Doting


6849ed18ac6ab94c06e285513474dfdc

ShanShoo’s present

Before : It’s Time to Clean!We Meet AgainSsstt! Don’t let Her Know!EncouragementStill a Long TimeFaithfulabout Promise and Sincerity

.

“Apa? Luhan melamarmu?” Bae Joohyun tak dapat menyembunyikan keterkejutan di wajahnya, sesaat setelah ia mendengar Song Dana menceritakan hal itu dengan ekspresi yang sukar diartikan.

Merasa senang? Oh, memangnya perempuan mana yang tidak senang saat kekasihmu melamarmu untuk menjadi istri dari anak-anaknya nanti? Lalu … apakah Dana merasa sedih? Well, pertanyaan ini memang tak usah diragukan lagi. Ya, Dana merasa sangat sedih lantaran ia tak bisa menerima lamaran Luhan dan menikah dengannya secepat mungkin. Meski umur mereka berada dalam usia pernikahan ideal, Dana tak mungkin melanggar kontrak yang telah ia sepakati bersama pemilik perusahaan untuk tidak menikah lebih dulu selama dua tahun ke depan.

Kontrak sialan! Batin Dana.

“Kautahu kalau pernyataan lamaran adalah hal paling membahagiakan, Joohyun?” sahut Dana, dengan pancaran kebahagiaan yang memang terlihat jelas di kedua bola matanya, tetapi bercampur dengan kesedihan yang begitu kentara. “Tapi … kontrak itu … aku tak bisa melanggarnya. Kecuali jika aku harus berhenti bekerja.” Katanya, setengah menggumam pada kalimat terakhirnya.

“Oh, tidak, Dana.” Joohyun menghela napas, cukup kaget dengan keputusan terakhir Dana―maksudku … angan-angan gadis itu untuk berhenti bekerja. “Dana-ya, aku sangat senang mendengar hal ini dan mendukung apa pun keinginanmu. Tapi … aku juga mungkin tak akan memiliki kerabat yang hebat selain dirimu.” Kata gadis berwajah oriental serta berkulit putih pucat ini. Untuk sesaat, Joohyun mengabaikan beragam macam laporan yang masuk ke komputer kerja di kubikelnya, dan memilih untuk menggeser kursi putarnya ke kubikel sang karib. Lagi pula, rasanya sangat penat bila dirinya terus menyibukkan diri dengan berbagai macam laporan yang harus ia kerjakan hingga tuntas malam ini. Berat badannya pun sempat turun karena Joohyun melupakan asupan gizi yang harus ia peroleh setiap jam istirahat tiba.

“Kau tentu tahu kalau aku sangat menyenangi pekerjaan ini.” desah Dana, membalas tatapan Bae Joohyun.

“Omong-omong, apa Luhan menerima keputusanmu?” tanya Joohyun sembari menautkan sepasang tangannya pada tangan Dana. “Dia … tidak merasa kecewa atau sejenisnya?”

Lantas, senyuman kecil menjadi jawaban nonverbal atas pertanyaan dari Joohyun. “Sekali pun, dia tidak pernah merasa kecewa atas keputusan yang kuberikan.” Sahutnya mantap. Ah, terkadang Dana lupa kalau ia memiliki sosok kekasih yang pengertian seperti Luhan.

Bae Joohyun ikut tersenyum lega mendengarnya. Sorot tatapannya terasa semakin menghangat. Lalu, ia berbicara lagi. Kali ini nada bicaranya cukup santai. “Apa pun keputusanmu, aku juga akan ikut bahagia, Dana.”

“Terima kasih.” Sahut Dana ringan seraya tersenyum kecil. “Omong-omong, kau sudah menyelesaikan laporanmu?”

“Astaga! Demi Tuhan, Dana! Aku lupa!” Joohyun mengerjap panik, sebelum akhirnya ia kembali menggeser kursi putarnya ke kubikelnya. Jemarinya dengan cepat mengetik sesuatu di atas papan ketik, selagi pandang menatap cemas pada layar komputernya.

Sementara itu, Dana yang duduk di sampingnya hanya bisa terkekeh kecil dan kembali melakukan pekerjaannya yang sempat tertunda. Baiklah, Dana juga harus segera menyelesaikan pekerjaannya. Bila tidak, ia bisa berdiam di sini sampai tengah malam menjelang. Dan ia tentu tak mau membayangkannya. Terlebih membayangkan raut wajah Luhan yang menyatakan kekesalan saat mendapati kekasihnya sendiri pulang ke flat dengan kantung mata hitam yang menyeramkan.

.

“Besok, Minho akan pergi berkunjung ke flat. Apa kau sibuk?”

“Adikku?” tanya Dana, sedikit terkejut, lalu mengalihkan genggaman ponselnya dari telinga kiri ke kanan. “Memangnya ada apa? Apa terjadi sesuatu padanya?”

Di seberang sana, Luhan tertawa gemas. “Tentu tidak, Sayang. Tidak ada sesuatu yang terjadi padanya. Dia hanya ingin … well, mengunjungi kakak perempuan tersayangnya yang begitu ia rindukan.”

