[HunHee Series] #8 Give and Take


HunHee2

ShanShoo’s present

Sehun with Eunhee

vignette 2.668 words

.

Beri tahu aku nomor ponselmu.

Prev series : #1 #2 #3 #4 #5 #6 #7

.

Kalau ada seseorang yang harus kuhajar sampai titik darah penghabisan, seseorang itu haruslah Park Jimin. Ugh, sungguh, aku sangat membenci adikku itu. Bagaimana bisa ia mengetuk pintu kamarku seperti orang kesetanan? Terlebih, suaranya yang agak berat itu terus meneriaki namaku berkali-kali, seolah aku telah kehilangan fungsi pendengaranku.

Meski masih dalam bayang-bayang mimpi-setengah-buruk, aku sadar kalau hari ini adalah hari Minggu. Masa di mana aku akan menghabiskan sebagian waktuku di dalam kamar, dalam kata lain, melakukan hibernasi. Jadi, wajar saja, bukan, kalau aku merasa kesal lantaran Park Jimin terus menggedor pintu kamar dan mencoba untuk menyingkirkan waktu hibernasiku yang berharga?

“Kak Eunhee, buka pintunya, dong!” Jimin berteriak lantang. Mungkin ia menganggap rumah ini hanya dihuni oleh kami berdua. Padahal, aku yakin sekali, ayah dan ibu sudah menempati meja makan untuk menyantap sarapan pagi seperti biasa. Apa dia tidak takut terkena teguran dari ibu atau ayah? Ha! Sepertinya tidak, selama itu adalah Park Jimin.

Aku masih bergelung di bawah selimut tebal yang nyaris menenggelamkan seluruh tubuhku. Menolak ketika cahaya matahari menawarkan kehangatan padaku melalui setiap sudut celah gorden kamarku yang masih tertutup. Sudah kukatakan bahwa aku akan berniat untuk berhibernasi, bukan?

“Kak, ada kak Sehun di bawah. Kau enggak mau menyapanya?” jeda selama beberapa detik sampai Jimin kembali berujar, “Kak Sehun lagi ikut sarapan dengan ayah dan ibu.”

Dan, kalau ada seseorang yang perlu dirutuki karena kebodohannya dalam mengabaikan presensi seseorang yang sangat ingin ia temui, maka orang itu adalah aku.

-o-

Ya, kenyataannya, aku memang perlu merutuki kebodohanku sendiri. Park Jimin menipuku telak―tidak ada Sehun di sini―dan dia tertawa terpingkal-pingkal. Aku perlu merutuki kecerbohanku juga karena meninggalkan kamar dalam keadaan mengenaskan. Rambut cokelat panjangku yang kusut, wajah kuyu, kotoran di kedua sudut mataku, juga jejak air liur yang membekas di salah satu sudut bibirku. Kudapati ibu mengulum senyuman sambil mengunyah pelan roti panggang di mulutnya, sementara ayah hanya menggelengkan kepalanya, menanggapi sikap kakak-adik yang terlihat jelas di penglihatannya.

Sedangkan aku, si anak sulung bernama Park Eunhee, hanya bisa menatap dongkol ke arah Jimin yang mulai mengolesi roti panggangnya dengan selai cokelat. Maniknya sesekali mencuri pandang ke arahku, lalu kembali memerhatikan setiap tepian rotinya―tapi kebanyakan ia memerhatikanku yang masih diam mematung di dekat meja makan.

“Ini enggak lucu, kautahu?!” ujarku memulai. Peduli setan dengan suaraku yang masih jauh dari kata bagus―dan kenyataannya, suaraku memang tidaklah bagus. Ini mengingatkanku pada nyanyianku bersama Oh Sehun beberapa waktu lalu. Nah, pertanyaannya, kenapa juga aku harus mengingat momen memalukan sekaligus menghangatkan itu? Membuat kedua pipiku merah merona saja.

“Memang enggak lucu.” Sahut Jimin, memulai gigitan pertamanya.

