[HunHee Series] #5 Jealous that Buried?


HunHee2

ShanShoo’s present

Sehun with Eunhee

Oneshoot 3.416 words

-o-

“Ke ruang teater, yuk! Oh Sehun pasti mencarimu. Aku lupa nggak meminta ijin padanya untuk membawamu keluar,”

Prev Series : #1 #2 #3 #4

-o-

Dua kaleng kola keluar secara berurutan dari sudut bagian bawah mesin minuman. Taemin memberikan satu kola di tangannya padaku sambil mengulas senyum ramah. Rambutnya yang agak panjang melebihi batas daun telinganya melambai kala tertiup angin di siang hari. Setelah itu, kami berjalan meninggalkan mesin minuman di area kantin ke arah bangku-bangku panjang yang terletak pada setiap koridor kelas, dan kami memutuskan untuk duduk pada bangku koridor kelas satu.

“Maaf, ya, aku hanya bisa mentraktirmu minum kola.” Taemin mengangkat kolanya yang baru saja ia buka. Aku mengangguk kecil mendengar ucapannya. Ah, lagi pula kami, kan, baru saja kenal. Tak mungkin, kan, aku meminta lebih dari sekadar sekaleng kola dingin ini?

It’s okay.” Sahutku tak lama setelah dua detik keheningan menyapa. “Aku suka kola, kok,”

Lee Taemin terkekeh mendengar jawabanku, ia kini meminum kolanya tiga kali tegukan tanpa jeda, membuatku mengernyit. Rupanya ia tahan terhadap soda minuman yang, menurutku, selalu menyerang hidungku kalau aku memaksakan minum sampai beberapa kali tegukan. Namun aku hanya diam, menatapnya tanpa mengedip sampai Taemin bersuara,

“Oh, iya, aku boleh nanya sesuatu, nggak?”

“Mau nanya apa?” aku gugup dan segera mengalihkan pandang ke arah lain. Sementara Taemin di sampingku terdengar menghela napas panjang.

“Kau naksir Oh Sehun, ya?”

Aku tersedak dan batuk beberapa kali di saat soda minuman ini menyerang tenggorokanku begitu ganas. Segera Taemin menepuk tengkukku sambil tertawa kecil. Seolah musibah yang terjadi padaku adalah hal yang lucu baginya.

“Kau bicara apa, sih?” tanyaku dengan nada tidak suka, kemudian aku batuk lagi.

“Kok marah?” laki-laki itu malah menambah kadar tawanya. “Aku, kan, cuma bertanya. Kalau kau nggak menyukainya ya tinggal bilang.”

Kuputuskan untuk menegakkan posisi dudukku sembari mengusap sudut-sudut bibirku yang basah, melirik ke arah Taemin dengan mata dipicingkan dan mendapatinya tengah balik menatapku. “Memangnya ini urusanmu, huh?”

Taemin menggeleng kecil dan meletakkan minumannya di sisa bangku yang mash kosong di sampingnya. Kepalanya sedikit memiring ke kiri, lantas maniknya menatapku lamat-lamat, bagai mencari sesuatu yang aneh yang mungkin saja akan mengundang gelak tawanya lagi.

“Kau ini galak juga, ya?” dia mendesah berlebihan. “Tapi kau itu cantik, Park Eunhee,”

Mendengarnya, aku berdecak beberapa kali, turut menyimpan minumanku di antara kami berdua. “Maaf, tapi aku nggak ada uang untuk membayar gombalan recehmu itu,”

Wow,” Taemin mengerjap jenaka, membuatku mengurungkan niat untuk memukulnya, kalau saja ia berulah lagi hingga menaikkan tensi darahku. “Tapi aku nggak ada niat untuk menggombal, loh,” ia mengedik bahu. “Memang susah, ya kalau orang tampan sepertiku mengatakan hal begitu, pasti terus disangka menggombal. Padahal aku berbicara yang sebenarnya,” katanya, memosisikan duduknya ke arah depan, tanpa menatapku namun masih mempertahankan senyumannya.

