[Day 7] Smell Dating


ht_smell_dating_01_jc_160218_4x3_992

credit picture by abcnews.go.com

Smell Dating

By ShanShoo

starring iKON Hanbin with OC Zia

friendship, fluff, slight!romance // vignette +1000ws // T

disclaimer : I just own the plot!

-o-

Friendship grows to love.

 

Basically from all of the prompt

For 14 Days Writing Challenge

Before : [Day 1] [Day 2] [Day 3] [Day 4] [Day 5] [Day 6]

-o-

 

“Jadi, bagaimana acara kencanmu kemarin? Apakah berhasil?”

Siang itu, Hanbin dan Zia tengah duduk bersama di ruang kamar milik si cewek. Dan kala Zia mendengar pertanyaan Hanbin yang tengah menyandarkan kepalanya di atas meja rendah, ia menoleh, lalu menjawab, “Biasa saja, tuh.”

Hanbin terkekeh geli mendengarnya. Tangan kanannya menekuk lalu menopangkan kepalanya di telapak tangan. Kedua matanya memindai wajah cemberut milik Zia. Yah, kalau dilihat-lihat, wajah Zia sangat lucu kalau memasang ekspresi begitu.

“Berarti … gagal, dong?” terka si cowok bermata sipit itu. Sembari menunggu jawaban lagi, Hanbin meraup beberapa keping keripik kemasan di dekatnya, lalu memakannya pelan-pelan.

“Mmm, gagal, sih, nggak. Hanya saja mungkin aku sedang tidak mood buat kencan,” Zia akhirnya menyahut. Cewek itu lantas menyamakan pose milik Hanbin. Dan saat ini mereka bersitatap dengan pandangan serius. “Kalau kamu, bagaimana? Apa kencanmu berhasil?”

Hanbin tak mampu menyembunyikan tawa renyahnya. Cara Zia menanyakan tentang kencannya itu terdengar seperti anak kecil yang ingin mengetahui seperti apa kehidupan ibunya di masa lalu. Begitu antusias dan riang. Zia Hong ini benar-benar berhasil membuat hari-harinya lebih bewarna.

“Kalau aku … sepertinya gagal,” Hanbin mengedik bahu. “Mungkin Irene nuna tidak menyukaiku.”

Nah, apa kau sudah mengambil kesimpulan tentang konversasi yang sedang mereka lakukan ini?

Uhuh, bisa dibilang, mereka berdua sedang membicarakan tentang kencan pertama mereka. Oh, tidak, kau tidak boleh kaget setelah mengetahui bagaimana awal mula semua ini.

Well, semua ini bermula dari Kim Hanbin yang mencetuskan idenya. Iya, cowok itu mengajak Zia untuk melakukan kencan dengan seseorang yang menurutnya pantas untuk diajak. Seperti Kim Hanbin yang pada akhirnya menjatuhkan pilihannya pada Bae Irene, sang kakak kelas yang terkenal akan kecantikannya di sekolah. Sementara Zia memilih Jung Chanwoo, adik kelasnya yang terkenal akan … uhm, wajah yang tampan dan menggemaskannya, mungkin? Entahlah, Zia tidak tahu harus memilih siapa yang pantas untuk ia ajak kencan.

Dan kalau dipikir-pikir lagi, mengapa, ya, mereka lebih memilih teman kencan di atas atau di bawah usia mereka? Kenapa tidak yang sebaya saja?

“Tapi sepertinya dia menyukaimu, Han.” Zia mengusap dagunya, berpikir. “Kalau tidak, mana mungkin ia menerima ajakan kencan darimu? Bukan dari Joonmyeon sunbae?”

“Nah,” Hanbin meringis, “Kupikir ia hanya merasa kasihan saja padaku. Atau mungkin … karena dia sedang bete karena Joonmyeon sunbae?” katanya, menerka. Meski Hanbin tak mengharapkan kedua pendapatnya benar.

Sok tahu!” balas Zia, lalu berdecak pelan. “Bilang saja kalau kau memaksa Irene sunbae. Iya, kan?”

“Enak saja!” cowok itu lantas menyentil kening Zia karena gemas. Bibirnya kembali menguarkan tawa renyah ketika Zia memasang ekspresi kesakitan yang kentara.

“Terus, apa alasanmu mengatakan kalau acara kencanmu dengan Chanwoo biasa-biasa saja?” giliran Hanbin yang bertanya, pun memaku pandang pada cewek bersurai sebahu di sampingnya itu.

Well, kupikir kau sudah tahu alasannya,” Zia mengikuti cara Hanbin meringis. “aku sendiri merasa bingung harus mengajak kencan siapa.”

Dan detik setelah Hanbin mendengar pengakuan itu, ia tergelak.

“Hei! Kenapa ketawa? Memangnya ada yang lucu, ya?” geram cewek itu kemudian. Namun yang diajak bicara agaknya tak mengacuhkan ucapannya barusan. Membuat Zia tak sungkan memukul telak bahu Hanbin hingga cowok itu mengaduh kesakitan.

“Jawabanmu benar-benar lucu, Zi!” Hanbin berujar di sela tawanya yang tak lagi terdengar keras. Telunjuknya bergerak mengusap lelehan air mata dari kedua mata sipitnya. Sebelum akhirnya ia kembali memfokuskan pandang pada Zia. “Memilih teman kencan saja tidak bisa, dasar bodoh!”

