Encourage Him


tumblr_nbdxmn7crx1tolspdo1_1280

-ShanShoo’s present

Namun Yugyeom belum menemukan presensi Vaye Brunella di antara banyaknya para pendukung yang lain.

-o-

Prev series : Vay | What’s Wrong with Me? | About the Rain and Something Unusual | Another Side | Say the Reason | Worry about Her? | Holding Smile | Are You Serious? | Approval


Kesempatan yang dinanti-nantikan Yugyeom sedari kemarin kini telah berhasil ia gapai. Kim Yugyeom tak pernah tahu dan tak mengira, kalau ternyata Choi Junhong masih mau memberinya kesempatan untuk bergabung dan mengikuti latihan selama sepekan. Yang sialnya, Yugyeom baru mengetahui bahwa kompetisi basket antarsekolah telah di depan mata, dan Yugyeom tak boleh mengulur waktunya lagi.

“Tapi kau beneran akan mengikuti kompetisinya, kan?” tanya Junhong, begitu netranya menelisik kesungguhan dalam diri cowok dengan tinggi yang seimbang dengannya.

Yeah,” jawab Yugyeom, mantap, pun mengangguk beberapa kali. “Aku tak akan menyiakan kesempatan ini,” katanya lagi.

“Baiklah,” tahu-tahu saja, Choi Junhong mendesah lega. Akhirnya salah satu anggota tim basket kebanggaannya kembali ke jalan yang benar. Andai Yugyeom tetap bersikukuh mempertahankan keputusannya untuk tak mengikuti kompetisi berharga itu, mungkin tamatlah riwayat tim basket kebanggaan sekolah mereka. Dan ia tak mau mendapat teguran dari sang pelatih, berhubung Junhong adalah kapten dari timnya.

Junhong melirik jam tangannya sekilas, “Pukul empat sore nanti kita mulai latihannya,”

Yugyeom tak menyahut, ia hanya menatap sejenak manik Junhong sebelum mengangguk dan melenggang pergi meninggalkan seniornya menuju kelas. Junhong tak memprotes sikap itu, lagi pula, ia sudah cukup terbiasa dengan sikap serta ucapan Yugyeom yang terlampau singkat. Terkecuali pada keadaan tertentu, Yugyeom akan banyak berbicara.

-o-

“Waaaah, aku enggak nyangka kamu beneran kembali latihan!” Vay berseru senang, tak mempedulikan mimik Yugyeom yang sedikit terganggu karena kedua tangan cewek itu yang mengguncang bahunya, cepat. Tak hanya itu, Vay juga berlaku tak acuh pada setiap tatapan teman sekelasnya. Karena baginya, keinginan Yugyeom untuk kembali latihan adalah titik fokusnya saat ini.

“Bisa lepas?” dua kata, dan itu membuat Vay lekas melepaskan tangannya dari bahu sang cowok. Namun senyum lebar masih terpatri di wajahnya.

“Tenang saja, aku enggak bakal lupa untuk selalu mendukungmu!” kata Vay, antusias. “Jam empat sore, kan?”

Yugyeom mengangguk.

“Oke, kalau begitu aku mau meminta ijin dulu pada ibuku.” Sebelah tangan Vay merogoh saku kemejanya dan mengeluarkan ponselnya. Jari-jemarinya bergerak dengan lincah, mengetik sesuatu di sana tanpa menanggalkan senyum bahagianya. Yugyeom mendapati adanya semburat merah menjamah pipi cewek itu. Apa mungkin … Vay beneran merasa senang lantaran keputusannya itu? Tapi, kenapa? Bahkan Yugyeom selaku sang tokoh utama dalam acara pertandingannya saja tidak terlihat seantusias Vay.

“Ibu sudah mengijinkanku,” Vay mendongak dan ia bersitatap dengan Yugyeom. “Jadi, pulang terlambat pun enggak apa-apa.” Katanya, menjelaskan.

“Mm,” Yugyeom hanya menggumam singkat, sebelum atensi kembali terfokus pada buku pelajaran yang ada di hadapannya.

Kelihatannya, sih, Yugyeom begitu serius menekuni bukunya. Tapi, asal kau tahu saja, jantungnya itu berdetak dua kali lebih cepat, bahkan Yugyeom memprediksikan kalau jantungnya akan terlepas dari soketnya, dan ia akan merasakan bagaimana tak enaknya mati muda.

-o-

Tanpa disadari, waktu bergulir begitu cepat hingga kini jarum jam menunjuk tepat di angka empat sore.