“Aku nggak mengerti, Lee Taemin,”

Well, it’s better you don’t understand what I’m saying last,” ia menoleh padaku, memajukan bibir bagian bawahnya sebelum berbicara kembali, “Ke ruang teater, yuk! Oh Sehun pasti mencarimu. Aku lupa nggak meminta ijin padanya untuk membawamu keluar,”

Taemin bangkit berdiri lebih dulu, membuang kaleng kolanya yang telah kosong pada tempat sampah di tepi koridor dekat pot-pot besar yang berjajar. Dan setelah aku mendengar ucapannya tadi, aku segera menyahut sembari ikut berdiri, “Untuk apa kau meminta ijin padanya? Sehun bukan siapa-siapa bagiku,”

“Oh, ya?” tanya Taemin setelah aku membuang kaleng kola ke tempat sampah. Lantas, kami berjalan bersisian menuju ke ruang teater. “Tapi, jujur saja, ya, kalian itu terlihat sedang pacaran.”

“Nggak usah mengumbar gosip, oke?” kataku setengah ketus. Taemin menanggapinya dengan kedikan bahu.

“Oke, aku nggak bakal mengumbar gosip seperti yang kaukatakan. Tapi awas loh kalau gosipnya jadi kenyataan,”

Taemin tergelak mendengar ucapannya sendiri, dan aku hanya bisa mendegus kesal mendengarnya.

-o-

Kembalinya kami berdua ke ruang teater rupanya mengundang tatapan serta keheningan di dalamnya. Yeah, mereka―para anggota teater, ditambah Sehun dan Seulgi―menatap ke arahku dan Taemin dengan pandangan yang sukar diartikan. Aku berani bertaruh, mereka pasti sedang memikirkan hal yang tidak-tidak dalam otaknya. Seperti … kami baru saja pulang berkencan? Oh, gila saja kalau sampai iya!

Kulirik Lee Taemin yang memasang senyum inosen, menyapa semua anggotanya dengan lambaian tangan kelewat antusias, sedangkan aku yang masih berada di sampingnya malah bertindak sebaliknya. Diam, menggigit bibir dan berharap mereka menerka bahwa aku hanyalah patung, bukan manusia.

“Oke, aku akan mengevaluasi hasil latihan kalian semua.” Tubuhku seolah menghangat dan segera mengalirkan darah dengan cepat setelah mendengar Taemin berujar demikian. Laki-laki itu beranjak meninggalkanku dan duduk dengan lagak sok penguasa di kursi yang ia duduki saat kami melakukan konversasi sebelumnya. Belasan anggota teater dengan pakaian berkelompok, seperti kelompok di dekat jendela yang terdiri dari empat orang menggunakan kaos lengan pendek warna hijau, yang berdiri di tengah terdiri dari enam orang dengan kaos lengan panjang berwarna putih polos, serta satu kelompok terakhir berjumlah lima orang dengan kaos lengan pendek berwarna hitam. Mereka semua berdiri menghadap ke arah Taemin yang duduk santai, melirikku sejenak lalu memberikan senyuman hangatnya.

“Kelompok mana dulu yang akan tampil pertama nanti?” suara Taemin terdengar mendominasi di antara seluruh orang yang ada di ruang teater. Bahkan aku sempat melihat Sehun dan Seulgi menghentikan aktivitasnya, menyimpan tabletnya di atas paha, sementara Sehun melengkungkan dan menggenggam sebuah proposal dengan sampul warna biru transparan di tangan kanannya.

“Kelompok kami, Sunbae,” seorang laki-laki dengan tubuh kurus, dibalut pakaian berwarna hitam itu menyahut. “Setelah itu kelompok hijau dan diakhiri dengan kelompok putih.” Lanjutnya, memberi informasi.

I see,” Taemin mengangguk mengerti, “So, Yoon Sanha, segera tampilkan hasil latihanmu dan kelompokmu.” Yoon Sanha ganti mengangguk, ia lekas memberi perintah pada anggota kelompok hitamnya hingga tak lama, acara pertunjukkan yang diinginkan Taemin terhadap kelompok Yoon Sanha, dimulai.