“APA?!” amarah Zia tiba-tiba saja tersulut. Tangannya hendak memukul lagi, kalau Hanbin tidak segera mencegahnya.

Nggak usah marah, dong.” Kata Hanbin sambil berusaha meredakan sisa-sisa tawanya. “Eh, aku punya ide supaya kau nggak merasa bingung lagi untuk memilih―”

Nggak usah sok tahu, Kim Hanbin!” cewek itu menyela ucapan bernada ejekan milik Hanbin. “Aku bisa cari sendiri, tanpa bantuan―”

“Kencan denganku saja, yuk!”

Lalu, hening. Zia bahkan tak melanjutkan perkataannya yang terpotong.

“Mau, nggak?”

Pipi Zia terasa memanas hanya dalam beberapa sekon. Zia membuang muka, tak lagi menatap teman dekatnya itu. Tidak ketika jantungnya berdegup kencang secara tiba-tiba, juga ketika darahnya berdesir amat cepat. Sial, kenapa jadi begini?

“Kalau nggak mau, sih, nggak apa-apa.” Ujar Hanbin lagi, membuat Zia refleks menoleh padanya dengan kening mengerut tanpa disadari. “Mungkin kapan-kapan?”

Puk. Zia memukul kepala Hanbin begitu saja. Namun respons yang diberikan Hanbin hanyalah gelak tawanya lagi.

“Sana pulang!” usir cewek itu, geram. Ia sudah tidak sanggup lagi mendengar ocehan-ocehan menyebalkan Kim Hanbin di sini. Bisa-bisa Zia kehabisan pasokan oksigen karena ucapan Hanbin sedikit-banyak menyebabkan paru-parunya tak bisa meraup oksigen dengan baik.

Hanbin tak bergeser dari tempatnya. Maka dari itulah, dengan seluruh tenaga yang dikerahkan, Zia menarik tangan Hanbin untuk bangkit dari duduknya, sembari bibir tak henti merutuki sikap Hanbin yang kelewatan―oh, kelewatan di sini maksudnya berhasil memertahankan rona merah di pipi Zia.

“Ayo pulang! Sudah sore! Kau harus mengerjakan PR dari guru Kang!” kata Zia sambil mendorong punggung Hanbin ke arah pintu rumah. Cowok yang didorongnya itu tetap tertawa. Sehingga Zia berpikiran, kok bisa, sih, Hanbin tertawa terus seperti itu? Nggak capek, memang?

Sesampainya mereka di depan pintu rumah, Hanbin menyambar sepatu sekolah miliknya yang diletakkan di rak sepatu. Hanbin tak sempat berbicara sesuatu di saat Zia terus mendorongnya keluar rumah.

“Eh, eh, tunggu, Zi!” Hanbin menahan pintu rumah Zia yang hampir ditutup oleh sang empunya. Manik mereka kembali bersitatap, adalah Hanbin yang menunjukkan senyuman lebar di bibirnya. “Ajakan tadi, aku serius, loh!”

“Masa bodoh!” sahut Zia, acuh tak acuh, seraya mencoba menetralkan kerja jantungnya yang terlampau cepat.

“Kok gitu?” Hanbin terkekeh pelan, lalu berdeham beberapa kali. “Kalau kau mau―”

“Sana pulang!” blam. Akhirnya, pintu rumah itu tertutup sempurna, tanpa sempat Hanbin tahan lebih kuat.

Dan dari dalam, Zia masih dapat mendengar Hanbin yang terus menyuarakan tawa kecilnya, sedikit tersendat-sendat karena kelelahan tertawa, mungkin?

“Zia Hong, aku belum selesai berbicara.” Itu kata Hanbin, dengan nada kelewat antusias. Namun Zia hanya diam saja, mendengarkan sembari menyandarkan punggungnya ke daun pintu.

“Kalau kau mau menerima ajakan kencanku, aku akan menjemputmu nanti malam, oke? Bye!

Terdengar langkah-langkah sepatu sekolah Kim Hanbin yang semakin menjauh. Mungkin saja Hanbin berniat untuk segera pulang ke rumahnya. Ah, bolehkah Zia bersyukur akan hal ini?

“Eh, satu lagi, Zi. Aku lupa!”

Tapi langkah-langkah itu malah kembali terdengar jelas. Yeah, sudah pasti Hanbin kembali lagi berdiri di depan pintu.

“Aku jamin, deh, kalau kencan denganku, kau tak akan mengatakan ‘Biasa-biasa saja’. Karena kau pasti ketagihan ingin melakukan kencan denganku, lagi, lagi dan lagi.” Well, dengan percaya dirinya Hanbin mengatakan hal itu, seolah merasa tak bersalah karena telah berhasil membuat perasaan Zia jadi nggak karuan.

Oh, Kim Hanbin sialan! Gerutu Zia dalam hati. Namun tak dapat dipungkiri, kalau rona merah di kedua pipinya terlihat semakin jelas, pun dengan degupan jantungnya yang tak dapat dikendalikan.

“Jangan lupa hubungi aku, ya? Atau … aku yang menghubungimu?”

 

.

.

.

.

Oh, Ya Tuhan, mati saja kau, Zia Hong!

 

 

-oOo-

Iklan

9 comments

  1. Hahahahahaha, hanbin hanbin. Jago ya buat pipi zia merah merona? Ahahaha. Tapi tadi hanbin baru aja kencan sama aku, tapi emang bener, kalau kencan sama hanbin jadi ketagihan/ngaco/nyadar/ hahaha 🙂 😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s