The Miracle in Our Life ― Chapter 8


themiracle

ShanShoos Present

 

.

Prev story : [Prolog] [Chapter 1 : Tell Your Wish!] [Chapter 2 : Pretend] [Chapter 3 : Complicated] [Chapter 4 : Something and Someone] [Chapter 5 : When Tears are Falling] [Chapter 6 : What is the Problem?] [Chapter 7 : The Big Change?]

.

.

― Chapter 8 : There’s a Longing and Confession

 


Reyna merasa ada yang aneh dengan satu dari kedua kakaknya saat ini. Biasanya, salah seorang kakak laki-lakinya itu sering berperilaku tak acuh dan sering membuatnya mati-matian menahan kesal dan amarah. Reyna hanya tak ingin ia terus-menerus memendam perasaan itu hingga tensian darahnya meningkat drastis. Namun apa daya, semua sikap yang diberikan sang kakak padanya seolah menegaskan bahwa laki-laki itu benar-benar tak menyukai Reyna sama sekali. Bahkan mungkin, ia ingin Reyna lenyap saja dari muka bumi kalau Reyna sudah tak sanggup untuk tinggal bersamanya lagi.

Dan satu hal yang membuat kening Reyna mengernyit dalam adalah, ketika Oh Sehun, salah satu kakak laki-laki yang ia maksud, membuat perubahan besar atas sikapnya. Sebenarnya Reyna lebih nyaman menyebut perubahan besar itu sebagai sebuah mimpi yang tak akan pernah terkabulkan sampai kapan pun. Gadis bersurai kecokelatan itu juga tak pernah menginginkan perubahaan dalam diri Sehun benar-benar nyata untuknya. Tapi tetap saja, Reyna tak dapat mengelak dari kenyataan, sekalipun ia masih meragu akan perubahan itu.

Tentang pembelaannya terhadap penindasan yang dilakukan Song Miyeon terhadap Reyna, tentang kekhawatiran yang sedikit banyak muncul ke permukaan dan tampak di wajah Sehun, tentang tingkahnya yang tak terlalu menjengkelkan, meski terkadang Reyna tetap merasakan bahwa Oh Sehun adalah laki-laki yang akan tetap ia benci hanya dengan menatapnya dengan mata memicing tajam.

Entahlah, Reyna tak bisa berpikir dengan baik, sekarang. Lagi pula, anggapan mengenai perubahan itu belum benar dan tak pasti. Reyna yakin, ini hanyalah sebuah delusinya saja, di mana suatu saat nanti Sehun akan berubah baik padanya dan menjadi kakak yang akan selalu melindungi adiknya, tak akan pernah terwujud. Meski Reyna memohon pada Tuhan untuk hal yang satu itu.

Baiklah, kalau begitu, ia tak perlu memikirkan hal ini berlama-lama. Ia harus segera pergi tidur agar esok hari ia tak melihat lingkar hitam di bawah matanya saat bercermin nanti.

-o-

Malam hari menjelang dan Reyna sama sekali tak bisa memejamkan mata untuk beristirahat. Tidak seperti biasanya, di saat ia akan menyambut hari libur esok hari, Reyna tetap akan pergi tidur tepat pukul sembilan malam. Namun malam ini merupakan malam pengecualian. Sang gadis tetap terjaga dan memilih untuk mendudukkan diri seraya memeluk tubuhnya dengan selimut tebal.

Sebenarnya bukan tanpa alasan pula ia tak bisa tidur seperti ini, bukan karena ia kembali memikirkan perihal perbedaan sikap milik Oh Sehun yang ditunjukkan padanya. Menggigiti bibir bawah pun bukanlah hal yang sering ia lakukan, terkecuali kalau ia sedang menahan tangis yang akan membuncah kapan saja. Seperti saat ini.

Dan selalu ada alasan di balik tangisan tertahannya, yaitu;

Reyna merindukan suasana panti asuhan.

Sungguh demi apa pun, tak pernah Reyna memikirkan segala hal tentang panti asuhan berikut dengan para penghuninya sampai ia merasakan dadanya sesak teramat dalam. Hatinya terus berteriak menyuarakan segala kerinduan yang dimiliki, berharap meski dengan cara itu, semua penghuni panti asuhan tempat ia tinggal kala itu bisa mendengar. Peluhnya berhasil membanjiri wajah serta helaian rambutnya, namun Reyna tak peduli. Ia hanya terlalu fokus pada rasa rindunya dan keinginannya untuk bertemu mereka.

Melirik jam dinding, Reyna mendapati waktu telah menunjukkan pukul sebelas malam. Ah, Reyna yakin, Baekhyun belum tidur saat ini. Mengingat kebiasaan lelaki berwajah menggemaskan itu tak pernah memejamkan matanya sebelum waktu menyentuh angka satu dini hari. Maka, yang dilakukan Reyna sekarang adalah pergi mengendap keluar dari kamarnya, karena ia yakin kalau seluruh keluarganya—minus Baekhyun―telah pergi mengunjungi alam mimpi dengan damai. Suasana senyap di luar kamarnya seakan-akan tak mengijinkan untuk membuat kebisingan meski hanya dalam hitungan detik.

Tujuannya saat ini adalah kamar Baekhyun yang ternyata, lampu kamarnya masih menyala. Dan itu tandanya, prediksi Reyna tak pernah meleset. Beruntung kamar kakak kandungnya itu bersebelahan dengannya, sehingga Reyna tak perlu repot-repot menahan diri agar tidak bertindak gegabah dan membuat keributan, menimbulkan kernyitan samar dari dahi seluruh keluarganya dan berujung keluar kamar untuk mengetahui apa yang terjadi.

