[HunHee Series] #3 When We Sing a Song


HunHee2

ShanShoo’s present

Sehun with Eunhee

Oneshoot 3.090 words

.

.

“You haven’t heard my answer, by the way,”

Prev Series : #1 #2

-o-

Perbincangan, canda tawa, serta cemilan kue kering yang begitu lezat terpaksa harus segera diakhiri. Ketika aku teringat bahwa keluargaku masih dalam proses membereskan barang-barang di rumah yang, katakan saja, tidak terlalu banyak. Namun tetap saja membutuhkan banyak tenaga. Aku pun mulai berpamitan pada bibi Oh dan Sehun tanpa menanggalkan senyum penyesalan. Baru saja aku hendak meninggalkan kediaman keluarga Oh, wanita itu menahan pergerakanku, membuatku menoleh menatapnya.

“Bawalah setoples penuh kue kering ini, Sayang.” Bibi Oh menyodorkan toples itu di depan perutku, “Aku ingin seluruh keluargamu mencicipinya, omong-omong,” katanya lagi setelah ia melihat kekagetan di wajahku.

Lalu, Sehun datang dan berdiri di samping ibunya, ia tersenyum lebar dan mengangguk menyetujui. “Ayo terima saja. Lagi pula, tidak ada racun di dalam kue itu,” katanya, mengedik dagu ke arah setoples kue kering yang masih di tangan ibunya.

“Umm, t-terima kasih, Bibi.” Pada akhirnya, aku menerima pemberian bibi Oh dengan perlahan, pun dengan rasa malu yang menjalar. “Ayah, ibu dan adikku pasti akan sangat menyukai kue buatanmu ini.” aku menyengir lebar di akhir kalimat, membuat keduanya tergelak renyah.

Setelah mengucap salam perpisahan, aku lekas melangkah meninggalkan pintu rumah itu, dengan setoples kue kering di dalam dekapan. Ah, keluarga ini sungguh baik. Aku benar-benar menyukainya. Beruntung saja aku memiliki tetangga seperti mereka, aku yakin, aku akan betah tinggal di sini sampai kapan pun.

Satu tanganku terulur untuk membuka pagar kecil, ketika Sehun secara tiba-tiba menepuk bahuku dan menyerukan namaku di tengah helaan napasnya.

“Eunhee-ssi,”

Aku menoleh menatapnya yang sedang tersenyum. Ya Tuhan, parasnya sungguh menawan dan menggodaku. “Aku ingin membantumu membereskan barang-barang di rumahmu.”

“….”

“Kenapa diam? Ayo!” entah mengapa, bibirku tak mampu untuk melontar kata apapun, tidak di saat Sehun meraih pergelangan tanganku yang bebas, lantas membawaku berjalan ke arah rumahku sendiri. Sehun membukakan pintu pagarnya, dan setelah kami berada di pekarangan rumahku, ia segera menutupnya saja, tidak menguncinya.

Beberapa detik kemudian, kami telah memasuki rumah, dengan Sehun yang berjalan mengekor di belakangku. Rungu kami mendengar keributan-keributan kecil serta ucapan-ucapan yang terlontar dari bibir ibuku. Pertanda bahwa seluruh keluargaku masih sibuk membenahi isi rumah.

Aku menoleh pada Sehun yang kini berdiri di sampingku, sebelum akhirnya aku berujar, “Ayah, Ibu, ada Sehun di sini.”

Hening. Tak ada lagi keributan yang sempat menyesaki pendengaran. Hingga tak lama, ibu datang dari arah dapur, disusul ayah dan Jimin yang mengusap keringatnya dengan lengan pakaian. Tatapan ketiganya tertuju padaku dan Sehun, kemudian, tak berselang lama Sehun segera berbicara, “Selamat pagi, Bibi, Paman, Jimin,” ia tersenyum hangat, seperti biasa.

“Aku datang kemari karena ingin ikut membantu membereskan barang-barang,” katanya.

