[Day 6] The Different between Us


jt-RRlhi

Credit picture by @differentrecs

The Different between Us

It’s an original fiction by Isan

1791 words

Disclaimer : I own the plot!

-o-

Bad influence, parents say.

 

Basically from all of the prompt

For 14 Days Writing Challenge

Maybe you want to read : [Day 1] [Day 2] [Day 3] [Day 4] [Day 5]

 

-o-

 

Kalau kau pergi ke suatu tempat di mana di dalamnya terdapat banyak orang dengan setelan glamour, sementara dirimu sendiri berpenampilan seadanya atau bahkan bersikap tak acuh terhadap penampilanmu, maka siapkan telingamu untuk mendengar segala runtutan caci maki yang terlontar dari bibir mereka. Apapun itu, bahkan meski kau harus mendengar cacian paling buruk.

Apa kau siap dengan segala konsekuensi itu?

Jika tidak, maka jangan pernah sekalipun kau tampakkan diri di hadapan mereka dengan keadaan demikian, atau kau akan mati di tempat.

Namun, segala hal-hal mengerikan seperti itu akan tampak biasa saja di mata Brian, seorang laki-laki dengan segala hal tak terduga yang ia miliki.

Oh, baiklah, aku akan memperkenalkan diriku terlebih dulu.

Namaku Eve, gadis berusia tujuh belas tahun yang saat ini menempuh pendidikan di SMA terkenal di kota Kanada. Well, aku tidak akan menyebutkan nama sekolahku secara spesifik, lagi pula, aku tak akan menceritakan kisah suramku selama bersekolah di sana.

Karena yang akan kuceritakan pada kalian di sini adalah tentang Brian Moru, laki-laki dengan segala hal tak terduga, seperti yang kukatakan padamu sebelumnya.

Laki-laki itu terpaut usia dua tahun lebih tua di atasku. Penampilannya … well, sepertinya aku sudah memberitahukan hal itu padamu sebelumnya, bukan? Tetapi, baiklah, aku akan menceritakannya kembali secara rinci.

Brian Moru memiliki tiga tindikan di telinga kanan dan dua tindikan di telinga kiri. Matanya selalu terlihat sayu, bak seseorang yang kekurangan istirahat tidur selama berhari-hari. Rambutnya agak panjang di bawah telinga, bewarna pirang mencolok khas lelaki Kanada kebanyakan. Wajahnya begitu tirus, namun tak meninggalkan kesan tegas di setiap garis rahangnya. Mukosa bibirnya agak kehitaman, karena dia sering menyesap berbatang-batang sigaret. Mungkin satu bungkus sigaret tak akan cukup untuk satu hari. Pakaian yang ia kenakan selalu jauh dari kata glamour, atau menarik, atau menawan, atau yang lainnya.

Alasannya karena, “Untuk apa aku berpakaian seperti itu? Lagi pula, mereka tidak mengenalku, kan?”

Mungkin kau berpikir, dari mana aku mengenal Brian Moru, si lelaki dengan segala ketidakacuhannya itu? Maka, jawaban yang dapat kuberikan adalah,

Karena ia temanku semasa kecil.

Mungkin kau juga berpikir mengapa aku mau berteman dengan laki-laki seperti dirinya. Tapi, yeah, inilah realitanya, pun kau belum mengetahui seluk-beluk cerita miliknya yang sesungguhnya, bukan?

Maka dari itu, biarkan aku menceritakan kisahnya, sekarang.

-o-

Langit cerah kota Kanada sukses membangunkanku dari hiruk-pikuk mimpi yang amat buruk. Kedua mataku membuka secara perlahan, mendapati siluet benda-benda di sekitar kamarku yang tertimpa cahayanya. Tak pelak, aku mendesah kecil. Segera aku beringsut keluar dari balik selimut yang menemaniku semalaman. Kedua kakiku berpijak di atas lantai yang menguarkan sensasi dingin di telapak, dan aku terdiam sejenak, menyadarkan diri sepenuhnya.

