The Miracle in Our Life ― Chapter 13


themiracle

The Miracle in Our Life

 

ShanShoo’s present

.

[Prolog] [Chapter 1 : Tell Your Wish!] [Chapter 2 : Pretend] [Chapter 3 : Complicated] [Chapter 4 : Something and Someone] [Chapter 5 : When Tears are Falling] [Chapter 6 : What is the Problem?] [Chapter 7 : The Big Change?] [Chapter 8 : There’s a Longing and Confession] [Chapter 9 : There’s a Longing and Confession part.2] [Chapter 10 : The Truth] [Chapter 11 : Family] [Chapter 12 : The Truth part.2]

.

Chapter 13 : Hold Your Pain ―

-o-

Rasa takut yang selama ini Reyna simpan di dalam sudut memorinya kini terbongkar sudah. Reyna tak mampu menahan air matanya begitu ia berhasil mendengar perkataan Chanyeol yang teramat jelas di telinganya. Pandangannya memburam, Reyna merasa jantungnya seolah akan terlepas dari soketnya. Bibirnya membungkam rapat, berusaha menahan isak tangis yang akan membuncah kapan saja.

“Sejak kapan …” Reyna terdiam, pun dengan Chanyeol yang menunggu Reyna menyelesaikan ucapannya. “Sejak kapan … kau mengetahuinya?” tanya Reyna, yang telah berhasil meluruhkan setitik cairan bening dari mata kirinya.

Mendengar nada bicara Reyna yang parau membuat Chanyeol menghela napas panjang. Ia tak dapat bersitatap dengan Reyna lebih lama lagi, ditambah dadanya yang bergemuruh tak menentu. “I’m so sorry, Reyna,” katanya. “Beberapa hari yang lalu … aku mengikutimu ketika kalian bertiga pergi ke panti asuhan.”

Reyna terdiam. Rasa sakit perlahan menghujam dadanya telak. Entah mengapa, Reyna tak ingin mendengar Chanyeol mengungkapkan kebenaran ini. Namun di sisi lain, Reyna tak bisa menahan Chanyeol untuk terus berbicara dan mengungkapkan segalanya.

Tapi tak lama, keheningan tak pernah bosan menyelimuti keduanya. Chanyeol mulai kebingungan untuk mencari frasa yang tepat, sementara Reyna terus menundukkan kepala, menutupi wajahnya dengan surai panjangnya agar Chanyeol tak tahu kalau ia sedang terlihat kacau sekarang.

“Tak seharusnya aku mengikutimu―”

“Aku tahu, cepat atau lambat … rahasia ini akan terbongkar.” Reyna lekas mendongak, menumpukan pandangan pada manik mata Chanyeol. “Dan mungkin, kau adalah orang pertama yang mengetahuinya.”

Ucapan itu serta merta membuat Chanyeol kembali memegang kedua bahu Reyna dan meremasnya lembut. “Dengarkan aku, Reyna.” Ujarnya. “Aku akan terus berpura-pura tak mengetahui hal ini. Aku berjanji akan menyembunyikannya dari anak-anak karena―”

“Untuk apa kau menyembunyikannya?” potong Reyna dengan nada datar. “Lagi pula, mereka juga seharusnya tahu kalau aku sebenarnya―”

“Tapi jika Song Miyeon mengetahuinya, maka tamatlah riwayatmu!”

Reyna tersentak mendengar Park Chanyeol membentaknya. Maniknya membola, sedangkan Chanyeol merasa suaranya mendadak tercekat di tenggorokan. “Reyna-ya, maafkan aku.”

Gelengan kepala menjadi jawaban nonverbal si gadis. Reyna memberinya seulas senyum kecil, lalu, “Kau tahu, Sunbae, aku sudah tak peduli lagi dengan Song Miyeon.” Ujar Reyna, kemudian mendesah kecil. “Lagi pula, aku sudah cukup terbiasa untuk menghadapinya.”

“Tidak, Reyna.” Chanyeol menggeleng tegas. Lalu menjauhkan kedua tangannya dari bahu Reyna. “Aku mengenal Miyeon dengan sangat baik. Dia bukanlah gadis yang mudah untuk dihadapi, seperti apa yang kaukatakan barusan.” Kata Chanyeol, memberi tahu.

Reyna mendengus setengah kesal, lantas membuang pandangan ke arah aliran sungai Han yang begitu damai. “Tanpa kau beri tahu pun, aku sudah tahu.”

Keduanya membisukan bibir. Reyna tak yakin dengan pemikirannya, tapi ia merasa kalau Chanyeol tengah menatapnya dengan perasaan campur aduk. Antara kesal, sedih, marah … entahlah, Reyna tak memedulikannya sama sekali.