Namun itu sama sekali tak menarik perhatianku. Meski aku tahu, kalau pertunjukkan itu terlihat bukan sebuah akting, melainkan terasa nyata.

Karena yang menjadi fokus utamaku saat ini adalah, Oh Sehun dan Kang Seulgi.

Kala manikku beralih memerhatikan mereka berdua, aku terkejut setengah hidup. Bukan, ini bukan sebuah masalah besar. Tapi … tetap saja aku merasa jadi tak nyaman. Ketika Sehun ternyata sedang memerhatikanku juga, entah sejak kapan. Sehun abai terhadap setiap perbincangan yang Seulgi buat, Sehun pun tak acuh pada senyum dan gelak tawa yang memenuhi rungunya dari sang gadis. Yang ada, Sehun memancangkan maniknya padaku, dengan ekspresi yang sukar kuartikan apa maknanya.

Sebenarnya … Sehun kenapa?

Rasa penasaranku terpaksa terpotong. Seulgi menarik tanganku yang masih dapat dijangkau olehnya. Menyuruhku untuk duduk di sampingnya sambil memasang senyuman manis.

“Duduk di sini saja, Eunhee-ssi,” sapanya ramah, sementara aku menjungkitkan sebelah alisku, heran. Dari mana ia tahu namaku? Apakah dari … “Oh Sehun yang memberitahuku siapa namamu,”

Baiklah kalau begitu.

“Kau dari mana? Kenapa aku tak tahu kalau kau keluar bersama Taemin?” yang ini adalah pertanyaan dari Oh Sehun. Maniknya masih memandangku dengan cara yang sama. Menyebabkan kerja jantungku jadi abnormal.

“Aku … aku hanya pergi membeli kola. Taemin yang mentraktirku.” Sahutku apa adanya. Awalnya aku berharap akan ada perubahan dari ekspresi wajahnya setelah aku menjelaskan. Tetapi, Sehun masih saja menatapku demikian.

Tak ada yang bisa kulakukan selain mengalihkan pandang ke arah jalannya evaluasi, berusaha tak acuh pada setiap tatapan Sehun yang semakin melekat padaku.

“Omong-omong, apa proposalnya sudah selesai?” pada akhirnya, aku bertanya demikian, mencoba ikut berbaur ke dalam kesibukan yang mereka miliki. Sehun tampak mengerutkan keningnya samar-samar, hendak mengambil tablet milik Seulgi namun ia urungkan seraya mendesah kecil.

Not really finished, actually,” sahut laki-laki bersurai blonde itu, “Mungkin aku akan menyelesaikannya di rumah.”

Seulgi tertawa sekilas mendengar perkataan Sehun. Sebelum ia berbicara, melirik Sehun sebentar dan mengalihkan atensinya padaku. “Kau tak perlu memikirkan tentang proposal itu, Eunhee-ssi,” katanya, memberikan senyum menawan hingga aku sempat berpikir kalau ini adalah kali pertamanya aku bertemu dengan orang secantik Kang Seulgi. “Jadi, kau akan bersekolah di sini?” tanyanya, mengalihkan topik pembicaraan.

Uh, ya,” aku menyahut, agak enggan. Tatapan Seulgi padaku terlalu mengintimidasi, dan sebisa mungkin aku tak mengacuhkannya.

“Apa kau sudah memilih klubnya?”

“Eh?” manikku mengerjap cepat mendengarnya. Buru-buru aku menggeleng, “Belum. Aku … aku masih bingung―”

“Ikut kegiatan teater saja,” belum sempat aku merampungkan kalimatku, suara Taemin tahu-tahu ikut membaur ke dalam konversasi, seraya merangkul bahuku tiba-tiba. Aku sedikit tersentak mendapat kontak fisik seperti ini, manikku naik dan menatap rahang tegas yang dimilikinya. “Oh Sehun juga ikutan klub teater.”