Itu, sampai aku mendengar deringan ponselku di atas nakas. Pertanda ada seseorang yang mencoba menghubungiku.

Namun aku tahu siapa dia.

Hallo, Mr. Moru. Have a nice day, and thanks for calling me.” Ujarku, mendahuluinya yang hendak bersuara.

Dapat kudengar helaan napasnya yang begitu berat, khas Brian sekali. “Wanna to meet me in the park? I’m waiting you there,” katanya, memulai pembicaraan penting di antara kami. Yang segera kusahut dengan ‘ya’ ringan, sebelum akhirnya aku bergegas membersihkan diri, lalu pergi ke taman di dekat rumahku.

-o-

Mataku dengan cerdik memindai seluruh bangku taman, mencari keberadaan Moru, tentu saja. Kala aku berhasil menangkap sinyal darinya berupa lambaian tangannya yang lemah, aku tersenyum lebar. Kuhampiri Moru yang saat ini sedang duduk bersandar di bangku taman kosong. Tangannya dengan cekatan menepuk sebelahnya, menyuruhku untuk duduk.

Cola?” tawarnya, seraya menyodorkan sekaleng minuman bersoda itu padaku.

Aku menggeleng, menolaknya. “Aku sedang tak ingin minum kola, omong-omong.” Responsku sambil ikut menyandarkan punggung. Abaikan tatapan para pejalan kaki pada kami, atau lebih tepatnya, pada Moru, yang notabene mengenakan jaket kulit kumal di mana terdapat beberapa robekan di setiap sudutnya. Serta penampilannya yang agak berantakan. Tapi tak apa, aku―dia―sudah biasa.

“Sudah merasa baikan?” aku memulai konversasi dengannya. Membiarkan netranya beralih ke arahku.

Yeah, I really never feel good before,” ujarnya, menghela napas. “Tapi meminum dua botol minuman keras saja rasanya tak cukup.”

“Moru!” seruku, kaget. “More than two will makes you die, Idiot!” koarku tak tanggung-tanggung.

Tapi Moru hanya tertawa sengau mendengar ocehanku, tangannya yang kurus segera mengusak puncak kepalaku. “I’m not, Eve,” jawabnya. “Don’t worry, I will not die and leaving you alone. Ah, no, you still have your parent, anyway.

Aku segera menepis tangannya, lantas membuang pandangan pada jalanan kota Kanada, dengan berbagai gedung pencakar langit melengkapi setiap sisinya. “You too, Moru,”

Me?” Moru menunjuk dirinya sendiri, setengah tak percaya. “Bagiku, kedua orang tuaku sudah mati, Eve.”

Entah kali keberapa aku mendengar kelakarnya yang sungguh pilu. Aku tak mampu merespons apapun, tidak, ketika aku sedikit membenarkan ucapannya.

Brian Moru, selama sembilan belas tahun hidupnya, tak pernah merasakan kasih sayang orang tua yang sebenarnya. Mereka selalu mengabaikan keberadaan Moru, mereka selalu menganggap kalau Moru tidak ada. Sekali pun mereka tak pernah memenuhi apa yang Moru inginkan. Bahkan, jika Moru dilaporkan berkelahi oleh gurunya di sekolah, mereka selalu menyalahkan Moru, meski Moru menepis tuduhan itu karena ia tak bersalah. Maka dari itu, Moru lebih memilih untuk tak melanjutkan pendidikannya hingga sekarang. Masa bodoh jika kedua orang tuanya dipandang rendah oleh seluruh kolega di perusahaan atau teman-teman bisnis lainnya. Karena Moru sudah tidak terlalu mementingkan hal itu, bukan urusannya, katanya.

Di mata orang lain, Moru adalah laki-laki yang tak memiliki gairah untuk hidup, dan mungkin kalimat ‘mati saja kau!’ akan terlontar dari bibir mereka.

 

Namun di mataku, Moru terlalu lelah untuk menampakkan gairah hidup yang sebenarnya.

“Eve,” Moru memanggil namaku, membuatku menoleh padanya yang sedang menatap menerawang ke arah langit.