Dua ketukan tanpa asa namun dengan intensitas suara rendah dan Reyna berbisik, “Oppa, apa kau sudah tidur?” sebenarnya Reyna tak perlu menguarkan pertanyaan retoris. Karena tentu saja, kakaknya akan segera menyahut dan,

“Reyna-ya, apa yang kaulakukan di sini? Kenapa kau belum tidur?”

Well, hanya butuh dua detik sebelum akhirnya Baekhyun menghampiri dan membukakan pintu untuknya.

Reyna memberinya cengiran lebar hingga kedua pipinya tertarik sempurna ke atas. “Aku tak bisa tidur,” katanya, melesat memasuki kamar Baekhyun begitu saja tanpa mendengarkan apa jawaban yang akan terlontar dari bibir sang kakak.

Tubuh kurus berbalut piyama kedodoran itu kini terhempas dan mulai merasa hangat di atas tempat tidur Baekhyun. Reyna menatap langit-langit kamar dengan wajah merona merah, menghangat. Ini adalah kali pertamanya Reyna bertandang ke kamar Baekhyun di malam hari begini dan merasakan betapa nyamannya tempat tidur yang sang kakak miliki. Baekhyun tak menyuarakan protes atau kekesalan. Laki-laki itu hanya menatap sang adik dari ambang pintu kamar yang terbuka setengahnya seraya menggelengkan kepala dan tersenyum kecil.

“Kau mau pindah tidur ke kamarku, eh?” tanya Baekhyun, kemudian menutup pintunya sebelum melangkah dan duduk di kursi belajarnya. Reyna menundukkan kepala ke arah sang kakak yang duduk tepat sejajar dengan kakinya yang tergantung dan menapak ke lantai. Ia mendapati kakaknya tengah membaca sebuah buku, entah apa itu, yang mungkin sedari tadi Baekhyun lakukan.

“Sedang apa?” Reyna tak menjawab pertanyaan kakaknya, ia malah memberikan pertanyaan balik sembari mendudukkan diri dan memeluk lutut. “Kau sibuk belajar di malam hari?”

Baekhyun menoleh, mereka bersitatap selama sejenak sampai akhirnya Baekhyun kembali fokus pada buku di hadapannya. “Tidak, aku hanya sedang bosan. Makanya aku membaca buku.”

What the …” Reyna tertawa sarkastis. Abaikan roman Baekhyun yang merasa terganggu karena tawanya itu. “You must be kidding me,” katanya melanjutkan.

It’s my new hobby, by the way,” Baekhyun menyahuti, dengan kedua mata masih terpancang pada setiap deretan kalimat pada lembaran buku, sementara bibirnya dengan konsisten menjawab setiap perkataan Reyna tanpa cela.

“Ayolah, Oppa. Tidak asyik untuk mengobrol jika matamu terfokus pada buku itu.” Sang gadis mendesah kecewa. Kedua tangannya bergerak meraih bantal empuk sang kakak dan memeluknya di atas kedua kakinya yang bersila. “Lagi pula, aku ingin mengatakan sesuatu padamu,”

Maniknya berhenti membaca begitu Baekhyun mendengar ocehan adiknya yang terlampau pelan. Kepalanya menoleh dan mendapati adiknya mengerucutkan bibir, dengan sepasang matanya turun memerhatikan kakinya.

“Kau ingin mengatakan apa? Katakan saja, aku akan mendengarkan.”

“Demi Tuhan, Baek! Sudah kukatakan padamu bahwa aku ingin kau memerhatikanku, bukan buku itu!” kali ini Reyna tak dapat menyembunyikan kekesalannya lebih lama lagi. Atensinya terarah penuh pada sosok kakaknya. Picingan mata yang diberikan Reyna seakan-akan membuat Baekhyun tak dapat berkutik dan lebih memilih menuruti apa yang adiknya inginkan.

“Oke, oke. I’m sorry. Kalau begitu, bicaralah. Aku akan mendengarmu dan memerhatikanmu.” Kata Baekhyun begitu ia menutup buku yang ia baca, dan menggeserkannya ke tepian. Maniknya kini terpancang pada presensi Reyna yang masih merengutkan wajahnya karena kesal, seraya melipat kedua tangan di depan dada.

Ada jeda tiga detik sebelum Reyna menghirup napas dan menghelanya perlahan. Roman tak mengenakkan itu berubah sendu, dan entah sejak kapan air mata mulai menggantung di kedua pelupuk matanya.

“Aku merindukan panti asuhan,” Reyna berujar, pelan. Air matanya berhasil lolos begitu saja tanpa sanggup ia tahan. Peduli setan dengan hal itu, ia sama sekali tak memikirkan akan menjadi seperti apa rupanya nanti kalau ia terus menangis.

Baekhyun diam membeku di tempatnya. Belum ada respons yang terlontar, membiarkan keheningan terbuang dan tergantikan dengan isakan tangis milik Reyna yang menundukkan kepalanya dalam-dalam. Reyna terlihat mengeratkan dekapannya pada bantal Baekhyun, sedangkan laki-laki itu hanya bisa menatapnya sendu, diiringi dengan helaan napas panjang.

“Reyna-ya,” ia mulai beranjak dari kursi belajarnya, menghampiri Reyna dan duduk di sampingnya. Selagi Reyna menumpahkan air mata, Baekhyun dengan perlahan mengurungnya ke dalam pelukan hangat yang ia punya.