“Terus kenapa kau tertawa? Dasar aneh!” sembari berdecak kesal, aku memutuskan untuk bergabung duduk pada kursi makan di samping Jimin. Aku mengabaikan perintah ibu untuk mencuci mukaku terlebih dulu sebelum ikut sarapan. Ayah juga tidak kupedulikan. Perutku yang berdemo karena lapar haruslah kuutamakan.

“Kau mudah sekali dibodohi, Kak. Aku takut terjadi sesuatu yang enggak-enggak padamu di luar sana, menilik dari kebodohanmu pagi ini.”

“Berapa kali kau bilang aku bodoh?” tanyaku masam, melirik tajam ke arahnya.

“Dua kali. Tambahan lima dari dalam hati,”

“Sialan.” Umpatku tertahan. Selebihnya, aku mencoba untuk menikmati roti panggang selai nanas di mulutku yang terasa kering. Ah, nyatanya aku memang beneran bodoh. Seharusnya aku meneguk air minum dulu sebelum sarapan.

“Sudahlah, cepat habiskan sarapan kalian. Dan kau, Park Eunhee, pergilah mandi setelah ini. Temani Ibu pergi berbelanja.” Titah ibu, begitu ia baru saja menghabiskan dua tungkup roti panggangnya, nyaris bersamaan dengan ayah. Dan ketika keduanya benar-benar selesai, mereka lekas meninggalkanku dan Jimin yang rupanya masih tertawa meski terdengar pelan.

“Mau sampai kapan kau tertawa, huh? Memangnya enggak lelah?” ujarku geram. Telunjukku mengorek kotoran mata kiriku―baru ingat kalau ternyata belum kubersihkan.

“Mau sampai kapan Kakak jadi pemalas seperti itu? Jorok pula.” Sahut Jimin enteng. Mukanya datar-datar saja, tuh. Padahal aku sudah memberinya pelototan seram.

“Diam.” Pada akhirnya, aku hanya mengatakan satu kata itu pada Jimin. Sebelum aku memutuskan untuk segera menyelesaikan sarapanku dan bergegas mandi. Kemudian pergi bersama ibu, berbelanja kebutuhan hidup kami untuk beberapa minggu ke depan.

Jimin tertawa mendengus, seakan mengejek kekalahanku padanya. Tapi, maaf saja, ya, tidak ada kata mengalah dalam kamus hidupku, terlebih mengalah kepada adikku sendiri. Aku hanya sedang tidak mood bertengkar―atau aku memang kehabisan kata-kata untuk membalas perkataan Jimin? Entahlah!

Selang beberapa menit kemudian, kami berdua telah selesai sarapan. Tetapi kami memilih untuk diam sejenak di kursi makan. Sementara aku berinisiatif untuk menumpukkan piring-piring kecil bekas roti panggang, Jimin berujar, “Tapi, Kak, Sehun memang beneran datang kemari.” Aku menatapnya kaget, dan ia melanjutkan, “Dia menanyakan Kakak, lalu kukatakan saja padanya bahwa Kak Eunhee masih tidur.”

“Apa?” perasaan senang sekaligus malu tiba-tiba saja mengoyak isi perutku. Membuatku merasakan suatu perasaan aneh hingga kedua sudut-sudut bibirku berjungkit naik. “Kenapa kau enggak bilang kalau Kakak sedang mandi?”

Lagi-lagi, Jimin tertawa meremehkan. “Bilang lagi mandi? Kayaknya sampai seharian, Kakak enggak bakal beres mandi.”

Sialan.

Sebelah tanganku dengan cepat menjitak puncak kepalanya, menimbulkan ringisan tertahan di bibir adikku itu. Aku tidak berucap apa pun pada Jimin, menatapnya tajam saja sudah cukup mewakilkan bagaimana jengkelnya aku menghadapi sikapnya.

“Omong-omong,” Jimin mengusap puncak kepalanya beberapa kali. “katanya, Sehun mau datang lagi kemari. Mungkin … sekitar sepuluh menit lagi?”

“Hah?! Mau apa dia kemari?”

Jimin mengangkat kedua bahunya singkat, pertanda ia tidak tahu alasan kedatangan teman satu kelasku itu nanti.

