[HunHee Series] #4 Diversion of Feelings


HunHee2

ShanShoo’s present

Sehun with Eunhee

Oneshoot 4.105 words

-o-

Antara senang, bahagia dan … meletup-letup. Ketiga perasaan itu sedang mengguncang jiwaku sekarang.

Prev Series : #1 #2 #3

-o-

 

Aku tak yakin, apakah malam ini aku bisa memejamkan mataku dengan cepat atau tidak. Karena di saat jantungku masih berdebar begitu cepat, kedua kelopak mataku pun tetap terjaga. Bahkan ketika jam dinding telah memberitahuku bahwa waktu telah menunjukkan pukul sepuluh malam tepat. Yang kulakukan sampai sekarang hanyalah terus mengulum senyuman, juga menggigiti bibir bawah, takut kalau tiba-tiba aku berteriak kencang hingga mengundang ayah, ibu dan Jimin kemari.

Oh, ayolah, aku sungguh tidak bisa menekan dampak yang begitu besar ini setelah aku berhasil menyanyikan sebuah lagu dengan Oh Sehun, tetanggaku.

Yeah, kau sudah tahu, bukan, gejala dampak apa saja yang telah terjadi padaku sekarang? Kurasa … aku tak perlu menjelaskannya lagi. Haha.

Aku masih ingat, sangat ingat, ketika Sehun dengan nada santainya mengatakan, bahwa ia menyukai suaraku yang bahkan menurutku jeleknya hampir menyaingi suara ayam sakit yang dipaksa berkokok. Aku pun ingat, Sehun memberiku senyuman andalannya yang mampu melumpuhkan seluruh persendianku hanya dalam hitungan detik. Dia … dia sungguh memporak-porandakan isi hatiku begitu saja.

Yang sialnya, akibat dari debaran jantung serta senyumanku yang tak dapat kuhentikan ini, hingga pukul sebelas malam, aku masih tidak bisa tidur seperti kemarin. Di saat aku panik memikirkan nasibku nanti kalau aku gagal bernyanyi dengan Sehun. Oh, sepertinya aku harus mulai berbaik hati pada adikku tersayang, Park Jimin, karena berkat bantuannya, aku bisa membawakan lagu pilihannya dengan cukup baik dan … err, sedikit memuaskan?

-o-

Suara tawa renyah yang terdengar samar-samar di luar kamarku, berhasil membangunkanku dari tidurku yang cukup singkat. Yeah, aku amat menyadari kalau waktu tidurku tak lebih dari lima jam begitu aku melirik jam dinding sekarang, pukul delapan pagi tertera dengan jelas di sana―karena aku baru bisa tertidur pukul tiga pagi, luar biasa, bukan?

Segera aku mendudukkan tubuh lemahku ini di tepian, menguap serta meregangkan seluruh persendianku sampai kedua telingaku terasa berdengung. Kemudian, aku menapakkan kedua kaki di atas lantai dingin, membuka pintu kamar tanpa berniat merapikan penampilanku terlebih dulu. Peduli setan dengan komentar Jimin nanti soal penampilanku yang pastinya terlihat berantakan.

“Hai, selamat pagi Kak … Eunhee?” baru saja aku keluar kamar, aku sudah mendapati sapaan ceria dari adikku seraya memegang kedua bahuku karena terkejut di akhir sapaannya. “Benarkah ini kakakku?” mendengar pertanyaannya itu, aku membuka mata sepenuhnya. Mendapati tatapan Jimin yang begitu menyebalkan. Sampai-sampai aku ingin menoyor kepalanya sampai ia jatuh di depanku. Tapi, seperti yang aku pikirkan sebelumnya saat malam hari, aku harus bersikap baik padanya. Maka, yang kulakukan sekarang hanyalah menyengir lebar, menepuk kepalanya bak memanjakan seekor anjing kecil.

Um-hm,” gumamku serak, membuat Jimin mengernyit. “Aku … kakakmu, tentu saja,” ujarku, diakhiri dengan senyuman teramat lebar, sampai-sampai Jimin menyentil dahiku seenaknya, dan aku mengerang kecil.

“Kenapa baru bangun?” kata Jimin, lalu berdecak sebal. “Kau tahu, Kak? Oh Sehun sudah ada di sini sejak tiga puluh menit yang lalu dan―”

“APA?!” mataku membeliak lebar, tak mengijinkan Jimin untuk berceloteh lebih banyak. Cukup mendengar Sehun berada di sini saja berhasil meningkatkan debaran jantungku―lagi.

“Sayang? Kau sudah bangun?” suara ibu serta-merta membaur ke dalam perbincanganku dan Jimin. Aku menoleh ke arah sumber suara, yang kuyakini, ibuku sedang duduk di kursi sofa lantai bawah, kemudian kembali menaruh atensi pada Jimin.