“Maafkan aku,” Chanyeol kembali mengulang permintaan maafnya sambil menundukkan kepala, pun menghela napas, “Apakah … aku salah karena telah mengatakan hal ini padamu?” tanya Chanyeol. Entah karena laki-laki itu memang tidak tahu, atau merasa bersalah karena mengatakan hal yang seharusnya menjadi rahasia besar bagi keluarga Oh selama ini.

Gadis berwajah tirus itu hanya mengedikkan kedua bahunya singkat, berusaha untuk tak menoleh menatap Chanyeol. “Perasaanku bercampur aduk, sekarang.” Katanya. “Kautahu, Sunbae? Perasaan senang dan sedih kini sedang berperang di dalam dadaku.”

Chanyeol mengerjap beberapa kali, terlihat mencerna kalimat terakhir sang gadis. “Maksudmu?” tanya Chanyeol pada akhirnya.

Well,” Reyna mengedikkan lagi bahunya. “Tidak apa-apa. Aku hanya … merasa bingung,”

Bibir tipis itu hendak mengucap kata lagi, namun Chanyeol segera merengkuh tubuh rapuh gadis itu ke dalam pelukannya. Pelukan yang … jujur saja, membuat Reyna baru saja menemukan kata yang tepat setelah tiga detik ia berada di sana. Nyaman. Satu kata tersebut sudah cukup untuk mewakili segala frasa yang ingin terlontar dari bibirnya.

“Kenapa kau memelukku, Sunbae?” Reyna bertanya begitu sebelah pipinya menempel di dada bidang Chanyeol. Dan ia merasakan Chanyeol mengeratkan pelukannya, membuatnya bisa mendengar detakan jantung Chanyeol yang cukup cepat. “Apa kini kau merasa kasihan padaku karena aku adalah―”

That’s bad perception, anyway,” sela Chanyeol cepat. “Aku mengasihanimu? Untuk apa?” katanya, terkekeh kecil. “Kautahu bahwa sampai kapan pun aku akan terus menyukaimu, bukan? Menyukai sangatlah berbeda dengan mengasihani.”

Mungkin Reyna harus bersyukur karena Chanyeol memeluknya, sehingga Chanyeol tak mengetahui apa yang terjadi padanya saat ini. Well, kedua pipinya terasa memanas. Dan mungkin saja akan menimbulkan rona merah sekaligus meningkatkan kerja jantung gadis itu. Rasa canggung perlahan menjalar. Reyna sama sekali bingung harus bagaimana. Mendadak lidahnya kelu, padahal sebelumnya ia sudah bertekad untuk membalas semua perkataan Chanyeol perihal rahasia yang laki-laki itu ketahui.

Sunbae,” panggil Reyna, pelan. Dan ia mendengar Chanyeol membalas dengan gumaman. “Aku tidak tahu harus berkata apa lagi padamu. Tapi,” Reyna mendesah kecil. “terima kasih.”

“Untuk?” sahut Chanyeol sambil menekan kedua bibirnya untuk menahan senyuman.

“Untuk … segalanya?”

“Dua kata itu terasa bagai deja vu bagiku.” Gumam Chanyeol, dan Reyna dapat mendengarnya.

“O, benarkah?”

“Mm,” sahut Chanyeol, “Reyna-ya, apa tidak apa-apa jika aku meminta waktu satu menit lagi untuk memelukmu seperti ini?” pintanya pada Reyna. Sejenak ia tidak mendengar sahutan apa pun dari gadis yang tengah dipeluknya. Namun beberapa detik kemudian, barulah ia merasakan anggukan kecil dari kepala Reyna, sekaligus balasan pelukan yang terasa malu-malu.

Yeah, inilah yang Chanyeol suka dari seorang Reyna Oh.

Gadis dingin, tetapi pemalu.

Maka, tak salah apabila Chanyeol menekan kedua bibirnya untuk menahan senyuman lebar. Sementara Reyna terlihat memejamkan mata rapat-rapat sambil berharap semoga rona merah di pipinya cepat menghilang. Atau dia akan menanggung malu yang begitu besar jika Chanyeol mengetahuinya.

-o-

“Tugas Sastra, katamu? … ah, aku belum mengerjakannya sedikit pun … ya, ya, kau tahu, kan, kalau aku―” Baekhyun tersentak kaget begitu maniknya terarah cepat pada pintu kamarnya yang dibuka oleh Reyna. Deru napas gadis itu cukup memburu. Baekhyun tak tahu apa yang terjadi pada adiknya itu, tetapi dari caranya memejamkan mata dan menghirup napas serakus mungkin membuatnya berasumsi, bahwa telah terjadi sesuatu padanya.

Maka, Baekhyun lekas menggumamkan beberapa kata pada salah seorang teman yang menghubunginya barusan dan meletakkan ponselnya di atas meja belajar. “Reyna-ya,” maniknya menatap Reyna yang saat ini tengah bersandar di balik daun pintu kamar.

