Beating So Fast


PicsArt_08-16-12.44.50

-ShanShoo’s present

Thanks … for everything.”

Prev series : Vay | What’s Wrong with Me? | About the Rain and Something Unusual | Another Side | Say the Reason | Worry about Her? | Holding Smile | Are You Serious? | Approval | Encourage Him

-o-

Latihan untuk kompetisi basket yang tinggal menghitung hari, telah selesai. Seluruh anggota tim mulai meninggalkan area lapangan sembari membawa sebotol minuman isotonik di masing-masing tangan. Keringat yang menetes tak menyurutkan optimisme mereka hari ini. Karena mereka yakin, tim basket sekolah mereka akan menang dan membawa piala kemenangan sebagai buktinya. O, meski awalnya mereka telah menduga kalau Yugyeom tidak akan berkonsentrasi penuh pada permainannya seperti dulu. Salahkan saja Kim Yugyeom yang tiba-tiba terlihat linglung dan seolah mau menyerah hingga membuat anggota tim basket lainnya merasa pesimis. Tapi entah keajaiban yang datang dari mana, Yugyeom seolah kembali menemukan jati dirinya dalam permainan basket, sehingga cowok berperawakan atletis itu kembali bermain dengan baik dan mampu memasukkan bola basket ke dalam ring dan mencetak skor sebanyak-banyaknya.

“Kau memang hebat, Gyeom.” Komentar Vay begitu mereka berdua memutuskan untuk berjalan menuju kelas, dengan maksud untuk beristirahat sejenak, ditemani oleh cewek itu.

Yugyeom menoleh pada cewek itu sambil meneguk minumannya, kedua tungkainya terus melangkah, selagi ia mengusap bibirnya dengan punggung tangan kemudian merespons, “Thanks,” padanya.

“Kalau permainanmu sehebat ini, aku yakin tim basket sekolah akan menang.” Antusiasme Vay terlihat begitu kentara. Sampai-sampai Yugyeom menatapnya selama beberapa detik karena tak percaya. Namun segera Yugyeom membuang pandangan ke depan, menghindari netra Vay yang turut mengarah padanya.

“Ya, tentu,” balas Yugyeom ketika mereka telah tiba di dalam kelasnya. Di mana sudah tak ada lagi siapa pun yang menghuni. Berhubung waktu telah menunjukkan pukul setengah enam sore, tentu saja, tidak ada satu pun dari mereka yang ingin berlama-lama tinggal di kelas, terkecuali kalau ada tugas kelompok yang harus dikumpulkan keesokan harinya.

Yugyeom memutuskan untuk duduk di bangku depan, bersama Vay yang menyusul dan duduk di sampingnya. Maniknya melirik sang cewek yang kini sibuk merogoh sesuatu dari dalam tas, dikeluarkannya sekotak bekal berwarna biru tua dan berbentuk persegi panjang. Vay mendongak diiringi senyuman lebar. “Ini, makanlah.” Katanya. “Kau harus mengisi tenagamu, kan? Aku tahu, kau belum mengisi perutmu semenjak bel istirahat berdering.”

Belum ada kata yang terucap, manakala Yugyeom melihat isi bekal yang dibawa Vay. Adalah dua tungkup roti isi daging dan sayuran. Oke, makanan ini memang cocok dijadikan sarapan pagi, tapi, tak apa. Ia juga merasa lapar begitu wangi aroma roti daging ini menyesaki indera penciumannya. Maka, sembari mengulas senyum tipis dan bersitatap dengan Vay, Yugyeom berujar, “Thanks,” untuk yang kedua kalinya.

Well, Vay sudah cukup terbiasa untuk menerima segala macam perkataan singkat dari bibir Yugyeom. Tetapi meski terbilang terbiasa, Vay tetap merasakan adanya kekesalan yang tidak terealisasikan lewat ekspressinya. Asalkan Yugyeom mau berada di dekatnya dan mengajaknya berbicara, itu sudah lebih dari cukup.

“Mmm, ini enak.” Ujar Yugyeom begitu ia menggigit dan mengunyah rotinya perlahan. “Kau yang membuatnya?”

“Hm?” Vay mengerjap beberapa kali lalu menyengir lebar. “Ya, aku yang membuatnya.” Katanya kemudian.