Tiga puluh menit sebelumnya, Yugyeom telah mengganti seragam sekolahnya dengan kaus tim basket. Mendapat beberapa tepuk semangat di bahunya dari rekan-rekannya seraya tersenyum bahagia, sama seperti Junhong karena Yugyeom kembali ke posisinya semula. Setelah itu, ia dan keempat pemain lainnya melakukan pemanasan terlebih dulu di dalam ruang ganti pakaian, di mana di setiap sudutnya terdapat banyak loker milik para pemain.

Beberapa menit kemudian, mereka berkumpul, menyatukan sebelah telapak mereka di tengah-tengah, lalu Junhong berbicara, “Semoga latihan kita hari ini berjalan dengan lancar, dan …” ia berdeham sejenak, “semoga kita bisa mengalahkan tim basket lawan,”

Mereka pun bersorak penuh semangat, tak terkecuali Si Pangeran Dingin Kim Yugyeom, meski terlihat ragu namun ia tetap melakukannya.

Derap langkah memantul pada setiap sudut ruangan, tak ada siapapun lagi di sana sampai sang anggota terakhir, Kim Yugyeom, menutup pintu ruangan sebelum berbaur melangkah bersama yang lainnya.

-o-

Dua langkah begitu Yugyeom memasuki area lapangan, dan ia sudah dikejutkan dengan berbagai macam kebisingan serta sorak-sorai semangat dari siswa dan siswi lain di tepian lapangan. Yugyeom nyaris kehilangan keseimbangan―yang syukurnya bisa ia kendalikan―begitu maniknya mendapati ada banyak sekali banner bertuliskan ‘Semangat, Kim Yugyeom! Semangat untuk tim basket sekolah!’ yang mampu menumbuhkan semangat membara baginya. Yugyeom tersenyum kecil, sementara pelatihnya meniup peluit dan menyuruh seluruh anggota tim untuk berkumpul, memberikan pengarahan yang diakhiri dengan doa sebelum memulai latihannya.

Lalu, kegiatan latihan basket pun dimulai.

Namun Yugyeom belum menemukan presensi Vaye Brunella di antara banyaknya para pendukung yang lain. Hal itu membuat Yugyeom seakan-akan kehilangan semangatnya. Ia terlihat seperti orang bodoh yang hanya mengikuti teman satu grupnya ke sana kemari untuk mendapatkan bola. Tidak seperti Kim Yugyeom terdahulu, yang lebih tangkas dan lebih lihai untuk menggiring bola dan memasukkannya ke dalam ring. Sang pelatih yang berdiri di tepian garis lapangan terus menguarkan lontaran amarah pada cowok itu, menyuruhnya untuk mengambil operan bola dari anggotanya.

Yugyeom nyaris menggeram frustasi. Ia marah pada dirinya sendiri yang kurang memfokuskan diri dalam latihannya. Ia takut gagal, ia takut tak bisa mengikuti kompetisi itu. Ia takut …

“Kim Yugyeom! Semangat! Ayo! Semangat! Semangat!”

Ia takut kehilangan presensi seorang Vaye Brunella.

Kepalanya buru-buru mencari sumber suara yang amat dikenalnya itu. Maniknya terus memindai seluruh penyemangat di balik sekat transparan yang melingkupi lapangan agar bolanya tidak memantul jauh dan mendarat di tempat yang tidak seharusnya. Lalu, ketika Yugyeom sampai di area kursi penonton sebelah selatan, tepat di belakangnya, ia berhasil menemukan sosok itu. Sosok yang telah berjanji untuk terus menyemangatinya hingga ke titik kompetisi.

Dia, cewek itu, Vaye Brunella. Dengan peluh bercucuran, senyuman lebar di tengah gurat kelelahan yang kentara di wajahnya, mulai mengangkat tinggi-tinggi banner bertuliskan ‘Semangat, Kim Yugyeom! Aku akan terus mendukungmu dan yang lainnya!’ dengan spidol berwarna biru dan dihiasi beragam emotikon menyenangkan yang sanggup menaikkan semangat Yugyeom lagi.

“Ayo Yugyeom! Kau pasti bisa! Semangaat!”

Maka, ketika rasa semangat disertai rasa hangat yang menggelenyar di dalam hatinya, Yugyeom mulai fokus bermain. Maniknya awas mengikuti pergerakan bola, kedua kakinya dengan lincah bergerak di antara anggota timnya, meminta sang kawan untuk mengoper bola padanya, kemudian … dengan sekali gerakan tanpa keraguan, Yugyeom melakukan posisi jump shoot, di mana tubuhnya mulai meloncat tinggi dan segera memasukkan bolanya ke dalam ring basket. Dan … he can do it! Bolanya masuk tanpa berputar mengelilingi tepian ring terlebih dulu.

Sorak-sorai kian tak terbendung. Seluruh siswa memuji kelihaian Yugyeom dalam permainan kali ini, meski sebelumnya Yugyeom juga tak pernah absen membuat semuanya tersanjung.