Reyna membuka matanya, mengerjap beberapa kali sembari balas menatap mata kakaknya.

“Kau kenapa? Apa sesuatu telah terjadi padamu?” tanya Baekhyun, penasaran. Ia belum mendapati Reyna yang menggerakkan anggota tubuhnya ke mana pun. Reyna masih berdiri di sana, menatapnya, menghirup napas dalam-dalam.

Oppa …” panggil Reyna, parau. “Chanyeol … dia … dia telah mengetahuinya.”

Kening Baekhyun berkerut seketika. “Mengetahui apa―oh, Tuhan, jangan bilang kalau….” Baekhyun melebarkan pandangan, rasa kagetnya meningkat dua kali lipat, sementara Reyna menganggukkan kepalanya kaku, membenarkan ucapan sang kakak.

“Bagaimana bisa?” tanya Baekhyun, kakinya melangkah ke arah Reyna dan membawa gadis itu untuk duduk di tepian tempat tidur bersamanya. “Bagaimana bisa Chanyeol mengetahuinya?”

Reyna mendesah berat. Kepalanya mendadak terasa pening, tetapi ia tetap berusaha menstabilkan kondisinya. “Dia … dia mengikuti kita saat kita hendak pergi ke panti asuhan tempo hari.”

“Apa?” lagi-lagi Baekhyun melebarkan pandangannya. “Dia mengikuti mobil kita, maksudmu?”

“Ya,” jawab Reyna, meski ia mengakui bahwa perasaannya membaik saat Chanyeol memberinya sebuah pelukan tadi, ia tetap tak bisa menghindari rasa takut dan cemas begitu ia kembali menginjakkan kakinya di rumah. Mendadak ucapan Chanyeol saat berada di Sungai Han membuatnya sedikit frustasi. Bagaimana kalau Chanyeol benar? Bagaimana jika Song Miyeon adalah gadis yang tak bisa dilawan dengan mudah, semudah jentikan jari?

“Oh, Tuhan …” embusan napasnya begitu panjang. Baekhyun menarik-narik kedua sisi rambutnya dengan sepasang tangannya. “Omong-omong, apa dia membicarakan hal lainnya? Seperti ia marah karena aku atau Sehun tidak memberitahunya?” tanyanya tiba-tiba, baru sadar kalau rupanya Chanyeol berada dalam satu kelas yang sama dengannya dan Sehun. Bukan apa-apa, hanya saja akan panjang urusannya bila Chanyeol mengomel di kelas nanti. Apalagi, Chanyeol mempunyai suara serupa dengan pengeras suara yang dipasang di setiap langit-langit kelas untuk mengumumkan sesuatu.

“Tidak.” jawab Reyna sambil menggeleng kecil. “Tapi, aku tidak tahu bagaimana ke depannya nanti.” Katanya putus asa. “Oppa, apa semuanya akan baik-baik saja?”

Baekhyun mengatupkan rahangnya. Matanya bergerak gelisah. Ya, benar, apa semuanya akan baik-baik saja setelah Chanyeol mengetahui rahasia itu? Apakah Chanyeol akan berubah? Apakah Chanyeol akan menghindarinya dan tak akan menghubunginya seperti biasa?

Oh, ini semua benar-benar rumit.

“Ya, kurasa,” sahut Baekhyun tak yakin. “Tidak, tidak. Aku yakin, semuanya akan baik-baik saja.” Katanya, merubah nada suaranya menjadi terdengar meyakinkan.

“Ya, kuharap begitu,” Reyna mengulas senyum kecil saat pemikirannya melayang pada detik di mana Chanyeol berjanji untuk terus merahasiakan hal ini dari orang lain. Apalagi dari seorang gadis bernama Song Miyeon. “Chanyeol sunbae tidak akan memberitahukan hal ini pada siapa pun,” katanya, mengulang perkataan Chanyeol dalam benaknya.

Baekhyun mulai terlihat tenang. Wajahnya tak lagi sepucat tadi. “Lalu, apa Sehun sudah kau beri tahu?”

“Eh?” Reyna berdeham beberapa kali. “Uh, belum,” kakaknya hendak menyela, tetapi ia segera menambahkan, “tapi aku akan memberitahunya sekarang.”

“Oh, oke.” Jawab Baekhyun pelan.

Hening selama sesaat, dan Baekhyun kembali bersuara, “Reyna-ya, apa kau ingin melakukannya karena kau sudah merasa hubunganmu dengan Sehun sudah … dekat?”

Reyna bimbang sesaat setelahnya. Tetapi, ia hanya mampu menampilkan senyuman gusar di wajahnya. “Yah, sepertinya begitu.” sahutnya kemudian.