Sontak saja ayahku terkekeh pelan, berjalan menghampiri Sehun lalu menepuk bahunya beberapa kali. “Nak Sehun mau membantu? Tidak usah, lagi pula pekerjaan kami hampir selesai.” Sahut ayahku, ramah. Tatapannya kini beralih padaku. “Aish, anak ini! kau dari mana saja? Bukannya Ayah hanya menyuruhmu untuk membuang sampah?” ujarnya, setengah kesal, setengah bercanda, dan aku meringis pelan mendengarnya.

“Aku―”

“Park Eunhee berkunjung ke rumahku, dan mencicipi kue kering buatan ibuku.” Oh Sehun mengambil alih toples kue di tanganku, lekas menyodorkannya pada ayah. “Kuharap kau menyukainya, Paman.”

“Omong-omong, terima kasih, Nak Sehun.” Ibuku dan Jimin ikut mendekat ke arah Sehun. Tak hanya ayah, ibuku juga memberinya senyum ramah. Ibu lantas mengambil toples itu dari tangan ayah dan melanjutkan. “Tolong beri tahu ibumu, terima kasih atas kuenya. Kapan-kapan aku akan menggantinya dengan―”

“O-oh, tidak perlu, Bibi,” Sehun menolak sebelum ibu merampungkan kalimatnya. “Bibi tidak perlu menggantinya dengan apapun,”

“Tapi―”

“Tidak apa-apa, Bibi.” Ia memotong lagi perkataan ibu, “Mm, kalau begitu, barang apa lagi yang belum dibereskan?”

-o-

Kali ini, kegiatan yang dilakukan di dalam rumah kami terasa lebih hidup. Bukan berarti tanpa Sehun di sini, suasananya senyap dan mengerikan. Hanya … well, entahlah. Sehun seolah berhasil membaur ke dalam berbagai macam konversasi yang terkuar dari katup bibir kami semua. Dimulai dari perbincangan kecil tentang bagaimana keadaan di lingkungan sekitar rumah kami, bagaimana pengamanan yang diberlakukan di sini, lalu sampai pada konversasi yang lebih kecil lagi, tentang … di mana Sehun bersekolah.

“Aku bersekolah di SMA Woosang,” sahut Sehun, sembari kedua tangan sibuk memindahkan sebuah pot dari tanah liat berukuran besar ke dekat pintu keluar halaman belakang. Sementara aku sibuk mengelap barang-barang keramik kesayangan ibu yang disimpan di berbagai sekat kotak lemari. Meski jarak kami terbilang cukup jauh, namun aku masih bisa mendengar perbincangan ibu dan Sehun. Tapi … tunggu, SMA Woosang? Bukankah itu …

“SMA Woosang?” kulihat ibu tampak terkejut, sama sepertiku. Makanya, aku memusatkan perhatianku sejenak pada mereka berdua. “Eunhee juga akan bersekolah di sana.” Lalu, ibu menoleh menatapku berbinar. “Benar kan, Eunhee?”

Aku, tanpa berbasa-basi lagi lekas mengangguk antusias. “Itu benar, Bu. Ah, kita akan berada dalam satu sekolah yang sama!” ujarku pada ibu dan Sehun bergantian.

Woah, aku tidak menyangka.” Sehun terkekeh. “Kalau begitu, kita bisa berangkat bersama … setiap hari?”

Nyaris saja jantungku melompat dari tempatnya, kalau aku tidak segera merespons ucapannya. “Ya! Ya! Tentu! Kita bisa berangkat bersama setiap hari pula!” sembari menggenggam erat lap berwarna kuning kumal di tanganku. Yeah, dua hari lagi masa liburan musim panas, dan aku akan segera memasuki sekolah baruku bersama Oh Sehun. Haha. Bukankah itu akan menjadi kegiatan yang menyenangkan? Membayangkannya saja aku sudah tidak sanggup.

Park Jimin tiba-tiba saja datang dari arah kamarnya. Membawa beberapa kardus yang sebelumnya ia gunakan untuk menyimpan banyaknya kaset DVD kesayangannya. Saat maniknya bertemu dengan milik Sehun, Jimin lekas mempercepat langkah ke arahnya.