Ada keheningan mengisi setiap sudut ruangan kelas. Baik Yugyeom maupun Vay belum ada niatan untuk memecah keheningan itu yang telah memasuki menit pertama. Vaye Brunella lebih memilih menautkan jari jemari tangannya di atas paha, dengan kepala yang menunduk guna meredakan kecanggungan di antara dirinya dan Yugyeom. Sedangkan cowok bermarga Kim itu, entahlah, ia sendiri merasa bingung harus melakukan apa setelah ini. dua potong roti isi daging itu telah habis, hanya menyisakan remah-remah di dalam kotak bekal. Maniknya bergerak gusar, kemudian melirik Vay sekilas yang masih menunduk. Yugyeom lantas berdeham dua kali untuk meredakan kecanggungan dan kesenyapan. “Vay,” panggilnya, pelan. Namun Vay masih bisa mendengarnya dengan jelas.

“Y-ya?” sahut cewek itu, mendongak dan menoleh menatap Yugyeom.

Thanks,” o, satu kata itu lagi. Vay mulai tak menyukai kata itu sekalipun ia tak menemukan alasannya. “for everything.”

Tubuh Vay terasa membeku di tempat. Sepertinya perasaan tak suka itu seakan menguar begitu saja. Vay menjungkitkan sebelah sudut bibirnya, merasa senang sekaligus menahan degupan jantungnya yang begitu cepat. Tapi sayang, Vay tak bisa menahannya lebih lama lagi. Hingga seulas senyum lebar berhasil terukir di bibirnya.

“Ya, sama-sama.” Sahut Vay dengan nada pelan.

“O, ya, Vay?” panggil Yugyeom lagi, masih berusaha meredakan kecanggungan yang anehnya malah semakin melekat. “A-aku … mm, aku akan mengantarmu pulang,” katanya.

“Eh?” senyuman Vay malah terlihat semakin mengembang. “Y-ya, oke. Terima kasih.”

Umm,” gumam Yugyeom, mengiakan. Parasnya yang tak lagi dihiasi buliran keringat mulai menunjukkan mimik ramah, tetapi tidak begitu terlihat. “Kalau begitu, ayo kita pulang. Aku tak mau membuat kedua orang tuamu khawatir,” lanjutnya sembari bangkit berdiri dan merapikan seragam basketnya.

Vay tak menyahut. Ia masih menyibukkan diri untuk meredakan degupan jantungnya yang terlampau cepat seraya berusaha mendinginkan pipinya yang dirasa semakin menghangat. Tidak, Yugyeom tidak boleh mendapati pipinya bersemu merah atau ia akan merasa malu setengah hidup, sampai-sampai Vay ingin kabur saja ke bulan. Beberapa detik kemudian, Vay memasukkan kotak bekalnya dengan terburu-buru ke dalam tas sampirnya.

Mereka berdua kini berjalan beriringan menyusuri koridor sepi. Sementara di hadapan mereka masih terlihat beberapa siswa serta anggota tim basket yang telah mengganti pakaiannya dengan pakaian santai. Meski begitu, Yugyeom tak peduli. Ia hanya terus berjalan santai, seraya memasukkan telapak tangan ke dalam saku celana. Di sampingnya, Vay, malah terlihat seperti seseorang yang siap bertransformasi menjadi seekor bunglon yang tak diketahui keberadaannya.

“Kau kenapa?” tanya Yugyeom, menyadari keanehan sikap sang cewek.

“Ya?” Vay menoleh secepat kilat. O, sial! Yugyeom pasti melihat kedua pipinya yang kini merah padam, semerah tomat. Ya Tuhan, kenapa bisa jadi begini? Kenapa Vay tak bisa mengendalikan perasaannya hanya karena ucapan bernada tulus serta senyuman kecil yang ditunjukkan Yugyeom padanya?

“Apa kau sakit?” kedua kakinya berhenti melangkah. Yugyeom menghadapkan tubuhnya pada Vay dan menatapnya dengan teliti, sembari menepis sedikit jarak wajah di antara mereka. “Kau … enggak memakan makanan yang aneh-aneh selama di sekolah, kan?”

“Kau bilang apa?” lekas saja, Vay menangkupkan sepasang telapak tangannya pada kedua pipinya. Menghalau agar Yugyeom tak terus-terusan mengamatinya sedekat ini. “Enggak, kok.” Katanya terus terang, namun lebih terlihat seperti kepergok dengan dalih tuduhan yang terlontar dari Yugyeom.

“Syukurlah,” Yugyeom menjauhkan wajahnya, kemudian menghela napas lega. Sebelah tangan kirinya keluar dari saku celana, dan tanpa diduga, ia menggenggam tangan Vay di samping tubuhnya.