-o-

Pukul 9 malam, dan Sehun baru teringat kalau tugas Sastra yang diberikan guru pengajarnya beberapa hari lalu harus ia kumpulkan esok harinya. Sehun mengerang kecil, kalau saja ia mengingat tugas itu lebih cepat, mungkin ia akan mengerjakannya. Tetapi berhubung malam sudah cukup larut, Sehun tak lagi memiliki keinginan untuk menuliskan isi dari tugas di atas bukunya. Sehun lantas beranjak naik ke atas tempat tidurnya setelah ia selesai dengan urusan di dalam kamar mandi, kemudian menarikan jemarinya di atas papan layar ponselnya, mengetikkan sesuatu seputar tugas Sastra pada temannya. Begitu pesannya terkirim, Sehun melempar asal ponselnya ke sisi tubuh, lantas menghela napas panjang.

Ah, hari yang cukup melelahkan.

Tidak, Sehun sama sekali tidak merasa lelah fisik, ia merasa lelah karena pikirannya terus bergelut satu sama lain, membuatnya terasa pening.

Tentang Song Miyeon, gadis itu sepertinya belum kapok membuat Reyna ‘menderita’. Meskipun Sehun tak melihat bagaimana cara Miyeon berbicara pada Reyna saat di sekolah tadi, Sehun tahu, kalau Miyeon tidak akan berbicara baik-baik padanya dan pastinya akan melakukan beberapa kekerasan. Kalau bisa, Sehun ingin merutuki kebodohan Reyna karena gadis itu hanya diam saja, tidak melakukan perlawanan apa pun. Di hadapan Miyeon, Reyna bagaikan anak kecil yang tak bisa melawan seorang dewasa, berbanding terbalik ketika Reyna berdiri berhadapan dengan Oh Sehun. Gadis itu malah memberikan tatapan dingin, tak ada satu kata pun yang terlontar dari bibirnya, pengecualian kalau Reyna memang benar-benar membutuhkan sesuatu darinya.

Aneh, bukan?

Tadinya, Sehun berencana untuk berbicara pada Song Miyeon perihal kejadian tersebut, akan tetapi, Gadis Song itu tidak menampakkan batang hidungnya di hadapannya. Song Miyeon hanya membaca pesan LINE darinya saja, tanpa balasan. Oke, agaknya Miyeon sudah mulai mengurangi kadar menyebalkannya sekarang. Dan, Sehun berpikir, mungkin Miyeon tidak akan berbuat macam-macam lagi setelah ia memberinya sedikit ancaman pada gadis itu agar tak lagi mengganggu Reyna.

Sehun mengembuskan napas panjangnya secara perlahan sambil menutup matanya, merasakan kantuk yang mulai menjalari kedua matanya. Tiga detik kemudian, ia mendengar pintu kamarnya yang diketuk dua kali, disusul dengan suara seorang gadis yang begitu familier di telinganya.

“Oh Sehun, apa kau sudah tidur?” dari balik pintu itu, Sehun dapat mengetahui bagaimana nada bicara yang keluar dari bibir sang gadis. Gugup dan … canggung? Entahlah, tapi rasanya Sehun tak bisa menahan senyuman kecilnya. Dan setiap kali Sehun mendengar namanya terlontar dari bibir gadis itu membuat perasaannya kacau―dalam artian yang menyenangkan.

“Oh Sehun?”

“Kau benar-benar sudah tidur?”

“Oh, baiklah, maaf sudah mengganggu―”

“Tidak, aku belum tidur.” Sehun memotong ucapan Reyna sambil membuka pintu kamarnya dengan terburu. Tanpa sadar, Sehun memasang wajah kikuk begitu ia berdiri di depan gadis itu yang sedikit terkejut karena tingkahnya. “Uh, ada apa?”

“O-oh …” Reyna menggigit bibir bawahnya. “Itu … ada sesuatu yang ingin aku bicarakan padamu.” Katanya, seraya menarik-narik lengan piyamanya yang panjang.

Sehun berdeham. “Masuklah.” Titahnya, mengesampingkan tubuhnya sehingga Reyna bisa memasuki kamarnya dengan leluasa.

Reyna memilih duduk di kursi belajar, sementara Sehun melangkah ke tepian tempat tidur dan duduk di sana, menyilangkan kedua tangannya di depan dada. “Jadi, apa yang ingin kaubicarakan?” tanya Sehun, memulai.

Kerjapan mata gadis itu membuat Sehun gemas. entahlah, bagaimana bisa perasaan itu muncul begitu saja di sudut hatinya. “Ini tentang … Park Chanyeol.”

“Chanyeol?”

“Ya,” sahut Reyna, mendapati Sehun menaikkan sebelah alisnya, keheranan.

“Ada apa?”

Sunyi senyap pun datang, namun hanya bertahan sampai menit kelima sampai Eunhee berbicara, “Dia tahu tentang hubungan kekeluargaan kita.”