“Ibu sedang mengobrol dengan Sehun,” Jimin mendesah berlebihan ketika ia menangkap roman wajahku yang tak dapat terbaca. “Sana mandi, dan temui dia.” Lanjutnya, sebelum akhirnya ia pergi melenggang meninggalkanku, menuju kamarnya sembari bersiul rendah. Sementara aku hanya berdiri diam seperti patung yang baru saja diukir, dengan mimik wajah yang masih belum bisa kukendalikan.

“Sayang, Oh Sehun ada di sini, cepatlah kemari!”

Kalau saja ibu tidak kembali berteriak padaku, mungkin aku tak akan segera melesat pergi ke kamar mandi, dan membersihkan diriku sebersih-bersihnya, untuk menemui Sehun, tentu saja.

-o-

Dua puluh menit sudah waktu terlampaui bagiku untuk mandi dan merapikan penampilan. Aku segera menuruni tangga dengan senyuman kecil yang telah terpatri di bibir. Di sofa, seperti yang telah kuduga, aku mendapati ibu dan Sehun tengah duduk berseberangan. Dengan tawa ringan milik Sehun yang menguar, serta senyuman ramah di wajah ibu yang enak dipandang. Lalu ketika aku telah berada di dekat mereka, Sehun mengalihkan perhatiannya padaku, seraya memasang senyuman manis dan menyapaku, ramah. “Selamat pagi, Eunhee.”

Aku membalasnya, canggung. “Uh, ya, selamat pagi, Sehun.” Karena jujur, senyuman Sehun benar-benar membuatku kewalahan untuk menenangkan detak jantungku yang terlampau cepat sekarang.

Kuempaskan bokongku di sofa samping ibu, memerhatikan Sehun yang mengenakan kemeja lengan pendek berwarna putih polos, dipadukan dengan celana denim yang menutupi kaki jenjangnya. Tatanan rambut pendek agak berantakan, berwarna blonde miliknya pun tampak begitu memesona di mataku. Dan aku yakin, ibuku memiliki pendapat yang sama denganku tentang Oh Sehun.

Err, Sehun-a, ada apa kau datang kemari?” tanyaku, memulai pembicaraan setelah tiga detik keheningan memerangkap kami bertiga.

“Ah, sampai lupa,” Sehun terkekeh sambil menggaruk ringan pelipis kanannya dengan jari telunjuk. “Berhubung hari ini akan diadakan gladi kotor setiap ekstrakulikuler di sekolah untuk evaluasi akhir nanti, aku ingin mengajakmu untuk menyaksikannya. Well, siapa tahu kau segera mendapat satu ekstrakulikuler yang cocok dengan minat dan bakatmu,” jelasnya padaku. Sambil sesekali melirik ibuku. “Omong-omong, aku juga sudah meminta ijin pada ibumu.”

Sontak saja aku tersenyum lebar. Tidak, tak hanya senang mendengar Sehun yang mengajakku ikut serta melihat gladi kotor itu, tetapi juga ketika aku mendengar Sehun yang telah meminta ijin pada ibuku sebelumnya. Oh, tidak, bahkan aku mendapati ia tersenyum malu-malu kala ia menatap ibuku lalu kembali menatapku. Ya Tuhan, aku menanggapi sikap laki-laki ini sebagai seseorang yang sedang mengajak pacarnya untuk pergi jalan-jalan. Haha. Khayalanku sungguh keterlaluan. Tapi, aku harus bagaimana?

“Kau mau pergi untuk menyaksikannya, kan?” suara Sehun membuyarkan lamunanku, aku lekas menatap lekat manik matanya yang tengah menatapku dengan kelopak matanya yang melengkung karena senyuman. Hingga kudengar ibu berdeham beberapa kali di antara keheningan yang kembali mengisi.

“Park Eunhee, bukankah kau sendiri yang memilih SMA Woosang di saat kita belum pindah rumah?” tanya ibuku, membuatku mengalihkan atensi padanya. “Jadi …”

“Ya! Tentu saja aku akan ikut!” seruku, kelewat antusias. Melupakan fakta kalau ibu dan Sehun terlihat terkejut karena sikapku itu. Aku menyengir lebar pada mereka, lalu melanjutkan, “Tak mungkin aku melewatkan acara itu, tentu.” Imbuhku seraya mengedikkan bahu.

Sehun mengangguk senang mendengar jawabanku. Ia lalu berdeham samar, menatap ibuku lagi. “Terima kasih, Bibi, karena telah mengijinkan Eunhee untuk ikut.”