“Kak Sehun!” seru Jimin, mengalihkan perhatian kami semua. Namun yang ditatap hanya memasang cengiran tanpa dosa. “Kak Sehun punya gitar, ya? Gitar model apa, sih, Kak, kalau boleh tahu?” tanyanya. Menatapnya penuh binar, sementara Sehun hanya mengedikkan bahunya singkat.

“Yah, bukan model gitar terkenal, kok.” Sahutnya, santai. “Tapi, itu gitar kesayanganku. Dan … omong-omong, dari mana kau tahu kalau aku punya gitar?” tanya Sehun, dan aku yang masih berada di tempatku berdiri hanya menatap Jimin, tajam. Sungguh, aku takut jika Jimin menceritakan perihal diriku yang ingin memintanya untuk melatihku bernyanyi, lalu memberi tahu Sehun kalau suaraku mirip suara ayam sakit, lalu … lalu …

“Kemarin, kan, Kakak meminta buku not lagu,” Jimin berdeham, melirikku sambil memberi senyum mengejek.

Baiklah, adikku memang menyebalkan. Tapi, untuk kali ini, ia tak membuat tensian darahku naik. Untung saja ia tidak menceritakan apapun pada Sehun.

“Ah, itu … iya, aku memang punya gitar.” Ujar Sehun sambil berlalu membantu ayahku mengangkat nakas kecil yang akan diletakkan di samping akuarium kecil. Sedangkan Jimin terus mengekorinya, seolah lupa bahwa ia harus meletakkan kardus tak terpakai itu ke dekat tempat sampah sebelum dibuang.

“Kak Sehun bisa bermain gitar?” Jimin bertanya lagi, yang segera mendapat teguran dari ayah kalau ia tak boleh mengganggu Sehun. Tapi Jimin mengabaikannya. “Kalau Kakak bisa main gitar, aku bisa―”

“Aku yang akan bernyanyi, Park Jimin!” potongku, cepat. Menghampiri Sehun dan Jimin sembari melipat kedua tangan di depan dada.

“Ah, benar. Eunhee akan menyanyikan lagunya bersamaku.” Sehun menatapku, selagi satu tangan mengusap belakang tengkuknya. “Kakakmu ini memang jago bernyanyi, kan?”

Baiklah. Jangan kautanyakan lagi bagaimana ekspresi yang tercetak di wajah mengesalkan milik Jimin. Karena kini, aku tak mampu menahan amarahku yang menggelegak, manakala Jimin dengan mudahnya tertawa keras sampai-sampai ia harus memegang perutnya. Mengabaikan keheranan di wajah Sehun, dan ekspresi setan di wajahku.

“Kak Eunhee …” Jimin belum bisa menuntaskan kalimatnya ketika ia terus tergelak, lagi. “Kak Eunhee itu …” ia terus tertawa tanpa mengenal rasa lelah. “Aduh, perutku!” iya, terus saja kau tertawa! “Kak Sehun, Kak Eunhee itu …” lantas, Jimin berdeham beberapa kali ketika maniknya berhasil mengabadikan ekspresiku yang sudah melampaui batas keseraman setan di film The Conjuring 2. “Iya, Kak Eunhee bisa bernyanyi, kok. Tenang saja.” Sambil berusaha mengendalikan napasnya yang agak tersendat.

“Nah, kau dengar sendiri, kan, Hun? Aku memang bisa bernyanyi. Dan aku jamin, kita pasti berhasil membawakan lagu yang akan kita nyanyikan nanti,” aku mengimbuhkan ucapan Jimin barusan. Masa bodoh dengan debaran jantungku yang menyakitkan ini. yang penting, aku bisa bernyanyi dengan Sehun meski suaraku tidak bagus-bagus amat.

Di lain sisi, Jimin hanya tertawa mendengus, sebelum akhirnya berlalu meninggalkan kami seraya menggeleng kecil, melepas sisa-sisa tawanya hingga ia tak lagi terlihat oleh pandangan.

“Jadi … Park Eunhee-ssi,” Sehun mengalihkan atensinya padaku. “Bagaimana kalau nanti malam, aku datang ke rumahmu dan mencoba menyanyikan satu lagu?”