“Oh,” laki-laki berkulit putih pucat itu refleks menggumamkan satu kata itu. Reyna secara terang-terangan memberinya tatapan tanda tanya, dan Sehun bisa membacanya dengan mudah. “Chanyeol mengatakannya padaku lebih dulu sebelum padamu,” jawabnya kemudian, memperjelas gumamannya.

“A-apa? Tapi … tapi kenapa?” Reyna terlihat gelagapan. Gadis itu mengerjapkan matanya cepat, selagi jantungnya bertalu di atas normal.

“Karena … dia teman satu sekelasku?” ucapnya, terdengar seperti melontarkan pertanyaan. “Ah, tidak, bukan itu alasannya.” Katanya setengah menyesal.

“Sebenarnya, aku tahu kalau Chanyeol mengikuti mobil kita saat kita pergi ke panti asuhan,” ujar Sehun, memulai penjelasan. “Awalnya aku merasa takut Chanyeol akan mengatakan rahasia ini pada orang lain. Tapi, setelah aku memikirkannya lebih jauh, kurasa … Chanyeol tidak akan melakukannya. Dia adalah orang yang baik, dan aku memercayainya.”

Seulas senyum kecil di bibir Sehun membuat Reyna mendesah lega. Setidaknya, ia bisa tak lagi merasa gusar setelah ia mendengar segala penjelasan dari Sehun. Ya, ia yakin, Chanyeol adalah orang yang baik. Chanyeol pasti bisa menyimpan rahasia ini serapat mungkin.

“Apa kau merasa sedih?” tanya Sehun tiba-tiba. Lamunan Reyna pun memudar seiring dengan lontaran pertanyaan laki-laki itu.

“Sedih?” sebelah alis Reyna terangkat. “Apa maksudmu?”

“Maksudku …” Sehun berdeham. Entah mengapa, suasana canggung tiba-tiba saja datang menyeruak. “Well, lupakan saja. Aku sendiri bingung, kenapa pertanyaan itu harus ada.”

“Oh Sehun―”

“Panggil aku oppa.” Sahut Sehun cepat, dan Reyna membelalakkan matanya. “Hei, aku adalah kakakmu, ingat?”

Reyna berusaha menahan tawanya. Wajahnya berpaling ke arah lain. Melihat wajah Sehun saat ini membuat Reyna ingin menyuarakan tawa renyah.

“Kenapa kau tertawa? Ada yang lucu di sini?”

“Tidak ada,”

“Lalu kenapa kau tertawa?”

“Aku hanya ingin tertawa. Apa tidak boleh?”

Ugh,” satu helaan napas panjang sebelum akhirnya Sehun berujar, “Oke, terserah kau saja!”

“Oke.”

“Tapi tetap saja, kau harus memanggilku oppa!”

Pada akhirnya, salah satu dari mereka tidak ada yang mau mengakhiri perdebatan kecil yang terjadi. Di balik pintu kamar yang tertutup itu, Baekhyun mendengar segalanya. Dimulai dari saat di mana Sehun membuka suara di antara keduanya, berlanjut pada segala macam percakapan perihal kejadian ‘terbongkarnya identitas seorang Reyna dan Baekhyun di mata Chanyeol’, hingga pada bagian perdebatan itu, mau tak mau, Baekhyun turut tertawa kecil.

Baekhyun sama sekali tidak menyangka jika Sehun telah berubah, begitu pun dengan adik perempuannya. Awalnya, mereka sama-sama saling bersikap dingin; perjumpaan pertama mereka tak dilengkapi dengan senyuman ramah; tidak ada percakapan yang berarti, tidak ada tatapan kasih sayang sebagaimana mestinya. Semua sikap dingin itu perlahan mencair ketika kehangatan datang dan menyelinap di antara mereka bertiga. Sedikit demi sedikit, Sehun memperlihatkan kepedulian yang dimilikinya pada dirinya dan Reyna.

“Baiklah, aku akan memanggilmu oppa, tapi dengan satu syarat!”

Baekhyun tersadar dari alam lamunannya. Oh, sepertinya perdebatan kecil itu telah selesai. Ia kembali mendengarkan.

“Syarat, katamu? Kenapa harus ada―”

“Kau harus mau membantuku jika aku ada PR!”

“Apa?!”

Oh, rasanya Baekhyun ingin segera kembali ke kamarnya. Tawanya tak lagi bisa ditahan. Bukan berarti ia menertawakan nasib Oh Sehun, hanya saja … sepertinya Sehun memang harus siap mental apabila ia menyetujui syarat yang diajukan gadis itu, karena Baekhyun pernah mengalaminya sendiri ketika ia mengajari Reyna soal pelajaran Matematika; Reyna masih tetap tak mengerti meski Baekhyun telah mengajarinya berkali-kali, dan itu membuat tensian darah Baekhyun meningkat.

