The Miracle in Our Life ― Chapter 9


themiracle

ShanShoo’s Present

 

.

Prev story : [Prolog] [Chapter 1 : Tell Your Wish!] [Chapter 2 : Pretend] [Chapter 3 : Complicated] [Chapter 4 : Something and Someone] [Chapter 5 : When Tears are Falling] [Chapter 6 : What is the Problem?] [Chapter 7 : The Big Change?] [Chapter 8 : There’s a Longing and Confession]

.

.

There’s a Longing and Confession part.2

 

-o-

“Aku menyukaimu, Oh Reyna.”

Chanyeol tak yakin, apakah setelah ia mengutarakan perasaan itu pada Reyna, ia bisa kembali menguarkan canda tawanya ke seisi kelas. Atau mungkin ia akan kembali melakukan aksi jahilnya pada Baekhyun yang sama-sama kurang waras seperti dirinya. Karena kalau boleh jujur, Chanyeol sama sekali tak menduga kalau perkataan itu akan terlontar begitu saja dari mulutnya. Sungguh, tadi ia hanya merasa panik lantaran Reyna kembali tak mengacuhkan keberadaannya karena sosok Miyeon, sang mantan kekasihnya, datang dan tiba-tiba melabrak Reyna tepat di depan mata. Ah, andai saja Chanyeol mengetahui segalanya lebih awal, tanpa harus diberi tahu terlebih dulu, mungkin Chanyeol akan mewanti-wanti Miyeon untuk tidak mengganggu Oh Reyna, atau Miyeon akan berurusan dengannya.

Oke, kita lihat bagaimana reaksi Reyna setelah Chanyeol mengutarakan perasaannya itu.

Reyna, dengan kebisuan yang menyambangi beserta bisik-bisik yang terarah padanya dan Chanyeol, mulai merasa goyah. Maniknya tak sanggup memerhatikan Chanyeol lebih lama. Ia merasa kedua kakinya benar-benar di ambang batas kemampuannya untuk berdiri tegak. Awalnya Reyna berharap kalau kebisuannya ini akan turut menyebar pula pada seluruh siswa untuk diam dan mengambil langkah pergi dari sana ketimbang menyaksikan pernyataan suka tak terduga dari Chanyeol. Tapi ternyata, semua masih berada di posisi masing-masing. Enggan melangkah barang sesenti pun demi mengetahui apa jawaban Reyna untuk Chanyeol, dan bagaimana kelanjutan kisah mereka selanjutnya.

Detik demi detik telah terlewati, dan kini, rasa berani Reyna perlahan tumbuh. Gadis itu mendongak, menatap lagi manik Chanyeol yang mungkin sedari tadi terus tertuju padanya. Dengan kebimbangan yang masih setia berada dalam benaknya, serta detakan jantungnya yang kian tak terkendali, Reyna menjawab,

“Tapi aku tidak,”

Itu adalah satu ungkapan perasaan bernada datar—lagi— yang Chanyeol dengar dari mulut Reyna. Setelahnya, sepasang maniknya membelalak lebar. Chanyeol membuang napas dalam sekali sentakan dan merasa bodoh karena telah mengucapkan rasa sukanya begitu saja pada Reyna. Menurutnya, ini adalah timing yang kurang tepat. Sehingga Reyna menolaknya tanpa ampun. Oh, baiklah, bukan berarti Chanyeol merasa percaya diri karena timing-nya yang tidak tepat. Mungkin … ia hanya menuruti kata hatinya saja.

“Y-ya, aku tahu itu,” Chanyeol mencoba menjungkitkan kedua sudut bibirnya ke atas, kemudian berkacak pinggang dan menghela napas pendek. “Aku tidak terlihat seperti tukang bercanda yang andal di matamu, ya?”

“Maksudmu?” Reyna balik bertanya, mengabaikan bisikan-bisikan yang kian menjadi. Terlebih setelah mereka semua mendengar penolakan Reyna, suara ucapan mereka mulai terdengar semakin jelas. Begitu menohok batin Reyna karena perkataan yang terlampau pedas.

“Ah, lupakan. Aku memang payah kalau ada di hadapanmu.” Katanya, mengibaskan sebelah tangannya di depan dada. “Kalau begitu … masuklah. Bel masuk hampir berdering.”

Reyna dapat merasakan rasa malu bercampur tak enak hati dari paras tampan milik Chanyeol. Kendati ia memilih untuk mengutarakan penolakan, Reyna merasa bahwa pilihannya salah. Ia ingin merubahnya, namun sayang, Chanyeol keburu berbalik dan meninggalkannya dengan kepala tertunduk lesu.

Apa mungkin … lebih baik seperti ini saja?

