My Husband is My Enemy ― Chapter 14A


myh

My Husband is My Enemy

It’s a fanfiction by ShanShoo

Starring EXO Sehun, OC Eunhee, and other

 

romance, married-life, fluff, friendship, school-life | chaptered +4000ws | PG-15

disclaimer : I just own the plot!

-o-

 

Prev story : Chapter 1 | Chapter 2 | Chapter 3 | Chapter 4 | Chapter 5 | Chapter 6 | Chapter 7 | Chapter 8 | Chapter 9 | Chapter 10 | Chapter 11 | Chapter 12 | Chapter 13 [Pre-FINAL] | Chapter 14A now

 


 

 

 

“Ada apa?” Sehun bertanya ketika ia mendapati Kai yang menegang di tempat. Mendengar pertanyaan itu, Kai menoleh lambat, menatap manik Sehun.

“Park Hyerim …”

“Apa?” Sehun menoleh begitu ia mendengar nama gadis itu terlontar dari bibir Kai.

“Dia ingin menemuiku, pulang sekolah nanti.” Sahut Kai, lalu mendesahkan napas hingga dadanya terasa sesak.

Keduanya kini sama-sama saling terdiam. Kai terlihat mengerutkan kening, sementara Sehun menatap papan tulis dengan manik menerawang.

Park Hyerim ingin menemui Kai? Untuk apa?

“Kenapa dia ingin menemuimu?” pada akhirnya, Sehun menyuarakan pertanyaan yang bergelayut dalam benak―lebih tepatnya, memaksakan bibir untuk mengatakan hal itu.

Kai mengedikkan bahunya, singkat. Melirik Sehun sebelum akhirnya ia kembali memusatkan pandangan pada layar ponsel. “Apa mungkin … dia merindukanku?” guraunya. Namun sama sekali tidak terdengar seperti gurauan. Hanya terdengar bagai pertanyaan yang enggan untuk diungkapkan.

“Mmm,” laki-laki di sampingnya menggumam, membuat Kai lekas kembali menoleh padanya. “yeah, sepertinya gadis itu memang merindukanmu.” Lanjutnya, sarkastis, mengundang gelak tawa renyah dari Kim Kai.

“Oh, ayolah. Apa kau tak berpikir kalau Hyerim ‘mengundangmu’ juga?” katanya, seraya menepuk bahu Sehun.

“Dan apa kaupikir aku ingin menemuinya, huh?” Sehun tertawa mendengus, “Lupakan. Lebih baik kautemui―”

“Kita.” Potong Kai, cepat, tanpa menatap sang lawan bicara.

Huh?”

Kita harus menemuinya. Bukan hanya aku.”

Sehun mengatup bibir rapat-rapat. Tak ingin berujar apapun lagi setelah Kai memotong pembicaraannya. Ia lantas mendesahkan napas berat. Mau tak mau, suka tak suka, Sehun harus menemui gadis Park itu. Yeah, harus yang mengandung makna pemaksaan di dalamnya.

Genap dua puluh menit kemudian, Eunhee datang ke kelas, sendirian. Roman gadis itu begitu ceria. Lengkap dengan semu merah yang menjamah kedua pipi tirusnya. Sehun yang menangkap adanya gelagat aneh dalam diri istrinya itu, lekas mengerutkan kening, lalu,

“Kau pasti tertidur di toilet. Iya, kan?”

Pertanyaan bernada penuh keheranan itu tak lantas membuat Eunhee menghentikan langkah, tepat di samping si penanya. Ia menoleh, menatap sisi wajah Oh Sehun yang tak menatapnya sedikit pun. Gadis itu kemudian menunjukkan tawa hambarnya.

“Sudah hampir setengah jam kau tak kembali ke kelas. Dan aku tak yakin kalau kau memang dari toilet.” Sehun berujar lagi. Kali ini ia membalas tatapan sang istri. Eunhee yang mendapati tatapan mengintimidasi itu sedikit terperanjat.

“A-aku … aku …” Eunhee menggigit bibir bawahnya. “Aku … baru saja bertemu dengan―”

“Dengan Kim Jongdae?” potong Sehun, ada nada tak suka yang terselip dalam pembicaraannya.

“Sehun-a―”

“Mau sampai kapan kau menyembunyikan kenyataan itu, huh? Bukankah kalian―”

“Hentikan, Hun. Kendalikan emosimu!” sergah Kai sambil menyentuh bahu sahabatnya. Sehun menoleh pada Kai, disusul dengan tatapan dari para siswa dengan rasa penasaran yang membuncah pada mereka bertiga. Entah, Kai tak yakin apakah pendapatnya ini benar atau salah, namun Kai merasa kalau Sehun marah pada Eunhee hanya untuk melampiaskan kekesalannya karena konversasi mereka sebelum gadis itu datang ke kelas.

“Dan jangan mengundang tatapan mereka.” Bisik Kai, pelan, pun mengedarkan pandangan pada seluruh penjuru kelas. “Eunhee-ya, duduklah. Guru Kang akan datang sebentar lagi,” lanjutnya pada Eunhee yang tengah menundukkan kepala. Kai segera beranjak dari kursi milik Eunhee. Mempersilakan gadis itu untuk duduk di samping Sehun yang sepertinya masih dibalut rasa kesal.

“Sehun-a,” Eunhee menelan ludahnya susah payah. “Maafkan aku, tak seharusnya aku …”

“Lupakan saja, jam pelajaran sekarang akan segera dimulai,” kata Sehun, dengan tangan membuka buku pelajarannya.