Dana ikut tertawa. Selagi ia merajut langkah meninggalkan gedung perusahaan editornya tepat pukul delapan malam. Dan di jam ini, Luhan tengah berada di kantornya, bersiap untuk melembur. Oh, pasangan ini benar-benar mencintai pekerjaan yang digelutinya, ternyata.

“Besok siang aku ada di sana. Mm, kalau begitu, apa besok kau sibuk?”

Terdengar gumaman pelan dari Luhan, sementara Dana baru sampai di halte bus untuk menunggu bus yang akan mengantarnya pulang. “Kurasa tidak. kenapa?”

“Bagus. Kau harus membantuku memasak.” Ujar Dana dengan nada cukup tegas.

“Untuk Minho?” Dana merasa Luhan terkejut mendengar ucapannya. Hal itu membuatnya berusaha menahan tawa.

 

“Ya.” Sahut Dana singkat, berpura-pura tak acuh pada desahan napas panjang kekasihnya. “Jadi, kau harus membantuku memasak.” Ulang Dana, seolah Luhan akan melupakan perintahnya beberapa detik lalu.

“Dan kau jarang sekali memasak untukku jika aku datang ke sana.” Sementara itu, Luhan berkeluh kesah dan menghela napas, sehingga lagi-lagi, Dana harus berusaha menahan tawa. Oh, sikap Luhan memanglah sangat menggemaskan.

Tetapi pada akhirnya, Dana menyuarakan tawa singkatnya. “Jadi kau merasa cemburu karena adikku sendiri?” tanyanya dengan nada menggoda.

“Tentu saja tidak.” Luhan mendengus, setengah kesal. Meski pada kenyataannya, ada secuil kebenaran dalam perkataan yang Dana lontarkan. Dan Luhan enggan mengakuinya. Akan sangat memalukan baginya jika Dana mengetahui tentang hal itu. “Baiklah, aku akan membantumu. Jadi … sampai jumpa besok.” Kata Luhan, menyerah. Karena … well, biar bagaimanapun, ia memang tidak akan pernah bisa menang melawan Dana. Bukan, bukan karena Dana adalah sosok gadis yang keras kepala. Namun, entahlah. Luhan sendiri sukar untuk menjelaskannya.

“Mm,” Dana menatap jalan raya yang masih ramai di depannya, sambil sesekali menoleh ke kanan, berharap semoga bus yang ditunggunya saat ini segera datang. “Apa kau sudah makan malam?” tanya Dana, mencari obrolan lain yang lebih ringan. Terlebih, Dana memiliki firasat kalau Luhan belum menyantap makan malam.

Not yet.”

 

Nah, dugaan gadis itu benar, kan?

“Kau menyiksa dirimu sendiri, Lu Han.” Desis Dana karena kesal, lalu melanjutkan, “Pergilah keluar untuk membeli makanan.”

“Bagaimana denganmu? Apa kau sudah makan malam?”

Uhm,” mendengar pertanyaan itu, Dana gelagapan. Belum sempat ia menjawab pertanyaan Luhan. Dan ketika maniknya mendapati bus dengan jurusan yang dikehendaki, Dana segera menjawab, “Busku sudah datang. Selamat malam! Jangan lupakan makan malammu. Setelah aku sampai di flat, aku akan segera tidur. Jadi jangan meneleponku, oke? Bye!”

Pip.

Dengan berakhirnya sambungan pembicaraan sepihak itu, Dana lekas melangkah lebar dan memasuki bus, mengeluarkan kartu busnya dan menempelkannya ke layar baca yang ada di sana, sebelum ia memilih duduk pada kursi penumpang bagian depan yang masih kosong.

Oh, untung saja busnya cepat datang. Karena jujur saja, Dana tak sepandai Luhan atau Song Minho dalam hal berkilah atau mengelak dari pertanyaan yang menurutnya memojokkan.

Sayangnya, Dana lupa mematikan ponsel. Sehingga kini ponselnya berdering singkat, menandakan ada pesan masuk.

From : Luhan

Aku sudah membayar delivery order untuk makan malammu. Jadi, kau tidak boleh tidur sebelum pesanannya datang. Oke? ILY

 

-end

ShanShoo’s note :

Yeaay! Nge-post fanfiksi series dari kapel Luhan-Dana dua sekaligus! Seneng gak? Eheheheh

Makasih ya buat kalian yang udah menyempatkan waktunya buat baca dan berkomentar

Iklan

3 comments

  1. Iya kak! Aty seneng langsung ada dua fic Lu-Na! Berasa nonton mini drama, jadi senyum sendiri deh. Kalau menurut aty, Lu-Na itu pasangan yang paling bikin aty iri. Secara, mereka sweet mulu setiap saat. Perhatian banget deh luhan, mau dong punya pacar kaya luhan!! Aty pesen satu ya?!/emang beli lotek?/aduh, kakak, susah mup on ama kapel ini :-D:-D 😀 udah deh, aty penasaran sama satunya. Kebalik ya bacanya? Malah yang ini yang duluan dibaca 😀 😀 V

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s