Tentu saja, perlakuan tiba-tiba itu semakin membuat Vay kepayahan mengatur deru napas serta degupan jantungnya. Vay yakin, jantungnya akan segera terlepas dari soketnya dalam hitungan detik.

“Kenapa kau … menggenggam tanganku?” tanya Vay, mengamati genggaman tangan Yugyeom lalu beralih menatap netranya.

“Kenapa, ya?” percayalah, Yugyeom sama sekali tak menunjukkan raut penuh gugup seperti yang dimiliki Vay. Ia malah terlihat berpura-pura berpikir dengan wajah jenaka yang baru pertama kali Vay lihat. “Karena aku tak mau kau jatuh,” alasannya terdengar tidak masuk akal bagi Vay. Tetapi ya bagi Yugyeom. Karena di matanya, pipi Vay masih bersemu merah yang itu tandanya, sang cewek pasti akan terserang sakit.

Apakah … Yugyeom adalah cowok yang kurang peka?

O, baiklah, abaikan pertanyaan barusan. Lagi pula, Vay sudah terbiasa, kok.

“Mmm, Kim Yugyeom,” panggil Vay pada akhirnya―meski awalnya ia sudah mati-matian menahan bibirnya untuk tidak memanggil. “Kalau aku enggak datang di saat hari kompetisi tiba, bagaimana?”

Yugyeom termenung mendengarnya. Mereka berhenti tepat di depan mobil milik Yugyeom. Cowok berambut pirang itu belum menjawab, benaknya sibuk mencari kiranya perkataan apa yang tepat untuk dilontarkan pada cewek di depannya.

“Alasannya?” hingga hanya satu kata itulah yang mampu Yugyeom ucapkan.

“Alasannya?” Vay mengulang. “Uh, enggak ada alasan, sebenarnya. Cuma …”

“Apa kau mau tega membiarkanku bermain seperti tadi? Mengacaukan segalanya? Menghancurkan skor?” tanya Yugyeom bertubi-tubi, mengabaikan kekagetan di wajah Vay. jujur, Yugyeom tak mempedulikan Vay yang kini kepayahan mencari jawaban atas pertanyaannya.

“Ta-tapi …” Vay menelan ludahnya susah payah. “Tapi … kenapa?”

“Apa maksudnya?” kerutan samar terbentuk di keningnya. Ya, Yugyeom tak mengerti mengapa Vay malah balik bertanya yang sesungguhnya Yugyeom pun kesulitan untuk menjawab.

“Kenapa begitu, Gyeom? Aku jadi khawatir kalau aku enggak ada di sana dan menyemangatimu seperti tadi, skor tim basketmu akan buruk.” Ujar Vay, dengan roman kesedihan yang terpeta jelas.

Jeda selama beberapa detik. Membiarkan dua manusia itu sibuk dengan pemikiran masing-masing. Yugyeom menengadahkan kepalanya, menatap langit kelam yang membingkai indah di sana, lantas beralih pandang pada Vay yang kembali menundukkan kepala.

“Kau ingin tahu apa alasannya?” Yugyeom memulai, mengundang tatapan heran dari si pemilik netra cokelat itu.

“Ya, tentu,” jawab Vay apa adanya.

“Karena …” Yugyeom terkekeh sendiri mendengar isi hatinya sendiri yang hendak ia lontarkan pada Vay. “Apa mungkin … karena aku menyukaimu?”

-oOo-

CIELAAAH DEDEK YUGYEOM KENAPA BARU BILANG SEKARANG? KENAPA? DUDUDUUUH AKU YANG NULIS CERITANYA TAPI KENAPA IKUTAN BAPER JUGA YHA? ENTAHLAAH, DIRIKU PUN TAK MENGERTI :V

Makasih udah baca, apalagi memberikan komentarnya 😀

Tertanda,

ShanShoo♥

Iklan

6 comments

  1. Ahahahahahahayy kenapa baru sekarang mas gyeom?? Kenapa??? Aduh aty jadi penasaran gimana lanjutannyaaaa. apa dan bagai mana nanti si pria es itu ke pacarnya? Se sweet apa???? Gak tahan baca nya

  2. allahuakbar yugyeom ga pekaan amat si bosq. yakali orang gemeteran dikira sakit, parkinson meureun wa. hayu lah masnya diperiksa dokter dulu biar kaya ciri2 mahluk hidup pada umumnya, peka terhadap rangsangan.

    mau dong kaksan digituin sm aa aa senior yg ganteng pas acara ospek kemarin/? wkwk

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s