-o-

Rupanya, tidak ada salahnya juga Baekhyun menyetujui usulan Reyna untuk pergi ke panti asuhan sepulang sekolah nanti. Kendati saat ini ia tengah mengikuti pelajaran Matematika yang telah berlangsung selama satu jam dan membuat kepalanya berasap, Baekhyun tetap mengulum senyuman. Abaikan saja celotehan guru pengajarnya yang belum mengenal kata lelah untuk terus menjelaskan segala macam rumus-rumus trigonometri yang memang sulit untuk dicerna.

Baekhyun pun tak pernah melupakan bagaimana paras adik kesayangannya yang begitu cerah. Dan kalau diingat-ingat lagi, itu adalah ekspresi yang jarang sekali ia temukan dari balik wajah adiknya yang selalu datar. Mungkin, asalkan ada kenangan manis dalam benak, Reyna tak pernah sungkan untuk membagi senyumannya meski itu adalah pada orang asing sekali pun.

Tapi, ketika Baekhyun tak sengaja menengok ke samping dan mendapati Chanyeol yang merenung memikirkan sesuatu, seketika senyuman Baekhyun menghilang. Laki-laki bermata sipit itu lantas berdeham samar, guna mengalihkan pandangan Chanyeol dari papan tulis yang sejatinya, bukanlah objek yang memang menarik perhatiannya.

“Hei, Chanyeol!” panggil Baekhyun, pelan, ketika dirasa Chanyeol tak mungkin merespons dehamannya. Namun tetap saja, laki-laki bertubuh jangkung serta berambut ikal itu tak ubahnya sebuah pahatan patung yang tak bisa bergerak. Membuat Baekhyun mengerutkan kening, kemudian mencolek bahu Chanyeol menggunakan ujung pulpen di genggaman.

Chanyeol menoleh, mendapati Baekhyun menatapnya keheranan, kemudian mendesah panjang. “Ada apa?”

“Seharusnya itu adalah pertanyaanku untukmu,” sahut Baekhyun, sama-sama saling menjaga suara agar tidak terlalu keras dan mengundang perhatian seisi kelas.

“Maksudmu?” Chanyeol memutuskan untuk kembali memerhatikan papan tulis, sembari tangan mulai bergerak menuliskan sesuatu, entah apa itu, tapi Baekhyun yakin kalau Chanyeol sudah tertinggal cukup jauh dari pembahasan trigonometri.

“Apa ada sesuatu yang mengganggumu? Kulihat kau murung seperti itu,” well, lebih baik Baekhyun berbicara langsung pada intinya saja. Karena ia mengetahui kalau suasana hati Chanyeol sedang buruk, tidak seperti biasanya yang tetap melontarkan lelucon walaupun dalam waktu belajar.

“Tidak ada.” Jawab Chanyeol, menoleh singkat dan tersenyum pada Baekhyun. “Aku hanya sedang malas mengikuti pelajaran Matematika,”

 “O, ya? Bagaimana jika kau kuingatkan kembali tentang PR Reyna dan kau membantu untuk mengerjakannya?”

“Apa hubungannya?” suara Chanyeol naik satu oktaf, yang sontak saja berhasil mengalihkan perhatian guru Jung yang sampai saat ini masih aktif menuliskan berbagai macam rumus dengan tulisannya yang sulit untuk dibaca.

“Ada apa, Chanyeol, Baekhyun?” guru Jung menatap dua siswa yang ia sebutkan namanya barusan sembari menaikkan sebelah alis. Yang ditanya hanya menunduk lalu menggeleng kecil sebagai jawaban. “Kalau kalian ingin mengobrol, kalian bisa melakukannya di luar kelas.”

“Tidak, Seonsaengnim,” ini kata Baekhyun, mewakili frasa yang hendak terucap dari bibir Chanyeol. Kalau sudah begini, Baekhyun tak bisa berbuat apa-apa lagi, terkecuali menunggu jam pelajaran Matematika selesai dan ia bisa dengan leluasa bertanya ini-itu pada Chanyeol tanpa batasan waktu lagi.

Sementara itu, Sehun yang sedari memerhatikan tingkah laku Baekhyun dan Chanyeol hanya bisa berdecak kecil. Kembali melanjutkan aktifitasnya menulis kemudian memahaminya dalam waktu singkat. Jujur saja, sebenarnya Sehun sudah bisa menebak apa penyebab Chanyeol berubah sikap seratus delapan puluh derajat seperti ini. Hanya … entahlah, Sehun tak mau terlalu ikut campur dalam urusan laki-laki itu, sekalipun dia adalah teman sekelasnya sendiri. Biarkanlah itu menjadi urusan Chanyeol, pikirnya.

-o-

“Kudengar Chanyeol menolak Miyeon di depan matamu sendiri, dan ia menyatakan rasa sukanya padamu. Benarkah itu?”