“Bukan masalah, Sayang. Lagi pula, Eunhee juga butuh mengetahui segala ekstrakulikuler di sana. Jadi, ia tak perlu repot-repot memikirkan ia akan ikut kegiatan yang mana.” Sahut ibuku, senang. Melirikku sekilas, kemudian, “Oh, ya, Sehun-a, kau berada di kelas apa?”

“Mmm, aku berada di kelas 2-2.”

“Benarkah?” ibuku tampak terkejut, begitu pun denganku. Malah, aku tak sungkan menyembunyikan senyuman lebarku lagi. “Itu berarti, kau baru kelas dua, bukan?”

Sehun menggumam. “Memangnya … kenapa, Bibi? Apakah Eunhee―”

“Ya! Aku juga baru kelas dua!” aku menyela perbincangan mereka, meski itu masih menyangkut tentang diriku. Sehun lekas menoleh dan tertawa ringan. “Apakah mungkin aku akan masuk kelas 2-2 juga?”

Tawa Sehun masih terdengar nyaman di telingaku. Kulihat ia terdiam sejenak sambil menyandarkan punggungnya ke kursi sofa. “Ya, mungkin saja,” katanya, mengedik bahu sekilas. “Tapi kuharap, kita bisa berada dalam satu kelas yang sama.”

“Aku juga berharap demikian,” sahutku, terkekeh kecil.

“Kalau begitu, kapan kalian berangkat?” ibu bersuara di tengah rasa senang dan malu yang menjalar dalam diriku. Kami berdua menatap ibu bersamaan, dan aku membiarkan Sehun menjawab pertanyaan ibuku.

“Kami akan berangkat sekarang,”

“Ya sudah, hati-hati, ya. Dan, Oh Sehun, bisakah aku mengandalkanmu untuk membantu Eunhee memilih ekstrakulikulernya nanti? Yah, sekadar memberi tahu saja, Eunhee itu paling payah dalam memilih―”

“Ibu, jangan dibicarakan lagi! Itu hanyalah kenangan semasa SMP, tahu!” selaku di tengah penjelasan ibu. Kutatap ibuku sedikit kesal. Namun aku hanya mendapatinya tertawa kecil dan berbicara lagi,

“Sampai-sampai ia menangis karena tak mampu menjalani segala kegiatan di dalam ekskul yang ia pilih,”

Oh, baiklah. Sepertinya aku memang tak bisa mencegah ibu untuk mengatakan hal memalukan apa pun dalam hidupku, seperti biasanya.

-o-

Percayalah, menempuh perjalanan ke sekolah menggunakan bus yang penuh dengan penumpang adalah hal paling mengerikan dalam hidupku. Namun, untuk hari ini aku membuat pengecualian. Karena yang kurasakan tadi adalah kebahagiaan, bukan kekesalan yang biasanya membuncah hingga rasanya puncak kepalaku mengeluarkan lahar panas.

Berdiri di dalam bus dengan Sehun di sampingku adalah hal yang membuatku tak henti mengukir senyum bahagia. Aku bahkan masih mengingat bagaimana Sehun yang sesekali merangkul pinggangku hanya untuk menjagaku agar tidak terjatuh begitu saja karena guncangan atau karena penumpang baru yang memaksakan diri untuk berbaur dengan penumpang berdiri lainnya.

Oh, Ya Tuhan, tak bisakah Sehun berhenti membuat dadaku kesakitan karena jantungku yang terus berdegup amat kencang? Sikap Oh Sehun padaku sungguh manis. Sangat manis melebihi manisnya permen kapas dan gulali kesukaanku semasa kanak-kanak.

Akhirnya, kami berada di halaman utama SMA Woosang, sekolah baruku. Kulihat di bagian dua pilar yang berdiri kokoh di hadapanku digunakan untuk memasang sebuah banner bertuliskan ‘Selamat Datang di sekolah tercinta kita, SMA Woosang’ dengan berbagai macam emotikon lucu, berikut foto-foto para siswa di berbagai bidang ekskulnya. Lalu lalang para siswa pun tak luput dari perhatianku. Yah, meski mereka tak mengenakan seragam seperti biasa, namun memakai pakaian kasual yang terlihat memesona.

“Nah, selamat datang di SMA Woosang, Park Eunhee,” aku mengalihkan fokus pada Sehun yang menatapku sambil terkekeh geli. “Kuharap kau betah bersekolah di sini. Siswa di sini semuanya tampan dan cantik, kok. Tenang saja.” Katanya.

Mendengarnya, aku segera melayangkan tinjuan ringan ke bahu tegapnya. “Kaupikir aku bersekolah di sini untuk mencari pacar?”

“Eh? Memangnya aku bilang begitu?” sahut Sehun yang malah membuatku tertawa kecil. Ah, benar juga. Mungkin aku saja yang terlalu berlebihan dalam menanggapi perkataannya. Tapi, memangnya tanggapan apa yang akan kauberikan kalau temanmu bertanya demikian? Kupastikan kau akan menjawab hal serupa denganku.