Oh, matilah aku.

Um-hm, t-tentu!” sahutku, gugup setengah hidup. Dan kulihat, Sehun mengembangkan senyumannya.

“Oke, jam delapan malam?”

Huh? Uh, ya, jam delapan malam.”

-o-

Kalau kalian berpikir aku merengek dan mengikuti Jimin ke mana pun ia pergi karena aku mempunyai kesalahan yang fatal padanya, sementara Jimin tak mengacuhkanku sama sekali, kau salah. Aku merengek bukan karena hal itu, melainkan karena …

“Ayolah, Park Jimin! Bukankah kau sudah berjanji padaku bahwa kau akan melatih vokalku hari ini?”

… aku sedang menagih utang janjinya kemarin malam, tentang melatih vokalku agar aku bisa bernyanyi dengan Oh Sehun.

Jimin kini mengempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur miliknya yang telah tertata rapi. Jam sudah menunjukkan pukul sebelas siang, dan kamarnya telah bersih dari segala hal yang tak enak dipandang―omong-omong, kamarku juga sama.

Sementara itu, aku ikut duduk di tepiannya sembari tangan tak lelah menggoyangkan tubuhnya yang terlentang. “Jimin­-a, kamu nggak kasihan melihatku menderita seperti ini?” ujarku, merengek meminta perhatiannya.

Jimin mengembuskan napasnya dalam sekali sentakan, lantas mendudukkan dirinya, menghadap ke arahku. “Kak Eunhee,” ujarnya, memulai pembicaraan yang sedari tadi kulakukan secara sepihak. “Dengar, ya. Aku, kan, sudah bilang kalau melatih vokal itu nggak gampang.” Lalu ia menggelengkan kepalanya kuat-kuat. “Bahkan aku sudah bilang, butuh bertahun-tahun lamanya supaya suara Kakak nggak hancur-hancur amat!”

Ya! Park Jimin!” kekesalanku sudah sampai puncak. Tanganku bersiap untuk memukul kepalanya, kalau saja Jimin tak lekas berkata,

“Memangnya kenapa, sih, Kak Eunhee ngotot pingin bisa nyanyi sama Sehun? Apa Kakak suka sama dia?”

Bibirku tak lagi membalas ucapannya. Tanganku terhenti di udara, tak jadi memukul kepala Jimin di depanku. Manikku lantas membuang pandangan ke arah jendela kamarnya yang dibuka, menghadirkan desau angin siang hari yang menerpa gorden tipis berwarna putih yang terpasang.

“Kak Eunhee?”

“Ya sudah! Kau nggak usah membantuku! Dari awal aku menyesal telah meminta bantuanmu!” hardikku padanya, membuatnya terkejut bukan main. Dan, jujur saja, ini adalah kali pertama aku membentaknya di saat sedang marah begini. Kuputuskan untuk bergegas pergi meninggalkan kamar beraroma maskulin milik adikku, dengan kaki yang sengaja dihentakkan karena kesal. Aku membanting pintunya tanpa asa, lalu, kedua telingaku mendengar Jimin yang terus menyerukan namaku tanpa henti. Dari bawah, aku juga melihat kedua orang tuaku menatapku keheranan. Mereka sepertinya ingin bertanya, namun aku segera melangkah lebar menuju kamarku dan menguncinya.

Di dalam kamar, aku menyandar ke daun pintu. Tubuhku merosot perlahan, pun membiarkan setetes bulir bening mengalir begitu saja di salah satu pipiku.

“Oh Sehun, sepertinya … aku tidak akan pernah bisa bernyanyi denganmu.” Ujarku, di tengah isak yang mulai membaur dalam keheningan.

-o-

Satu jam kemudian, di saat aku merebahkan diri di atas tempat tidur seraya menatap ke arah jendela kamar, aku mendengar Jimin mengetuk pintuku beberapa kali, serta menyerukan namaku amat lembut.

“Kak Eunhee, buka pintunya, dong. Aku mau bicara, nih.”