Mampus! Sepuluh menit lagi sementara aku belum bersiap-siap? Minggat ke Bulan saja, deh.

-o-

Kenyataannya, kesiapan diriku untuk menemui Oh Sehun terlampau jauh dari waktu sepuluh menit yang Jimin beri tahu tadi. Hampir tiga puluh menit lamanya bagiku untuk mempercantik diri. Yah, semoga saja Sehun masih ada di bawah, berbincang dengan ayah dan ibu dan mungkin bersama Jimin, kalau adikku tidak ada rencana keluar rumah sekadar untuk mencari udara segar.

Setelah dirasa penampilanku cukup menarik untuk dipandang, aku lekas keluar dari kamar dengan perasaan gugup yang melanda. Perlahan tapi pasti, aku sudah berjalan menuruni anak tangga yang akan mengantarku ke lantai dasar, tempat di mana aku bisa mendengar gelak tawa renyah milik ayah dan juga semerbak wangi aroma maskulin yang sudah bisa kupastikan aroma milik Oh Sehun, tetanggaku, teman sekelasku yang super tampan.

Tiba di lantai dasar, aku langsung disambut dengan lirikan tatapan Sehun, disusul dengan senyuman manisnya yang amat kusukai. Sebisa mungkin aku tak terlihat gugup, padahal kenyataannya kakiku sudah terasa seperti jeli kenyal. Dia menatapku tepat di manik mata, kemudian, “Hai, Eunhee!” dia menyapaku dengan nada tersantai yang juga turut kusukai. Ah, aku menyukai segala macam yang ada pada dirinya.

“Hai.” Balasku, dan melangkah untuk duduk di samping ibu, sementara Sehun duduk di samping ayahku.

Oh Sehun berdeham samar. “Tadi aku kemari sebelum kau―”

“Tadi aku sibuk belajar, makanya aku tidak tahu kau datang kemari.” Ayah dan ibuku tertawa seketika, sedangkan Oh Sehun memasang ekspresi konyol ditambah roman keheranan di wajahnya. Kontras saja, orang tuaku tahu kalau aku berbohong. Dan tentunya aku bersyukur karena tidak ada Park Jimin di sini. Setidaknya, ia tidak membocorkan rahasiaku pada Sehun kalau aku masih setia berada di atas tempat tidur dan memproduksi air liur sebanyak mungkin di atas bantal, ketika laki-laki itu datang berkunjung puluhan menit yang lalu.

“Benarkah?” Sehun mengangguk sekilas. Aku tidak mengerti apa maksud di balik anggukannya itu. Anggukan karena ia mencoba untuk tak mengacuhkan kebohonganku, atau karena ia telah tahu karena aku berbohong? Oh, yang mana yang benar?

“Y-ya.” Aku merespons dengan gugup. Sepertinya aku gagal menepis perasaan canggung itu. Biar saja lah, aku tidak peduli.

“Eunhee, bukankah kau harus menemani Ibu pergi berbelanja?” ayah mengingatkanku tentang perintah ibu saat di meja makan tadi. Aku nyaris memprotes, tetapi aku tidak mungkin melakukan hal itu di depan Oh Sehun. Aku takut dia akan berpikiran bahwa aku bukanlah gadis penurut seperti yang ia lihat selama ini.

“Ya, Ayah.” Kepalaku sedikit menunduk sambil menggigit bibir.

“Ah, Bibi, bagaimana jika aku pergi menemani Eunhee?” kontan saja aku cepat mendongak, menatap wajah Sehun dan ibuku bergantian. Di sampingnya, ayah terlihat hendak berbicara, tetapi Sehun mendahuluinya. “Kami berdua akan pergi ke minimarket terdekat. Yah, hitung-hitung memberi tahu Eunhee rute yang tepat untuk pergi berbelanja.” Katanya santai. Sebelah sudut bibirnya terangkat, tersenyum manis.

“Itu benar, Ayah. Lagi pula, aku dan ibu, kan, belum tahu arah menuju minimarket.” Kataku, setengah merajuk. Tanpa sadar aku telah memperlihatkan keantusiasanku pada kedua laki-laki ini.