Tak ada keceriaan yang terpancar di wajah gadis itu. Hanya ada roman muram yang secara perlahan meredupkan keceriaannya. Oh, Ya Tuhan. Oh Sehun benar-benar kelewatan!

Suasana hening melingkupi selama beberapa jenak, hingga akhirnya sang guru pengajar yang dinantikan, datang memasuki kelas. Disertai dengan alasan keterlambatannya yang disampaikan, sang guru memulai pembelajarannya hari ini.

Dan Eunhee duduk gusar di kursinya. Bahkan ia tak bisa berkonsentrasi sedikit pun. Tidak, ketika situasi yang dihadapinya sekarang terasa sukar untuk dilewati.

-o-

“Kami harus menemui seseorang,” Kai bersuara, membuyarkan keheningan yang menyapa ketika ia, Sehun dan Eunhee tengah berjalan di koridor kelas. Mengingat jam pelajaran sore ini telah berakhir.

“Seseorang?” Eunhee mengerjap, ia berusaha menyamai langkah dengan kedua laki-laki yang ada di sisi kanan-kirinya. “Siapa? Apakah aku mengenalnya?”

Umm, kurasa tidak,” Kai meringis kecil. “Well, kau bisa menunggu Sehun di area parkir. Kami tidak akan lama, kok.”

Sementara Sehun yang berada di sisi kirinya tetap diam membisu. Mengabaikan bagaimana kegusaran yang terulas di paras Eunhee. Gadis itu mengangguk paham, melirik Sehun yang masih enggan untuk menatapnya. Apakah mungkin … Sehun masih merasa kesal karena ia tahu kalau Eunhee menemui Chen lagi?

“Kalau begitu … aku akan menunggu di area parkir,”

“Mm.” Gumam Sehun. Selang dua detik, ia dan Kai kembali merajut langkah yang tertunda. Membiarkan Eunhee menatap kepergian mereka berdua dengan pandangan sendu yang kentara. Namun, sebelum Kai benar-benar jauh dari jangkauan sang gadis, ia membalikkan tubuhnya sejenak padanya. Membentuk kalimat ‘Jangan bersedih, Park Eunhee.’ Tanpa suara, disertai senyumannya yang dipaksakan. Hal itu sedikitnya mampu menghibur hati Eunhee.

“Baiklah,” Eunhee mengembuskan napas panjang dalam satu sentakan. “Aku akan menunggu Sehun sampai ia selesai menemui seseorang yang ia tuju,” ujarnya, berusaha menghibur sendiri. Sembari kaki melangkah menuju area parkir, tempat di mana sang sopir pribadi menunggunya dan Sehun.

-o-

Sudah banyak kendaraan yang berlalu-lalang di hadapannya dalam dua puluh menit terakhir Sehun dan Kai mendudukkan diri di sebuah kafe kecil milik sekolah Roosvelt. Hatinya mendadak dongkol, lantaran sampai sekarang, maniknya belum menemukan sosok gadis berperawakan tinggi semampai serta wajah menawan yang mampu memikat banyak hati laki-laki. Ya, gadis itu, gadis yang juga berhasil menjerat hatinya dan juga sahabatnya sendiri, Kim Kai. Oh, bahkan Sehun baru sadar sekarang, kalau ternyata Park Hyerim bukanlah gadis yang baik. Melainkan … well, entahlah. Tapi ia baru menyadari kenyataan itu setelah ia resmi menikahi si gadis cerewet, Park Eunhee.

Kenyataan itu pun membukakan pikiran dan hati Sehun, bahwa gadis itu, Park Eunhee, benar-benar mencintainya. Meski pada awalnya gadis itu sempat membencinya setengah hidup karena sikap yang dilakukan Sehun kala itu. Kekanakan namun … pada akhirnya berhasil mendapatkan hati Eunhee, bukan?

“Hyerim sudah datang!” seru Kai, tertahan. Membuyarkan lamunan Sehun dalam sekejap mata. Laki-laki berkulit pucat itu lantas menoleh ke arah pintu kafe, di mana Park Hyerim berjalan ke arah mereka berdua seraya mengukir senyuman manisnya di bibir.

Kai mengembuskan napasnya, perlahan. Dan tepat ketika Park Hyerim berdiri di antara keduanya yang tengah duduk dengan secangkir cokelat panas di atas meja, ia menyapa, “Hi, Kai, long time no see―eh, Oh Sehun?” Hyerim terkejut saat ia baru mengetahui bahwa ada Sehun pula yang duduk bersama Kai. Membuatnya terlihat kikuk, pun mengulas senyuman kaku.

Belum ada sahutan selama beberapa detik. Lalu, Kai lah yang membalas terlebih dulu, “Yeah, long time no see, dan … mmm, aku lah yang mengajak Sehun untuk ikut kemari.” katanya, sedikit memamerkan lengkungan di kedua sudut bibirnya. Well, biar bagaimanapun, rasa sakit hatinya setelah mengetahui tentang hubungan Sehun dan Hyerim kala itu masih terasa membekas dalam hatinya.

Uh, maaf aku terlambat datang kemari,” Hyerim mendesah, sembari mendaratkan bokongnya ke kursi kafe, bersisian dengan Kai dan Sehun. “Mobil yang kukendarai terjebak macet,” katanya.

It’s okay,” Kai lagi yang menyahut. Sementara Sehun hanya menatap Hyerim dalam diam. “Jadi, ada perlu apa kau menghubungiku untuk menemuimu?”