“Ayo masuk! Aku akan memperkenalkan seluruh ekstrakulikuler di sini dan juga teman-temanku. Well, kalau mereka datang untuk ikut latihan,” katanya, mengedik bahunya singkat sebelum berjalan mendahuluiku, sehingga aku berinisiatif sendiri untuk berjalan mengikutinya di belakang, selagi pandangan memindai segala penjuru sekolah dengan halaman yang luas ini.

-o-

Aku tak yakin tengah menunjukkan ekspresi apa sekarang. Tapi ketika aku melihat gladi kotor yang dilakukan anggota cheerleaders di tengah lapangan luas di bagian dalam gedung, rahangku membuka begitu saja. Aku belum sempat menghitung berapa jumlah anggotanya, ketika mereka dengan lincah dan cepatnya membentuk berbagai macam formasi, hingga melemparkan seorang anggota ke udara sebelum akhirnya mereka semua menangkapnya dan penampilan berakhir, memberikan senyuman lebar hingga turut mempertontonkan barisan gigi mereka yang rapi. Aku hanya dapat berdecak kagum sembari bertepuk tangan tanpa sadar, sementara Sehun yang berdiri di sampingku hanya diam, sambil sesekali melirikku lalu kembali memerhatikan ke lapangan.

“Apa kau menyukainya?” tanya Sehun yang kini menatap padaku sepenuhnya. Kami kembali berjalan menyusuri lorong-lorong sekolah yang terasa lebih hidup karena banyak lalu lalang para siswa yang disibukkan dengan membawa berbagai macam barang di dalam kardus di pelukannya. Aku nyaris ditabrak oleh mereka, kalau saja Sehun tidak segera menarik tanganku ke tepian, hingga aku kembali berjalan mengekor di belakangnya.

“Ya, aku menyukainya,” sahutku agak keras, ketika kami tiba di depan sebuah kelas dengan aktivitas paduan suara di dalamnya. Lekas, aku menoleh ke samping kiri, menaruh perhatian pada puluhan siswa yang berdiri sampai lima jajaran, sementara seorang siswi berdiri di atas kursi dan di hadapan mereka. Siswi itu sepertinya ahli dalam hal olah vokal. Terlihat dari bibirnya yang berbicara dengan a-i-u-e-o yang tampak jelas dan lebar ketika bernyanyi.

“Nah, yang ini ekstrakulikuler paduan suara. Setiap tahunnya kami selalu mengikuti kompetisi paduan suara antarkota, antarprovinsi, bahkan sampai mancanegara.” Sehun menjelaskan, sembari menghentikan langkah begitu saja di depanku. “Paduan suara SMA Woosang sudah mendapat berbagai macam penghargaan. Beberapa waktu yang lalu pun, sempat banyak reporter yang datang kemari hanya untuk meliputi latihan apa saja yang dilakukan sehingga mereka bisa memenangkan banyak penghargaan itu,” lanjutnya lagi tanpa menanggalkan senyumannya. Hingga pikiranku terbelah dua, antara terpusat pada senyuman Oh Sehun dan paduan suara yang sampai sekarang masih melantunkan lagu kebangsaan Korea Selatan.

“Suara mereka bagus,” komentarku pada akhirnya, Sehun yang mendengarnya lekas mengangguk membenarkan.

“Aku pernah mengikuti ekskul ini. hanya saja aku tak melanjutkannya lagi,”

Huh? Kenapa?” tanyaku tanpa sanggup menahan kedua alisku terangkat tinggi-tinggi.

Namun ia menanggapi pertanyaanku dengan kekehan kecilnya. “Aku payah dalam olah vokal. Kalau aku mengikutinya, aku tak yakin apakah paduan suara ini masih bisa membawa piala penghargaan atau tidak,” ujarnya sambil kembali mengajakku untuk berjalan secara tidak langsung.

Masih di area koridor dengan lapangan yang membentang luas, Sehun tak lama menghentikan langkahnya lagi. Aku menatap punggung tegapnya, lalu menatap tengkuknya, hingga akhirnya aku menjatuhkan pandangan ke arah para siswa yang sedang bermain basket di lapangan. Dan … woah! Aku membuka rahangku lebar-lebar kala melihat kemampuan hebat yang dimiliki setiap pemain. Jujur saja, aku tak tahu teknik apa yang sedang mereka perlihatkan di depan mataku, namun aku menikmatinya. Dan kalau dipikir-pikir lagi, sepertinya seluruh anggota ekskul tak perlu mengadakan acara gladi kotor jika keahlian mereka tanpa cela seperti ini.

