This is (not) Cinderella’s Story — Chapter 2


newcinderella

ShanShoo’s present

Starring EXO-K (especially Chanyeol), OC | genre romance, slight!sad, angst, school-life, family, friendship | length chaptered (short story) | rating PG-17

Disclaimer : I just own the plot and OC’s character. So, enjoy it! And I’m sorry for many typos there 🙂

.

“Aku sedang menatap … Mia Kim.”

Prev story : Preview | Chapter 1—’M’ for…


 —Chapter 2 : Being Closer

.

“Coba ceritakan padaku, apa yang sebenarnya terjadi?” Eunhee bertanya seraya menatap heran ke arah Mia. Sudah ketiga kalinya Eunhee menanyakan hal yang sama, namun Mia belum merespons satu kali pun. Saat ini mereka tengah berada di taman belakang sekolah. Sebenarnya, Eunhee lah yang membawa Mia kemari. Alasannya karena ia tak mau melihat Mia terus dirundung rasa sedih karena hal itu.

Mia mendesah pelan. Matanya menutup perlahan begitu ia merasakan embusan lembut angin yang menerpa wajah dan juga rambutnya yang hitam legam. Kemudian ia merasakan sentuhan lembut dan berubah menjadi remasan kecil di bahunya. Mia lantas menoleh dan menatap Eunhee dengan seraut wajah tak sabaran.

“Ceritakanlah, aku sahabatmu, Mia.” Kata Eunhee kemudian.

“Berjanjilah, kau tak akan menceritakannya pada siapapun.” Jawab Mia sambil tersenyum kecil. Tangannya menyentuh punggung tangan Eunhee yang berada di bahunya.

Eunhee tak dapat menolak permintaan sahabatnya itu sekalipun ia memaksa. Padahal, jauh dari dalam lubuk hatinya, ia ingin mengatakan yang sesungguhnya pada siapapun jika gambar yang diakui Minri sebagai miliknya adalah milik Mia. “Kau …” gadis itu mendesah, “kau bisa memegang janjiku, Mia.” Ujarnya setengah tak rela.

Mia lantas menghela napas lega. Bersyukur setidaknya Eunhee mau memegang janjinya. Pandangan Mia tak lagi tertuju pada Eunhee. dia duduk menghadap ke depan, kedua tangannya saling bertautan di atas paha. Sesekali Mia menggigit bibir bawahnya ketika bayang-bayang kejadian di lapangan basket tadi menghampiri ingatannya.

“Ini semua kesalahanku,” Mia memulai ceritanya. Sedangkan Eunhee yang duduk di samping gadis itu memasang ekspresi serius untuk mendengarkan cerita sang gadis. “jika saja… aku tidak menggambar Chanyeol saat di lapangan. Mungkin.. semua ini tidak akan terjadi.” Lanjutnya seraya menundukkan kepala. Bulir bening sepertinya mulai muncul ke permukaan begitu Mia merasa dadanya sesak bukan main.

Eunhee menggeser posisi duduknya mendekati Mia, lantas ia merengkuh kedua bahu gadis itu untuk menenangkannya. “Ceritakanlah semuanya, Mia. Aku akan mendengarkanmu. Tapi jika kau tak mau, tak apa. Aku tak akan memaksa.” Katanya setelah ia melihat bagaimana ekspresi yang ditujukan Mia padanya.

“Aku baik-baik saja,” jawab Mia meyakinkan. Menepuk salah satu punggung tangan Eunhee di bahunya.

Mia terdiam sejenak. Menatap ujung sepatunya yang sedikit berdebu. Entah hal apa yang harus pertama kali diutarakan gadis itu pada sahabatnya.

“Tadi … aku benar-benar kehilangan inspirasi untuk membuat sebuah gambar baru,” gadis itu kembali memulai ceritanya, “Tetapi, ketika aku mendapati Chanyeol dan kelima temannya sedang bermain basket, inspirasi itu muncul tiba-tiba. Dan … tanpa kusadari, aku langsung menggambar sosok Chanyeol yang terlihat begitu mengagumkan ketika ia memasukkan bola basketnya ke dalam ring.” Tatapannya kini terlihat menerawang. Membayangkan bagaimana sosok Chanyeol menurut pandangannya. Hingga tanpa disadari, Mia membentuk sebuah senyuman tipis di bibirnya.

“Lalu?” tanya Eunhee saat Mia memberi jeda pada penjelasannya.

Mia mengembuskan napas pelan, “Minri dan Hayoung datang ke arahku, dan Minri lekas merebut paksa gambar Park Chanyeol yang kugenggam.”

