Encouragement


3f4028c4e0cba23da14c9176a02e5ad2

ShanShoo’s present

Story before : It’s Time to Clean!We Meet AgainSsstt! Don’t let Her Know!

.

Tiga jam telah berlalu, dan Dana hampir kehilangan kesadarannya. Andai saja Dana tidak terlambat bangun di pagi hari dan melewatkan sarapannya, mungkin Dana tidak akan terlihat pucat seperti ini. Dengan mata yang dipaksakan untuk terus membuka, sementara jemarinya bergerak menekan papan ketik di hadapannya. Oh, demi Tuhan.

Namun untungnya, Bae Joohyun yang duduk di sebelah kubikel milik Dana segera menoleh ke samping, mengamati Dana yang mengetik sembari sedikit menundukkan kepala. Gadis Bae itu lantas mengernyit heran sekaligus khawatir. Sebelah tangannya pun beranjak menyentuh pundak Dana dan bertanya, “Kau baik-baik saja―oh, Dana-ya, wajahmu sangat pucat!” pekik Joohyun pelan. Berusaha agar tidak terdengar oleh para pegawai lainnya yang terlihat sangat sibuk dengan pekerjaan masing-masing.

I’m okay,” sahut Dana tanpa menoleh menatap Joohyun, tetap memaku perhatian pada layar komputer. Dan bukan Bae Joohyun namanya kalau ia tidak bisa membuat Dana mau menatap padanya.

Hey, Girl,” Joohyun meremas bahu Dana dan menghadapkan tubuh gadis itu ke arahnya. “Kau tidak sarapan dulu? Mau kubelikan sesuatu? Seperti roti isi daging atau―”

“Mm, sebentar lagi, Joohyun. Aku harus menuntaskan pekerjaanku. Kalau tidak, Ketua Tim akan memarahiku habis-habisan.” Dana menyahuti lagi, lalu mendesah pelan. “Aku akan baik-baik saja selama tiga jam ke depan.”

“Apa?” Joohyun membelalak kaget mendengarnya. Si gadis bersurai cokelat terang itu lantas melanjutkan. “Kau benar-benar akan mengabaikan perutmu yang lapar?”

“Mm, mungkin,” gumamnya, singkat. “Tak apa, aku baik-baik saja. Percayalah.” Dana kembali tenggelam dalam kesibukannya. Mengabaikan celotehan Joohyun di sampingnya yang mungkin tak akan berhenti jika Dana menyuruhnya untuk diam. Hingga pada akhirnya, Joohyun pasrah pada keputusan Dana. Namun ia memegang janji dalam hati, kalau ia akan pergi membeli makanan untuk karibnya kalau pekerjaannya selesai lebih cepat. Lagi pula, Joohyun hanya tinggal mengirimkan berbagai macam koreksi yang telah ia dapatkan pada kliennnya sebelum naskah yang dikirim sang klien akan dipublikasikan.

-o-

Tetapi sepertinya, Joohyun tak bisa menepati janji. Oh, bagaimana bisa Ketua Tim memberinya tambahan beban pekerjaan ketika Joohyun selesai dengan salah satu pekerjaannya? Lalu, bagaimana nasib Dana?

“Song Dana, please, belilah sesuatu di Starbucks. Aku akan menyusulmu nanti.” Dana hendak menyela, namun Joohyun tak mengizinkan. “Aku tak mau kau jatuh sakit karena terus menahan rasa lapar seperti ini.”

Dana hanya mengembuskan napas kemudian mengangguk mengiakan. Mengingat kenyataan bahwa perutnya benar-benar membutuhkan asupan nutrisi. Dan, Dana baru menyadari kalau tubuhnya terasa semakin lemah dan matanya berkunang-kunang. Benar juga apa kata Joohyun, ia bisa jatuh sakit jika mengabaikan kondisi perutnya yang kosong hingga berjam-jam begini.

Maka, di sinilah Dana. Berada di dalam Starbucks yang dibangun dengan dana perusahaan miliknya, sembari pandangan mengarah pada hiruk-pikuk kota Seoul yang tak pernah padam. Pesanan telah ia utarakan pada pelayan, tinggal menunggu beberapa menit sebelum ia mengisi perutnya.