“Ya?”

Have you ever think about your dream?” tanyanya, memulai konversasi lain yang segera mengundang kerutan samar di keningku.

Yeah,” pada akhirnya aku menjawab demikian. “Memangnya kenapa?”

Moru menggeleng, lantas terkekeh kecil. “Kalau begitu, kau pasti mempunyai mimpi yang begitu besar, bukan?” tanyanya lagi, kali ini ia mengarahkan iris hijau beningnya padaku.

Aku tidak menjawab, tidak ketika Moru terkekeh kembali. “Raihlah mimpi itu, Eve. Kau tak boleh menyiakannya atau aku akan meninggalkanmu.” Ungkapannya membuatku terkejut setengah hidup. “Dan aku serius dengan ucapanku ini,” imbuhnya segera.

“Moru …” ada cairan yang tiba-tiba saja mendesak kedua mataku. Ucapan Moru barusan … entahlah, aku seperti merasa kalau dia akan pergi jauh sekali. Pergi meninggalkanku tanpa mengucap satu-dua patah kata.

Promise me, you will always stay beside me, Moru.”

Mm, I will, Eve. Don’t worry,” ia menoleh padaku, memberikan senyumannya yang begitu manis. Oh, sayang sekali orang-orang di sini tak mengetahui bagaimana senyuman Moru, serta kebaikan hatinya.

By the way, apa kedua orang tuamu tak akan mencarimu kemari?” tanya Moru, mengalihkan atensinya ke arah bus yang berhenti dan menurunkan seorang penumpang, beberapa puluh meter di depan kami.

“Hm?” aku menggumam. “Tidak, lagi pula mereka sudah tahu kalau aku sering keluar di jam segini.” Moru menoleh, dan aku menelan ludah susah payah. “Tambahan, tanpa mengetahui bahwa aku ada di sini bersamamu.”

Lalu, kulihat Moru mengembuskan napas lega. Seolah pernyataan yang kuutarakan barusan adalah kabar baik untuknya. Padahal aku sempat merasa kalau Moru akan menunjukkan mimik sedih di saat aku mengatakan hal itu.

“Kau memang pintar menyembunyikan kenyataan, Eve.” Katanya, agak bangga. “Mengapa kau tak mengatakan yang sebenarnya saja?”

And you will die in my father’s hand,” kataku, sarkastis.

And I want it,”

Idiot!” cercaku kemudian, yang segera ia balas dengan tawa renyahnya.

“Pulanglah. Jangan sampai mereka memarahimu karena kau terlalu lama berada di luar,” dia kembali menyuruhku untuk pulang. Dan aku mendengus kesal mendengarnya.

“Mereka tidak―”

“Ya, mereka akan marah jika mereka tahu kalau kau sedang bersamaku.”

-o-

“Kau tidak bertemu dengan laki-laki kumal itu, kan?” ibuku bertanya ketika aku baru saja mengganti pakaian dan berjalan ke arahnya. Pertanyaan itu tak urung menurunkan senyuman di bibirku. Terlebih ketika ia sama sekali tidak menatapku, tetapi terarah pada beberapa sayuran yang diletakkan di meja konter dapur. Hendak memasak untuk makan siang.

“Tidak, Mom.” Jawabku, sembari mulai membantunya untuk memasak.

Glad to hear that, my Sweetheart,” lalu, ibuku tersenyum penuh rasa lega. “Karena memang tak seharusnya kau mempunyai teman seperti itu. Kau tahu sendiri, bukan, aku khawatir kau terbawa arus tak benar darinya?”

Aku membungkam bibir, enggan menyahut apapun. Hatiku terasa seperti diremas begitu kuat setelah mendengar ucapannya yang sungguh menyakitkan. Oh, jangan sampai Moru mendengarnya, walau ia mengetahui kedua orang tuaku tak menyukainya yang sekarang.

Benar. Dulu, kedua orang tuaku menyukai Moru karena ia tampan, memesona, dan bersinar semasa kanak-kanak. Namun itu semua berubah, pendapat itu memudar kala usia kami telah menginjak usia dewasa. Usia di mana segala kesempurnaan yang ada dalam diri Moru ikut memudar. Dan mereka membenci Moru, hingga sekarang.