“Oh, Tuhan.” kelopak mata Eunhee menutup, geram. Ia menggigit bibir bawahnya dengan keras. Menahan umpatan-umpatan yang hendak ia keluarkan, kalau saja ia tak ingat kalau saat ini ia sedang berada di sekolah. Sungguh demi apa pun, sikap kedua saudara tiri Mia sangatlah menyebalkan dan tidak berperasaan! Bagaimana bisa mereka melakukan hal itu pada Mia? Padahal Mia sangatlah baik dan selalu mengharapkan kasih sayang yang tersalurkan dari kedua saudaranya, selain dari ayahnya sendiri.

“Ini tidak bisa dibiarkan, kau tahu?” sepertinya Eunhee hendak mengingkari janjinya untuk tak memberi tahu hal ini pada orang lain. Kalau saja permasalahannya tidak serumit ini, Eunhee juga pasti tak akan banyak bicara. “Kau harus mengatakannya pada Chanyeol!”

“Tidak, Eunhee.” Mia menggeleng kecil. “Biarkan saja,”

“A-apa?!” satu alis Eunhee berjungkit naik, mimik wajahnya terlihat begitu terkejut karena ucapan Mia barusan.

“Biarkan saja mereka melakukan apa yang mereka inginkan,” gadis itu mengembuskan napas, lalu tersenyum getir. “Asal mereka tidak menyakitiku, itu sudah cukup bagiku.”

“Mia―”

“Eunhee,” Mia menyela ucapan sahabatnya. Ada setitik cairan bening yang turun menyusuri lekuk pipi gadis itu. Lekas Mia menyekanya, selagi ia melanjutkan, “kumohon, jangan perpanjang masalah ini lagi, okay?”

Kedua bahu Eunhee merosot begitu saja. Tatapan nanarnya kian menjadi. Eunhee tak tahu harus berbuat apa sekarang jika Mia sudah berkata seperti itu, selain mengikutinya dan mencoba membiarkan permasalahan yang dihadapi sahabatnya menghilang dari benaknya begitu saja.

“Kadang aku selalu bertanya-tanya, bagaimana bisa aku bertahan menjadi sahabatmu, Mia.”

Mia mengernyit, manakala perkataan Eunhee membuatnya tak mengerti.

“Tapi … well, aku tak menyesal mempunyai sahabat yang memiliki hati baik, sepertimu.” Seulas senyum bahagia terukir di bibir Eunhee. Kedua tangannya bergerak dan memeluk tubuh kurus Mia begitu erat. Memejamkan mata seraya melanjutkan, “Aku menyayangimu, Mia Kim.”

Tubuh Mia terasa menghangat. Air matanya kembali turun di balik rasa bahagia dalam dadanya yang membuncah. Ia pun lekas membalas pelukan sahabatnya, “Aku juga.” Ucapnya ketika senyum kecil terlukis di wajahnya yang menawan.

-o-

“Jadi, ayahmu juga mempunyai hobi melukis?” netra Minri terpaku pada wajah rupawan milik Chanyeol. Pemuda yang duduk di sampingnya itu mengangguk sembari menyisir rambut ikalnya ke belakang. Lantas, ia balas menatap netra sang gadis.

“Ayahku sangat suka melukis pemandangan-pemandangan dalam imajinasinya sendiri. Yah, bisa dibilang, beliau tak membutuhkan contoh gambar untuk lukisannya.” Ucap Chanyeol dengan nada bangga.

Guru di jam pelajaran hari ini tidak bisa masuk dikarenakan adanya rapat dadakan dengan para guru lain, dan juga dewan sekolah lainnya. Maka dari itu, Chanyeol mengajak Minri untuk duduk pada kursi yang terletak di tepian koridor kelas. Dengan tangannya yang masih menggenggam selembar kertas bergambar dirinya. Hingga saat ini, Chanyeol terus memuji indahnya gambar di atas kertas itu. Setelah beberapa tahun lamanya ia merasa bahwa tak ada yang  bisa menandingi kehebatan lukisan ayahnya sendiri.

“Apa salah satu dari keluargamu juga ada yang memiliki hobi melukis?” Chanyeol bertanya, penasaran. Dan Minri yang mendengar pertanyaan itu agak tergagap saat hendak menjawab,

Eng … tidak, tidak ada. Hanya aku saja yang bisa melukis, omong-omong.” Minri tertawa kikuk.

“Oh, benarkah?” Chanyeol terlihat takjub setelah mendengar penuturan gadis di sampingnya ini. “Kalau begitu, dari mana kau dapat keahlian dalam bidang seni lukis?”