Aku tak bisa menjawab apa-apa.

Dan Lee Taemin memberiku sebuah seringaian. “Benar, kan, Oh Sehun?”

Lagi-lagi aku merasakan aura yang aneh dalam diri Sehun. Meliriknya, kudapati pandangan Sehun berbeda dari biasanya. Jauh dari kata ramah, menyenangkan, atau apa pun itu yang berhubungan dengan sikap positif, selepas Taemin mengutarakan pertanyaan padanya.

-o-

“Jadi, Taemin hanya mentraktirmu membeli kola saja? Tidak ada yang lain?” itu adalah pertanyaan yang meluncur dari bibir Oh Sehun, tepat ketika kami memijakkan kaki di atas bumi, pun di saat bus yang kami tumpangi segera melaju, membelah jalan raya. Kami pulang setelah acara gladi kotor telah berakhir. Dan kuperkirakan jalannya acara itu adalah selama lima jam penuh. Untung saja aku tak berakhir pingsan di sana karena pikiran negatifku tentang aku yang akan diabaikan oleh para siswa di sana. Tapi, tidak. ada Taemin yang dengan murah hatinya mengajakku mengobrol.

Kutolehkan kepala pada Sehun sembari mengulum senyum. “Ya, dia hanya mentraktirku,” sahutku, ringan. Berusaha untuk memikirkan hal yang tidak-tidak sehabis mendengar pertanyaannya. “Kupikir dia laki-laki yang menyebalkan dan sering mengganggu. Tapi nyatanya dia baik dan … humoris?”

Aku tak yakin dengan penglihatanku kini. Oh Sehun membungkam mulutnya sejenak begitu ia selesai mendengar penjelasanku tentang sikap Lee Taemin. Aku hendak bertanya, namun aku kalah cepat darinya yang berujar, “Itu tandanya dia menyukaimu,”

“A-apa?” pikiranku tak dapat dikendalikan. Nada bicaranya sama sekali tak enak didengar. Terlebih ekspresinya yang tak bisa kutebak. Ralat, hari ini, Oh Sehun tidak terlihat seperti Oh Sehun, tetanggaku yang ramah tamah.

“Tidak. bukan apa-apa.” Sehun mengedikkan bahunya sekilas. “Taemin memang bersikap menyenangkan pada siapa pun,”

Aku bingung harus menjawab apa setelah ini. tapi sungguh, aku sama sekali tak mengerti apa yang Sehun bicarakan sebelum ia merampungkan kalimat terakhirnya barusan. Dan sayangnya, aku mengurungkan niat untuk meminta penjelasan lebih, sekali pun Sehun telah menjelaskannya dan aku tetap tak mengerti.

“Tapi, Oh Sehun, kau baik-baik saja, kan?” dan lagi, pertanyaan aneh terlontar begitu saja dari bibirku.

Sekilas, Sehun mengerutkan kening, dan sesegera mungkin ia merubah ekspresinya. “Ya, tentu. Kenapa? Apa ada sesuatu yang aneh padaku?

“A-ah, tidak. aku … aku hanya―well, lupakan.” Mungkin ini hanya perasaanku saja, tambahku dalam hati.

“Sehun-a,” kuputuskan untuk bersuara lagi, menghentikan langkah sejenak dan berbalik sepenuhnya ke arah Sehun. Laki-laki itu ikut berhenti melangkah, menatapku keheranan lalu menyahut dengan gumaman kecil. “Benarkah kau mengikuti klub teater?” tanyaku. Rasa penasaranku sudah berada di paling puncak rantai penasaran.

“Mmm, sebenarnya aku tak bergabung dalam klub apa pun,” sahutnya, santai, seolah tak memiliki klub di sekolahmu bukanlah masalah besar hingga harus berhadapan dengan dewan dari segala kegiatan klub di sekolah. “Tapi, kalau aku ingin mengikuti klub teater, aku pasti akan masuk. Yang anehnya, para anggota teater tidak menegurku sama sekali kalau aku tak berniat untuk bergabung lagi,”

“Eh? Benarkah?” mataku menatapnya, takjub. “Wow! Apakah hal itu juga akan berlaku untukku? Well, kau tahu sendiri, bukan, kalau aku sangat payah untuk memilih dan mengikuti kegiatan klub sekolah?”