Aku diam, enggan menjawab. Rasa kesalku padanya masih berada di puncak.

“Kak Eunhee, serius! Aku mau bicara tentang hal yang tadi.” Jimin berbicara lagi. Mengetuk pintuku lagi, dan menyerukan namaku berkali-kali.

Lalu, hening. Aku tak mendengar suara Jimin. Namun kuputuskan untuk bangkit, membukakan pintu untuknya. Kukira dia sudah pergi, tapi ternyata ia masih setia berdiri di depan pintu kamarku.

“Kak Eunhee,” Jimin mendesah berlebihan, ketika ia mendapati adanya jejak air mata di kedua pipiku. “Boleh aku masuk?”

Aku mengangguk tanpa berbicara sepatah kata. Hingga kini, kami berdua melangkah dan duduk di tepian tempat tidur.

“Aku …” adikku ini menggaruk lehernya yang tak gatal. “akan membantumu. Mm, meski aku nggak tahu gimana hasilnya kalau dalam waktu dekat.”

Belum ada respons dariku. Dan tak lama setelahnya, mataku membulat sempurna. “Kaubilang apa?”

Jimin mendesah malas. “Iya, aku akan melatih Kakak, biar bisa nyanyi sama Sehun.” Katanya sambil menatapku dengan mata kecilnya yang memicing. “Bukannya itu keinginan Kakak?”

Mataku yang mulanya menyendu, kini berubah berbinar dan antusias. Kedua tanganku kini bergerak cepat merangkul Jimin dan memeluknya erat-erat, kudengar Jimin terbatuk-batuk sambil menepuk bahuku beberapa kali. “Kak … sesak.”

“Makasih, Jimin! Makasih banyaak!” masih tak kupedulikan keluhan Jimin. Hidungku tak segan menggosok-gosok ke rambut hitam legam milik Jimin yang mengeluarkan aroma mint dari sampo yang ia gunakan. “Aku sayang Jimin, deh, pokoknya!”

“I-iya, ta-tapi lepas dulu pelukannya, Kak! Sesak!” akhirnya Jimin berhasil melepaskan diri, dan langsung bersitatap dengan manikku yang masih berbinar karena senang. “Tapi, Kakak mau memberiku apa setelah ini?”

“Hmm, apa, ya?” telunjukku mengusap dagu, memikirkan kiranya bayaran apa yang pas atas kemauan Jimin untuk membantuku. “Bagaimana kalau … aku membelikanmu buku not lagu karya gitaris kesukaanmu itu?”

“Waw!” Jimin menjetikkan jarinya. “Aku suka idemu, Park Eunhee!”

Tidak ada lagi perdebatan serta amarah di sini. Hanya ada gelak tawa yang memenuhi setiap sudut kamarku. Aku benar-benar tak menduga kalau Jimin akan membantuku. Yah, meski aku sendiri yakin, kalau hasilnya tak akan memuaskan dalam waktu dekat, tapi aku tetap mensyukurinya.

Setelah Jimin meminta ijin untuk pergi ke kamarnya, mengambil buku panduan olah vokal dan bernyanyi, mengambil gitar akustik kesayangannya, kemudian kembali ke kamarku, kami lantas memulai latihan yang sedari kemarin kuidamkan.

“Oke, Kak. Sebelum kita mulai ke inti bernyanyi, Kakak harus latihan mengolah vokal agar terdengar jelas. Ikuti caraku ini, ya,”

Tak lama, terdengar petikan-petikan nada indah yang dihasilkan dari gitar milik Jimin. Aku, yang duduk diam di hadapannya hanya bisa memujinya tanpa henti. Benar, Jimin memang berbakat dalam olah vokal serta bidang seni musik. Makanya, tak aneh kalau setiap tahunnya, Jimin selalu ikut serta menyumbangkan suaranya ketika ada acara kreasi seni yang diadakan di sekolah.

“Nah, vokal a-i-u-e-o pun harus terdengar jelas,” Jimin memulai latihan dengan melatih vokal dasarnya terlebih dulu. Dan akupun mengangguk, mengikuti arahannya.