Tak terkecuali Vay. Ia tak kuasa menahan bahagia yang meletup-letup dalam dada serta ribuan kupu-kupu yang menggelitik perutnya.

“Kau berhasil, Gyeom! Kau berhasil!” teriak Vay sekeras mungkin, meski ia merasa percuma karena teriakannya berhasil teredam oleh teriakan yang menggema di seluruh sudut.

-o-

“Jadi, bisa kauberikan alasannya sekarang, Nona?”

Satu desahan terkuar, mengiringi Vay yang hendak melontar sahutan. Namun cewek itu mengurungkan niatnya. Ia malah menggigiti bibir bawahnya, sementara Yugyeom yang duduk di sampingnya terus menatapnya lekat.

“Kau … enggak mau minum dulu minumannya?” Vay berusaha mengalihkan pembicaraan dengan menunjuk botol minuman yang beberapa detik lalu ia sodorkan pada Yugyeom. Berhubung jam istirahat yang diberikan cukup panjang, sehingga Yugyeom bisa beristirahat dan menghampiri Vay untuk menanyakan perihal keterlambatannya tadi.

“Jangan harap kau bisa mengalihkan pembicaraan,” kata Yugyeom, membuka tutup botol lalu meneguk isinya beberapa kali. “Ayo, katakan,”

Vay menundukkan kepala. Enggan untuk bersitatap dengan Yugyeom lebih lama lagi. Jantungnya nyaris terlepas dari soketnya kalau Vay tak segera bersuara, “Aku … pulang dulu ke rumah karena lupa membawa banner untuk menyemangatimu.” Ujarnya, pelan. Yugyeom lekas mendekatkan telinganya ke wajah Vay agar ia bisa mendengar lebih jelas lagi. Namun yang dilakukan Vay adalah menjauhkan wajahnya karena terkejut. Debaran jantungnya sungguh tak dapat ia kendalikan.

“Aku enggak mendengarnya, Vay,” jelas Yugyeom, bermaksud agar Vay tidak salah paham.

“O-oh …” Vay terkekeh malu. “Aku lupa bawa banner,” ia mengulang perkataannya, seraya berharap Yugyeom bisa mendengarnya dalam jarak sedekat ini.

“Mmm, jadi―”

“Di sini kau rupanya!” Junhong merangsek duduk di tengah-tengah Vay dan Yugyeom. Ia lekas merangkul bahu cowok jangkung itu tanpa menanggalkan senyuman bahagianya. “Aku senang kau bisa memasukkan bolanya tanpa tergesa-gesa, Gyeom.” Kata Junhong, tak mengacuhkan ketidaknyamanan yang kentara di wajah sang lawan bicara.

“O-oke, Senior Choi, tapi, tak bisakah kau melepaskan rangkulanmu ini?”

“Hanya ketika kau berhenti memanggilku Senior Choi,” sahut Junhong, kesal. Ia menerima anggukan mengerti dari Yugyeom dan segera melepas rangkulannya. “Tapi, omong-omong, kenapa kau tadi terlihat gugup sekali? Kau hampir saja dikeluarkan dari daftar anggota yang mengikuti kompetisi,”

Vay membelalakkan matanya mendengar ucapan Junhong. Yugyeom menyadari hal itu, dan ia lekas menyahut, “Itu karena … karena aku belum terbiasa lagi untuk bermain, Hyung,” katanya, berusaha semaksimal mungkin untuk menghilangkan keterkejutan di wajah Vay yang duduk di belakang Junhong.

“Oh, ya?” Junhong menjungkitkan kedua alisnya, tak percaya. “Sejak kapan kau terlihat selemah itu, eh? Bukannya kau selalu menyangkal kalau aku berkata seperti itu padamu?”

Oke, kini Yugyeom tak bisa mencari kalimat lain yang setidaknya bisa menghentikan rasa penasaran di paras Vay.

“Jelaskanlah dengan sejelas-jelasnya!” perintah Junhong, tak tanggung-tanggung. Maniknya menatap Yugyeom, memicing. Menunggu sang lawan bicara untuk segera mengutarakan alasannya.

“Itu karena …” tanpa sadar, Yugyeom menahan napas, melirik pada Vay lalu berbicara, tanpa sadar pula, “karena aku menunggu kehadirannya.”

Sepertinya, Yugyeom telah berhasil menghilangkan rasa penasaran Vay. Karena ucapannya itulah;

.

.

.

.

Vay tak mampu menyembunyikan semburat merah di kedua pipinya, serta debaran jantung sang cewek yang kian bertalu cepat.

-oOo-

Iklan

7 comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s