“Ini tentang …” Hyerim melirik Sehun secara perlahan. “tentang permasalahan hubungan kita … bertiga.” Lantas, ia mendesah berlebihan. “Maafkan aku.” Jeda sejenak, membiarkan ketiga kepala itu memusing otak setelah mendengar penuturan bernada lemah tersebut.

Sehun, dalam diamnya, menilik paras Kai dan Hyerim bergantian. Bisa dibilang, mereka sama-sama saling melemparkan tatapan kelewat serius, pun seolah mengabaikan keberadaan Sehun meski mereka amat menyadari, bahwa laki-laki itu ada di sana, bersama mereka.

Mungkin saja persepsi Sehun salah, karena ternyata detik setelah mereka berdua saling pandang, Hyerim mengarahkan atensinya pada laki-laki itu.

“Sehun-a …” panggil Hyerim, ragu. Sembari netra berusaha memaku pandang padanya.

-o-

“Apa tuan muda Oh Sehun akan segera kemari, Nona?” tanya supir pribadi keluarga Oh pada sang gadis. Eunhee, yang sedari tadi duduk resah di dalam mobil hanya bisa memejamkan matanya, dengan bibir bawah yang ia gigiti.

Tak lama, ia melirik jam tangannya. Matanya agak membelalak begitu ia sadar, sudah cukup lama juga ia menunggu suaminya sebelum mereka pulang ke rumah. Mungkin … sekitar tiga puluh menit?

“Paman, tunggu sebentar. Aku akan mencari Sehun dulu,” ujar Eunhee pada sang supir. Pria paruh baya itu menengok ke belakang, pada Eunhee, lalu mengangguk mengiakan.

“Tapi … apa perlu saya saja yang mencari tuan muda, Nona?” tanya paman Kim ketika Eunhee hendak membuka pintu penumpang.

“Tidak,” Eunhee menyahut tanpa balas menatap, “Biar aku saja yang mencarinya.”

Langkah-langkah kaki itu membawa Eunhee ke arah luar gerbang sekolah. Ia terus merajut langkah di tepian jalan, dengan tangan kanan menempelkan layar ponselnya ke telinga, menghubungi Sehun. Tapi sayang, laki-laki itu tidak menerima sambungan telepon darinya sama sekali. Sekali, dua kali bahkan tiga kali Eunhee mencoba, hasilnya tetaplah sama.

Eunhee lantas menggerutu kesal. Namun kakinya tetap berjalan menyusuri tepian trotoar. Hingga ketika ia sampai di sebuah kafe kecil di samping tembok pembatas sekolahnya, ia melihat ke dalam bagian jendela kafe itu.

Di sana, Eunhee melihat ada tiga orang―dua laki-laki dan satu perempuan―tengah melakukan konversasi. Eunhee mengenali kedua laki-laki itu, tapi tidak dengan sang perempuan. Keningnya mengerut samar, satu langkah ia mendekati jendela tersebut, berusaha untuk meyakinkan penglihatannya sendiri. Karena sungguh, jantungnya saat ini berdegup begitu cepat. Terlebih ketika ia melihat perempuan itu tersenyum kecil sembari memukul bahu tegap milik lelaki di sampingnya, penuh canda.

Dan laki-laki itu adalah … Oh Sehun.

Eunhee mengerjap beberapa kali. “Tapi … benarkah itu Sehun? Lalu, Kai dan … siapa gadis itu?” keningnya semakin mengerut.

“Oh, maaf aku tak bisa berlama-lama lagi. Aku harus segera pulang ke rumah karena Eunhee sudah menungguku.” Kata Sehun seraya melirik jam tangannya sekilas. “Dia pasti sangat marah jika aku terlalu lama membiarkannya menunggu di sekolah,”

Ucapan itu direspons dengan tawa ringan milik Kai dan Hyerim. “Woah, rupanya Sehun kita sudah berubah menjadi laki-laki yang baik, ya?” sahut Kai kemudian, yang segera dibalas oleh anggukan gadis di sampingnya.

Yeah, setidaknya satu dari kita harus berubah, bukan?” Sehun tertawa mendengus. “Sudahlah, aku tak ingin mengatakan hal apapun lagi.” Sehun lantas bangkit berdiri, hendak melangkah namun tangan Hyerim mencekal lengannya tiba-tiba.

“Oh Sehun,” panggil Hyerim, lembut. Membuat Sehun terdiam, pun, meski Eunhee di luar sana tak dapat mendengar percakapan mereka, matanya masih bisa melihat hal apa saja yang mereka bertiga lakukan di dalam. Termasuk memerhatikan Hyerim yang tengah mencekal lengan Sehun.

Laki-laki itu menoleh lambat, menatap tangan halus Hyerim sebelum ia berujar, “Apa ada lagi hal yang ingin kausampaikan padaku?”

Tak ada jawaban, melainkan Hyerim yang ikut berdiri dan berkata, “Apa kau tak mau memberiku pelukan tanda perpisahan, sebelum aku pergi ke Jepang?”

Tercekat, Sehun membalikkan tubuh sepenuhnya pada Hyerim, gadis yang sudah cukup lama menjadi bagian dalam kehidupannya. Ditatapnya gadis itu amat lekat, selagi tangan melepaskan genggaman itu.

