleng pelan, sebelum memilih menandaskan sekaleng kola dalam genggamanku.

“Yang katamu cantik. Siapa dia?” ulangku, setengah enggan, setengah penasaran. Karena jujur saja, sedalam apapun aku menyembunyikan rasa penasaran, pada akhirnya akan kembali muncul ke permukaan. Itupun karena Minho yang kembali mengorek rasa penasaranku.

“Tidak―”

“Kita adalah teman, kan?” pada akhirnya, aku terpaksa memotong ucapannya. Kulihat ia sedikit tersentak, menghadirkan satu kekeh malu di bibirnya, lalu berdeham pelan.

Well,” Minho mengedikkan bahunya sekilas. “ya, kita adalah teman, tentu saja.” Sejenak ia melirik kembali ke balik badanku, dan kudengar ia mendesahkan napas panjang. Tersirat kekecewaan di wajah tampannya yang sungguh memesona.

“Jadi? Kau mau menceritakannya padaku?” kedua tanganku bersedekap, meminta penjelasan padanya. Oh, peduli setan dengan prinsipku tadi untuk tidak bertanya apapun tentang masalah ini pada Choi Minho. Rasa penasaranku sudah mencapai ubun-ubun.

“Mmm … bagaimana, ya, memulainya?” Minho menggaruk puncak kepalanya, wajahnya tampak kebingungan. Namun akhirnya ia memutuskan untuk melakukan kontak mata lagi denganku, kemudian, “Aku lagi naksir seseorang.”

Entahlah, apakah aku harus terkejut setelah mendengarnya, atau bersikap sewajarnya saja. Karena … oh, Tuhan, sungguh aku bukanlah seorang cenayang yang bisa membaca pikiran atau tatapan orang lain. Namun aku sudah mengetahui apa yang terlontar dari bibir Choi Minho;

Choi Minho naksir seseorang.

-o-

Sewaktu jam perkuliahan kedua masih berlangsung, ekor mataku memerhatikan gerak-gerik Minho di sampingku. Well, ia sama sekali tidak kelihatan sedang berkonsentrasi penuh, seperti biasa. Yang ada, ia tampak sibuk sendiri, tersenyum sendiri dan menggumam sendiri, seperti orang gila.

Oh, haruskah aku menegurnya? Soalnya aku tidak tahan―

“Choi Minho, kuharap kau tidak keberatan untuk berada di luar kelas.”

―tapi dosen Min sudah menegurnya terlebih dulu.

Kulirik lagi ke arah Minho, dan kau tahu? What the―wajahnya tak menunjukkan penyesalan sedikit pun! Percayalah! Malahan, senyuman yang terkembang di bibirnya kian menjadi. Dia mengangguk patuh, membereskan buku-bukunya, menepuk bahuku seraya berkata, “Duluan, ya.” Lalu melenggang pergi begitu saja dalam kesenyapan yang memekat.

Sudah kukatakan padamu, kan, kalau sikap Minho berbeda akhir-akhir ini?

Itu karena …

Choi Minho naksir seseorang.

-o-

Bahkan ketika jam istirahat selanjutnya datang menyambut, Choi Minho belum kembali ke kelas. Aku, yang sedari tadi duduk di kursi untuk menunggu ia kembali, hanya bisa menguarkan napas panjang.

Akhirnya, aku memutuskan untuk pergi keluar, mencari keberadaan teman dekatku itu. Kedua tungkaiku mengayun lambat, sembari netra menilik ke sana kemari, mencari sosok jangkung Minho.

Hampir sepuluh menit lamanya aku mencarinya. Di kantin tidak ada, di area parkir universitas tidak ada, di perpustakaan apalagi. Lagian, Minho begitu anti terhadap perpustakaan, dunia di mana hanya ada buku tebal dan buku besar yang menghalangi pandangannya, katanya.

Baiklah, aku menyerah! Mungkin saja dia sedang bercengkerama dengan―

“Julie! Julie! Julie!”

Aku terkejut ketika Minho menarik bahuku secara tiba-tiba, membuat kami saling berhadapan, dengan senyuman lebar milik Minho sebagai pelengkap datangnya ia padaku. Keningku mengerut samar, dan sebelum kerutannya lebih dalam, aku lekas berbicara, “Kau kenapa?”

Minho tertawa penuh rasa bahagia, di samping itu, ia menatapku dengan binaran matanya yang begitu indah. “Coba tebak!”

Aku menepis tangan Minho, menatapnya lebih lekat untuk mencari jawaban atas pertanyaan balik yang terlontar. Aduh, dasar!

“Mmm … kau terbebas dari hukuman dosen Min?”

Minho menggeleng cepat, menepis pernyataanku sembari cemberut. “Ayo coba lagi!”

