[FF Request] about Old Memories and the Word of Love


aolatwol

ShanShoo’s present

(requested by Valleren Kim)

starring EXO Sehun, OC Valleren Kim, EXO Chanyeol

school-life, romance, fluff, slight!childhood // vignette +1700ws // T

diclaimer : I just own the plot!

 -o-

“Kalau aku mengatakannya, maukah kau mendengarkan dan memercayaiku?”

-o-

Ada satu ingatan yang paling membekas dalam benak Valleren Kim. Yaitu ketika masih berusia lima tahun, usia di mana semua anak-anak menyukai bermain dan bersenang-senang.

Val―nama panggilan untuknya― ingat, ia tak pernah absen untuk bermain di bawah rinai hujan bersama kedua teman dekatnya kala itu. Kedua kaki mungilnya bergerak riang, menghentak di atas rumput rendah dengan genangan air hujan yang cukup besar. Oh Sehun, si bocah laki-laki berkulit putih dan bertubuh jangkung itu kerapkali menertawakan tingkah Val yang sungguh menggemaskan. Apalagi ketika sang gadis berubah basah kuyup serta dipenuhi bercak-bercak lumpur karena hentakan kakinya yang terlalu bertenaga. Sementara Park Chanyeol, yang memiliki tubuh lebih tinggi dari Sehun serta bertelinga lebar itu lebih senang memperparah keadaan Val. Dengan sengaja ia mencipratkan genangan air hujan dengan alas kakinya ke arah Val, lalu berlari menjauhi gadis kecil itu sambil tertawa puas.

Lalu ketika musim gugur tiba, Val beserta dengan kedua teman dekatnya itu tak pernah luput bermain di atas rimbunnya daun-daun kering yang berguguran di bawah pohon. Menyisakan ranting-ranting rapuh yang mungkin saja akan patah jika ada angin cukup besar yang menerpa.

“Val, ada banyak daun kering yang hancur di kepalamu,” ucapan Sehun kecil masih terngiang di telinganya. Sembari berusaha merangkak di antara dedaunan kering itu, Sehun akhirnya berhasil menggapai tubuh Val dan mengambil retakan daun itu di kepalanya. Sehun tertawa, sedangkan Val mengumbar cengiran terima kasihnya.

“Di kepala dan bahumu juga banyak sekali daun kering, tahu!” balas Val, turut membersihkan sisa-sisa dedaunan kering yang hancur di tubuh Sehun. Keduanya sama-sama tertawa, mengabaikan keasyikan Chanyeol yang sedang menghamburkan raupan daun kering di kedua tangannya. Ketika daun-daun itu terbang melayang dan menimpa sekujur tubuhnya, di saat itulah tawa Chanyeol kecil membahana. Berhasil mengalihkan atensi Val dan Sehun dalam sepersekian detik. Dan begitu Chanyeol merasa bahwa ia diperhatikan, ia lekas menoleh dan tersenyum lebar.

“Aku suka musim gugur!” pekik Chanyeol, bahagia. Dan lagi-lagi, tawa mereka membahana, membaur bersama angin musim gugur yang menerpa. Menebar rasa suka cita serta kebahagiaan yang seolah tak membiarkan perasaan sedih datang menyambangi hati mereka.

Semua kenangan-kenangan indah itu bagai tak pernah usang dan membusuk dalam benaknya. Bahkan ketika kini Val telah memasuki usia delapan belas, Val masih mengingat secara rinci permainan anak-anak apa saja yang ia lalui bersama kedua teman dekatnya itu.

“Apa kau masih ingat di saat Sehun terjatuh dari pohon mangga karena berusaha mencuri buah mangga manis di rumah tetanggamu?” Val tersentak, atensinya bergulir pada sosok Park Chanyeol dan Sehun yang, well, merupakan teman sekelasnya, kini. Ah, jujur saja, Val merasa bosan kalau harus bersama dengan mereka dalam satu kelas. Andai orang tua mereka bertiga tak bersikeras meminta dewan sekolah untuk menyatukan mereka, mungkin Val tak akan berada di sini. Di tengah celotehan riang milik Chanyeol serta ekspresi setengah senang setengah kesal di paras Oh Sehun.