O, hancur sudah harapan Reyna untuk bisa menenangkan dirinya barang sebentar. Perkataan Park Eunhee membuat kedua kelopak matanya tetap terjaga, disertai dengan debaran jantungnya yang nyaris di atas rata-rata. andaikan ini bukan di dalam kelas, mungkin Reyna akan memperingati Eunhee untuk tidak membicarakan hal itu, dan membiarkannya tertidur sampai jam pelajaran pertama selesai.

“Reyna-ya, ceritakan padaku, please? Bagaimana kelanjutan ceritanya? Apakah Miyeon kembali mengancammu atau―”

“Tidak,” Reyna mendesah, atensinya mulai tak bisa fokus pada objek mana pun.

“Lalu, bagaimana dengan Chanyeol―”

“Aku tak mau membahasnya,” potong Reyna, cepat. Mengabaikan roman penuh penasaran di sampingnya. “Kuharap kau mengerti, Park Eunhee.”

“Maafkan aku,” rasa penasarannya memang sudah mencapai puncak, namun Eunhee tak sanggup mendesak Reyna untuk menceritakan segalanya padanya.

“Bangunkan aku kalau guru Kim melihatku tertidur,” kata Reyna pada Eunhee, yang segera direspons dengan anggukan kepala sebelum Reyna sempat menyelesaikan kalimatnya.

Setelahnya, Reyna melipat kedua lengan di atas meja untuk ia jadikan sandaran kepala. Niat awalnya untuk tidur malah melenceng jauh, matanya tetap terjaga, dan tanpa disadari ia menggigit bibir bawahnya, gusar. Bukan tanpa alasan pula ia berbuat demikian, kalau saja perkataan Chanyeol beberapa puluh menit yang lalu bukanlah alasannya, mungkin ia bisa tertidur pulas dalam hitungan detik.

Tentang pernyataan rasa suka yang Chanyeol lontarkan padanya … tentang sorot matanya yang begitu teduh dan menghanyutkan, tentang pesonanya yang terkuar dan membuat Reyna membeku seketika …. semua itu tak sanggup Reyna tepis sekali-dua kali. Aneh, rasanya benar-benar aneh. Reyna tak mampu mengusir semua pemikirannya tentang Park Chanyeol. Hatinya menolak untuk mengusir nama Chanyeol. Dan Reyna benar-benar merutuki hatinya sendiri.

-o-

Bahkan, semua pemikiran itu terus menghantuinya sampai jam makan siang datang.

Reyna duduk termangu di atas bangku panjang perpustakaan. Kedua tangannya melipat di depan dada, sementara fokusnya tertuju pada satu buku yang terbuka di hadapannya. Suara-suara bisikan yang bersumber dari para siswa di dalam sana seolah angin lalu yang tak perlu Reyna pedulikan. Terserah, Reyna tak peduli jika memang bisikan itu berisi keburukan yang terlontar untuknya. Yang Reyna inginkan saat ini hanya duduk diam, mencari ketenangan. Dan tempatnya adalah di perpustakaan.

“Aku menyukaimu, Oh Reyna.”

O, sial!

Perkataan itu terus membayangi pikiran Reyna, membuatnya mati-matian menahan ledakan emosi yang ia sendiri tidak tahu mengapa emosi itu bisa muncul.

Apa emosi itu muncul karena … Reyna memberikan jawaban yang salah?

Reyna tertawa tak percaya. “Tidak mungkin,” bisiknya, pelan. “Tidak mungkin … tidak mungkin―”

“Jadi, kenapa kau lebih memilih berada di sini daripada di kantin, Tuan Puteri?”

Gumaman Reyna berujung kekagetan, manakala pundaknya terasa berat lantaran Baekhyun meletakkan tangannya di sana dan merangkulnya, hangat. Reyna menolehkan kepala, di sampingnya, Baekhyun, masih seperti biasa memberikan senyuman lebarnya diserta sepasang matanya yang kian menyipit.

“Kau tidak merasa lapar, Rey?” suara Baekhyun menggema ke dalam telinganya. Reyna hanya diam, tidak ada niat untuk menanggapi. Ia lebih memilih memalingkan wajah dan berpura-pura membaca buku yang sedari tadi tergeletak di depannya.

Jika diteliti lebih jauh, agaknya sikap Reyna tak jauh beda dengan sikap yang Chanyeol tunjukkan padanya. O, tunggu, mungkin ini hanyalah perasaannya saja, tapi ia juga tak bisa mengatakan hal itu sebagai hanya-perasaannya-saja. Pasti ada sesuatu yang mereka berdua sembunyikan, yang tentunya tak ingin diketahui Baekhyun. Ya, Baekhyun yakin sekali.