Ayah terlihat berpikir, yang mungkin hal itu haruslah dilakukan ibu, bukan ayah. Sebelum akhirnya beliau mengangguk menyetujui usulan Sehun, dan aku menyengir lebar.

“Terima kasih, Ayah!” ujarku bahagia. Ibu yang duduk di sisiku hanya tertawa kecil sambil mengusak puncak kepalaku, gemas.

-o-

Sehun bilang, pergi menuju minimarket terdekat tidak harus memakai kendaraan. Cukup berjalan kaki selama beberapa menit saja dan kau akan mendapati bangunan minimarket itu dalam radius belasan meter. Kami berdua berjalan pelan menyusuri tepian jalan kompleks perumahan yang cukup sepi, karena aktivitas olahraga seperti jogging atau bersepeda di pagi hari telah selesai. Kebanyakan dari mereka menghentikan aktivitas itu tepat pukul sembilan pagi, itu yang Sehun katakan padaku selama kami melangkah.

“Omong-omong, kau jadi memilih klub apa?” tanya Sehun, mengalihkan topik pembicaraan kami seputar rute yang harus kami tempuh saat ini.

Aku menoleh dan sedikit mendongakkan kepalaku, hanya demi melihat paras Oh Sehun yang … ugh, aku tidak bisa menggambarkannya dengan kata lain. Intinya, Sehun teramat sangat-sangat-sangat menawan, dengan kaus lengan pendek berwarna biru polos dipadukan dengan celana jins hitam yang memeluk kaki sintalnya. Rambut cokelat terangnya melambai kala tertiup angin sepoi. Aroma maskulin di tubuhnya terus menerus menusuk indra penciumanku, tapi aku menyukainya. Tanpa ia ketahui, aku menghirup dalam-dalam aroma tubuhnya sambil mengulum senyuman.

“Klub teater, kurasa,” sahutku beberapa detik kemudian. Oh Sehun menghela napas panjang, disusul anggukan kepala secara singkat.

“Kau memilih klub yang tepat,” katanya, entah memuji atau mengejek. Aku tidak tahu mana yang tepat.

“Alasannya?” aku tak tahan untuk bertanya seperti itu. Well, kuakui, semua klub yang ada di SMA Woosang sangatlah menarik, sampai-sampai aku bingung harus masuk klub yang mana. Dan masalahnya ada pada bakatku. Ya, bakatku memang kurang jika ditilik lebih dalam. Tapi tetap saja, aku ingin mengikuti klub-klub itu.

“Alasannya karena …” Sehun terlihat berpikir, manik matanya sesekali terarah pada langit biru cerah di atas kepala kami. “karena klub teater cocok untukmu?” katanya, terdengar bagai sebuah pertanyaan yang meminta jawaban yang tepat.

Akhirnya, kami tiba di depan pintu kaca minimarket setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih sepuluh menit. Sehun membukakan pintunya, dan aku mengekor di belakangnya sambil menyambar satu troli belanjaan yang diletakkan di samping pintu masuk bagian dalam. Seorang kasir menyapa kami diiringi senyuman ramahnya, dan kami membalas senyuman itu tanpa mengucap kata.

Ekor mataku menangkap rak berisi sayur-sayuran yang ada di sudut bangunan, bercampur dengan beragam buah-buahan segar. Aku lantas melangkah ke bagian sana, meninggalkan Oh Sehun yang sedang mencari sesuatu untuk ia beli. Sepasang tanganku dengan aktif mengambil beberapa sayuran yang sering kami olah. Aku juga mengambil satu kilogram buah jeruk besar yang sudah dibungkus dengan plastik transparan, aku yakin, jeruk ini berperisa manis, terlihat dari cangkangnya yang begitu segar dan berwarna oranye tua.

Sekilas, aku mendapati sosok Oh Sehun yang sedang berjalan ke arahku, dan ketika ia berada di sampingku, aku bertanya, “Apa yang kaubeli?”