“Hei, hanya pelukan perpisahan saja, Hun,” Hyerim terkekeh pelan. “Kalau kau tidak mau―”

Hyerim tak sempat menyelesaikan kalimatnya. Tidak, ketika Sehun membawanya ke dalam sebuah pelukan, menyandarkan dagunya di bahu tegap laki-laki itu.

Hening. Tak ada satu di antara mereka yang bersuara. Namun lima detik kemudian, di saat kedua tangannya merengkuh tubuh Hyerim, ia berkata,

Well, aku memang tak berhak untuk mengatakan hal ini padamu. Tapi … kuharap kau tak jadi pergi ke negeri Sakura itu. Karena kalau kau ingin tahu, Kai masih mengharapkan kehadiranmu di sisinya,” bisiknya, pelan. Membangkitkan bulu kuduk Hyerim begitu saja, membuatnya menegang seketika.

Setetes air mata jatuh perlahan menyusuri lekuk pipinya. Eunhee membeku di tempat. Sementara kedua matanya terus memaku pandang pada Hyerim dan Sehun yang masih saling menautkan tubuh, berbagi pelukan hangat. Ia juga melihat Hyerim menautkan kedua tangannya di pinggang Sehun, membisikkan sesuatu yang lembut di telinga Sehun sembari tersenyum manis. Buliran air matanya kian menderas, dan Eunhee tak sanggup menahan rasa sakit yang terus merambat di dalam dada.

Tiba-tiba, benaknya terpaksa memori usang tentang Sehun yang datang ke rumah disertai tangisannya yang pilu. Memori ketika Sehun memeluk tubuhnya dan mengatakan bahwa ia merasa sakit hati lantaran gadis pujaannya, mengkhianatinya.

Apa mungkin … gadis itu adalah gadis yang Eunhee lihat saat ini? gadis yang sedang memeluk Sehun begitu erat? Gadis yang tengah menangis penuh haru di sana?

Entahlah, Eunhee tak mau mengetahui apapun lagi. Lebih baik Eunhee segera pergi meninggalkan kafe itu. Tepat ketika Eunhee berbalik melangkah, ia melihat sebuah taksi melaju dengan kecepatan sedang, kemudian ia menghentikan taksi itu dan segera memasukinya. Hingga akhirnya, taksi bewarna kuning itu melaju, membelah jalanan kota Seoul, membawa serta kepedihan dan rasa sakit dalam dadanya.

-o-

“Apa? Eunhee tak kembali lagi kemari setelah mencariku?” Sehun membelalakkan matanya karena kaget. Sedangkan paman Kim yang berdiri dan menyender di samping pintu kemudi hanya bisa memasang wajah bingung.

“I-iya, itu benar, Tuan Muda. Nona Eunhee belum kembali lagi,” paman Kim mengembuskan napasnya, resah. “Apakah mungkin, nona Eunhee sedang membeli sesuatu?”

Sehun menggeleng mendengar pendapat supir pribadi keluarganya itu. Maniknya kini bergerak gusar, napasnya mendadak tak teratur, serta degupan jantungnya melebihi rata-rata. teringat akan ponselnya yang ia simpan di saku seragam, Sehun lekas merogohnya cepat. Jantungnya nyaris lepas dari tempat saat ia mendapati banyaknya panggilan tak terjawab dari istrinya itu, disertai satu pesan singkat yang sukses memperburuk situasi jantungnya sekarang;

Oh Sehun, apa kau masih lama? Uh, kautahu, aku ingin membicarakan tentang kejadian di kelas tadi. Tentang … aku dan Chen.

 

-o-

Suasana terasa agak lengang setelah Sehun pergi meninggalkan mereka berdua. Terlepas dari semua itu, Kai berusaha untuk mencairkan suasana.

“Hyerim-a, apa yang Sehun katakan saat memelukmu?” tanyanya, sembari kedua tangan menyatu dan diletakkan di atas meja.

Hyerim mendongak, kemudian tertawa kecil sambil menyeka jejak cairan bening di kedua pipi. “Tidak ada. Dia hanya mengatakan selamat tinggal saja untukku.”

“Hanya itu?” Kai kembali bertanya, namun nada penasarannya terdengar semakin kentara.

Yeah, hanya itu, Kai,” Hyerim berdeham beberapa kali. “Dan … Sehun bilang padaku bahwa sebenarnya kau tak ingin aku pergi. Benarkah itu?” kini, tatapan Hyerim terasa begitu mengintimidasi dan penuh godaan. Membuat Kai menelan ludahnya susah-payah, disertai dengan jantungnya yang berdegup kencang.

“A-apa? K-kenapa Sehun berbicara seperti itu padamu?” Kai mengerjap tak percaya. “Aku … aku tidak mengatakan hal itu, sungguh!”

“Eh?” Hyerim tertawa lagi. “Kau tak pintar dalam urusan berbohong padaku, Kai,”

Kai menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Memasang senyuman kikuk sebelum akhirnya ia merespons, “Mmm, sebenarnya, perkataan Sehun ada benarnya juga, kalau kau ingin tahu.”

Hyerim mengangguk mengiakan ucapan Kai sambil memasang wajah jenaka. “Pada kenyataannya, aku memang telah mengetahui hal itu, Kai.”