Uh … itu … aku … belajar sendiri.” Minri menggaruk tengkuknya yang tak gatal. “Dan kurasa, gambar ini masih kurang bagus,”

“Tidak, menurutku gambar ini bagus, kok.” Chanyeol terkekeh. “Aku sangat menyukainya. Terima kasih.”

Keheningan di antara mereka mulai terasa. Namun kebahagiaan Minri belumlah surut, lantaran sosok idolanya masih berada di dekatnya, menatapnya, dan terus memberikan pujian mengenai gambar yang ia buat. Meskipun pada kenyataannya, gambar itu bukanlah ia sendiri yang membuat.

“Kapan-kapan, aku ingin mengajakmu pergi ke galeri lukisan milik ayahku.” Kata Chanyeol, memutus keheningan di antara mereka berdua.

“Eh?” Minri mengerjap tak percaya. Jantungnya mulai berdebar di atas rata-rata. kalau saja ini adalah ajakan biasa bagi seseorang yang ingin mengetahui bagaimana lukisan milik ayah seorang Park Chanyeol, mungkin Minri akan pergi tanpa perlu berpikir lebih dulu. Tapi ceritanya beda lagi. Bagaimana kalau―

“Aku jadi ingin melihat, bagaimana hasil lukisan yang kau dan ayahku buat. Mm, aku ingin melihat kalian berkompetisi, omong-omong.” Chanyeol memasang senyuman lebar yang terlihat sangat menawan. Bayangkan saja, siapa pun yang melihat senyuman itu pasti akan jatuh lebih dalam pada pesona memikat yang dimilikinya. Termasuk Minri, tentu. Gadis itu bahkan terlihat tercengang, seolah lupa pada setiap hal-hal yang tak terduga, yang mungkin akan terjadi padanya, seandainya ia tidak berhati-hati.

“Aku jadi tidak sabar,” suara bass milik laki-laki itu kembali menggema di telinganya. “Lusa kita akan pergi ke sana. Tak apa?”

Lagi-lagi, Minri membungkam bibir, hendak melontar kata namun mendadak saja lidahnya terasa kelu, sekadar untuk merangkai kata menjadi sebuah kalimat penolakan atau persetujuan atas ajakannya. Minri membutuhkan Hayoung sekarang. Tapi entah di mana saudara kandungnya itu. Padahal, segala macam permasalahan yang mereka hadapi, Hayoung pasti bisa mengatasinya. Termasuk masalah yang ini, mungkin.

“Mmm,” Minri menggumam, gusar. “Ba-bagaimana kalau … kupikirkan lebih dulu?” katanya.

“Kenapa?” tanya Chanyeol sembari mengerutkan samar keningnya.

“A-aku hanya … merasa gugup harus bertemu dengan ayahmu yang memang sudah andal di bidang karya seni lukis.”

Lalu, Minri mendengar Chanyeol tertawa ringan, menampilkan deretan gigi depannya yang rapi dan putih. “Bukankah kau juga termasuk ke dalam sosok yang andal di bidang itu?”

“Aku?” tanpa sadar, Minri menunjuk dirinya sendiri. “Aku bukanlah pelukis yang andal―” namun untuk kalimat yang terakhir, Minri menyadarinya. Amat menyadarinya.

“Kalau begitu,” Chanyeol berdeham beberapa kali untuk menjernihkan suaranya yang cukup parau. “bisa kauceritakan, bagaimana bisa kau menggambar diriku sampai sesempurna ini, sementara kau bilang bahwa kau bukanlah seorang pelukis―”

“Sudah kubilang aku memang bisa menggambar dirimu, Park Chanyeol!” pekik Minri, tanpa sadar―lagi. Dadanya sudah mulai naik turun karena emosinya yang telah tersulut. Oke, untuk kali ini saja, Minri mengabaikan beragam macam tatapan para siswa yang tertuju padanya dan Park Chanyeol. Mungkin kalau urusannya dengan laki-laki ini sudah beres, ia pasti akan menatap mereka satu persatu dengan sorot matanya yang tajam, seperti biasa.

“Oke, aku percaya kalau ini adalah gambar yang kaubuat.” Sebelah tangannya terangkat, melambaikan kertas gambar pada Minri yang masih dilanda emosi. Kentara sekali dengan Chanyeol yang masih memasang wajah kalem serta senyuman lebarnya yang masih terpatri.