“Aku … aku merindukan ibu Kim, Seolhyun eonni, Vernon, Jimin dan …” Reyna sesenggukan, “Aku merindukan mereka semua.”

Baekhyun masih membiarkan Reyna untuk terus berbicara. Telapak tangannya dengan lembut mengusap punggung sang gadis, dan membiarkan Reyna meletakkan bantalnya ke tempat semula dan beralih memeluknya erat-erat. Sungguh, rasanya begitu nyaman bagi Reyna berada dalam pelukan sang kakak. Karena … oh, Reyna teramat benci mengakuinya, tapi ini adalah pelukan pertama yang ia dapatkan lagi dari Baekhyun setelah sekian lamanya mereka hanya saling berkontak fisik seperti mengacak rambut, menyentil dahi, atau apa pun yang bersifat candaan.

Oppa, apa kau … merindukan mereka juga?” dua detik setelahnya, Reyna mendongak demi menatap paras kakaknya. Baekhyun menunduk dan mereka bersitatap cukup lama sampai Baekhyun bersuara di tengah helaan napasnya yang menguar,

Yeah, aku merindukan mereka semua. Sudah lama, bukan, kita tidak bertemu dengan mereka?” seulas senyumnya terukir indah, Baekhyun lantas menaikkan sebelah tangan, bergerak untuk menyingkirkan helaian rambut yang menutupi wajah Reyna. “Aku merindukan mereka setiap hari.”

Ungkapan itu serta-merta menghadirkan kembali bulir bening dari pelupuk mata. Reyna tak bisa menahan rasa sakit dan rindu yang membuncah ini. Kedua tangannya kembali melingkar di pinggang Baekhyun, membenamkan wajahnya di dada bidang sang kakak hanya untuk meredam isak tangisnya.

“Kalau begitu, mengapa kita tak pergi mengunjungi mereka? Aku yakin, mereka juga merindukan kita berdua,” sahut Reyna penuh keyakinan, seakan Baekhyun tak boleh menggoyahkan keyakinan adiknya tersebut.

“Kau ingin pergi ke panti asuhan, maksudmu?” Baekhyun melepas pelukan, memberi jarak beberapa senti di antara mereka lalu melanjutkan, “Uh, bagaimana kalau salah satu dari mereka―”

“Telah diadopsi seperti kita, begitu?”

Baekhyun diam, namun setelahnya ia mengangguk membenarkan.

Maka, keantusiasan yang dimiliki gadis itu pupus sudah. Baekhyun tak lagi menemukan binar terang yang terpancang di sepasang manik Reyna. Oh, tentu, Baekhyun tak bermaksud membuat harapan adiknya terkikis. Ia hanya mengatakan kebenaran, meski sebenarnya ia sendiri tak sepenuhnya yakin dengan kebenarannya itu.

“Maaf, Rey, tapi kurasa―”

“Tapi kita belum mengetahuinya, Oppa,” kembali, Reyna menyahut dengan nada tegas. Telapak tangan terangkat dan mengusap kasar buliran bening di kedua pipinya. “Bagaimana kalau mereka ternyata masih berada di panti asuhan? Bagaimana kalau sebenarnya, mereka sedang menunggu kedatangan kita? Bagaimana kalau …” tapi sayang, Reyna tak dapat melanjutkan kalimatnya. Tidak, ketika Baekhyun membawa tubuh kurusnya ke dalam pelukan hangat itu lagi, seraya Baekhyun mengusap puncak kepalanya penuh pengertian.

I’m so sorry, Rey.” Baekhyun menghela napas pendek. “Maaf telah mengatakan hal yang belum pasti. Dan, ya, kuharap saudara-saudara kita di sana masih ada, sedang menunggu kedatangan kita untuk saling melepas rindu.” Katanya, sendu.

Um-hm,” pada akhirnya, Reyna mengangguk menyetujui ucapan Baekhyun. Bibirnya perlahan menyunggingkan senyum manis yang mampu mengobati rasa sakit di hatinya. Sementara Reyna melepas pelukan sang kakak, ia kembali berbicara, “Jadi, kapan kita akan pergi ke Panti Asuhan Byeolbi?”

-o-

Acara sarapan pagi di kediaman keluarga Oh tampaknya berjalan cukup lancar. Masih ada canda tawa yang terkuar dari bibir Baekhyun, membuat keluarganya tertawa renyah, terkecuali Sehun, tentu. Yah, Sehun memang tipikal manusia aneh, paling aneh yang pernah Reyna kenal. Karena walaupun Reyna mengikuti alur candaan yang Baekhyun buat, maniknya tak lepas memandangi sosok Sehun yang duduk berseberangan dengannya. Seraut wajah tampan berhiaskan rahangnya yang tegas pun tak dapat menutupi bagaimana mimiknya yang begitu datar. Ogah-ogahan menanggapi segala macam candaan milik Baekhyun.

Awalnya Reyna ingin menegur, atau setidaknya memberikan sapaan pada Oh Sehun. Tetapi ketika Baekhyun menyenggol rusuknya hanya agar Reyna ingin turut menertawakan leluconnya yang paling mengasyikkan, membuat Reyna lekas-lekas tertawa hambar, sementara maniknya masih tertuju pada Sehun―yang turut memberinya tatapan berupa ‘Hei, kau, kenapa kau menatapku seperti itu?’ sehingga akhirnya, Reyna membungkam bibir. Membeku seketika di tempatnya.