“Itu karena …” seolah tak menanggapi ucapan Hyerim barusan, Kai berbicara lagi. “karena aku telah berhasil menganggapmu sebagai temanku. Tidak lebih dari itu. Uh, maksudku … Park Hyerim adalah temanku sekarang,”

Senyuman yang terpatri di wajah Hyerim, memudar seketika. Gadis itu menyandarkan punggung pada sandaran kursi. Menghela napas berlebihan, kemudian, “Terima kasih, Kai, karena kau masih mau menganggapku sebagai temanmu. Meski pada kenyataannya―”

“Kuharap kau bisa melupakan masa lalu kita yang kelam. Masa lalu tentang hubungan menyakitkan itu yang melibatkan Sehun juga.” Giliran Kai yang mendesah. “Lagi pula. Kau juga tahu sendiri, bukan, kalau Sehun telah memiliki kebahagiaannya sendiri? Dia benar-benar bahagia bersama Eunhee, perempuan yang ia cintai.” Katanya, menatap menerawang disertai senyuman samar.

“Dan kuharap, kita bisa cepat mendapatkan kebahagiaan pula.” Imbuh Kai, segera.

“Maksudnya, kau sudah memiliki tambatan hati yang baru? Hei! Kenapa cepat sekali?! Oh, kau benar-benar playboy kelas kakap, Kim Jongin!” gelak tawa segera memenuhi rungu Kai. Laki-laki berkulit tan itu mulai terlihat gugup karenanya.

Y-ya! Apa maksudmu, huh?! Aku … aku belum memiliki pacar baru, tentu saja!” Kai masih mendengar Hyerim tertawa renyah. “Ya! Hentikan! Kau mengundang semua tatapan pengunjung kemari, Bodoh!”

“Katakan padaku siapa gadis itu, maka aku akan berhenti mengundang tatapan mereka.” Ujar Hyerim di sela tawanya. Membiarkan mimik wajah Kai semakin gusar.

Shin Nayoung. Nama gadis yang berada satu kelas dengannya itu tiba-tiba saja memenuhi otaknya. Mendadak Kai bersikap canggung, pun memamerkan senyum malu-malu ketika ia mengingat bagaimana wajah gadis itu yang menurutnya cukup cantik dan enak dipandang. Tanpa sadar, Kai menggumamkan ucapan, “Aku memang punya tambatan hati baru,” secara pelan. Membuat Hyerim tak mampu menahan tawanya lebih lama lagi.

Karena sepertinya, kata playboy memang tak bisa dipisahkan begitu saja dari Kim Kai. Dan Hyerim berdoa, semoga saja gadis yang berhasil mencuri perhatian Kai bisa juga mencuri dan membuang sifat playboy-nya itu, dan mengubahnya menjadi laki-laki yang baik dan setia.

-o-

Mobil sedan itu telah terparkir dengan rapi di pekarangan rumah. Sehun dengan cepat keluar dari mobil dan berlari ke pintu rumah yang tak dikunci. Pandangannya memindai segala penjuru ruangan, di mana kesenyapan serta-merta merambat di dalam sana. Lalu, kakinya berlari ke arah kamar utama. Keringat dingin mengucur begitu saja dari pelipisnya, namun Sehun tak mempedulikannya sama sekali.

Pintu itu tak dapat Sehun buka, karena Eunhee menguncinya dari dalam. Ya, Sehun yakin, Eunhee ada di kamarnya, kamar mereka. Mengusap wajahnya karena cemas, Sehun berkata, “Eunhee-ya, kau di dalam? Bisa tolong bukakan pintunya untukku?”

Tak ada jawaban yang berarti. Hanya terdengar isakan tangis tertahan milik sang gadis.

“Eunhee-ya, apa yang terjadi? Mengapa kau pulang sendiri? Bukankah aku sudah menyuruhmu untuk menunggu di sekolah? Ya, Eunhee-ya, kumohon buka pintunya.” Sehun mengetuk pintu kamar beberapa kali. Namun tetap saja, Eunhee tak mau menyahut.

“Jelaskan padaku apa yang terjadi.”

Tetap hening.

“Eunhee-ya!”

Klek. Eunhee membuka kuncinya dan pintu terbuka lebar-lebar. Menampakkan raut wajah Eunhee yang basah karena air mata dan keringat yang bercampur. Gadis itu belum mengganti seragamnya. Penampilannya saat ini sangatlah kacau. Bahkan Sehun tak mampu bertutur kata.

“Eunhee-ya …”

Namun Eunhee pergi begitu saja, melewati Sehun yang berdiri mematung di depan pintu.

“Eunhee-ya!” panggil Sehun, semakin cemas. Sementara Park Eunhee terus menuruni anak tangga tanpa menyahut panggilan Sehun sekali pun.

“Apa yang terjadi? Hei, bicaralah! Aku tak mau kau tak mengacuhkanku seperti ini!” hingga akhirnya, Sehun turut menuruni tangga, mengikuti Eunhee hingga akhirnya mereka berdua berada di area dapur. Maniknya menatap Eunhee yang saat ini tengah mengambil gelas kaca, kemudian mengambil sebotol air dingin dari dalam kulkas lalu menuangkan airnya ke gelas.

“Park Eunhee!” Sehun membentak Eunhee tanpa asa. Karena sungguh, sikap Eunhee saat ini membuatnya bingung setengah hidup. Dan setelah Eunhee mendengar seruan bernada tak mengenakkan itu, ia mendongak. Mereka bersitatap selama beberapa jenak sebelum akhirnya Eunhee memutuskan kontak pandangan itu dengan cara melangkah pergi ke ruang tengah, membawa segelas air dingin di tangannya.