“Lalu, kenapa kau masih mempertanyakannya?” kini, Minri mulai mencoba menstabilkan nada suaranya. Ia ingat, ia harus bersikap anggun di hadapan sang idola. Jangan sampai Chanyeol merasa jijik padanya hanya karena sikapnya yang terlalu frontal.

“Aku hanya penasaran,” Chanyeol mengedik bahunya sekilas. “Kapan kau menggambar ini? karena kurasa, aku tidak melihatmu di sekitarku.” Katanya, tenang. Mengabaikan perubahan drastis mimik wajah seorang Kim Minri di sampingnya.

“Kenapa kau menanyakan hal itu? Bukankah sudah jelas, aku menggambarmu ketika kau sedang bermain basket bersama dengan teman-temanmu?”

Untuk pertanyaan itu, Chanyeol jawab dengan anggukan kepalanya yang kepalang santai. Ia menekan kedua belah bibirnya, sebelum akhirnya ia merespons, “Ya, mungkin aku hanya kurang peka saja terhadap keberadaanmu. Tapi, aku tahu ketika aku bermain tadi, aku melihat sosok gadis lain yang duduk di bawah pohon rindang itu.” Chanyeol menunjuk tepat ke arah sebuah pohon besar, tempat di mana seorang gadis yang ia maksud duduk di sana.

“Itu aku.” Sahut Minri, masih terus berusaha menstabilkan suara. Berharap Chanyeol tak lagi menanyakan perihal itu lagi dan membuatnya semakin terperosok ke dalam situasi yang rumit.

“Jadi … itu adalah kau?” tanya Chanyeol lagi, mencari netra milik Minri yang bergulir ke sana kemari, menepis gusar.

“Ya.”

Tepat di saat jawaban Minri diberikan, Chanyeol tak sengaja mendapati dua sosok siswi berjalan bersisian sembari tersenyum kecil. Sepertinya mereka sedang asyik mengobrol. Dan tanpa diduga sama sekali, salah satu dari dua siswi itu menyadari tatapan yang Chanyeol berikan. Segera saja siswi itu menyikut salah seorang temannya dan berbisik, “Mia, sepertinya Chanyeol sedang memerhatikanmu.”

Ya, mereka berdua adalah Mia Kim dan Park Eunhee. Dua gadis yang baru saja memperbincangkan perihal gambar seorang Park Chanyeol saat di taman tadi. Lekas saja, Mia menolehkan kepalanya ke arah Chanyeol, laki-laki itu ternyata memang sedang menatapnya dengan ekspresi yang sukar ditebak. Di samping Chanyeol adalah Minri. Sosok saudara tirinya itu menatapnya dengan pandangan tak suka. Begitu masam dan tidak bersahabat sedikit pun. Mia tahu, Minri benci ketika Chanyeol menaruh perhatiannya pada gadis lain, bukan padanya. Tapi, bagaimana bisa Mia mencegah tatapan Chanyeol untuk terus tertuju padanya, sementara Mia sendiri merasa gugup dan canggung setiap kali maniknya dan laki-laki itu bersirobok?

“Siapa yang sedang kauperhatikan?” Minri membuyarkan lamunan Chanyeol tentang sosok Mia yang kini bersemayam dalam benaknya.

“Mia.” Jawab Chanyeol, dengan fokusnya yang belum lepas memerhatikan Mia, sampai gadis itu dan Park Eunhee menghilang di balik pintu kelas.

“Mia? Kenapa kau menatapnya? Apa kau menyukainya?!” Minri kembali tersulut emosi. O, Ya Tuhan! Andai saja Mia tidak berjalan melewat di depannya dan Chanyeol, sudah pasti Park Chanyeol tidak akan memerhatikannya sampai selekat itu.

“Aku?” setelah Chanyeol menyadari bahwa Mia tak lagi terlihat pandang, ia menggulirkan pandangannya pada Minri. “Entahlah, aku tidak tahu.” Katanya, lantas terkekeh pelan.

“Apa?!”

“O, ya. Jangan lupa tentang ajakanku tadi. Lusa, kita akan pergi ke galeri lukisan milik ayahku. Aku sendiri yang akan menjemputmu.” Chanyeol kembali pada topik utamanya. “Jadi, berikan alamat rumahmu sekarang.”

Seharusnya, Minri merasa bahagia karena akhirnya Chanyeol menanyakan alamat rumahnya. Tapi, bagaimana bisa ia merasakan bahagia kalau ia teringat, Mia pun tinggal di rumah yang sama dengannya? Apa jadinya jika Chanyeol mendapati Mia berada di rumah dan malah berbalik mengajak gadis itu untuk pergi? Bisa gila dia kalau sampai itu terjadi.