“Perutku sudah kenyang,” Sehun memulai pembicaraan yang tidak berhubungan dengan topik di pagi hari ini. Adalah Baekhyun yang menyadari bagaimana situasi sekarang. Dilihatnya Sehun yang tengah membersihkan permukaan bibirnya dengan tisu, sebelum beranjak meninggalkan ruang makan dan membiarkan keheningan menyapa setelahnya.

“Tapi dia baru makan satu roti panggang,” Baekhyun berujar, terdengar seperti gumaman untuk dirinya sendiri. Laki-laki itu hendak menyusul Sehun, kalau saja Reyna tak membuka topik pembicaraan baru,

“Ayah, Ibu. Baekhyun dan aku ingin pergi mengunjungi panti asuhan Byeolbi.”

Baekhyun menoleh menatap sisi wajah Reyna yang terlampau serius. Melupakan fakta kalau Sehun baru saja menghancurkan mood sarapan paginya karena tingkahnya itu. Baekhyun tak dapat berbicara apa pun, namun ia kembali duduk dengan tenang dan ikut berbaur ke dalam konversasi.

“Panti Asuhan Byeolbi?” ulang Daemin, agak terkejut saat Reyna membicarakan tentang panti asuhan, tempat mereka berdua membawa Baekhyun dan Reyna untuk diadopsi.

“Ya,” Reyna mengangguk tegas. “Lagi pula, sudah cukup lama aku dan Baekhyun oppa tidak pergi ke sana.” Katanya.

“Ah, benar.” Ini suara Sooyeon, ibu mereka. “Kalian pasti merindukan teman-teman di sana, kan?”

Kali ini Baekhyun dan Reyna mengangguk nyaris bersamaan.

“Ayah, Ibu. Hari ini kami ingin pergi ke sana, sepulang sekolah.”

Daemin tampak menimbang keputusan Baekhyun. Laki-laki paruh baya itu berdeham beberapa kali, menjernihkan tenggorokannya. Di sisi lain, Reyna mulai memperlihatkan seraut wajah penuh permohonan. Gadis itu hanya berharap kedua orang tuanya mengijinkan mereka untuk pergi ke sana meski hanya sebentar saja.

“Baiklah jika itu memang mau kalian berdua.” Suara Daemin menggema setelah beberapa detik keheningan mengisi. Entahlah, mendapati seraut wajah milik Reyna tadi benar-benar membuatnya lemah dan merasa kasihan. Karena memang benar kenyataannya, bahwa mereka sama sekali belum pergi mengunjungi panti asuhan setelah belasan tahunnya diadopsi. Terdengar kejam, memang. Maka mungkin, ini adalah saat yang tepat baginya untuk membayar kekejamannya, dengan membiarkan kedua anak angkatnya pergi ke panti asuhan.

Binar kebahagiaan itu tercetak kembali, menguarkan ratusan kupu-kupu yang bergejolak di dalam perutnya. Reyna mengembangkan senyuman, selagi pipinya merona merah karena hangat. “Terima kasih, Ayah, Ibu.” Ujarnya penuh syukur. Kemudian menoleh dan bersitatap dengan Baekhyun sebelum akhirnya, laki-laki itu membalas senyumannya.

-o-

Pembicaraan tentang Reyna dan Baekhyun yang akan berkunjung ke panti asuhan, turut membaur ke dalam pendengaran Sehun. Ya, Sehun mendengarnya dengan jelas. Karena setelah ia bangkit dari kursi makan, ia berhenti melangkah dan bersembunyi di balik dinding dekat ruangan dapur, sehingga tidak ada seorang pun dari anggota keluarganya yang tahu bahwa ia bersembunyi di sana.

Ditambah perbincangan seputar panti asuhan serta para penghuninya yang merupakan saudara semasa kecil mereka berdua kembali terjadi di dalam mobil. Yang tentu saja, Sehun semakin mengetahui dengan jelas perihal rencana keduanya. Bahkan paman yang sedang mengendalikan setir mobilnya dibuat tersenyum karena mendengar betapa riangnya Reyna berceloteh.

“Nona Reyna, apa saya perlu mengantarkan Nona dan Tuan Muda ke panti asuhan itu?” tanya paman Han sembari melirik sekilas Reyna ke kaca spion depan.

“Oh? Ya, tentu. Kau bisa mengantar kami, Paman.” Sahut Reyna sambil menegakkan posisi duduknya dan melongokkan kepalanya pada paman Han dari balik kursi kemudi. “Terima kasih,” lanjutnya, tersenyum kecil.

Maka, sepanjang perjalanan menuju ke sekolah, Sehun tak henti memikirkan pembicaraan itu. Bahkan sesekali ia melirik ke kaca spion depan, ke arah Reyna yang sedang bersenandung kecil sembari memerhatikan setiap pemandangan dari balik kaca mobil di sampingnya. Sehun tahu, Reyna merasa begitu bahagia sekarang. Mengingat ia sangat merindukan suasana panti asuhan dan akan segera menyambanginya. Entahlah, tahu-tahu saja perasaan bahagia itu tertular pada Sehun sehingga laki-laki itu terlihat berusaha menahan senyuman. Oh, tentu. Ia tak ingin Reyna tahu kalau ia sedang tersenyum sekarang. Kalau Reyna tahu, gadis itu pasti akan merubah mimiknya menjadi kembali datar tanpa sanggup Sehun cegah.