Yeah, kau bisa menjadi sepertiku kalau kau mencalonkan diri sebagai ketua OSIS lalu memiliki banyak suara dan terpilih,” katanya setelah berhasil menghentikan tawa yang terdengar dipaksakan.

“Maksudmu?” aku tak bisa menahan diri untuk mengerutkan kening dan kembali bertanya. Sementara itu, Sehun memberiku ekspresi misterius lalu melangkah mendekat ke arahku, membuat kami melangkah bersisian. Ya, akhirnya aku tak lagi berjalan di depan Oh Sehun.

“Uh, ini terdengar seperti Ketua OSIS memang memiliki segala macam kekuasaan,” Sehun menoleh sekilas padaku. “Jadi, kalau kau tak mengikuti satu klub pun, tak akan jadi masalah.”

Very cool,” pujiku, mencoba menyembunyikan rona merah di kedua pipiku saat Sehun menoleh dan memberiku senyuman terima kasih.

Baiklah, satu masalah teratasi, dan … ugh, aku lupa menanyakan satu hal lagi pada Sehun.

“Sehun-a,” baiklah, aku siap kalau Sehun akan memarahiku karena aku menghentikan langkah untuk yang kedua kalinya. Tapi, sungguh, kakiku seolah tak bisa diajak kompromi di saat aku ingin bertanya satu hal padanya.

“Hm?” Sehun membalas dengan gumaman singkatnya, dan dia ikut menghentikan langkah di belakangku. Tapi kali ini aku tak mempermasalahkan perihal ia yang berdiri di belakangku itu.

“Kang Seulgi …” entah mengapa, tiba-tiba bibirku membentuk dan menyuarakan nama Sang Sekretaris Ketua OSIS di dekatku ini tanpa berpikir lebih dulu. Manikku bergerak gelisah, bingung harus melanjutkan bagaimana. Apalagi tatapan Sehun padaku benar-benar tak membantu, seolah menyuruhku untuk melanjutkan perkataanku sesegera mungkin. “Apa dia … kekasihmu?”

Dua detik berlalu dan kini suara tawa renyah Sehun menyambangi kedua runguku. Dapat kupastikan, Sehun merasa kalau ucapanku ini lebih terdengar seperti seseorang yang mencemburui kekasihnya karena berdekatan dengan orang lain. Tapi, hei! Sedikit pun aku tak mempunyai pemikiran seperti itu!

How do you know, Eunhee?” Sehun mendekat padaku, dan aku berinisiatif untuk melanjutkan langkahku yang tertunda bersamanya. “No, she’s not my girlfriend, anyway. She’s just my classmate,” ujarnya menjelaskan sambil menepuk puncak kepalaku ringan. Sikapnya barusan akhirnya menciptakan gelembung-gelembung aneh dalam perutku, yang anehnya bukan membuatku merasa mual. Namun merasa senang bukan main.

“Hanya temanmu?”

“Tambahan, sekretarisku juga,” Sehun terkekeh lagi, “Oh my, ini terdengar seperti Kang Seulgi adalah sekretarisku di perusahaan besar. Terlalu berlebihan, bukan?”

Aku tertawa sumbang menanggapinya. Kaki-kakiku kini terasa lebih bersemangat untuk terus berjalan. Padahal aku sempat mengira kalau perjalananku menuju rumah akan terasa sangat membosankan ketika mengetahui kalau Kang Seulgi memiliki hubungan spesial dengan Oh Sehun. Tapi nyatanya … tidak, tidak sama sekali. Hah, aku sungguh merasa lega hingga kedua paru-paruku seolah mampu menghirup oksigen sebanyak-banyaknya.

Kalau sudah begini, aku tak perlu sungkan lagi untuk membicarakan hal lain yang lebih ringan, bukan?