Karena … omong-omong, entah sejak kapan, Oh Sehun tak lagi menunjukkan ekspresi serta tingkah laku menyenangkan kalau mereka bertiga sedang bersama, membicarakan hal-hal ringan yang setidaknya mampu menghilangkan kejenuhan sehabis belajar berjam-jam.

Val sendiri tak mengerti, mengapa Oh Sehun terlihat tak antusias atau ikut tertawa manakala Chanyeol menceritakan kembali kenangan masa kecil mereka tiga belas tahun yang lalu. Oh, well, jangankan tertawa, tersenyum saja tidak. mm, ralat, Sehun hanya menunjukkan segaris tipis di bibirnya. Hanya itu.

Karena sikap itulah, Chanyeol akhirnya berhenti tertawa dan menepuk bahu Sehun.

“Ada apa? Apa sesuatu yang buruk telah terjadi?” tanya Chanyeol, mengukir roman penasaran bercampur khawatir di wajahnya. Ucapannya serta-merta membangkitkan rasa penasaran Val juga. Namun gadis itu hanya diam, mendengarkan. Belum ada niat untuk membaur atau menyanggah sedikit pun.

Nothing,” Sehun mengedik bahu, menepis tangan Chanyeol. “Aku hanya … entahlah, lebih baik tak usah kau hiraukan,”

Huh?” dan kini, Val menyuarakan rasa keheranannya, ditambah dengan kerutan samar di keningnya. “Kau aneh, Hun. Bicaralah, kami akan mendengarkan.” Katanya, mencondongkan tubuh di atas meja belajar ke arah Sehun yang duduk berseberangan dengannya, menatapnya lekat-lekat untuk mencari kiranya apa yang tengah Sehun sembunyikan di balik sepasang netra gelap miliknya.

“Kalau aku mengatakannya, maukah kau mendengarkan dan memercayaiku?” Sehun memiringkan kepalanya ke kiri, bersitatap dengan Val adalah yang ia lakukan kini. Sementara Chanyeol yang duduk di antara keduanya terdengar mengembuskan napas pelan. Berusaha untuk tenang kemudian menepuk lagi bahu Sehun, seolah mengerti obrolan apa yang akan Sehun lakukan bersama dengan Val.

Yeah, it looks like this is the right time for you to tell the truth to Val.” Chanyeol berbicara sembari bangkit berdiri, menatap bergantian pada Val yang kebingungan serta Sehun yang terlihat tenang.

What do you mean, Chanyeol?” Val tak tahan untuk menaikkan sebelah alisnya, meminta penjelasan. Tapi Chanyeol hanya memberinya cengiran lebar bahkan menepuk sayang puncak kepala gadis itu.

I’m sorry, but I’m in business with my girlfriend, Reyna.” Sahut Chanyeol, mengedikkan dagunya ke arah luar pintu, mengingat dari tempat mereka duduk, mereka dapat melihat ambang pintu kelas 2-1 di seberang kelas mereka.

Lalu, Chanyeol benar-benar pergi. Meninggalkan Sehun dan Val di dalam kelas.

Sepeninggal laki-laki bertelinga lebar itu, mereka berdua kini bersitatap. Val bingung harus berbuat apa sekarang, sehingga ia hanya menyandarkan punggungnya pada kursi dan memicingkan mata. “It’s not funny, anyway. So, let’s just say what you wanna say to me,” ujarnya, sedikit kesal. Dan bukan Oh Sehun namanya kalau laki-laki itu tidak mempertahankan gurat datar namun bercampur dengan senyuman kecil yang, bahkan Val sendiri tak bisa membaca kategori dari ekspresi yang diberikan Sehun.

Promise me, you won’t be mad or leave me, if I tell this to you,” Sehun menyahut. Dan, siapa sangka kalau ternyata nada bicara seorang Oh Sehun berubah menjadi sedikit menghangat? Well, sebenarnya apa yang terjadi pada temannya ini?