“Tidak banyak,” ia menyimpan barang belanjaannya di troli yang kubawa. Kemudian, ia mengambil alih pegangan troli itu dariku. “Aku hanya membeli sebotol sampo dan dua botol minuman isotonik.” Katanya, menjawab pertanyaanku.

“Oh,” aku mengangguk kecil. Kami berjalan kembali dengan Sehun yang kini mengekor di belakangku. Manikku mulai mencari bahan belanjaan lain yang mungkin saja dibutuhkan selain dari kebutuhan pokok yang sudah ada di dalam troli.

Beberapa menit kami habiskan untuk mencari barang lain, kemudian kami memutuskan untuk mengakhiri acara belanja ini dan berjalan menuju kasir. Kami membayar masing-masing―untuk hal ini, aku tidak memprotes karena aku sedang tidak dalam keadaan kencan dengan Sehun dan harus menerima traktiran makanan dari laki-laki itu.

Barang belanjaan telah selesai kami bayar, dan Sehun membawa dua keresek putih bergambar logo minimarket itu seraya membuka pintu kacanya lagi. Aku keluar terlebih dulu, disusul Sehun sambil tersenyum samar.

“Park Eunhee,” Sehun memanggil namaku, dan aku menoleh menatapnya. “Kaubilang, kau masuk ke klub teater, bukan?”

Aku mengangguk tanpa berbicara, lalu ia berbicara lagi, “Kalau begitu, beri tahu aku nomor ponselmu.”

A-apa? Sehun … Sehun meminta nomor ponselku? Benarkah? Benarkah? Aku tidak salah, kan?

Tanpa sadar, aku membuka mulutku saking tidak percayanya mendengar Oh Sehun meminta nomor ponselku. Manikku terpaku padanya, sementara Oh Sehun terlihat mengernyitkan keningnya disertai senyuman gemas.

“Uh, kautahu?” Sehun mengusap belakang kepalanya dengan sebelah tangan yang bebas. “Seharusnya aku meminta nomor ponselmu, jauh hari ketika kau masuk ke SMA Woosang.” Katanya.

Aku masih saja diam, dengan langkah-langkah kaki pelan yang tercipta. “Yah, maksudku … supaya aku bisa menghubungimu, atau kau bisa menghubungiku ketika kita tak sedang bersama seperti sekarang.” Kedengarannya terlalu berbelit, kan? Ya, benar. Aku juga cukup gemas mendengar tentang alasannya meminta nomor ponselku. Wajahnya juga mulai memerah entah karena apa. Gestur tubuhnya canggung, dan sesekali bibirnya bergetar menahan senyuman.

Sejujurnya, tidak hanya Sehun saja yang merasakan hal itu.

Aku juga.

“Pokoknya … klub teater merupakan teater yang kuikuti juga, maka dari itu, aku pun harus mengetahui kontak dari masing-masing anggota.”

Aaaah … jadi … itukah alasannya? Lalu, alasan yang pertama maksudnya apa?

Oke, tidak apa-apa. Intinya, Sehun meminta nomor ponselku, dan aku harus memberinya, bukan?

“Berikan ponselmu.” Aku menengadahkan telapak tangan kananku, sementara Sehun merogoh celana jinsnya, mengeluarkan ponselnya dari sana dan memberikannya padaku.

Oh, tahan senyumanmu, Park Eunhee. Tahan!

“Nih.” Aku lekas mengembalikan ponsel itu padanya setelah aku menyimpan nomorku. Nama ‘Park Eunhee’ menyita pandangannya sesaat―kuasumsikan begitu karena jemari Oh Sehun tak beranjak menari di atas layar.

“Oke.” Sahutnya seraya menyimpan ponselnya ke tempat semula.

Tidak terasa, kami telah sampai ke tempat tujuan terakhir kami. Sehun menyerahkan sekantung keresek berisi buah dan sayuran yang kubeli, sedangkan ia memegang keresek lain berisi barang belanjaan miliknya. Kami sama-sama saling tersenyum dan mengucap kata, “Kita bertemu nanti.” Dengan nada kepalang santai dari bibirnya. Aku yang sudah tidak sanggup menahan rasa panas di wajahku segera berlari ke arah rumahku tanpa menutup kembali pagarnya. Ah, biar Jimin saja yang melakukannya―itu pun kalau Jimin masih berada di luar rumah.