-o-

“Milih klub apa, Kak?”

Jimin duduk begitu saja di kursi meja belajarku yang dipenuhi dengan berbagai macam buku paket, ditambah dua buku novel hasil jarahan dari teman sekelasku di sekolah yang lalu. Sore ini Jimin terlihat lebih segar dibanding sebelumnya. Aku dapat membaui aroma memabukkan dari tubuhnya namun terasa nyaman di hidung. Sesekali aku melirik Jimin lewat salah satu buku bacaan di tanganku. Lekas saja, kedua sudut bibirku berjungkit naik, karena aku tak bisa menahan senyuman ini lebih lama lagi.

“Sepertinya klub teater,” sahutku, ringan, pun menaruh atensi pada setiap deretan kalimat di bukuku.

“Eh? Teater? Yakin?” dan entah mengapa, hari ini aku sudah terlalu banyak mendengar gelegar tawa. Baik di sekolah, maupun di kamarku sendiri. Mata Jimin kian menyipit, menyisakan dua garis horizontal. “Kakak bercanda, ya? Kakakku Park Eunhee kan nggak bisa berakting dengan benar! Disuruh pura-pura menangis saja nggak bisa!” ejeknya tanpa asa, seraya memukul meja belajarku untuk membendung tawanya yang kian melengking.

Amarahku tersulut secepat jentikan jari.

“Aw!” pekikan Jimin memenuhi pendengaranku, ketika aku berhasil melemparkan buku bacaanku ini ke pelipisnya. Jimin menoleh cepat seraya meringis, mengusap pelipisnya kuat-kuat. “Apa-apaan, sih, Kak?!”

“Kau yang apa-apaan! Dasar adik sialan! Bukannya mendukung kakakmu, kau malah menjatuhkannya! Kaupikir kau ini manusia sempurna, huh?” aku berujar dengan nada kekesalan yang kentara, dan Jimin membungkam seolah kalah telak, tak mampu menjawab. Romannya tak lagi menunjukkan ekspresi yang sungguh menaikkan tensi darahku.

“Kak, sejak kapan kau pintar mengejek seperti itu, huh?”

“Seharusnya aku yang bertanya seperti itu padamu!” Jimin mengerjap tak percaya setelah ia menerima kenyataan pahit tentang perubahan sikapku padanya. “Kau bahkan sejak dulu selalu mengejek kelemahanku! Kaupikir aku akan terus diam saja dan menerima segala ejekanmu itu?” kali ini aku bangkit, melangkah mendekat ke pintu kamar dan membukanya lebar-lebar. “Keluarlah! Aku tak ingin melihat wajahmu hari ini, dan entah sampai kapan.” Sumpah, demi Neptunus! Park Jimin selalu tak mengerti kebahagiaanku meski sedikit. Wajahnya terus menunjukkan ekspresi yang mampu menyulut amarahku. Aku tahu, ia tak bermaksud untuk menghina, menjelekanku atau apa pun itu. Tapi … Jimin … Jimin―

“Oke, Kak! Aku akan keluar dari kamarmu!” Jimin mendengus kesal, menyentakkan tubuhnya untuk berdiri dan menatapku tajam. “Kau tahu, Kak? Selera humormu buruk sekali.”

Ucapan terakhir Jimin sebelum ia benar-benar pergi meninggalkanku, tak pelak menggoreskan sebuah luka di dada, perut dan tembus ke ulu hati.

“Kau … kau yang buruk dalam menyalurkan humormu, Park Jimin!” bisikku, pelan, begitu aku menutup pintu dalam sekali sentakan.

Oh, kacau sudah hari bahagiaku kini.

-o-

“Sikap kalian berdua menunjukkan seolah kalian bukanlah kakak beradik dan bukan anak-anak dari kami,”

Ayah melontarkan kalimat menyakitkan itu dalam satu tarikan napas kasar. Segala hal baru bagiku memang terjadi hari ini, begitu banyak sekaligus menyakitkan. Tentang kedekatan Sehun dengan Seulgi, tentang ejekan Park Jimin, serta … petuah keras milik ayah.