“Tidak usah, kita janjian saja di depan gerbang sekolah,” tutur Minri, seraya tangan mengibas, menolak memberikan alamat rumahnya pada Chanyeol.

“Kenapa? Bukankah lebih baik aku mengetahui alamat rumahmu? Yah, mungkin saja, kapan-kapan aku bisa berkunjung kalau ada waktu.” Ujar Chanyeol.

“Tidak perlu, Chanyeol. Lebih baik kita bertemu di depan gerbang sekolah saja. Ayahku tidak menyukai seorang teman lelaki datang ke rumah.” Kilah Minri pada akhirnya. Bersyukurlah ia karena berhasil mencari alasan yang pas untuk menolak permintaan Chanyeol.

“Baiklah, aku mengerti.” Chanyeol menganggukan kepalanya. “Ayo kita ke kelas, aku sudah mulai bosan berada di sini.” Ajaknya, seraya bangkit berdiri, kemudian berjalan lebih dulu yang langsung disusul oleh Minri sembari mengulum senyuman penuh kebahagiaan.

-o-

“Wow, lihatlah pangeran tampan kita, wajahnya kembali ceria seperti sedia kala.” Baekhyun merentangkan tangannya, menyambut kedatangan Chanyeol yang mulai duduk di sampingnya. Sementara keempat rekannya yang duduk di kursi bagian depan dan belakangnya, ikut tertawa menanggapi candaan Baekhyun.

Well, kurasa, dia hanya butuh sedikit hiburan. Contohnya seperti … berbicara dengan gadis itu?” sahut Kai, menatap penasaran pada wajah Chanyeol yang masih diliputi senyuman kecil.

“Dan kurasa, gadis itu memang jodoh yang tepat untuk Park Chanyeol.” Ini kata Joonmyeon, laki-laki yang tadinya sibuk menulis sesuatu di atas buku tulisnya.

“Hei, berhentilah menggodaku.” Chanyeol angkat suara, menatap kelima rekannya satu persatu, kemudian melanjutkan. “Dan, kaubilang apa, Joon? Dia adalah jodohku?” responsnya pada perkataan Joonmyeon barusan. Beberapa detik setelahnya ia menengokkan kepalanya ke belakang, pada Minri yang saat ini sedang dilanda kebahagiaan dan sedang berbicara dengan teman satu bangkunya, Hayoung Kim―lebih tepatnya, saudara.

Namun, tatapan itu tak berlangsung lama, ketika netranya bergulir ke arah lain, pada sosok Mia Kim yang saat ini sedang menekuni sesuatu di atas sebuah kertas. Pensil yang berada di genggamannya menari dengan perlahan, membentuk entah apa itu pada kertas yang sesekali gadis itu hapus, kemudian melanjutkannya lagi. Membuat rasa penasaran dalam diri Chanyeol membuncah begitu saja. Ia ingin mengetahui apa yang sedang Mia lakukan di sana, bersama dengan teman sebangkunya yang juga turut memerhatikan aktifitas gadis tersebut.

“Sedang memerhatikan Minri, eh?” suara Sehun menginterupsi rasa penasaran Chanyeol. Ada sebuah erangan kecil yang lolos dari bibirnya. Dan Sehun menanggapinya dengan cengiran lebar tanpa dosa. “Maaf sudah mengganggumu,” katanya kemudian.

“Tidak, aku tidak sedang memerhatikan Kim Minri, oke?” Chanyeol berujar, lalu kembali menengokkan kepalanya ke belakang.

“Jadi, siapa?” tanya Baekhyun. “Tidak mungkin, kan, kau sedang menatap Lee Taemin yang sedang mengupil di penjuru kelas?”

“Menjijikkan!” Chanyeol bisa mendengar Kyungsoo menggumamkan satu kata itu dengan nada malas dan datar, khas Kyungsoo sekali.

“Aku sedang menatap …” seiring dengan perkataannya yang terlontar, manik mata milik gadis itu pun akhirnya terarah padanya. Pada Park Chanyeol yang mulai tercengang dan tanpa sadar melanjutkan kalimatnya. “… Mia Kim.”

Mungkin untuk beberapa detik ke depan, Mia lupa caranya bernapas dengan benar. Gadis itu bahkan lupa caranya mengatur ekspresi wajah. Yang lebih parahnya lagi, Mia lupa membedakan mana suara-suara gaduh seluruh teman sekelas dan panggilan Eunhee yang ditujukan padanya. Hanya dengan maniknya yang bersitatap dengan Chanyeol sudah membuat Mia lupa segalanya.