-o-

Kebersamaan mereka bertiga tertangkap pandangan dengan jelas.

Baekhyun, Reyna dan Sehun berjalan menyusuri area parkir setelah sopir pribadi mereka melajukan mobilnya, meninggalkan pintu gerbang sekolah. Sesekali Baekhyun mengacak gemas rambut Reyna, saat gadis itu melontarkan lelucon garing padanya, sementara Sehun hanya menanggapinya dengan senyuman samar. Jujur saja, perihal kedekatannya dengan Reyna sekarang, masih membuatnya canggung. Ia merasa ini terlalu cepat―terlalu cepat untuk saling membagi canda tawa satu sama lain, atau memberikan senyuman lebar dan lambaian tangan saat mereka bertemu pandang dari kejauhan.

Menyadari hal itu, Reyna menyiku rusuk Sehun. Sehun sedikit meringis karenanya dan dia menoleh menatap Reyna. “Apa?” tanyanya.

“Kau juga tidak suka dengan leluconku.”

“Ya.”

“Ya apa?” tanya Reyna, ia merasa ucapan Sehun terlalu ambigu; ya untuk tidak menyukainya atau menyukainya?

“Ya, aku tidak suka. Sangat tidak suka.” Jelas Sehun, dagunya diarahkan ke arah gadis itu.

“Oh, yang benar saja―”

Reyna tak sempat menyelesaikan perkataannya.

Semua ini terasa tidak mungkin. Reyna merasakan lelehan cairan telur ayam mentah mengalir dari puncak kepalanya ke wajah. Baunya menyengat. Reyna hampir muntah karena baunya yang sangat menyengat. Apa ini telur busuk?

“Ah, jadi ini Si Anak Adopsi itu?”

Suara seorang siswi-entah-di-mana-itu sontak mengejutkan ketiganya. Baekhyun segera mencari sumber suara, dan ia menggeram kecil saat satu per satu siswa yang ada di sekitar koridor mengerumuni mereka. Hampir sebagian besar siswa di sana memberi tatapan tak suka, terlebih kepada Reyna. Baekhyun mencoba tak memedulikan para siswa itu, ia memfokuskan pandangan pada Reyna yang berdiri diam seraya menundukkan kepalanya. Bahunya naik turun tak beraturan, sepertinya Reyna sedang menahan tangisan.

“Reyna-ya!” Baekhyun lekas menghampiri adik perempuannya itu dan meremas kedua bahunya. “Kau baik-baik saja?”

“Siapa yang melakukan ini?” Sehun terlihat geram, wajahnya merah padam menahan amarah. Kedua kakinya melangkah mendekati sebagian kerumunan itu, membuat mereka sontak memundurkan langkah, akan tetapi tatapan mereka belum berubah.

Saat jarak Sehun dengan Baekhyun dan Reyna cukup jauh, seorang siswa lainnya kembali melemparkan telur busuk itu ke arah Reyna―hanya pada Reyna―disusul dengan lemparan lainnya sehingga Baekhyun dengan cepat melindungi tubuh Reyna dengan tubuhnya sendiri. Baekhyun memeluknya erat, ia tak akan membiarkan telur-telur itu terlempar dan mengenai tubuh adiknya lagi, yang pada akhirnya, Baekhyun merelakan seragam sekolahnya basah dan lengket akibat telur-telur itu yang malah terkena padanya.

Sehun tak tinggal diam. Matanya benar-benar dikelilingi lahar amarah. “Apa yang kalian lakukan?” suaranya dingin dan rendah, pun terdengar mengancam. “Apa maksud kalian melakukan ini semua pada adikku, huh?”

“Apa dia adik kandungmu, Oh Sehun?” tanya salah seorang siswa ber-­name tag Park Jinyoung yang berdiri di samping kiri Sehun. Sehun menggulirkan pandangannya pada laki-laki itu yang menatapnya mengejek. “Lalu, apa Baekhyun juga benar-benar merupakan saudaramu?”

Untuk saat ini, Sehun tak dapat berbicara apa-apa. Mendadak, kejengkelan tumbuh di dalam hatinya. Sehun tak ingin mengakui hal ini, tetapi ia yakin, ada orang lain yang mengetahui rahasia itu. Siapa dia? Bagaimana caranya dia bisa mengetahui hal ini?

Selang beberapa detik keheningan menguasai. Tak lama setelahnya, Chanyeol datang dengan langkah tergopoh, menyadari ada kerumunan berbentuk lingkaran itu yang cukup jauh dari area parkir. Ia membelah kerumunan di sana hingga sampai ke tengah lingkaran, di mana ada Oh bersaudara yang berdiri di sana. Chanyeol membelalakkan matanya karena kaget mendapati kondisi Baekhyun dan Reyna yang sangat mengenaskan. Bau telur busuk serta merta menyesaki indra penciumannya. Membuatnya lekas menyemburkan emosinya pada siapa pun yang ada di sekelilingnya. Karena ia yakin, satu―atau mungkin banyak―di antara mereka merupakan pelaku dari pelemparan telur itu.