Aku tak berani mendongakkan kepalaku demi menatap manik marah ayah, pun dengan Jimin di sampingku. Kalau saja kami tidak menunjukkan bagaimana retaknya komunikasi kami hari ini, mungkin baik ayah atau ibu tak akan memanggil kami berdua ke ruangan tengah lalu membicarakan perihal ini secara serius.

“Ayah, Kak Eunhee―”

“Tidak ada saling salah-menyalahkan di sini, Park Jimin,” jika kami sudah mendengar ayah memanggil kami dengan nama lengkap seperti itu, kami tak perlu berpikir dan langsung mengetahui, kalau ayah sedang berbicara serius, atau sedang marah pada kami.

“Maafkan aku,” Jimin mendesah pelan, menunduk dan kulihat ia melirikkan sebelah matanya padaku.

“Aku mengerti kalau kalian sudah beranjak ke tahap dewasa, terlebih kau, Park Eunhee. Tapi, tak bisakah kalian tetap mempertahankan sikap suportif satu sama lain?” giliran ayah yang mendesah, lantas menjatuhkan atensi sepenuhnya padaku. “Eunhee-ya,”

Oh, apakah ayah tak lagi marah padaku atau … Jimin?

“Ya, Ayah?” sahutku, pelan dan sopan, tidak membalas tatapannya.

“Ayah tidak memihakmu dan menyalahkan adikmu, tapi,” ayah menghentikan perkataannya sejenak, sebelum melanjutkan, “Kuharap kalian tak mengulangi sikap seperti ini lagi. Apa kalian paham?”

Jika ayah bertanya demikian, maka secepat kilat kami akan menjawab, “Ya, Ayah, maafkan kami,” nyaris bersamaan. Karena kami tahu, semakin lama kami tak menyahut, semakin membesar pula amarah yang ayah punya, bahkan mungkin akan meledak dan meluluh-lantakkan semuanya.

“Kak Eunhee,” Jimin bersuara di tengah keheningan, menatapku sambil mengulas senyum kecil. “Apakah sikapku tadi terlalu berlebihan?” tanyanya, dan kini ia melebarkan senyuman.

Aku meresponsnya dengan tawa ringan, mengangkat tinggi-tinggi sebelah tanganku dan mengusak rambutnya gemas yang―sebenarnya aku malu mengatakan hal ini, tapi Jimin memang memiliki tubuh lebih tinggi dibanding diriku, kakaknya. Well, kalau kami berdiri bersisian seperti ini, tinggiku hanya mencapai batas hidungnya. Padahal, dulu kala kami masih bocah, Jimin memiliki tubuh lebih pendek dariku, sehingga aku kerapkali mengejeknya dengan sebutan si anak pendek.

“Jadi, sepasang kakak-beradik ini sudah kembali akur, eh?” ayahku bersuara di tengah tawa kecil kami yang melanda. Kami lekas menoleh dan memberi ayah satu senyuman lebar, yang tentu saja dibalas dengan senyum penuh kelegaan miliknya, sebelum akhirnya kami beranjak naik ke kamar masing-masing untuk memulai istirahat tidur di malam hari ini.

-o-

Aku memutuskan untuk menghabiskan waktu malamku selama satu jam penuh untuk memerhatikan banyaknya bintang di langit kelam. Duduk bersandar pada kusen jendela adalah hal yang kulakukan saat ini. sebenarnya, atensiku terbagi ke beberapa sudut. Seperti sudut taman, sudut jalan setapak kecil yang mengarah pada gerbang kecil rumah kami, juga … ke arah rumah tetangga dekatku.

Oh Sehun.

Niat awal tetaplah niat. Hingga terkadang aku bingung mengapa aku selalu tak bisa melaksanakan niat awalku hingga tuntas. Seperti saat ini. inginnya melihat bintang, namun sayang, niatku berbelok arah. Karena kini, atensiku teralih sepenuhnya ke arah rumah elit milik Oh Sehun, dan berusaha melihat bagaimana isi dari rumah itu lewat jendela yang tertutupi gorden, dan mempertontonkan lampu neon terang di baliknya.