“Oke, let me know,” Val mempersilakan Sehun untuk segera berbicara. Agaknya Val masih belum mengetahui apa yang ingin Sehun katakan. Sehingga kini, ia hanya bisa bersabar dan menunggu sang lelaki bersuara.

Ada keheningan menyambangi selama lima detik lamanya, membiarkan banyak konversasi yang terjalin dari teman-teman sekelas mereka terdengar. Namun Val tak mempedulikannya. Yang ia pikirkan sekarang adalah Oh Sehun beserta ungkapannya yang belum terdengar.

Tak lama kemudian, Sehun terlihat membuka celah bibirnya, hendak berbicara. Membuat Val menaruh atensi sepenuhnya pada Sehun yang mengatakan,

“Val, I think … I like you,”

Ungkapan itu mulai memengaruhi kerja jantungnya, saat ini.

Terlebih, sehun mengatakannya disertai roman wajahnya yang begitu … hangat. Berbeda jauh dengan romannya yang sebelumnya. Val mengerjapkan matanya berkali-kali, memastikan penglihatannya sendiri.

“Sehun-a, kaubilang apa?” tanya Val, dengan nada bicaranya yang sungguh penuh ketidakpercayaan.

“Aku menyukaimu,” Sehun mengembuskan napasnya dalam sekali sentakan. “Sudah cukup lama aku menyukaimu, Valleren Kim.” Katanya, berusaha meyakinkan pendengaran sang gadis.

Oh, sial! Bisik Val ketika dirasa jantungnya semakin berdebar keras.

Val belum merespons. Tidak sampai gadis itu bangkit dari kursinya, menatap Sehun dengan pandangan yang sukar diartikan kemudian melangkah meninggalkan kelas tanpa mengacuhkan panggilan Sehun padanya.

“Hei, Val! Tunggu sebentar!” Sehun mengikuti langkah Val di depannya. Gadis itu tampak terburu-buru menuruni anak tangga, terus mengabaikan panggilan Sehun. Entahlah, Val sendiri tak mengerti mengapa ia bisa bersikap seperti ini. bahkan menggigiti bibir bawahnya keras-keras untuk menenangkan debaran jantungnya pun adalah hal yang ia lakukan pertama kali. Karena, omong-omong, Val baru mendengar pernyataan suka itu hanya dari Oh Sehun. Catat, hanya dari laki-laki berkulit putih pucat itu saja. Val belum pernah mendapatkan pernyataan cinta dari laki-laki lain, ataupun seseorang yang Val kagumi dalam diam.

“Vallerin Kim, kuharap kau tidak melupakan janjimu tadi untuk tidak marah dan meninggalkanku setelah aku mengatakannya!”

Gadis bersurai hitam legam sebahu itu menghentikan langkah cepatnya di tepian koridor dekat lapangan olahraga terbuka―dan saat ini ada beberapa siswa yang sedang bermain basket di sana.

Kedua bahunya naik-turun, mengatur irama napasnya yang tak beraturan. Begitu pun Sehun, ia berhenti dua meter di belakang Val. Menatap punggung mungil gadis itu sembari menebak bagaimana isi pikiran serta ekspresi wajahnya saat ini.

“Valleren Kim―”

I’m not mad at you, Sehun. I just feel … confused,” Val mendesahkan napas panjang seraya menengokkan wajahnya pada Sehun. Ia mendapati Sehun berdiri diam tanpa mengucap kata apa-apa, hanya memandangnya lekat.

“Tapi kenapa kau pergi begitu saja?”

“Sudah kukatakan bahwa aku―”

“AWAS!”

Rasanya, Val telah kehilangan separuh dari kesadarannya, maksudku … nyaris. Val terkejut bukan main. Maniknya membelalak lebar mendapati Sehun berdiri di dekatnya, dengan sebuah bola basket berwarna cokelat yang sukses menghantam telak belakang kepalanya.