“Park Eunhee,” suara Sehun sedikit memelan. Eunhee menghentikan langkahnya di belakang Sehun, seolah membiarkan laki-laki itu meneruskan perkataannya. “Aku tak mengerti apa yang terjadi padamu. Tapi, maafkan aku.” Katanya, lantas mendesah panjang.

“Aku tahu, aku sudah banyak melakukan kesalahan padamu. Aku telah banyak menorehkan luka di hatimu. Dan … aku telah membuatmu banyak menderita karena sikapku yang keterlaluan saat itu.” Sehun berbalik, menatap punggung Eunhee, sendu. “Aku minta maaf, Eunhee-ya. Maaf jika aku telah membuatmu kesal dan marah dan mengabaikanku hari ini.”

Tak ada jawaban apapun.

Eunhee berusaha untuk menahan bulir bening yang mendesak di kedua matanya untuk segera dialirkan. Tangannya meremas kuat gelas yang ia genggam. Tak ada niat baginya untuk menyahut ataupun berbalik dan balas menatap mata Sehun. Yang ia lakukan hanyalah berlalu, melanjutkan langkahnya yang tertunda seraya mengabaikan seruan Sehun berkali-kali yang terdengar lemah.

-o-

Sehun pikir, dengan ia yang melontarkan ucapan permintaan maafnya sore tadi, Eunhee akan memaafkannya dan mengajaknya mengobrol, seperti biasa. Tapi kenyataannya tidak sesuai harapan. Eunhee masih mengabaikannya. Gadis itu masih bersikap seolah Sehun tak ada di rumah. Namun untungnya gadis itu masih ingat kalau ada dua perut di rumah ini yang harus terisi oleh makanan. Membuatnya mau tak mau memasak untuk makan malam dan makan berdua bersama suaminya.

Waktu saat ini telah menunjukkan pukul sepuluh malam. Eunhee, di atas tempat tidurnya menenggelamkan diri pada selimut tebal. Tak membiarkan sehelai rambut muncul di permukaan. Sehun yang baru saja membersihkan dirinya hanya mampu menatap punggung istrinya dalam diam.

Sampai sekarang, ia masih tak mengetahui kesalahan apa yang telah ia perbuat sampai-sampai Eunhee mengabaikanny selama ini. ditambah, Eunhee tak mau berbicara padanya, membuatnya kesulitan untuk mencari tahu di mana titik kesalahannya.

Baiklah, sudah cukup ia bersabar untuk hal ini. pokoknya, ia harus segera membuat Eunhee mau membuka mulut dan mengatakan segalanya. Ia tak ingin hubungannya dan Eunhee terputus hanya karena kesalahan tak kasat mata.

“Eunhee-ya,” Sehun memanggil, sengaja memelankan suaranya. Meski hasilnya tetap sama, tak ada sahutan, Sehun terus menyerukan nama gadis itu. “Eunhee-ya, kau sungguh tak mau berbicara denganku? Kau tak mau mengatakan alasanmu menghindariku?” tanya Sehun, penasaran, sekaligus penuh penekanan.

Di balik selimut itu, Eunhee menggigit bibir bawahnya, cemas. Entah mengapa, perasaannya saat ini bercampur aduk. Maniknya bergerak gelisah, selagi keringat mulai membasahi wajahnya.

“Eunhee-ya,” Sehun memanggil lagi, sembari kaki melangkah mendekat ke arah tempat tidur. “Tolong, bicaralah, kau benar-benar membuatku bingung dan khawatir.”

Eunhee dapat merasakan tempat tidurnya goyang, yang itu tandanya, Sehun mulai menaiki tempat tidur di sampingnya.

“Kau masih tak mau berbicara? Kalau begitu, apa yang harus aku lakukan agar kau mau menatapku dan berbicara denganku, hm?”

Degupan jantung gadis itu tak dapat dikendalikan. Eunhee pun memejamkan matanya rapat-rapat. Pertanyaan Sehun sungguh terasa menggelitik jiwanya.

Hingga ketika sebuah tangan menyelinap dan memeluk tubuhnya dari belakang, Eunhee tak dapat bernapas dengan benar.

“Kau benar-benar membuatku cemas,” suara itupun terdengar, manakala Sehun menempelkan dagunya di bahu Eunhee. Mereka berdua sama-sama berada dalam selimut itu. Tenggelam dan tak terlihat dari luar.

“S-Sehun-a,” Sehun tersenyum lega mendengar Eunhee mengucapkan namanya. Yah, meski kedengaran agak ragu dan gugup.

“Ya?”

“L-lepaskan pelukanmu!” seru Eunhee, semakin gugup.

Dan Sehun tertawa kecil mendengarnya. “Kaupikir aku akan menuruti keinginamu? Kau saja tak mau berbicara padaku.” Katanya. “Kalau kau ingin aku melepaskannya, maka kau harus mengatakan alasan kau bersikap seperti ini padaku.”

Pelukan Sehun terasa semakin mengerat, Eunhee juga dapat merasakan embusan napas Sehun yang begitu hangat, dan … ugh, sial! Eunhee bisa mencium aroma tubuh Sehun sekarang, sangat memabukkan dan terasa candu untuk ia hirup.

“Eunhee-ya,” manik Sehun berusaha menatap sisi wajah Eunhee. “mau sampai kapan kau terus bungkam seperti ini?” tanyanya, terdengar putus asa.

“Seharusnya aku yang menanyakan hal itu padamu, Sehun.”

Huh?”