Not bad,” komentar Jimin, aku hanya tersenyum merespons. “Lalu, kita beralih ke olah vokal not do-re-mi-fa-so-la-si-do,” ia mengatakan not-not balok itu sesuai dengan nada yang ditetapkan. Aku mengikutinya. Namun saat sampai do terakhir, suaraku mendadak hilang lantaran tak mampu mencapai nada tinggi itu.

“Oke, kita coba lagi,” kata Jimin sambil menggeleng tak percaya.

Meski aku terus mendapat komentar atau kritikan pedas dari adikku ini, aku tetap menerimanya. Peduli setan dengan ekspresinya yang sungguh minta dicekik. Asalkan aku bisa bernyanyi, itu semua tak akan jadi masalah.

Karena aku ingin bisa bernyanyi. Demi keberhasilanku. Demi … Oh Sehun.

-o-

Detik-detik menegangkan dalam hidupku sudah dimulai, rupanya. Kala melirik jam di atas nakasku yang menunjukkan pukul 7.45 malam, napasku terasa menguar, hingga aku tak dapat menghirup oksigen dengan benar.

Lima belas menit lagi Sehun akan datang ke rumahku, membawa serta gitar kesayangannya, lalu aku akan bernyanyi dengannya. Kelihatannya memang mudah, namun bagiku, semua itu terasa seperti bom yang disembunyikan dengan apik. Di mana ketika aku membuat kesalahan, bom itu akan meledak dan menghancurkanku dalam sepersekian detik.

Keringat dingin lantas mengucur di pelipisku. Meski aku sudah mandi dan memakai parfum yang nyaman dihirup, aku merasa kesegaranku seolah hilang begitu saja. Terlebih ketika Jimin membuka pintu kamarku yang tak dikunci, lalu mengatakan―

“Oh Sehun sudah ada di bawah, tuh.” Kata Jimin sambil mengedik dagunya ke samping.

Aku melangkah ke pintu kamar, kemudian tangan Jimin menepuk bahuku dua kali. “Semangat, Kak! Kau pasti bisa! Awas, jangan lupa dengan pembelajaran kita tadi siang.”

―yang mampu membekukan persendianku begitu saja.

-o-

Akhirnya, aku memberanikan diri untuk menemui Sehun yang duduk di kursi beranda rumah. Aku memberikan senyum terbaikku padanya yang tengah memangku gitar. Kemudian, aku ikut duduk di sampingnya, dengan rasa gugup yang semakin menyelimuti.

Setelah mengobrol sejenak, petikan-petikan gitar itu kembali memasuki gendang telingaku, walaupun pemainnya bukanlah orang yang sama. Manikku bergerak gelisah, selagi Sehun mencari lagu yang tepat untuk dinyanyikan olehku, lewat buku not berwarna hitam putih itu yang ia bawa kemari.

“Mmm, Eunhee-ssi―Eunhee-ya, maksudku.” Sehun menoleh menatapku. “Aku … aku hanya sedang mencoba untuk tak berbicara formal padamu.” Katanya, menyengir malu.

“Ah, ya, baiklah.” Sahutku, terdengar gugup.

“Apa ada usulan tentang lagu yang ingin kaunyanyikan?” tanya Sehun di saat jemari tangannya berhenti memetik senar gitar.

Tiba-tiba saja, terlintas perkataan Jimin ketika kami masih latihan di kamarku.

“Kak Eunhee, kalau Sehun nggak ada ide untuk membawakan sebuah lagu dan meminta usulanmu, bilang saja, kau ingin menyanyikan lagu Jar of Heart saja. Itu lagu yang paling mudah dinyanyikan, lagi pula. Kau juga sudah berlatih menyanyikan lagu itu bersamaku.”

Aku terdiam sejenak, meresapi kalimat Jimin tadi yang terus mengiang dalam benak. Hingga ketika Sehun menyerukan namaku, aku lekas menjawab, “Jar of Heart.” Seraya menatap penuh ke arah Sehun.