“Se-Sehun-a …” semua mata memandang, membiarkan senyap menggelayuti sebelum suara-suara berisik kembali datang, seolah insiden terkena lemparan bola basket bukanlah sebuah masalah yang besar. Salah seorang pemain basket itu datang menghampiri Val untuk mengambil bolanya, yang segera Val beri makian beserta pelototan tajamnya, namun hanya ditanggapi laki-laki itu dengan cengiran yang teramat bodoh di mata Val. Laki-laki itu hanya menggumam kata maaf, sebelum ia melesat pergi dan kembali bermain bersama dengan teman-temannya.

Uh, Val, kepalaku sakit sekali!” Sehun mengusak kepalanya dengan tempo cepat, jangan lupakan ringisan tertahan yang menguar dari bibirnya. Kejadian itu tak pelak membuat Val turut mengusap bagian yang terasa sakit di kepala Sehun sembari memasang wajah cemas.

“Oh, Ya Tuhan, Sehun-a, maafkan aku …” Val mengerjap cepat. “Aku … aku tidak sadar kalau bola basketnya―”

It’s okay, Val,” Sehun terkekeh kecil, mengabaikan denyutan cukup keras yang ia rasakan. “Rasa pusingnya pasti bakal hilang dengan cepat,” lanjutnya kemudian.

“Tapi, Sehun―”

“Val, aku menyukaimu.” Sehun memotong ucapan gadis itu, pun membiarkannya mengusak belakangnya lamat-lamat. “Aku beneran menyukaimu dan aku ingin kau menjadi pacarku, kau tahu?”

“Sehun-a,” Val menghela napas panjang. “Kau sedang dalam kondisi seperti ini dan kau masih sempat mengatakan hal itu padaku?”

Anyway, my condition now is not important. I just want to hear your answer,” sahutnya, dengan tatapan terpaku pada gadis di hadapannya. Val hanya diam, membeku. “Please?

“Kau beneran gila, Oh Sehun.” Pada akhirnya, tawa ringan lolos dari bibir Val. Buru-buru ia melengos pergi begitu saja, tak mempedulikan lagi rasa sakit laki-laki itu.

“Hei, Valleren Kim!” panggilan Sehun menghentikan langkah Val lagi. “Setidaknya katakan sesuatu atau menjawab ucapanku tentang perasaanku barusan.”

Val melangkah lagi.

“Val! Coba tolong dengarkan perkataanku yang satu ini!” kedua kaki Sehun bergerak mendekat ke arah Val. Gadis itu mematung di tempatnya berdiri, hingga kini jarak di antara mereka tak lebih dari dua meter.

“Apa lagi?” tanya Val, membalikkan tubuh dan menatap Sehun kesal.

“Bagaimana kalau rasa terima kasihmu diganti dengan ungkapan ‘Aku menyukaimu juga, Oh Sehun’ dan ‘Ayo kita pacaran!’? Aku pasti akan senang sekali mendengarnya!”

Satu kekehan menguar dan hal itu menyebabkan semburat merah menjamah kedua pipi Val. Oh, ya ampun! Bisa, tidak, Sehun tak terus-terusan memicu debaran jantungnya yang begitu cepat serta berhenti membuat Val terlihat salah tingkah?

-oOo-

a/n :

  • Makasih buat Valleren Kim (Leaniakim on twitter) yang udah merikues fanfiksi di sini 🙂
  • Maaf karena aku terlalu lama menuhin rikuesan kamu dan hasilnya gak memuaskan 😦
  • Jangan lupa kasih feedback sesudah membaca, ya. Baik untuk perikues maupun yang gak sengaja baca ff ini :”)
  • Yang mau ngebetain juga boleh, kok :”)

Tertanda,

ShanShoo♥

Iklan

4 comments

  1. Pertama-tama aku mau bilang terimakasih pada kaka ihsan yang udah buatin ff request punya ku,ff nya keren sama seperti ke ingginan ku kalo sehun itu menyukai valleren walaupun agak pendek,dan juga di situ is chanyeol tak berperan banyak tapi aku suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s