Eh, lagi pula, mengapa Sehun sempat berpikiran untuk mencegah mimik datar itu muncul di wajah Reyna? Oh, Ya Tuhan, Sehun sungguh tak mengerti dengan jalan pemikirannya.

-o-

Well, Chanyeol akui, ini adalah kali pertama ia berdiri di depan kelas 1-2, kelas yang dihuni oleh adik dari salah satu teman sekelasnya, Baekhyun―dan Sehun, tentu. Ia berdiri tepat di samping pintu masuk yang terbuka lebar, membiarkan decak penuh kagum dari siswi-siswi di sana berjejalan memasuki gendang telinganya. Baiklah, mungkin untuk sekarang Chanyeol akan berbaik hati pada mereka dengan cara memberi senyuman sebagai balasan atas segala pujian untuknya. Tidak seperti biasanya, yang hanya selalu bersikap acuh tak acuh, dan tersenyum seperlunya saja.

Tepat seperti apa yang telah kauperkirakan sebelumnya, Chanyeol berdiri di sana karena satu alasan; ia ingin menemui Oh Reyna.

Permasalahan semu yang ia dapati hari kemarin benar-benar membuat kepalanya pusing. Tiba-tiba Sehun datang padanya dan menyuruhnya untuk tidak bertemu dengan Reyna. Berkali-kali ia menanyakan apa alasannya, namun Sehun enggan menjawab. Khas Sehun sekali ketika laki-laki itu tak mau memperpanjang masalah apa pun yang bukan menjadi tanggung jawabnya. Terlebih, Chanyeol mengetahui satu kenyataan, tentang buruknya hubungan kakak beradik Oh itu. Tapi tetap saja, Chanyeol tak bisa menampik kalau ternyata Sehun berubah menjadi kakak yang sedikit peduli terhadap adiknya. Aneh, bukan?

Segala spekulasi yang berpendar dalam benaknya terpecah belah, ketika maniknya menangkap tiga sosok yang telah ia kenal. Senyum merekahnya pun terbentuk, membiarkan jerit penuh kagum semakin berdesakan di indera pendengaran. Well, mereka terkagum tak hanya karena melihat senyuman Chanyeol yang begitu menawan, melainkan karena mereka juga mendapati dua sosok tampan lainnya yang turut hadir memberikan kebahagiaan.

Sehun memerhatikan Chanyeol ketika ia memasuki area sekolah hingga sampai ia berdiri di hadapan laki-laki jangkung tersebut. Entahlah, ia merasakan perasaan aneh begitu tahu kalau Chanyeol ada di depan kelas Reyna. Bahkan satu pendapat telah mampir di otaknya. Ia yakin, Chanyeol berada di sana karena ingin menanyakan perihal kejadian tak terduga kemarin pada sosok adiknya ketimbang dirinya sendiri. Karena sebelumnya, Sehun sudah mengatakan bahwa ia enggan berbicara apa pun tentang masalah itu.

Ya, Chanyeol-a, sedang apa kau di sini?” tanya Baekhyun, membuka pembicaraan seraya merangkul bahu Chanyeol. “Jangan bilang kalau kau mau mengencani adikku di pagi hari.” Katanya, menebak. Sementara Reyna dan Sehun hanya diam, memandangi Baekhyun dan Chanyeol.

“Diamlah, Baek. Aku ingin berbicara dengan adikmu ini.” ujar Chanyeol, menepis tangan Baekhyun yang untungnya tak perlu memakai tenaga berlebih, ditambah satu kenyataan bahwa Baekhyun berada beberapa senti di bawah tinggi tubuhnya.

“Apa yang ingin kaubicarakan denganku?” ini suara Reyna. Namun, sungguh demi apa pun, ketiga orang lelaki di sekelilingnya sama sekali tak menduga kalau Reyna menguarkan nada cukup ramah dan bersahabat.

Benarkah seseorang yang bicara barusan adalah Reyna? Benarkah? Benarkah itu?

“Re-Reyna-ya,” Baekhyun menelan ludahnya susah payah. “Ka-kau … kenapa?”

“Aku? Aku kenapa memangnya?” gadis itu menunjuk dirinya sendiri, kebingungan. “Aku baik-baik saja kok.”

“Ta-tapi―”

Sunbae, kau ingin berbicara denganku, kan? Ayo kita pergi!” tak berselang lama, Reyna menarik tangan kanan Chanyeol, membawa laki-laki itu berlari kecil yang mengarah pada taman belakang sekolah, tempat kedua mereka bertemu setelah di perpustakaan kala itu.

Chanyeol dan Reyna tak lagi tertangkap pandang, namun desisan penuh iri masih terdengar jelas di telinga. Baekhyun tak mengerti apa yang telah terjadi pada adiknya itu, ia mengernyitkan keningnya samar, kemudian melirik ke samping, di mana Sehun masih berdiri di sana dalam diam.

Sikap diam yang dimiliki Sehun agaknya membuahkan satu kecurigaan pula bagi Baekhyun. Tahu-tahu pemikiran tentang Sehun yang ada hubungannya dengan semua ini melintas di benaknya.

“Sehun-a,” panggil Baekhyun.

Sehun lantas menoleh ke arahnya, kedua kakinya mulai melangkah, tak mengijinkan Baekhyun untuk bicara apa pun selagi itu berhubungan dengan Chanyeol dan Reyna.

“Hei, kau pasti tahu apa yang akan kutanyakan padamu, kan?”