“Tim basket SMA Woosang pun cukup banyak mendapat penghargaan. Hanya saja belum sampai ke tahap internasional.” Sehun menjelaskan tanpa diminta, sementara aku yang berdiri di sampingnya berhasil memusatkan pikiran pada satu tujuan yang sama; ketampanan para pemain basket serta keterampilannya yang sudah tidak diragukan lagi.

Namun tak lama aku beralih menatap Sehun yang tengah disapa oleh tiga orang kerabat laki-lakinya, mereka turut menatapku, lalu sebelum mereka berkata apa-apa, Sehun mendahului. “Dia temanku, sekaligus murid baru di sini,”

“Benarkah?” tanya laki-laki berambut pirang serta beriris cokelat tua itu pada Sehun. “Boleh kutahu siapa namamu, Nona?” maniknya beralih menatap padaku, dengan tangan kanan terulur, memintaku untuk berjabat tangan.

“Namaku Park Eunhee,” sahutku, menerima jabatan tangannya.

“Ah, senang bertemu denganmu. Omong-omong, namaku Im Jaebum, dan di sebelahku adalah Choi Junhong dan Kim Myungsoo.” Im Jaebum, laki-laki yang baru saja mengajakku berkenalan ini menunjuk kedua kerabat di sampingnya bergantian. Yah, benar apa kata Sehun. Siswa-siswa di sini memang tampan dan cantik. Termasuk ketiga orang plus Oh Sehun di depanku ini, tentu saja. Terlebih ketika mereka sama-sama mengenakan pakaian santai khas anak remaja kebanyakan, sehingga secara langsung memperlihatkan pesona serta ketampanan mereka yang begitu melejit hingga ke langit.

“Maaf, sepertinya aku tak bisa berlama-lama di sini. Anggota ekskulku membutuhkanku sekarang,” Choi Junhong bersuara di tengah kegugupan yang melanda diriku. Tak hanya Junhong, Jaebum dan Myungsoo pun turut undur diri, mereka menepuk bahu Sehun seraya mengerlingkan mata, entah apa maksudnya. Sebelum akhirnya mereka melenggang meninggalkan kami disertai tawa mereka yang terdengar ringan.

“Park Eunhee-ssi!” panggil Jaebum membuatku dan Sehun menoleh cepat padanya. “Kalau kau masuk ke kelas kami, kau duduk bersama denganku, ya?”

Err … dia bilang apa?

“Eunhee-ya, jangan dengarkan perkataan apa pun dari teman sekelasku itu, ya? Mereka … uh, well, mereka cukup hiperaktif saat di kelas.” Ujar Sehun, menyentuh pipiku serta mengalihkan tatapanku dari Jaebum padanya. Tindakannya ini benar-benar meningkatkan kerja jantungku secara drastis. Aku tak tahu, apakah Sehun menyadari atau tidak, tapi aku merasa kalau kedua pipiku memanas dan pastinya nyaris menyerupai warna tomat merah.

Lagi pula, siapa, sih, yang tidak tahan ditatap secara intens oleh laki-laki setampan dan semenarik Oh Sehun dalam jarak sedekat ini?

“Masih ada beberapa ekskul lagi yang belum kita lihat sebelum kau memutuskan untuk masuk ke ekskul yang mana,” Sehun menjauhkan tangannya dari pipiku. Kulihat ia mengulum senyumannya seraya mengusap belakang tengkuknya. Aku yang masih belum bisa kembali memijak tanah dengan benar, tersenyum kikuk dan menganggukkan kepalaku tanpa sadar.

-o-

Hampir dua jam lamanya kami habiskan untuk berkeliling menyaksikan gladi kotor di masing-masing kelas dan lapangan serta untuk beristirahat barang sejenak. Hingga kini, kami baru saja masuk, mendapat banyak sapaan dari para penghuni kelas teater sebelum akhirnya kami duduk bersisian di atas bangku besi berukuran panjang yang terletak di sudut ruangan kelas, di mana setiap kursinya diletakkan di atas bangku dan dijajarkan di setiap sudut kelas. Menyisakan ruang cukup besar di bagian tengah-tengahnya, yang digunakan untuk menyimpan peralatan entah apa namanya di sana.

Awalnya aku ragu untuk memasuki ruangan itu, namun setelah Sehun berhasil meyakinkanku kalau ruangan itu aman untuk dihuni, aku akhirnya mengikuti ajakannya.

“Ini … ekskul teater?”

Exactly,” sahut Sehun seraya memainkan botol minuman di tangannya. Ia melirikku sekilas, sebelum akhirnya melanjutkan. “Kau tahu? Akting mereka di sini benar-benar mengagumkan. Aku bahkan hampir tertipu oleh temanku yang merupakan anggota teater ini saat di kelas. Dia menangis sesenggukan di hadapanku karena ia baru saja diputuskan pacarnya. Tapi, setelah kupikir-pikir, dia sama sekali belum punya pacar.”