“Reyna-ya,” panggil Baekhyun. Kali ini nadanya terdengar serius, tidak terselip nada candaan. “Reyna-ya!” ia memanggil lagi kala Reyna tidak menyahut barang sepatah kata.

Pada akhirnya, Baekhyun membuang napas secara perlahan, mencoba mengatur nada bicaranya agar tidak terlalu keras, mengingat saat ini ia sedang berada di ruangan perpustakaan.

“Oke, aku akan mengatakan langsung pada intinya saja.” Katanya, sembari melepas rangkulan dari bahu sang adik. “Kau baik-baik saja, Rey?” tanya Baekhyun, mematri wajah khawatir, sementara pandangan tertuju pada sisi wajah Reyna.

“Mm,” gumam Reyna, singkat. Mengabaikan kekagetan Baekhyun karena sahutannya itu.

“Jangan menyembunyikan sesuatu dariku, Rey.” Baekhyun mulai tersulut amarah, dan sebisa mungkin ia menutupinya. “Apakah diamnya dirimu ini ada hubungannya dengan Park Chanyeol?”

Satu nama di akhir kalimat, dan itu berhasil membuyarkan segala konsentrasi dalam benaknya.

Reyna tak dapat berkata-kata, kedua tangannya mendadak bergemetar kecil, sedangkan maniknya bergulir tak tentu arah. Jangan lupakan jantungnya yang kembali berkontraksi dan berdenyut cepat.

Baekhyun tahu, dari awal pun ia sudah menebak kalau Reyna dan Chanyeol sama-sama menyembunyikan sesuatu darinya. Terlihat dari bagaimana gerak-gerik sang adik yang begitu gusar dan canggung. Oke, Baekhyun tak terlalu mempedulikan hal itu.

“Kau tidak tahu apa-apa, Oppa?” tanya Reyna keheranan. Ya, ia sungguh merasa heran. Tidak mungkin kakak kandungnya tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di sekolah, sementara para siswa yang lain sudah sibuk membicarakan perihal Reyna, Chanyeol dan Song Miyeon, bagaikan sebuah trending topic yang tidak boleh terlewatkan.

“Tidak,” jawab Baekhyun, mantap. “Katakan padaku,”

“Eh?” hati-hati, Reyna melirikkan sejenak matanya ke arah Baekhyun.

“Reyna …” Baekhyun mendesah berlebihan. “Kau … o, ayolah, setidaknya katakan padaku apa yang terjadi agar aku tidak merasa khawatir.” Katanya. “Kau tahu? Aku juga sudah mengetahui kabar tentang perseteruan antara kau dan Song Miyeon, mantan pacar Park Chanyeol.”

Darah Reyna berdesir dua kali lebih cepat mendengar nama seorang gadis yang telah memporak-porandakan keadaannya.

“Kaupikir aku akan diam saja mendengar kau yang diancam olehnya? Tentu tidak, Rey. Asal kau tahu saja, tadi aku pergi menemui gadis itu dan mengatakan padanya untuk tidak mengganggumu lagi,”

Atensi Reyna terarah sepenuhnya pada Baekhyun yang menjelaskan segalanya dengan nada menggebu-gebu. Keringat sebesar biji jagung membingkai parasnya yang menawan. Reyna sama sekali tak menyangka kalau ternyata Baekhyun bisa berbicara seperti itu pada Song Miyeon yang notabene tak ada seorang pun yang berani memarahinya, terkecuali Park Chanyeol, tentu.

“Kaubilang seperti itu padanya?” tanya Reyna, tak percaya. Maniknya kembali bergerak resah. Dua detik setelahnya, Baekhyun menarik tangan Reyna untuk pergi ke perpustakaan menuju ke tempat yang lebih leluasa untuk mereka membincangkan banyak hal seputar kejadian tadi pagi, di saat Reyna, Chanyeol dan Miyeon bertemu.

Baekhyun memilih area parkir di bagian belakang sekolah. Di area itu tidak terlalu banyak kendaraan, karena kebanyakan dari siswa lebih memilih menyimpan kendaraannya di area parkir halaman depan sekolah. Di sana, hanya ada beberapa siswa yang berlalu-lalang dan juga para pekarya yang sibuk menyapu halaman.

Sepasang kakak adik kandung itu mulai berdiri berhadapan. Reyna menundukkan kepala, sementara Baekhyun melipat tangan di depan dada dan menatap lekat sang adik.

“Sekarang, katakan. Apa yang sebenarnya terjadi dan apa yang Miyeon katakan padamu saat di taman tadi.”