Di ruang dapur, aku mulai menata buah dan sayuran di dalam kulkas, sebelum akhirnya aku mengabaikan tatapan keheranan dari ayah dan ibu lalu beranjak naik ke kamarku. Ah … kupikir-pikir, menatap layar ponsel berlama-lama merupakan hal yang menyenangkan―setelah Sehun mengetahui nomor ponselku, tentu.

-o-

Mendaratkan tubuhku di atas tempat tidur, aku segera menggenggam ponselku dengan kedua tangan. Aku memeluk bantal seerat mungkin sambil menggigit bibir bawah. Perasaan gugup dan senang serta merta membaur di dalam perutku, menimbulkan sensasi aneh yang menyenangkan.

Satu menit. Dua menit. Tiga menit. Tidak ada pemberitahuan apa pun di layar ponselku. Aku mengembuskan napas gusar bercampur kecewa. Kenapa Sehun belum juga menghubungiku? Oh, mungkin ini terlalu dini. Mungkin Sehun sedang sibuk. Mungkin Sehun―

Well, tunggu sedikit lagi, Park Eunhee!

Satu menit. Dua menit. Sepuluh menit. Ya Tuhan, mataku sudah lelah―

Oh! Ponselku berdering! Oh! Ya Tuhan! Ya Tuhan! Manikku mendapati nomor tanpa nama mengirimku sebuah pesan singkat. Detik berikutnya, aku juga mendapati nama LINE seseorang yang mengirimku permintaan berteman; namanya SehunOh.

Aku yakin, nomor ponsel tak bernama itu juga milik orang yang sama.

Pesannya berisi,

Hai, ini nomor ponselku. Tidak ada yang bisa kuharapkan selain kau menyimpan nomor ponselku.

Sungguh demi kerang ajaib milik Sponge Bob, aku menjerit tak keruan. Kedua kakiku menendang udara secara bergantian, sementara bibirku tenggelam dalam bantal empuk yang menjadi sandaranku sekarang.

Tanpa membuang waktu lagi, aku menyimpan nomor ponselnya dan memberi nama ‘Oh Sehun ♥’ (hapus gambar hatinya).

Aku pun menerima permintaan berteman LINE dari laki-laki itu. Jemariku hendak mengetikkan balasan dari pesan singkatnya, jika saja Oh Sehun tidak mengirimku pesan LINE,

10.00 KST

SehunOh : Hei!

ParkHee : Ya?

SehunOh : Pesanku tidak kau balas?

10.09 KST

ParkHee : Kubalas saja sekalian di sini. Tidak apa, kan?

SehunOh : (insert sticker shy smile)

Oke, tidak apa.

ParkHee : (insert sticker wink)

SehunOh : Park Eunhee …

Read

 

SehunOh : Tidak, tidak jadi.

Aku mengerutkan kening, bingung. Tidak jadi, katanya? Kenapa? Lebih baik aku bertanya langsung padanya.

ParkHee : Ada apa?

Read

 

ParkHee : Sehun?

Sehun?

Sehun?

P

P

P

Oke, sepertinya … dia kembali sibuk.

Tak apa, melakukan chat seperti ini saja sudah cukup membuatku senang―tidak, lebih dari cukup. Oh, sial! Aku jadi penasaran tentang sesuatu yang tak tersampaikan dari laki-laki itu.

-oOo-

ShanShoo’s note : udah berapa lama aku enggak lanjutin series ini? haha, lama banget kayanya /emang/ xD

Pokoknya, makasih buat kalian yang udah baca dan memberikan komentarnya 😉

Tertanda,

ShanShoo♥

Iklan

2 comments

  1. KAKAK!! APA INI? KENAPA ATY JADI KETAWA SENDIRI?! SENYUM SENDIRI, KENAPA?!! AAH, GEMESIN 😀 😀 😀 😀 KAKAAAK!! :-O
    okeh ini lebay, tapi, emang ini kenyataannya 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s