“Hei, Mia!” bisik Eunhee, bergantian menatap Mia dan Chanyeol. “Mia Kim, kau benar-benar tidak mendengarku, huh?” katanya, kesal, namun senang pada waktu yang bersamaan. Dalam hati ia berharap, semoga Chanyeol cepat mengetahui kenyataan yang sebenarnya. Bahwa Minri bukanlah seorang pelukis yang andal, melainkan Mia.

“O, jadi kau sedang menatap Mia Kim?” Kai kembali menggodanya disertai senyuman jahil. Atensinya ikut terfokus pada Mia yang mulai gelagapan, berpura-pura untuk melakukan aktifitasnya yang tertunda sembari mata berulang kali melirik pada Chanyeol.

“Kenapa tidak kauhampiri saja? Kurasa … dia sedang menggambar, mungkin?” usul Kyungsoo, selagi pandangan terarah pada buku bacaan di hadapannya.

“Dari mana kau tahu?” ini pertanyaan dari Baekhyun. Well, tidak ada salahnya juga bertanya demikian. Lagi pula, sepengetahuan Baekhyun, Kyungsoo belum mengalihkan perhatiannya ke mana pun selain pada buku itu.

“Aku melihatnya sekilas,” sahut Kyungsoo kemudian, enggan melirik Baekhyun sama sekali.

“Oke, kau memang berbakat, Kyungsoo. Kau bisa melirik dan membaca bukumu itu secara bersamaan,” puji Baekhyun, setengah enggan.

“Ya, lebih baik kauhampiri saja dia,” kalimat itu kembali terdengar, namun bukan dari Kyungsoo, melainkan Joonmyeon. Chanyeol memikirkan sejenak usulan itu, ia sisiri rambut ikalnya dengan jari jemari tangan kanan ke arah belakang. Meski tanpa diperintah pun, Chanyeol ingin sekali datang menghampiri Mia dan menanyakan tentang apa yang sedang ia lakukan, hitung-hitung menjalin pertemanan lebih erat lagi, berhubung mereka berada dalam satu kelas yang sama dan jarang sekali berinteraksi, terkecuali jika mereka tergabung ke dalam sebuah kelompok tugas yang sama.

“Baiklah, aku akan menghampirinya.” Ucap Chanyeol cukup keras, namun tak yakin apakah Mia bisa mendengarnya atau tidak. meski pada kenyataannya, Minri yang duduk di bangku paling belakang bisa mendengarnya.

“Dia mau pergi ke mana?” tanya Hayoung, penasaran. Ia dan Minri sama-sama menilik pergerakan Chanyeol yang terlihat malu-malu. Dan … “Apa? Chanyeol menghampiri Mia? Untuk apa?” pekik Hayoung, tertahan. Maniknya membulat, begitu juga dengan Minri yang sepertinya, tensian darahnya sudah mulai meningkat drastis.

“H-hai.” Sapa Chanyeol, kikuk. Mia lantas terlonjak kaget dan menjatuhkan pensilnya begitu saja. Ia membalikkan kertasnya sehingga bagian yang masih polos berada di bagian atas,  kemudian hendak mengambil pensilnya yang bergulir di bawah kursinya, tetapi ia kalah cepat dengan Chanyeol. Laki-laki itu lekas mengembalikannya pada sang empunya. Menatapnya dengan senyum yang menghias parasnya yang sangat rupawan.

“Oh, t-terima kasih.” Mia tak mampu menatap Chanyeol. Tidak, dalam jarak sedekat ini.

“Ini kesempatan yang bagus, Mia! Kau tak boleh menyiakannya! Kau harus menceritakan yang sebenarnya pada Chanyeol!” Eunhee kembali berbisik, nadanya kelewat antusias sambil sesekali menengok ke belakang, pada Minri yang sudah diliputi amarah.

“Tidak.” kata Mia, namun Chanyeol mendengarnya.

“Kaubilang apa?” tanya Chanyeol, penasaran.

“Eh? Aku … aku tidak bilang apa-apa.” Mia membalasnya, dan ia merasa semakin canggung.

Ucapan itu direspons Chanyeol dengan anggukan mengerti sambil mengusak belakang tengkuknya. Mendapati ada satu kursi kosong di bagian depan bangku Mia, Chanyeol segera menariknya, dan menempatinya tepat di samping Mia.

“Kau sedang apa?” tanyanya dengan nada santai, seolah menepis fakta bahwa ia dan Mia sama sekali tidak berada dalam tahap teman dekat.