Reyna ingat, ada satu alasan yang membuatnya tak boleh membantah atau mengabaikan kakak laki-lakinya itu padanya. Hanya menilai dari cara berbicara seorang Baekhyun yang begitu tegas dan berat, Reyna tak mampu menampiknya. Yang bisa ia lakukan hanyalah mengatakan yang sebenarnya, sehingga sedikitnya bisa membuang ekspresi serius milik Baekhyun dan menggantinya menjadi seraut wajah penuh kehangatan, seperti biasa.

“Berjanjilah terlebih dulu, Oppa.” Kata Reyna, memberanikan diri menatap sorot tatapan Baekhyun. “Berjanjilah untuk tidak mengatakannya pada siapa pun, termasuk Oh Sehun dan …” Reyna menghirup napas dalam dan mengeluarkannya perlahan. “… Park Chanyeol.”

Ada jeda selama beberapa saat. Baekhyun menekan kedua belah bibirnya. “Baiklah, aku berjanji. Sekarang, katakanlah semuanya.”

Mendengarnya, Reyna bisa bernapas lega. Setidaknya, Baekhyun mau menjaga rahasia ini dari siapapun yang tak dikehendaki gadis itu. Setelah menimbang-nimbang sejenak kiranya kalimat pertama apa yang harus ia lontarkan, Reyna mulai mendongak dan keberaniannya untuk membalas tatapan kakaknya sudah bulat. Meski bibirnya tak mampu mengukir kalimat dengan sempurna, tapi setidaknya, Reyna mau menceritakan segala permasalahannya. Dimulai dari pertemuan pertamanya dengan Song Miyeon beserta ancaman-ancamannya, hari-hari berat yang harus ia lalui, hingga sampai pada saat di mana Miyeon memberanikan diri mengancamnya di depan Park Chanyeol, pun dengan ungkapan perasaannya pada laki-laki bertubuh jangkung itu. Semuanya masih terekam dengan sangat jelas di benaknya.

Pada detik di mana Reyna mengatakan tentang perasaan Park Chanyeol kepadanya, di saat itu pula, Baekhyun terdiam tak percaya. Namun maniknya masih dengan setia menatap Reyna yang menceritakan segalanya, sesuai kesepakatan tadi.

“Benarkah itu?” tanya Baekhyun setelah Reyna selesai bercerita. Gadis itu membungkam bibirnya selama beberapa jeda, lalu mengambil napas dan menjawab, ‘ya’ dengan suara rendah.

“Lalu, bagaimana denganmu? Kau menyukainya juga?” tanya Baekhyun lagi. Dan pertanyaan itu agaknya sedikit membuat Reyna tersentak.

“Aku?” katanya. “A-aku … aku tidak menyukainya, Oppa,”

Ada tawa ringan yang menguar dari celah bibir Baekhyun. Sebelah tangannya terangkat dan mengusak gemas surai kecokelatan milik Reyna. “Kau mengatakan tidak, tapi rona merah di wajahmu seolah mengatakan hal yang sebaliknya,”

“Apa?” Reyna menjauhkan tangan Baekhyun dari kepalanya, mendadak kepalanya terasa pening karena ucapan Baekhyun yang menurutnya terlalu … ah, sudahlah, lupakan saja!

“Dengar, Adikku Sayang,” sembari tersenyum lebar, Baekhyun menyentuh kedua bahu Reyna dan meremasnya lembut, pun menyuruh Reyna untuk kembali bersitatap dengannya. “Mm, sebenarnya aku tidak mempermasalahkan kalau kau menyukai Si Jangkung itu, tapi ingatlah,” ada keheningan yang menyapa selama tiga detik lamanya sebelum Baekhyun melanjutkan, “kalau dia sampai tega menyakitimu, beri tahu aku! Aku akan menghajarnya sampai dia kapok untuk menyakitimu lagi!”

Selagi Baekhyun masih memamerkan senyumannya, Reyna mulai mendapati dirinya merasakan bahagia yang membludak dalam dadanya. Rona merah di pipinya kian terlihat, tetapi sebisa mungkin Reyna menutupinya dengan cara menangkupkan sepasang telapak tangannya di sana. O, mudah-mudahan Baekhyun tak menyadarinya.

“Kau tenang saja, aku, kan, sudah berjanji padamu. Jadi, aku tidak akan mengatakan hal ini pada siapa pun.” Ujar Baekhyun, mengingatkan, takut kalau Reyna meragukan janjinya. “Kau, kan, adikku. Mana mungkin aku mengingkari janjiku pada adikku sendiri, hm?”

“Aku percaya padamu, tentu.” Sahut Reyna pada akhirnya, pun membalas senyuman lebar milik Baekhyun.

“Baiklah kalau begitu,” Baekhyun melepas tautan tangannya dari bahu Reyna. “Ayo kita ke kantin, ada banyak makanan terbaru di sana.” Katanya sambil menilik ekspresi heran adiknya. “Tunggu, jangan bilang kalau kau sama sekali tak mengetahuinya? God! Reyna!”