Aku pun menggumam. Sebenarnya Minho kenapa, sih? “Kau … eh, dosen Min memaafkanmu?”

“Itu sama saja!” Minho mencubit besar kedua pipiku, gemas. “Baiklah, akan kuberi tahu sekarang.”

Jantungku mulai bekerja abnormal, menanti berita apa yang bisa membuat Choi Minho terlihat berbinar seperti ini.

“Aku dapat nomor ponselnya!”

Mendadak saja, rahangku terasa kaku untuk membalas. Sehingga aku membiarkan Minho kembali berkata, “Apa kau ingin tahu siapa namanya?”

Kujawab, ya, dalam hati.

“Namanya Son Wendy. Dan dia adalah cewek yang aku taksir!”

Kesadaranku menghilang seperempat bagian. Jantungku terasa nyaris terlonjak dari tempatnya, kedua kaki pun bagai tak memijak bumi. Kubuang pandanganku ke arah lain, pada lalu lalang mahasiswa di sekitar kami. Berharap bisa menenangkan debaran dalam dada ini yang cukup menyakitkan.

Karena pada akhirnya, aku tahu siapa nama cewek yang ditaksir Choi Minho.

Namanya Son Wendy.

-o-

Lalu, dua minggu setelah Choi Minho mengoarkan tentang perkenalannya dengan Son Wendy, ia segera mempertemukanku dengan cewek itu. Tepat ketika aku sedang berjalan di koridor kelas menuju ke perpustakaan.

“Nah, Wendy, perkenalkan, dia Kang Julie. Teman dekatku di kampus.”

Ini adalah kali pertama bagiku bertemu secara langsung dengan seorang cewek yang notabene tengah memiliki hubungan dekat dengan Choi Minho. Biasanya, Minho selalu bersikap tak acuh kalau aku memintanya untuk mengenalkanku pada cewek yang didekatinya.

Namun itu tiga tahun lalu. Di saat aku tak memiliki rasa apapun terhadapnya.

Tiga tahun yang lalu, aku pun masih bersikap cuek, manakala Minho ketahuan sedang bermesraan dengan pacarnya. Tiga tahun yang lalu, aku tak peduli ketika Minho mengucapkan kalimat-kalimat gombal pada pacarnya via video call. Tiga tahun yang lalu pula, aku bersikap masa bodoh dan memberikan sedikit petuah mengenai hubungan cintanya yang kandas tanpa sebab.

Kupikir, segala sesuatu yang kuinginkan seperti tiga tahun yang lalu―memertahankan rasa cuekku dan tak memiliki rasa pada Choi Minho―akan berlanjut sampai sekarang. Tetapi nyatanya tidak. aku tak bisa menahan perasaan baru yang tiba-tiba saja mendobrak hatiku dan memporakporandakan isinya.

Satu perasaan yang sialnya tak bisa kubuang jauh-jauh; rasa suka.

Ya, dalam diam, aku menyukai Choi Minho.

Dalam kesenyapan yang mengungkung, aku memujinya.

Dalam rasa sakit pun, rasa suka ini tak bisa menghilang.

Aku benar-benar menyukai Choi Minho. Bukankah ini hal yang gila? Menyukai teman dekatmu sendiri? Yang benar saja, Kang Julie?

“Hai, namaku Son Wendy, kau bisa memanggilku Wendy, omong-omong.” Cewek bersurai semerah darah ini memperkenalkan dirinya padaku. Tangannya terulur ke depan, ingin melakukan jabat tangan. Dan bodohnya, aku hanya diam saja menatap tangannya yang seputih salju.

“Uh … Julie?” Minho bersuara. Agaknya ia sedikit canggung ketika mendapati diriku yang hanya diam mematung.

“Julie?”

“Y-ya?” kesadaranku telah kembali. Aku mendongak dan menatap Minho serta Wendy bergantian. “Oh, ya, namaku Kang Julie. Senang bertemu denganmu, Wendy.” Ujarku cepat, seraya tangan menyambut ulurannya.

“Dan, Wendy ini pacarku,” mataku memindai wajah Minho yang bersemu merah―serupa wajah Wendy―karena malu. Bibirnya membentuk senyuman yang amat kusukai selama ini. Lalu, Minho meraih tangan Wendy yang sebelumnya cewek itu ulurkan padaku. “Bukankah kami pasangan yang serasi?”

Oh, ya, serasi. Sampai-sampai aku iri melihat Wendy yang bisa memenangkan hatimu hanya dalam dua minggu.

 

Apa kabar diriku yang menantikan dirinya selama dua tahun lebih?

Sungguh menyedihkan.