“A-aku?” Mia masih tergagap, dan Chanyeol menjawabnya dengan gumaman singkat. “Aku sedang―” gadis itu tak sempat menyelesaikan kalimatnya, ketika Chanyeol tiba-tiba meraih kertas yang berusaha Mia sembunyikan di balik kedua pergelangan lengannya.

“Kau sedang menggambar seorang wanita?” Chanyeol menatap gambar itu teramat takjub. Mia tak tahu harus mengatakan apa lagi setelah ini, sedangkan Eunhee―o, kau tak perlu menanyakannya. Kau pasti sudah tahu, kalau gadis itu sudah kepalang senang lantaran Chanyeol sudah mengetahui, kalau Mia Kim memang bisa menggambar, bahkan melukis di atas kanvas.

“Kembalikan kertasnya!” Mia berusaha menggapai kertas itu, tapi sayang, Chanyeol malah berdiri dan mengangkat kertasnya tinggi-tinggi. Sehingga mustahil bagi Mia untuk bisa menjangkaunya.

“Siapa wanita ini?” tanya Chanyeol, tak acuh pada setiap usaha Mia untuk mendapatkan kertasnya kembali.

“Aku mohon, kembalikan!” pinta Mia, maniknya bergerak gusar. Dadanya bergemuruh cepat ketika ia tak sengaja menatap ke arah Minri dan Hayoung yang memberinya tatapan mengancam.

“Kau bisa menggambar juga?” bagai tak peduli pada setiap untaian kata permohonan yang Mia lontarkan, Chanyeol terus memberinya pertanyaan. Membuat Mia merasa jadi tak enak dan tahu harus berbuat apa. Selagi matanya menelusuri setiap detail gambar yang Mia buat, ia juga mendapati adanya sebuah tulisan nama di bagian pojok kanan bawah. Tulisannya berbunyi; Mia. Dan tiba-tiba saja, Chanyeol teringat akan gambar dirinya pada selembar kertas yang kini telah bersemayam di balik buku pelajarannya. Di mana pada bagian yang sama, tertulis huruf ‘M’. Apakah mungkin ….

“Iya, dia bisa menggambar, Chanyeol!” ini kata Eunhee, begitu antusias, sampai-sampai Mia bisa melihat ada seberkas rona merah yang terlukis manis di wajah lembut milik teman sebangkunya itu.

Chanyeol mulai lengah. Ia menurunkan tangannya dan itu berhasil membuat Mia mendapatkan kembali kertas gambarnya. Malu-malu, ia menyembunyikan gambar itu di balik punggungnya.

“Tunggu dulu,” Chanyeol mengerjapkan matanya beberapa kali. “Kalau begitu … aku juga bisa mengajakmu pergi ke galeri lukisan ayahku.” Katanya, antusias. Berbeda dengan nada bicara yang Chanyeol lontarkan saat ia mengajak Minri tadi.

“Apa?” Mia membelalakkan matanya, kaget. “Ti-tidak, aku tidak bisa―”

“Jangan menolak ajakanku, oke?” Chanyeol tertawa senang. “Lagi pula, kenapa aku baru tahu sekarang kalau kau pandai menggambar, hm?”

Mia terdiam.

“Apa kau … pandai melukis juga?”

Mia tak mampu melontar kata apa pun, sekarang.

“Hei, Mia, kau baik-baik saja?” bisik Eunhee, menanyakan keadaan sang sahabat.

“Eunhee-ya, sepertinya … aku berada dalam masalah yang besar.” Ujar Mia, tak kalah pelan. Tak membiarkan Chanyeol mengetahui apa yang ia katakan.

“Maksudmu?” tanya Eunhee, tak mengerti.

“Apa yang akan Minri dan Hayoung lakukan padaku, seandainya aku menerima ajakan Chanyeol untuk mengunjungi galeri lukisan milik ayahnya?”

“Kalian sedang membicarakan apa?” suara Chanyeol terdengar menyambangi rungu keduanya. Bulir keringat sudah menetes di pelipis kanan Mia. Gadis itu hanya menundukkan kepalanya dan memejamkan matanya rapat-rapat.

“Maafkan aku, Park Chanyeol. Tapi aku tidak bisa pergi ke sana,”

Chanyeol terlihat terluka setelah mendengar penolakan dari Mia. “Kenapa? Apa kau tidak punya waktu? Atau―”

“Aku hanya tidak bisa!” pekik Mia, tertahan. “Dan aku tidak bisa menggambar.” Katanya. “I-ini hanya …”

“Kau tentu tak bisa berbohong padaku, Nona.” Potong Chanyeol dengan nada santai. “Tak semudah itu kau bisa membohongiku. Apalagi jika sudah ada fakta yang tersodor di depan mata.”