Oppa duluan saja, aku akan menyusul nanti.” Jawab Reyna seraya tersenyum tipis.

“Oke, terserah.” Baekhyun mendengus geli. “Awas saja kalau kau tidak pergi ke kantin untuk mengisi perutmu.”

“Ya … ya,”

Perbincangan itu berakhir sudah. Baekhyun mulai melangkahkan kakinya meninggalkan Reyna sendirian di sana. Namun belum tersentuh jarak sepuluh meter jauhnya, Reyna memanggil namanya, ia menoleh dan mendapati Reyna memberinya senyuman secerah mentari.

“Terima kasih karena kau mau mendengarkanku, Oppa,”

-o-

Tidak biasanya Chanyeol berdiam diri di dalam kelas, itu menurut hasil pengamatan Oh Sehun. Duduk di belakangnya, Sehun tak henti memerhatikan Chanyeol yang sesekali mendesahkan napas panjang, menyentuhkan keningnya dan membenturkannya pelan di meja kemudian mendongakkan kepala menatap langit-langit kelas. Baiklah, perlu ditekankan sekali lagi bahwa ini bukanlah urusannya. Tapi tetap saja, rasa penasaran terus menggelayuti. Membuat Sehun memejamkan mata, kemudian memantapkan hati untuk bertanya pada Chanyeol.

“Park Chanyeol,” panggilnya, dengan nada berat, seperti biasa.

Yang dipanggil menoleh malas, maniknya bersirobok dengan manik Oh Sehun. “Apa?”

“Oke, aku tahu, tak seharusnya aku memanggilmu dan berbicara padamu. Kau membenciku, kan?” kata Sehun, defensif.

“Lalu?” Chanyeol memutuskan untuk memutar tubuh menghadap Sehun.

“Kau menyukai Reyna,” itu bukanlah pertanyaan, melainkan pernyataan yang sukses menghantam dada Chanyeol, telak. Di sisi lain, Sehun mulai menunjukkan senyuman tipisnya. “Apa aku salah?”

Chanyeol membungkam bibir, ia tidak tahu harus merespons apa setelah ini. apa lebih baik kalau Chanyeol berpura-pura hilang ingatan dan mengelak dari pernyataan itu?

Well, aku memang tidak pernah salah.” Kata Sehun, dengan nada bangga. “Kupikir, kau tidak perlu bertanya mengapa aku mengetahuinya. Kau tahu? Mataku ada di mana-mana, aku bisa mengetahui segalanya, termasuk insiden ketika kau menyatakan rasa sukamu pada Reyna di depan kelasnya.”

Mati sudah Park Chanyeol. Bibirnya sudah terkunci rapat-rapat, tetapi amarahnya tiba-tiba saja bergejolak. Bukan berarti Chanyeol marah karena berita itu dengan cepatnya menyebar, tapi ia sama sekali tidak menyukai cara Sehun berbicara. Maka, yang dilakukan Chanyeol sekarang adalah berdiri dari kursinya dengan gerakan kasar dan menggebrak meja milik Sehun tanpa asa.

“Ya, aku memang menyukainya! Aku menyukai Reyna! Aku menyukai adikmu! Apakah aku salah, Oh Sehun?!”

Giliran Sehun yang bungkam, selagi pandangan mendongak menatap Chanyeol yang menjulang tinggi di hadapannya.

Entahlah, Sehun merasa jadi sedikit tak nyaman setelah mendengar kata ‘adik’ terlontar dari mulut Chanyeol. Laki-laki itu kini menyandarkan punggung, mencari posisi nyaman untuk duduk sembari melipat kedua tangan di depan dada.

“Tidak ada yang salah, kurasa.” Sahut Sehun, kalem. “Dan, yah, kau tidak perlu sampai marah seperti itu padaku,”

“Kau―”

“Dengar,” Sehun ikut berdiri dan balik menghunus Chanyeol lewat tatapannya. “Aku tidak peduli kalau kau menyukai Reyna atau tidak, tapi kau harus ingat satu hal,” katanya, menjeda sejenak sebelum melanjutkan, “aku tidak suka dibentak tanpa alasan yang jelas. Kau paham?”

Atmosfir di dalam ruangan kelas itu berubah drastis. Sehun memilih untuk membuang pandangan dan pergi meninggalkan kursinya. Tak peduli pada emosi Chanyeol yang masih tersulut, ia terus melangkah menuju pintu kelas.

-o-

Semua aktifitas di sekolah rupanya terlewati dengan cepat. Tanpa terasa, bel pulang sekolah telah berdering. Semua siswa mulai membereskan barang-barangnya di atas meja dan bersiap meninggalkan sekolah dengan dengan desahan napas lega yang terkuar.