Eunhee mendesah berlebihan. Tubuhnya berbalik dan kini ia saling bersimuka dengan laki-laki itu. “Mau sampai kapan kau terus bungkam seperti ini? mengapa kau menyembunyikan semua ini dariku?”

Kening Sehun mengerut samar. Agaknya ia belum memahami satu pun ucapan sang gadis. “Menyembunyikan apa maksudmu?”

“Gadis itu … gadis yang kautemui di kafe tadi siang,” Eunhee membuang pandangannya, “Apakah gadis itu adalah gadis yang sangat kaucintai? Apakah dia … adalah gadis yang pernah membuatmu memelukku dan menangis di bahuku?”

Tak ada jawaban yang terlontar setelah perkataan itu. Keduanya saling terdiam. Satu tangan Sehun terangkat untuk mengalihkan kembali tatapan Eunhee padanya.

“Jadi, kau tahu kalau aku dan Kai menemui Park Hyerim?”

“Jadi nama gadis itu adalah Park Hyerim?” Eunhee tertawa sarkastis, berusaha menyembunyikan rasa sakitnya. “Oh, sungguh nama yang cantik, seperti pemiliknya.”

Hening sejenak.

“Kau bahkan memeluknya begitu erat. Ah, sepertinya kau memang masih mencintai gadismu itu, Hun.” Ujar Eunhee, tertawa tak percaya.

“Eunhee-ya, dengarkan penjelasanku dulu.” Ujar Sehun, namun Eunhee segera menyingkap selimut yang menutupi seluruh tubuhnya dan Sehun. Kedua kakinya hendak memijak lantai, akan tetapi Sehun segera mencekalnya hingga gadis itu terjatuh ke dalam pelukannya lagi.

“Lepaskan aku!” ujar Eunhee di tengah rasa sesak yang kian menjalar. Bahkan Eunhee merasa kedua matanya panas menahan air mata.

“Tidak, dengarkan penjelasanku dulu, Eunhee. Kumohon.” Sehun merekatkan pelukannya, seolah takut kalau Eunhee akan pergi dari sisinya.

“Kau memang pembohong, Oh Sehun! Kau … kau berhasil membohongiku!” tangisan gadis itu pecah dalam pelukan Sehun. Dadanya terasa begitu nyeri dan sesak dalam waktu bersamaan. Eunhee sungguh tak menyangka Sehun tega membohonginya sampai sejauh ini.

“Jadi, pengakuan cintamu padaku adalah palsu, kan? Kau hanya berpura-pura saja, kan?!”

“Tidak, Eunhee-ya,” Sehun melepas pelukan, kedua tangannya beralih meremas bahu Eunhee dan menatapnya lekat. “Itu sama sekali tidak benar. Aku memang mencintaimu―”

“CUKUP!” Eunhee berteriak hingga ia merasa tenggorokannya kering. “Aku tak mau mendengar apa-apa lagi darimu! Minggirlah!” dan sekuat tenaga, Eunhee mendorong tubuh Sehun. Sebelum akhirnya ia melangkah lebar ke arah pintu kamar yang tertutup sempurna.

“Park Eunhee! Tunggu! Aku bisa menjelaskan semua ini!”

Akhirnya, Sehun berhasil menahan pergerakan Eunhee lagi. Ia memeluk erat tubuh gadis itu dari belakang, dan ia bisa merasakan betapa bergetarnya tubuh gadis itu karena terlalu banyak menangis.

“Sehun-a, lepaskan―”

“Aku akan melepaskanmu setelah aku menjelaskan semuanya.” Potong Sehun, cepat.

“….”

“Ya, aku janji akan melepaskanmu. Asal kau mau mendengar semua penjelasanku, Park Eunhee.”

Entah apa ini hanya perasaan Eunhee saja atau bagaimana. Namun gadis itu merasa perkataan Sehun terlalu ambigu baginya. Hingga yang bisa Eunhee lakukan hanyalah diam membeku, menggigiti bibir bawahnya, dan menyiapkan kedua telinga untuk mendengar apa yang akan Sehun katakan padanya, sekarang.

 .

.

.

.

 

-to be continue-

 

Waaaaa maaf banget yaaa aku ngaret buat lanjutin ff ini 😥

Maaf juga kalo makin ke sini ffnya makin gajelaaaas T.T

Oke, ff ini bakalan berakhir di chapter 14B. Iya, artinya satu utang lagi ke kalian, udah itu kelaar :’v

Dan sayangnya, chapter terakhir itu bakal aku proteksi. Karena aku udah yakin, yang lagi baca ff ini juga ampir 100% didominasi silent readers /smirk/

Jadi, bagi kalian sang silent readers, segeralah memunculkan diri(?) kalo kalian ingin dapet password terakhirnya :””)

FYI, kunjungi halaman For Ask the Password untuk mengetahui rules yang aku jabarkan di sana 🙂

Ehiya, satu lagi, boleh minta tolong review 14 Day Writing Challenge yang lagi aku kerjain saat ini? Klik di sini untuk membaca. Bagi yang berminat sih :””)

Last bu not least, makasih udah baca ff abal ini sampai di chapter ini :”) semoga hasilnya gak terlalu mengecewakan, ya :”)

 

 

Tertanda,

ShanShoo♥

Iklan

183 comments

  1. cie eunhee cemburu ya?? omj kai kamu kok labil sih bentar banget move on nya jadi iri kita,chapter terakhir pleease kai sama nayoung ya

  2. Tengteeeng, I’m here again too commentt/? baru sempet lanjut baca chapter yg ini. Sekalian balas yg kemaren/?
    Aku sibuk Kak Isaan, biasa tugas mengalihkan duniaku T_T terus hp rusak juga jadi, cuma bisa minjem duangT.T

    Itu si Eunhee aw cemburu eaaak? wkwk tapi, sweet loh Sehunnya, baper aw baper :* sebelum baca ini mood ancur abis, selesai baca, mood up lagii dundt (~’-‘)~
    Sudah ah ini kepanjangan komenannyaa. Sekian, dan terima kasih(/-\)

  3. Omo, eunhee cemburu :’) ya ampun sehun perhatian bngt sma eunhee ..
    Okk, next chap aku blh minta pw’a ? Aku udh lakuin semua petunjuk buat dpet pw nya ..
    Jadi jebal juseyo ..