“Ya, kalian pasangan yang sangat serasi. Dan kalian membuatku iri.” Aku menyuarakan pikiranku, meski tidak keseluruhan. Gila kalau sampai aku mengutarakan isi kepalaku semuanya. Bisa-bisa Choi Minho kaget, dan Wendy lebih memilih memasang wajah kecut padaku.

“Omong-omong, kami mau makan siang. Kau mau ikut?”

Nah, ini yang lebih gila! Son Wendy mengajakku pergi makan siang dengannya dan Choi Minho? Lebih baik aku mati saja, deh.

“Uh … itu …” mataku bergerak gelisah. “Maaf, sepertinya aku tak bisa. Aku harus pergi ke perpustakaan. Mungkin lain kali?” tanyaku, penuh nada penyesalan. Atau lebih tepatnya, penuh nada kesedihan.

“Sayang sekali,” Wendy mendesah berlebihan. “Padahal hari ini Minho mau mentraktirku, dan kau. Kalau kau mau.” Katanya, melirik Minho.

Uh, well, trims. Tapi sekali lagi, maaf. Aku tak bisa. Tak apa, kan, Minho?” aku ganti memerhatikan Minho yang memasang wajah berseri.

“Tidak apa-apa. Kalau begini kan, uangku tidak akan habis dalam sekejap mata. Kau itu, kan, rajanya makan.”

Sialan.” Umpatku, lantas tertawa kering. “Ya sudah, kalau begitu sampai bertemu nanti. Nikmati waktu makan siang kalian dengan baik, oke?” aku menepuk bahu Wendy dan Minho bergantian. Kedua tungkaiku kembali merajut langkah yang tertunda.

Tidak, aku tak ingin menatap ke belakang. Aku tak mau melihat segala kemesraan yang pastinya akan mereka perlihatkan. Tidak, tolong, biarkan mataku menatap lurus.

Namun sayang, dari kejauhan, aku masih bisa mendengar suara mereka berdua yang terlampau bahagia. Khas pasangan yang baru saja jadian.

-o-

Kedua mataku tak bisa terpejam malam ini. Kupaksa pun tak ada hasil. Yang ada, aku semakin tak bisa tidur. Beberapa kali aku mengubah posisi tidurku. Berharap aku bisa cepat mendapatkan kantuk, dan bisa melupakan rasa sakit ini. Namun tetap saja, hasilnya nihil. Dan akhirnya, kuputuskan untuk membuka mata lebar-lebar demi menatap langit-langit kamarku yang terlihat remang, karena cahaya lampu kamarku yang berukuran kecil.

Suasana kamarku terasa begitu lengang. Membuat telingaku bisa mendengar detakan jarum jam dinding dengan amat jelas. Bahkan aku bisa mendengar detak jantungku sendiri, begitu cepat dan tak beraturan.

Aku benar-benar merutuki suasana seperti ini. Karena suasana seperti ini memudahkan otakku untuk kembali memutar peristiwa tadi siang, di saat aku hendak pergi menuju perpustakaan. Demi kerang ajaib, tak bisakah otakku beristirahat dan melupakan semua hal itu?

Lalu, tak lama ketika aku sibuk uring-uringan sendiri, ponsel yang kuletakkan di atas nakas menderingkan nada LINE, pertanda ada pesan chat masuk.

Segera saja aku meraih ponselku, membuka aplikasi LINE untuk melihat siapa yang mengirim chat.

Minho.

Kedua kelopak mataku mengedip tak sempurna.

Oi, Julie! Kau sudah tidur? Tanya Minho, lalu menyertakan stiker Moon yang tengah membentuk huruf V di tangan kanannya.

Belum ada niat untuk menjawabnya. Entah mengapa, jari-jemariku terasa seperti membeku.

Hei, kau sudah membacanya! Itu berarti kau belum tidur! Minho mengirimiku lagi, kali ini disertai stiker James yang tengah mengacungkan ibu jarinya.

Mmm … aku belum tidur. Ada apa? Tanyaku, dan aku tak menyertakan stiker apapun. Terlalu malas.

Besok hari libur.

Aku mengernyit. Lalu? Ada apa? Kau mau memintaku menemanimu pergi membeli aksesoris cewek untuk Wendy, begitu?

Minho mengirim stiker entah tokoh apa itu yang tengah tertawa lebar. Tidak, bodoh! Aku ingin mengajakmu pergi makan siang. Bukankah tadi kau menolak ajakanku dan Wendy?

Hah? Dan kini aku mengiriminya stiker Moon yang terkejut setengah hidup.

Dia …. dia mengajakku pergi makan siang? Benarkah itu? Kurasakan perasaan senang yang melingkupi meski hanya sedikit. Lengkungan senyumanku tercipta, karena sungguh demi apapun, aku tak bisa menahannya.