Kebimbangan yang sedari tadi terus menemani waktu Reyna kini mulai mengikis, ketika Reyna teringat bahwa hari ini ia akan pergi mengunjungi panti asuhan bersama dengan Baekhyun. Perlahan, senyuman kecilnya pun terbentuk, membuahkan kelegaan tersendiri manakala detik demi detik ke depannya akan terisi dengan keceriaan yang membuncah.

Pertemuannya dengan para penghuni panti asuhan sangat ia idam-idamkan.

Oke, lebih baik Reyna cepat melangkah pergi ke area parkir, menemui Baekhyun dan Sehun di sana kemudian segera pergi ke panti asuhan Byeolbi.

“Reyna-ya,” langkah Reyna terhenti begitu ia mendengar Eunhee memanggil namanya. Ia hanya menggumam, lantas berbalik menghadap ke arah Eunhee yang menunjukkan senyuman kaku.

“A-aku … t-tidak … mmm, maksudku … kakakmu Oh Sehun―”

“Kau ingin menitip salam padanya, begitu?” o, lagi-lagi wajahnya berseri, sama seperti tadi pagi. Hanya saja Eunhee tidak mengetahuinya.

Mata Eunhee membulat seketika. Dari mana Reyna tahu kalau Eunhee ingin menitip salam pada Oh Sehun, si kakak kelas yang sedari dulu diidolakannya?

“Kau tenang saja, aku pasti akan menyampaikannya,” Reyna merangkul bahu Eunhee dan menatapnya sembari tersenyum. “Sampai jumpa besok!” tangan gadis itu melambai kecil pada Eunhee, meninggalkan Eunhee yang mematung di tempat karena tak percaya pada perubahan mood Reyna yang secepat itu. Eunhee masih mengingat bagaimana cara Reyna menatapnya sinis sebelum akhirnya tak mengacuhkannya, meski Reyna menyadari kalau Eunhee adalah teman satu bangku.

Lagi pula, tidak mungkin, bukan, kalau Reyna memiliki kepribadian ganda? Ha-ha, sama sekali bukan lelucon yang bagus, Park Eunhee! Lebih baik kau segera pulang saja dan banyak bersyukur, karena setidaknya teman satu bangkunya itu tak lagi menunjukkan raut datar yang sama sekali tidak kausukai.

-o-

Baekhyun, Sehun dan mobil sedan hitam itu sudah terlihat dari kejauhan. Reyna tersenyum lagi melihat kedua kakak laki-lakinya ada di sana, menyandarkan punggung pada pintu mobil yang menutup. Bahkan Reyna yang berstatus sebagai seorang adik pun, tak dapat menampik pesona yang dimiliki Baekhyun dan Sehun. O, well, apakah Reyna baru saja memikirkan pesona Oh Sehun? Baiklah, sudah terlanjur pula ia memikirkannya. Karena pada kenyataannya, Oh Sehun memang sosok laki-laki yang penuh pesona, maka tak salah kalau banyak gadis yang berniat untuk mendekatinya, sekalipun hasilnya nol.

“O, Reyna-ya!” seru Baekhyun, tak lupa mengukir senyuman lebar di bibir hingga menampilkan deretan gigi depannya yang putih dan rapi.

Reyna hanya membalasnya dengan senyuman manis, senyum yang menandakan kalau mood-nya saat ini memang sedang baik. Tetapi senyuman itu terkikis perlahan ketika ia melirik ke arah Oh Sehun yang tak menatapnya walau sejenak.

“Apa kau akan ikut juga ke panti asuhan?” itu adalah pertanyaan yang terkuar dari kedua belah bibirnya. Sehun memutuskan untuk membalas tatapan Reyna, datar. Ada satu helaan napas pendek sebelum ia membalasnya dengan gumaman singkat.

“Kau yakin?” tanya Reyna lagi, dan Sehun kembali menggumam sebagai balasan.

“Cepatlah masuk, jangan sampai kita terjebak macet hanya karena kau terlalu lama menatapku dengan tatapan seperti itu,” Sehun berceloteh panjang lebar, sambil lalu memasuki mobil, duduk di kursi penumpang bagian depan. Tak lama, Reyna dan Baekhyun menyusul dan duduk bersandar dengan nyaman di kursi belakang, seperti biasa.

Kala mobil mulai meninggalkan gerbang utama sekolah, Reyna berujar, “Temanku Park Eunhee, menitipkan salam untukmu.”

Sehun tahu untuk siapa perkataan itu ditujukan. Maka, ia hanya menoleh sekilas ke belakang, berusaha mencari tahu ekspresi Reyna sekarang.

