Stuck on You


PicsArt_08-16-12.44.50

ShanShoo’s present

Yugyeom x Vay

-o-

Tapi, sekarang, setelah ‘insiden’ menyatakan perasaan sehabis latihan untuk pertandingan tempo hari, Yugyeom jadi lebih sering tersenyum dan menunjukkan perilaku manisnya pada Vay.

***

Wattpad : @Ikhsaniaty

Prev series : Vay | What’s Wrong with Me? | About the Rain and Something Unusual | Another Side | Say the Reason | Worry about Her? | Holding Smile | Are You Serious? | Approval | Encourage Him | Beating so Fast

-o-

 

            PERLAKUAN yang Yugyeom berikan terasa berbeda jauh dibandingkan sebelumnya. Vay tentu tak melupakan bagaimana mimik Yugyeom saat berbicara dengannya, atau gestur tubuhnya yang merasa risi setiap kali Vay mengajaknya berbicara. Cowok Kim itu bahkan enggan untuk bersitatap dengan Vay ketika cewek itu membuat kebisingan yang cukup mengganggu pendengaran.

Tapi, sekarang, setelah ‘insiden’ menyatakan perasaan sehabis latihan untuk pertandingan tempo hari, Yugyeom jadi lebih sering tersenyum dan menunjukkan perilaku manisnya pada Vay. Demi apa pun, Vay tentu menyukainya, tetapi … ia juga merasa canggung bukan main.

Kim Yugyeom menyukai seorang Vaye Brunella, cewek yang bahkan selalu mengganggu kententraman cowok itu? Bagaimana bisa? Pertanyaan ini selalu membayang di kepala Vay.

Oh, memikirkannya saja bisa membuat Vay mendadak edan.

Vay sudah sampai di kelasnya sebelum bel masuk berdering beberapa menit lagi. Dan sosok yang selama ini berusaha ia hindari sekarang sudah duduk manis di tempatnya, tepat di samping kursi miliknya. Jangan lupakan senyuman manis andalannya yang mampu menggetarkan hati perempuan mana pun, termasuk Vay. Jadi, cewek itu berpura-pura tidak melihat Yugyeom tersenyum ke arahnya, meski hati memberontak ingin terus melihat senyuman itu.

“Hai, Vay, selamat pagi!” sapa Yugyeom. Matanya terus terpaku pada Vay yang sudah menduduki kursinya sembari meletakkan beberapa buku ke atas meja. “Tidak ada kendala apa pun selama di perjalanan, kan?” tanya cowok itu, penasaran.

Tunggu sebentar, apa mungkin … jiwa mereka telah tertukar? Yugyeom terlihat lebih cerewet, dan Vay terlihat lebih pendiam dari biasanya.

Vay menelan ludahnya susah payah. Kendati kepalanya ingin menoleh dan membalas ucapan cowok itu, ia tetap merasa sulit untuk melakukannya.

“Vay? Kamu nggak apa-apa, kan?” Yugyeom menempelkan punggung tangannya pada kening Vay, yang segera mendapat respons berupa mata cewek itu yang membelalak lebar, dan anehnya, Vay sama sekali tidak berusaha menepis punggung tangan cowok bersurai cokelat terang itu, melainkan terdiam sambil merasakan jantungnya yang mulai memompa darah dengan begitu cepat.

“A-aku enggak apa-apa, kok,” sahut Vay, mencoba untuk menjaga nada bicaranya agar terdengar stabil.

Benar juga. Yugyeom tidak merasakan suhu tubuh Vay yang meningkat. Ia justru merasa tubuh Vay sedikit … lebih dingin?

“Kamu yakin?” tanya Yugyeom, memastikan. Dan ia mendapati Vay mengangguk ragu. “Tapi, suhu kamu cukup dingin,” ujarnya jujur, membuat Vay seribu kali terlihat lebih canggung.

“E-eh, masa?” sahut Vay panik, lalu tertawa hambar. “Aku enggak apa-apa, kok. Ha-ha.”

Yugyeom menaikkan sebelah alisnya keheranan, lantas berdeham kecil. “Sudah sarapan?” tanyanya, mengalihkan pembicaraan. Karena sepertinya, Vay baik-baik saja. Tidak ada tanda-tanda kalau cewek itu sedang sakit seperti tempo hari. Cewek itu bahkan masih bisa tertawa, meski tawanya kedengaran aneh dan … yah, entahlah.

“Oh? Su … sudah,” jawab Vay, kemudian meringis pelan. “Gyeom, kamu kenapa sih?”

“Aku?”

“Iya!” Vay menyahut gemas. “Kamu kelihatan beda banget dari sebelumnya,” katanya, jujur. Sebenarnya Vay tahu apa penyebab perubahan sikap yang ditunjukkan Yugyeom kepadanya. Hanya saja, ia lebih memilih diam dan memendam kalimatnya itu. Ia tentu tidak ingin membuat Yugyeom mengatainya sebagai cewek dengan tingkat kepercayaan dirinya yang begitu tinggi.

“Kamu kok nggak nanya aku udah sarapan atau belum?” Yugyeom malah balas bertanya, bukannya menjawab pertanyaan dari cewek itu.

“Gyeoooom!” Vay mendesah keras. “Aku serius, kamu kenapa?”

Lagi-lagi, Yugyeom tidak menjawab. Sebelah tangannya justru terangkat dan mengacak gemas surai cokelat Vay yang kali ini dibiarkan tergerai sebahu. Senyuman lebarnya terbit semudah membalikkan telapak tangan, sementara Vay mati-matian menahan dirinya agar tidak meledak saat itu juga lalu berlari keluar kelas supaya Yugyeom tidak melihat pipinya yang terasa panas dan sudah berubah warna serupa tomat merah.

“Kamu ngerasa terganggu, ya, sama sikapku yang seperti ini?” tanya Yugyeom, dan Vay membungkam bibirnya. “Maaf deh, sudah bikin kamu nggak nyaman.”

Oh, ya, Vay sudah yakin seratus persen kalau jiwanya Yugyeom sedang terperangkap di dalam tubuhnya, dan jiwa dirinya terperangkap di tubuh bongsor Yugyeom.

Tenang … tenang … sebentar lagi juga Yugyeom akan kembali pada sikap acuh tak acuhnya. Iya, Vay, tenang saja.

***

Tapi, perkiraan Vay salah.

Yugyeom justru semakin gencar berbuat ‘baik’ kepadanya tanpa menghilangkan senyuman lebar sama sekali. Apa-apa tersenyum. Meminjamkan pulpennya―meski Vay tidak meminta, ia tersenyum. Menatap kumpulan awan putih yang begitu besar dan indah pun, Yugyeom sama sekali tidak protes. Ia yang paling gencar mengagumi betapa indahnya langit di pagi hari. Sedangkan Vay?

Jangan ditanya. Cewek itu bahkan lupa caranya bernapas dengan benar.

Apalagi ketika Yugyeom menatapnya, lalu memberikan satu kedipan manis kepadanya.

Tatapannya, senyumannya, dan kedipannya adalah paket lengkap yang sanggup membuat Vay serasa ingin terbang ke langit ketujuh.

-oOo-

Waaaaaaaaaaa udah lama syekali aku nggak apdet ff tentang mereka lagi T.T

Sekalinya apdet malah nggak jelas bin aneh xD

Nggak apa-apa deh ya? Itung-itung melepas kangen sama kapel(?) Yugyeom-Vay yang nggemesin ini hahahahah xD

Makasih yang udah baca ^^

Iklan

One comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s