Hening, Sehun tak menjawabnya sama sekali. Mengabaikan setiap celotehan Baekhyun yang berjalan di belakangnya.

“Sehun-a, aku sedang berbicara denganmu!”

“Sehun!”

“Oh Sehun!”

Satu sentakan keras dan itu berhasil menghentikan langkah Sehun yang telah sampai di ambang pintu kelas. Belum ada sahutan. Sehun memejamkan matanya sejenak. Ia ingin melontar kalimat, jika lidahnya tidak mendadak kelu, sementara keringat dingin mengucur perlahan di pelipisnya.

Itu, sampai Sehun berhasil mendapatkan suaranya kembali, “Jika kau ingin membicarakan tentang Reyna dan Chanyeol, lebih baik lupakan. Aku tak mau mengatakan apa-apa padamu,” Sehun merasa Baekhyun akan berbicara, maka ia melanjutkan, “Kalau kau ingin tahu masalahnya, tanyakan langsung pada Reyna, atau Chanyeol, atau siapa saja yang mengetahuinya.”

-o-

“Susu pisang?” Reyna menumpukan pandangan pada sekotak susu bergambar kartun pisang di permukaannya. Chanyeol menggoyangkan susu itu, menawarkan pada Reyna sembari tersenyum bahagia. Oh, akhirnya ia kembali bertatap muka dengan Reyna, sosok gadis yang entah sejak kapan selalu mengganggu konsetrasinya.

Reyna mendongak menatap Chanyeol, membalas senyuman itu lantas menerima kotak susu tersebut. “Terima kasih,” katanya, ketika Chanyeol turut duduk di sampingnya.

Chanyeol berdeham pelan, melirik jam tangannya yang menunjukkan bahwa bel masuk akan berdering dalam waktu lima belas menit lagi. “Reyna-ya,”

“Hm?” gumam Reyna di saat ia menyesap susu kotaknya dengan sedotan.

“Bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?”

“Tentu,” Reyna mengangguk. Berhubung suasana hatinya sedang baik, mengingat pulang sekolah nanti ia akan pergi mengunjungi panti asuhannya, ia membiarkan Chanyeol bertanya apa pun sesuka hatinya. Selama itu tidak menyinggung ke permasalahan pribadi yang tak ingin diutarakan.

“Ini tentang hari kemarin,” Chanyeol menoleh pada Reyna. “Apa yang terjadi sampai aku tak bisa bertemu denganmu?”

Maka, bagai sebuah kenyataan menghantamnya telak, Reyna membeku secepat kilat. Bibirnya berhenti menyesap minuman bervitamin itu, maniknya mengerjap satu-dua kali. Mendadak hatinya dirundung rasa pilu begitu Chanyeol kembali menanyakan hal yang sama.

“Aku bahkan tidak diperbolehkan Sehun untuk bertemu denganmu. Dan, kau tahu, bukan, kalau Sehun bukanlah tipe orang yang sering mengutarakan apa alasan yang membuatmu begitu?”

Separuh kebahagiaannya terkikis habis. Reyna sampai melupakan satu kenyataan itu. Di saat ia mengingat wajah memuakkan Song Miyeon, di saat lontaran kata tak mengenakkan dan ancaman terucap dari bibir gadis itu padanya, juga ketika Miyeon tanpa asa memperlakukannya kasar. Penyebab sikap gadis itu, tak lain dan tak bukan adalah karena Chanyeol. Laki-laki yang kini masih menatapnya penuh penasaran yang duduk bersebelahan dengannya.

“Reyna-ya?” Chanyeol memanggil. “Kenapa kau diam saja? Kau tidak apa-apa, kan? Atau … kau juga tak mau menjelaskannya padaku?”

Bodoh! Reyna benar-benar bodoh! Bagaimana bisa Reyna menenggelamkan peringatan besar di keningnya untuk tak mendekati Chanyeol setelah kebahagiaan akan bayangan panti asuhan yang hendak disambanginya mencuat ke permukaan? Bagaimana bisa Reyna sampai melupakan hal itu? Bagaimana kalau tiba-tiba Miyeon datang dan kembali menghantamnya sampai ke titik darah penghabisan?

“A-aku …” suara gadis itu bahkan nyaris serak, terkubur dalam-dalam di tenggorokan. “S-Sunbae …” kepalanya menoleh, bersitatap dengan Chanyeol dengan air mata yang mengaburkan pandangan.

“Reyna-ya, kenapa kau menangis? H-hei! Ada apa? Apa aku telah menyakitimu?”

Pertanyaan Chanyeol memang terdengar berlebihan. Karena nyatanya Reyna tidaklah menangis. Ia hanya tak mampu membendung air matanya sendiri. Setidaknya, itu adalah pemikiran Reyna, pemikiran seorang gadis yang memang jarang menunjukkan kesedihannya di  muka umum.

“Katakan padaku, apa salahku sampai kau menangis?” tanya Chanyeol, meremas kedua bahu Reyna dan menatapnya lekat.

“Tidak, kau tak bersalah, Sunbae. Dan … kata siapa aku menangis?” Reyna tertawa di sela kedua tangannya mengusap lelehan air mata. “Hanya … Sunbae, bisakah kau tidak bertemu dan berbicara denganku lagi?”

Perkataan Reyna bagai menusuk jantungnya begitu dalam. Chanyeol membelalakkan matanya ketika rasa sakit itu menjalar dan membuat dadanya berdenyut nyeri. Semudah itukah Reyna mengatakannya? Apa ia tidak tahu apa dampak yang akan terjadi bagi Chanyeol?

