Falter


SZ

-ShanShoo’s present

Kim Seolhyun tak pernah merasa setakut ini sebelumnya. Tubuhnya bergemetar hebat, melambungkan rasa cemas dan takutnya sampai ke ubun-ubun, sementara kedua kakinya tak mampu menopang berat tubuhnya sendiri.

Kalaupun ia tahu akan mati sekarang, ia pasrah. Hanya saja Seolhyun tak ingin mati secara tak layak, dan di tangan yang tak selayaknya pula.

“Zico, kenapa kau hanya diam saja? Kenapa kau tak membunuhnya sekarang?! Apa kau ingin gadis ini melaporkan kita ke polisi?” bahkan suara berat dan tajam milik seorang lelaki yang berdiri tegak di samping lelaki yang memandang sadis ke arahnya pun, seakan-akan menghunus dadanya begitu keras. Seolhyun yakin sekali kalau jiwanya sudah tak berada di dalam tubuhnya lagi.

“Tunggu,” seseorang bernama Zico, dengan penampilan yang begitu menyeramkan, berbalut jas kebesaran serta kerahnya yang dibiarkan berdiri itu lantas berjongkok, menyejajarkan wajahnya dengan paras ketakutan milik Seolhyun, seolah mengajak gadis itu untuk segera ikut ke neraka bersamanya.

Di tengah keremangan serta rembulan yang mengintip di balik awan kelabu, Seolhyun bergidik ngeri, sekaligus merasa bahwa tatapan yang diberikan sosok Zico tak mengancam nyawanya sama sekali. Entahlah, dengan bodohnya perasaan itu datang begitu saja sehingga Seolhyun sempat berpikir bahwa ia benar-benar telah sakit jiwa, membiarkan dua orang penjahat di hadapannya menghujamnya dengan tatapan mematikan yang bisa saja akan membunuhnya sekarang juga.

“Apa yang kauinginkan, huh?!” bentak Seolhyun, dengan suara parau yang kentara beserta air matanya yang berhasil lolos.

“Nona, kau tentu tak akan melaporkan kami ke polisi, bukan?” suara Zico tak berbeda jauh dengan suara milik lelaki yang berdiri di belakangnya. Manik Seolhyun mengerjap ragu, berusaha untuk memperjelas penglihatannya demi menilik setiap inci wajah sang lawan bicara.

I don’t wanna to kill you, anyway. But, you have to quite and forget this moment. Or I will kill you now, just keep my word, My Lady.” Maka kini, setelah Seolhyun sanggup melihat segalanya dengan jelas, ia telah menangkap senyum asimetris yang sarat akan hasrat untuk membunuh. Seolhyun tertegun, sebagian besar jiwanya telah lenyap dihempas badai besar. Membiarkan peluh bercucuran, membasahi wajah cantiknya.

I’ll take your phone and … your money because I need both of them.” Tanpa disadari, Zico telah ‘mengambil’ ponsel serta uang yang ada di dalam tas tangan Seolhyun. Setelahnya, lelaki berperawakan atletis itu bangkit berdiri, mengantongi dua benda itu ke saku jasnya, kemudian, “Take care, and … maybe we can meet again, in the other time.” Lanjutnya, tak mengacuhkan ekspresi kekagetan milik sang korban perampokannya. Namun sejujurnya, ia tak menyukai kekehan jahat rekan di sisinya itu. Rasanya, ia ingin meninjunya dan melemparnya hingga ke planet Saturnus.

My eyes on you, Babe,” ini adalah suara milik sang rekannya. Seringaian menyeramkannya tercetak, kontras dengan luka sabetan kering yang membentang dari sudut bibir bagian kanan hingga ke sudut mata. Seolhyun kembali bergidik ngeri, ia tak mampu berkata apa pun selagi Zico masih memandangnya dalam diam.

Come on, we have to go now,” Zico menepuk dada bidang sang rekan dengan punggung tangannya, sebelum ia berbalik badan, meninggalkan Seolhyun dengan kondisi cukup mengenaskan di antara dinding-dinding batu bata di kedua sisinya. Kegelapan serta merta membaur, tatkala Zico dan lelaki itu sama-sama berjalan menjauhinya.

Seolhyun tahu, nyawanya selamat. Tapi ia tak bisa menjamin kalau hidupnya akan panjang seperti keinginannya. Hanya saja, bayang-bayang akan senyuman asimetris milik Zico mulai berputar-putar di kepalanya.

Oh, ini salah, tentu. Seolhyun tak boleh memikirkan senyuman itu atau ia akan benar-benar dalam bahaya.

Maka, setelah keadaan hening terasa kian mengintimidasi, Seolhyun lekas bangkit berdiri dengan lutut bergetar hebat, masih melekat dalam ingatannya bagaimana penjahat itu merampas dua barang berharganya dengan cara halus, meski awalnya Zico menyeretnya secara sadis ke antara dua bangunan kosong yang mengapitnya itu, seraya menekan ujung pisau yang tajam ke lehernya.

Oke, sekali lagi, Seolhyun tak boleh jatuh dan terperangkap ke dalam senyuman asimetris itu, atau ia akan mati, bahkan meski Zico tak menyentuhnya barang sejengkal pun.

-oOo-

Cuma iseng aja bikin fic tentang mereka berdua gegara ada rumor kalo mereka ketahuan lagi kencan. Entahlah benar atau enggaknya, tapi aku merasa asyik-asyik aja lihat mereka berdua-duaan :””)

Mind to drop some review then? :””)

Iklan

6 comments

  1. uri Seolhyun sama Zico? Zico Block B itu kan ya?
    ini si Seol tersepona sama senyumnya penjahat kah? sadar mbak, dia udah ngerampas barangmu :v /komen macam apa ini-_-

    1. IYA IH IYAAA MBAK SEOLHYUN SAMA ZICO BLOCK B, ENGGAK NYANGKA BGT YALORD T.T
      Mungkin senyumnya abang zico telah mengalihkan dunianya, barang berharga tidak seberapa(?) /dibalang

  2. Waw Zico jadi perampok 😂 Dan what the ? Seolhyun jatuh cinta sama perampok ? Gampang banget sih jatuh cintanya :v

    Jadi kesimpulanya Zico, tidak hanya mencuri handphone dan uang Seolhyun, tapi hatinya juga 😂😂 Eh iya nggak ?

  3. kadang mah cinta memang begitu. meskipun dia orangnya jahat, pasti rasa cinta itu bisa aja datang, walaupun kita membencinya. cinta dan takdir memang sangat sulit untuk ditebak. tidak memangdang usia, wajah, kelakuan atau hal mendasar lainnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s