“Lalu?”

“Lalu?” Sehun terlihat menahan tawa sambil menggeleng tak percaya. “Tawanya meledak, dan aku hanya bisa mendengus saat tahu aku ditipu olehnya.”

Aku ikut tertawa mendengar ceritanya yang cukup menggelikan. Oh, aku mungkin bisa membayangkan bagaimana paniknya roman Sehun saat mendapati temannya dalam situasi seperti itu. Pasti menggemaskan … dan tetap tampan. Ya, pasti.

“Eunhee-ya, kurasa kau sudah terkenal tepat sebelum kau resmi bersekolah di sini,” ujarnya, memulai konversasi di luar topik yang sedari tadi terus kami bicarakan.

“Sepertinya begitu,” aku menyahutnya. Mmm, yeah, Sehun benar. Aku sudah cukup terkenal di sekolah ini sebelum aku memakai seragam sekolah di sini. Dilihat dari banyaknya sapaan serta perkenalan singkat yang―entahlah, sebenarnya aku tak yakin―akan membuat mereka mengingat namaku, yang kuharap hanya aku saja murid baru di sini.

“Jadi … kau sudah memutuskan untuk mengikuti kegiatan ekstrakulikuler yang mana?”

Aku terdiam sejenak, sibuk memilah dan membongkar kembali memoar beberapa saat lalu di saat aku menyaksikan semua kegiatan wajib itu. Kepalaku menunduk sembari melipat kedua tangan di depan dada.

“Mmm, sepertinya aku―”

“Oh, Ya Tuhan! Maaf aku terlambat. Ada sedikit masalah dalam perjalananku kemari.”

Aku tak sempat melanjutkan perkataanku, begitu seorang laki-laki berperawakan kurus, bertubuh tinggi dan berkulit pucat datang dan terlihat mengembuskan napasnya satu-satu.

Keheningan sempat menjalar di antara seluruh anggota teater, termasuk aku dan Sehun yang membungkam bibir. Sedangkan laki-laki itu terlihat tak acuh, pun meletakkan helm di genggamannya ke atas bangku yang menyisakan ruang di antara kursi-kursi di atasnya. Tapi setelahnya, keadaan kembali normal. Dan laki-laki itu tampak menatap ke arahku dan Sehun sebelum akhirnya ia tersenyum lebar lalu melangkah ke arah kami.

Sehun berdiri, mereka berpelukan singkat seraya laki-laki itu membuka bibir, “Kau di sini rupanya, Ketua OSIS.”

A-apa?

Yeah, memangnya kenapa?” Sehun menyahuti ucapan itu dengan nada santai, sama seperti lelaki di depannya. Namun aku yang ada di dekat keduanya sama sekali tak bisa tenang, tidak di saat laki-laki itu mengatakan ‘Ketua OSIS’ di akhir kalimatnya pada Sehun.

Apakah mungkin ….

“Sekretarismu mencarimu sedari tadi. Ia bahkan tak bisa menghubungimu. Kau kemanakan ponselmu itu, huh?”

“Benarkah itu?” tak sempat menunggu jawaban sang lawan bicara, Sehun merogoh saku celana denimnya, mengambil ponselnya di sana dan seketika maniknya membeliak lebar. “Kau benar!” ujarnya, dihiasi mimik terkejut yang kentara.

“Mmm, Sehun-a―”

Lagi, aku tak bisa melanjutkan perkataanku di saat seorang gadis membuka lebar pintu ruangan, sehingga menampakkan tubuh mungilnya, pun dengan raut wajahnya yang terlihat penasaran, dihiasi kerutan samar di kening serta peluh yang bercucuran.

“Kang Seulgi!” kulirik Sehun yang melambaikan tangannya di atas kepala, memanggil gadis berkuncir kuda itu. Membuatnya lekas menoleh pada Sehun lalu mengembuskan napasnya.

Ya! Oh Sehun! Kau menyebut dirimu ketua OSIS sementara kau tak bisa dihubungi sama sekali? Mati saja kau―argh! Kau hampir membuatku gila!” Kang Seulgi mengacak rambutnya pelan setelah ia berdiri di antara aku, Sehun dan laki-laki ini. Namun Sehun menanggapinya dengan tawa pelan, tangannya terangkat dan merapikan helaian rambut sang gadis yang mencuat di sana-sini.

“Aku lupa, Seul. Maafkan aku,” Sehun meringis pelan. “Sepertinya aku memang tak pantas disebut ketua OSIS. Mungkin … kau bisa menggantikan posisiku?”