Sehun menggumam pelan, memetik lagi gitarnya, lalu berbicara. “Oke, aku setuju. Karena … aku juga menyukai lagu itu,” dan tersenyum manis padaku.

Irama musik intro mulai mengalun begitu saja, manakala Sehun memetik senar gitarnya secara perlahan. Maniknya terpejam sejenak, meresapi harmonisasi nada yang ia ciptakan, pun dengan desau angin malam yang menyapa anak rambutnya.

Lalu, tak lama nada-nada itu pun sampai pada detik di mana aku akan mulai bernyanyi. Lekas, aku mempersiapkan suaraku sebaik mungkin.

Baiklah, semoga berhasil!

I know I can’t take one more step towards you

‘cause all thats waiting is regret

And don’t you know I’m not your ghost anymore

You lost the love I loved the most

I learned to live half a life

And now you want me one more time

 

(Ya Tuhan, suaraku sungguh jelek! Benar apa kata Jimin, aku tak mungkin mempunyai suara yang indah hanya dalam sekejap mata!)

Who do you think you are?

Running ‘round leaving scars

Collecting a jar of hearts

Tearing love apart

“S-Sehun-a,” aku memilih untuk berhenti bernyanyi. Suaraku sungguh jelek. Dan aku tak mau Sehun terus mendengarnya. Di saat Sehun tak lagi memetik senar, maniknya lekas bersitatap denganku.

“Ada apa? Mengapa kau berhenti bernyanyi?”

“Sehun-a, aku tahu kau tak menyukai suaraku.” Lantas, aku terisak begitu saja. “Kau … kenapa kau hanya diam, huh? Kenapa kau tak menghentikanku? Kau pasti merasa terganggu karena suaraku, kan?” aku semakin menahan isakan. “Maafkan aku, Oh Sehun. Aku sungguh memperburuk―”

You haven’t heard my answer, by the way,” bukannya merasa kesal, Sehun justru mengedik bahunya, tersenyum seperti biasa, kemudian melanjutkan. “Kata siapa aku tak menyukai suaramu?”

Aku terdiam.

“Kalau aku tak suka, sudah pasti aku akan mengatakannya, bukan?”

Huh?”

Well, meski kau telah membohongiku, tapi … tidak apa-apa. Aku tetap menyukai suaramu, kok, dan aku suka caramu bernyanyi dengan penuh percaya diri.” Ucapan itu diakhirinya dengan tawa yang menguar serta petikan gitarnya yang kembali terdengar. “Mau lanjut bernyanyi?”

Tanpa menunggu detik demi detik waktu yang terlewatkan lagi, aku segera mengangguk, pun memberinya cengiran lebar hingga tertular padanya.

Lantunan nada kini mengalir begitu saja, bersamaan dengan gelak tawa kami, meski kami tahu bahwa lagu yang kami bawakan bukanlah lagu berisi kebahagiaan, melainkan lagu bermakna kesedihan yang mendalam.

Well, lagi pula, siapa, sih, yang merasa sedih saat menyanyikan lagu itu, di saat hati sedang berbunga-bunga seperti ini?

-oOo-

Thanks for reading my absurdness fanfiction! ^^

And review are allowed 😉

Tertanda,

ShanShoo♥

Iklan

17 comments

  1. “Kata siapa aku tak menyukai suara mu?” Langsung melting tuh si Eunhee. Sehun bener” jadi anak manis di sini.

    1. Hai, Kak! Huhu kuterhura kakak selalu jadi first komen 😭
      Mhihi iya ya, coba deh kalo eunhee gak ngomong gitu, pasti sehun gak bakal bales kaya gitu juga 😂
      Makasih kak udah komen ^^

  2. Please kak,si sehun bener” bikin aku diabetes saking manisnya dia saoolohhh 😭😘
    Keren kak! Sehun gak caci maki si eunhee kek biasanya 😂
    Keep writing !!!!!!!

  3. Hahahahah. Untung sehun baik, suka deh punya tetangga kaya sehun. Udah ganteng, baik, ngerti perasaan temen lagi. Mau deh punya pacar kaya sehun, betah. Lanjut ya kak, moga ada ide 🙂 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s