Bosan menunggu, Dana memilih mengeluarkan ponselnya dari dalam saku kemeja, kemudian mulai membuka aplikasi LINE dan mengetikkan pesan untuk kekasihnya.

‘Kau sedang apa?’

Terbaca. Senyuman mengembang tercipta di bibir Luhan.

‘Di mana kau? Apa kau melewatkan sarapan pagimu?’

Dana tertegun begitu ia membaca balasan dari Luhan. Maniknya mengerjap beberapa kali sebelum memutuskan untuk membalas kembali,

‘Kau tahu dari mana?’

Terbaca. Dan balasan yang diberikan Luhan memakan waktu yang cukup lama.

God! Kenapa kau bisa melewatkannya begitu saja? Kautahu? Aku sudah membuatkanmu sarapan di atas meja makanmu. Tapi kau …oh, My Darl! Bagaimana jika kau sakit? Bagaimana jika kau mendadak pusing dan terjadi sesuatu yang membuatmu harus dibawa ke rumah sakit?’

Oh, pantas saja Luhan tak memberinya balasan cepat.

‘Berhentilah bersikap khawatir seperti itu, Lu. I’m fine. Seorang Song Dana tidak akan pernah jatuh sakit, oke?’ balas Dana, lantas melayangkan stiker love dua kali.

Belum terbaca, dan beberapa detik setelahnya tanda baca terpeta di layar ponselnya.

‘Di mana kau sekarang?’

 

‘Starbucks.’

 

‘Oke, aku akan ke sana.’

 

‘Untuk apa?’ kening Dana mengerut tanpa disadari.

‘Kau masih bertanya untuk apa? Tentu saja aku ingin memberimu vitamin supaya kau tidak mudah jatuh sakit. Jadi, tunggu aku beberapa menit lagi, oke?’

 

‘Lalu, bagaimana dengan pekerjaanmu?’

 

Tak ada balasan. Satu menit, dua menit, bahkan ketika pesanan Dana datang pun, Luhan belum membalasnya. Dan beberapa detik setelahnya, Dana mendengar ponselnya menderingkan nada LINE.

‘Aku sudah meminta izin pada bosku untuk keluar sebentar.’

 

Dana tersenyum, lalu menggeleng tak percaya. Oh, Dana tak percaya, Luhan bisa meminta izin begitu pada bosnya, yang katanya terkenal menyeramkan dan berwajah sinis. Dana hanya membalasnya dengan emotikon tertawa berurai air mata, lantas menyimpan ponselnya di atas meja. Dana mulai mengisi energinya, selagi ia menunggu kedatangan Luhan ke Starbucks.

Butuh dua puluh menit bagi Luhan untuk berada di depan pintu kaca Starbucks. Dari luar, ia bisa melihat sosok kekasihnya yang duduk memunggungi pintu masuk. Seulas senyum terukir di bibir Luhan. Ia membuka pintu mobil lalu menutupnya, dan bergegas memasuki bangunan beraroma cokelat-stroberi itu dengan langkah lebar-lebar.

“Dana-ya!” panggil Luhan begitu ia membuka pintunya, membuat beberapa pegawai di sana menoleh padanya sejenak untuk mengamatinya, sebelum kembali menekuni kegiatan mereka di sana. Sementara si gadis Song membalas tatapan Luhan diiringi senyuman merekah. Namun berbanding terbalik dengan Luhan, ia malah memberinya tatapan memicing disertai omelan-omelan yang terlontar. “Wajahmu pucat! Matamu sayu! Dan kau terlihat tidak sehat. Inikah yang kaubilang ‘Seorang Song Dana tidak akan pernah jatuh sakit’?” katanya, sembari duduk berhadapan dengan gadis itu.

Dana terdiam di tempat. Senyumannya menghilang dan ia menghela napas sebelum menyahuti, “Aku terlambat bangun,”

“Oh, benarkah?” Luhan berpura-pura berdecak kesal. “Dan kau tetap melewatkan sarapanmu?”

“Mm,” sahut Dana singkat. “Sudahlah, Lu. Yang penting, sekarang aku sudah mengisi perutku. Seharusnya kau―”

“Kau tidak boleh mengulangnya lagi.” Potong Luhan cepat, seraya tangan menyodorkan dua botol beling berukuran kecil, berisi vitamin yang dikatakan Luhan tadi. “Ini, minumlah. Kau harus tetap fit selama bekerja.”