“Kenapa? Apa aku terlihat menyebalkan di matamu?”

Reyna membuang pandangan ke arah lain. “Tidak.”

“Lalu apa alasannya?”

“Karena aku tak ingin. Hanya itu,”

“Oh Reyna―”

“Maafkan aku, Sunbae.” Sela Reyna, menundukkan kepalanya sambil memejamkan mata. “Aku tak mau menambah masalah lagi. Aku ingin lulus dari sini tanpa adanya hambatan.”

Kening Chanyeol refleks mengernyit heran. “Apa maksudmu?”

“Karena kalau gadis ini masih berani mendekatimu, maka tamatlah riwayatnya!”

Satu suara bernada penuh kebencian itu sukses mengalihkan perhatian Reyna dan Chanyeol. Di sana, tepat di hadapan mereka yang berjarak kira-kira lima meter itu, ada seorang siswi dengan dandanan mewah dan terlihat begitu anggun, berjalan mendekat ke arah mereka berdua. Reyna tak mampu menyuarakan isi pemikirannya, tetapi dadanya bergejolak penuh emosi. Seakan hanya dengan melihat wajah gadis di depannya saja sudah mampu menciptakan percikan api yang ganas.

“Miyeon?” suara Chanyeol keluar, penuh keterkejutan. Ia masih tidak mengerti apa yang terjadi, terlihat dari sorot matanya yang begitu kentara. “Sebenarnya apa yang terjadi?” tanyanya, menatap Reyna yang masih duduk dan Miyeon bergantian.

“Kau sungguh tidak tahu?” suara Miyeon kembali menggaung di telinga. “Kenapa kau tidak tanyakan saja pada adik kelas kita ini, hm?”

Chanyeol ingin meluapkan amarahnya. Tapi ia sendiri tidak mengetahui kenapa ia harus marah. Menatap Reyna penuh emosi pun rasanya sulit sekali. Karena jujur saja, mendapati Reyna yang mematung dan kembali menghadirkan ekspresi datar itu menorehkan luka kecil di dadanya.

“Baiklah kalau dia tidak mau berbicara, biar aku saja.” Miyeon melipat kedua tangannya di depan dada. “Aku yang menyuruh gadis itu untuk tidak berdekatan denganmu, Chanyeol.”

“Apa?”

“Ya, aku yang menyuruhnya!” geram Miyeon, melangkah pada Reyna dan menarik tangan gadis itu agar ikut berdiri di sebelahnya. “Aku menyuruhnya agar tidak berdekatan denganmu.” Katanya, dengan wajah terarah sepenuhnya pada Reyna.

Terjawab sudah alasan di balik perubahan sikap Reyna serta peringatan Sehun hari kemarin. Song Miyeon, gadis itulah penyebab semua ini terjadi.

“Lepaskan dia!” Chanyeol hendak meraih tangan Reyna yang masih berada dalam genggaman Miyeon, dan segera ditepis oleh gadis bergaya mewah itu.

“Aku tak mau kau menyentuhnya, Chanyeol!” ujar Miyeon, kesal. “Sebenarnya apa alasanmu sampai-sampai kau ingin dekat dengan Reyna, huh?!”

“Lalu apa alasanmu menyuruhnya berada jauh dariku, sementara kau sendiri tidak memiliki hubungan apa-apa denganku?!”

Chanyeol yakin, ucapannya barusan menghantam telak Miyeon. Karena kini, gadis itu bungkam, sedangkan matanya tersorot pada Chanyeol.

“Kita sudah putus, Song Miyeon. Aku dan kau tak lagi memiliki hubungan apa pun. Kau dengar itu?” pada akhirnya, Chanyeol berhasil meraih tangan Reyna di saat Miyeon melemahkan genggamannya. Mereka berdua hendak melangkah pergi, jika Miyeon tak berujar,

“Tapi aku masih mencintaimu, Park Chanyeol!”

Baik Reyna maupun Chanyeol, mereka sama-sama membeku. Bahkan Reyna merasakan aura dingin merayap menghinggapi tulang belakangnya. Tidak, tunggu dulu, mengapa Reyna sekarang merasa lemah di bawah Chanyeol dan Miyeon? Mengapa keberaniannya mendadak hilang seperti ditelan ombak besar? Apa yang terjadi? Ke mana perginya keberaniannya itu? Ke mana perginya ketidakacuhan serta emosi yang sebelumnya meluap-luap dalam dirinya?

“Tapi aku tidak,” berbeda dengan Miyeon, suara Chanyeol terdengar tenang tanpa emosi seperti tadi. Selagi Miyeon masih berdiri di belakangnya, Chanyeol menambahkan, “Karena kau terlalu sombong dan terlalu egois untuk menjadi pacarku.”

Setelah mengutarakan segala kemelut tentang Song Miyeon, Chanyeol membawa Reyna keluar dari taman. Tanpa mengindahkan teriakan membahana milik Miyeon di belakang. Mereka juga berusaha mengabaikan tatapan keheranan milik para siswa yang berlalu-lalang di sana. Oh, mungkin jika bukan Song Miyeon yang ada di sana, sudah pasti mereka memilih untuk berlama-lama berdiam diri dan mulai menebak kiranya apa yang telah terjadi. Tapi karena gadis itu adalah Song Miyeon, maka tak ada pilihan lain, selain segera pergi dari sana tanpa mempedulikannya sama sekali kalau mereka masih ingin selamat.