“Kau mungkin sudah tahu bahwa dia menyukaimu sejak lama.” Reyna bersuara lagi, melirikkan matanya pada Baekhyun yang memberinya senyuman tipis. “Kuharap, kau mau memberinya kesempatan untuk mengobrol denganmu,”

“Hei, kurasa―”

“Aku percaya, kau tidak akan menyakiti hatinya,” potong Reyna, sebelum Sehun sempat menyelesaikan kalimatnya. Hingga akhirnya, Sehun kembali meluruskan kepalanya dan memejamkan matanya cukup lama, membiarkan telinganya mendengar tawa kecil bersumber dari dua saudara angkat yang duduk di belakangnya.

-o-

“Paman, tolong ikuti mobil sedan hitam yang ada di depan kita.”

Paman berusia separuh baya yang memegang kendali setir itu mengangguk, mematuhi perintah majikan mudanya. “Baiklah, Tuan Muda.” Katanya.

Chanyeol tahu, tak seharusnya ia melakukan hal ini. Mengikuti secara diam-diam mobil milik keluarga Oh di depannya. Namun, ketika ia berniat untuk menghampiri Reyna, dan tak sengaja ia mendengar kata panti asuhan yang terkuar dari bibir Reyna serta senyuman lebar sebelum gadis itu memasuki mobilnya, membuat hatinya semakin bertanya-tanya. Dan yang menjadi pertanyaan utama Park Chanyeol saat ini adalah; apa hubungan antara panti asuhan dengan mereka bertiga?

Apa mungkin asumsinya selama ini benar … bahwa mereka bertiga hanyalah berstatus sebagai saudara tiri?

―to be continue

 

ShanShoo’s note :

Hai hai! Balik lagi nih Isan dengan lanjutan FF The Miracle in Our Life! 😀

Maaf, ya, kalau ceritanya semakin gak jelas, yang bikinnya aja gak jelas begini x(

Ceritanya lagi dapet hari libur selama tiga hari setelah praktek lapangan, jadinya lumayan bisa lanjutin FF ini meski hasilnya gak maksimal x)

Btw, makasih, ya, udah mau baca ff ini sampai akhir :”)

Review kalian aku tunggu banget ^^

Tertanda,

ShanShoo♥

Iklan

16 comments

  1. Makasih Isan udah nyempatin lanjutin nih ff di sela- sela masa hiatus kamu. Yaa…kenapa kamu nolak chanyeol, Rey? Nyesel kan ujungnya. Kayaknya sikap sehun dan Rey mulai mencair nih nggak dingin” amat!!

  2. Ciee ehem 😀 😀 , sayangnya ditolak 😦 , aku aja deh yeol/dibalang chanyeol/hahaha. Gitu dong, terbuka sama kakak mu. Biar hati plong 😀 . OYA!! CIEE MAS HUN UHKHUMMM. Ciee awalnya saling tak acuh, tapi ke sananya sweeeet bingit. Makin sini makin seru kok, jadi lebig semangat 😀 😀 😀 ❤ ❤ ❤ ❤ ❤

  3. sepertinya reyna udah ada rasa2 gt sm chanyeol, chanyeol ngikutin reyna saking penasaran sm apa yg di ucapkan reyna bahwa mereka saudara angkat’kan ?
    next chapter di tunggu kapan pun…….

  4. Ffnya dilanjut aja udah bikin senang 😂 jadi gimana nih chanyeol ama reyna? Pasti canggung banget tuh kalo papasan 😑 sehun jadi aneh sumpah. Nggak ngerti ama jalan pikirannya 😕😑
    Maaf ya kak baru bisa baca sekarang. Sebenarnya aku mau coba berhenti pelan-pelan buat keluar dari yang namanya kpop, ya termasuk baca fanfiction. Coba menyibukkan diri belum lagi tugas-tugas kuliah bikin pusing banyak banget 😑😑 ini aja masih minggu ujian mid. Jadi maklumin ya kak udah jarang nongol di wp kakak 😂😂. Trus udah post ff pun syukur banget kakak masih sempatin. Salut lah sama kakak bisa bagi waktunya 👍 lah aku mah masih bingung, belum bisa banget bagi waktu antara kuliah sama fangirling an 😂😂😂 susah banget 😂😂😂
    *nah kan jadi curhat satu bab 😂😂😂*
    Semangat prakteknya!! Semangat nulisnya!! 😊💪💪

    1. Halo kak, huhu iya sehun masih labil sama pemikirannya sendiri. Maklumin aja 😂😂 tp syukur dia udah mulai peduli sama reyna 😊
      Waaaaah aku juga sebenernya udah mulai mengurangi kadar main(?) aku sama laptop, eh masih bandel aja ini tangan, kalo megang laptop bawaannya pengen bikin ff mulu 😂😂😂😂
      Btw makasih ya kak udh nyempetin waktunya buat baca dan komen ff ini😘😘😘

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s