“Mm,” Dana menggumam lagi. “Terima kasih.”

“Ingat, kau harus meminumnya atau―”

“Oh, aku mengerti.” Potong Dana, mengibaskan sebelah tangannya. “Berapa waktu yang kaupunya sekarang?”

Luhan melirik jam tangannya. “Dua puluh menit lagi? Entahlah, sampai kau selesai bekerja pun mungkin aku akan di sini saja.” Katanya, mengangkat kedua bahunya singkat.

“Apa?!”

“Ya, sampai kau pulang bekerja juga tidak apa-apa. Jadi aku bisa langsung mengantarmu ke flatmu,”

“Kau gila.” Umpat Dana pelan. “Apa kau mau dipecat?”

“Aku akan mencari pekerjaan lagi,” sahut Luhan seraya terkekeh kecil.

“Kau memang gila.” Dana mendesah berlebihan. “Cepatlah pergi, sebentar lagi aku juga akan kembali bekerja.”

“Mm,” Luhan mengikuti nada gumaman kekasihnya. “Bagaimana denganku?”

“Kau juga harus segera kembali, Lu Han!”

Luhan membuang napasnya dengan cepat lalu tertawa pelan. “Ya … ya, aku mengerti. Kalau begitu, hubungi aku jika kau sudah selesai.”

“Ya,” sahut Dana ringkas.

“Hanya itu?”

“Maksudmu?” tanya Dana karena tak mengerti.

Well, setidaknya kau mengatakan ‘Hati-hati di jalan’ padaku.” Ekspresi kecewa tercipta di wajah menawan milik Luhan yang saat ini mengenakan setelah jas berwarna abu, pun kemeja putih dengan satu kancingnya yang terbuka di bagian atas.

“Oke, hati-hati di jalan.”

Tiba-tiba, Luhan memajukan tubuhnya dan mencium sekilas bibir kekasihnya. “Ya, katakan sekali lagi.” Ia mendapati Dana melotot ke arahnya. “Setelah itu, aku akan pergi.”

Dana menghela napas lelah, menekan kedua belah bibirnya, lalu, “Hati-hati di jalan.”

Senyum lebar terlukis di paras Luhan. Sebelah tangannya lantas terangkat dan mengusak sayang surai hitam legam Dana. “Ya, aku akan berhati-hati.”

Setelah mengucap kata perpisahan, Luhan beranjak dari tempat duduknya, meninggalkan Dana dengan senyuman yang masih terpeta, dan juga dua botol vitamin yang diletakkan di depan makanan. Laki-laki itu kini menghilang dari pandangan Dana. Membuat gadis itu mengembuskan napas yang sedari tadi ditahannya. Oh, demi Tuhan, Dana selalu tak berdaya jika harus memerhatikan penampilan Luhan yang dibalut pakaian kerjanya. Begitu menawan dan terlihat elegan.

Lamunan Dana membuyar seketika, begitu ia mendengar pesan LINE masuk ke ponselnya. Oh, rupanya ada dua pengirim.

Yang pertama dari Luhan, ‘Beri tahu aku jika vitaminnya sudah kauhabiskan

Yang kedua adalah dari Bae Joohyun, rekan kerjanya, ‘Dana-ya, kau sudah selesai? Ketua Tim mencarimu. Cepatlah kembali atau dia akan mengamuk di depan kubikelmu.’

Dana terlonjak dari tempat duduknya. Gadis itu kemudian membayar bill dan segera meninggalkan Starbucks dengan perasaan tak menentu. Namun tetap saja, senyuman di bibirnya tak akan hilang, selagi pikirannya terus dipenuhi oleh bayangan wajah Luhan yang manis serta kecupan ringan bibirnya yang mampu meningkatkan kerja jantungnya dalam sepersekian detik.

-end

 

Iklan

8 comments

  1. Ciee pasangan..
    Han-Na
    Lu-Na
    Lu-Da
    atau Han-Da? Ah, entahlah. Mereka selalu sweet 😀 pesan itu antara membahagiakan dan menegangkan. Hahaha. Jadi ketawa aty 😀 :’D

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s