“Siapa yang melakukannya?! Jawab aku!” tak ada tanggapan yang berarti. Tiga bersaudara tersebut sontak menolehkan kepalanya ke belakang, baru menyadari keberadaan Chanyeol di sana dengan wajah dan telinganya yang memerah.

Saat keheningan terasa memekat, salah seorang siswi berpenampilan mewah yang disusul dua kerabatnya berjalan ke tengah lingkaran. Memamerkan senyuman angkuh andalan mereka, yang bercampur dengan ejekan penuh. Dia adalah Song Miyeon, Ahn Chaeyoung, dan Kim Eunji. Ketiga gadis berpengaruh di sekolah, dengan tingkat kepopuleran setara dengan Baekhyun, Sehun serta Chanyeol.

Sehun mengernyit. Tidak salah lagi, orang itu pasti adalah Song Miyeon. Ya, Miyeon juga pasti mengetahui rahasia ini selain Park Chanyeol.

Miyeon mendecakkan lidah berkali-kali, berpura-pura iba, bibir bawahnya melengkung ke bawah. “Aku sungguh tak menyangka, kalau Reyna dan Baekhyun adalah saudara angkatmu.” Katanya, membuat Baekhyun melepaskan pelukannya dari Reyna, lalu mengepalkan kuat-kuat tangannya di kedua sisi tubuh.

“Di panti asuhan mana kau mendapatkan mereka berdua, hm?” Miyeon melanjutkan, bibirnya mengukir senyum miring. “Ah, pantas saja wajah mereka berdua tidak mirip denganmu.”

“Song Miyeon!” bentak Chanyeol tanpa asa. Ia hendak berjalan ke arah Miyeon, dan gadis itu kembali berbicara,

“Kau, Park Chanyeol, apa kau tidak merasa jijik mendekati anak adopsi seperti Reyna Oh? Mm, tunggu sebentar, kurasa marga awalnya bukanlah Oh.” Miyeon memasang wajah berpura-pura berpikir yang terlihat menyebalkan. “Kim? Byun? Jung? Atau … Shin? Ah, yang mana yang benar?” katanya, yang sontak mengundang gelak tawa meremehkan dari segala penjuru kerumunan.

“Oh Sehun, apa kau benar-benar menerima mereka berdua sebagai saudaramu?” ini suara Ahn Chaeyoung. Matanya menatap prihatin pada Sehun, yang tentunya merupakan tatapan prihatin palsu.

Rasanya, ada jutaan jarum dan bongkahan besar yang menyerang dadanya bertubi-tubi. Ucapan mereka tak pelak membuat Reyna merasakan nyeri tak kasat mata. Ia menangis dalam diam, tubuhnya bergetar, dan dadanya terasa sesak bukan main. Chanyeol yang mengetahui hal itu lekas berdiri di samping Reyna, hendak meraih dan menggenggam tangannya. Dan dengan gerakan cepat, Reyna menjauhkan tangannya dari Chanyeol.

“Reyna-ya …” bisik Chanyeol, terkejut. “Reyna-ya―”

“Menjauhlah dariku!” pekik Reyna, mengundang seluruh atensi para siswa termasuk kedua saudaranya. “Aku membencimu!” Reyna memekik lagi, sebelum akhirnya ia meninggalkan kerumunan itu dan menubruk setiap bahu yang menghalangi jalannya. Makian kasar tiba-tiba terdengar dari mereka yang terkena bau busuk telur itu.

“Reyna-ya!” panggil Baekhyun. Ia bisa merasakan kepedihan adiknya. Dan jujur saja, ia ingin menangis, namun ia menekannya kuat-kuat. Ia tidak boleh terlihat lemah.

Pandangan Baekhyun bergulir pada Chanyeol yang membeku di tempat. Laki-laki itu sepertinya tengah berpikir keras, mencari tahu dari mana Miyeon mengetahui tentang hubungan keluarga yang dimiliki keluarga Oh.

Baekhyun berusaha mengejar Reyna yang berlari semakin jauh. Sementara Sehun yang masih berdiri di sana menatap dingin ke arah Chanyeol. Chanyeol menelan ludahnya yang terasa pahit di kerongkongan. Ia benar-benar tidak menemukan titik terang atas permasalahan ini. Kepalanya terasa penuh, jantungnya berdebar kencang. Oke, sepertinya ia akan mendapatkan balasan atas segala masalah yang terjadi. Ia mungkin akan mendapatkan pukulan telak Oh Sehun di wajahnya dan meninggalkan luka memar yang cukup lama.