Mia kembali bungkam. Ia sudah tak bisa menjawab apa-apa.

“Esok lusa, aku akan mengajakmu dan Minri untuk pergi ke sana. Mm, sepulang sekolah, bagaimana?”

Mereka berdua kembali bersitatap.

Kalau boleh jujur, Mia memang sangat mendambakan untuk pergi ke galeri lukisan itu dan melihat segala keajaiban dalam bentuk lukisan dan gambar. Mia sangat menyukainya. Mia tak ingin melewatkan satupun lukisan di sana untuk ia nikmati keindahannya. Namun jika mengingat bagaimana menyeramkannya Minri dan Hayoung, membuatnya harus merelakan impian itu terkubur dalam-dalam―

“Dan aku tidak menerima penolakan apa pun darimu. Kau paham, Nona Kim?”

―terkecuali jika anak dari seorang pelukis terkenal itu, memaksanya berulang kali.

to be continue

ShanShoo’s note :

Iyaa yaaa aku tauuu… yodaaaah protes aja proteees karena aku kelamaan lanjutin ff ini yang sebenarnya, aku yakin banget kalian udah lupa sama ff ini /cry/

Huhu maafin aku, yaaa… aku emang penulis abal yang enggak berbakat sama sekali 😥 padahal aku ingin banget ngelanjutin ff ini sampai tamat. Yang aku perkirakan gak bakalan lebih dari empat chapter 😥

Tapi yaa semua bergantung kondisi. Semoga aku masih bisa lanjutin ff ini sampai selesai dan enggak nunggak lagi sampai ±2 tahunan :”)

Review kalian aku tunggu banget :”)

Tertanda, ShanShoo♥

Iklan

8 comments

  1. Aduuuh!! Ngeselin banget tuh Si Anak Gila!! :-@ maunya apa sih?! Puas aja nanti elu susah sendiri pas disuruh nge gambar. Tenang aja, aty pasti bawa tali buat hayoung minri. Hahahahahhahahahaha/tawa evil/kyuhyun marah/gak nyambung

  2. Alur klasik tpi tetep msih menarik, bkan krna nma oc nya mrip sma aku yah 😄
    Tpi jujur aku nemu ff ini krna ada nma mia nya sih😁
    Tpi serius ini msih tak tunggu klanjutan critanya, stu lgi tmbahin krakter cwe baik buat d.o thor biar ga fokus sma bku terus 😂😂😂
    Semngat lnjutin kryanya thor, krn jujur ff ini termasuk tulisan yg bgus aku cuma reader yg bisanya nikmatin krya kalian dan sedikit ngasih semngat & ucapan terimakasih🙏🙏😊

    1. halooo Miaa! duuuh berasa nyapa OC-ku sendiri x)
      hihi sebelumnya makasih kamu udah mau bertandang ke blog ini dan baca fanfiksi ini yang menurutku sangatlah mengecewakan :””
      dan yang lebih mengecewakannya lagi, aku enggak yakin apakah aku bisa lanjutin ff ini atau enggak sama sekali 😦
      tapi semoga aja suatu saat nanti aku bisa lanjutin sampai kelar, tapi enggak sekarang :””)

  3. Huwaaaa keren.. lanjut thor.. owh iya yang chap 1 aku udah baca cuma lupa ninggalin komentar jadi sekalian disini aja nggak apa-apa kan thor.? Minri sama hayoung jahat bngt padahal kan di chap 1 itu mobilnya mia eh kok malah mereka yg pakai.. trus itu di chap 2 padahal itu gambarnya mia malah direbut minri.. chanyeol harus sama mia ya thor..

    1. halo, Cormaria! heheh aku gak janji bakal lanjutin ff ini lagi, ya. soalnya aku udah jarang banget punya waktu luang karena bentar lagi harus ngadepin sidang 😦
      tapi mudah-mudahan aja aku bisa lanjutin sampai tamat, amiiin. makasih ^^

  4. Halo ka isan , maafkanlah aku yang baru mampir lagi di sini
    Auh,, ceritanya menyentuh hatii, gatega … kasian mia nyaa
    Smoga mianya ikut tuh ke galeri bapanya chan, biar ktauan siapa yg bisa gambar, huuu makan tuh minrii haha
    Pkonya top banget deh ka isan, aku tunggu yg brikutnya oke oke

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s