-o-

Pada awalnya, Chanyeol menawarkan diri untuk mengantar Reyna sampai ke pintu kelas. Akan tetapi, Reyna menolaknya. Memperlihatkan segurat datar di wajahnya dan berujar, “Terima kasih, tapi kurasa kita tak perlu bertemu dan berbicara lagi.” Sebelum melenggang pergi meninggalkan Chanyeol.

“Tidak.” sebelah tangannya terulur dan mencegah kepergian Reyna. “Aku tidak mau seperti itu, Oh Reyna.” Katanya, terdengar putus asa.

“Bukankah kau sudah mengetahui penjelasannya, Chanyeol?” Reyna menjaga suaranya agar tidak terlalu keras. “Kau sudah tahu kalau Miyeon―”

“Bisakah kau tidak mengacuhkannya, Rey?” Chanyeol merasakan berpasang-pasang mata terarah padanya dan Reyna. Dan ia berusaha mengabaikannya.

“Kenapa?”

“Karena aku tak lagi mencintai Song Miyeon,” ungkapan itu serta merta membuahkan suara berupa ‘oh’ atau nada penuh keterkejutan. Bukan tanpa alasan pula, karena setahu mereka semua, tidak ada satu laki-laki pun yang menolak Miyeon bahkan dengan nada sedatar milik Chanyeol. Yah, mungkin mereka bisa membuat pengecualian untuk Park Chanyeol, berhubung dia adalah mantan kekasih dari Song Miyeon. Yang mungkin saja laki-laki itu terlampau dicampakkan oleh sang gadis.

“Kau dengar itu, Reyna?” tanya Chanyeol, memastikan bahwa gadis di hadapannya mendengar apa yang telah diucapkannya tadi.

“Apa hubungannya denganku?” Reyna menyahut tanpa balas menatap Chanyeol.

“Aku menyukaimu.” Chanyeol berbicara, tak mengacuhkan pertanyaan Reyna sebelumnya.

Lalu, pandangan gadis itu naik dan berhenti tepat di sepasang manik hitam milik Chanyeol. Tidak ada suara yang terlontar lagi dari bibir keduanya, suara gaduh milik para siswa lah yang kini menggantikan. Beribu pujian serta ungkapan iri turut menyesaki rungu Reyna, membuatnya mengerti, mengapa kakaknya tidak menyukai kebisingan seperti ini setiap kali ia melewat di depan para siswa atau siswa.

Semoga, semoga saja ini hanyalah perasaannya. Satu perasaan dari sekian perasaan yang kerapkali melintas ke hatinya, selain perasaan dingin serta ketidakpedulian yang menancap dengan teguh. Ya, Reyna yakin, mungkin beberapa detik lagi perasaan ini akan menghilang dengan sendirinya, seperti yang sudah-sudah. Tapi sialnya, perasaan itu tidak menyingkir sedikit pun dari dalam relung hatinya yang paling dalam. Memberikan gejolak aneh ke perutnya serta mengirimkan gelenyar-gelenyar sehingga jantungnya berpacu dengan cepat. Menghantarkan rona merah di kedua pipinya serta keringat dingin yang mengucur.

Perasaan macam apa ini yang telah memporak-porandakan seluruh organ tubuhnya?

“Aku menyukaimu, Oh Reyna.”

Bahkan satu ungkapan lagi telah berhasil melemahkan kedua lutut kakinya, sehingga Reyna merasa tak mampu menopang berat tubuhnya lebih lama lagi.

-oOo-

a/n :

  1. Akhirnya aku bisa ngelanjutin ff ini di sela hari liburanku yang kian menipis :”)
  2. Maapkeun kalau ceritanya makin gak jelas, yang bikinnya aja emang gak jelas juntrungannya /gagitusan/
  3. Kalau kalian merasa ff ini menjemukan, kalian enggak usah nungguin kelanjutannya, karena tentu aja ceritanya akan terasa semakin aneh dan enggak bermutu T.T
  4. Mungkin ff ini akan kulanjutkan ketika aku punya waktu luang buat ngetiknya :”)
  5. Makasih udah baca ^^
  6. Tinggalkan komentarnya sehabis membaca, ya :*

 

Salam hangat,

ShanShoo♥

Iklan

14 comments

  1. Akhirnya Chanyeol tahu kenapa Sehun ngelarang dia deketin Reyna. Suka part ini karena Sehun nggak nyebelin lagi. Makasih Isan udah ngelanjutin ff ini sebelum bener” hiatus

  2. Akhirnya dipost. 😆 Tumben sehun nggak sinis-sinis amat 😏 syukur deh kalo gitu. Rasain tuh miyeon telak banget pas chanyeol bilang nggak suka sama dia 😏

  3. Ahahay… Dasar si meong, gak tau malu. Ngedeketin chanyeol padahal chanyeol nya gak suka sama kamu. Ihh mau ditaro di mana tu muka? Mau dipajang di museum? Palingan dibuang/terlalu kejam/. Aw,apa ya jawaban reyna? Tapi, aty yakin, reyna nolak chanyeol walau dia suka chanyeol/menurut si cenayang gak laku/ hehe, aty suka kak ffnya, lanjut ya? Semoga ada ide dan waktu buat ngelanjutnya 😉 😉 babay

  4. wow aku br tau ternyata miyeon itu mantannya chanyeol, untung bukan aku #plak #ApaIni
    aku aja sampai syok chanyeol ngungkapin perasaannya sm reyna, wah makin penasaran aja sm kelanjutannya….
    next baca….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s