Tetapi, yang ia dapat adalah bisikan penuh ancaman tepat di telinga kanannya, saat Sehun berjalan dan berdiri di sampingnya.

“Temui aku pulang sekolah nanti.”

Chanyeol tahu, bahwa cepat atau lambat, ia pasti akan mendapatkan pukulan telak itu. Ya, ia sangat meyakininya.

Kepergian Sehun tanpa kata apa pun lagi menimbulkan banyak spekulasi di benak para siswa. Dan mereka yakin, kalau informasi yang didapat dari Song Miyeon perihal Reyna dan Baekhyun yang merupakan saudara angkat dari keluarga Oh merupakan informasi yang akurat. Terbukti dari tidak dapat berkata-katanya bibir Oh Sehun, pun Chanyeol yang seharusnya menunjukkan ekspresi terkejut jika laki-laki itu memang tidak mengetahuinya.

Chanyeol mengedipkan lemah kelopak matanya. Bibirnya bergetar, selagi kedua tangannya mengepal di sisi tubuh. Ia telah melukai hati Reyna, ia telah membuat gadis yang ia sukai kembali menangis karena perbuatannya. Chanyeol merasa bodoh karena hal ini. Dadanya begitu sesak, saat ingatan tentang Reyna yang menangis di hadapannya tak dapat dihapus.

Ini semua salahnya. Ya, ini semua adalah salahnya.

Chanyeol mendengar Song Miyeon tertawa penuh kemenangan. Bau telur busuk menyebar di mana-mana dan terus menyesaki hidungnya. Tawa jahat para siswa pun mulai mengudara. Chanyeol membenci hal ini. Ia sungguh membencinya, dan ia benar-benar membenci Song Miyeon melebihi rasa sukanya saat itu.

“Song Miyeon,” panggil Chanyeol, berusaha menenangkan nada bicaranya yang bergetar menahan amarah.

“Hm?” Miyeon menanggapinya dengan santai, seakan tatapan tajam milik Chanyeol bukanlah perkara yang besar untuknya, dan seakan ia bisa meluluhkan tatapan itu hanya dengan senyuman manis nan menggoda andalannya.

“Kautahu,” Chanyeol menghela napas. “Kau baru saja membangkitkan singa buas yang sedang tertidur.” Katanya, penuh penekanan.

Miyeon terdiam seribu bahasa.

“Oh Sehun, Baekhyun, dan Park Chanyeol. Menurutmu … apa yang akan ketiga orang itu lakukan setelah seseorang mencoba mengusik ketenangan mereka?” tanya Chanyeol, pandangannya mengitari langit-langit koridor dan berakhir menatap Miyeon kepalang santai.

Satu senyuman miring terukir, dan Chanyeol menambahkan, “Maka dari itu, bersiaplah, Song Miyeon. Kau akan menghadapi mereka bertiga tanpa bisa memiliki persiapan apa pun.”

Semua diam. menyisakan suara semilir angin di pagi hari, disertai tatapan membelalak milik Song Miyeon dan kedua temannya.

-TBC-

 

Haaaai! Maafin Isan, ya, lagi-lagi Isan ngaret buat apdet ff ini 😦

Tapi, semoga hasilnya enggak mengecewakan, ya? Hehe 😀

Makasih buat kalian yang udah baca dan meninggalkan review-nya x) *xoxo

Iklan

6 comments

  1. Kenapa coba chanyeol gak ngebales miyeon kaya gini? “gue lebih jijik berdekatan ama orang yang bibirnya gak punya kulit.” dan juga kenapa chanyeol atau baekhyun ngambil telur yg netes dari tubuh reyna, lempar deh ke miyeon en de geng? Kakak, SEBEL SEBEL SEBEL SEBEL SEBEL!!! Makan aja tuh ancaman dari chanyeol! Lagian, songong amat jadi orang, emang muka lu secantik apa sih?! Perasaan cantikan aty deh/PD kumat/ 😀 😀 😀 😀 lanjut kak yang cepet!/sibuk woy/ okeh, semoga, saat ada waktu senggang, kakak lanjutin 😉 😉 ❤ ❤ ❤ ❤

    1. Haha yaampun awas loh ty tensian darah kamu naik 😂 jan marah2 terus, nanti aa dio takut buat pulang xD
      Yah, reyna nya keburu pergi, jadi gak sempet bersihin telur di badan reyna x(
      Oke ty, doain aja semoga kakak bisa cepet2 ngelarin ff ininya x) *xoxo

  2. Nggak kerasa sehun cepat juga berubah sifatnya. Ya walaupun masih canggung gitu. Itu Miyeon mungkin kalo nggak bikin masalah merasa nggak tenang ya 😬😬 nggak tau mau komen apa lagi sebenarnya. Ikutan sesak sendiri sama apa yang reyna baekhyun alamin. Reyna yang sabar ya 😢😢

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s