  4. Ahh mereka jeles jelesan >.< Hmm tapi kasian juga sii aku sama eunhee. Ngerasa diduain yakk wkwk lagian si hyerim ngpain datengin sehun ampe peluk peluk segala 😅😅 ga kerasa udah mau end. Next ya kaa. 😆

  5. Yaampun eunhee dengerin dulu sehunoppa jelasin 😂😡
    Apa kau lupa eoh?? Kamu juga sama nemuin chen pasdisekolah 😣😕
    Ni pasangan akurnye bentar bentar beud 😑

    Semangatss thorrr 😁
    Lopeyuu😍😍😍

  6. hal sepele aja bisa jadi salah paham eunhee harus ha dengerin penjelasan sehun dulu masak udah nikah masih main ngambek ngambekan sih coba berpokir dewasa dong jangan suka ambil kesimpulan sendiri
    percaya sama pasangan dong

  7. Sebenernya klo mau diliat, ini bukan suatu masalah yg besar. Cuma, si Se Hun mestinya ngajak Eun Hee juga, atau setidaknya jelasin sedikit ttg org yg mau dia temui… 😔😔😔

  8. Oh yaampun eunhee ya kamu salah paham dengarkan penjelasn sehun terlebih dahulu,,, jangan menangis neh dengarkan sehun dia benar benar sangat mencintaimu,,,
    aduh penasaran bener – bener penasaran baca kelanjutannya,,

  9. yee!! kai sukanya sm nayoung bukn si hyerim lgi. untung eunhee blajr dri pngalaman jdi dngerin pnjlasan sehun baik2 ya biar gk ada slah phm lgi, kan syng air matanya

  10. Karena salah paham sedikit jadi berantakan semuanya hmm kasian sehun harus sabar ngadepim si eunhee huff jadi ga sabar kelanjutannya gimana 😌 semoga endingnya menyenangkan yaa hehe

  11. Astaga…sehunn lu udh lupa klo lu udh pnya istrii, tau rsa kn luu eunhee jdi mrh tpii untung eunhee mau dngrin pnjlsan sehunn…..
    Ahh, kaii klo dsr nya udh playboy ya ttp playboy, dg mdh nya dia nglupain hyerim tpii gpp shh klo sma nayoung akk stju….

    Eonni pw chapter 14B krim lwt twitter yahh!!!
    Rasanya bru kmren mnta pw chapter 10, hahaha….Inii baca nya ngebut soalnya!!!Mianhe eonni klo ngerepotin 🙂 😀

  12. Aduh eunhee,, dengerin dlu dong sehunnya ..
    Itukan sma kaya kamuu, ktemu mantan :p
    Ah, gakerasaa udh meu beres ajaaa ni ff
    Keep writing ka isan ^^

  13. sehun sih bikin eunhee salah paham
    tpi bkan salah sehun jga yg ngajak kan kai .padahal cuman ketemu hyerim itukan dia udah gk ada perasaan ama hyerim

  14. Yah..ganti eunhee yang salah paham. Sehun sih mau aja dipeluk” ma hyerim padahal udah punya istri. Eunhee ngambek tuh nggak mau denger penjelasan sehun…duh ayo diselesaikan masalahnya biar clear ✔ gitu…

  15. Aduhh hyerim sih pke peluk2an segala kn jd keliatan sma eunhee 😣😣
    eunhee sabar yaa …..eh tp btw, saran ku mending marahan aja, biar dipeluk sehun trussss enak kalii WkWkWkWkkk eeeaaaa \smirk/ 😏

    #Isan daebakkk

  16. Lagi serius, seriusnya baca… eh ada tanda ‘.’… 😞😂.
    Hunniee.. cepet ngomong, apa? Biar Euh-Hee gak lama salah pahamnya! 😒.. Greget bgt bgt bgt… Eun-Hee juga mau nyeritain tentang Chen, kan? Tapi cuma tinggal satu chap lagi 😭😭😭, semoga last chapnya panjang ya, Kak Isaan… Jangan berantem, please 🙏…
    Untung, Kai mau jadiin Hyerim temen dan gak lebih, hufft 💨💨.
    Semoga Aku bisa cepet baca next chapnyaa… Aamiiin ^^.

    1. ayoooo lagi nungguin sehun mau ngomong ke eunhee, ya? hihi xD
      iya tinggal satu chapter lagi x(
      semoga memuaskan yaa… password last chapter-nya sudah dikirim ^^

  17. Yaampun eunhee salah paham lagi ama sehun, padahal kan yg pelukan itu cuma pelukan perpisahan,, eunhee sayang dngerin dulu dong penjelasannya sehun, baru deh kamu bisa ambil keputusan..!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s