Nah, kalau sudah begini, rasa penasaranku tidak dapat kutahan lagi. Maka, dengan semangat membara serta senyuman lebar, aku melangkah membuka pintu balkon kamarku dan nangkring di sana, sembari atensi tak lepas memerhatikan bangunan rumah elit di samping rumah baruku.

Sepi. Hanya kata itu yang bisa kugambarkan untuk rumah Sehun, setelah aku benar-benar mengamatinya dengan posisi seperti ini.

“Apa Sehun sudah tidur?” aku berbisik, setengah penasaran. Mataku memicing mengamati setiap jendela yang dapat terjangkau oleh pandanganku. Dan aku beneran kaget setengah mati begitu aku mendapati sosok laki-laki jangkung berdiri tegak di dalam sana. Bahkan yang lebih membuat kedua kakiku seperti mati rasa, pandanganku menangkap pergerakan Sehun yang tengah membuka pakaian atasnya dari bagian pinggang dan merambat membuka ke bagian kepala―yang kuyakini, kalau Sehun melepaskan kaos lengan pendek yang ia kenakan. Kemudian, ia berjalan dan menghilang dari balik jendela. Jeda lima detik sampai Sehun kembali lagi ke posisinya tadi sambil mengenakan pakaian berkancing, nah yang ini pasti piyama tidurnya.

Ya Tuhan! Kalau begini caranya, aku jadi tidak bisa bernapas dengan benar! Oh Sehun … ugh, bahkan hanya dengan melihatnya berganti pakaian dari balik jendela kamarnya saja sudah membuatku hidup seperti tidak hidup!

Terlebih, ketika Sehun membuka jendela kamarnya lebar-lebar, dan maniknya―aku beneran yakin―terarah lurus padaku. Wajahnya tampak kaget setengah hidup, dan ekspresi itu berubah dengan cepat menjadi sebuah ukiran senyum canggung seraya menyapaku dengan lambaian tangan kaku dan ucapan,

“Selamat malam, Park Eunhee,”

Meski tak sedikit pun terdengar oleh indera pendengarku.

Rasa-rasanya, paru-paruku tidak berfungsi dengan normal. Tidak, ketika embusan angin malam menerpa helaian rambut blonde-nya, membuatnya terlihat ribuan kali lipat lebih tampan.

Because, well, in the fact, my neighbors young is very handsome!

-oOo-

Iklan

11 comments

  1. Ya ampun Taemin nanyanya jujur banget,Eunhee kaget kan? Keluarga Eunhee tuh,keluarga idaman apalagi liat Eunhee dan Jimin,seru banget mereka. Ngomong- ngomong aku juga pingin liat Sehun ganti baju,hahaha..

    1. Taemin kan orangnya polos(?) makanya dia nanyanya seenak jidat x)
      Iya ya, keluarga idaman banget. Adik kakak Park itu bisa cepet akurnya, nah, aku sama adik akumah lamaa xD
      Kaaak, aku juga mau kali kaak liat sehun ganti baju 😂😂😂😂
      Makasih udah komen ^^

  2. Ciee yang saling echemburuan#alay. Apa?! Taemin suka sama eunhee?! Itu kan baru dugaan. Tapi kalau diliat dari tingkahnya sih iya. Aku tak tahu 😀 😀 . Jimin, entar aku jitak pala sampean. Digorok pun bisa#ibu tiri sadis#hadeuuh -_-#maklum, alay kambuh. Lanjut ya kak, semoga punya ide. Bay dari ku 😀 😀 :-* :-*

  3. mereka berdua kayaknya sama2 cemburu ya. taemin perlakuannya kalo terus begitu ama cewek siapapun orangnya kayaknya bakal memerah juga. aku suka ff ini ceritanya ringan plus nggak membosankan. XD XD

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s