“Dan membuatku merasa semakin frustasi? Maybe I just want to die now.” Seulgi mendesah. Maniknya tak sengaja terarah padaku yang diam sedari tadi, bagaikan sebuah patung yang baru selesai diukir. Yeah, aku benar-benar merasa mati di sini, merasa seperti hantu yang tidak disadari keberadaannya. “Well, who is she, Sehun?”

“Oh, iya. Perkenalkan, namanya―”

“Ya, Krystal―oh, damn it!” Seulgi menggerutu tanpa henti, sehingga menyebabkan kerutan di keningnya semakin dalam. Terlebih ketika ia kembali lagi berbicara melalui sambungan pembicaraan di ponselnya. “Akan kukabari kau nanti,” setelahnya, ia melirik pada Sehun. Hanya pada Sehun. “Kita harus cepat menyelesaikan proposalnya, Oh Sehun! Kau mau dewan sekolah marah karena kita terlambat memberikan proposal padanya?” ujar Seulgi begitu ia kembali memasukkan ponselnya ke dalam tas selempang yang ia gunakan. Kemudian, ia mengeluarkan tablet miliknya dari sana, pun segera meraih tangan Sehun untuk segera duduk dan mengajaknya mengerjakan proposal itu tanpa menghiraukan aku yang dilanda kebingungan.

“Uh, Eunhee, tunggu sebentar. Aku tak akan berlama-lama menyelesaikannya. Maafkan aku,” sesal Sehun, memberikan senyuman lemahnya. Dan aku membalasnya dengan anggukan kaku, membiarkan Sehun dan Seulgi duduk di tempat kami berdua duduk sebelumnya.

Oke, sepertinya aku tak diacuhkan―

Uhm,”

―tidak, aku diacuhkan, tentu.

“Jadi, maukah kau kuajak untuk duduk di kursi sebelah sana?” laki-laki yang tadi mengajak Sehun berbicara, menunjuk ke sudut ruangan lainnya, tempat beberapa kursi diletakkan sembarang namun tetap di bagian sudut. “Kurasa, tidak baik mengganggu Sang Ketua OSIS dan Sang Sekretarisnya menjalankan tugas negara,” ia mengedik bahu, memberiku senyuman lebar seolah aku ini adalah teman lamanya.

“Mm, baiklah,” aku menyahut, agak gugup. Sebelum beranjak meninggalkan tempatku berdiri, aku melirik sebentar ke arah Sehun yang kini benar-benar terlihat sibuk bukan main. Kulihat ia menekuk wajah, manakala Seulgi berbicara padanya, seperti tengah menjelaskan sesuatu yang tampil di layar tablet miliknya.

Entah mengapa, melihat kedekatan mereka seolah memberiku sebuah kejutan listrik. Cukup untuk membuatku menegang dan merasakan sedih yang bersamaan.

“Jadi, bolehkah aku mengetahui siapa namamu?” laki-laki itu bertanya padaku setelah kami berdua mendudukkan diri bersisian, sama seperti posisiku dan Sehun duduk sebelumnya. Kalau kuperhatikan, laki-laki ini memiliki wajah yang tirus, dagunya runcing namun rahangnya tegas, kulitnya seputih salju, sementara maniknya cokelat pekat serupa cokelat batang kesukaanku. Entah aku harus membenarkan fakta tentang lelaki-lelaki tampan untuk yang keberapa kalinya lagi, karena sungguh, laki-laki di hadapanku saja tak kalah tampannya dengan sosok Oh Sehun, tetanggaku itu.

Umm, Nona?”

Aku mengerjap cepat mendengar ia memanggilku lagi. Ah, sepertinya aku ketahuan sedang melamunkannya. Segera aku mengulas senyum kikuk, lalu, “Na-namaku … Park Eunhee,” aku tak perlu menunggunya untuk mengulurkan tangan, yah, lebih baik aku saja yang duluan. Hitung-hitung menghilangkan sedikit kegugupan di dalam diriku.

“Wow, nama yang cantik,” laki-laki ini tersenyum lagi. Dan, Tuhan, kenapa laki-laki tampan seperti dia dan Sehun selalu mengumbar senyuman menawan seperti ini? Jantungku sudah tidak bisa diajak berkompromi lagi. Aku hanya bisa berharap semoga laki-laki ini tidak mendengar detakannya yang sebenarnya menyakiti telingaku sendiri.

“Kalau begitu, namaku Lee Taemin! Aku adalah ketua dari ekstrakulikuler teater di sini. Tugasku hanyalah mengawasi jalannya latihan anggota-anggotaku,” ia membalas jabatanku dan menggoyangkannya, antusias. Senyuman kelewat lebar, sampai aku merasa takut sudut-sudut bibirnya bisa robek kapan saja.