Iya, beneran. Dia membalas. Jeda beberapa detik sebelum ia mengirim chat selanjutnya. Mau, tidak? aku yang traktir, kok. Katanya, lengkap dengan stiker entah tokoh apa itu―karena sialnya, aku tak punya stiker aneh-aneh selain Moon and James serta Brown and Cony saja―dengan tatapan penuh menggoda.

Jemariku tak lagi mengetik balasan. Hatiku saat ini sedang berbunga. Hei, wajar saja, kan? Eh? Wajar? Entahlah, aku tidak tahu. Perasaanku kini bercampur aduk. Akan tetapi, perasaan itu tak berlangsung lama ketika otakku teringat sesuatu, membuat wajahku kembali muram.

Apa … kita pergi makan bersama Wendy juga?

Lama, tak ada balasan, dan beberapa detik kemudian, Minho membalas, Wendy? Tidak. aku tidak mengajaknya. Dia sedang sibuk dengan urusan ekstrakulikulernya, omong-omong.

Aku tak mengetik lagi setelah membaca alasannya. Rasanya, hatiku mendadak seperti diremas begitu kuat. Karena aku mengira bahwa Minho mengajakku pergi makan siang hanya sebagai ‘pelarian’ saja, di saat Wendy tak memiliki waktu luang untuk itu.

‘Oh, baiklah, Julie. Jangan terlalu banyak berharap.’ Bisikku dalam hati.

Kudengar restoran favorite kita menyediakan menu baru. Mau mencoba? Tanya Minho kemudian.

Dan aku segera membalas, Oke, aku ingin mencobanya.

Percakapan kami diakhiri dengan Minho yang mengucapkan selamat malam padaku, pun aku yang membalas ucapannya. Aku kembali menyimpan ponselku di atas nakas. Sekarang, aku tak bisa mencari tahu bagaimana mimik wajahku. Apakah sedih? Bimbang? Atau … bahagia? Aku tidak tahu, tapi yang jelas, pilihan terakhir terasa tidak mungkin.

Satu jam berlalu begitu saja. Sialnya, mataku belum bisa menutup. Tapi aku akan tetap memaksakannya, lagi pula, ini sudah memasuki waktu tengah malam. Aku tak mau bangun kesiangan dan melewatkan makan siang dengan Minho begitu saja. Mataku hendak memejam, kalau ponselku tak menderingkan nada LINE lagi.

Kuraih ponselku dengan malas. Mendapati satu pesan suara dari pengirim sebelumnya, Choi Minho.

Katanya, “Uhm, hai, Julie. Aku yakin kau sudah tertidur saat ini. tapi … bolehkah aku mengatakan sesuatu? Ini tentang … makan siang yang kita rencanakan sebelumnya.”

 

Ada satu pesan suara lagi, “Hei, rupanya kau belum tidur juga?! (tertawa) benar-benar. Baiklah, jadi, aku hanya ingin mengatakan maaf karena … besok kita tak bisa makan siang bersama. Uhm, Wendy memintaku menyaksikannya latihan bernyanyi untuk acara resital di kampus.”

Lalu, satu pesan suara lagi. Inginnya aku tak mau mendengar lebih lanjut, namun hati tak bisa menolaknya. Masa bodoh dengan rasa sakit yang kian menjalar sampai ke akarnya.

“Kalau kau mau, kau bisa datang ke sana dan kita saksikan latihannya bersama-sama. Dan … uhm (terkekeh pelan) kudengar, adik kelasku Lee Taemin bilang bahwa ia naksir padamu. Dia juga mengambil bagian vokal dalam ekstrakulikulernya bersama Wendy. Kuharap kau bisa datang agar kau dan dia bisa berkenalan.”

Tak terasa, air mata ini keluar membasahi kedua pipiku begitu saja, tanpa sanggup untuk kutahan.

Oh, sesakit inikah yang namanya patah hati?

 

 

-oOo-

 

Aduh, aku ngetik ff ini sambil ada baper-bapernya gitu :”” kasian banget sama Julie 😥

Semoga kamu bisa mendapatkan cowok yang mencintai kamu, ya 😥

Makasih buat yang udah baca, apalagi yang menyempatkan waktunya untuk berkomentar ^^

 

 

Tertanda,

ShanShoo♥

Iklan

15 comments

  1. Aduh, baperrrr baca nya. Udah, sama taemin aja, ganteng juga kok. Biarlah minho dan wendy bersama, dan kamu sama taemin. Kapel minho n wendy disingkatnya apa ya? MinWen? HoDy? Entah lah, hanya kakak yang tau 😀 😀 bagus ff nya kak lop yu 😉 :-*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s