Menyedihkan, bukan? Oh, bahkan aku sampai menangis semalaman karena sikap mereka yang begitu kelewatan terhadap Brian Moru.

-o-

“Mereka tidak memarahimu, kan?”

Suara Moru terdengar penuh mengisi gendang telingaku. Dalam diam, aku mengangguk, pun mendudukkan diri di tepian tempat tidur. “Kau tahu? Ini terdengar sangat menyedihkan. Aku benci ayah dan ibuku,” ujarku, parau. Baiklah, sepertinya aku tak pandai menyembunyikan kesedihan yang menjalar selama ini.

Kudengar Moru tertawa menenangkan. “You shouldn’t hate them, Eve,” ia lalu menguarkan napas panjang. “They are still your parent,”

How about you?” pada akhirnya, aku kembali terisak. “Aku tahu kau membenci mereka,”

Yeah, but your parent still looking good than―”

Don’t talking about it anymore.” Potongku, cepat. Aku tak ingin mendengar pembelaan apapun lagi darinya.

“Okay,” Moru mendesah berlebihan. “Mau bertemu denganku hari esok?”

Um-hm,” aku segera mengangguk antusias. “Kita bertemu di tempat lain saja.”

“Tell me your reason,”

Because I won’t they trying to find me!” bentakku, tak tahan. Tidak, aku tak bermaksud membentaknya, aku hanya tidak tahan dengan semua ini.

“Stupid Girl,” dia tertawa dengan cara yang menyenangkan, seolah ucapanku barusan hanyalah keluhan seorang anak kecil. “Kau tak boleh melakukan hal itu, tentu saja.”

But, Moru―”

“Oke, kita bertemu lagi besok dan kau tetap harus pulang,”

Aku tidak tahan untuk menggigit bibir bawah kuat-kuat. Mataku memejam, berbagai hujaman di hati terasa begitu nyata, sekarang. Kugenggam ponselku dengan kuat pula. “Terserah apa katamu, tapi … terima kasih, Moru.”

Lagi, Moru menguarkan tawa khasnya. Dan aku menyukainya. Aku teramat sangat menyukainya.

Karena bagiku, Moru adalah segalanya. Peduli setan dengan segala cercaan atau makian yang terlontar padanya. Mereka hanyalah orang bodoh yang tak mengetahui apapun. Mereka terlalu bodoh karena tak menyadari kebaikan hati yang dimiliki Moru. Mereka tak tahu sesulit apa hidupnya selama ini. mereka hanya memandangnya dari luar, tidak dengan bagian isi hatinya yang paling dalam.

“Eve?” seruan Moru menyadarkanku dari alam lamunan. Aku meresponsnya dengan gumaman kecil.

Mmm … good night?” dia terkekeh. “Pastikan kau tidur dengan nyaman dan bermimpi indah.”

Yeah, you too, Mr. Moru.

Kudengar dia menggumam lagi. “Pastikan juga tak ada lingkaran hitam di bawah matamu, Princess,”

Yang kulakukan sekarang adalah tertawa kecil. Sebelum akhirnya, pembicaraan kami berakhir, dengan Moru yang kembali mengucapkan kata selamat malam dan juga berbagai petuah lainnya, serta satu ungkapan darinya yang berhasil mengembalikan semangatku meski tak seutuhnya;

“Should I get to shower, tomorrow? My body isugh, so smell!”

 

 

-oOo-

 

I’m sorry for bad english 😦

Comment are allowed, Guys! ^^

 

Best regard,

ShanShoo♥

Iklan

12 comments

  1. Mau mandi nih ceritanya? Kira2 udah berapa lama moru gak mandi? Kalau gitu, rambut potong, mandi yang bersih, keramas, dan pake baju yang keren. Pasti moru ganteng, hahahahaha. Maaf ya kak, aty telat komennya 😀 😀 ^^v

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s