Tapi, penjabarannya tentang siapa dia dan apa yang ia lakukan di sini membuatku terkagum. Dari pengamatanku, Taemin memang pantas ditunjuk sebagai seorang ketua teater. Karena ekspresi wajahnya serta gerak tubuhnya benar-benar menyatakan kepantasannya.

“Apa yang sedang kaulakukan di sini? Apa kau adalah pacarnya Oh Sehun?” Taemin bertanya lagi, sembari menumpukan sebelah sikunya ke puncak sandaran kursi, pun menopangkan dagunya, menatapku penuh minat.

“Wow … wow … tidak, bukan begitu,” aku memberinya kibasan cepat dari kedua tanganku, menolak ucapannya meski dalam hati aku merasa senang atas ucapannya itu.

“Jadi?”

“Jadi?” dan entah mengapa, aku mengikuti gaya bicara Sehun tadi saat kami mengobrol bersama di ruangan ini, “Aku … akan bersekolah di sini.”

“Wow … wow,” sialnya, atau apa pun itu, Taemin bahkan mengikuti gaya bicaraku. “Kau … adalah murid baru? Apa kau sudah mengetahui kelasmu?”

“Belum,” jawabku, setengah kesal. “Aku akan segera mengetahuinya, kurasa,”

Kudengar Taemin tertawa renyah, pun mengabaikan beberapa tatapan para anggota teater yang mengarah padanya. “Aku berharap kita berada di kelas yang sama. Kelas 2-2, kalau kau ingin tahu,”

Baiklah, sepertinya aku mempunyai gangguan terhadap pembentukan ekspresi di wajahku. Nyatanya, setelah aku mendengar kenyataan kalau Lee Taemin berada satu kelas dengan Oh Sehun, aku merasa bingung harus memberinya ekspresi seperti apa. Namun, kenyataan kalau jantungku berdebar teramat keras, hingga kedua pipiku terasa merah bagaikan tomat tak bisa terelakkan begitu saja.

Antara senang, bahagia dan … meletup-letup. Ketiga perasaan itu sedang mengguncang jiwaku sekarang.

Aku menoleh ke samping, lebih tepatnya, ke arah di mana Sehun dan Seulgi masih menyibukkan diri menatap layar tablet, sementara gadis itu mengetikkan sesuatu di sana. Mungkin ini saat yang tepat bagiku, karena saat aku memutuskan untuk menatap mereka cukup lama, kudapati Seulgi melontarkan sesuatu yang membuatnya tertawa keras, melupakan fakta bahwa ia terlihat seperti orang kehilangan kewarasannya tadi. Tawa itu tertular pada Sehun, laki-laki itu sampai mengusak gemas surai cokelat Seulgi tanpa menghentikan tawanya sama sekali.

Uh, kau tahu? Suatu perasaan yang aneh dalam diriku tiba-tiba saja membuatku merasa tak nyaman. Rasanya, aku tak bisa menahan perasaan sedih―

“Park Eunhee, mau pergi membeli kola bersamaku?”

Aku menoleh, menatap Taemin yang sedang merogoh sesuatu di dalam saku celananya. Oh, rupanya beberapa uang koin. Lantas, ia mendongak dan kami bersitatap. “Aku yang traktir, deh.” Katanya, menjungkitkan kedua sudut bibirnya ke atas, membentuk senyum simetris yang indah.

―tidak, sepertinya … aku masih bisa mengatasi perasaan sedih kurang ajar itu selama sesaat. Ya, hanya sesaat, selama Lee Taemin masih mau mengajakku berbicara dan memberikan senyum menawannya padaku.

Aku akan baik-baik saja.

 

 

-oOo-

 

Jatuhnya jadi ngaco begini, yha? Maapkeun Isan karena telah membuat fic yang terasa semakin gajelas ini :”’

Makasih udah bacaa♥

Iklan

16 comments

  1. seru kok. duh Eunhee enak bgt td diajak duduk sama Jaebum lah, kenalan sama Taemin lagi… enak nya :v
    tapi disini Eunhee juga merasakan gejala “cemburu” :v

  2. berharap eunhee masih bernapas pas nnti dia masuk sekolah wkwkw dikelilingin cowo ganteng semuaaa cobaa itu

    siap2 saingan sma seulgi kayana nih si eunhee

  3. So, aku juga ikut ketawa ketika sehun dibohongi. Ya ampun, maaf aty baru komen, ketinggalan baca dan yang lainnya. 😀 😀 😀 btw, gak gj kok. Semakin menarik dibaca, dan hal2 bagus lain. Aty juga berasa sebel saat sehun dan seulgi ketawa bareng atau deket gituh. Rasanya gak ikhlas 😉 😦 😉 it’s okay, just fiction 😀 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s